jump to navigation

Banjaran Karno[1], Suatu Biografi Raden Karno Basuseno Mei 8, 2009

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
trackback

Tulisan ini merupakan terjemahan saya terhadapa lakon Banjaran Karno yang dibawakan oleh Dalang Almarhum Ki Narto Sabdo. Secara ringkas Banjaran Karno menceritakan biografi perjalanan hidup Raden Karno mulai dari kelahiran sampai dengan tewasnya Karno di medan laga Baratayudha Jayabinangun, perang besar ke 4 dalam cerita pewayangan. Tentu saja yang diceritakan adalah bagian – bagian terpenting dalam hidupnya. Masa bayi, remaja, pernikahan, bertahtanya dia di Awangga karena ”kebaikan” dan ”pamrih” Prabu Joko Pitono, dan kematiannya yang tragis sebagai pemenuhan jiwa kesatria dan prinsip hidupnya.

Yang pasti menikmati lakon dari Ki Narto Sabdo jauh lebih nikmat karena kita benar – benar bisa merasakan multimedia sambil leyeh-2. Lebih dari itu, irama gamelan akan membawa kita masuk ke dalam suasana yang dibangun adegan per adegan, penggal demi penggal, rasa sedih gembira maupun guyonan sang punokawan dan emban Limbuk, Mbilung. Tutur kata, tata catur Ki Narto Sabdo begitu tinggi untuk bisa saya contek apalagi saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia, dengan kemampuan terbatas ini. Selain isinya sebagai ajaran dan tuntunan, bahusastra jawa nya mustahil dapat saya ”share”. Ada paribasa, ada sanepo, dan syair – syair, yang saya rasa hanya bisa kita nikmati jiga kita dengarkan sendiri.

 

Jadi dengan demikian, maka tidak perlu diharapkan apa – apa dari tulisan ini selain hanya karena saya ingin menulis saja.

Kelahiran Karno Basuseno, Dihanyutkan Ibunda di Sungai Gangga

Adalah Kunti Nalibrata puri Raja Negei Mandura Prabu Kuntiboja. Sudah sekitar 3 warsa Kunti Nalibrata tidak terlihat sowan ke istana kerajaan meskipun pada saat – saat pisowanan agung. Dari emban dan pelayan, Prabu Kuntiboja mengetahui bahwa sang putri terlihat murung dan hanya mengurung diri di keputren. Beberapa kali terlihat termenung dengan memegang patrem (Keris Kecil, biasanya dibawa/disandang oleh seorang putri). Keadaan seperti ini tentu saja membuat Prabu Kuntiboja khawatir sementara dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putri tersayangnya. Semua emban, pelayan dan dayang – dayang keputrian pun tidak ada yang tahu pasti apa yang sedang terjadi padanya. Demikian juga putra sulung Kerajaan, Raden Basudewa. Hingga diutuslah putra tertua kerajaan itu untuk menemui Sang Putri di keputren.

”Basudewa…”

”Sendika dawuh Rama Prbu…”

”Caritahulah dengan hati – hati, apa yang menjadi masalah adikmu. Kamu saudara tertuanya, aku berharap kamu bisa menenangkan hatinya. Apa kira – kira yang diinginkannya?”

”Sendika dawuh Romo….”

Di keputrian Kerajaan Mandura, Kunti Nalibrata juga biasa disebut dengan Dewi Prita, sedang dirundung kesedihan dan penyesalan yang teramat sangat akibat tindakannya yang tidak hati – hati dan hanya menuruti rasa penasarannya akan kesaktian ajian Kunto Wekasing Rasa Sabdo Tunggal Tanpa Lawan, yang didapatnya dari Sang Resi. Tidak dapat dibayangkan bagaimana murkanya Rama Ibu jika mengetahui apa yang telah menimpa dirinya. Bagaimana mungkin dia bisa membayangkan apalagi menerimanya, sikap dan reaksi para kawula, para nara praja, para punggawa kerajaan jika mereka tahu ”aib” dirinya sebagai putri kerajaan yang dipuja – puja selama ini. Air matanya rasanya sudah tidak ada lagi untuk sekedar diteteskan sebagai ekpresi kesedihan, malu, penyesalan, dan kekecewaannya yang mendalam. Berhari – hari matanya tidak bisa dipejamkannya, lidah nya tak kuasa mengecap makanan apapun.

”Adikku….Dinda Kunti, bukakan kori(pintu) keputren mu Nduk…Aku kakakmu Basudewa yang datang” Terdengar pinitu keputrian diketok Putra Sulung Kerajaan Mandura.

”Oh Kakang…silakan masuk. Sembah sungkem hamba bagi paduka Kakang…”

”Iya ..iya..Dindaku tersayang, salam taksimku terimalah untukmu. Dinda….aku senang melihat adinda dalam keadaan baik dan sehat. Namun Dinda, saya perhatikan beberapa bulan ini adinda tidak terlihat di istana kerajaan meski pada hari – hari pisowanan agung. Hal ini membuat Rama – Ibu khawatir mengenai kondisimu Dinda. Bukan hanya bagi mereka, ketiadaanmu dalam beberapa kesempatan telah menjadi pertanyaan dan pembicaraan di antara para punggawa kerajaan, para abdi dalem bahkan beberapa raja sekutu telah pula mulai mempertanyakan kondisimu dinda. Janganlah pertanyaan dan percakapan mereka tentang dirimu, kamu anggap negatif. Namun itu semua menunjukkan betapa besar dan pengharapan mereka akan dirimu Adikku. Kewakhawatarin Rama Ibu sudah tidak bisa ditahan lagi hari ini, Karena itu diutuslah saya untuk menemuimu kali ini dinda. Saya lihat dirimu tidak kurang suatu apapun, oleh karena itu Dinda, ayo saya kanthi dirimu sowan kepada Romo Ibu..”

”Duh Kakanda Basudewa…..,mohon maaf hamba atas semua akibat kerena sikap hamba beberapa bulan ini. Namun kakang….,saya belum dapat menghadap Rama Ibu pada kesempatan  kali ini. Biarkan hamba menyelesaikan masalah yang hamba hadapi ini. Kakang…,mohon sampaikan salam hamba untuk Romo Ibu. Kali ini hamba masih akan meneruskan tapa – brata…”

”Kunti…sebagai orang tua, tentu saja mereka akan dengan suka cita membantu mengurai masalahmu Adikku… ”

”Aduh Kakang, hamba tidak mampu membayangkan betapa marahnya Rama Ibu jika beliau tahu masalah hamba ini..”

”Dinda, sebagai orang tua adalah hal yang wajar jika beliau sedikit duka/marah kepada adinda mengingat itu semua untuk kebaikan dan karena rasa sayang beliau kepada adinda. Karena itu yayi ayoh kakang iringkan kamu menghadap rama ibu…

”Kakang…mohon maaf…, apakah kakang tidak bisa melihat dan merasakan nestapa yang dinda sandang ini?” tanya Kunti dengan nada keheranan, karena sudah sekian lama mereka berbincang Basudewa tidak merasakan sedikit pun perubahan fisiknya.

”Ada apa yayi???”

”Kakang Basudewa, mohon Kakang perhatikan dengan seksama apa yang terjadi pada diri hamba Kakang……”

Basudewa menajamkan penghilatannya, menyatukan konsentrasinya. Diperhatikannya dengan seksama seluruh kujur tubuh adik yang disayanginya itu. Mulai dari ujung rambut sampai dengan ujung jemari kaki tida ada bagian yang luput dari pengamatannya. Sekali lagi diamat-amatinya badan Kunti Nalibrata. Sekarang dia mulai merasakan perubahan fisik Dewi kunti. Rautnya terlihat pucat serasa keletihan karena pekerjaan berat, dadanya cekung di depan, perutnya sedikit menyembul…..Kaget bukan kepalang Sang Basudewa..Sontak dia berteriak serasa menubruk rangkul adiknya itu.

”Haduh….adiku…yayi…………, mengapa kamu jadi begini. Adikku…sudah berapa lama kamu hanggarbini (mengdung) yayi??……..Ah hemmmm………….Dan lelaki mana yang menanam benih aib ini kepadamu? Bergegaslah untuk berterus terang…Akan aku datangi lelaki itu. Kalau perlu aku sendiri yang akan melabrak ke orang tuanya. Mereka harus bersedia bertanggung jawab atas semua ini dengan ikut aturan dan tata cara agama yang sudah digariskan. Jadi yayi…..jujurlah kepada Kakang. Siapa lelaki itu??”

Kembali tumpah tangisan Sang Dewi Kunti. Dia tahu ini adalah aib, bukan hanya bagi diri dan keluarganya tetapi juga untuk seluruh Negeri Mandura. Betapa nista dan cemar Nama Rama Ibu dan Kerajaan Mandura jika kabar ini terdengar oleh seluruh rakyat terlebih lagi negara – negara tetangga dan sahabat. Sudah semenjak leluluhur moyang mereka, Negara Mandura terkenal wibawanya. Negaranya sentosa, rakyatnya makmur. Itu semua karena leluhur dan para raja sampai dengan ayahanda terkenal bijaksana, berbudi pekerti luhur, mengedapankan budi pekerti adi luhung, bukan hanya untuk rakyat sendiri namun juga semua makhluk yang ada hubungan dengan Kerajaan. Dapat dikatakn semua mendapatkan berkah dari adi luhung dan luhurnya budi para raja dan leluhurnya. Betapa memalukannya aib yang menimpa dirinya kali ini. Seorang putri raja, satu – satunya putri raja yang digadang-2 menjadi pandeganya para wanita muda seluruh kerajaan ternyata menyimpan aib yang begitu memalukan. Seorang gadis yang nyata – nyata belum bersuami sebagaimana aturannya, ternyata mengandung jabang bayi yang tidak jelas siapa ayah yang menanam benihnya.

Dicobanya mengeluarkan kalimat yang tersekak di tenggorokkan. Dewi Kunti mencoba menata diri mengatur napas, menyusun kata – kata.

”Kakang…mohon maaf dan saya siap menerima amarah dari Kakang. Namun…sejatinya…..saya tidak pernah bergaul apalagi bersinggungan dengan lelaki manapun…”

”Oh ya..begitu ya….?” Basudewa tentu saja heran mendengar jawaban ini. Siapa pula yang dapat menerima jawaban seperti itu atas persoalan yang dihadapi Kunti Nalibrata?

”Sendika Kakang…”

”Hmm…Baiklah, sekarang aku tanyakan kepadamu adikku. Bermacam – macam tanem tuwuh (tanaman dan tetumbuhan) di dunia ini, ada yang menanam atau tunas dan tumbuh atas maunya sendiri?”

”Bermacam – macam Kakang, ada yang menanam ada juga yang tumbuh secara liar dan tumbuh atas maunya sendiri…”

”Oh..La Iya…………Kamu tahu precil, anak Kodok itu? Anak Kodok itu……………datang dari mana”

”Dilahirkan dari Kodok induknya Kakang”

”Yah….apakah mungkin preci itu lahir dari induknya tanpa sang induk pernah dibuahi oleh pejantannya??”

”Menurut hamba…tidak mungkin”

”Ya…..tidak mungkin yang pasti. Lalu bagaimana bisa, kamu mengandung jabang bayi tanpa pernah kamu bersinggungan dengan seorang lelaki?”

”Iya Kakang…., saya tidak pernah bergaul dengan barang lelaki siapapun”

”Kunti…!!!”, Kali ini Basudewa menyentak dengan nada tinggi menunjukkan amarah mulai menguasai dirinya.

”Kunti….,kamu jangan ngoyo woro, kamu jangan menganggap aku ini anak kecil. Aku ini kakangmu yang paling tua. Jadi bersikaplah yang benar selayaknya kepada orang yang lebih tua. Dan kamu tahu, di dunia aku ini wakil dari Ayah ibaratnya. Aku mempunyai wewenang untuk marah dan menghukum kamu jika diperlukan. Oleh karena itu, bergegaslah dengan jujur. Katakan kepada kakang lelaki mana yang menanam benih aib ini, hei….!!!”

”Kakang……….saya tidak pernah bersentuhan dengan lelaki siapapun…” Kunti tetap pada pendiriannya.

”Kunti…!..Kunti………!, kamu jangan membuat saya marah. Perhatikan apa yang aku pegang ini? Jika kamu tetap tidak mau jujur, jangan tanyakan dosa apa yang Kakang tanggung jika terpaksa aku melukaimu yayi!!”

Basudewa benar – benar tidak mampu lagi menahan amarahnya. Dihunusnya keris dari sarungnya yang terselip di pinggangnya. Sekejap keris itu berkelebat keluar dari sarung. Saking tajamnya keris itu, keluarnya dari sarung menimbulkan kilatan akibat pantulan cahaya terang dari keris itu.

Sahdan, bersamaan dengan itu di angkasa seolah mendadak tertutup dengan mega hitam yang berarak cepat mendekat ke arah keputrian. Di antara mega hitam gelap itu, tersembul cahaya putih yang sangat terang namun tidak menyilaukan. Sekelebat kemudian, cahaya itu ternyata datang dari seorang Resi yang menghampiri Basudewa..Sang Resi tahu Dewi Kunti dalam bahaya.

”Raden Basudewa….sebentar Raden…mohon Raden redakan amarahnya….Itu Bukan Salah Sang Dewi…”  Teriak Sang Resi dari angkasa. Tidak berapa lama san Resi sampai di hadapan Raden Basudewa. Terkejut Raden Basudewa menghadapi kejadian ini.

”Hei…Kisanak yang berpakain Brahmana….Siapa kamu? Mengapa berani menghalang – halangi niatku untuk menghukum adikku”

”Raden….mohon maaf atas kelancangan saya ini….Yah…meskipun buruk rupa dan penampilan saya, saya ini seorang Resi. Nama saya Resi Drewasa, dan saya berasal dari pertapaan Atas Angin Raden…”

“Yah…segeralah kamu ceritakan, alasan apa sehingga kamu menghalang – halangi niatku dan kamu katakan ini bukan salah Adikku Dewi Kunti..hemm??”

“Raden…sekitar setahunan yang lalu, saya berniat mengabdi di Kerajaan Mandura, atas saran Dewi Kunti, Sinuwun Prabu Mandaraka mengijinkan saya dan pada akhirnya saya menjadi Guru olah jira Dewi Kunti….”

Resi Drewasa belum menyelesaikan kalimatnya ketika Basudewa menyela.

“Oh….jadi kamu yang membuat malu negara ini? Tidak imbang dengan gelarmu sebagai Resi. Namun tingkahmu tidak ada bedanya dengan bajingan..Hayoh sekalian aku ringkus dan aku haturkan ke hadapan Sang Rama Prabu…”

”Sebentar dulu raden….,kalimat saya tadi belum selesai. Mohon ijinkan saya menjelaskan selengkapnya. Raden……….tidak ada yang diarah oleh Dewi Kunti dalam belajar ilmu kepada saya kecuali Dewi ingin diajarkan Ajian Kunto Wekasing Rasa Sabdo Tunggal Tanpa Lawan, yang berupa mantra panggendaman. Mantera ini mempunyai kelebihan bagi siapa putri yang menguasainya jika mantra ini di-wateg dengan sepenuh hati dan konsentrasi maka dia akan bisa mendatangkan Dewa Siapaun yang dikehendakinya. Namun…..ada pantangan dalam menerapkan ajian ini Raden. Ajian ini tidak boleh diterapkan dalam kondisi dua hal. Pertama…………….yang pertama ajian ini tidak boleh diterapkan saat di pasarean atau menjelang tidur. Yang kedua….ajian ini tidak boleh diwateg saat mandi keramas. Tetapi…karena saking inginnya Dewi Kunti mencoba keampuhan ajian ini, beliau lupa. Saat Sang Dewi mandi keramas, diterapkannya ajian ini. Diterapkannya ajian ini…….Geger di Kahyangan Suralaya akibat daya keampuhan ajian ini. Kala itu Dewa Surya, Dewa nya siang hari sedang tidak memenuhi suatu kewajiban. Maka datanglah Dewa Surya di hadapan Dewi Kunti yang sedang mandi keramas. Sampai di sini,…agak sulit untuk diceritakan. Singkatnya saking gembiranya Dewa Surya, ya Dewa Arka ini karena sudah berbincang dengan Dewi Kunti sang pemilik ajian, maka Dewa Surya menganugerahi kesenangan dan berkah berupa jabang bayi yang dikandung Dewi Kunti itu Raden…..”

Kembali terkejut bukan kepalang Raden Basudewa mendengar penuturan Resi Drewasa mengenai apa yang menimpa adiknya itu. Benar apa yang dikatakan adikknya. Hanya sedikit kekhilafan sehingga adiknya menyandang nestapa seperti ini. Timbul rasa penyesalannya atas apa yang baru dilakukan terhadap adik yang disayanginya itu. Dewi Kunti masih tetap Dewi Kunti yang bersih jiwanya dan luhur budinya. Menangis sesenggukkan Raden Basudewa.

”Aduh Dewi Kunti….adikku yang aku sayangi. Kiranya maafkan aku dinda, sebagai orang tua harusnya Kakang tidak bertindak gegabah seperti tadi. Seharusnya aku bisa bersikap lebih bijaksana daripada sekedar menuduh adinda berbuat sedeng. Maafkan aku yayi….”

”Kakang Basudewa…………, bukan Kakang yang bersalah tetapi sayalah yang berdosa. Mohon ampun Kakang…”

”Ya yah, Dewi Kunti….sekarang tinggal kita pikirkan bagaimana jalan keluar dari penandhang ini. Resi Drewasa….”

”Saya Raden…..”

”Saya ibaratkan orang membathik, Resi Drewasa telah memulai ngengrengaannya (disain, sketsa), oleh karena itu kamu yang harus menyelesaikan batikan itu Resi. Terserah kamu bagaiamana penyelesaian dari masalah adikku ini”

”Baiklah Raden…memang saya sudah merasa akan harus menyelesaikan masalah yang timbul karena ajian yang saya ajarkan itu. Mohon Raden Basudewa sejenak menyingkir dari ruang keputrian ini. ”

”Ya ya…terserah kamu Resi, bagaiamana seharusnya…” Basudewa menyingkir dari ruang keputrian

”Dewi Kunti…”

”Bagaimana Drewasa….?”

”Saya akan memohon kepada yang membuata jagad seisinya agar Dia sudi memberikan pertolongan kepada kita. Mohon Dewi Kunti kembali mengucap mantera Kunto Wekasing Rasa Sabdo Tunggal Tanpa Lawan. ”

”Baiklah Drewasa………”

Drewasa….adalah Seorang Brahmana suci yang sudah lebih dari kenyang dalam olah jiwa. Kebeningan dan kejernihan jiwanya sudah mencapai tingkat sempurna. Selama hidupnya hanya kebaikan kebaikan dan kebaikan yang ditanamnya. Hatinya bersih jauh dari noktah cela sifat buruk manusia. Oleh karena itu, tidak heran jika Yang Akarya Jagad mendengar dan mengabulkan segala keluh kesah dan permintaannya. Dengan kesaktian dan keampuhan doanya, disatukan konsentrasinya kepada perut Dewi Kunti dan san janin yang dikandungnya. Kala itu kandungan menginjak usia empat bulan. Dengan sekali kedip seolah kandungan dan janin dipercepat usianya menjadi sebulan lebih. Sekedip mata kemudian, usia kandungan menjadi enam bulan, tujuh bulan, delapan bulan, sembilan bulan sepuluh hari. Brool………………..lahirlah jabar bayi dari Rahim Sang Dewi Kunti. Seorang jabang bayi lelaki dengan yang sehat dengan wajah tampan dan tubuh sempurna. Menetes air mata Dewi Kunti karena bahagianya memandang anak pertamanya ini, meskipun melalui proses yang tidak normal.

Raden Basudewa kembali ke ruang keptrian.

”Kunti, anakmu lahir apa adikku ??”

”Lahir bayi Kakang…”

”We lah…la iya, maksud Kakang Laki – laki apa perempuan ??”

”Lelaki Kakang…”

”Waduh…wah tampan sekali putramu yayi…wah hemmm…….Drewasa…”

”Saya Raden…”

”Bagaimana selanjutnya ini…?” Basudewa masih belum bisa berpikir, pikirannya buntu akibat semua hal yang beru dimengertinay kali ini.

”Raden…apakah Raden berkehendak memberikan nama kepada bayi ini ?”

”Drewasa…, semua aku serahkan kepadamu saja Resi. Pikirku masih buntu, hatiku masih kosong, perasaanku tidak karu – karuan. Kalau aku yang memberi nama bayi ini, khawatir salah dan tuna dungkap

”Dewi Kunti bagaimana ??” Resi Drewasa meminta pendapat Dewi Kunti

”Terserah kamu saja Drewasa…”

”Baiklah kalau begitu Raden…..Anak ini saya beri nama KARNO BASU SENO”.

Saat itu jagad seisinya seolah ikut menyaksikan penamaan sang jabang bayi. Terbukti secara tiba – tiba datang petir bersahutan diiringi hujan deras mengguyur dari langit.

”Resi Drewasa, apakah alasannya dan apakah artinya sehingga anak ini kamu beri nama Karno Basuseno ?”

”Ya Raden, kurang lebih maknya begini Karno aritnya sorot (sinar), Basu artinya srengenge (matahari), Seno artinya Anak. Jadi jabang bayi yang wajahnya bersinar indah ini sejatinya anak dari Sanghyang Surya ya Sanghyang Arka Dewanya siang hari….”

”Yah…syukur jika begitu. Mudah – mudahan namanya ini menunjukkan kecocokannya dengan peristiwa yang dialami si jabang bayi. Terus bagaimana lagi ini, padahal Kunti itu belum bersuami, dan bagaimana nanti jika sampai kerabat keraton dan rakyat mengetahu jabang bayi ini?”

”Dewi Kunti…mohon Dewi Kunti memikirkan memilih yang mana antara sayangnya dengan putra atau kewibawaan dan keluhuran Rama Prabu beserta Kerajaan Mandura?”

”Maksudnya bagaiamana Drewasa?”tanya Kunti

”Dewi…anda harus merelakan salah satu lepas putri….”

Tentu Dewi Kunti sependapat dengan Drewasa, harus ada yang dikorbankan dalam hal ini. Antara anaknya atau kehormatan kerajaan. Tentu saja suatu pilihan yang teramat sulit untuk diputuskan. Dilihat – lihatnya lagi wajah tak berdosa Karno Basuseno. Mengalir deras air matanya…”Anakku sayang…..betapa mengenaskan nasibmu Nak……….Dosa apa yang ibu Sandang Karno sehingga kita harus menghadapi masalah ini. Maafkan ibumu ini ya Nak..Duh Romo Prabu, mohon maaf atas dosa dan aib ananda ini. Terbukti saya adalah putri yang tidak bisa dijadikan teladan sama sekali….”

”Sudah – sudah adikku…” Basudewa mencoba menghibur. ”Ini semua sudah kejadian, semuanya diluar kehendak dan kemauan kita yayi…Sebagai manusia kita hanya sekedar menjalankan titah yang punya hidup. Sekarang…………..silakan kamu tata rasamu, ademkan pikirmu, beningkan hatimu. Pikirkanlah dengan benar mana yang akan kamu ambil diantara dua jalan itu. Anakmu atau Kerajaan Mandaraka dan Rama Prabu sekeluarga yayi…?”

”Iya Kakang, Baiklah. Resi Drewasa….”

”Saya Dewi….”

”Rasanya saya harus tega kepada anakku Drewasa, karena aku menyangga kewajiban menjaga keluhuran dan kehormatan Rama Prabu, Keluarga Kerajaan dan juga Negara Mandaraka….Jadi bagaiamana Drewasa…?”

”Baiklah Dewi…jika begitu. Mohon Raden Karno dimasukkan dalam Kendaga Wreksa dan hanyutkanlah di Sungai Gangga. Mudah – mudahan, saya berdoa ananda akan selamat sampai dengan dewasanya nanti. Namun berikanlah kalung padanya dan pada bandul kalung itu berikanlah tulisan RADEN KARNO BASUSENO sebagai pertanda nama sang putra”

”Ya baiklah Drewasa….”

Pada malam hari itu, dengan menggondong kendhaga, Dewi Kunti menaiki kereta diiringi Basudewo dan Drewasa menuju Sungai Gangga. Tiada yang mereka percakapkan dalam perjalanan. Semua tenggelam dalam pikiran dan perasaan masing – masing. Dewi Kunti, sebentar – sebentar menangis sesenggukan. Sebentar – sebentar menarik napas dalam. Mau tidak mau, dia terpaksa melepaskan anak yang sejatinya sangat disayanginya itu. Bukan hanya perasaan kehilangan yang memenuhi pikirannya namun juga rasa berdosa yang seolah tanpa batas. Sebagai seorang ibu, seharusnya dia dengan penuh kasih sayang menyusui dan membelai anaknya yang baru lahir itu. Namun apa yang dilakukannya?? Demi keharuman keluarga, kerajaan dan negaranya, dia harus berpisah dengan anaknya itu. Sampai di tepi sungai, kereta berhenti. Dewi Kunti turun dari kereta dengan menggendong kendhaga. Jalannya terhuyung tak terkendali. Langkah kakinya seolah tidak dikendalikan oleh otak dan pikirannya. Otak dan pikirannya penuh dengan perasaan yang tidak terdefinisikan. Sebentar – sebentar Dewi Kunthi tersandung jarit yang dikenakannya. Sebentar – sebentar terhuyung. Sampailah dia di bibir sungai gangga yang luasnya hampir sepemandangan mata. Seberang sungai tidak terlihat dengan jelas oleh mata telanjang, apalagi di tengah malam yang berkabut seperti ini.

Diletakkannya kendhaga di bibir air Sungai. Belum mau dilepaskannya. Lama termenung dan terus menangis menumpahkan kesedihan, penyesalan, kekecewaan dan rasa dosa yang disandangnya.

”Anakku ngger…Basukarno….Pedih sekali merasakan sambutanmu lahir di dunia ini. Anakku……..maafkanlah ibumu ya ngger….Ibumu berdoa, semoga dewasamu nanti menjadi Satria Sejati yang mulia hidupnya di dunia maupun di kehidupan nanti ya ngger….”

Hujan lebat siang tadi…sore sudah mulai reda. Namun perlahan gemercik gerimis turun lagi kali ini. Kabut malam di pinggir Sungai Gangga menambah muram suasana tengah malam itu. Alam seolah mengerti perasaan Sang Dewi Kunti. Serasa ikut merasakan duka dan penyelesan Dewi Kunti.

Di atas kereta, Basudewa dan Drewasa hanya mampu memandang dalam temaram apa yang terjadi di tepian Sungai Gangga. Mereka tahu tidak ada yang bisa diperbuat waktu itu kecuali diam dan berdoa. Mereka biarkan Dewi Kunti menyendiri merasakan apa yang dirasakannya. Tidak hendak mereka campuri apa yang akan dilakukan dan dipikirkan Dewi Kunti.

Perlahan Dewi Kunti melepaskan tangannya dari Kendhaga yang berisi jaban bayi Karno Basuseno. Tenang…………air Sungai Gangga menghanyutkan kendhaga. Semakin lama semakin menengah seirama dengan riak air yang tenang. Termangu Dewi Kunti memandang kendhaga yang dihanyutkan air Sungai Gangga. Seolah tidak mau dilepaskan pandangan matanya  dari kendhaga itu. Semakin menengah, semakin jauh, semakin kecil, semakin kecil kendhaga wreksa. Hingga akhirnya mata Dewi Kunti tidak mampu lagi menangkap pantulan cahaya sekecil apapun dari Kendhaga, lenyap dari penglihatan. Kesedihan yang memuncak, kekecewaan yang mendalam, penyesalan yang tanpa batas, rasa dosa yang tak tertahankan sesak memenuhi dada dan kepala Dewi Kunti. Rebah tanpa sadar, Dewi Kunti pingsan di pinggir Sungai Gangga………….

[Bersambung….]

Komentar»

1. Tikno kariyo - Juli 6, 2009

di karenakan seorang gadis remaja yg penasaran,sehingga kejadian……..
yg tidak di inginkan….

2. koekoeh - Oktober 19, 2012

Sambungannya mana mas???

Mujiono Sadikin - Oktober 19, 2012

Waduh, masih belum sempat ndalang lagi nih🙂.(Sok sibuk …:( )


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: