jump to navigation

Chengdu, 2 Agustus 2014 Senyam senyum di Negara benar – benar asing,sambil misuh – misuh sampai menggunakan Google Translate untuk mendapatkan makanan tanpa babi. Agustus 5, 2014

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang di seputar Mercu Buana, Yang Kami Kerjakan, Yang Sayang Dilupakan.
trackback

Cari makan di Chengdu

Begini cara mencari makan di Chengdu

Selesai urusan dengan petugas depan hotel saya diantar langsung oleh Mbak – mbak resepsionis itu ke kamar. Ini aneh buat saya, karena biasanya selalu ada petugas lain yang ngantar. Tapi mungkin efisiensi gpp lah. Masuk kamar saya tidak sempat dan tidak mau nanya – nanya lagi, khawatir tambah capek. Jadi hanya sekedar “xie xie” saja. Asem, kondisi penginapan benar – benar beda dengan standard kita. Closet di kamar mandi tanpa penyemprot untuk bebersih. Ala maak, alamat besuk pagi menggunakan tisu nih. Untuk tarif sebesar ini setidaknya kalau di Indonesia atau seperti di Phuket beberapa waktu yang lalu, setidaknya dapatlah compliment dua botol air minum plus kopi teh  gula. Ini di sini, sama sekali tidak ada. Masih untung disediakan teko pemanas air. Lumayan bisa rebus air untuk esok pagi.

Bangun pagi di hari pertama, seperti biasa saya lakukan jika sedang ada urusan di luar area yang baru saya kenal, saya sekedar keliling tempat penginapan memperhatikan penanda – penanda penting sekitar penginapan. Asem lagi, petunjuk tulis yang ada semuanya menggunakan huruf China. Benar – benar saya buta huruf. Saya perhatikan, nama toko, nama warung, menu yang disajikan di warung makan, nama gedung, pusat belanja, bahkan brosur perjalanan wisata semuanya huruf China. Mumet. Ah untung ada plang petunjuk nama jalan yang bermurah hati menyediakan huruf latin. Kondisi seperti ini camera hape benar – benar membantu. Semua penanda yang dirasa perlu saya potret: terutama petunjuk jalan dengan huruf latin itu, suasanan perempatan besar, pusat pertokoan, keempat penjuuru simpang empat dan beberapa selainnya lagi. Saya mencoba meminta tolong penduduk lokal untuk mengambil gambar saya, ups usaha yang ketiga baru berhasil. Orang pertama ke dua menolak. Mungkin dikiranya saya mau memberikan hape ke mereka J. Satu lagi yang saya amati betul adalah kendaraan umum yang lewat. Di Chengdu, selain taksi ada Bus umum yang nyaman. Seperti Jakarta (tapi sebagian besar tidak nyaman), setiap bus mengenakan nomor yang menunjukkan rute. Untungnya nomor di China menganut madzab Arab (Karena tidak ada lambang angka dalam huruf China ?), ini sangat membantu saya. Nomor 68 lewat dekat penginapan.

Hari itu adalah waktu registrasi konferensi saya yang berlokasi di hotel lain. Maka registrasi itulah tugas pertama yang harus saya selesaikan. Di kamar hotel setelah bebersih, saya sudah menyiapkan kira – kira Bahasa Tarsan apa yang bisa digunakan untuk menanyakan ke petugas depan penginapan bagaimana caranya menuju tempat konferensi itu. Gambar hotel dan alamat sudah saya siapkan di layar hp paling depan. Mudah – mudahan dengan hanya menunjukkan gambar dan tulisan alamatnya selesai urusan. Cilakanya belum tentu petugas hotel bisa baca huruf latin, atau setidaknya lebih suka baca huruf cina. Tetapi untunglah ada satu petugas yang –sangat sedikit- bisa Bahasa Inggris. Saya katakan sangat sedikit karena hanya kata per kata saja dia tahu. Tidak sampai menyusun kalimat J. Sebenarnya saya ingin naik bus saja atau jalan kaki, karena dari peta google yang saya ingat waktu pesan kemarin di Jakarta, jarak kedua tempat ini tidak jauh. Oh ya, google tidak bisa diakses di China jadi saya hanya mengandalkan ingatan saja. Petugas hotel itu mengatakan No bus, by taksi !. Ya sudahlah saya menuruti saja apa sarannya, dengan terlebih dulu nanya dia berapa tarif nya. 10 RMB, itu sekira 20.000 rp. Baiklah. Sopir taksi ini, belakangan saya tahu, kurang ajar juga. Dibawanya saya ke rute yang lebih jauh muter – muter seakan imbang dengan 10 RMB itu. Hari kedua setelah pulang konferensi saya tahu, jaraknya hanya 3 blok dan saya bisa jalan kaki kalau begini. Asem. Hari kedua berangkat dan pulang saya masih menggunakan taksi tarfi resmi, hanya 8 RMB.

Selain urusan registrasi, saya berharap lebih dari Hotel tempat konferensi ini. Mengingat hotel ini termasuk kelas hotel bintang 5. Setidaknya saya bisa mendapatkan petunjuk tertulis (entarh brosur, peta, apapun lah) mengenai Chengdu dalam Bahasa Inggris. Atau officer hotelnya lebih bisa diajak ngomong, atau officer konferensinya bisa membantu. Meleset….Semua majalah gratis, brosur, peta yang ada di hotel segedhe gaban itu dalam huruf China. Petugas hotel sama gagunya dengan saya. Petugas konferensi, bukan orang Chengdu jadi tidak tahu banyak. Punahlah harapanku.

Pajangan di Swalayan, Semua Huruf China

Pajangan di Swalayan, Semua Huruf China

Belum tengah hari ketika urusan registrasi saya selesai. Apa lagi ? Tidak pantas juga kembali ke penginapan dan tanpa melakukan apapun. Maka kembali saya keliling sekitar hotel tempat konferensi. Menikmati lalu lalang penduduk lokal yang merupakan bagian dari 11 juta lebih penduduk Chengdu, menikmati lalu lintas yang lancar di jalanan yang lebar – lebar, menikmati muda – mudi di pusat perbelanjaan dan keramaian, dan tentu saja mengamati penanda apa yang dominan untuk mudah di ingat. Oh ya hari itu banya penjaja bunga dan muda – mudi membawa bunga. Belakangan (lagi) saya tahu hari itu hari valentine daynya China. Pantesan banyak bunga dan pasangannya.

Menu di Bandara Hongkong

Menu di Bandara Hongkong

Cukup dengan keliling, naik turun tangga penyeberangan, keluar masuk pertokoan, poto sana poto sini, sesekali senyum dan sapa pada penduduk lokal, kerongkongan haus perut lapar. Di sinilah masalah kembali muncul. Semua menu di semua rumah makan yang saya temui menggunakan huruf China. Jadi saya tidak tahu apa isi apalagi bahannya. Sebagai muslim, beberapa bahan makanan yang umum di China (terutama mungkin daging dan semua komponen dari Babi: minyak, gajih, dll) haram untuk dimakan. Beberapa restoran menyertakan gambarnya, tapi dari pengalaman makan di food court Bandara Hongkong semua mengandung pork (babi) seperti gambar ini. Hmm bagaimana ini ? Pada kondisi begini, selain untuk narsis, fb membantu juga. Setidaknya menumpahkan kegalauan dan benar saja beberapa teman merespon salah satunya menyarankan kamus online. Sedikit saya improve ide teman ini dengan memanfaatkan google translate. Alhamdullillah, setidaknya restoran kedua berhasil memahami bacaan China di google translate. Itupun berkali – kali meyakinkan dengan bahasa isyarat “tanpa babi”. Lega saya ketika ditunjukkan gambar Sapi di bungkus abon yang menjadi bahan menunya.  Sekedar informasi, kebanyakan penduduk lokal Chengdu tidak bisa (tidak suka?) baca tulis huruf latin. Sudah lewat tengah hari saya baru makan hari itu. Dengan makanan tanpa bahan dari babi, cara memasaknya tidak tahu. Mudah-2an aman.

Komentar»

1. za - Agustus 6, 2014

Hihi seru mas ceritanya. Konferensi apa mas? Boleh baca papernya?

Mujiono Sadikin - Agustus 13, 2014

Silakan Zai, ada di http://www.ijiet.org/

2. Jim - Oktober 27, 2015

Makasih atas infonya , Adria


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: