jump to navigation

Candi Gedong Songo [Jika ilmu Jin dan Manusia di muka bumi dikumpulkan, nilainya hanya sebatas sisa basahan di jari telunjuk yang dicelupkan ke samudra] Februari 22, 2013

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
add a comment

118_2387Di sela – sela temu kangen dengan teman – teman SMA (yang ceritanya seru dan terkadang saru , tetapi lebih tepat kami nikmati sendiri) EO kami mengarahkan kunjungan wisata sejarah ke Candi Gedong Songo. Candi, semua kita tahu kurang lebih adalah bangunan kuno yang terbuat dari batu. Songo adalah dalam bahasa Jawa untuk angka sembilan. Jadi artinya menurut bahasa Candi Songo berarti candi sembilan. Atau mungkin sembilan Candi. Tetapi kenyataannya di sana hanya terdapat lima group Candi. Beberapa candi hanya tersisa reruntuhan batu yang berkelompok.
Terletak di ketinggian Gunung Unggaran di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Semarang, Candi Songo meninggalkan jejak keunggulan rekayasa bangunan leluhur kita (orang Jawa mungkin) di masa lalu. Bukan hanya bangunannya yang menyiratkan keunggulan rekayasanya, tetapi juga tempatnya yang di atas bukit merupakan tantangan tersendiri. Rasanya dari sisi tempat, Borobudur dan Prambanan lebih landai dengan demikian lebih mudah dicapai. Beda dengan Candi Songo yang terletak di atas perbukitan. Untuk sampai lokasi, dari Semarang menuju Unggaran kemudian naik ke Kecamatan Bandungan, jalan yang dilalui berkelok dan menanjak. Sampai di lokasi Gerbang Candi untuk sampai ke lokasi Candi Pertama yang paling rendah, berjalan kaki bagi kebanyakn orang usia kepala empat masih bisa. Tetapi menuju candi ke dua, sudah mulai membuat lelah. Candi ke tiga melihat tanjakkanya saja sudah capek lebih dulu, bagi kebanyakan orang yang biasa tinggal di Kota.

 

Papan Informasi Lokasi Administratif, Geografis dan Elevasi

Papan Informasi Lokasi Administratif, Geografis dan Elevasi

Sebagai peninggalan sejarah, tidak banyak informasi yang bisa didapatkan dari Candi Songo ini. Di papan informasi hanya tertulis lokasi administrastif, lokasi geografis dan elevasi saja. Tidak ada informasi mengenai Candi Songo, seperti Boro Budur misalnya yang sudah sampai pada perkiraan tahun dibuat, oleh dinasit Syailendra (?), dll. Dengan demikian, jadinya jika kita wisata ke Candi Songo “hanya” akan mendapatkan udara segar, pemandangan yang indah, pengalaman naik kuda, dan foto – foto . Memang, benar kata Kalam Allah, jangankan ilmu ghaib, ilmu nyata seperti Candi Songo ini saja kita belum tahu apa – apa. Andaikan Ilmu Allah itu seluas lautan samudra di bumi, maka ilmu yang ada pada kita itu sebatas sisa basahan (bukan air lagi) yang menempel di jari telunjuk kita setelah dicelupkan.
Sebagai tempat wisata melepas lelah, menyegarkan badan dan pikiran, bersenang – senang, rasanya cukup menarik. Untuk informasi lengkap dan akses ke sana, silakan tengok http://seputarsemarang.com/candi-gedong-songo-7342/

 

Kawah Sulfatara

Kawah Sulfatara

 

118_2381

118_2377

Papan Informasi Tarif Naik Kuda

Papan Informasi Tarif Naik Kuda

 

Stasiun Madiun 11 Januari 2013 nyaman, sayang gerbong kereta (saya) sangat tidak nyaman. Januari 15, 2013

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
add a comment

Tepat tiga tahun sudah saya terakhir kali mengunjungi stasiun Madiun. Banyak perubahan positif saya rasakan. Turun dari kereta lantai bersih mengkilap, toilet gratis cukup bersih, musholla bersih berpendingin.  Juga ada fasilitas charging HP gratis, pemisahan area merokok dan bebas asap rokok. Beberapa foto sempat saya ambil menggunakan tab seperti di bawah.Hanya sayang perjalanan saya menggunakan KA Api Ekspress Malam Bima terasa sangat terganggu. Pintu gerbong tempat saya berada tidak bisa menutup dengan baik, bahkan selalu membuka secara otomatis karena engselnya sudah rusah. Parahnya lagi saya mendapatkan tempat duduk tunggal paling dekat dengan pintu itu. Jadilah saya sibuk mengurusi pintu itu dan sangat sulit untuk sekedara istirahat memejamkan mata karena harus berkali – kali bangun dan juga akibat suara berisik luar biasa dari sambungan antar gerbong.  Celakanya pula, gerbong tempat duduk saya pas di belakang gerbong pembangkit

Stasiun Madiun, Lantai Bersih Mengkilap

Lantai bersih mengkilap

 

Toilet Cukup Bersih

Toilet Cukup Bersih

 

Musholla, Bersih, dingin

Musholla, Bersih, dingin

 

 

Charge gratis

Charge gratis

 

Area Bebas Asap Rokok

Area Bebas Asap Rokok

Gerbong KA Eksekutif Gajayana

Gerbong KA Eksekutif Gajayana

 

Putrajaya, Malaysia 2012 Juni 13, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
add a comment

Tidak banyak saya berkunjung keluar Negeri selama ini. Kali ini kunjungan saya ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk mengikuti konverensi dan presentasi di ajang ICCIS2012. Sebelum sampai pada jadwal seminar saya sempatkan jalan – jalan menyusuri sebagian negara Malaysia. Beruntung saya punya teman yang sudah lama menetap di Malaysia dan dia bersedia menjadi tourist guide bagi kami (saya dan istri saya).  Turun dari pesawat, saya merasakan bahwa Negara serumpun kita ini memang jauh lebih maju daripada kita. Bandara Kuala Lumpur Air Port  terasa lebih luas dan juga lebih bersih dan lebih modern daripada Bandara Soekarno Hatta. Mode transportasi di dalam Bandara bukan hanya Bus seperti di Soekarnao Hatta tetapi juga sudah menggenakan kereta ringan untuk mengantar jemput dari satu gate ke gate yang lain. Kam sendiri sempat kebingungan ketika akan mengambail barang bawaan di bagasi. Mencoba mengikuti arah “Bagage Claim” ternyata berujung kepada “stasiun kereta ringan”. Untuk mengambil bagasi dan pemeriksaan imigrasi, diperlukan untuk naik kereta ringan ini barang 3- 5 menit perjalanan.

Keluar dari Bandara, kami tidak langsung ke hotel tetapi dibawa mampir – mampir dulu ke Putrajaya. Ini adalah kota baru pusat pemerintahan Kerajaan Malaysia. Maka di sinilah hampir semua lembaga dan kementeriaan kerajaan berkantor. Lanskape dan bangunanan gagasan dan peninggalan Perdana Menteri Mahathir ini memang mengagumkan. Setiap bangunan kantor kementerian / lembaga kerajaan mempunyai bentuk dan arsitektur yang khas.  Di area Putra Jaya ada danau buatan, jembatan yang dibuat melintasi danau. Jalanan terasa sangat lega dan teratur. Banyak daerah terbuka hijau. Saya membayangkan, kalau ini di sekitar Jakara, pasti tidak sesepi ini bahkan akan sangat ramai. Karena pasti banyak pengunjung dan otomatis para pedagang. Tetapi di sini sangat sepi untuk daerah senyaman dan semegah ini. Kalau di Jakarta, jalanan ini mungkin sudah digunakan untuk bermain bola oleh anak – anak. Beberapa gambar yang saya ambil saya upload di bawah ini. Tidak perlu penjelasan lebih lanjut untuk mendeskripsikannya :)

Gerbang Putra Jaya

Gerbang Putra Jaya

Danau Buatan dari Atas Jembatan Buatan

Danau Buatan dari Atas Jembatan Buatan

Gedung Istana Kehakiman

Gedung Istana Kehakiman

 

4. Taman di tengah Jalanan Yang Lebar dan Lengang

4. Taman di tengah Jalanan Yang Lebar dan Lengang

 

5. Transportasi umum BAS yang datang pergi secara periodik dengan presisi tinggi-)

5. Transportasi umum BAS yang datang pergi secara periodik dengan presisi tinggi-)

 

6. Gedung Jabatan Kastam Diraja Maylsia [Di Kampung, Kastam nama Paman Saya]

6. Gedung Jabatan Kastam Diraja Maylsia [Di Kampung, Kastam nama Paman Saya]

6. Gedung Kementerian Kewangan

6. Gedung Kementerian Kewangan

 

7. Di Kejauhan itu adalah Gedung Pusat Pemerintahan Perdana Menteri

7. Di Kejauhan itu adalah Gedung Pusat Pemerintahan Perdana Menteri

8. Masjid Putra Jaya yang Megah

8. Masjid Putra Jaya yang Megah

Memikirkan stand up comedy.. Maret 27, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
add a comment

Jam biologi saya bekerja dini hari ini, terbangun dan sulit terpejam lagi. Pikiran melayang ke mana – mana. Rasanya alami untuk semua orang masih membawa sifat kodrati masa kecil yang selalu ingin menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Setelah memikirkan apa – apa dan kemana – mana, saya mebayangkan berdiri di panggung stand up comedy.  Tentu saja saya mempunyai riwayat untuk itu. Saya dulu waktu sekolah di Bandung adalah termasuk pemain, sutradara, dan penata tari setidaknya, untuk Ludruk ITB.  Yang kedua, semua guyonan di TV terutama, sekarang ini menurut saya tidak ada yang bermutu. Hanya stand up comedy saja yg layak untuk ditonton.

Jadi komedian (pelawak?) di Indonesia memang susah. Harus mempunyai trade mark sendiri. Dan trade mark itu kalau bisa sangat gampang dikenali, membuat orang (men)tertawa(kan) tanpa perlu mereka berfikir. Trade mark itu misalnya wajah atau fisik yang lucu (jelek ?). Jadi di urusan trade mark ini wajah orang pas – pas an seperti saya, tidak berlaku.  Dan memang dunia hiburan di Indonesia hanya dikuasi oleh dua kelas manusia ‘atas bawah’ itu. Manusia dengan penampilan kelas atas jadi pemain sinetron, bintang iklan, atau bintang film. Manusia dengan penampilan kelas bawah jadi bintang lawak, bintang komedi, bisa juga bintang sinetron, bintang iklan, atau bintang film tapi tetap (dipaksa) lucu.

Ada yang mengerti nggak apa yang saya katakan tadi ? Ya sudah kalau semua pada diam, kuliah selesai, absen, pulang aja kalian. Begitulah gaya saya kalau lagi ngajar di depan kelas. Sebagai dosen saya biasa bicara ngomong di kelas, tapi memang sudah jarang bicara di panggung seperti ludruk ITB dulu. Tapi enak sekarang jadi dosen. Kenapa ? Karena ditakuti oleh orang yang paling ditakuti Presiden. Mahasiswa itu ditakuti sama Presiden lo. Karena rumus yang umum dihapal dan dikenal di kalangan dunia kampus dari jaman saya kuliah sarjana dulu, Presiden masih Pak Harto, sampai sekarang adalah mahasiswa akan bilang begini “Ah jangan takut sama dosen, dosen takut sama dekannya, dekan takut sama rektornya, rektor takut sama presiden, presiden takut sama mahasiswa”. Tapi tetap saja Mahasiswa takut sama dosen. Kalau tidak, mengapa mereka menyebut dosen Killer?? Tapi..ya itulah lingkaran ketakutan yang tak habis – habisnya di Indonesia. Dan sekarang mungkin masih berlaku..Ketika mahasiswa –baru dikabarkan- turun ke Jalan, Presiden sudah jalan – jalan ke luar negeri itu.

Saya berpikir, kira – kira kata apa yang paling diingat oleh orang Indonesia saat ini, eh orang Jakarta saja lah. Karena terlalu luas batasan masalah nya (ini efek dari kasih bimbingan mahasiswa TA kemarin) jika harus Indonesia. Kata – kata yang paling diingat itu rasanya adalah “BBM”,  “Subisidi”, “Anggaran”,”Tolak”. Kata korupsi mungkin sudah tidak diingat lagi. Pertama karena kalah pamor dengan BBM, yang kedua kalau BBM naik nggak apa-apa, masih bisa SMS an (Lah nggak nyambung ya ?).  Begini maksud saya, biarin saja lah orang Korupsi. Loh kok….La iya UU TIPIKOR sudah diberlakukan dengan hukum yang harusnya berat, KPK sudah bekerja maksimal, toh sama hakim dibebasin juga. Buat apa usaha keras2, ngabisin duwit banyak2, kalau hasilnya sudah jelas tergambar? Toh nanti kalau sudah tidak bisa korupsi paling makan sandal. Sengsara to? Duwitnya banyak yang dimakan sendal jepit? Pelajaran lain bagi para koruptor, kalau mau korupsi sendiri saja, jangan sama istri. Kalau ketangkepnya bareng mungkin enak, tapi kalau ketangkepnya terpisah apalagi istri belum tertangkap, sengsaranya bukan main. Karena tidak bersama mamah sehingga tidak bisa menikmati mamah, sekarang terkena penyakit mah jadinya khan ? Oh ya kabar baik juga buat para koruptor, katanya Menkumham akan membuat ruang biologis di Rutan. Nggak tahu sekarang sampai mana statusnya. Jadi para koruptor sekali – kali jangan korupsi bareng – bareng istri atau suami anda.  Repot kalau anda tertangkap sementara pasangan anda kabur, tidak bisa menikmati ruangan itu to?  Tapi ngomong  – ngomong, sebenarnya paragraf ini tidak ada isinya sama sekali, jadi kasian anda yang baca / denger andaikata.

SINAPTIKA 2012 Maret 26, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang di seputar Mercu Buana, Yang Kami Kerjakan, Yang Sayang Dilupakan.
add a comment

Bagi anda praktisi, peneliti, maupu pemerhati Teknologi Informasi dan Komunikasi, kami Panitia SINAPTIKA 2012 Univ Mercu Buana, mengundang untuk berpartisipasi dalam Call  for paper. Info lengkap milakan diacu di sini http://sinaptika.mercubuana.ac.id/

Melawan GBS November 7, 2011

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.
3 comments
Gamaraas itu

Gamaraas itu

Apa yg bisa dilakukan saat Allah mempercayakan penyakit langka seperti GBS kepada kita selain berusaha melawan penyakit itu dengan sgala pengorbanan dan daya upaya yang kita bisa. Itulah yg coba kami lakukan, saya, istri dan anak2 ketika si bungsu terpilih untuk menyandang penyakit itu.

Sekitar lebih dri 3 minggu yang lalu anak saya mengeluh pusing dan dada sesak. Kemudian dibawa ke klinik dekat rumah seperti biasa. Seminggu setelahnya, keluhan bertambah mata dirasa sakit saat melirik. Betis dan lengan mulai sakit, napas sesekali sesak. Kembali dibawa ke klinik. Dokter langganan kami menyarankan agar kami ke dokter  spesialis anak. Selasa tiga minggu yg lalu kami bawa dia ke dokter spesialis anak. Didiagnosa semua organ dalamnya baik baik saja. Kecurigaan dokter waktu itu, anak kami kekurangan kalsium di tulang yang mengakibatkan rasa nyeri di otot2nya. Diberilah dia obat asupan kalsium. Porsi susu dan makanan berkalsium juga harus ditambah. Tiga hari berikutnya, keluhan tadak berkurang malah bertambah. Dia mengeluh, mengangkat tangan untuk mengenakan bajupun tak bisa. Apalagi mengancingkan baju. Pekerjaan sesepele itu bisa membuatnya menderita karena sakit di ujung jari jika menekan kancing baju hanya untuk memasukkannya. Saya mulai curiga, ada yang tidak beres dengan anak saya. Dia masih sekolah seperti biasa. Tetapi tidak kuat mengangkat tas sekolahnya untuk digendong. Berat badan menurun drastis. Cara berjalan sudah jauh dari normal. Bangun dari duduk mengalami kesulitan karena sakit. Wajar kalau dia sama sekali sudah tidak mau shalat. Allah, waktu itu kami masih belum ngeh dia menderita sakit parah.  Kami masih saja memaksa dia untuk makan dan mengambil makanan sendiri ke lantai bawah. Kami masih menganggap dia pegel biasa saja, setelah ikut ekstra kurikuler main sepakbola beberapa hari sebelumnya. Toh akhirnya dia tetep tidak mau makan dan pada akhirnya, saya mengambilkan makan dan menyuapinya.

Kami masih menunggu jadwal konsultansi dengan dokternya pada hari selasa berikutnya. Selasa minggu minggu lalu, kembali kami membawanya ke dokter spesialis anak di RS Harapan Bunda, Pasar Rebo. Dokter sudah mulai curiga, mungkin penyakitnya minsemnia(?), tapi harus dipastikan pemeriksaannya dengan EMG. Di RS Harapan Bunda, tidak ada alat dan dokter yg bisa memeriksa EMG itu. Maka dirujuklah ke RS Pondok Indah. Dokter minta sesegara mungkin. Maka malam itu juga kami ke RS Pondok Indah. Dari hasil pmeriksaan, anak saya terkena GBS. Dari keterangan dan cara dokter menjelaskan, penyakit ini berat, langka dan biayanya sangat mahal. Saya dan istri masih mencoba tenang saat itu. Saya sendiri sudah menyiapkan mental untuk menerima ini. Karena dari awal saya sudah melihat keanehan penyakit anak saya. Berkali2 dokter menyarankan harus sgera diambil tindakan, kalau perlu malam itu juga masuk perawatan. Dan kalau tidak, malam ini sama sekali tdak boleh ditinggal. Begitu terlhat agak sulit brnapas harus segera ke IGD.
Kami masih tenang. Karena melihat kondisi anak kami, dan karena kami belum tahu sama sekali apa itu GBS. Keluar dri rumah sakit, di perjalanan pulang istri browsing internet. Dia mulai membacakan apa yang diperolehnya. Beberapa referensi di dapatnya :

http://perawattegal.wordpress.com/2011/08/07/mengenal-lebih-dekat-penyakit-gbs/, http://news.okezone.com/read/2011/08/01/338/486719/gbs-penyakit-mematikan-yang-diawali-kesemutan

Dalam hati dan pikiran saya mulai stress saat mendengarnya sambil menyetir. Tetapi saya masih mencoba tenang. Setidkanya anak saya masih sadara dan masih bisa melakukan aktivitas normal meskipun – mungkin – dengan penuh penderitaan.

Alhmadullillah, malam itu kami lewati tanpa ada kejadian yang mengkhawatirkan. Saya hanya bisa tawakkal dan pasrah. Rabu pagi kami ke Rumah Sakit Harapan Bunda, anak saya harus masuk perawatan. Meski dia berusaha menunjukkan kekuatannya. Dia tidak mau dirawat sama sekali dan merasa biasa – biasa saja.

Pukul 10 an setelah selesai urusan administrasi rawat inap dan anak kami masuk kamar perawatan, kami mendapatkan resep. Saya tidak tahu sama sekali apa yang harus dibeli. Siapa orang awam yang bisa membaca apalagi mengartikan tulisan tangan dokter di resep? Suster bilang obat ada di apotik lantai 2, ternyata tidak ada. Di apotik lantai satu, juga tidak ada. Apotik terdekat di RS tidak ada. Sampai tidak kurang 8 apotik umum dan 3 apotik RS saya datangi, tidak ditemukan. Baru saya temukan  di apotik Kimia Farma RSCM jam 4 sore. Ternya yang harus dibeli adalah alat injeksi untuk mengambil cairan sumsum tulang belakang. Dokter RS Harapan Bunda masih perlu memastikan bahwa benar penyakitnya adalah GBS. Sebab hari itu juga ada petugas dari Dinas Kesehatan yang memeriksa anak saya. Dia juga belum yakin itu GBS. Sebab melihat gejala fisiknya, bukan GBS. Saya baru tahu, jika terkena GBS lebih dari seminggu umumnya sudah lumpuh sama sekali. Teapi anak saya masih bisa mengangkat kaki tangan sambil tidur meski disertai gemetaran dan kesakitan. Jadi mungkin polio dan kalau polio perlu didata oleh Dinas Kesehatan.

Ternyata dokter tidak berhasil mengambil cairan sumsum tulang belakang anak saya meski telah ditusuk 8 tusukan di punggung bagian tulang belakangnya. Jadinya dokter hanya mempertimbangkakn hasil pemeriksaan EMG dan konsultansi dengan dokter RSCM untuk memastikan bahwa anak saya GBS. Dengan demikan harus diambil tindakan segera. Maka diputuskan anak saya harus diasupi Immuglobine, belakangan saya tahu (salah satu?) nama merek obat itu adalah Gamaraas. Penderita GBS harus diasupi obat ini lima hari berturut – turut.  Satuan yang diasup tergantung berat badan. Untuk anak saya waktu itu berat badannya 26 – 27 KG. Baginya diperlukan 4 botol sehari.

Maka setiap hari pekerjaan saya adalah memburu obat itu. Karena penyakitnya langka, maka obatnya juga sangat jarang, selain mahal tentu saja. Wajar dari berita – berita, untuk merawat dan mengobati penyakit sejenis GBS ini bilangannya puluhan bahkan ratusan juta.  Beruntung Rabu itu Harapan Bunda ada stock Gamaras 4 botol. Hari ke dua stok sudah tidak ada, maka saya mengulang lagi berburu Gamaras ini. Bahkan di Apotik RSCM pun tidak ada. Petugas bilang bisa pesan datang esok harinya, dan perlu dibayar kontan hari itu. Saya tidak peduli, yang penting untuk konsumsi besuk harus ada. Saya bayar senilai Rp. 2.750.000/botol untuk 4 botol. Tentu saja saya masih stress memikirkan untuk hari itu bagaimana? Jika di RSCM saja tidak ada? Syukur Alhamdullillah di apotik Titi Murni Kramat Raya, obat itu ada meski harganya lebih “mahal”.  Aman untuk hari ini.

Hari Jum’at apotik RSCM membuat saya stress. Baru 24 jam kemudian – setelah saya membayar kontan lunas sesuai harga  meski barang baru mau akan dipesan – memberi tahu obat belum dipesan karena harga sudah naik 10 %. Yang diinformasikan ke saya kemarin adalah harga lama. Ini gila saya pikir, kesehatan orang dibuat mainan begini. Buat kami harga sangat bermasalah. Kalau bilangan harganya ratusan ribu mungkin tidak seberapa. Tapi ini jutaan dan jumlahnya tidak sedikit. Lebih gila lagi obat belum tentu ada, padahal asupan untuk anak saya tidak boleh jeda. Baru kali itu saya marah – marah dan memaki – maki ibu – ibu itu. Maaf Bu, toh saya sudah minta maaf juga.  Dalam kepanikan saya langsung ke Titi Murni, beruntung di Titi Murni bisa dipastikan barang bisa dipesan dan saya bisa menunggu. Kalau tidak, saya tidak tahu mesti bagaimana. Siangnya baru kemudian apotik RSCM menghubungi lagi dan bersedia menanggung kenaikan harga secara bersama. Saya menanggung 50%, apotik menanggung 50% nya. Ya sudahlah, apa boleh buat. Adakah pillihan yang lebih baik buat kita yang mengalami nasib seperti ini? Tetapi tetap Apotik Kimia Farma RSCM tu tidak menepati janji. Hari itu ternyata barang juga ga bisa datang. Baru keesokan harinya mungkin datang. Saya hanya pasrah. Tetapi untungnya saya sudah melihat gelagat tidak baik dari apotik RSCM. Untuk hri itu, sebelum saya dihubungi apotik RSCM saya sudah pesan di Titi Murni kembali.  Jadi hari itu saya sudah tidak peduli dengan obat dari apotik RSCM itu.

Hari ini asupan Gamaraas untuk anak saya sudah selesai semalam. Alhamdullillah kondisinya sudah semakin membaik. Semua pegal – pegal sudah tidak dirasakannya lagi. Lengan dan kakinya sudah tidak sakit saat ditekan. Makannya juga normal. InsyaAllah Rabu ini sudah bisa pulang, mudah – mudahan.

 

Sepanjang Jalan Kota Kalabahi – Alor Kecil Juli 15, 2011

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
6 comments
Pantai Alor kecil

Pantai Alor kecil

Bagi wisatawan manca negara, terutama Australia, konon kabarnya Alor Kecil merupakan kampung yang wajib dikunjungi. Pantainya yang tenang dengan pesona bawah laut yang mengundang selera, merupakan magnet dengan daya yang luar biasa bagi mereka. Paling tidak itulah yang saya dengar dari pemilik penginapan (aduh saya lupa nanya nama beliau) tempat saya menginap di sisi seberang Pelabuhan Laut yang dikelola PT. Pelindo Kalabahi. Kalau saya tertarik ke sana, bukan karena urusan diving, tidak ada waktu. Tepatnya belum memungkinkan untuk itu. Tetapi bagi saya tempat baru selalu menarik, entah karena indah atau lebih menarik kalau tempat itu punya cerita.  Begitulah selesai dengan urusan pekerjaan setelah nanyan – nanya dan banyak mendengar dari Ibu pemilik penginapan saya menyempatkan diri ke Alor Kecil.

Pohon besar pinggir jalan

Pohon besar pinggir jalan

Tidak banyak alat transportasi yang melewati Alor Kecil dari Kalabahi. Ojek adalah pilihan tepat untuk saat ini. Atas rekomendasi ibu penginapan saya menggunakan ojek Danken, nama pemilik motor ojek yang masih famili ibu penginapan ini. Kak Danken ini sangat baik. Apa mau saya diturutinya. Kapanpun saya mau turun dan istirahat sebentar untuk sekedar mengabadikan anugarah Illahi bagi Pulau Alor ini, dia selalu menurut. Sekali waktu ada yang menarik bagi saya, Oma – oma sedang membuat gerabah. Tempat oma ini sudah jauh di belakang, Kak Danken tidak keberatan untuk putar balik dan mengantar saya kembali sekedar untuk ngobrol – ngobrol dengan oma – oma itu.

Pulau Sepa, tempat para turis menginap untuk menyelam

Pulau Sepa, tempat para turis menginap untuk menyelam

Pantai di sisi selatan Pulau Alor, tepat di pinggir Kalabahi – Alor Kecil memang indah. Airnya jermih dengan ombak yang tenang. Tidak heran, pantai ini merupakan selat Alor yang “dijaga” oleh deretan pulau – pulau. Antara lain pulau Kura, Pulau Sepa, Pulau Pantar. Ketiganya masih termasuk Kabupaten Alor. Deretan pulau ini menjaga selat alor dari terjangan laut selatan. Sehingga pantainya sangat – sangat tenang. Tidak heran selain menjadi sumber nelayan mencari hasil laut, selat ini menjadi alat transportasi yang nyaman. Mulai dari kapal besar Jalur Kalabahi – Surabaya, Makasser:, Kapal sedang jalur Kalabahi – Kupang, juga kapal – kapal kecil yang dioperasikan penduduk setempat melayani Kalabahi Pantar, atau Kalabahi Sepa.

Ngayunake Benawi Mungkurake Redi (Menghadap perairan memunggungi pegunungan)

Ngayunake Benawi Mungkurake Redi (Menghadap perairan memunggungi pegunungan)

Sepanjang jalan Kalabahi – Alor Kecil….Tuhan benar – benar menciptakan negeri ini dengan “Ngayunake  benawi, ngiringake pesabinan, nengenake pategalan, ngungkurake pegunungan. Negari ingkang toto titi tentrem, gemah ripah loh jinawi. Ora kekurangan mas picis rojo brono…”, seperti cerita Ki Narto Sabdo yang selalu saya nikmati. Paling tidak memangku pantai dan memunggungi pegunungan itulah yang saya lihat. Sisi kiri merupakan pantai yang membiru atau menggelap mengikuti warna langit. Dengan latar belakang deretan pulau kura, pantar, sepa. Sisi kanan adalah perumahan penduduk dengan berbagai stratat ekonomi dengan latar belakang perbukitan campuran cadas dan karang. Deretan sekolah dasar negeri, swasta, maupun bantuan Pemerintah Jerman menyelingi perjalanan.

Teman teman baru murid perguruan muhammadiyah alor

Teman teman baru murid perguruan muhammadiyah alor

Penduduk – kebanyakn yang saya temui asli – NTT sangat sangat ramah. Dengan suka cita mereka bisa diajak ngobrol dan suka memberi pencerahan bagi pendatang. Terlepas apapun latar belakang agamanya. Saya sebut demikian karena tidak seperti kebanyakan di tempat lain, di Alor komposisi penduduk dengan perbedaan keyakinan cukup berimbang. Kak Danken kelihatannya orang Nasrani, tetapi dengan sabar menunggui saya yang melakukan shalat di salah satu masjid yang dikelola Muhammadiyah di ruas jalan Kalabahi – Alor Kecil.

Jika melihat demografi dari sisi keyakinan dari pengamatan saya dan juga penjelasana Ahmad (anak asli Alor yang kuliah di UnMuh Makassar, akan saya ceritakan juga mengenai teman – teman baru saya ini), terlihat bahwa kebanyakan penduduk Nasrani berdiam di daerah perbukitan sisi kanan jalan yang lebih jauh dari pesisir pantai. Sementara di sisi yang lebih dekat ke pantai kebanyakan mereka muslim. Dari Bandara Kecil Mali tempat Fokker dari Kupang mendarat sampai dengan Kalabahi tempat ibadah yang paling dominan adalah Gereja baik sisi kiri maupun kanan jalan, dengan berbagai ukuran dan bahan bangunan yang bervariasi. Ada yang baru dibangun, banyak juga yang kelihatannya sudah tua. Sementara dari Kalabahi ke alor kecil yang dominan adalah Masjid. Yang saya dengar dari Ahmad, di sekitar sini banyak perantau asal Bugis. Dan dari adik – adik kecil yang saya imami saat salat ashar itu, mereka bilang ada Kampung Bugis di Alor. Sayang saya tidak sempat ke sana.

Rumah adat

Rumah adat

Selain rumah adat, ada yang menarik lagi sepanjang perjalanan itu, yaitu komplek pemakaman. Jika kebanyakan di desa – desa Pulau Jawa yang saya tahu, selalu ada komplek makam kampung. Berupa komplek pemakaman bersama. Di Alor terutama Kalabahi ke Alor Kecil ini tidak demikian. Kelihatannya masing – masing keluarga punya komplek makam sendiri. Maka tidak heran jika dalam jarak kurang dari 50 meter kita temui komplek makam itu. Tidak jarang pula ada rumah – rumah yang di depan atau di sampingnya ada satu dua komplek makam. Saya amati, ini tidak tergantung keyakinan. Baik rumah muslim maupun non nasrani bisa berhalaman depan atau samping makam keluarga. Hanya saja untuk yang muslim tentu saja mereka menaati aturan pemakaman, seragam membujur selatan ke utara. Ini karena saya hanya tahu aturan pemakaman ummat muslim.

Makam Keluarga

Makam Keluarga

Seperti juga di desa saya, di Jakarta, atau di manapun selalu saja ada makam yang mendapat perlakuan “khusus” beda dengan yang lain. Dengan berbagai alasan. Mungkin karena ketokohan orang itu, atau alasan – alasan lain. Demikian juga di sana. Saya temukan juga makam dengan perlakuan khusus itu. Sayang Danken tidak tahu dan tidak punya cerita mengapa makam ini berbeda dengan yang lain. Sampai di penginepan saya mencoba mencari tahu ke ibu penginepan yang sebenarnya pengetahuannya mengenai Alor sangat banyak (riwayat perkembangan, makanan, tata cara dll), juga tidak tahu.

Makam tetua ?

Makam tetua ?

Di ruas jalan ini juga ada Pangkalan BBM Pertamina. Saya dulu pernah belajar dan membaca Pangkalan BBM Pertamina Kalabahi ini, tetapi lupa ini untuk distribusi di Alor saja atau NTT. Tetapi setidaknya dengan adanya Pangkalan BBM Pertamina ini, Pelabuhan Laut, dan juga Pelabuhan Penyeberangan ASDP, Kabupaten Alor termasuk daerah yang penting di Negeri ini.

Selamat tinggal Alor, mudah-2an ada kesempatan dan umur berkunjung lagi ke sana

Tabung penyelam

Tabung penyelam

 

Di seberang itu para penyelam menginap

Di seberang itu para penyelam menginap

Pelabuhan Penyeberangan Kalabahi, Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur Juli 15, 2011

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.
1 comment so far

Kali ini pekerjaan membawa saya ke Kalabahi Ibu Kota Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur.  Saya mengungunjungi para abdi negara yang mengabdikan karyanya untuk melayani saudara – saudara kita di daerah remote. Bagi mereka transportasi air masih merupakan sarana yang sangat diharapkan karena belum atau tidak tersedia transportasi darat. Sementara transportasi udara masih belum bisa dijangkau. Transportasi air penyeberangan dalam hal ini. Untuk daerah – daerah remote (sebutan eupimisme untuk daerah terpencil) tertentu, transportasi penyeberangan ini tidak menarik bagi swasta untuk mengoperasikan. Alasan utama tentu saja tidak imbang antar biaya operasi dan pendapatan yang diperoleh. Biaya operasi lebih besar (pelabuhan penyeberangan plus biaya pelayaran). Maka pemerintah turun tangan. Kementerian Perhubungan mengemban misi sosial ini dengan melaksanakan PSO (Public Services Obligation) berupa pengoperasian pelabuhan penyeberangan yang disubsidi. Tiga Unit Pelaksana Teknis Pelabuhan Penyeberangan yang sudah dioperasikan sejauh ini adalah Kariangau Balikpapan, Gorontalo, dan Kalabahi Pulau Alor NTT.

UPT Penyeberangan Kalabahi melayani tiga lintasan / rute: 1. Lintasan Kalabahi – Bolok (Kupang)             dilayani oleh lima unit kapal; 2 Lintasan Kalabahi – Teluk Gurita    dilayani oleh satu unit kapal; dan 3. Lintasan Kalabahi – Baranusa dilayani oleh satu unit kapal. Lintasan – lintasan ini cukup jauh dan kapal terbatas. Dengan demikian – tidak seperti Kariangau – kedatangan dan keberangkatan kapal di Kalabahi relatif jarang. Rata – rata dua tiga hari sekali. Beruntung saya ketika berkunjung ke sana ada kapal akan berangkat dan tidak lama kemudian ada kapal yang merapat. Jadi saya bisa mengetahui kesibukan pegawai dan penumpung dalam rutinitas ritual naik turun kapal penyeberangan ini.

Pintu masuk pelabuhan penyeberangan

Pintu masuk pelabuhan penyeberangan

Kantor UPT Pelabuhan Penyeberangan

Kantor UPT Pelabuhan Penyeberangan

Turun dari kapal penyeberangan

Turun dari kapal penyeberangan

Dermaga dari balik pagar

Dermaga dari balik pagar

Keluar masuk penyeberangan

Keluar masuk penyeberangan

Yang tersisa dari (perjalanan ke) Gorontalo…. Juli 7, 2011

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pikirkan, Yang Sayang Dilupakan.
add a comment

Jujur saja ini pertama kali saya menginjakkan kaki ke Pulau Sulawesi, dan kebetulan yang saya kunjungi adalah Kota Gorontalo. Sebagai kunjungan pertama, tentu saja ada kesan membekas di sana. Sepanjang perjalanan dari Bandara Djalaluddin ke kota Gorontalo saya mengamati kiri kanan jalan. Suasana tidak jauh beda dengan kota – kota lain di Tanah Air. Tegal, sawah, perumahan penduduk, bangunan pemerintahan atau sekolahan. Satu hal yang membedakan dari kota – kota di Pulau Jawa mungkin adalah atap bangunan sangat jarang ada atap bangunan genting dari bahan tanah. Sepanjang perjalanan lebih dari 30 KM tidak sekali pun saya jumpai atap genting tanah. Kebanyakan dari seng atau asbes. Dalam hati bertanya, mengapa tidak ada genting tanah? Karena tanahnya tidak cocok untuk genting atau tidak ada yang mau membuat genting dari tanah? Hal ini tentu berbeda dengan rumah –  rumah atau bangunan di Pulau Jawa. Hampir semua beratap genting tanah dengan berbagai kualitas mulai dari ala kadarnya sampai genting keramik (yang dari tanah juga).  Sampai di Kota pun, iseng – iseng saya amati sama juga. Hampir tiada genting dari tanah.

Tanpa atap genting tanah

Bangunan-2 tanpa atap genting tanah

Kesan yang ke dua mengenai Gorontalo adalah Bentor. Alat transportasi rakyat perpaduan becak dan motor. Seharusnya BETOR tanpa N di tengah kalau begitu. Tapi jika tanpa N di tengah, tidak nyaman mengucapkannya. Di seluruh pelosok Kota Gorontalo hampir bisa dijumpai bentor – bentor ini berteberan. Ngetem di tempat tertentu atau berseliweran menjaring penumpang. Kata sopir taksi yang saya tumpangi, bentor – bentor ini merupakan transportasi pengganti Bendi yang sudah tidak diijinkan lagi, karena kotorannya barangkali. Bagi pendatang, bentor ini sangat membantu. Kemanapun kita pergi dia akan siap mengantar. Dan di manapun kita berada, tidak perlu khawatir tidak mendapatkan tumpangan. Sebab bentor ada  di mana – mana. Satu hal yang sangat berkesan dari bentor ini bagi saya adalah, pengemudinya selalu jujur. Bagi siapapun, entah orang sana maupun pendatang yang sama sekali baru menginjakkan kaki di Gorontalo, tarifnya tetap normal dan sama.Jadi kita tidak perlu menanyakan sebelum naik atau menawar. Dua hari  kemana – mana saya selalu menggunakan bentor  yang berbeda – beda. Mereka selalu mengenakan tarif standard dan seperti biasanya. Hal ini tentu saja berbeda dengan taksi di beberapa kota misalnya, yang kadang seenaknya memasang tarif terutama bagi pendatang baru.

Bentor - bentor

Bentor - bentor

 

Pasukan Bentor

Pasukan Bentor

 

Bentor

Bentor Lagi

Tak afdol rasanya kalau menyambangi suatu daerah tanpa oleh – oleh yang khas daerah itu. Untuk kekhasan ini, Gorontalo punya kain kas. Namanya kain Karawang. Seperti photo – photo di bawah ini.

Kain Karawang

Kain Karawang

Bangunan indah yang saya dapati adalah kelenteng..

Kelenteng

Kelenteng

 

Menikmati keindahan Danau Limboto dari Ketinggian Benteng Otanaha yang kokoh, membayangkan Singapur Cable Car dan Sydney Opera House Juni 18, 2011

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
add a comment
Gerbang Masuk Area Benteng

Gerbang Masuk Area Bentang

Di puncak perbukitan Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo masih berdiri kokoh bebatuan Benteng Otanaha. Lokasi benteng ini tidak jauh dari Gorontalo kota. Saya mengaksesnya dengan mencarter bentor Bang Wani yang sudah mengantar saya menyusuri sebagian pusat Kota Gorontalo semalam. Jalan menuju Benteng dari Gorontalo melaluai perkampungan dan kebanyakan perbukitan di sisi kiri dan tepi Danau Limboto di sisi kanan. Karena bukan sengaja untuk jalan – jalan melainkan untuk keperluan pekerjaan, maka saya memilih tempat yang tidak terlalu jauh dari pusat ini sebagai pengisi waktu siang hari sambil menunggu ritual keberangkatan Kapal sore harinya. Saya dengar ada beberapa obyek jalan – jalan di sekitar Gorontalo, paling tidak ada beberapa pemandian salah satunya pemandian air panas agak di luar Kota. Karena alasan waktu, hanya Otanaha yang sempat saya kunjungi. Syukurnya, bukan sekedar pengisi waktu siang hari yang saya dapatkan tetapi malah sensasi alam yang sangat membekas.

Kota Gorontalo rasanya seperti Ibu Kota Negara dalam dunia pedalangan wayang kulit. Dalang selalu menceritakan Ibu Kota Amarta atau Astina dengan Istana Raja yang “Ngayunake  benawi, ngiringake pesabinan, nengenake pategalan, ngungkurake pegunungan. Negari ingkang toto titi tentrem, gemah ripah loh jinawi. Ora kekurangan mas picis rojo brono…” dan seterusnya. Ibu kota yang didepannya terbentang bengawan sumber air penghidupan, di sisi kiri persawahan sumber pangan, di sisi kanan perkebunan, di belakangnya pegunungan menyejukkan. Itulah Gorontalo di mata saya dua tiga hari ini. Jika kita berdiri di tempat yang cukup tinggi di tengah kota, akan terlihat Gorontalo dikelilingi pegunungan. Sebagian dengan tanah karst yang terlihat dominan, sebagian besar didominasi tumbuhan rimbun menghijau. Jika kita menyusuri jalananan menuju Benteng Otanaha atau di sisi Teluk Tomini, kita rasakan sisi kiri perbukitan sisi kanan lautan menghampar atau danau Limboto yang sangat luas.

Papan Informasi

Papan Informasi

Sedikit kecewa ketika sampai di area Benteng. Lagi – lagi tidak ada keterangan atau informasi yang mencukupi mengenai situs purbakala ini. Tadinya saya berharap paling tidak ada penjaga yang bisa memberikan penjelasan yang mencukupi mengenai situs ini. Setidaknya kapan dibangun, oleh siapa, untuk apa, perkembangannya bagaimana. Syukur – syukur ada penjelasan mengenai filosofi dan mengapa dibangun di atas bukit ini. Atau paling tidak ada secarik – dua carik brosur sumber informasi mengenai Benteng Otanaha ini. Tidak usahlah terlalu jauh dibandingkan dengan Grand Royal Palace di Thailand misalnya, tetapi setidaknya bisa didapatkan sejarah perkembangan saja mungkin cukup membantu memahami Benteng ini. Penjaga nya pun hanya sekedarnya kelihatannya. Dua orang muda yang rasanya tidak mengerti banyak kecuali hanya sebagai petugas pemungut biaya karcis Rp. 5.000/orang. Ketika saya tanya sedikit tentang benteng ini, mereka hanya bisa menunjukkan keterangan singkat yang ditulis dengan cat diatas papan triplek yang tersandar di dinding Kantor. Informasi yang didapat dari tulisan cat itu (lihat fotonya ) terkesan seperti dongeng hikayat, meski di situ disebutkan tahun, lokasi, serta nama – nama. Sayang banyak informasi yang hilang (atau kurang usaha untuk menemukan) seperti situs kerajaan yang terkait dengan benteng ini,  bagaimana akses dari situs kerajaan ke benteng ini, strategi mengapa benteng ini dibangun di atas bukit ini, perkembangannya sampai sekarang, apalagi filosofi arsitekturalnya. Mengenai dimensi dan lattitudenya yang gampang diukur pun, sama sekali tidak ada.  Saya mencoba googling. Tidak menemukan hasil yang berarti. Di urutan teratas hasil pencarian key word “Otanaha” tampil runutan Wikipedia Indonesia  dengan isi persis seperti yang tertera di tulisan cat di papan triplek Kantor itu.

Terlepas dari keterbatasan informasi itu, sebenarnya Benteng Otanaha menyimpan potensi yang besar. Letaknya yang diatas bukit dan menghadap danau Limboto yang luas, berada di atasnya seperti berada di puncak dunia Gorontalo. Karena kita bisa memandang keindahan ke segala arah. Cara mencapai puncak pun sudah merupakan tantangan tersendiri.  Dua cara mencapai puncak ini adalah melalui tangga atau melalu jalan beraspal yang menanjak. Kelihatannya tangga ini dibangun lebih dahulu dari pada jalan beraspal. Atau mungkin tangga semen itu merupakan pembaharuan dari jalan kuno untuk mencapai puncak ? Tidak ada penjelasan resmi. Yang jelas tangga itu terlihat baru, paling tidak baru tahun 1981 sesuai prasasti peresmian oleh Dirjen Budaya dan Wisata waktu itu. Jika fisik kita masih kuat dan merasa tertantang, meniti tanggal sebanyak 353 anak tangga ini boleh dicoba. Untuk melepas lelah disediakan 4 dangau semen tiap seperempat jalan menuju puncak lewat tangga itu.

Alternatif lain yang lebih mudah untuk ke lokasi benteng adalah dengan melewati jalan beraspal. Jalan aspal ini tentu saja juga relatif baru, paling tidak seumuran  tangga itu. Lagi – lagi tidak ada keterangan resmi dan siang itu sama sekali tidak ada yang bisa ditanya. Setelah kemarin menaiki 200 anak tangga makam Aulia Male Ta Ilayabe, rasanya di siang yang terik ini saya tidak sanggup lagi mengulangnya. Maka saya sendiri memilih lewat jalan aspal dengan mengendarai Bentor.  Tetapi pada akhirnya sama saja, saya harus berjalan mendaki meski tidak lewat tangga. Pada titik jalan mendaki tertentu, bentor tidak kuat lagi meneruskan perjalanan. Terpaksa sopirnya turun dan mendorong. Jika sopirnya saja turun mendorong, masak saya tetap bertahan nangkring di bentor ?:). Sayapun jalan kaki menuju puncak.

Cerita klasik di koran – koran yang menceritakan perjuangan menuju puncak seperti ini. Sampai di puncak kelelahan terbayar dengan pemandangan yang indah. Mungkin di ketinggian sekitar 200 – 300 M dari permukaan laut, lagi – lagi tidak ada informasi yang resmi, kita bisa memandang bebas ke segala arah. Hamparan danau Limboto yang saat ini sedang surut menyajikan panorama yang indah. Di belakang, perbukitan hijau kehitaman disapu terik matahari yang sebagian tertahan awan – awan, seolah seperti guratan lukisan raksasa. Seringkali burung elang terlihat melayang di sela – sela bukit karst.

Bukit karst sekeliling benteng

Bukit karst sekeliling benteng

Saya membayangkan kalau saja Pemerintah dan atau Investor ada yang berani membangunkan potensi Otanoha yang dikombinasikan dengan danau Limboto ini, tentu akan menjadi daya tarik yang luar biasa. Mungkin Gorontalo bisa bersaing dengan Makassar atau Menado di Sulawesi untuk sektor pariwisata. Saya membayangkan ada kereta gantung melayang – layang antar bukit melintasi tepian Danau Limboto dengan Benteng Otanaha yang terjaka kepurbakalaannya sebagai sentral.  Jika Singapura yang tidak punya tiang – tiang bisa, mengapa kita tidak? Toh Benteng Otanaha dan sekelilingnya telah menyediakan tiang – tiang perbukitan yang kokoh. Kemudian nun jauh di bawah Danau Limboto dikembangan menjadi wisata air yang mempesona. Mungkin di beberapa bagian dibangun wahana permainan air seperti water boom di Jakarta. Bagian yang lain dikembangkan peternakan ikan perairan darat atau kolam pemancingan keluarga dengan saung – saung ikan olahannya. Syukur – syukur bisa dibangun panggung di atas air sebagai sarana pamer budaya setempat. Mungkin bisa menyaingi gedung Opera Sydney yang masyur  itu. Jika sudah begitu, Peta menuju Otanaha akan tampil di urutan teratas key word pencarian “Otanaha” dengan segala tautan kepadanya. Semoga, suatu saat nanti. Entah kapan…

Bentor Bang Wani tak kuat menanjak

Bentor Bang Wani tak kuat menanjak

Formasi benteng berupa susunan batu melingkar

Formasi benteng berupa susunan batu melingkar

Di pintu masuk benteng

Di pintu masuk benteng

Danau Limboto di kejauhan

Danau Limboto di kejauhan

Dua formasi benteng

Dua formasi benteng

Ruas tangga teratas

Ruas tangga teratas

Ruas tangga ke tiga

Ruas tangga ke tiga

 

Prasasti Peresmian

Prasasti Peresmian

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.606 pengikut lainnya.