jump to navigation

Menyusuri Lombok dalam dua hari hanya cukup untuk Senggigi, Suka Rere, Kampung Sade, Universitas Mataram, Ampenan, Taman Narmada. Juli 6, 2013

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Senangi.
trackback

Lombok-0Karena alasan pekerjaan, saya berkesempatan berkunjung kembali ke Lombok kali ini. Tidak seperti tahun lalu yang hanya sehari saja, kali ini saya memang menyediakan waktu lebih untuk bisa menikmati  berbagai tempat di salah satu Pulau paling menarik di Nusantara ini. Tidak terlalu mulus pada hari pertama, karena kami sempat kesulitan mencari tempat penginapan yang sesuai. Kesulitan mencari penginapan ini akibat, selain karena waktu liburan, Lombok menjadi salah satu destinasi wisata, digelarnya event nasional Hari Koperasi yang tahun ini menjadikan lombok sebagi tuan rumah.  Akhirnya kami bisa mendapatkan tempat meskipun tidak sesuai harapan. Tak apalah, yang penting cukup untuk istirahat dan bersih-bersih. Saya yang merencanakan untuk dua malam di Lombok, harus berburu penginapan lagi karena tempat penginapan pertama hanya available untuk semalam saja.

Setelah selesai pekerjaan hari pertama, 2 hari berikutnya kami dan saya gunakan untuk menyusuri Lombok.  Berikut tuturannya…

HARI PERTAMA

Pantai Senggigi.

Siapa traveler yang tidak mengenal Senggigi ? Pantai tenang di sisi barat lombok dengan kebersihan yang masih relatif terjaga. Dari pusat kota Mataram, Senggigi tidak terlalu jauh. Dengan menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan bisa ditempuh sekira 15 – 30 menit. Lombok termasuk daerah yang subur maka tidak heran sepanjang kiri – kana perjalanan akan kita temui hamparan padi, perkampungan warga, perbukitan penuh semak tanaman di sisi kanan, atau nyiur kelapa di sisi kiri sepanjang pantai Senggigi. Selain menikmati deburan ombak, perahu nelayan di kejauhan, kita bisa menikmati beberapa fasilitas seperti sewa perahu boat, sekedar menceburkan diri di pantai, dan selancar. Di sini juga tersedia fery penyeberangan ke pelabuhan penyebarangan Padang Bai Pulau Bali.

Senggigi-1 Senggigi-2 Senggigi-4 Senggigi-5 Senggigi-6 Senggigi-7 Lombok-1

Perjalanan kembali ke Kota: Makan Nasi Ayam Nalap Puyung

Tak terasa matahari sudah semakin terik dan siang mulai menjelang. Maka kami putuskan kembali ke arah Bandara Lombok sambil singgah di beberapa tempat. Menjelang siang, kami makan siang di Ampenan. Ada menu khas Lombok namanya Nasi Ayam Balap Puyung..Hmm. Kelasnya memang pinggir jalan, tetapi rasanya lebih sedap dari yang kelas resto yang kami singgahi semalam.

Shalat di Masjid Raya Attaqwa

Shalat Dhuhur dan Ashar kami jamak di Masjit Raya Attaqwa

Masjid-Attaqwa MenaraAttaqwa

Kampung Tenun Sukarere

Tempat ini searah tenggara kota Mataram. Di sini kita bisa menyaksikan ibu – ibu asli Sasak yang mempraktekkan menenun berbagai bahan pakaian, asesori maupun perhiasan. Rata  – rata perempuan Sasak sudah bisa menenun pada usia sangat muda, bahkan mulai usia sembilan tahun. Di Sukarere ini juga dipajang dan dijajakan berbagai kerajinan tenun, kayu, maupun gerabah. Tetapi kelihatannya yang paling menarik dan banyak dikunjungi (ibu  – ibu) ya kain tenun itu. Di sini kita juga bisa praktik tenun, meski hanya untuk sekedar narsis.  Perjalanan dari Kota Mataram ke sini cukup lama, dengan kendaraan pribadi sekira 45 menit.

SukaRere-IbuPenenun SukaRere-AlatTenun SukaRere-Craft Sukarere-KainTenun SukaRere-Menenun

Pemikiman Sasak Asli, Kampung Sade: Kotoran Kerbau, ilalang, dan tenun

Meneruskan jalan ke arah tenggara dari Sukarere, kita kaan menemukan Perkampungan Asli Suku sasak. Namanya Kampung Sade. Meski Kampung, tempat ini  letaknya persisi di pinggir jalan utama yang menghubungkan Kota Mataram dengan Pantai Kuta Lombok. Di sini, rumah, kebiasaan hidup, upacara adat, dll masih tetap dipelihara dan sengaja dipelihara untuk tujuan wisata dan mempertahankan budaya tentu saja.  Yang paling mencolok ditemui tentu saja adalah bangunan rumah, lumbung, atau balai pertemuan yang khas Sasak dan berbeda dengan bangunan di luar ‘komplek’ kampung. Bangunan berdinding bambu dengan ventilasi minimal, beratap rumput ilalang, berlantaikan campuran tanah liat dengan kotoran kerbau J. Adonan kotoran kerbau yang baru keluar dari si empunya dan tanah lihat menghasilkan zat kimia baru yang kuat. Kotoran kerbau, bukan sekali dpakai pada saat membuat lantai atau sebagian dinding, tetapi pada periode tertentu digunakan untuk mengepel lantai.

Mata pencaharian suku sasak mayoritas/semuanya adalah bertani dengan mengandalkan tanaman padi sebagai komoditas tanaman utama. Tetapi karena cuaca tidak memungkinkan untuk menanam dan memanen sepanjang tahun, maka panen padi yang hanya sekali dalam setahun tersebut sebagian digunakan sebagai cadangan makan yang disimpan di lumbung-2 khas sasak. Di seantero Lombok dan NTB umumnya, arsitektur lumbung khas Sasak inilah yang ditemui di bangunan-2 sekarang. Meski kelihatanya ada kemiripan budaya dan bahasa dengan Bali, mayoritas/semua penduduk Sasak di perkampungan ini beragama Islam.

Kebetulan saat kami berkunjung, sedang ada pesta khitan dan pernikahan di Kampung ini. Maka kami bisa menyaksikan kesibukan di dapur maupun di tempat pesta adat tersebut. Berikut photo-2 nya. Selamat menikmati.

Sade-WelcomeGreating Sade-SuasanaKampung Sade-RumahKecilUntukLansia-Honeymoon Sade-Lumbung Sade-LantaiBerundak Sade-LantaiBangunanRumah KainTenundiSasak Sade-LampuPenerang Sade-MasjidiKampungSasak Sade-Peralatan Dapur

www.mercubuana.ac.id 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: