jump to navigation

SINAPTIKA 2012 Maret 26, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang di seputar Mercu Buana, Yang Kami Kerjakan, Yang Sayang Dilupakan.
add a comment

Bagi anda praktisi, peneliti, maupu pemerhati Teknologi Informasi dan Komunikasi, kami Panitia SINAPTIKA 2012 Univ Mercu Buana, mengundang untuk berpartisipasi dalam Call  for paper. Info lengkap milakan diacu di sini http://sinaptika.mercubuana.ac.id/

Tempat Makan Baru dekat Kampus Universitas Mercu Buana Februari 20, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang di seputar Mercu Buana, Yang Sayang Dilupakan.
add a comment

Belum sampai hitungan 4 bulan rasanya di dekat Kampus Universitas Mercu Buana telah dibuka rumah makan baru. Nama rumah makan itu Sop Ayam Pak Min Klaten. Awalnya saya tidak terlalu perhatian dengan rumah makan ini, mengingat saya bukanlah tergolong penggila wisata kuliner. Maka memang saya agak kuper soal kuliner-2 an begini. Kembali ke Rumah Makan Sop Ayam Pak Min itu. Sampai kemudian suatu saat diajak teman dosen untuk mencoba makan di sana. Wah ternyata memang rumah makan ini sesuai. Menunya sesuai, harganya sesuai, tempatnya sesuai, pelayanannya juga sesuai. Menunya sesuai untu penderita penyakit “tua” seperti kolesterol, asam urat, atau misalnya darah tinggi. Menunya fokus pada sop ayam bening, yang dipisah. Jadi bagi yang menghindari kulit karena kolesterol, silakan memilih soto ayam daging, atau soto ayam leher. Harganya sesuai, terutama untuk lingkungan kampus (bukan hanya kelas mahasiswa). Untuk dosen dan karyawan harga – harga menu sangat membantu. Harga – harga ini menurut saya seimbang bahkan apa yang kita dapatkan bisa lebih, paling tidak dari sisi rasa meskipun dilihat dari porsi juga mencukupi. Dengan uang 10 ribu rupiah sudah bisa makan sop campur plus minuman dingin atau hangat. Tempatnya sesuai terutama untuk teman – teman komunitas Univ Mercu Buana dan sekitarnya. Bukan hanya itu, tempatnya gampang diakses. Bagi yang membawa kendaraan roda empat juga tidak akan mengalami kesulitan memarkirkan kendaraannya. Empat bulan beroperasi, rumah makan ini segera saja menjadi primadona. Hampir sepanjang waktu saya perhatikan selalu penuh dengan pelanggan. Saya amati, ya karena semuanya “sesuai” itu tadi. Hanya sering kita melihat kesuksesan pengusaha makan ini dari permukaannya saja. Bahwa kelihatannya enak, sukses. Hanya tinggal menunggu restoran, pelanggan datang sendiri. Padahal proses menuju dan dibalik itu bisa jadi jauh lebih sulit daripada yang pernah kita alami. Banyak parameter yang menentukan keberhasilan rumah makan. Tempat, rasa, pelanan, harga, adalah beberapa di antaranya. Satu saja tidak terpenuhi, bisa berantakan semuanya. Maklum, saya pribadi pernah beberapa kali mengalami  Berikut ini gambar – gambar “kesuksesan” Sop Ayam Pak Min Jalan Meruya Selatan

Halaman Depan Rumah Makan

Halaman Depan Rumah Makan

 

Menu, Silakan Pilih Yang Sesuai

Menu, Silakan Pilih Yang Sesuai

Kembali Menguji Sidang Tugas Akhir (Ada souvenir buat pembaca jika yang bersangkutan adalah Mahasiswa Fasilkom UMB) Februari 14, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang di seputar Mercu Buana, Yang Kami Kerjakan, Yang Sayang Dilupakan.
2 comments

Bulan Pebruari – Maret, adalah bulan sidang di Fasilkom. Maka begitu juga bulan ini. Total sekitar 60an mahasiswa telah mengajukan pelaksanaan sidang tugas akhir. Dua hari ini konsentrasi semua dosen terfokus pada pelaksanaan sidang baik sebagai penguji maupun pembimbing dan pemimpin sidang tugas akhir.

Dari sehari menguji sidang kemarin secara ringkas dapat saya tuliskan bahwa masih banyak kelemahan yang terdapat pada buku laporan tugas akhir.  Kelemahan dan kekurangan tersebut ada pada hal – hal yang bersifat umum dan tidak pada materi Tugas Akhirnya. Beberapa di antaranya saya ringkas seperti di bawah. Ringkasan yang merupakan hasil pengamatan dan ingatan selama sehari melaksanakan tugas menguji peserta sidan tugas akhir.

Tata Tulis

Masih banyak laporan tugas akhir yang mengabaikan kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang benar dan baik. Beberapa di antaranya antara lain :

  • Rancu dalam menerapkan kata “di” apakah sebagai awalan atau kata depan. Menurut kaidah yang benar, jika “di” merupakan kata depan maka penulisannya dipisah dangan kata yang mengikutinya. Jika “sebagai” imbuhan maka penulisannya disambung. Dengan demikian penulisan yang benar adalah: disambung, dipisah, ditulis, diteliti, di sana, di sini, di mana, di situ, di dalam atau dipahami. Dalam tugas akhir kesalahan yang umum adalah penulisan terpisah pada “di” sebagai awalan.  Saya lihat ini juga terjadi secara umum. Banyak warga masyarakat kita yang menulis di pinggir jalan seperti : di jual, di sewakan. Ini semua salah. Bobot kesalahan lebih besar untuk karya tulis yang bersifat ilmiah.
  • Penulisan huruf besar dan huruf kecil yang tidak tepat. Misalnya dalam kalimat “Dalam penelitian ini dihasilkan aplikasi perangkat ajar bahasa Inggris kelas 6 SD” terdapat kesalahan penulisan “Bahasa Inggris”. Karena “Inggris” merupakan nama untuk bahasa, maka penulisan gabungan keduanya seharusnya masing – masing kata ditulis dengan huruf kapital yaitu “Bahasa Inggris”, seperti halnya nama sungai, nama gunung juga ditulis dengan huruf kapital. Jadi penulisan yang benar adalah misalnya : “Aplikasi perangkat ajar Bahasa Inggris”, “Berlayar di Bengawan Solo”, “Menangkap ikan di Sungai Brantas”, atau “Mendaki Gunung Agung di Bali”.

Tata Kalimat

Kesalahan mendasar namun cukup sering dijumpai adalah akibat kurangnya pemahaman terhadap hukum dasar kalimat dalam Bahasa Indonesia. Kalimat – apalagi dalam penulisan karya tulis ilmiah – harus terdiri dari minimal subyek dan predikat. Banyak mahasiswa menganggap bahwa kalimat yang ditulisnya sudah lengkap karena “cukup panjang”.  Contoh yang saya kutip dari laporan tugas akhir misalnya “Disebut juga dengan kumpulan beberapa perintah yang dieksukusi oleh mesin komputer dalam menjalankan fungsi tertentu”.  Contoh lain “Dari berbagai penjelasan rumit yang terdapat di dokumen dan buku – buku UML”.  Kedua kalimat ini tidak lengkap. Kalimat yang pertama hanya mengandung predikat, sedangkan kalimat ke dua hanya mengandung subyek.  Untuk kalimat pertama contoh penyempurnaannya adalah “Perangkat lunak disebut juga dengan kumpulan beberapa perintah yang dieksukusi oleh mesin komputer dalam menjalankan fungsi tertentu”. Kata “Perangkat lunak” merupakan subyek.  Penyempurnaan untuk kalimat ke dua misalnya “Dari berbagai penjelasan rumit yang terdapat di dokumen dan buku – buku UML berbagai penjelasan rumit yang terdapat di dokumen dan buku – buku UML dapat dipahami bahwa….”

Tata Cara Penulisan Laporan

Masih banyak mahasiswa yang kurang paham mengenai tata cara penulisan laporan terutama mengenai isi sub bab Tujuan, Manfaat, Batasan Masalah, dan Kesimpulan.

Tujuan & Manfaat

Seringkali tujuan tertukar dengan apa yang dlakukan dalam penelitian. Contohnya sebagai berikut:

  • Tujuan yang ingin dicapai penulis adalah merancangan dan membuat perangkat lunak aplikasi pembelajaran….
  • Tujuan penelitian ini adalah menganalisa kinerja jaringan Ad Hoc dengan…..

Manfaat penelitian juga sering dirancukan degan tujuan penelitian. Saya selalu memberikan contoh saat di sidang dan mempertanyakan hal ini dengan ilustrasi sebagai berikut. Saat kita menginginkan mempunyai rumah maka tujuan kita adalah :

  • Mempunyai rumah yang nyaman dengan aliran udara dan cahaya yang bebas keluar masuk
  • Tersedia taman di belakang rumah yang…..

Untuk mencapai tujuan itu maka kita melakukan pekerjaan menabung, membeli material, mengawasi tukang dst. Setelah tujuan tersebut tercapai maka kita akan mendapatkan manfaat dari tujuan yang dihasilkan tersebut yaitu antara lain : bisa beristirahat dengan nyaman, bisa bekerja dengan tenang, dst.

Batasan Masalah

Kekurangan yang paling sering ditemui dari sub bab Batasan Masalah adalah rancu antara kakas (tools) yang digunakan dengan batasan masalah. Kembali saya ambil contoh dari laporan tugas akhir, batasan masalah sebagai berikut :

  • Aplikasi ini berbasis web dan dibuat dengan Bahasa Pemrograman PHP
  • DBMS yang digunakan adalah MySQL 5

Batasan ini rancu. Seharusnya kakas yang dipilih untuk digunakan dimasukkan ke bagian Analisa dan Perancangan sbagai spesifikasi peralatan.   Untuk melakukan identifikasi apakah batasan masalah atau bukan, sebenarnya cukup sedarhana. Jika item tersebut bisa diganti, maka item tersebut bukan batasan masalah. Sebagai contoh, “batasan masalah” di atas.  Bahasa Pemrograman PHP bisa diganti dengan menggunakan Bahasa Pemrograman yang lain, demikian juga DBMS MySQL 5.

Kesimpulan

Kesalahan yang cukup sering ditemukan di sub bab kesimpulan adalah rancunya antara spesifikasi teknis atau spesifikasi kebutuhan dengan kesimpulan. Contoh kesimpulan yang kurang tepat adalah:

  • Aplikasi ini membedakan 2 jenis lagu yaitu Lagu Nasional dan Lagu Daerah
  • Aplikasi ini menerapkan permainan kuis dalam penggunaannya….
  • User dapat memilih jawaban….

Semua item kesimpulan di atas adalah spesifikasi kebutuhan yang sudah dirancang dari awal. Sebelum penelitian tugas akhir selesai pun hal – hal tersebut di atas sudah diketahui bahkan didefinisikan. Yang disebut kesimpulan seharusnya adalah hal – hal yang diketahui dan disarikan setelah keseluruhan proses penelitian dianggap selesai. Yang paling mudah untuk menyusun kesimpulan adalah dengan melihat kembali tujuan yang ingin dihasilkan dari penelitian. Apakah tujuan tersebut tercapai atau tidak. Jika tercapai dijelaskan apa buktinya, jika tidak mengapa tidak tercapai. Baru kemudian ditambahkan kesimpulan – kesimpulan lain yang dianggap perlu dan menggambarkan keseluruhan proses dan hasil penelitian.

Demikian sedikit ringkasan dan pendapat mengenai penulisan laporan Tugas Akhir mahasiswa Teknik Informatika Fasilkom. Tentu saja pendapat dan pengetahuan saya tidak sempurna. Termasuk di dalam tulisan ini. Dalam tulisan ini setidaknya ada satu kalimat yang salah, selain kalimat – kalimat contoh. Jika anda pembaca adalah mahiswa Fasilkom UMB dan menemukan kalimat tersebut, jika kalian mau, silakan datang dan tunjukkan ke saya kesalahan tersebut. Masih ada souvenir yang saya dapatkan dari ITS Surabaya waktu mengikuti dan menjadi pemakalah dalam Seminar Nasional Tenknologi beberapa waktu yang lalu. Souvenir itu bisa anda dapatkan :)

Contoh Sistem Proposal Maret 17, 2011

Posted by Mujiono Sadikin in APBO, Yang di seputar Mercu Buana.
add a comment

Berkas ini merupakan salah satu contoh Sistem Proposal. Dalam perkuliahan APBO, Sistem Proposal merupakan keluaran dari fase Planning dalam SDLC.

Silakan dipergunakan sebagai – salah satu – referensi mengerjakan tugas-2.

 

Salam

Contoh Sistem Proposal

Memang sulit mengikuti peraturan di Negeri Yang Berdasarkan Hukum ini, sampai – sampai harus misuh “Jancuk…………Matamu ngerti nggak…!!”. Februari 19, 2011

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang di seputar Mercu Buana.
2 comments

Pagi ini seperti biasa ketika menuju Kampus Mercu Buana saya melewati pertigaan Jl. Cileduk – Jl. Swadarma Raya Jakarta Selatan yang terpasang lampu lalu lintas. Jalur Cipulir – Cileduk dan sebaliknya adalah jalur utama maka wajar kalau jalur itu mendapat prioritas dan fase hijau lampu lebih lama dari pada jalur Cilpulir – Swadarma atau Swadarma Cileduk. Di pertigaan itu saya mengambil jalur kanan arah Swadarma dari Cipulir. Kendaraan arah ini mendapat prioritas lebih rendah, maka lampu panah belok kanan menyala hijau lebih singkat daripada arah lain. Saat sampai pertigaan, lampu merah ke kanan menyala. Dan saya pengantri pertama menunggu lampu ke kanan menyala hijau kembali.

Masalah dimulai ketika sopir kendaraan umum (Bus PPD /Mayasari kalau saya tidak salah) yang datang dari Jalur utama Cileduk menuju Cipulir ketika sudah melewati pertigaan menghentikan kendaraanya dan ngetem di ujung pertigaan jalur utama itu sehingga menghambat kendaraan di belakangnya. Maka ketika tiba giliran kendaraan arah dari Cipulir menuju Swadarma untuk berjalan, pertigaan masih dipenuhi kendaraan – kendaraan yang di belakang angkutan umum itu. Saya tidak mungkin memajukan kendaraan karena terhalang. Ya sudah saya menunggu meskipun sekarang harusnya giliran kami karena lampu kami menyala hijau.

Rupanya sopir di belakang saya tidak sabar, klakson dibunyikan beberapa kali. Lampu dim dinyalakan beberapa kali. Saya tidak peduli. Dalam hati hanya mengumpat “Sabar sedikit mengapa ?”. Celakanya karena jalur kami bukan prioritas, segera lampu menyala merah kembali sebelum saya sempat maju. Kehilangan satu fase. Ya sudah saya menunggu saja. Kelihatannya kesabaran sopir di belakang saya tidak juga muncul. Terus saja dia membunyikan klakson dan menyalakan lampu dim meminta saya maju “merebut jalan” jalan kami yang diserobot kendaraan dari arah depan. Lagi – lagi saya tidak peduli. Fase berikutnya bukan giliran kami. Setelah menunggu cukup lama fase utama Cileduk – Cipulir menyala hijau, giliran fase berikutnya adalah Swadarma Cileduk. Si Bapak sopir belakang itu masih saja memainkan lampu dim nya meminta saya siap – siap jangan sampai diserobot lagi, karena giliran berikutnya kami. Mungkin itu yang dipikirkannya. Tetapi saya pikir lain, “Ah ntar kalau hijau baru saya maju”.

Sopir belakang itu benar – benar membuat kesal, ketika lampu dimnya berkali-2 terus dinyalakan, kesabaran saya hilang juga. Saya buka kaca jendela, saya teriak “Jancuk………….Matamu lihat nggak, ngerti aturan nggak ….ke kanan masih merah !!!!!!!!”. Eh dia buka kaca juga, teriak -2 juga (saya tidak bisa mendengar apa yang dikatakan, tapi kepalanya keluar jendela juga sama seperti saya). Ah untung saja para tukang ojek di situ sama – sama berteriak membantu saya “Hoey….!!! yang ke kanan merah, nggak boleh jalan…”. Sebentar kemudian lampu ke kanan hijau, saya tinggalkan pertigaan Cileduk Swadarma dengan emosi tinggi. Si sopir di belakang hendak menyalip saya, untung di depan ada truk. Jadi dia tidak bisa menyalip. Jalan Swadarma kecil, hanya cukup untuk dua kendaraan dua arah. Juga ramai dengan motor serta sesekali delman, jadi sulit baginya untuk mengejar saya. Sampai akhirnya saya lihat dari kaca spion, dia belok ke gang.

Ah hemmm…orang mau nyoba ikut aturan saja kok ya harus berantem dulu…:)

Presentasi Membuat Malas? September 29, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang di seputar Mercu Buana.
add a comment

Dulu jaman kami kuliah, belum mengenal yang namanya proyektor digital di Kampus.  Jadi perkuliahan dilakukan dengan cara manual. Dosen menulis di papan tulis di bagian depan ruang kelas. Kami mahasiswa mencatat dengan menyalinnya. Dosen – dosen yang “lihai”
 mengajar, akan menulis sambil menerangkan. Namun tidak kurang juga dosen yang hanya menulis saja. Dengan menerangkan sekenanya.  Tahun Sembilan puluhan, di ITB juga masih jadul. Papan tulis masih berupa “black board” dan alat tulisnya tentu saja kapur tulis. Tidak tahu, apakah sekarang kapur tulis – di  kota – kota besar – masih di kenal. Presentasi menggunakan slide transparan, biasanya hanya tersedia pada momen – moen khusus. Seingat saya, hanya dua kali saya menggunakan presentasi transparan itu selama kuliah S1. Saat presentasi hasil kerja praktek dan saat siding tugas akhir. Mungkin juga para siswa apalagi mahasiswa sekarang, sudah memandang proyektor jadul dengan menggunakan plastic kopian transparan itu sebagai barang antic.

Jaman berkembang peralatan semakin maju. Black board digantikan white board, kapur tulis digantikan boardmarker. Di kelas – kelas perkuliahan sudah tersedia komputer dengan Sistem Operasi terbaru lengkap dengan peralatan presentasi berupa proyektor digital, layar presentasi, dan remote pengatur. Dosen pengampu biasanya sudah menyiapkan materi presentasi digital. Tinggal colok dari usb ke computer di kelas, semuanya siap saji. Dosen tidak perlu lagi kerepotan hapus menghapus dan berkotor – kotoran dengan boarmarker.

Metoda “modern”, itu pulalah yang saya lakukan di kelas pada awal – awal semester ini. Semaksimal mungkin saya persiapan materi ajar dalam bentuk presentasi. Di kelas saya tinggal menerangkan dan bercerita slide per slide.

Namun setelah beberapa pertemuan berlalu, saya  merasakan ada yang kurang dengan model kuliah seperti itu. Mahasiswa hanya mengandalkan slide dari dosen pengampu. Bahkan mereka terkesan terlalu pasif. Ketika dijelaskan materi di slide, tidak semuanya memperhatikan. Bahkan banyak di antara mereka yang cuek. Saya tidak tahu apa alasannya. Bisa jadi karena saya kurang menarik dalam menjelaskannya, atau mahasiswa yang terlalu mengandalkan slide – slide itu. Ah toh nanti juga akan mendapatkan kopian materinya dengan mudah. Saya merasa, sajian presentasi seperti itu membuat mahasiswa malas berusaha.

Untuk mengatasi kebosanan, saya sudah mencoba dengan menyelipkan cerita – cerita atau mencoba mengajak ngobrol ke sana  ke mari. Tetapi hal seperti ini khan tidak bisa dilakukan terlalu sering, sebab akan mengaburkan materi yang diajarkan. Kebosanan lebih terlihat untuk materi – materi yang mungkin tidak menarik buat mereka, atau tidak memerlukan usaha untuk memikir. Materi hafalan misalnya.  

Apalagi “mainan mahasiswa” sekarang semakin banyak. Dulu, jaman kami paling hanya bisa memainkan pulpen dengan suara cethak – cethek itu. Itupun sudah sangat mengganggu. Bahkan karena mengganggunya, Dosen kami Bu Inge (sekedar introduksi, Beliau adalah Suhu Algoritma Pemrograman berbagai PT di Indonesia) bisa sangat marah. Dan bisa jadi karena memainkan puplen cethak cethek itu, kami disuruhnya belajar di luar (Diusir keluar kelas..he..he..). Lain sekarang, di kelas Mahasiswa leluasa memainkan notebook, handphone, ipad, dst. Selain permainan yang semakin banyak dan maju itu, sifat mahasiswa sekarang juga beda dengan dahulu. Sekarang, bukan jamannya lagi dosen memarahi mahasiswa karena tidak ada perhatian dari mereka di kelas. Apalagi bagi kami dosen – dosen swasta. Mahasiswa – mahasiswa itulah yang membayari gaji kami. Jadi mereka adalah pelanggan kami, jika dalam ilmu dagang. Maka kami harus bersikap baik dengan mereka. Mahasiswa sekarang…tidak dimarahi saja demo, apalagi dimarahi.

Tetapi pengajaran harus tetap berjalan dengan sebaik mungkin. Ada mahasiswa yang memang hanya sekedar datang memenuhi absen dan menuruti perintah kuliah dari orang tua. Namun saya yakin, masih banyak juga yang serius.

Menyikapi sikap mahasiswa dalam menyikapi perkuliahan dengan presentasi di kelas seperti itu, sekarang model kuliah saya ubah. Presentasi sesekali saja saya lakukan, selebihnya kembali ke model konvensional. Menulis di papan dan menyuruh mereka menyalin. Untuk materi yang saya tulis di papan, tidak akan ada slide yang dibagikan. Maka sukarela atau terpaksa – sebagian besar – mereka menyalin. Dengan menyalin mereka merasakan menulis, dengan demikan mudah – mudahan mereka lebih berkonsentrasi, lebih mengingat dan lebih paham daripada sekedar mendengarkan dengan konsentrasi yang mengambang entah karena diri mereka sendiri atau karena gangguan kegaduhan teman-temannya yang lain. 

Mudah – mudahan …

Menguji Sidang Tugas Akhir, Masih Banyak Kesalahan Tata Tulis… Juni 15, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang di seputar Mercu Buana, Yang Sayang Dilupakan.
2 comments

Minggu – minggu ini kelihatannya merupakan masa – masa pendadaran kelulusan mahasiswa S1 FASILKOM UMB. Maka tidak heran jika agenda Sidang Tugas Akhir bisa penuh sepanjang minggu dan setiap hari. Saya mendapatkan bagian untuk membantu menguji Tugas Akhir mahasiswa minggu lalu. Secara sekilas saya perhatikan hampir semua draft tugas akhir yang saya baca mengandung kesalahan mendasar dalam hal tata tulis. Menurut pemahaman saya mengenai Bahasa Indonesia yang baik dan benar tentu saja. Sebut saja salah satunya, dan ini paling sering terjadi, adalah kesalahan dalam menuliskan “di” sebagai awalan atau “di” sebagai kata depan. Sering ditemukan penulisan “di banding” bukan “dibanding”, “di tulis” bukan “ditulis”. Pada kata – kata bentukan ini tentu saja “di” di sini berperan sebagai awalan. Oleh karena berperan sebagai awalan, maka seharusnya penulisan kata “di” disambung dengan kata yang mengikutinya. Dengan demikian yang benar adalah “dibanding”, “ditulis”, atau “dibaca”. Sedangkan untuk “di” yang berlaku sebagai kata depan penulisan yang benar adalah dipisah. Dengan demikian “di sini”, “di sana”, “di belakang”, “di depan” adalah contoh – contoh penulisan yang benar.

Kesalahan (atau bisa dikatakan kekurangtepatan) penulisan yang lain misalnya satu paragraf yang hanya terdiri dari satu kalimat. Tidak jarang kalimat tersebut sedemikian panjang sehingga mengaburkan maksud dan mempersulit pemahaman. Sebagai contoh untuk kasus ini saya cuplikkan satu paragraf dalam salah satu buku TA mahasiswa, seperti kalimat sekaligus paragraf ini “Lembaga Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja (LSSTK) berfungsi mengembangkan standar tenaga kerja, standar latihan kerja dan perangkat pendukungnya serta mengembangkan materi uji keterampilan/kompetensi guna proses sertifikasi tenaga kerja pada sektor bersangkutan melalui proses uji keterampilan.

Paragraf adalah sekumpulan kalimat yang menjelaskan arti/maksud yang sama. Satu paragraf seharusnya paling tidak terdiri dari satu kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas. Khusus untuk contoh paragraf di atas, misalnya, yang bermaksud menjelaskankan mengenai LSSTK.  Selain menjelaskan fungsi – seperti yang sudah dtuliskan-, bisa dijelaskan mengenai misalnya kapan dibentuk, oleh siapa dibentuk,  mengapa dibentuk, dan kemudian baru menjelaskan fungsi.

Buku Tugas Akhir adalah karya ilmiah yang seharusnya ditulis dengan bahasa baku. Oleh karena itu sebaiknya tata cara penulisannya pun mengikuti kaidah – kaidah Bahasa Indonesia yang baku. Tidak mudah memang untuk melakukannya. Salah satu sebab adalah karena kita tidak terbiasa untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari – hari. Bahkan janggal terdengar jika kita menggunakan bahasa baku dalam berkomunikasi informal / percakapan sehari – hari. Tetapi sayanynya, kita pun tidak terbiasa untuk menggunakan kaidah baku Bahasa Indonesia dalam kegiatan belajar mengajar. Seharusnya kebiasaan penggunaan kaidah bahasa yang baku ini dimulai sedini mungkin saat – untuk kasus di Perguran Tinggi- mahasiswa pertama kali mengerjakan tugas tertulis. Peran dosen pengampu tentu sangat diharapkan untuk membantu membiasakan penggunaan bahasa baku ini. Tahap selanjutnya saat penyusunan Tugas Akhir, tugas dosen pembimbing dan tentu saja mahasiswa pengambil tugas akhir menjadi lebih ringan dalam menjaga “kekayaan kita” tersebut.

Bahasa Indonesia (baku) adalah kekayaan kita bersama. Siapa yang patut diharapkan untuk menjaganya jika bukan kita ? Jika kalangan terdidik di lingkungan perguruan tinggi saja tidak mampu menjaga, bagaiamana mungkin kita mengharapkan kalangan yang lain?

Wallauhalam bissawab

Syukuran pelaksanaan acara Bedah Buku Prodi Teknik Informatika FASILKOM UMB Mei 24, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Yang di seputar Mercu Buana.
add a comment

Acara Bedah Buku Prodi Teknik Informatika UMB Semester Genap Tahun ini telah dilaksanakan dengan hasil yang cukup baik. Kerja keras panitia yang terdiri dari Dosen dan Mahasiswa setidaknya telah memberikan kontribusi bagi perkembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan khususnya bidang Informatika di lingkungan UMB. Ringkasan dan laporan pelaksanaan acara akan disusulkan kemudian.

Sekedar untuk mensyukuri dan merayakan hasil kerja keras tersebut, dosen dan panitia Prodi Teknik Informatika mengadakan kumpul bersama dalam acara makan siang bersama di Mall Puri Jakarta Barat. Berikut sebagian gambar – gambar dari acara syukuran tersebut.

Sebulan di Mercubuana, dari pameran bathik, sepakbola sampai dengan e-Learning Mei 20, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang di seputar Mercu Buana.
add a comment

Hampir sebulan saya “ngamen” di Mercubuana http://www.mercubuana.ac.id. Meski baru sebulan rasanya banyak yang saya pelajari dan alami. Pertama tentu saja adalah suasana “masa” lalu ketika masa – masa mahasiswa. Memang benar sebelumnya saya sempat mengajar di mana – mana. Setidaknya STT Telkom, STT Mandala Bandung, ITA Bandung STMIK Bandung, dan ITB sendiri (di sini saya hanyalah sebagai asisten dosen) adalah perguruan tinggi – perguruan tinggi tempat saya mengajar. Belum lagi les privat yang juga pernah saya lakoni semenjak semester ½ (awal bulan ke tiga di Bandung, saya mengajar murid privat pertama) sampai dengan saya bekerja. Bahkan adik dari murid pertama saya ini juga menjadi murid privat saya setelah saya lulus S1. Tetapi di banyak institusi itu, saya hanyalah dosen cabutan yang datang jika mengajar dan pergi saat mengajar selesai. Bukannya tidak menikmati, tetapi ketidakberdayaan saya menjaga idealisme mengakibatkan saya lebih banyak berjualan dan mroyek daripda menikmati lingkungan dan aura kampus misalnya.

Sekarang kondisinya berbeda. Di UMB saya –belajar- mengalami benar – benar menjadi dosen. Meskipun terbatas sesuai dengan kemampuan yang ada, saya dilibatkan dalam penelitian dan pengabdian masyarakat, tidak hanya sebatas pengajaran. Maka mau tidak mau saya harus mengerti dengan istilah – istilah, misalnya BORANG, AKREDITASI, RAPID, dll. Dari hal sosialisai dan interaksi dengan anggota komunitas yang lain, juga lebih terasa. UMB adalah institusi yang berbentuk universitas dengan demikian jurusan dan otomatis orang – orangnya lebih divergen dari pada ITB atau sekolah teknik yang lain. Saya belajar dan mengalami interaksi dengan dosen – dosen dari jurusan lain, ekonomi, psikologi. Meskipun hanya terbatas di lapangan bulutangkis.

Saya lihat kegiatan kemahasiswaan juga cukup aktif. Kebetulan ruanga saya di belakang dekat dengan selasar (ruang terbuka tetapi beratap) yang biasanya dijadikan tempat mahasiswa berbagai jurusan dan unit mengadakan kegiatan – kegiatan. Sebulan saya di sana, hampir setiap minggu selalu saja ada kegiatan. Mulai dari Pameran Akbar Teknik Informatika (mahasiswa menyebutnya PARTI) dari himpunan informatika, bursa dan pameran modifikasi motor dari mahasiswa mesin, atau bahkan work shop dan pameran batik. Atau jikapun tidak ada kegiatan di situ, selalu saja ada banyak mahiswa yang nongkrong. Enak dijadikan tempat diskusi atauh sekedar nongkrong, karena disitu dilengkapi meja – meja dan dipan sehingga mudah untuk menyimpan dan menempatkan note book, tas, buku – buku. Ditambah lagi fasilitas hot spot, menjadikan betah untuk berlama – lama sekedar berselancar di dunia maya.

Suasana umum lingkungan kampus cukup memadai untuk belajar. Kampus tidak terletak di tengah kota sehingga terhindar dari kebisingan, namun juga mudah diakses (bagi saya lebih mudah dan murah ke UMB dari pada ke area Sudirman di pagi hari, hari kerja). Fasilitas pengajaran juga bagus. Paling tidak setiap ruang kelas dilengkapi AC, LCD proyektor, PC. Tidak seperti dulu tentu saja, sewaktu kuliah di S1 ITB dosen masih menggunakan kapur tulis, ruang kelas dilengkapi white board dan spidol marker. Fasilitas kemahasiswaan pun rasanya mencukupi. Mahasiswa dapat melakukan aktifitas olah raga mulai bela diri sampai dengan Basket, Volly, Sepak Bola. Semua tersedia di area Kampus Meruya.

Pengajaran pun dilakukan dengan dua model. Model off line dan online (e-Learning). Kebetulan saya diserahi tugas untuk menggantikan (meneruskan) pengajaran online ini. Karena dosen terdahulu tidak dapat lagi mengampu, maka harus ada yang menggantikan. Prodi menunjuk saya. Jadi saya sekarang mengajar dengan metoda e-Learning. Pengalaman baru lagi buat saya. Dengan demikian, bagi mahasiswa yang mengikuti perkulian saya diharapkan maklum dikarenakan ini pengalaman pertam saya. Tetapi Insyallah saya akan berusaha sebaik mungkin sebisa saya. Selamat belajar online …:)

Satu yang patut disayangkan (versi saya sampai dengan saat ini) mengenai suasana dan lingkungan internal kampus adalah peraturan ”dilarang merokok” yang kurang diindahkan terutama oleh Mahasiswa. Di berbagai tempat dalam kampus dipasang papan pengumuman AREA BEBAS ROKOK dan tempat merokok disediakan hanya di kantin pojok bawah. Tetapi yang saya lihat adalah – terutama – mahasiswa terlihat gampang sekali melanggar aturan itu. Apalagi jika tidak ada patroli ”dosen”. Saya sendiri belum bisa menghilangkan kebiasaan merokok, tapi setidaknya saya harus mematuhi aturan itu.

Belum banyak pasti apa yang saya dapatkan, rasakan apalagi mampu saya perankan dalam sebulan saya bergabung dalam komunitas Mercu Buana. Tetapi setidaknya itu menambah pelajaran dan pengalaman pribadi saya. Juga kesenangan tentu saja. Mimpi saya dan pengandaian saya selama ini setelah lapangan bola di tengah ITB digusur adalah seandainya saya TNI / POLRI, atau PNS apapun lah yang punya komplek dengan fasilitas lapangan bola, saya akan sangat senang sekali pasti. Sebab saya bisa mengalami bermain bola, tidak hanya penggemar Barca dan Inter saja. InsyaAllah sekarang kesampaian. Sudah ada dosen yang ngajak saya main bola di Kampus. Alhamdullillah, ini anugerah yang harus saya syukuri. Bagi saya tidak harus anggota TNI/POLRI untuk bisa bermain bola.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.