jump to navigation

Sesi Ke 2 SINAPTIKA, belajar ilmu hitam. Prof Iping mengajarkan hutan dan cangkul, Prof. Tjan membawa teknologi baru yang mungkin suatu saat bisa digunakan untuk mendeteksi wajah atau perilaku koruptor J Juli 8, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang di seputar Mercu Buana, Yang Kami Kerjakan, Yang Sayang Dilupakan.
trackback

Prof Iping Supriana, Prof Tjan Basaruddin

Prof Iping Supriana, Prof Tjan Basaruddin

Prof. Iping Supriana Suwardi, guru besar Informatika ITB yang juga salah satu pendiri Teknik Informatika ITB, adalah pembicara berikutnya pada sesi ke dua. Perjalanan dan kemacetan dari Bandung rupanya tidak mengurangi semangat beliau untuk memberikan pencerahan dan tantangan bagaiman akademisi dari rumpun bidang ilmu Informatika atau Ilmu Komputer dapat berperan. Bagai beliau, korupsi seperti halnya bidang – bidang yang lain hanyalah sebagai lahan atau hutan yang harus digarap dengan cangkul misalnya. Hutan itu terlalu luas jika hanya diurus oleh lembaga, atau orang – orang tertentu. KPK tidak akan mampu berperan sendirian dalam menggarapnya. Demikian juga kalangan TIK Nasional. Kalangan TIK Nasional hanyalah sekumpulan pihak yang bertugas menyiapkan salah satu cangkul untuk menggarap lahan pemberantasan korupsi. Satu cangkul itu adalah Teknologi Informasi dan Komunikasi yang lagi – lagi merupakan senjata yang sangat besar jika hanya disangga oleh pihak atau tertentu. Semua kalangan harus berperan sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing – masing dengan tanpa menganggap bagian atau dirinya lebih penting dari yang lain.

Dalam mengambil peran itu sangat mungkin akan berhadapan dengan permasalahan yang cukup besar untuk dapat diselesaikan bahkan hanya untuk dikenali sekalipun. Oleh karena itu di sini guru Informatika / Komputer di Jaman Peradaban Islam memberikan wejangannya. Menurut Pak  Iping, beliau adalah Al- Khawarizmi. Al-Khawarizmi mengajarkan jika kita menghadapi masalah yang tidak kita kenali untuk diselesaikan maka pilahlah/bagilah menjadi bagian – bagian yang cukup kecil untuk kita kenali dan selesaikan. Inilah intinya Algoritma. Jadi algoritma adalah seni memilah dan menyelesaikan masalah J

Dalam menyelesaikan masalah pun, tidak harus mencapai titik ideal pada tahap jangka pendek. Begitu Prof. Iping mengajarkan. Perkembangan komputer dan sistem operasi, telah mengajarkan. Komputer dulu segedhe gaban dengan memakan power yang bisa digunakan untuk menerangi seluruh kampung. Tetapi usaha tak kenal lelah para ahli mewujudkan berbagai model komputer yang kompak, simple, hemat energi, bahkan trendi seperti sekarang ini. Jika kita khawatir dengan solusi yang tidak ideal, dan oleh karenanya kita tidak bergerak, maka bisa jadi kita tidak akan mengenal Windows, atau android sekarang.

Terkait dengan materi filosofis itu maka Prof Iping, pada akhir sesi, memberikan tantangan kepada audience bisakah masing – masing Perguruan Tinggi untuk memilih bagian cangkul yang mana yang akan ditekuni dan dijadikan fokus andalan. Misalnya Imu Komputer IPB dengan TIK untuk pertanian, STT Telkom dan Poltek Telkom fokus pada TIK untuk telekomunikasi, dan Universitas Mercu Buana, TIK untuk melawan korupsi. Sebab tidak ada pihak yang bisa apalagi menguasai semua cangkul apalagi lahan hutanJ.

Kalau Prof Iping memberi pencerahan filosofis, maka Prof Tjan menyambutnya dengan pengenalan teknologi di bidan Computer Science (dan juga psikologi, komunikasi massa, dll) yaitu apa yang disebut dengan Social Signal Processing (SSP). SSP merupakan ilmu yang relatif baru di belantara ilmu hitam Computer Science. Inti dari ilmu ini adalah bagaimana komputer diajari untuk bersikap/berpikir layaknya manusia yang bisa menginterpretasikan apa yang sedang terjadi, sedang dialami, sedang dipikirkan, sedang atau akan dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dari gestur tubuh, atau nada suara orang – orang tersebut. Sebagai contoh, jika dihadapan kita ada dua orang yang saling bentak, otot menegang, dls kita bisa mengambil kesimpulan mereka sedang bertengkar. Atau dengan bisa mengatakan seseorang sedang marah, sedang sedih, sedang gembira, atau sedang melamun dengan melihat photo mereka atau mendengar nada suara mereka. Nah bagaimana komputer bisa menginterpretasikan emosi sosial itu seperti manusia ? Itulah SSP.

Saya coba googling SSP ini setelah pencarahan Prof Tjan itu, tetapi tidak banyak yang bisa dapatkan apalagi berupa paper (saya coba bandingkan dengan data mining, image processing, atau IT Governance misalnya). Jadi ilmu ini memang relatif baru dan dengan demikian sangat terbuka untuk dieksplorasi oleh peneliti, dosen, atau kalangan lain yang tertarik. Siapa tahu akan bisa mempertajam cangkul untuk mengolah lahan hutan belantara korupsi di Indonesia. Sesuai dengan sub tema sinaptika ini.

Seminar Sesi Paralel

Setelah seminar utama dengan 4 pembicara tadi, selanjutnya diteruskan dengan seminar sesi paralel yang mempresentasikan 70an  paper/makalah dari berbagai perguruan tinggi di Tanah Air.  Makalah terbagi ke dalam berbagai kategori TIK mulai dari Sistem Informasi, Temu Kembali Informasi, Kecerdasan Buatan, Model dan Simulasi, IT Governance, Image Processing, dll.

Begitulah sekedar ringkasan sekenanya. Semoga berguna dan sampai jumpat di SINAPTIKA tahun depan. Insyaallah.

Komentar»

1. Toto Suharto - Juli 8, 2012

wah, setelah bicara profesi utk kebun mangga, koki, rm padang, rt/rw & kampung informatika, sekarang pak iping beralih membahas cangkul dan hutan.. hehe, sip lah..🙂

Mujiono Sadikin - Juli 9, 2012

Iya Kang, masih seperti dulu🙂.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: