jump to navigation

Selalu menyenangkan bertemu teman – teman baru… Juli 16, 2011

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Sayang Dilupakan.
trackback

Sarapan pagi di penginepan

Sarapan pagi di penginepan

Ingin rasanya kemanapun kita pergi selalu mendapatkan kesan yang menyenangkan. Mendapatkan teman – teman baru, salah satu yang menyenangkan itu. Paling tidak inilah yang saya dapati saat mengunjungi Kupang – Kalabahi karena pekerjaan. Ini pertama kali saya ke kawasan Nusa Tenggara Timur. Meskipun berbagai informasi saat ini bisa dengan mudah didapatkan. Tetapi mengunjungi tempat yang sama sekali baru apalagi dengan budaya yang lain, tentu berbeda. Beruntung saya selalu menemui orang – orang yang sangat membantu, mulai dari sekedar teman ngobrol sampai dengan memberikan informasi berharga bahkan bantuan material.

Seperti ke Gorontalo yang lalu, ke Kupang ini saya tanpa persiapan sama sekali. Akan naik apa dan nginep di mana setelah turun dari Bandara nanti. Beruntung saya mempunyai teman baik hati, terimakasih Guntur, yang punya teman di Kupang. Dengan perkenalan menggunakan handphone jadilah saya punya teman baru yang baru saya dengar suaranya sebelum sampai Kupang. Namanya P Sikun. Orang Cilacap yang sudah lama berusaha di Kupang. Dia menyediakan semuanya buat saya. Menjemput di Bandara, menyediakan makan malam, memesankan kamar hotel dan mengantar ke hotel sekalian. Dia pun menawarkan diri untuk mengantar ke Bandara pagi esok harinya. Ah…P Sikun sudah terlalu banyak membantu saya. Dan dia sedang sibuk urusan tender di perusahaanya. Jadi lebih baik saya mengurus diri sendiri saja. Dan cukup sampai di sini kali ini bantuan dari P Sikun. Sayang saya tidak sempat sekedar mengambil gambar berdua.

Sampai di Kalabahi, P Mus selaku owner pekerjaan di UPT Pelabuhan Penyeberangan tidak kalah baiknya dalam menyambut dan membantu saya. Untuk urusan pekerjaan sudah tidak perlu diturakan lagi. Dia yang menanyakan saya menginap di mana ? Saya jawab saya belum tahu pak. Baiklah kelihatannya lebih baik di penginapan dekat pelabuhan laut situ cocok buat bapak. Begitu katanya.

Kak Danken yang selalu menuruti apapun mauku:)

Kak Danken yang selalu menuruti apapun mauku:)

Dan benar saja, ibu penginepan sangat ramah dan juga sangat banyak mengetahui Kalabahi dan sekitarnya. Dia juga pernah lama di Malang Jawa Timur, karena di sanalah dia kuliah dulu. Jadi dia tahu banyak mengenai Jawa dan orang Jawa. Dia ceritakan sangat banyak mengenai Kalabahi. Tentang riwayatnya dulu sedari dia bisa meningingat dan dari cerita orang tuanya yang ternyata tokoh Kalabahi. Dia cerita mengenai makanan kas dan kerajinan kas Kalabahi. Di cerita makanan pokok orang NTT adalah jagung yang bisa dimasak dengan berbagai versi olahan. Saya tidak ingat satu per satu. Yang saya ingat hanyalah kue kas orang alor yang disebut Kue Rambut. Disebut kue rambut karena teksturnya sangat halus seperti kumpulan rambut. Dibuat dari gula nira yang sangat kental. Saking kentalnya jika gula nira ini disimpan dibotol kemudian dituang, tidak akan tumpah kalau tidak dikocok – kocok. Gula nira ini kemudian dituang di tempurung kelapa yang dibuat seperti saringan dengan lubang yang sangat halus sehalus rambut. Dari saringan tempurung kelapa inilah keluar tekstur gula nira berwujud kue rambut. Ibu penginapan juga punya banyak cerita mengenai awal mula kedatangan turis – turis manca negara terutama Australia dulu sampai menemukuan surga bumi tempat diving di Alor Kecil itu. Kebetulan saat itu juga ada satu turis yang menginap. Saya tidak sempat menanyakan namanya, hanya saja Meneer ini dari Belanda katanya. Dari ibu penginepan ini pula saya mandapatkan saran untuk ke Alor kecil dan menyeberang ketenangan selat alor ke Pulau Sepa.

Pulang dari jalan – jalan ke Alor Kecil, saya kembali ke penginepan dan ngobrol dengan sesama penghuni. Satu orang dosen di Surabaya, satu orang turis dari Belanda, dan satu orang pengusaha pedagan dari Sidoarjo Jawa Timur. Nah dengan P Sueb ini lah perkawanan saya berlanjut. Sebagai pengusaha pedagang, daerah NTT NTB adalah jajahannya. Jadi wilayah ini merupakan makanan sehari – hari baginya. Kali ini dia sedang mengurus untuk mengikuti tender di salah satu badan pemerintah lokal. Yang paling saya suka darinya adalah keterbukaan dan apa adanya. Tipikal orang Jawa Timur daerah pesisir. Dia adalah petualang tangguh dan petarung sejati layaknya Arjuna. Apa kabar Pak Sueb? Mudah – mudahan kita ketemu lagi. Kalau ke Jakarta seperti janji sampeyan, caria saya.

Ahmad, Calon Ekonom Un Muhammadiyah Makassar

Ahmad, Calon Ekonom Un Muhammadiyah Makassar

Pak Sueb, Petualang Sejati :)

Pak Sueb, Petualang Sejati🙂

Nongkrong di pinggir pantai sisi pinggir Pelabuhan Laut Kalabahi ketemu Ahmad. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah yang baru rehat kuliah dan baru mendarat dari kapal sore harinya. Saat itu dia akan pulang ke Pulau Pantar tempat kediamannya. Dia pulang menggunakan kapal motor kecil dengan kapasitas s.d. 50an orang. Nah dari dia saya tahu laut di samping ini adalah selat alor yang dikepung Pulau Kura, Pulau Pantar, dan Pulau Sepa di ujung sana. Kapal motor kecil (kapal klothok) di ujung sana, di pelabuhan rakyat mungkin, adalah alat transportasi utama yang mengubungkan Pulau Alor dengan pulau – pulau kecil sekitarnya yang masih wialayah kabupaten Alor. Jarak antar pulau tidak terlalu jauh dengan lama perjalanan satu jam an. Wah asyik juga saya pikir, kalau saya ikut nyeberang masih bisa mengejar urusan pekerjaan agak siang ini. Andai saja bukan karena dikasihtahu olehnya, saya akan ikut menyeberang dengan menggunakan kapal motor kecil (kapal klothok) itu ke pulau pantar. Tetapi tidak seperti yang saya kira – seperti transportasi darat yang bolak balik bisa sejam ada -, kapal klothok ini sehari hanya sekali jalan kalau berangkat dari Kalabahi jam 9 – 10 pagi baru esoknya kembali ke Kalabahi. Alah…Apa khabar Ahmad? Semoga cepat lulus dengan sukses dan tercapai  cita – citanya menjadi ekonom.  Dari Ahmad juga saya dapat kabar kalau di Sekitar Bandara Kupang ada situs Makam Raja Dato. Cukup dijangkau dengan ojek dari El Tari. Wah menarik itu, saya berjanji akan ke sana.

Sore hari saya kembali ke Kupang dengan menggunakan layanan Trans Nusa pesawat Fokker 50. Kebetulan cuaca sangat cerah. Terlihat jelas dari ketinggian garis pantai sisi selatan alor yang membatasi dataran dengan birunya lautan. Alor sungguh cantik dilihat dari atas.

Pak Tobias

Pak Tobias

Mendarat di Kupang jam 16 WITA. Masih agak siang. Sayang kalau langsung ke hotel, saya putuskan akan ke Makam Raja Dau seperi Ahmad bilang atau ke Gua Jepang. Ya..saya putuskan ke sana dulu. Tapi bagaimana caranya? Seperti biasa sekalian ingin kenalan saya tanya ke petugas Angkasa Pura di Eltari. Dari name tagnya saya baca namanya Pak Tobias. Saya tanya Pak Tobias mengenai Makam Raja Datu itu, beliau tidak tahu, dan teman beliau (aduh saya lupa namanya) yang ikut nimbrung ngobrol tidak tahu juga. Walah…Ya sudah, kalau ke Gua Jepang bagaimana ? Nah yang ini beliau tahu. Tapi tidak ada ojek di Bandara ini, harus jalan keluar dulu. Cukup jauh. Kalau naik taksi (perlu dicatat, taksi di sini adalah kendaraan pribadi plat hitam yang digunakan untuk mengangkut penumpang umum) mahal dan susah jalannya. Saya tidak tahu apa alasannya, atau mungkin karena saya yang ngotot ke sana dan P Tobias kasihan, beliau mengalah. Dipanggilnya seseorang dari parkiran sepeda motor. Orang itu – belakangan saya tahu namanya Beny – menghampiri Pak Tobias dengan sepeda motornya. Saya kira dia tukang ojek. Ternyata keponakan Pak Tobias yang akan menjemput beliau. “Begini saja”, kata Pak Tobias “Ini keponakan saya, biar dia antar bapak ke Gua Jepang. Nanti saya minta antar sama saya punya teman”. Walah…kok saya jadi mengalahkan urusannya yang lebih berhak begini?. “Sudah tidak apa – apa”. “Beny, kau antar saja Bapak ini ke Gua Jepang. Tahu to ? Nanti kau antar juga sampai ke tugu jepang”. Jadilah saya diantar Beny jalan – jalan ke Gua Jepang dan Tugu Jepang. Bahkan tidak sampai di situ, selesai urusan perguaan, saya diantar pulang ke hotel setelah sempat mampir ke rumah Pak Tobias. Terimakasih Pak Tobias, saya tunggu juga di Jakarta:)

P Us, kamus berjalan sosial budaya n kemasyarakatan NTT

P Us, kamus berjalan sosial budaya n kemasyarakatan NTT

Pagi siang ini saya ketemu P Us petugas UPT Museum Kupang. Beliau banyak memberi informasi dan penjelasan yang berharga – paling tidak bagi saya belajar – mengenai segala hal menyangkut penduduk asli NTT dari berbagai suku dilihat dari kaca mata tradisional: kebiasaan, teknologinya, dan juga religinya. Bersamaan dengan cerita mengenai Museum NTT, InsyaAllah mewakili cerita tentang kebaikan dan pertolongan P Us buat saya. Terimakasih P Us, salam buat keluarga🙂

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: