jump to navigation

Negara yang dipimpin para “Buto” (Raksasa) Agustus 3, 2011

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
trackback

Dalam sepenggal kisah Pewayangan yang dipentaskan Ki Mantep Sudarsono beberapa minggu yang lalu, diceritakan setelah berhasil meloloskan diri dari upaya pembakaran yang dilakukan oleh Para Kurawa dalam lakon Bale Sigolo – golo, Pandawa sampai di sebuah Dusun Pinggiran Negara Eka Cakra. Negara Eka Cakra ini dipimpin oleh para Buto (Raksasa) dengan Rajanya bernama Ratu Baka.  Raksasa Baka bukan buto biasa. Sebagai makhluk Raksasa kesenangannya memakan daging. Tetapi bukan daging hewan melainkan daging manusia. Dan tidak lain manusia – manusia yang menjadi korban adalah penduduk negara Eka Cakra sendiri. Setiap minggu masing –masing keluarga di negeri itu harus menyerahkan satu korban dari kalangan keluarganya untuk memuaskan hasrat membunuh Rajanya. Lama kelamaan penduduk negara itu hampir habis dimakan oleh oleh Raja Baka, tinggallah tiga orang dari satu keluarga seorang kepala Dusun. Singkat cerita Kepala dusun ini bertemu dengan Pandawa di desa tepi luar Negara Eka Cakra itu. Salah satu Pandawa, Bima, bersedia menjadi sesaji berikutnya sebagai korban bagi Raja Raksasa itu. Meskipun tidak ada kepentingan apapun, selain hanya ingin menolong keluarga Kepala Dusun yang baru ditemui itu, Bima bersedia mengorbankan dirinya.

Sebagai rakyat bagi saya kebanyakan pemimpin di Negeri ini tak ubahnya para Buto Negeri Eka Cakra itu. Jika memang benar para pemimpin Negeri ini – seperti tudingan sekaligus pengakuan Nasarudin- secara masif dan tanpa batas menggarong uang rakyat lewat APBN, apa bedanya dengan membunuh rakyat secara pelan – pelan ? Korupsi yang dilakukan pemimpin negeri ini telah dengan pasti membunuh rakyatnya sendiri. Membunuh kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Memperdalam penderitaan sakitnya rakyat miskin karena kekurangan tunjangan dan asuransi kesehatan dari Negara. Membunuh lapangan kerja rakyat karena kekurangan dana APBN untuk membuka lowongan kerja. Membunuh rakyat di jalan – jalan karena jalanan berlobang tanpa perawatan. Membunuh rakyat di angkutan umum karena kondisi angkutan yang jauh dari layak akibat subsidi yang disunat. Membunuh rakyat di sekolah – sekolah yang rubuh. Membunuh penghidupan rakyat yang tempat tinggal dan tempat bekerjanya terpendam lumpur. Pendek kata, karena korupsi yang meraja lela oleh para pemimpin dan penguasa, semua sektor dan sarana kehidupan yang harusnya dipelihara oleh Negara berubah menjadi mesin pembunuh yang tidak terlihat. Tetapi dapat sewaktu – waktu mengancam.

Tetapi Tuhan selalu adil dan akan terus bersifat adil. Seperti halnya Raja Buto Eka Cakra itu, para pemimpin yang rakus itu akan menerima balasannya. Entah cepat atau lambat suatu saat mereka akan habis. Kalau bukan karena rakyat yang murka, Tuhan akan menurunkan tanganNya sendiri untuk menghukum mereka. Wallauh alam bissawab

Komentar»

1. za - Agustus 4, 2011

Pak E, bacaannya apa tho? Kok wayang-an terus lakone.

2. Mujiono Sadikin - Agustus 4, 2011

@Zaki, :)…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: