jump to navigation

Nikmatnya ditungguin orang tua & makanan “aneh” mulai dari lentho sampai thiwul Mei 24, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
trackback

Selain barokah, doa restu, tentu banyak lagi keuntungan bagi kita yang masih sempat ditunggui orang  tua. Bagi kita orang Jawa, orang tua adalah pepunden, sesembahan, gantinya Tuhan di dunia. Meskipun tidak lengkap lagi, kebetulan di rumah kami juga ditunggui orang tua ibu saya. Salah satu keuntungan bagi saya adalah tersedianya makanan kesukaan kapanpun mau, asal bahan tersedia. Makanan kesukaan ini bukanlah makanan istimewa atau mewah. Justru makanan antik yang sekarang jarang lagi bisa ditemui. Sebutlah lentho, oblok – oblok, bothok, pecel, thiewul, gaplek, sayur asem berbagai gaya (Magetan, Bojonegoro, Betawi). Hampir semuanya karya orang tua, yang saya tidak yakin kebanyakan ibu – ibu sekarang bisa (mau) membuatnya lagi.

Kebetulan orang tua saya dulu ‘hanyalah” pedagang barang matang (makanan, sayuran, lauk pauk). Ibu dulu bukak dasar di Pasa Gembrong Prumpung Jakarta Timur. Jadi keahlian memasaknya tidak perlu diragukan lagi. Bukan hanya saya yang bilang begitu. Semua saudara dan tetangga mengakui kehebatannya.

Kembali ke makanan tradisional tadi. Mungkin sebagian besar orang Jawa sekarang (yang tinggal di kota) tidak lagi familiar dengan thiwul, grawul, lentho, gathot, bothok atau oblok – oblok. Berikut kurang lebih uraiannya. Yang empat disebut pertama itu sebenarnya bahan dasarnya sama, yaitu singkong. Di tangan orang Jawa satu bahan singkong bisa menjadi berbagai makanan dengan rasa yang sama sekali berbeda. Dimulai dengan mode rebus dulu. Rebus pun di terminologi orang jawa ada godhog ada adang. Digodhok maksudnya bahan makanan langsung direbus dengan air (seperti merebus telur itu namanya nggodhog). Tetapi jika merebusnya tidak mencampu dengan air melainkan memanfaatkan panas uap air, istilahnya didang, diadang atau dikukus. Dengan mode ini maka bahan dasar makanan ini terpisah dengan rebusan air, biasanya menggunakan kukusan.

Dengan mode rebus (godhog maupun adang) dihasilkan makanan seperti:

  • Singkong rebus, singkong tanpa diolah apapun selain dikupas dibersihkan dan dicampur sedikit garanm
  • Grawul, Makanan hasil olahan singkong dengan cara singkong dipasrah (wah apa lagi ini ?). Intinya singkong dipotong dengan pasrah (seperti parut, tetapi dengan hasil potongan lebih besar). Potongan ini diadang, dengan bumbu garam, gula merah sesuai selera. Dihidangkan dengan atau tanpa parutan kelapa
  • Gethuk, singkong direbus kemudian dialuskan dengan campuran bumbu garam, gula (jika berkenan), disajikan dengan parutan kelapa
  • Gaplek, gaplek ini singkong yang dikeringkan, dari gaplek makanan turunannya antara lain: thiwul dan gatot.
    • Thiwul ini dari hasik gaplek yang diparut, diadang dengan bumbu garam, mungkin ada gula jga. Dihidangkan dnegan parutan kelapa.
    • Gathot, ini adalah galek yang dipotong kecil – kecil jauh lebih kasar daripada thiwul. Di adang dan dihidangkan dengan atau tanpa parutan kelapa.

Lalu ada makanan bebahan baku singkong dengan mode goreng

  • Lentho, ini lauk makan dari singkong. Singkong dipasrah atau diparut dicampur bumbu-2 seperti garam, lengkuas, tembe busuk (busuk kok enak?), cabe secukupnya. Dibuat bulatan-2 seperti bakso tapi pipih. Adonan itu digoreng dan…siap dijadikan lauk atau camilan kalau mau.
  • Singkong rebus, semua tahu
  • Timus, ini singkong diparut digoreng dengan bumbu selain garam ada gula.

Agak susah membayangkan memang. Mudah – mudahan gambar – gambar berikut lebih menjelaskan makanan – makanan tersebut. Lain kali saya tuliskan edisi makanan “aneh” yang lain seperti bothok dan oblok – oblok. Edisi kali ini cukuplah dengan singkong duluJ. Itupun sudah cukup makan halaman dan waktu baca.

Lauk "lentho", pindang, dan sayur oblok-2

Lauk “lentho”, pindang, dan sayur oblok-2

Thiwul

Thiwul

Gathot

Gathot

 

Gethuk

Gethuk

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: