jump to navigation

Menggunakan Data Mining Untuk Memprediksi Perilaku (Pilihan) Pemilih Pilkada, Mengapa Tidak ? Agustus 2, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Kami Kerjakan.
trackback

Kegagalan dan kesalahan (Lembaga) survei dalam menebak hasil PILKADA di beberapa daerah  seperti di Jawa Barat, NAD, dan terakhir yang fatal di DKI Jakarta menyebabkan banyak pandangan sinis kepada (Lembaga) survei. Kredibilitas (lembaga) survei dipertanyakan di sana – sini. Menjadi topik pembicaraan negatif di berbagai obrolan pingir jalan, diskusi seminar formal, sampai dengan talkshaw di berbagai stasiun TV. Juga menjadi topik pembicaraan hangat di sosial media tentunya.

Survei merupakan salah satu metode untuk mendapatkan informasi dari suatu populasi dalam suatu peristiwa (demografi,  ekonomi, politik, dll) dengan tidak menggunakan seluruh jumlah populasi yang tersedia, melainkan dengan cara penarikan sampel yang bisa  mewakili  karakteristik  populasi tersebut. Sampai dengan saat ini survei masih menjadi metode yang diandalkan untuk mendapatkan informasi. Berbagai penelitian menggunakan metode survei dan setidaknya dua Lembaga Negara yaitu Biro Pusat Statistik dan Bakorsutanal menggunakan survei sebagai salah satu kakas mereka. Tetapi bagaimanapun, survei mengandung kelemahan karena kemungkinan terjadi kesalahan dalam mengambil sampel. Beberapa kasus kesalahan survei dan atau lembaga survei dalam memprediksi hasil PILKADA di atas menunjukkan bahwa survei mengandung kelemahan.

Berbagai analisa dibuat guna mencari penyebab mengapa kesalahan prediksi tersebut terjadi. Salah satu analisa menyebutkan bahwa kesalahan dalam membaca dan menginterpretasikan hasil survei terkait massa mengambang yang jumlahnya lebih dari 40 % [HU Kompas 23 Juli 2012]. Analisa yang lain menyebutkan kesalahan pada lembaga survei yang tidak kredibel [lihat dihttp://pilkada.kompas.com/berita/read/2012-07-19/22223739/Kredibilitas.Lembaga.Survei.Dipertanyakan diakses pada Hari Selasa, 24 Juli 2012], [http://www.jpnn.com/read/2012-07-17/134030/PKS-Hentikan-Kebohongan-Lembaga-Survei-Partisan]. Sementara Soegeng Sarjadi Sindicate pada [http://www.republika.co.id/berita-menuju-jakarta-1-news-12-07-15/m77a08/abaikan-tiga-kelompok-masyarakat-survei-pilkada-dki-kecele-] menyebutkan kesalahan prediksi diakibatkan oleh pengabaian terhadap tiga kelompok masyarakat. Terlepas dari berbagai analisa permasalahan survei dan kemungkinan solusinya, sudah saatnya digunakan kakas lain selain survei yang sesuai dengan kebutuhan dan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mendapatkan informasi tertentu atas suatu populasi maupun peristiwa tertentu.

Ide penggunaan data mining ini –terus terang- datang dari (calon) sup.ervisor saya di program doktoral fasilkom UI dalam obrolan ringan minggu lalu. Berbeda dengan survei yang mengandalkan analisa statistik dari data hasil sampel yang mewakili suatu populasi tertentu, Data Mining mengandalkan analisa komputasi, staitistik, atau mesin pembelajaran untuk menggali pengetahuan dari keseluruhan populasi yang ada dalam basis data. Secara praktir, data mining – misalnya – menggunakan basis data seluruh pemilih DKI yang sejumlah 6.983.692 Daftar Pemilih Tetap (http://kpujakarta.go.id/ ) sebagai bahan mentah. Dengan model penggalian informasi ‘biasa’ seperti pelaporan, analisa drill down, atau dress up tidak mencukupi untuk “menggali” informasi yang tersembunyi dari sekian banyak populasi. Salah satunya karena keterbatasan “isi memory” komputer yang mungkin saja tidak sanggup memuat sekian banyak data pada sekali pengolahan. Di sinilah perlunya Data Mining.

Jika Data Mining berhasil diterapkan untuk menggali perilaku “seluruh” pemilih dengan yang salah satunya digunakan untuk menebak pilihan, maka setidaknya ditemukan alat lain sebagai pembanding, pelengkap, atau alternatif metoda survei. Kelebihan data mining, antara lain : menggunakan sampel seluruh populasi, terbebas dari kepentingan sampingan karena tidak membutuhkan intervensi manusia semasif survei, biaya jauh lebih murah karena memanfaatkan data yang sudah dikuasai/sudah ada, dan otomatis akan meningkatkan daya guna dari data yang selama ini ada tersebut.

Lanjutannya, data mining tidak hanya digunakan untuk menebak pilihan tetapi juga untuk kepentingan stratejik lainnya. Jika perilaku (sebagian besar) penduduk Indonesia – yang datanya sudah ada di Depdagri melalui e-KTP- bisa dipetakan maka pemerintah akan lebih mudah, murah dan presisi dalam menentukan rencana pembangunan nasional. Misalnya perencanaan penggunaan energi, perencanaan stock konsumer good, perencanaan alokasi obat, perencanaan penanggulangan penyakit, bencana dll akan bisa dilakukan dengan lebih baik. Meski survei tetap diperlukan. Data mining bukan merupakan alat baru yang digunakan oleh lembaga pemerintahan. AS tahun 2004 sudah memulai menggunakan data mining untuk berbagai keperluan di berbagai lembaga pemerintahan. Berdasarkan laporan United Stated General Accounting Officer kepada Senat Amerika [lihat www.gao.gov/cgi-bin/getrpt?GAO-04-548], tahun 2004 sebanyak 52 dari 128 Badan / Lembaga Pemerintahan Amerika Serikat telah menggunakan data mining untuk berbagai keperluan. Enam keperluan utama tersebut: Analisa intelijen dan pendeteksian aktivitas teroris; pendeteksian aktivitas atau pola kriminal; pengelolaan sumber daya manusia; analisa ilmiah dan informasi riset; pendeteksian kecurangan, pemborosan, atau penyalahgunaan; dan peningkatan layanan pemerintah atau kinerja;

Jadi, mengapa tidak dimulai digunakan kakas data mining ini? Jadi, siapa yang berani memulai penggunaan untuk stratejik di lingkungan Pemerintahan?

Komentar»

1. fiki - Desember 5, 2012

bisa ga pak dimungkinkan penggunaan data mining ini untuk judul skripsi tetapi ruang lingkupnya diperkecil

2. Mujiono Sadikin - Desember 5, 2012

Bisa saja, topik data mining yang lain juga banyak🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: