jump to navigation

“Si Kancil Anak Nakal”, mengajarkan tiada ampunan bagi yang salah.. Desember 29, 2009

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.
trackback

Pagi hari di gerbong kereta api Gajayana yang dingin. Mulai waktu subuh tadi, display LCD di gerbong menyajikan video “Pendidikan” produksi R Production. Cukup menarik, dengan format kartun konsumsi anak 3 s.d 7 tahun. Meski terlihat hampir smua penumpang adalah manusia dewasa. Mereka target pasar untuk anak anak atau cucu mereka. Begitulah ketika promosi pemasaran diperdengarkan di seluruh gerbong rangkaian kereta.
Ketika disajikan lagi “Si Kancil”, muncul keinginan untuk mengeluarkan uneg uneg ini. Syairnya masih sama seperti yang saya hafal lebih dari 30 tahun yang lalu. “Si Kancil anak nakal, suka mencuri ketimun. Ayo lekas ditangka…JANGAN DIBERI AMPUN”. Wah…jangan – jangan kata – kata ini yang tertanam di hati kebanyakan manusia Indonesia. Jangan diberi ampun!!. Dalam intonasi lagu itu, kata kata ini mendapat penekanan lebih. Dengan demikian, mungkin, tertanamnya di bawah sadar kitapun lebih dalam.
Mungkinkah “didikan” seperti ini mempengaruhi sifat kebanyakan warga bangsa ini? Entahlah. Tetapi yang jelas, fenomena tidak memberi ampun ini menjadi favorit mayoritas masyarakat saat berhadapan dengan yang bersalah. Mencuri ayam, langsung dihajar. Mencuri motor, terangkap, dibakar. Mencuri Kakao 3 buah, bawa ke pengadilan. Masihlah banyak lagi cerita sejenis.
Ah entah berpengaruh atau tidak dengan sifat – sifat tanpa ampun masyarakat kita, syair lagu itu harus diubah menjadi lebih santun dan mendidik. Misalnya “Si Kancil anak nakal, suka mencari ketimun, ayo dinasehati, jangan mengulang lagi”. Khan enak to? Atau ada yang lain?

About these ads

Komentar»

1. azzakky - Desember 29, 2009

hehe.. setujuuu… mungkin Lagu si kancil anak nakal lebih cocok diputer di hadapan para hakim khususnya yang menyangkut TIPIKOR.. kalo maling kelas teri, maling kelas coro di vonis berat harusnya maling kelas kakap lebih berat dunk. tapi saya termasuk yang ga setuju jika maling kelas teri harus dibela habis habisan hanya karena pengadilan kita belum mampu menghukum berat para maling kelas kakap. seperti dukungan mahasiswa dalam kasus pencurian semangka di kediri..

2. anikeren - Desember 29, 2009

Terimakasih…
Setuju saya bahwa yang salah (sekecil apapun) tetap lah salah dan pantas menerima hukuman (https://moedjionosadikin.wordpress.com/2009/12/21/luna-maya-ucapan-yang-ketrucut-dan-semakin-ramainya-pengadilan-kita/ ).Cuman caranya menghukum harusnya proporsional :). Dan memaafkan – untuk kesalahan antar pribadi -, jauh lebih baik.

Salam…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.604 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: