jump to navigation

Mudik – Balik Lebaran, dari tukang pijat kaki lima sampai wc dadakan September 8, 2011

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari.
trackback

Niscaya semua orang di dunia sudah tahu bahwa Bangsa Indonesia mempunyai hajatan yang sudah pasti terjadi satu tahun sekali. Ritual mudik lebaran kemudian balik ke perantauan. Mudik – dulu riwayatnya dari kembali ke udik – dari kota – kota Besar (wabil khusus Jakarta) ke tempat asal daerah masing – masing (dominannya mungkin d i Jawa Barat, Tengah, dan Timur). Balik, kembali ke daerah perantauan tempat mencari nafkah setelah segala ritual dan urusan di udik selesai usai Lebaran.

Tahun ini ka mi sekeluarga mengikuti arus besar mudik balik itu. Rute darat yang cukup melelahkan juga mengingat rute yang kami lewati adalah Jakarta – Bandung – Jakarta – Magetan – Bojonegoro. Bagi yang belum tahu, Magetan dan Bojonegoro terletak di Propinsi Jawa Timur. Perjalanan mudik dari Jakarta ke Magetan Bojonegoro kami lewati dengan lancar karena sudah melewati arus puncak mudik.

Konon katanya lebih dari 10 juta orang bergerak secara bersama – sama dalam kurun waktu dua mingguan untuk ritual mudik balik ini. Maka tidak heran jika pergerakan massif manusia sebanyak dua kali lipat penduduk Singapura ini merupakan magnet dan daya tarik yang luar biasa bagi siapapun yang bersentuhan untuk mengikuti arus besar ini. Aparat pemerintah jauh – jauh hari sudah sibuk mempersiapkan segala sarana dan prasarana mudik dan balik ini.  Mulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan dan evaluasinya. Perusahaan – perusahaan swasta tak mau ketinggalan mengikuti arus besar ini. Sebutlah perusahaan otomotif, perusahaan operator seluler, perusahaan jamu, bahkan perusahaan leasing pun tak mau menyia – nyiakan potensi pasar yang gila ini. Mereka rela membayar lembur lebih karyawannya yang rela berkorban di hari libur ini.

Tentu saja tak ketinggalan pengusaha – pengusaha kaki lima sepanjang rute perjalanan mudik balik. Pedagang minuman makanan pinggir jalan menjamur. Memenuhi tempat – tempat strategis lokasi persinggahan dan peristirahatan sementara seperti pomp bensin, masjid – masjid. Bukan hanya pengusaha barang, pengusaha jasa dadakan kelas kaki lima dengan stand ala kadarnya pun menjamur. Tukang pijit misalnya, pun melihat potensi pasar ini. Kelelahan para pengendara di tengah kemacetan dan perjalanan panjang tentu membutuhkan sentuhan mereka. Urusan buang air kecil besar jutaan manusia tentu tidak bisa diakomodir oleh sarana tradisonal yangsekarang ada semisal toilet di pomb bensin, masjid, atau tempat peristirahatan resmi lainnya. Maka menjamurlah toilet – toilet daruruat yang selalu penuh.

Berbicara sarana angkutan. Semua sarana angkutan yang mungkin dapat digunakan untuk perjalanan jauh, akan digunakan juga meskipun tidak layak dan tidak sesuai peruntukkannya. Pemerintah ternyata sampai usianya yang ke enam puluh enam tahun ini belum mampu menyediakan sarana angkutan yang memadai, mencukupi dan apalagi terjangkau kebanyakan rahayat negeri ini. Maka moda angkutan jarak pendek seperti motor dan bajaj pun digunakan oleh para pemudik. Mereka terpaksa menggunakannya karena kereta tidak cukup, bis kurang, angkutan udara tidak terjangkau. Jadilah prasarana jalan darat dipenuhi aneka rupa mode transportasi.

Jutaan aneka moda transportasi berebut menggunakan ruas jalan yang tidak banyak bertambah dari tahun ke tahun. Maka dengan kombinasi kelelahan pengemudi, ketidakdisiplinan pengendara, dan kondisi jalan yang kurang baik mengakibatkan kecelakaan yang memakan korban selalu terjadi dari tahun ke tahun. Bahkan tahun ini lebih dari 600 orang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas arus mudik – balik.

Di balik keriuhan, kesumpekan, dan mara bahaya di jalan karena kecelakaan yang merenggut nyawa ini rasanya tidak salah jika disebutkan ada yang salah dalam mengurus negeri ini. Hajatan mudik – balik selalu pasti terjadi tiap tahun. Tetapi tidak pernah ada penanganan yang terencana dan serius untuk mengeloa hajatan ini. Perencanaan dan persiapan terlihat hanya bersifat ad hoc 1 bulan sebelum moment tiba. Jalan – jalan terburu – buru diperbaiki. Moda transportasi terburu – buru ditambah dan disiapkan. Rambu – rambu dipasang dan seterusnya. Tetapi selalu saja terulang kecelakaan demi kecelakaan, kemacetan demi kemacetan, moda transportasi yang tidak layak yang dipaksakan. Setelah acara mudik – balik selesai H+7, katanya selalu ada evaluasi untuk perbaikan tahun depan. Jadi kita tunggu saja apa yang terjadi tahun depan.

Apapun yang terjadi inilah negeri kita. Kita tetap patut mencintainya…

Salam

Kemacetan di ruas tol kuningan – palimanan

Pedagangan Kaki Lima Menjamur..

Istirahat di Masjid

Penduduk Lokal, Pantura Indramayu - Enjoy Aja

Motor di mana - mana

yang penting cepat sampai..

Risiko perjalanan..

WC dadakan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: