jump to navigation

Cukup dengan sistem transportasi kereta yang terintegrasi, kita harus mengakui Malaysia jauh lebih baik dalam manajemen perkotaan. Juni 14, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari.
trackback

1. Peta LRT-KTM Komuter -Monorail - KLIA Ekspress

1. Peta LRT-KTM Komuter -Monorail – KLIA Ekspress

Meskipun sekian tahun lalu saya pernah mencoba kereta ringan bawah tanah di Singapura, menggunakan kembali kereta ringan di Kuala Lumpur tetap saja membuat saya terkagum dan berfikir. Terkagum karena betapa masyarakat dimudahkan dengan sistem transportasi terintegrasi ini, berpikir karena mengapa Jakarta dulu tidak bergerak membuat sistem seperti ini. Tidaklah mungkin para pejabat Pemerintah Indonesia umumya atau Pemerintah Kota Jakarta waktu itu – pada saat sistem ini direncanakan atau dibangun – tidak mengintip geliat Malaysia dalam membangun sistem transportasi kotanya. Secara sudah menjadi kebiasaan para pejabat untuk studi banding bukan ? J Sekarang untuk Jakarta mungkin semuanya sudah terlambat, jalanan sudah terlalu penuh sesak sehingga akan sangat menyulitkan untuk kegiatan konstruksi, biayanya mungkin juga sudah terlalu mahal dibading ketika dolar masih Rp 125 seperti dulu, dan seterusnya, dan permasalahan-2 berikutnya.

Baiklah ditinggalkan dulu permasalahan Jakarta yang seperti itu. Dinikmati saja naik kereta ringan di Kuala Lumpur.  Bahkan bagi pendatang baru sekalipuan, asal bisa baca tulis tanpa perlu mengerti Bahasa Inggris, perjalanan dengan kereta ringan ini sangat mudah dan tentu saja murah. Berbekal dari peta yang disediakan Cuma – Cuma oleh hotel tempat saya menginap, saya mendapatkan semua informasi mengenai rute dan penggunaan moda transportasi kereta yang terintegrasi ini. Mode transportasi kereta ini terdiri dari: Kereta Ringan (LRT) jalur Kelana Jaya (KJ) dan jalur Ampang,  KTM Komuter, KL Monorail, dan KLIA Ekspress / Transit yang menuju Bandara KLIA. Dari peta itu kita bisa menentukan untuk mencapai tujuan tertentu, rute atau kereta mana yang akan kita tumpangi, di stasiun persimpangan atau pergantian mana kita harus transit. Di setiap stasiun persimpangan (antara LRT-LRT, LRT-KTM Komuter, LRT – KLIA Ekspress, dan sebealiknya) diberikan informasi yang jelas dan juga akan mendapatkan warning dari mesin suara di atas kereta. Begitula untuk setiap pemberhentian berikut, penumpang akan mendapatkan pengumuman yang cukup membantu.

Di setiap stasiun terdapat informasi dan notifikasi yang mencukupi yang bisa memandu kita untuk menentukan gerak. Secara periodik pengeras suara yang berisi peringatan keselamatan juga dinyalakan.  Mulai dari masuk stasiun sampai dengan turun dan keluar, terdapat papan panduan yang mencukupi mulai dari di mana membeli tiket, di mana seharusnya kita mengarahkan langkah untuk menuju tempat menunggu kereta yang benar sesuai dengan tujuan kita, di mana tandas (toilet) berada, di mana surau (untuk stasiun yang cukup besar).

Sistem pembayaran ada dua jenis, begitu yang saya amati. Pertama menggunakan coin dan yang kedua menggunakan kartu pra bayar. Tidak ada petugas yang melayani penjualan coin, pemeriksaan maupun pembukaan / penutupan pintu. Semua dilakukan oleh sistem. Penjualan tiket pra bayar – kalau tidak salah, karena saya tidak mencoba – dilayani oleh petugas. Sistem masuk dan keluar stasiun dibuat sedemikian rupa sehingga hanya penumpang yang membayar dengan benar bisa masuk dan keluar stasiun dengan aman. Sistem pembayaran dengan coin lah yang saya gunakan, karena ini cocok untuk pendatang yang sekali pakai.  Dengan sistem ini sebelum kita masuk ruang tunggu stesen, kita membeli coin seharga sesuai tujuan. Kita cukup mendatangi mesin, memilih tujuan kita, maka akan disajikan informasi harganya untuk kita, kita memilih berapa banyak pembelian, sistem memberitahukan berapa banyak yang harus dibayar, kita bayar dengan uang kertas atau coin. Terakhir sistem akan mengeluarkan coin sesuai tujuan dan mengembalikan sisa pembayaran jika ada. Dengan coin itulah kita masuk dan keluar stasiun. Saat masuk, coin cukup dilekatkan pada pintu masuk untuk membuka pintu, saat keluar coin dimasukkan ke pintu masuk juga untuk membuka pintu keluar hanya untuk satu orang. Sebab setelah satu orang lewat pintu ini otomatis akan menutup.

Di dalam kereta lagi – lagi tersaji papan peringatan dan informasi yang cukup jelas, seperti kita tidak boleh makan/minum, tidak boleh membawa binatang peliharaan, tidak boleh merokok. Dianjurkan untuk mengutamakan tempat duduk bagi wanita, ibu hami/dengan bayinya, orang tua, dan orang berkebutuhan khusus. Rute yang akan dijalani kereta terbaca jelas di atas pintu masuk – keluar.

Dengan sistem transportasi seperti ini dan terintegrasi juga dengan moda yang lain seperti bas dan taksi yang relatif murah dan bersih. Murah bagi warga malaysia, bersih dan nyaman jika dibandingkan dengan kondisi transportasi Jakarta, maka wajar jika jalan – jalan Kuala Lumpur mayoritas terasa lega, terbebas dari kemacetan apalagi parah seperti Jakarta. Warga lebih memilih naik mode kereta daripada membawa kendaraan sendiri. Bagi warga Kuala Lumpur, perjalanan dalam kota ½ jam pada waktu normal sudah dianggap lama. Bagi kita di Jakarta waktu tempuh ½ jam pada jam – jam kerja adalah anugerah luar biasa.

Begitulah, satu hal yang membuat saya iri sebagai warga Jakarta. Mungkin Jakarta sudah terlambat untuk memulai dengan segala persoalannya. Kita lihat saja kasus Monorail yang tiangnya sudah berlumut dan berkarat, tetapi belum tahu diteruskan atau tidak. Jika Jakarta dianggap terlambat, mungkin kota – kota raya lain di Indonesia harus segera memulai jika tidak ingin terlambat seperti jakarta suatu saat. Wallahu alam.

Oh ya ada yang tercecer. Jangan sekali  – kali mencoba curang untuk menggunakan sistem transportasi ini. Akan ketahuan dan didenda 2 kali lipat harga. Itulah yang saya lakukan dan menimpa saya. Karena saya pikir untuk menuju stesen manapun coin yang digunakan berukuran sama dan rasanya berberat sama. Tetapi rupanya di dalam coin ada chip yang membedakan harganya. Ingin mencoba kebenarannya, mengetes, maka saya berbuat curang. Dari stesen Sultan Ismail (lihat peta :)), saya membeli koin untuk jarak lebih dekat yaitu di Masjed Jamek, tetapi saya turun di stesen lebih jauh KLCC tujuan saya. Sampai KLCC koin yang saya beli terbaca invalid dan tidak bisa digunakan untuk membuka pintu keluar. Akhirnya saya “tertangkap” dan mengakui kesalahan. Disuruh membayar 2 kali lipat. Sambil cengar – cengir saya bisa keluar. Tak apa lah, pengalaman. Tetapi jangan diikuti dan saya tidak akan mengulainya🙂

4-selalu-ada-escalator-untuk-naik-dan-turun-sangat-membantu

4-selalu-ada-escalator-untuk-naik-dan-turun-sangat-membantu

 

2-lihat-peta-ke-arah-mana-akan-menuju

2-lihat-peta-ke-arah-mana-akan-menuju

 

papan-petunjuk-rute-dan-arah

papan-petunjuk-rute-dan-arah

 

Menunggu LRT di stesen kecil

Menunggu LRT di stesen kecil

Di dalam LRT, Nyaman, bersih, sejuk, cepat sampai dengan biaya terjangkau

Di dalam LRT, Nyaman, bersih, sejuk, cepat sampai dengan biaya terjangkau

Komentar»

1. za - Juni 18, 2012

Haha… Mas Moedjiono bisa aja, dicoba sistem tiket-nya. Orang Indonesia memang kreatif😉

Menurut saya mengapa Malaysia & Singapura bisa memiliki sistem transportasi yang lebih baik ini karena -ujung-ujungnya- sistem politiknya, Mas.

Tidak ada oposisi kan di sana?

Bahkan saat saya ngobrol dengan teman Malaysia, mereka sudah implementasi e-KTP 10 tahun yang lalu. Terbayang kan?

Errrh… tapi kok teman saya ini masih naik sepeda motor ya untuk bekerja. Dan katanya macet juga tuh.

2. Mujiono Sadikin - Juni 18, 2012

Satu kuncinya, political will dan pemimpin mereka tidak hanya mementingkan diri sendiri. Di Malaysia ada oposisi PAS dan partainya Anwar Ibrahim itu.

Ya e-KTP (smart card) termasuk salah satu flat chip (triger lompatan, crash program?) Program TIK Malaysia (MSC dan Digital Malaysia). Termasuk dalam flat chip ini : eGov, eSchool/ Smart School, dan Smart Card (Tulisan saya sebelumnya)🙂

Yang saya lihat sih nggak ada “macet”, cuman dari temen saya juga (yang antar saya ke mana2, dosen di sana), antrian di lampu merah 200 meteran atau kecepatan 30 – 40 km/jam dalam kota sudah dianggap macet, orang sana sudah ribut. Yang jelas tidak ada jalan raya dalam kota ketemu rel kereta:)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: