jump to navigation

Oleh – oleh dari ICTS 2013 Denpasar, Mulai dari Robot pendengar yang bisa membedakan berbagai suara; transaksi data antara kita google, microsoft dan toyota; s.d struktur data pemerintahan yang payah Mei 16, 2013

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang di seputar Mercu Buana.
trackback

Siang tadi saya menghadiri konferensi ICTS 2013 di Denpasar Bali (http://icts.if.its.ac.id/). Selaku dosen dan juga pelajar, salah satu kewajibannya adalah melakukan penelitian dan mempublikasikan hasil penelitian. Setidaknya untuk keperluan kenaikan pangkat  dan akreditasi J

Tidak seperti biasanya, kali ini saya bisa menikmati dan menangkap sedikit materi yang disampaikan oleh pembicara kunci? (key note speakers= KS). Untuk konferensi internasional seperti ini, melibatkan setidaknya 4 negara peserta, pembicara kunci dari perguruan tinggi di luar negeri. Kali ini ada dari Jepang, Singapura, dan Swiss. Secara ringkas dengan sepanjang yang saya ingat, sekilas apa yang beliau sampaikan seperti uraian di bawah.

Prof. Tsuyoshi Usagawa (Kumamoto University) adalah pembicara kunci pertama. Dia menyampaikan hasil penelitiannya berupa model robot yang ditujukan untuk membantu pendengaran manusia. Tidak hanya membantu mendengarkan suara, model ini mampu membedakan berbagai suara yang didengar bersamaan oleh seseorang. Belum (dan rasanya tidak akan) mampu menyamai pendengaran telinga kita yang ternyata luar biasa sempurna ini. Bayangkan saja dengan hanya dua telinga kita bisa memisahkan berbagi macam suara yang didengar bersamaan. Misalnya pada saat mendengarkan konser musik, kita bisa membedakan mana suara piano, mana suara saxopone, mana suara penyanyi, mana suara penonton yang kagum atau ngerumpi. Nah karakteristik sistem telinga seperti ini yang inigin dicoba untuk ditiru model yang sedang dalam proses finalisasi riset Profesor.  Tidak hanya menjelaskan proses dan hasilnya, namun Professor juga menampilkan video saat robot boneka manusia bekerja dengan sistem pendengaran tiruan ini.

KS yang kedua diisi Prof Stephane Bressan dari NUS Singapura. Dia mengangkat isu data sebagai komoditas. Dengan tanpa sadar semua kita pengguna internet dan perangkat yang terhubung ke internet (PC, smartphone, dll) adalah penyedia data yang setiap saat dipanen oleh corporasi internasional, Mbah google atau Pak Mikrosof sebagai contoh. Mereka – dengan memberikan layanan gratis – tanpa kita sadari atau kita diamkan,  bisa memanen kebiasaan – kebiasaan dan kesenangan kita. Kebiasaan kita mencari makalah tertentu, kebiasaan kita berbelanja di situs tertentu, kebiasaan kita mengunjungi situs tertentu, mendengarkan musik tertentu daan seterusnya merupakan data berharga bagi perusahaan-2 pemroduksi bahan – bahan konsumsi. Karena berharganya mereka rela membeli ke perusahaan pemanen data dengan harga yang besar. Sementara kita pemilik data tidak menikmati keuntungan komersial secara langsung. Skemea penentuan harga transaksi antara pemilik, pemanen, penikmat, pembeli dan semua pihak yang terlibat dalam lalu lintas data yang sangat besar (belakangan disebut big data) ini lah yang dicoba untuk dieksplorasi dan dirumuskan formulanya oleh profesor  Bressan. Oleh karena menyangkut formula transaksi maka riset ini tidak hanya urusan orang-2 ilmu komputer tetapi juga statistik, mate matika, eknomi, bahkan psikologi. Dengan alasan itulah Prof membuka dan menawarkan kerja sama  bagi siapa saja dari disiplin ilmu lain yang relevan untuk riset bersama. Kesempatan bagi teman-2 disiplin ilmu lain di Universitas Mercu Buana  atau Perguruan Tinggi yang lain. Jika berkenan kontak beliau, kontak ada di saya. Silakan🙂

Selanjutnya giliran Prof Amijn Anjomshoaa dari Vienna Univesity of Technology Swiss. Beliau mengangkat isu yang beririsan dengan Prfo Bressan, masalah big data di internet. Topik yang didiskusikan dalam makalahnya adalah OGD = Open Government Data. Dari seluruh dunia, volume data – data yang dimiliki pemerintahan merupakan komposisi paling banyak namun paling tidak terstruktur sehingga paling sulit dimanfaatkan atau digali informasinya. Salah satu ketidakstrukturan ini adalah minimnya keterkaitan sintak antara satu data dengan data yang lain yang sebenarnya secara semantik berkaitan. Prof Amiin mengemukakan ada lima kategori bintang, mulai satu sampai dengan bintang lima seperti hotel saja, terkait dengan struktur data untuk data – data pemerintahan. Level 1 paling sulit dimanfaatkan dan level 5 paling mudah untuk dimanfaatkan tentu saja. Permasalahan ketidakstrukturan ini yang  dicoba untuk diselesaikan dengan ilmu komputer sehingga nantinya pemanfaatanya menjadi lebih mudah. Saya sempat berdiskusi dengannya karena saya punya ketertarikan di area yang sama. Saya katakan di Indonesia permasalahan lebih dari sekedar tidak terstruktur, kalau beliau mengangkat hanya data digital di Negara kami rasanya informasi atau data masih banyak berteberan di media hard copy. Padahal antara data dalam satu lembar hard copy pasti tidak berdiri sendiri, dan terkait dengan lembar hard copy yang lain, sebagai contoh KTP dengan Kartu Keluarga. Jadi permasalahan di sini lebih kompleks. Beliau memahami dan membuka diri untuk diskusi lebih jauh nanti dan syukur – syukur bisa berkolaborasi. Semoga

www.mercubuana.ac.id 

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: