jump to navigation

Baratayudha Jayabinangun, Duryudona -Salya Gugur[12], Setyawati menyusul sang kekasih, Sangkuni menemui ajalnya Mei 13, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
2 comments

Salya telah gugur. Satu lagi kesatria sejati, pemegang komitmen yang teguh, raja agung penuh kesetiaan, prajurit syarat keprigelan dan kemampuan telah pergi meninggalkan dunia fana. Bau harum darahnya yang menggenang meninggalkan semerbak wibawa dan kebijaksanaan seorang penata kerajaan yang handal. Kasih sayang dan welas asihnya pada kawula akan selalu terkenang sepanjang sejarah Mandaraka.
Pandawa, bagaimanapun telah kehilangan pepunden dan pengayom sejati. Hutang budi ini rasanya tak akan terlunasi. Pengorbanan nyawa dan raga Salya yang hancur lebur adalah wujud cintanya pada pandawa. Tanpa kerelaan Salya, mustahil pandawa dapat mengalahkan Salya.
Setyawati diiringi Sugandini “kedarang darang” sampai di tepian Ladang Kurusetra. Terasayup suara gemuruh para prajurit menggunjingkan kemenangan Yudistira atas Salya. Meski sudah diduganya berita itu akan terjadi, meski telah disiapkannya mental dan jiwanya menghadapi kenyataan ini, tetap saja perih rasa dan serik di dada tak mampu ditahannya. Tangisnya meledak air matanya tumpah. Terlalu manis kenangan bersama sang guru laki puluhan tahun ini untuk ditinggalkan. Dalam kepedihan tiada peri, berkelebat bayang2 masa lalu bersama Salya. Serasa hadir kembali kembali kelebat bayangan Salya saat melakukan tapa brata di Gunung Argabelah puluhan tahun itu. Saat pertama kali yang membuatnya jatuh cinta. Semenjak itu setiap waktu terasa indah bagi mereka. Cinta menggelora menyatukan mereka, cinta itu tumbuh ditaburi kasih sayang yang subur. Burisrawa, Rusmarata, Erawati, Banowati, dan Surtikanti adalah putra putri benih kasih sayang dan cinta mereka berdua. Ah..begitu cepat waktu berlalu. Sekarang….sang kekasih telah pergi meninggalkan dirinya. Tiada ada kesanggupan dlam kesendirian.
Hari telah mulai gelap waktu itu. Mendung yang menggulung gelap gulita tiba – tiba saja berarak menutupi ladang kuru setra. Entah ini pertanda apa. Endang Setyawati turun dari kereta. Kereta sudah tidak mungkin dapat melanjutkan laju. Ladang kurusetra dipenuhi bangkai prajurit, patahan tombak, belahan tameng, panah yang berserakan, tumpukan belulang bangkai hewan tunggangan. Setyawati menyingsingkan kain jaritnya, tidak peduli tersandung bangkai, menginjak patahan panah, tersaruk darah segar, terus diterabasnya ladang kuru setra. Tekadnya hanya satu, menemukan jasad Salya jika memang kekasihnya itu telah gugur. Namun hari yang gelap mendung yang menggulung menyulitkan langkahnya mencari Salya. Sudah tidak ada tangis lgi kali ini. Pandangannya sama sekali tidak berfungsi karena gelap. Hanya perasaan dan tuntunan batin yang kuat membawanya ke arah sekiranya jasad Salya berada. Tiba tiba kilat menyambar sekejap. Terangnya sesaat menyinari jasad salya yang bersimbah darah dada terbelah menyandar bangkai gajah. “Kakang Salya….hamba tidak dapat hidup sendiri tanpa dirimu..”, jeritnya. Dihunusnya keris di pinggang Salya, keris itulah yang mengakhiri hidupnya. Dengan senyum manis, jasad Setyawati tersandar di dada Salya. Sugandini tidak mau tertinggal. Bertiga mereka sampyuh di Ladang kuru setra.
Kresna dan Bima terlambat datang untuk mencegah niat Setyawati. Namun jikapun pada waktunya, niat Setyawati tidak mungkin di cegah. “Sudah sudah Wrekudoro, memang ini semua sudah menjadi kemauan Ibu Ratu Setyawati. Kita berdoa kepada Yang Maha Punya wewenang, semoga tempat trbaik diberikan bagi Rama Prabu dan keluarganya..Masih banyak kewajiban harus diselesaikan. Lihatlah….yang datang dari kejauhan itu. Sangkuni datang dengan serombongan Kurawa yang tersisa. Kelihatannya..mereka tidak rela dengan kematian senopati kurawa..”, Kresna menenangkan Bima.
“Apa yang harus aku lakukan?”, Bima menyela. “Wrekudara, Sangkuni memang ringkih badannya tapi sanjata apapun rasanya tidak mempan mengenai badannya..”
“Terus bagaimana??”
“Badannya liat karena sewaktu bayi dia pernah bergumul minyak tala. Seluruh badannya terbasahi minyak tala, kecuali selangkangannya..! Sobeklah selangkangannya!”
“Doa restumu menyertaiku jiteng kakangku, aku sempurnakan urusan Sangkuni..”

O alah Sri…Sri… Mei 7, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.
9 comments

Dulu sewaktu saya kecil di kampung, sering kali saya mendengarkan ungkapan seperti itu, “O alah Sri Sri…”. Dengan logat dan intonasi orang Jawa yang mengesankan mengeluh, menyayangkan, mengasihani, menyesali, ungkapan itu mencampuradukkan berbagai perasaan. Namun intinya penyesasalan dan kesedihan. Sri, Jeng Sri, Dik Sri, Mbakyu Sri dan berbagai sapaan nama depannya merupakan nama yang umum dalam masyarakat Jawa untuk seorang putri tentu saja, biasanya cantik J. Ungkapan ini biasanya saya dengar ketika orang tua yang punya putri yang kebetulan bernama Sri, mengeluhkan kejadian atau peristiwa yang menimpa putrinya. Namun karena nama Sri adalah nama umum itu tadi, maka ungkapan itu diumumkan di sama ratakan. Saya dan teman – teman sepermainan ketika menghadapi atau mendapati sesuatu yang perlu disesali, dikasihani, akan mengatakan ungkapan itu “O alah Sri Sri…”. Misalnya saat kami main cebur – ceburan di kali seberang sawah. Biasanya kami melompat dari pinggir kali (galengan sawah), koprol dan mencebur ke sungai sekencengnya. Ketika salah posisi mencebur, katakanlah saat badan jatuh dalam posisi horisontal perut mengempas ke air, rasanya panas bukan alang sehingga membuat kami meringis kesakitan. Maka teman – teman yang lain akan bilang “O alah Sri …Sri..kowe kok goblok” (O alah Sri Sri…kok kamu bodoh amat). Atau misalnya saat kami berbicara menggebu – gebu tentang suatu hal, ternyata apa yang kita bicarakan salah atau sudah basi. Maka kami akan dipermalukan teman – teman dengan “O alah Sri ..Sri..”

Ungkapan itu ternyata terus mengiang sampai sekarang saat warga desa kami, individu maupun kolektif, menghadapi atau menemuai suatu masalah. Misalnya saat desa gonjang – ganjing karena Lurahnya menilap uang bantuan desa maupun uang warga untuk kepentingan sendiri yang tidak jelas. Maka keluar juga ungkapan “Oalah Sri Sri…, menyesal dulu kenapa kita pilih Lurah seperti dia”. Atau saat si Sri pergi keluar desa untuk merantau jadi TKI atau buruh pabrik di Surabaya, Jakarta atau tempat lain. Saat kerinduan memuncak, orang tua akan bilang “O alah Sri Sri…”.

Hari hari ini – minimal sejak dua hari yang lalu – saya rasa ungkapan perasaan ini menemui aktualisasinya kembali. Entah bagaimana maknanya, entah bagaimana dirasakannya tergantung pada masing – masing individu yang sudi menanggapi. O alah Sri Sri, bagi bangsa Indonesia hari – hari ini merupakan campuran dan gumulan berbagai perasaan. Ada yang mengecam, ada yang menghina, ada juga yang memaknai Oalah Sri Sri dengan sikap tidak kesatria. Namun tidak kurang juga yang memaknainya dengan kandungan penyesalan, kasihan, bahkan penghormatan dan kebanggaan. Semua tergantung kepada pribadi masing – masing, meskipun banyak juga pribadi masing – masing itu hanyalah ikut – ikutan saja tergantung kepentingan pribadinya ikut ke mana.

Yang jelas orang awam sepert saya, hanya bisa mengeluh “O alah Sri Sri…, kapan bangsa dan rakyat ini benar – benar diperhatikan oleh para pemimpinnya. Kapan isu – isu politik tidak perlu menghabiskan tenaga, pikiran dan sumber daya yang tidak perlu sehingga menyebabkan perhatian kepada pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan terabaikan”. O alah Sri Sri…kok ya tega membuat gedung dengan dana triliunan rupiah sementara di pelosok NTT atau di sudut Pacitan atau di tengah – tengah Kalimantan masih banyak rahayat yang kelaparan. O alah Sri Sri…kok tega – teganya menumpuk harta puluhan miliar rupiah sementara target penerimaan pajak konon katanya di bawah Bangladesh. O alah Sri Sri ….milyaran rupiah dihamburkan untuk membangun citra pemilihan presiden partai, sementara dana BOS di mana – mana disunati. O alah Sri …Sri, kapan kita diperhatikan ???

Perlindungan aset – asset informasi Mei 4, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in SI - Audit, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.
1 comment so far

Permasalahan selanjutnya yang harus dipahami dalam hal AUDIT SI menurut standard dari CISA adalah Perlindungan terhadap asset informasi. Dalam suatu organisasi, daur hidup sistem informasi yang selayaknya – menurut berst practice –adalah : perencanaan, pembangunan/pengadaan, operasionalisasi dan penyediaan/dukungan layanan terhadap organisasi, dan disposal (pemusnahan). Maka perlindungan asset informasi ini selaknya dilakukan/mencakup dalam tiap tahap dalam daur hidup tersebut.

Perlindungan terhadap asset – asset informasi dilakukan untuk memastikan bahwa Confidentiality, Integrity dan Availability (CIA) dari asset informasi selalu terjaga. Bagian ini menjelaskan bagaimana mengevaluasi perencanaan, implementasi dan pemantauan alat kendali untuk mengakses asset informasi baik secara lojik maupun fisik dalam rangka memastikan CIA. Bagian ini juga menjelaskan bagaimana mengevaluasi control environment (alat kendali lingkungan yang terkait), pengamanan infrastruktur jaringan, proses dan prosedur yang digunakan dalam penyimpanan, pengambilan kembali (retrieval), pemindahan, maupun pemusnahan asset informasi yang bersifat rahasia.

Dengan demikian pada bagian ini pembahasan menyangkut sangat banyak elemen dan unsur yang terkait dengan perlindungan asset. Di antara elemen – elemen tersebut yang harus dipahami antara lain :

  • Metoda dan teknik untuk perencanaan, implementasi dan pemantauan kemanan (security). Termasuk di dalamnya adalah pengetahuan mengenai assessment terhadap ancaman dan risiko, analias sensifitas, assessment terhadap dampak privasi
  • Alat kendali akses secara lojik untuk melakukan identifikasi, autentifikasi dan pembatasan pengguna atas fungsi – fungsi dan data. Pengetahuan mengenai ini di antaranya adalah dynamic password, change/response, struktur menu yang diijinkan, profile pengguna, dll.
  • Pengetahuan akan arsitektur keamanan akses lojik seperti single sign on, strategi identifikasi pengguna, pengelolaan identitas pengguna
  • Pengetahuan akan berbagai metoda dan teknik serangan terhadap asset informasi. Beberapa di antaranya antara lain hacking, spoofing, trojan horse, DoS, Spamming, Social Engineering, War Driving, War Chalking, Masquariding, Piggybacking, phishing, dll.
  • Pemahaman akan proses yang terkait dengan pemantauan dan respon terhadap security incident. Termasuk pembahasan dalam bagian ini adalah prosedur eskalasi jika ada kejadian yang membahayakan, pengelolaan response atas kejadian seperti pembentukan emergency response team, prosedur serta tanggung jawab masing – masing anggota dalam team
  • Aditor juga dituntut untuk mengetahui dan memahami keamanan peralatan jaringan dan internet, protocol komunikasi data, teknik – teknik pengamanan seperti SSK, SET, VPN maupun NAT.
  • Pengetahuan dan pemahaman akan pencegahan kejadian membahayakan, pendeteksian kejadian yang membahayakan, dan perbaikan  setelah ada kejadian yang membahayakan. Auditor dalam hal ini perlu memahami fungsi dan peran peralatan – peralatan seperti firewall, intrusion detection system, intrusion prevention system. Tidak hanya pemahaman terhadap fungsi, pemahaman terhadap konfigurasi, operasi dan pemeliharaan juga diperlukan.
  • Pemahaman akan metoda dan teknik – teknik untuk menjaga kerahasiaan (confidentiality), keaslian (integrity), keabsahan (non repudiation) informasi maupun data baik pada saat disimpan, dipindahkan maupun dimusnahkan. Maka metoda dan teknik mengenai enkripsi, dekripsi, PKI (sertifikasi, registrasi ) maupun digital signature harus pula dipahami.
  • Pengetahuan dan pemahaman pendeteksian dan pengendalian terhadap virus, worm, spyware, malware, Trojan horse, logic bomb, trap doors, dll.
  • Pengetahuan akan teknik – teknik pengujian terhadap keamanan asset seperti teknik penetration testing, vulnerability scanning.
  • Pengetahuan dan pemahaman terhadap aspek – aspek keamanan lingkungan seperti pemadam kebakaran, sistem pendingin, sensor asap, sensor air, dll.
  • Pengetahuan dan pemahaman terhadap metoda dan teknik pengamanan secara fisik seperti access card/kartu akses, biometric, chipper lock, token
  • Pengetahuan dan pemahaman terhadap metoda dan teknik klasifikasi asset : public, rahasia, privat, asset kritis, asset sensitive, asset vital
  • Pengetahuan akan keamanan komunikasi suara seperti VoIP.
  • Pengetahuan akan proses dan prosedur yang digunakan dalam menyimpan, mengambil kembali, memindahkan maupun memusnahkan aset – aset informasi yang bersifat rahasia.
  • Pengetahuan dan pemahaman tentang risiko dan alat pengendalian terkait dengan penggunaan peralatan portabel dan peralatan nirkabel (PDA, USB, Bluetooth,…)

Kisah dua bulir benih kacang Mei 1, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.
add a comment

Tersebutlah sebuah kisah. Dua bulir benih kacang sama – sama terdampar pada tanah kering yang kelihatannya tandus. Jelas bahwa hujan sudah lama tak menghampiri ladang ini. Waktu tidak pernah mau menunggu, tunas sudah hampir menyembul dari bulir – bulir itu. Segera mereka harus mendapatkan media untuk menyemai tunasnya. Adalah kewajiban dan tugas bulir itu untuk menyemai tunas yang tumbuh darinya.

Bulir pertama terlihat ragu. Jika dia benamkan dirinya pada tanah yang tandus dan kering itu, bisa jadi tak kan lama dia bertahan. Sebab tanah begitu keringnya, bukan media yang baik untuk tunasnya. Maka diputuskannya untuk menunggu hujan turun dan tanah menggembur.

Bulir yang kedua memutuskan jalan yang berbeda. Dengan tekad yang kuat, dihilangkannya keraguan yang ada. Dibenamkannya dirinya pada tanah yang kering itu. Susah payah memang, namun dirinya berhasil membenamkan diri sekiranya cukup dalam untuk tumbuhnya tunas.

Tak beberapa lama kemudian datanglah seekor burung pipit yang terlihat lapar. Ketika dilihatnya ada bulir kacang di atas lading tandus, tak ayal lagi dipatuknya bulir itu. Bulir pertama itu musnah dengan keraguan dan sama sekali belum sempat menunaikan – bahkan sebagian saja- tugasnya.  

Berhari – hari bulir pertama menunggu dan berharap hujan segera turun. Namun hujan yang diharapkannya tak kunjung datang.  Sampai akhirnya dia tak mampu bertahan, dia mati dalam pemenuhan tugas, yang bahkan sama sekali belum selesai.

Begitulah kehidupan kita ini. Akan selalu tersedia pilihan – pilihan yang semuanya mengandung konsekuensi dan pertanggunjawaban. Terserah pada kita dalam bersikap, apakah akan seperti bulir pertama yang menunggu dan hanya menunggu sampai kondisi menjadi ideal menurut versi kita. Jika kita beruntung, maka bisa jadi akan kita dapatkan apa yang kita inginkan. Namun jika sebaliknya, yang terjadi adalah kita tidak akan pernah sama sekali menentukan pilihan.

Akan halnya bulir kedua, ujungnya memang tiada beda dengan bulir pertama, mati. Namun esensinya sungguh berbeda. Bulir kedua, bagaimanapun telah mengalahkan keraguan pada dirinya. Telah mengalahkan ketergantungan pada sekitarnya dalam bertindak. Dan yang lebih penting adalah telah dilaksanakannya tugas dan kewajibannya meski dia tahu risiko menghadang di depannya. Jikapun dia mati, dia mati dalam kemuliaan.

Sebagai khalifah di bumi, kita mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk kita penuhi. Sebagian besar bisa jadi, pemenuhan tugas dan tanggung jawab itu tidak menghasilkan apapun seperti harapan kita. Bisa jadi kita gagal total. Namun hasil akhir bukan terletak di pundak kita.  Jadi terserah kita, pilih gagal total dalam kesia – siaan atau gagal total dalam kemuliaan dinaungi sikap kesatria.

Penyediaan Layanan dan dukungan Teknologi Informasi (IT Services Delivery & Support/IT SDS) April 25, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in SI - Audit, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Kami Kerjakan.
add a comment

Obyektif dari pembahasan bagian ini adalah pemahaman tentang kualitas minimum layanan dan dukungan yang selayaknya diberikan oleh TI organisasi sehingga mampu mendukung obyektif organisasi secara keseluruhan.

Tugas Tugas Auditor SI pada area ini adalah :

1. Evaluasi terhadap praktek pengelolaan dan penyediaan layanan untuk memastikan bahwa tingkat layanan yang disediakan oleh pihak internal maupun eksternal didefinisikan dan dikelola dengan baik.

2. Evaluasi terhadap pengelolaan operasi untuk memastikan bahwa dukungan TI sesuai dengan kebutuhan bisnis secara efisien

3. Evaluasi terhadap adminstrasi data untuk memastikan integritas dan optimasi data.

4. Evaluasi terhadap peralatan serta teknik pemantauan penggunaan dan performansi untuk memastikan layanan TI sesuai dengan obyektif organisasi.

5. Evaluasi terhadap praktik – praktik pengelolaan pengubahan, konfigurasi dan release yang telah dibuat ke lingkungan produksi telah secara cukup dikendalikan dan didokumentasikan

6. Evaluasi terhadap praktik pengelolaan dan penanganan jika terjadi masalah maupun kejadian yang tidak diinginkan untuk memastikan bahwa masalah, kesalahan dan kejadian yang tidak dikehandaki tersevut dicatat, dianalisa dan diselesaikan sesuai dengan standard waktu yang telah ditetapkan.

7. Evaluasi terhadap fungsionalitas infrastruktur TI (komponen jaringan, perangkat keras, perangkat lunak sistem) untuk menjamin bahwa semuanya mendukung obyektif organisasi.

Pengetahuan dan Keahlian Pengetahuan dan keahlian dalam lingkup IT SDS ini adalah :

1. Pengetahuan terhadap praktik – praktik pengelolaan tingkat layanan pada organisasi

2. Pengetahuan terhadap praktik – praktek pengelolaan operasi (penjadwalan pekerjaan, pengelolaan layanan jaringan, pengelolaan pencegahan risiko)

3. Pengetahuan akan peralatan dan teknik pemantauan performansi (network analyzer, system utilitation reports, switches, firewall, dan peripheral lainnya)

4. Pengetahuan fungsionalitas perakngkat keras dan komponen jaringan (router, switch, firewall, bridges, dll)

5. Pengetahuan praktik pengelalaan dan pengadministrasioan basis data

6. Pengetahuan fungsionalitas perangkat lunak sistem sperti sistem operasi, dbms dan utilitasnya

7. Pengetahuan teknik pemantauan terhadap perencanaan kapasitas

8. Pengetahuan terhadpa proses pengelolaan penjadwalan dan perubahan darurat dari lingkungan pengembangan ke lingkungan prioduksi termasuk pengubahan, konfigurasi, reales, patch

9. Pengetahuan praktek pengelolaan masalah/incident (help desk, prsodur eskalasi masalah dan pelacakannya)

10. Pengetahuan lisesnsi dan inventory

11. Pengetahuan akan peralatan dan teknik – teknik kekenyalan (resilency) sistem (fault tolerant, clustering)

Waduh…, ‘ITB ku” tersandung masalah plagiarisme. Wejangan Sri Kresna, yang dituturkan Ki Narto Sabdo “Wong pinter kena ing luput, wong bener kena ing lali” April 15, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.
1 comment so far

Kabar tidak sedap ini saya lihat dan ikuti dari milist Alumni ITB. Pagi tadi salah satu teman alumni mengabarkan berita buruk ini. Salah satu response dari anggota adalah mencela dan memperingatkan harus dilakukan tindakan segera sebelum kasus ini mencuat dan dikonsumsi oleh media entah media online, atau lebih parah media penyiaran. Dan sore ini sudah nampang di detik.com. Aib ini sudah menyebar:(.

Ketika beberapa bulan yang lalu saya dengar dan baca kabar plagiarisme yang dilakukan oleh salah satu “professor” (tanda kutip sengaja saya sertakan karena kasusnya itu) dalam hati saya mencela dan mengutuk tindakan itu. Tapi sekarang kampus tercintaku sendiri tersandung masalah serupa. Bagaiman rasanya? Mau tidak mau saya juga mengutuk, mencela tindakan itu. Tapi kali ini penyesalan dan rasa malu menyertainya.

Jelas tindakan seperti ini tidak bisa ditolerir dan merupakan tindakan tercela. Beberapa attribut bisa disematkan kepada pelaku plagiarisme ini. Kalau boleh saya urai – terus terang dengan hati sedih, dada sesak serasa mau nangis -, kurang lebih plagiator bisa diasosiasikan dengan :

1. Maling, maaf kalau saya menyebut begitu. Sebab yang dilakukan seorang atau sekelompok orang adalah mencuri, mengambil ide orang lain tanpa sepengetahuan dan seijin si empunya ide

2. Pembajak, maaf juga kalau saya katakan begitu karena seorang plagiat sama saja – bahkan lebih parah- dari pada pembajak hasil karya cipta orang lain. Bahkan komentar salah satu pembaca detik.com, ”lebih jahat daripada pembajak vcd di glodok”. Saya paham, karena tingkat pendidikan dan pengetahuan si plagiator pasti lebih tinggi daripada pembajak di Glodok atau yang menjual hasil bajakan di kaki lima.

3. Sadis, tegaaan. Sekali lagi maaf, karena plagiator begitu tega mencomot begitu saja hasil penelitan dan studi orang yang lain yang pasti telah bercapek – capek dan dengan segala usaha yang keras menelorkan hasil karya (ilmiah).

4. Ambisius, serakah. Kembali lagi maaf, nafsu ingin dikenal ingin dapat kum dan ingin – ingin yang lain lah yang mendorong plagiator berbuat tercela itu

5. Pemalas, bagaimana tidak disebut begitu jika yang dilakukan hanyalah menyalin dan kopi paste saja ??

6. Bodoh, bukankah mencontek ide cermin dari kebodohoan ?

7. Minder, karena tidak ada rasa percaya diri untuk berusaha keras dan menghasilkan karya sendiri

8. Dan yang lain – lain, mungkin bisa lebih panjang lagi.

Tadinya saya berharap ini hanyalah kebetulan belaka dua kelompok yang dipisahkan jarak ribuan kilometer, bisa jadi melakukan penelitan terhadap subyek yang sama dengan hasil yang sama. Tetapi setelah saya membaca kedua artikel yang jadi kasus ini, saya rasa ini memang plagiarisme. Jika memang benar paper dari tim Elektro ITB adalah seperti itu. Dan juga paper dari team TU Deft juga yang saya baca itu. Semuanya sama persis plek, kecuali judul dan referensinya saja. Sangat parah, bagaimana bisa terjadi sampai kata – katanyapun sama persis? Waduh..waduh…

Terus terang saya ikut malu sebagai alumni ITB. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Yang melakukan kesalahan segera minta maaf, siap menghadapi sanksi sesuai aturan. Dan tentu saja mudah-mudahan hal seperti ini menjadi yang terakhir kali tidak hanya bagi ITB, tetapi juga bagi kita semua seluruh insan akademis di Indonesia. Hanya saja jika boleh mengkritik kelihatannya ada kecerobohan di kasus ini. Paper ini (oleh team dari Elektro ITB) diakui sebagai hasil karya 4 orang. Secara awam kita pahami bahwa ke empat – empat orang tersebut bertanggungjawab terhadap paper tersebut. Dengan demikian seharusnya ke empat orang tersebut mengerti dan menguasai isi paper tersebut. Lalu bagaimana bisa jebol seperti itu? Apakah ke empat orang tersebut kompak melakukan hal negatif itu ? Rasanya tidak mungkin, melihat kapasitas dan kapabilitas beliau – beliau itu. Satu orang (yang saya tahu) paling tidak sangat terkenal reputasinya. Ah hanya untuk satu paper seperti itu, bagi beliau sangat remeh untuk sengaja mencontek. Kecuali mereka ceroboh !

Lalu kemungkinan yang lain ? Seperti ada kasus plagiarisme, penulis pertama lah yang mempublikasikan tanpa sepengetahuan penulis yang lain. Artinya jika demikian penulis pertama mencuri dua kali. Pertama mencuri ide orang lain sebagai idenya, yang kedua mencuri nama orang lain tanpa sepengetahuan si empunya, untuk kepentingan tertentu.

Saya jadi ingat wejangan Sri Kresna kepada Yudistira ketika Sulung Pandawa itu memprotes kematian Bisma di tangan Sri Kandi ”Wong pinter kena ing luput, wong bener kena ing lali” Maksudnya kurang lebih Orang Pandai tersandung kesalahan orang benar tersandung lupa. Ini untuk mengiaskan tindakan Bisma, sudah jelas dia mendeklarasikan diri akan wadag (tidak kawin) seumur hidup tetapi mengapa masih juga mengikuti sayembara dengan hadiah putri yang harus dijadikan istri jika dia menang sayembara. Akibat dari itulah Bisma menemui ajalnya di awal – awal perang Baratayuda, di tangan seorang putri macam Srikandi.

Wallahu alam bissawab..

Kegagalan mengendalikan diri, sumber semua bencana April 13, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari.
add a comment

Kanjeng Nabi Muhammad empat belas abad yang lalu sudah mengingatkan bahwa perang badar, perang uhud, atau perang khandaq sekalipuan adalah jihad yang kecil. Ada jihad yang jauh lebih besar dan tentu saja lebih sulit yaitu melawan hawa nafsu. Apalagi jika bukan mengendalikan diri sendiri?

Apa yang kita lihat dan rasakan sekarang ini semuanya berpangkal pada kegagalan mengendalikan nafsu diri. Nafsu kita, kita biarkan tanpa kendali sehingga begitu mencintai dunia, entah harta atau lawan jenis. Karena tidak mampu mengendalikan diri itulah kita lihat pejabat dan pemimpin kita seolah berlomba – lomba mengumpulkan harta kekayaan. Kekayaan mereka puluhan miliar dan – saya yakin – tidak cucuk dengan gaji dan pendapatan mereka yang diperoleh secara wajar. Tetapi karena terlalu cinta dunia itu tadi, mereka selalu punya alibi mengenai asal – usul bermiliar – miliar hartanya itu. Entah bisnis tanah lah, hibah lah, warisan lah, dan seterusnya. Terserah…hanya mereka sendiri dan Allah yang tahu. Semoga kita semua ingat, semuanya akan diminta pertanggungjawaban di kehidupan selanjutnya nanti.

Kita mengira, dengan mengumbar hawa nafsu tanpa pengendalian diri akan menyenangkan dan membahagiakan. Sesaat dan bagi diri kita sendiri mungkin iya benar. Tetapi episode selanjutnya setelah kenikmatan sesaat itu adalah rasa hina dan malu diri. Setelah menjadi pesakitan namanya akan diucapkan dengan cibiran dan rasa jijik. Jikapun tidak menjadi pesakitan di dunia, pesakitan di akherat akan menunggu. Bahkan bukan hanya bagi diri mereka rasa hina dan cibiran itu, namun mengimbas kepada keluarga dan sanak saudara, bahkan teman sejawat. Bagaimana tidak mengimbas ke orang lain kalau misalnya, saya pernah mendengar obrolan kenek angkotan kota saat penumpangnya turun di depan Kantor Pajak yang mentereng sang kenek berteriak ”Gayus turun, gayus turun….!”. Waduh, padahal belum tentu sang penumpang adalah pegawai Pajak dan tidak semua pegawai pajak seperti Om Gayus. Kasihan…teman – teman yang bersih dan tidak tahu apa – apa, terbawa – bawa dan merasakan akibat negatifnya.

Sesaat saja (paling lama seumur mereka) mereka menikmati gelimangan harta dan beberapa pelukan wanita. Namun setelah itu menderita lahir batin seperti itu. Itu juga kalau mereka masih punya rasa malu sebagai manusia makhluk yang paling sempurna. Kalau tidak, ya wassalam. Menunggu malu di hadapan Hakim Yang Maha Adil nanti.

Semuanya karena mereka gagal mengendalikan diri…

Alhamdullillah, saya tidak pernah  -dan mudah-mudahan selamanya tidak pernah – merasakan kenikmatan semu dan sesaat seperti yang dirasakan bapak – bapak pejabat dan mantan pejabat kita itu. Meski tidak pernah mengalami hal seperti itu, dalam skala kecil dan seringkali, saya pribadi tidak mampu mengendalikan diri. Kejadian terakhir terjadi kemarin ketika saya harus buru – buru mengejar pertemuan dengan client di awal hari. Jakarta macet, adalah hal yang biasa. Maka itulah yang saya hadapi. Ketika jalanan di daerah Pramuka menyempit dari tiga lajur menjadi dua lajur dan posisi saya terjepit di tengah. Di kiri saya, mobil box dengan hidung mepet kanan di depan kendaraan saya, dia mau mengambil kanan (jalur kiri dari dua jalur). Melihat kanan agak longgar saya berniat mengalah kepada mobil box ini dengan memberi lampu sense kanan saya ambil jalur kanan. Rupanya di belakang, mobil yang punya jalur tidak terima dan membunyikan klakson dengan kencang. Sulit untuk mengalah pada mobil box, dan tanggung untuk mengalah dengan kijang di belakang itu. Inilah cerminan sikap saya yang tidak mampu mengendalikan diri. Sedikit saya goyangkan badan kendaraan ke kanan. Dan saya mendapatkan jalur kanan itu.

Wah..rupanya itu membuat pengemudi kijang itu marah besar. Dikejarnya saya…”Walah…dia marah!?”, pikirku. Tidak perlu saya mempercepat laju, toh percuma juga dalam kondisi macet begini. Terkejarlah saya, dan bapak dengan kijangnya itu mendahului saya. Rupanya marahnya belum reda, dihadangnya saya. Saya ambil kiri, dia halangi. Saya pelan dia pelan, saya ambil kanan mobilnya dipalangkan ke kanan. Kali ini saya berusaha mengendalikan diri, mungkin karena terpaksa. Daripada ribut buang waktu, saya mengalah saja. Toh di jalan juga. Sampai di persimpangan Salemba, Bapak ini mepet saya n buka kaca menuding-2 ke arah saya. Saya pura – pura tidak dengar, dan saya tidak mau memperhatikannya. Marahnya masih berlanjut, mungkin saya harus menanggapi bukan cuek seperti itu. Sampai antri lampu merah berikutnya, tindakannya lebih ganas lagi. Dihalangi saya, dia turun dari mobilnya dan memarah-2i saya. Sekali lagi saya tidak dengar apa yang dikatannya. Dan saya memang tidak berniat mendengarkannya. Tentu saja kami berdua menjadi tontonan orang-2 (Eh..ketidakmampuan saya mengendalikan diri, membuat yang lain menderita). Saya lihat pengendara sepedamotor dan mungkin juga pengendara yang lain melihat dan memperhatikan saya. Tapi saya tidak mau ambil pusing. Saya harus bisa mengendalikan diri kali ini. Itu saja yang ada di pikiran saya. Beruntung saya, si Bapak itu tidak melakukan apa – apa selain menuding – nuding dan berteriak-2 teriak ke arah saya.

Terakhir yang saya perhatikan dari sikapnya adalah menunjuk-2 seolah-2 mengajak saya belok ke kiri sesuai dengan arahnya dia. Tapi saya tidak akan ke kiri, karena bukan arah itu tujuan saya. Sebenarnya saya ingin turun dan minta maaf jika dianggap salah kepada Bapak itu, tapi saya takut dia salah terima. Urusan akan jadi panjang, apalagi di tengah jalan. Kebayang bukan ramainya yang melihat, pasti pengendara yang lain tidak sabar ada dua kendaran parkir di tengah jalan. Baiklah…saya tidak yakin Bapak itu membaca blog saya ini. Tapi kalaulah membaca, saya mohon maaf atas ketidakmampuan saya dalam mengendalikan diri meminta jalur Bapak, padahal Bapak tidak bersedia memberikannya.

Systems & Infrastructures Lifecycle Managament (SILM) April 8, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in SI - Audit.
add a comment

Setelah menguasai proses audit Sistem Informasi (Audit SI/IS Audit), memahami Tata Kelola TI, berikutnya ISACA memberikan panduan pemahaman terhadap proses – proses utama serta metodologi yang – biasa – digunakan oleh suatu organisasi dalam membuat maupun melakukan perubahan terhadap sistem dan infrastruktur mereka.

Tugas

Terkait dengan SILM ini, daftar berikut adalah tugas – tugas yang umumnya dilakukan oleh Auditor Sistem Informasi. Urutan tugas ini secara kronologis sesuai dengan pengelolaan sistem dan infrastruktur, mulai dari perisapan sampai dengan pengawasan atas kesesuaian sistem dan infrastruktur yang diimplementasikan dengan strategi dan tujuan (bisnis maupun layanan) suatu organisasi.

1. Tahap persiapan, evaluasi dan pemeriksaan business case terhadap usulan pembangunan atau akuisisi sistem/infrastruktur. Evaluasi ini bertujuan bahwa proposal pembangunan/ akuisisi sesuai dengan tujuan – tujuan (bisnis atau layanan) suatu organisasi.

2. Evaluasi terhadap kerangka kerja proyek dan pengelolaan proyek dalam praktek pembangunan/ akuisisi, untuk memastikan bahwa tujuan (bisnis/layanan) tercapai dengan biaya yang masuk akal dan tetap memperhatikan pengelolaan risiko yang dapat diterima dalam suatu organisasi.

3. Review pengelolaan proyek, untuk memastikan bahwa kemajuan proyek dari waktu maupun resource tidak menyimpan dari perencanaan proyek. Dalam pelaksanaanya proses review ini harus didukung oleh dokumentasi yang cukup dan akurat baik berupa laporan maupun status.
4. Evaluasi terhadap mekanisme pengendalian SILM untuk tiap tahapan, baik mulai dari penyusunan kebutuhan, pembangunan/akuisisi, dan uji coba. Untuk memastikan bahwa semuanya berjalan dalam koridor yang aman (tanpa risiko atau dengan tingkat risiko yang dapat diterima) serta patuh terhadap kebijakan – kebijakan organisasi maupun kebutuhan – kebutuhan lainnya.

5. Evaluasi terhadap proses pembangunan/akuisisi dan ujicoba sistem atau infrastruktur, untuk memastikan bahwa hasil pekerjaan (deliverable) sesuai dengan kebutuhan – kebutuhan organisasi.

6. Evaluasi terhadap kesiapan sistem/infrastruktur untuk implementasi dan migrasi dari proses pembangunan/akuisisi ke tahap produksi.

7. Melakukan review paska implementasi terhadap terhadap sistem/infrastruktur untuk memastikan bahwa kesemuanya sesuai dengan tujuan organisasi, dengan pengendalian internal yang efektif.

8. Melakukan review secara periodic terhadap operasi sistem/infrastruktur untuk memastikan bahwa semuanya secara kontinyu sesuai dengan tujuan organisasi, dengan pengendalian internal yang efektif.

9. Melakukan review secara periodic terhadap proses pemeliharaan dan perawatan sistem/infrastruktur untuk memastikan bahwa semuanya secara kontinyu mampu mendukung usaha pencapaian tujuan organisasi, dengan pengendalian internal yang efektif.

10. Melakukan review terhadap proses pemusnahan sistem/infrastruktur untuk memastikan bahwa semuanya patuh terhadap kebijakan organisasi serta prosedur yang telah ditetapkan.

Pengetahuan dan Keahlian

Untuk melaksankan masing – masing tugas itu, auditor SI harus melengkapi diri dengan pengetahuan dan pemahaman proses daur hidup Sistem dan Infrastruktur mulai dari persiapan, pelaksanaan, implementai, operasi, pemeliharaan sampai dengan “pemusnahan”nya. Bekal pengetahuan yang harus dikuasi oleh auditor SI adalah : Benefits Management Case; mekanisme tata kelola proyek; praktek pengelolaan proyek, kerangka kerja, peralatan dan Kendali kerja; praktek pengelolaan risiko yang diterapkan pada proyek; criteria keberhasilan dan risiko proyek; configuration, change and relase management dalam keterkaitannya dengan pengembangan dan pemeliharaan sistem/infrastruktur; obyektif alat kendail dan teknik – teknik pengendalian untuk memastikan kelengkapan, akurasi, validitas dan otoritas transaksi dan data dalam aplikasi sistem TI; Enterprise Architecture terkait data, aplikasi, teknologi;praktek – praktek pengelolaan dan analisa kebutuhan seperti verifikasi kebutuhan, ketelusuran, analisa kesenjangan;proses pengelolaan kontrak dan akuisisi seperti evaluasi dan pemilihan vendor, persiapan kontrak, pengelolaan vendor, escrow account;metodologi pengembangan sistem, peralatan yang digunakan, serta pengetahuan akan kekuatan dan kelemahan masing – masing metode dan peralatan tersebut;metode – metode penjaminan kualitas;pengelolaan proses uji coba seperti strategies testing, test plans, test environments dan exit criteria;peralatan data konversi, teknik dan prosedur konversi;prosedur pemusnahan sistem/infrastruktur;praktek – praktek akreditasi dan sertifikasi S/W maupun H/W;obyektif dan metodologi dari review paska implementasi sistem/infrastruktur seperti penyelesaian proyek, realisasi benefit, dan pengukuran performansi;praktik – praktik migrasi sistem dan deployment infrastruktur.

Barataydha Jayabinangun, Duryudona – Salya Gugur[11], Salya Gugur April 3, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
2 comments

(Subuh, Madiun – Magetan, di Parang Mas)
Di ladang Kuru setra. Bau busuk bangkai hewan tunggangan perang yang berserakan semakin menusuk hidung. Darah para prajurit, senopati, dan agul agul pandawa maupu kurawa yang gugur sebagian mengering, sebagian masih terasa basah berjampur rereumputan kering dan debu musim kemarau. Semilir angin pagi hari mendendangkan senandung kepedihan, kesedihan. Rumput rumput kering berserakan tercerabut dari tanah berpijak, begitu pula nyawa para prajurit yang telah gugur terpisah dari raganya.
Ladang Kurusetra, sejak jaman kuno ketika Hutan Hastinapura diubah menjadi kerajaan oleh Prabu Gajah Hoyo (oleh karena itu jagad mengenal Hastinapura dengan sebutan Kerajaan Gajahoyo) telah menjadi saksi puluhan perang besar. Perang besar dunia pertama juga terjadi di sini. Ketika Prabu Tremboka dari Pringgandani mati sampyuh bersama Prabu Pandu kala itu. Pandu mati muda meninggalkan dua orang istri dengan anak2 yang masih kecil, bahkan Nakula Sadewa belum putus tali pusarnya.
Hari ini ternyata Sangkuni tidak mematuhi pesan Salya kemarin sore. Paling tidak itulah yang dilihat Salya. Kurawa telah memulai formasi perangnya dan menyerang prajurit Kurawa. Dari kejauhan Salya melihat Setyaki bertempur melawan…siapa di sana? Salya tidak mengenalinya. Namun perkiraannya mengatakan, pastilah lawan Setyaki itu adalah salah satu sekutu Duryudono dari Kerajaan sebrang. Drestajumena, senopati Pandawa itu, melawan musuh lain yang juga tidk dikenalnya. Begitu pula para prajurit tingkat bawah saling beradu satu sama lain. Salya belum lagi beranjak untuk memerintahkan pasukan setianya maju menggempur formasi Pandawa. Dalam hati dia mengumpat, Sangkuni memang tidak tahu tata krama. Sudah dipesannya jangan sampai tanpa perintahnya digelar formasi perang. Sebab dia adalah Senopati Agung. Di bawah kendalinya lah seharusnya segala pergerakan perag hari ini berada. “Duwoyoto…!”
“Hamba sinuwun prabu..”
“Sangkuni dan para kurawa memang tidak tahu tata krama dan sopan santun. Sudah aku pesankan, jangan sampai menggelar pasukan hari ini tanpa seijinku. Tapi mengapa mereka lancang mendahului perintah senopati??”
“Sinuwun Prabu memang benar adanya, namun lama lama saya amati, kelihatannya mereka bukan pasukan Kurawa sinuwun. Hamba tidak melihat pasukan kurawa dan kurawa ada di medan laga..”
“Oh ya…we la…siapa mereka Duwayata? Kelihatannya memang mereka sekutu Kurawa. Tetapi mengapa tidak terlihat Kurawa di sana? Hmm….ya sudah biarkan saja. Tahan pasukanmu, tidak perlu melakukan gerakan apapun”
“Sendika sinuwun…”
Maka demikianlah, Salya dan pasukan Mandaraka hanya diam menunggu dan mengamati apa yang terjadi di medan laga. Debu bergulung gulung beterbangan karena sapuan kaki kaki prajurit yang sedang bertempur, atau karena hentakan kaki kuda, gajah dan tunggangan yang lain. Suara gemuruh terdengar riuh rendah. Teriakan kemenangan berselang seling dengan jerit kesakitan. Sorak sorai yang berhasil merobohkan ditimpali erangan mereka yang dirobohkan. Pedang beradu dengan tameng, tusukan tombak mendesis menerjang sasarang. Anak panah bagai guyuran hujan dari dan menuju kedua belah pihak yang berlawanan.
Teriakan sorak sorai dari arah pandawa tiba tiba membahana. Setyaki berhasil merobohkan lawannya. Dengan ketangkasan dan keprigelannya, Si Bima Kunting ini berhasil merebut tombak lawannya setelah dua tiga kali menghindar terjangan. Sambil melenting menghindari tusukan horisontal tombak sang lawan, dikirimkannya tendangan tumit kaki kiri mengenai leher lawan. Lawan terhuyung ke belakang. Secepat ular mematuk mangsa, tangan Setyaki menghujamkan tinju ke pergelangan lawan, tombak terjatuh. Bersamaan dengan robohnya sang lawan. Setyaki sudah menggenggam tombak itu. Kendali sekarang ada padanya. Lawan yang roboh mencoba bangun, dengan terhuyung dia berdiri. Dicabutnya keris dari pinggangnya. Di sebrang sana Setyaki siaga memasang kuda kuda. Lawan melompat menerjang dengan keris terhunus. Setyaki melemparkan tombak ke sasaran. Tepat menghujam dadanya. Darah mengucur deras. Sang lawan sekali lagi roboh, kali ini tidak mampu bangun lagi. Sorak kemenangan prajurit pandawa menggema menggetarkan Kurusetra.
Di sisi lain, Drestajumana sibuk dengan lawan yang lain. Namun kelihatannya, ini bukan lawan sebanding baginya. Nyalinyapun ciut. Belum lagi sampai beradu senjata, namun begitu diketahunya bahwa senopatinya telah dikalahkan Setyaki diperintahkan pasukannya mundur.
Begitulah akhirnya, sekutu kurawa inipun kalah memalukan. Gemuruh kemenangan prajurit pandawa. Mereka tidak mengejar pasukan musuh yang lari tunggang langgang. Sebab, meskipun ini perang besar dan bisa jadi akan habis habisan, ada aturan yang harus dipatuhi kedua belah pihak. Salah satunya, tidak boleh ada penyerangan bagi mereka yang mundur. Apalagi sudah di luar padang Kurusetra. Perang ini hanya berlaku di ladang Kurusetra.
“Sekarang saatnya Duwoyoto, ayo perintahkan pasukanmu maju menerjang Pandawa..!”. Dan pasukan Mandaraka pun maju menyerbu. Sebagai incaran mereka tentu saja jika berhasil meringkus atau merobohkan salah satu pandawa lima, sudah cukup untuk menyatakan mereka menang. Namun tentu saja hal ini tidaklah mudah. Sudah tujuh belas hari perang ini berlangsung. Sudah berribu2 pasukan dikerahkan, sudah berpuluh panglima perang diturunkan Kurawa. Toh para pandawa masih segar bugar tanpa cela.
Drestajumena sedikit terkejut melihat serbuan pasukan Mandaraka. Meski sudah terdengar kabar sebelumnya, akan turun nya Salya di perang ini, tetap saja ada rasa was was di dadanya. Dia tahu, bagaimana tingginya keahlian Salya dalam strategi perang dan keprajuritan. Narayana pun mengakui ini. Ajian Canda Birawa yang disandang Salya, membuat siapapun miris. Namun dia adalah Senopati Pandawa sekarang, maka ditatanya perasaan diteguhkannya tekat. Dilihatnya wajah – wajah cemas pasukan Pandawa. Bahkan Setyaki sekalipun miris. Kabar mengerikan yang sayup – sayup dihembuskan Kurawa memakan mangsa. Tidak akan setengah hari, Pandawa dan seluruh pasukannya akan tumpas oleh Canda Birawa. Drestajumena, sang senopati membangkitkan kembali semangat pasukannya, “Kalian prajurit Pandawa…! Ingatlah kalian mengemban tugas suci saat ini. Jangan kalian ingkari kesanggupan dan janji kalian hanya karena kengerian akan kabar kesaktia Salya yang belum tentu benar. Aku sama sekali belum pernah melihat kebenarannya, kecuali kabar bohong yang sengaja disebarkan Kurawa. Para pendusta itu….! Apakah kalian percaya? Apakah kalian tidak malu ngeri dengan kabar bohong itu? Hayo tunjukkan keberanian kalian yang sudah terbukti dalam perang ini..Sudah terbukti ribuan prajurit kita robohkan, ratusan panglima Kurawa kita lumpuhkan, bahkan Maha guru Druno sekalipun. Tidak ada alasan untuk tidak bisa merobohkan Salya hari ini. Kembali ke formasi bunga teratai, lindungi Pandawa…!!! “
Pasukan pimpinan Drestajumena mengikuti perintah panglimanya. Entah sukarela atau terpaksa, hanya mereka yang tahu. Di pihak lawan, para prajurit Mandaraka maju menyerbu. Riuh rendah suara penyemangat perang terdengar dari arah mereka. Memang benar kondangnya, meski jumlahnya tidak seberapa ketangkasan mereka luar biasa. Mereka yang menunggang kuda atau menyerbu dengan berlari sama tangkasnya. Ketika jangkauan mereka sudah tercapai anak panah, ribuan anak panah menghujani pasukan Mandaraka itu. Luar biasa, tidak satupun dari mereka terkana. Sambil tetap maju menyerbu, mereka menangkis anak panah yang melesat dengan tameng, pedang, atau bahkan tombak mereka. Pasukan Mandaraka semakin dekat…dan duel satu lawan satu tak terelakkan. Bergelimangan pasukan Drestajumena tak kuasa menghadang mereka. Namun jumlah pasukan Mandaraka tidak sebanding. Perlahan mereka kewalahan juga, satu pasukan Mandaraka kira kira berhadapan dengan sepuluh pasukan Pandawa yang juga sangat terlatih. Melihat pasukannya berjatuhan, timbul amarah Salya. Yang tadinya sebenarnya hanya “lamis” dia berperang, cintanya kepada pasukan dan simbul simbul Negara manadaraka yang dicederai lawan, membuatnya marah juga. Disingkirkannya rasa ewuh pekewuh dan rasa welas kepada para pandawa keponakannya. Di medan laga ini, tidak ada keluaarga, tidak ada sanak saudara, tidak ada pepunden sesepuh. Yang ada hanyalah lawan, yang ada hanyalah musuh. Tidak ada kasih sayang, tidak ada welas asih. Yang ada hanyalah melukai jika tidak ingin terlukai, yang ada hanyalah membunuh jika tidak mau terbunuh. Dikerahkannya kesaktiannya. Panah disiapkan dibusurnya, secepat kilat panah itu terlepas dan ribuahn panah tiba2 saja seolah menyembur dari kereta salya menghujani arah pandawa. Drestajumena berteriak memberikan komando, “Kakang setyaki…bawa pasukanmu seutuhnya, kepung kereta Salya..Jangan sampai dia mendekat ke arah Pandawa…!” Segera Setyaki dan ratusan pasukannya mengepung kereta Salya. Ratusan tombak dilemparkan ke arah Salya. Tidak satupun mampu melukainya. Bahkan kuda kuda kereta itupun seolah hanya digigit semut ketika terkena senjata dari arah pasukan Setyaki. Setyaki dan pasukannya terdesak mundur, meski hanya menghadapi seorang Salya. Sebagian pasukan Drestajumena membantu menghadang laju Salya. Tak kuasa, panah Salya seolah tiada henti menyembur dan memakan korbannya. Jarak antara salya dan para pandawa di tengah formasi bunga teratai tak lebih dari sepuluh lapis pasukan, dengen Setyaki dan Drestajumana di garis depan. Arjuna bertindak. Dilepasknnya panah ardodedali, tidak mampu mengeni Salya. Namun menghantam payung kereta, menyambar leher kusir Duwuyoto. Mati seketika sang patih Duwoyoto.
Semakin menjadi jadi marah Salya. Sejenak kereta kehilangan keseimbangan karena ditinggalkan kusirnya. Sekarang Salya memegang sendiri tali kekang, sambil sesekali tangan kanannya melempar tombak ke arah pasukan pandawa untuk mencari jalan menyerbu Pandawa. Salya benar benar tidak lagi melihat pandwa sebagai kelurga, mereka semua dalah musuh saat ini.
Dari luar gelanggang Kresna berteriak, “Yayi Yudistira…sekarang giliran adinda…!”
Yudistira maju menerjang dengan menunggang kuda putih. Mengitari kereta salya seolah2 meledek Salya, “Mana ajian Canda Birawa Salya yang terkenal itu? Apakah terkenal kabar dustanya saja? Sebab sekalipun belum pernah aku melihatnya… ” Sayup sayup itulah yang didengar Salya. Meski terbersit juga keraguan, benarkah Yudistira selancang itu kepadanya meski ini di medan perang??
Di alam tapaksuci yang memisahkan dunia dan alam baka, arwah Bagaspati yang masih menunggu anak menantu tersayangnya mendapati momen yang dinantikan. “We lah…inilah saatku menghadap ke pengayunan Yang Maha Menang, sudah cukup lama aku menunggu. Sekarang Narasoma sudah berhadapan dengan manusia berdarah putih. Yudistira….jangan kaget, aku akan menyatu dengan ragamu.”
Salya semakin merasa terhina ketika kuda Yudistira hanya mengitari, mengejek dirinya. Lemparan tombak dan lontaran panah, tidak satupun mengenai Yudistira. Dikesampingkannya rasa ragu dan kasih sayang pada Yudistira, diucapkannya mantra ajian Candabirawa. Seketika muncul dihadappnya monster kerdil menyeramkan,”Narasoma….mengapa kamu panggil aku hmmm?”
“Canda birawa..,berpuluh tahun kamu di ragaku baru kali ini aku menyuruhmu. Yang menunggang kuda putih itu Ratu pandawa, hisaplah ubun2nya agar sampai pada kematiannya..”
“Wah..ha ha, jangan kuwatir tidak sampai kedip matamu usai, Yudistira akan tewas”. Dan ketika monster itu menampakkan wujudnya benar2 membuat prajurit yang melihat heran dan ngeri. Meski secara spontan itu membuat mereka maju menyerbu monster kecil itu. Bukan erangan kesakitan yang keluar dari mulut monster itu ketika berbagai sanjat menghujam tubuhnya, tetapi tawa kegirangan. Dan seketika monster itu berlipat seperti amuba membelah diri. Satu jadi sepuluh, sepuluh menjadi seratus, dan ratusan monster itu membuat pasukan pandawa dan senopatinya tunggang langgang. Sekarang hanya Yudistira yang menghadapi. Semua yang melihat keheranan melihat keanehan ini. Selama hidupnya, Yudistira tidak pernah perang. Kali ini begitu gagah beraninya dia menghadang Candabirawa, yang bahkan Bima Janaka pun ciut nyalinya. Keajaiban itu semakin bertambah ketika ratusan monster kerdil itu mendekati Yudistira. Bukan rasa benci apalagi amarah yang terlihat di wajah monster itu, tetapi kegembiraan yang luar biasa karena kerinduan yang kelihatannya sangat lama terpendam. Lihatlah seolah mereka anak anak kecil yang seharian ditinggal ibunya. Semmuanya menubruk dan ingin merangkul Yudistira. Entah apa yang terjad, ketika tubuh2 mereka menyentuh Yudistira, seketika hilang tidak berbekas.
Tak terdengar lagi raungan monster2 canda birawa. Yudistira bersiap. Dihusnya panah dari sarungnya, dipasangkannya ke busur. Panah itu sudah ditumpangi Jimat Kalimasada. Seolah tanpa ragu dan tetlihat sangat terlatih, Ydistira melepaskan anak panahnya. Tepat mengenai dada Salya. Salya gugur memenuhi janji dan melunasi hutangnya. Bagi yang melihat kasar mata mungkin itu adalah penderitaan dan aib. Namun bagi Salya sebaliknya. Inilah bukti cintanya pada pandawa dan kebenaran. Dikorbankannya nyawa untuk membelanya. Ini pula momen yang ditunggunya, ketika dia melunasi hutang kepada Bapak mertuanya. Dengan demikian, dia pulang ke pangkuan yang maha sempurna, dengan kesempurnaan. Paling tidak tiada membawa beban dan janji yang tak terlunasi.

Balada Rakyat Melarat.. Maret 24, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.
add a comment

Gusti,  masih ada harapankah bagi kami

Gusti, Entah apa yang terjadi pada negeri ini

Ketika  kebenaran hanya sebatas bunyi

Tapi hati dan tingkah mereka  tak ada bedanya dengan tai

Gusti, tidak kah Kau lihat polah mereka yang menjabat ?

Yang  dilakukannya hanyalah mengumbar syahwat

Etika dan moral mereka sungguh bejat

Membagi jarahan mencari selamat

Tak peduli rakyat sekarat

Gusti, semua omongan mereka hanyalah bulsit

Meski tutur kata dan gaya bicara setinggi langit

Tetap saja mereka semua adalah demit

Sebab yang ditujunya hanyalah duwit

Tak peduli rakyat menjerit

Tinggal sebatang tulang dan selembar kulit

Gusti, kapankah pejabat itu memikirkan rakyat?

Uang dan pajak kami kami diembat

Minyak dan emas kami disikat

Uang subsidipun tak luput disunat

Membiarkan kami semakin melarat

Gusti, maafkan kami jika pesimis

Mereka semua penjagal sadis

Penjarah dan perampok bengis

Tapi kami tak akan menangis

Dan kami tak perlu mengemis

Harta dan kekayaan mereka dikiranya manis

Tetapi sebenarnya busuk dan amis

Gusti, hanya padaMu kami berharap

Segenap jiwa kami menghadap

Gantilah mereka dengan yang beradab

Semoga mereka segera insaf

Atau pada mereka Kau timpakan azab

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.605 pengikut lainnya.