jump to navigation

Mendampingi, mendukung, dan ikut merasakan putra tersayang lepas dari autisme. Agustus 31, 2013

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari.
trackback

Anak adalah dambaan setiap kita dalam membina rumah tangga. Kehadiran anak melengkapi kebahagiaan yang sudah diperoleh dari adanya pasangan hidup. Anak adalah penerus keturunan, penyambung rekam jejak sejarah kita masing – masing di dunia bahkan di akherat. Bahkan dalam ajaran Islam, anak bisa menentukan nasib kita di akherat kelak, bahkan mulai di dunia fana ini. Anak bisa membantu kita menuju bahagia, atau mungkin sebaliknya.  Maka sudah sewajarnya kita berharap dikaruniai anak yang sehat jasmani  dan rohani dan secara fisik tentu saja. Namun anak juga mrupakan ujian bahkan fitnah jika kita orang tua tidak mampu mengemban amanah berupa anak ini. Ujian, mungkin itulah yang dihadapi oleh teman lama yang kemarin saya temu setelah sekian lama tidak bertemu. Dan alhamdullillah dia berhasil, minimal sampai dengan saat ini, mengemban ujian yang tidak semua orang dipilih oleh Allah untuk menyandangnya. Bukankah Allah hanya menimpakan ujian yang sejatinya bisa kita tanggung ?

Teman dan saudara saya ini dikaruniai dua putra. Putranya yang kedua terlahir dengan takdir menyandang penyakit autis. Keluarga kecil ini mendeteksi putranya terkena autis saat berusia dua tahun. Bagi teman yang kebetulan berlatar belakang dunia kesehatan ini, tidak sulit baginya untuk mendeteksi kekurangnormalan putranya ini. Tidak ada kontak mata dari sang putra, kesulitan bahkan sama sakali tida bisa bicara, tak acuh terhadap lingkungan sekitar, tindakan – tindakan yang di luar kontrol  dirinya seperti tiba – tiba BAB di celana, merupakan beberaa indikasi anak mengidap autis.  Anak autis cenderung mempunyai kepekaan pendengaran yang di atas (tidak?) normal. Suatu ketika dibawanya anak itu ke pantai di Ancol. Ketika terdengar deburan ombak, yang buat kita biasa – biasa saja, anak ini menjerit – jerit ketakutan  sambil menutup kedua telinganya.  Melihat dan merasakan kondisi  anaknya yang demikian terpikirkan bayangan-2 kelam mengenai masa depan sang buah hati.

Setelah dipastikan bahwa anaknya mengidap autis, segala daya dan upaya dilakukan untuk membantu anak tercinyanya. Berbagai pengobatan dan terapi dilakukan: pengobatan psikatri, alternatif, maupun terapi. Putranya ini juga disekolahkan di sekolah khusus anak – anak dengan keterbelakangan kepekaan syaraf ini, dengan biaya yang mahal tentu saja. Di situ sang teman menemui banyak anak – anak lain yang kondisinya lebih parah dari anaknya. Dari sini dia belajar, dia tidak sendiri, beban yang ditanggungnya bukan yang paling berat, ujian yang disandangnya bukanlah yang paling sulit.

Bertahun – tahun dijalaninya. Mengantarkan anaknya ke sekolah, mengantarkan dan menunggui anaknya diterapi di klinik terapi, melakukan terapi sendiri di rumah, dan tentu saja membantu segala hajat dan kebutuhan sang buah hati tercinta itu. Setidaknya hikma dari pendampingan ini, dia jadi belajar dan tahu berbagai hal tentang autis. Tentang perkembangan anak autis yang menyimpang dari umumnya.  Menurut ceritanya, terapi autis difokuskan untuk merangsang saraf – saraf pengindera si penderita. Maka terapi yang dilakukan antara lain anak itu diminta merangkak (Anaknya tidak melewati fase merangkak, jadi tengkurap – duduk – berdiri – berjalan). Rupanya merangkak adalah cara Allah untuk untuk merangsan syaraf – syaraf telapak tangan siku dan mungkin lutut seorang anak agar tumbuh normal. Terapi yang lain adalah menggunakan kuas (?) halus untuk mengusap – usap bagian terntu dari tubuh anak, pergelangan tangan,  lengan, tengkuk, pungggung. Setiap hari, dalam kondisi anak telanjang, anak didekap oleh orang tuanya sehingga ada kontak langsung kulit dengan kulit selama lima – sepuluh menit.

Bukan hanya terapi dan dukungan yang diberikan untuk anaknya.  Doa dan munajat kepada Allah SWT tak henti – hentinya dilakukannya.  Dalam fikih kurban dia tahu bahwa bagi pengorban yang ikhlas mencari ridlo Allah, setiap bulu – bulu dari hewan yang dikorbankan ada pahala bagi pengorban. Maka setiap kali berkorban, diniatkan, dimintanya kepada Allah azza wajala, agar setiap bulu yang hewan tersebut bisa membantu kesembuhan putranya. Untuk masa depan putranya. Dia tidak bisa membayangkan masa depan putranya jika masih demikian nantinya. Diakuinya, ini bukan jauh dari kesempurnaan seorang hamba yang pasrah pada Tuhannya. Diakuinya, sebagai orang tua, dia belum bisa menerima sepenuhnya jika anaknya tidak tersembuhkan. Maka dimanfaatkan kemurahan Allah yang tidak terbatas, diyakininya bahwa doa bisa merubah takdir, doa tidak pernah ditolak, dan doa akan selalu dikabulkan. Allah maha penentu takdir, tetapi dia juga sangat pemurah. Allah punya kuasa memberi azab, namun ampunannya mengalahkan pasir di lautan, mengalahkan air di samudra, mengalahkan cakrawala di angkasa.

Dan alhamdullillah, doanya dikabulkan Allah saat ini. Karena karuniaNya, anak itu sekarang sembuh seratur persen. Dia sudah kelas tiga SD sekarang. Bukan hanya sembuh, kecerdasannya di kelas di atas rata – rata teman-2nya. Bahkan dia selalu juara di kelasnya. Bukan hanya ilmu umum, mengaji Qurannya juga sangat bagus. Bahkan mengalahkan kakaknya dalam hal tajwid dan lafaznya. Mudah-2an ini hadiah bagi diri dan orang tuanya, karena dengan tabah dan menerima menghadapi ujian tanpa rasa putusa asa. Mudah – mudahan juga, ini pelajaran bagi kita dan khususnya saya.

Bagi saya sendiri, cerita itu sungguh sayang kalau hanya dikenang sendiri. Cerita itu patut dibagi, bagi siapa saja yang mau memungutnya.  Oleh karena itu terus terang tanpa ijinnya, saya tuliskan sebatasa penangkapan dan pemahaman saya tentang  rasa sedih, rasa lelah, rasa sayang, dan harapan – harapannya saat menghadapi ujian itu.

Khusus mengenai silaturahmi kami kemarin, selalu benar Kata Nabi “Silaturahmi lah, karena silaturahmi itu memperpanjang umur memperbanyak rezeki”. Rezeki, bukan hanya bersifat duniawai dan hartawi semata. Pelajaran hidup seperti itu, juga rejeki. Yang mudah – mudahan, menambah ilmu kita, menambah kesadaran kita tentang ujian dan harapan, atau syukur-syukur menjadikan kita lebih bijaksana dan tahu bersyukur, karena memang  kita tidak bisa menjawab “Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan ?”.

Wallahu alam bissawab.

Salam dari www.mercubuana.ac.id 

Komentar»

1. diaz - Januari 22, 2014

boleh minta alamat email teman bapak yang mempunyai anak autis tersebut

Mujiono Sadikin - Januari 22, 2014

Saya tanyakan ke yang bersangkutan dulu ya.

Terimakasih sudah mampir

Salam

Mujiono Sadikin - Januari 24, 2014

Ini alamat email ybs : suro_gentho89@yahoo.com
Semoga membantu🙂

Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: