jump to navigation

Hati – hati dengan Bahan Bakar Solar Januari 14, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Sayang Dilupakan.
trackback

Beberapa kali saya mendengar dari beberapa teman tentang kualitas BBM, khususnya solar, di Tanah Air. Katanya kebanyakan mobil – mobil kelas menengah atas di Eropa kebanyakan bermesin disel. Hal demikian tidak terjadi di Indonesia karena – katanya – kualitas solar di Indonesia buruk. Hari ini saya mengalami sendiri. Kendaraan saya bermesin disel dengan pertimbangan katanya bandel, dan memang buat kami lebih cocok mengingat ekonomis, dan mampu mengangkut banyak orang karena keluarga kami banyak. Mobil disel itu keluaran tahun 2005 dan saya menggunakannya sekitar setahun lalu. Selama setahun ini tidak pernah ada keluhan apapun. Apalagi mogok saat digunakan. Tapi hari ini rupanya tibalah saat naas saya. Mobil itu awal tahun lalu dipinjam famili untuk liburan ke Jawa Tengah – Jawa Timur. Kembali sekitar minggu lalu dengan tangki solar full. Lumayan juga tidak akan ngisi solar lagi untuk beberapa hari, pikir saya. Hari ini dari indikator terbaca solar masih setengah, cukup lah. Saat melaju tol, tarikan gas tiba – tiba terasa aneh. Saat diinjak tidak ada tenaga, terasa bahan bakar tidak mengalir semestinya. Mogok di tengah kepadatan tol JORR. Petugas Tol datang tak lama kemudian. Dengan bantuan mereka, pompa solar dikutak – katik bisa jalan lagi. Keluar pintu tol dengan hazard, ketemu bengkel sekenanya yang saya sendiri ragu. Tetapi tidak ada pilihan lain. Mobil saya tinggal jumatan. Kembali jumatan beres. Kata montir itu hanya pompa solar saja yang lemah, tapi masih bisa digunakan. Aman. Masuk Cijantung tujuan Meruya. Keluar tol ulujami ngadat lagi pas menjelang rel kereta Ulujami. Kutak – katik sendiri pompa solar, buang solar yang tersisa di situ. Masih bisa jalan dipaksakan, dengan kekhawitiran jangan – jangan mogok di tengah rel, dengan harapan ketemu bengkel secepatnya. Alhamdullilallh lolos rel. Pas selepas rel mogok, hujan, pas banget nih “penderitaan”. Alhamdullillah, ketemu Mas pengelola kios air minum isi ulang di sekitar rel itu. Darinya dapatlah Pak Puji, montir rumahan sekitar situ. Meski montir free lance, kayaknya dia professional. Terbukti alat – alatnya komplit dan sesuai dengan diagnosanya. Diagnosanya adalah masalah di filter solar, bukan di pompa solar seperti montir pertama tadi. Dan benar, saat filter solar dibuka. Isinya bukan solar, tapi air . Alhamdullillah sejaman beres, dan mobil bisa dihela lagi. Tapi rasanya masih ada sisa air di tangkinya itu. Maka saran P Puji isi biosolar – yang lebih baik kualitasnya daripada solar – sampai full tank. Dan kalau belum sempat dikuras nanti, mengisi biosolar lagi jangan sampai menunggu indikator tangki di bawah separo, agar semaksimal mungkin biosolar yang tersedot ke mesin. Bukan air yang kemungkinan masih tersisa. Terimakasih P Puji dan Mas Pengelola Kios isi ulang, dan hati – hatilah pengguna mesin disel.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: