jump to navigation

Chengdu, Awal Agustus 2014 Taksi Service Setengah, Tamu & Pelayan Hotel yang Gagu Agustus 3, 2014

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pelajari, Yang Aku Senangi, Yang di seputar Mercu Buana.
Tags: , ,
trackback

Semua Huruf China

Semua Huruf China

Ini perjalanan pertama saya ke Chengdu bahkan ke China sekalipun. Tentu saja saya tidak tahu apakah akan ada kesempatan ke sini lagi. Hanya Allah yang tahu, di samping jika diijinkan saya berharap mengunjungi tempat lain di dunia J. Kunjungan pertama, budaya yang berbeda, cara komunikasi antar manusia yang berbeda, tempat yang baru, cara berkendara yang baru  dan hal – hal lain yang berbeda dengan kondisi di tanah air atau bahkan dengan di negara – negara ASEAN adalah kombinasi yang sempurna untuk membuat saya  tergagap – gagap pada awalnya.  Diawali dengan kedatangan di Bandara Chengdu yang mayoritas papan petunjuk bertuliskan huruf China, kemudian para sopir taksi yang segera saja bisa membedakan mana pendatang yang bisa digarap dan mana yang sebaiknya dilewatkan, kebingungan saya dimulai.

Untuk menuju hotel tempat saya akan menginap, sebenarnya saya sudah mendapatkan informasi dari kontak saya- host International Conference di Chengdu – rute bis mana yang harus saya ikuti. Dari awal saya memang ingin merasakan transportasi umum, selain murah juga demi pengalaman. Tetapi dua alasan membatalkan rencana itu: pesawat dari Hongkong delay 2 jam sehingga saya datang sudah tengah malam di Chengdu, dan ini penguatnya, sopir taksi tembak mengikuti saya saat mencari line airport bus. Saya tidak bisa menghindar. Ketika saya tunjukkan hotel tempat saya menginap dari booking-an, langsung saja dia sodorkan 200 RMB melalui tulisan di HP. Belakangan saya tahu, waktu itu dia sama sekali tidak tahu hotel itu ada di mana L. Saya langsung tawar separonya dan tidak pernah naik lagi.  Harapan saya dia mundur, sehingga saya bisa naik bus saja. Ternyata tidak berkali – kali dia menurunkan harga meski akhirnya setuju dengan harga 100 RMB. Gila salah nawar saya. Terpaksalah saya berangkat dengan si Sopir Taksi.

Benar saja, taksinya taksi gelap. Sopir itu berusia masih muda, sekira 25 – 30 tahunan kelihaannya. Sampai di dalam taksi, dia minta tunjukkan kertas booking an hotel lagi. Asli saya tidak paham maksudnya, hampir setengah menit hanya untuk klarifikasi apa yang dia mau karena kertas itu sudah masuk ke tas lagi. Lama dia baca tulisan itu karena mungkin tulisan China nya terlalu kecil untuknya. Sementara untuk baca huruf latin, kelihataanya dia gak ngeh sama sekali. Untuk angka arab dia masih familiar, sehingga bisa menghubungi pihak hotel setelah beberapa kali tidak diangkat. Wah nawar setengah servisnya setengah juga kelihatannya. Taksi itu zonder AC, sebagai pendingin digunakan AC alami. Buka jendela. Di Jakarta, perasaan banyak pengendara ngawur.Sopir taksi ini lebih gila lagi kelihatannya. Zig zag dengan kecepatan sd 120 km/jam. Wah gila, tapi saya diam saja. Mungkin ini kompensasi dari nawar saya yang “keterlaluan”.

Dalam kebisuan antara kami berdua, saya mencoba menangkap kesan pertama mengenai China, Chengdu khususnya. Chengdu bukanlah kota terbesar di China, masih ada Beijing, Guangzhou atau  Hongkong atau yang lain yang saya tidak tahu. Tetapi infrastruktur dan hasil pembangunan manusia China memang luar biasa. Sesuai dengan jumlah penduduknya yang mungkin menempati seperlima penduduk dunia, hasil pembangunan manusia di Chengdu merepresentasikan kebesaran dan kemegahan itu. Jalan – jalan lebar – lebar dan kokoh. Tol maupun non tol yang saya lewati mayoritas 8 jalur dua arah. Untuk non tol masih ada jalur khusus sepeda dan sepeda motor di paling kanannya yang seluas jalur mobil di jalanan Jakarta. Oh ya, mereka menggunakan mode stir kiri jalur kanan. Ini pula yang membuat saya kagok di awal – awal saat menyeberang jalan.

Hotel itu

Hotel itu

Sampailah saya di hotel tempat saya akan menginap. Sesuai dengan standard pembiayaan penelitian dari Kementerian Keuangan, tarif akomodasi bagi peneliti hanya cukup untuk hotel kelas menengah ke bawah. Dan itulah yang saya dapatkan. Hotel ini tidak besar tentu saja, dan terletak bukan di jalur utama sejajar an dengan ruko – ruko kiri kanannya. Ketika masuk saya diusir oleh penjaga, dengan bahasa yang saya tidak tahu tentu saja. Namun dari isyarat tangannya menunjukkan bahwa hotel full tidak terima tamu. Tapi saya tunjukkan booking an saya. Alhamdullillah dia ngerti dan dipanggil lah petugas front desk nya, cewek yang mungkin sedang istirahat di belakang karena sudah jam 1 dini hari waktu setempat. Maka kegaguan komunikasi terjadilah antara saya dengan mbaknya ini. Sama sekali dia tidak tahu bahasa Inggris dan saya bisu Bahasa Mandarin. Hanya untuk meminta identitas saya saja, perlu waktu lebih satu menit untuk saling paham. Hanya untuk meminta pembayaran DP perlu waktu lebih lama lagi. Ah hemm…berkali – kali saya tepok jidat, tolooong…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: