jump to navigation

Penjelasan SIPKD dari Prof Hermawan (Direktur Kelembagaan DIKTI) di forum APTISI Wilayah III, 19 Desember 2013 Desember 19, 2013

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang di seputar Mercu Buana.
trackback

Bagi para dosen, mungkin saja isu yang hangat akhir-2 ini adalah kewajiban pengisian SIPKD (Sistem Informasi Penilaian Kinerja Dosen). Kewajiban mengisi SIPKD secara online (sipkd.dikti.go.id) oleh para dosen ini menjadi trending topik di komunitas dosen. Ada pandangan positif lebih banyak lagi nada negatif mulai dari kebijakan, kandungan, sampai ke masalah teknis pengisian dan kehandalan sistem.  Pagi tadi kebetulan ada acara dengan tema Penguatan PTS Kopertis Wilayah III di tempat kami, Universitas Mercu Buana. Sebagai salah satu nara sumber adalah Prof Hermawan, Direktur Kelembahaan DIKTI. Tulisan ini merupakan ringkasan penjelasan beliau yang secara bebas dan tentu saja berdasar pemahaman saya pribadi yang mungkin bisa luput di sana – sini.

Pada kesempatan tanya jawab, saya sampaikan keluhan kita mengenai SIPKD ini, yang saya ringkas dari diskusi bebas di grub fb. Antara lain saya sampaikan : 1. Mengapa ada ancaman ? 2. Mengapa ada dobel entry (data-2 yang sudah dientry / upload ke serdos, harusnya bisa langsung digunakan di SIPKD. 3. Keandalan sistem yang masih labil (Pagi ini saya dan teman di UMB tidak bisa akses, mungkin server down).  Saya sampaikan, terutama masalah dobel entry ini, bagai kami – kami yang mengerti sedikit teknis dobel entry ini seharusnya tidak perlu terjadi. Dan kalau memang sistemnya belum handal untuk handle semua dosen dari seluruh Indonesia, ada baiknya dilakukan penjadwalan dan DIKTI tidak perlu khawatir (malu) untuk melakukan penjadwalan giliran ini karena kehandalannya belum bisa maksimal.

Jawaban beliau adalah kurang lebihnya (Maaf kalau terlalu banyak kurang atau lebihnya) : semua diniatkan untuk kebaikan bersama, DIKTI menginginkan adanya pangkalan data yang terintegrasi  akurat sehingga mempermudah pengambilan kebijakan untuk kebaikan bersama, termasuk dosen. Dosen (Pak Direktur juga dosen) wajar dibebani sedikit pekerjaan tambahan ini mengingat DIKTI juga sudah memberikan reward yang cukup dari tunjangan serdos atau tunjangan profesor. Bahkan masih banyak mereka-2 penerima tunjangan itu tidak melakukan kewajibannya tetapi reward mereka terima terus. SIPKD sebagai suatu sistem jangan hanya dilihat kelemahannya tetapi coba dipandang dari sisi semangatnya. Beliau mengakui bahwa masih ada kelemahan di sana – sini, dengan tenaga SDM dikti yang hanya 70 orang mengurusi sekian buanyak layanan, mohon dimaklumi. Sekali lagi niatnya baik, mari lakukan bersama – sama.

Hmmm…terus terang dari sisi saya pribadi, masih ada beberapa yang perlu diklarifikasi dari jawaban beliau. Tetapi waktunya terbatas sekali (bahkan tidak semua pertanyaan/keluhan terlayani) maka seperti biasa, kita – kita dalam posisi seolah-2 menerima penjelasan beliau demikian juga audience semuanya – saya rasa – menganggap pertanyaan/keluhan kita (saya) sudah terjawab dan clear J.

Salah satu contoh yg perlu klarifikasi misalnya: 1. Ya semangatnya baik, niatnya mulia tetapi kalau proses yang tidak perlu (dobel entry itu) bisa dihilangkan dan diefektifkan bukannya mendukung percepatan pencapaian niat dan semangat yang baik itu ? 2. Kalau tenaganya terbatas, mengapa tidak dengan bantuan sistem “yang lebih benar dan baik” yang sebenarnya bisa dilakukan ? Misalnya mengapa mesti membuat form entry yang baru untuk SIPKD kalau formatnya sama dengan SERDOS ?  dll dst….

Saya rasa bapak/ibu dosen akan punya lebih banyak alasan dan justifikasi untuk mendebat dan mengklarfikasi jawaban  Prof Hermawan itu, tapi mohon maaf (sudah jelas sih) kalau tulisan ini nanti hanya sekedar keluhan tanpa jawaban🙂.

Salam

http://www.mercubuana.ac.id

Komentar»

1. Muh. Soenarto - Januari 11, 2014

Sistem Informasi Penilaian Kinerja Dosen (SIPKD)
Sistem Informasi Pengembangan Karir Dosen (SIPKD)
Sistem Informasi Penilaian Karya Dosen (SIPKD), … dll.
Tentang kepanjangan dari istilah SIPKD saja masih berbeda-beda, bagaimana pelaksanaannya. Katanya mau dilaksanakan secara online setelah tgl 05 Jan 2014, mana …. memble… Ini pasti proyek orang-orang dikti entah siapa.

2. Wahyuningsih - Januari 16, 2014

Sekarang ngisi SIPKD sudah dijadwal, misalnya hari Rabu Kamis untuk lektor. tapi masih saja suka eror, sejak tadi malam tidak bisa masuk. Terus format isian juga ada perubahan (?). Memang terkesan DIKTI belum siap, kalau begitu ya jangan pakai ancaman atuh ya, kalau tidak ngisi maka NIDN akan dihapus, atau sertifikasinya dicabut. Pokoknya semua dosen yang sudah punya NIDN harus mengisi, nah baru nanti dievaluasi, bagaimana hasilnya, apa kendalanya. Jangan belum apa2 diawal sudah ngancam….?

umar - Januari 20, 2014

saya juga merasa sistemnya belum siap. beberapa minggu lalu saya penasaran ingin mencoba sipkd ini eh ternyata lagi maintenance katanya. pas beberapa hari lalu (hari kamis) udah tidak maintenance saya akses, katanya lk dan guru besar hari senin dan selasa. nah hari senin ini, saya sudah mencoba dari pagi sampai malam ini untuk loggin pake NIDN saya, katanya “mhn maaf username/pasword tidak cocok atau tidak terdapat di dalam sistem” padahal NIDN saya sudah sesuai dengan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDPT). kalau begini kira-kira kapan selesainya ya… dan kepada siapa saya harus mengeluh…..

3. Achmad Yusri Afandi - Januari 20, 2014

Saya pun kritik hal yang sama ke Dikti., bahkan saya kirim E-mail Langsung ke dikti(at)dikti.go.id.,

Menurut saya, buat apa ada sistem online, kalau ada pembatasan akses dosen., mending lewat Kantor Pos aja kirim datanya, kan logikanya sama., Kantor Pos batasan waktu pengiriman, “SIPKD” juga sama punya batasan waktu.,

Bahkan pas saya cek kode sumber situs dikti.go.id., pake engine wordpress., ini asli proyek abal-abal

Ini juga SIPKD kemungkinan proyek abal-abal., membuat semua Dosen resah..🙂

4. wid - Januari 25, 2014

aduh SIPKD baru kenal maka tak sayang sptnya, kmrn hari selasa coba login ada warning bukan hari akses nah skrg hari akses buka tapi mbalik2 lagi ke tampilan pertama….bgmn ini

5. Julian - Januari 27, 2014

Udah 2 minggu login tiap senin selasa utk lektor kepala, selalu error, loading page…..gmn Dikti, servernya ditambah dong kapasitas bandwith-nya…….lelet terus

6. Joko Prasetyo - Januari 27, 2014

Sepertinya bukan masalah di kapasistas Internetnya…. kendala ada pada server DIKTI… tidak mungkin menampung streaming file sebegitu banyaknya… mirrornya kurang banyak….

7. Komang Budaarsa - Januari 28, 2014

Pagi ini pukul 004 Wita, saya mencoba buka laman sipkd.dikti.go,id tetap saja tidak bisa log in. Kemarin malam, sampai pukul 23.00 sama. Rupanya masih ada masalah juga. Habislah waktu untuk mencoba dan mencoba. Kalau gara-gara ini kemudian tunjangan dosen dihapus ya silahkan saja, Toh saya sudah biasa hidup pas-pasan. Sepertinya pemerintah tidak iklas memberi tunjangan kepada dosen yang sebenarnya tidak begitu banyak, maaf kalau dibandingkan DPR dll. Ayo teman-teman, konsentrasi dg tugas kita, agar mahasiswa tidak terganggu kuliahnya, Menyiapkan mereka menjadi generasi yg baik untuk melanjutkan keberadaan NKRI jauh lebih penting dibandingkan memikirkan SIPKD yang masih uiji coba ini. Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru. Damai di hati, damai di dunia.

8. Esteween Hade - Januari 28, 2014

Lapor : Hari ini, 28 Januari 2014 05:38AM situs SIPKD tidak bisa diakses. Laporan tambahan: Sejak kemarin juga ngga bisa ! Laporan selesai.

9. Nuryatin - Januari 28, 2014

Sejak kemarin siang sampai pukul 23.00 websitenya tidak bisa diakses. Dicoba lagi pagi ini, ternyata sama,, Serasa buang-buang waktu menunggui servernya yang tetap tertulis “This webpage is not available”. Bagaimana ini pihak DIkti?? Ada tanggapan?

10. Julian - Januari 28, 2014

Kesempatan login tinggal 4 kali, semakin dekat injury time 28 Feb semakin traffic busy, server ngadat, mulai pagi kemarin smp pukul 3 dinihari gak bs akses, selalu unable to connect…the connection was reset….loading page…try again…try again…boring…

11. tuti restuastuti - Januari 30, 2014

sdh dus kali alias dua minggu mencoba mengisi tugas negara ini,tapi….gagal terus…..jadwal hr senin dan selasa lho……kalau wktu tinggal 4 minggu mengisi dan server selalu lossssss,trus nggak sesuai jadwal yg di penalti siapa?seharusnya siapa?

12. Helena Agustien - Februari 2, 2014

1. Siapkan sistem yang stabil dan handal baik di dikti maupun di universitas. Kalau koneksi byar pet akan membuat semua pihak stress.
2. Sebaiknya sipkd dimulai semester depan, bukan 3 semester yg lalu karena ini menyulitkan para dosen.
3. Kalau sipkd menuntut upload tanda bukti seperti surat tugas / ijin dll, pastikan bahwa semua universitas mengeluarkan surat2 tsb dalam bentuk soft copy yang bisa diunggah. Mengapa? Karena kalau dokumen di-scan akan makan banyak MD dan sulit diunggah. Kalau satu lembar ukurannya di atas 2 MB dan satu orang mengunggah berlembar-lembar (3 semester), dan dosen se Indonesia melakukan hal yg sama, mampukah server dikti menampunya?
4. Gagasan sipkd positif, tetapi kalau teknis pelaksanaan tidak memadai dan disertai ancaman-ancaman sementara kinerja dosen selalu dipantau oleh fakultas, ini tidak memberi suasana kerja yang menyenangkan.

13. Hendra A - Februari 2, 2014

mau bikin sistem itu tdk sembarangan euy.. apalagi dalam ukuran dan komppleksitas yang sangat besar. ane saja yang bikin SIM tingkat Kabupaten u desertasi perlu tahunan u samapai dapat diverifikasi dan di validasi… SIPKD saya yakin boro-boro diverifikasi dan divalidasi… buktinya bisa kita saksikan sendiri .. errrrooooorrrr !!! yang paling parah meski di dalam tayangan ada no hotline… boro-boro direspon… pajangan doank… Kalau mau bikin sesuatu yang ideal… koreksi diri dulu .. kedalam kira-kira sudah bisa belum bekerja secara profesional…

14. Achmad Yusri Afandi - Februari 3, 2014

Server SIPKD yang tidak siap untuk melayani para Dosen-dosen.,
Jumlah dosen ini jutaan, kalau disimpan di Indonesia Servernya., pasti jadinya maintenace terus.,

dikti belum siap untuk sistem seperti ini,

15. Azzalea - Februari 3, 2014

SIPKD=Sistem Informasi Pemerintah Kurang Dana

16. Imron Kuswandi M. - Februari 3, 2014

@Dikti: “Capek, dech!”.

17. yudi setiadi - Februari 4, 2014

Saya Merasa Sangat Kecewa kalau begini caranya apa gak sebaiknya di buat server di setiap Wilayah/Kopertis

18. agus rohman - Februari 5, 2014

Sudah beberapa kali senin dan selasa mau online karena jadwalnya ngerjain SIPKD ternyata servernya maintenance terussss..sedang waktu makin sempit untuk ngerjakan SIPKD yang diminta tinggal 3 kali lagi ketemu senin dan selasa jadwalnya,sedangkan batasnya sampai 28 februari 2014 bila terus maintenence servernya sampai sama sekali tidak ke kerjain SIPKD nya yang diminta karena sudah lewat batas waktunya jadi yang kekeliruan ada dipihak siapa nanti!!!!Alangkah baiknya seperti ngerjain serdos itu lebih efektif menurut saya ngerjainnya karena bisa langsung disimpan soft copynya dan cepat pengerjaannya langsung bisa di e-mail kan/diserahkan ke team serdos datanya dalam hitungan menit saja bukan hari,semua sudah mencoba ngerjain SIPKD tapi kalo servernya maintenance terus apakah akan kekejar ngerjain SIPKD kasihan dong dari profesor,lektor,dosen dsb hingga sampai sudah batas lewat waktunya samapai tidak kekerjain sama sekali dikarenakan terhambat oleh sistem servernya yang maintenance terus..solusinya gimana bila terjadi seperti itu,terima kasih.

19. Mujiono Sadikin - Februari 6, 2014

Bapak/Ibu Dosen ysh,
Terimakasih atas kunjungan dan komen-2 nya🙂. Sayang saya, pribadi tidak bisa memberikan saran apa-2 selain sabar-2 saja🙂. Sama, saya juga mengalami masalah demikian.

Hanya saja, kalau kembali ke konteks penjelasan Prof. Hermawan itu, saya memahaminya adalah : Masalah SIPKD ini saya kira bukan kewenangan Dit Kelembagaan (Prof Hermawan) tetapi di bawah Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ditjen Dikti. Tetapi karena mereka mewakili pemerintahan, pihak yang berkompeten, mau tidak mau Prof Hermawan harus menjawab pertanyaan mengenai SIPKD. Dalam hal ini sih saya apresiasi, sikap yang tidak mau melempar tanggung jawab dengan mencoba menjawab keluhan saya (baca kita). Sayang jawaban beliau normatif – normatif saja.

Mungkin Bapak/Ibu Dosen yang punya akses ke yang lebih berwenang dan tahu permasalahan secara persis, bisa menyampaikannya ke ybs.

Salam

20. berto - Februari 11, 2014

cobalah dipikirkan solusi yang terbaik sehingga tidak mengorbankan pihak dosen karena keterbatasan sistem yang dibuat

suhartorw12 - Februari 12, 2014

Sistem informasi Pembuangan Dana

suhartorw12 - Februari 12, 2014

Maksudku: Sistem informasi Pembuangan Kelebihan Dana

suhartorw12 - Februari 12, 2014

Ayo balik ngancam.. hee..heee

21. M. soenarto - Februari 13, 2014

Tinggal mengirim daftar nilai akhir ke SiIPKD saja dari tanggal 5 Pebruari s/d 14 pebruari 2014 kok tidak online SIPKD.GO.ID ini sungguh mengecewakan

22. Taufan - Februari 14, 2014

Pemerintah perlu melakukan kontrol karena masih ada beberapa perguruan tinggi, khususnya swasta, bertindak nakal dengan mencantumkan nama dosen sebagai dosen tetap padahal kontrak (diperpanjang setiap 12 bulan, 6 bulan, bahkan ada per-3 bulan); ada juga dosen-nya sdh tdk bekerja di situ, universitasnya masih mencatumkan nama dan NIDN-nya berhome-base di situ; mungkin untuk menaikkan pamor behubung beliau lulusan S2/S3 PTS atau luar negeri.

23. Banu - Maret 3, 2014

“Mohon maaf SIPKD dalam maintenance, dan terima kasih atas kesabarannya mengisi data sipkd, kesempatan yang hilang dalam waktu maintenance akan diakumulasikan dalam penambahan masa pengisian data SIPKD, salam.”
tulisan ini terus muncul sampai saat ini :(….apa daya….

24. Handoko - Maret 23, 2014

Sudah tanggal 23 Maret 2014… Server dan seluruh staf berikut dirjen Dikti masih “main tenis”…

25. lina - Mei 5, 2014

Kalau saya menilai SIPKD ini satu proyek yg dibuat oleh org yg tdk profesional ttp hndak mnciptakn org yg profesional. Wahai para bapak/ ibu yg mmbuat peraturan..yuk turun dulu ke lapangan baru buat kebijakan. Para dosen aja wajib buat pnelitian untk mengaplikasikn suatu teori dlm satu bdang ilmu, knp Bpk2 buat prturan gk buat pnelitian dulu.??
Salah satu cth pnghtungn nilai yg dipreh dsen dlm bdang akademik mmbimbing skripsi 1 smter 6 org?? Emang dsen2 ini krjanya cma bmbing skripsi? Yg anehnya lg..dsen di tnah air ini..gk punya meja kerja utk mmbca, mmbimbng mhs, mau nulis jurnal dsb..sesuaikh isian form SIPKD dgn sarana n prasarana yg dberikn pd kami..?? Sdangkn guru aja punya meja msing2 klo dtg k tmpat mengajar…

26. Taufan - Mei 27, 2014

saya hanya membuka cakrawala saja; sudah hampir lebih 10 tahun reformasi, dan hampir 1 dekade sejaka proklamasi; jika ‘mindset’ dan cara/watak berpikir masih sempit; terlebih dari masyakarakat kampus/ilmiah… apa mungkin negara kita tinggal landas menuju masyarakat adil dan makmur; KKN masih saja merajalela.
SIPKD saat diterapkan di bawah sangat penuh dengan aroma ketidakjujuran; bayangkan seorang dosen ber-NIDN namun faktanya statusnya bukan sebagai dosen tetap, tetapi dosen kontrak; bahkan jangankah dosen kontrak, melainkan dosen LB yg dianggap ‘dosen tetap’. ada tiga entitas yg salah: aturannya, perguruan tingginya, dan yayasan. dosen tidak pernah diperhatikan; padahal ketiga entitas tsb adalah berprofesi sbg dosen juga… jeruk-makan-jeruk?? sinting banget bila cara berpikir seorang dosen yg mematikan rekan sejawatnya sendiri. perhatikan profesi dokter, sangat menghormati dan melindungi rekan sejawatnya.

27. Herwin MKom - Juli 28, 2015

Lapor..! SIPKD masih banyak yang error pak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: