jump to navigation

Kearifan Lokal… Maret 5, 2008

Posted by Mujiono Sadikin in Uncategorized, Yang Sayang Dilupakan.
add a comment

Minggu lalu sambil menikmati kemacetan Jakarta saya mendengarkan i-radio pagi – pagi. Penyiarnya Uda Rafiq sama Mpok Putri. Lumayan juga, selain membawa jargon memajukan musik anak negeri, di acara pagi hari pada hari kerja biasanya ada topik – topik ringan yang dibahas. Penyiar memulai dengan memberikan latar belakang, sedikit penjelasan dan komentar versi mereka. Nah tak lupa tentu saja permasalahan yang perlu dikomentari (bukan yang harus diselesaikan, ntar kayak proposal teknis tender aja jadinya). Topik – topik ringan misalnya hubungan tumpang menumpang di tempat tinggal sodara di Jakarta bagi orang dari daerah, ada topik keprihatinan musik lokal saat ini yang hanya memenuhi selera orang dewasa / ABG tetapi mengabaikan pasar anak – anak usia di bawah 10 tahun, dan topik – topik yang lain.

Minggu lalu topik yang sempat saya dengarkan dari pagi sampai dengan selesai adalah masalah kearifan lokal. Sangat menarik. Pendengar ditantang untuk sharing knowledge mengenai hal – hal terkait dengan budaya, norma -2 dan kearifan lokal suku bangsa di Tanah Air. Intinya ajaran – ajaran moral yang sebenarnya sudah ada dan diturunkan secara turun temurun, mayoritas menggunakan media lisan. Beberapa di antaranya adalah:

Suku Jawa

  • Mikul dhuwur mendem jero (memanggul tinggi memendam dalam), Artinya kurang lebih kita harus menghormati orang tua, mengenang jasa baiknya dan melupakan hal – hal yang buruk dari beliau. Kurang lebih jangan mengungkit aib orang tua lah begitu.
  • Tuna sathak bathi sanak (rugi harta dapat warga),Artinya dalam bermasyarakat, tidak apa-apa kita rugi harta kekayaan asalkan tambah teman, kerabat atau keluarga
  • Aja dumeh, aja kagetan, aja gumunan (jangan bersikap aji mumpung, jangan mudah terkejut, jangan mudah terheran – heran)
    Cuku jelas ya ….Terkenal pada era P Harto ’96 – ’97 an
  • Sadumuk bathuk, sanyari bumi (walah bingung saya ini arti denotasinya/harfiahnya apa)
    Ini sebenarnya menerangkan konsep orang Jawa terhadap kehormatan dan harga dirinya yang pantano diremehkan dan perlu dibela semampunya asal benar bahwa itu haknya.
  • Mangan ora mangan sing penting ngumpul (Nggak makan nggak masalah asal kumpul dengan keluarga)
    Bertentangan dengan konsep Transmigrasi, makanya pada Zaman Orde ini nggak kepakek..Hiks
  • Kere munggah bale (orang kecil (konotatif) naik ke dipan mewah)
    Ini perumpaan orang yang kekurangan – biasanya dari segi harta kekayaan – yang berubah dengan drastis menjadi orang kaya raya dan bekecukupan

Dan banyak lagi, orang (yang ngerti bahasa) jawa silaban refer di sini

http://jv.wikipedia.org/wiki/Kategori:Paribasa_Jawa

Suku Padang,

Sorry untuk yang ini saya tidak hapal betul bahasa aslinya. Saya hanya menangkap maknanya saja. Maka …. (titik – titik) saya sediakan untuk diisi text – sebenarnya ucapan sih – aslinya.

  • …..(terjepit ingin di atas, terkurung ingin di luar)
    Ini filosofi strategi orang Padang dalam berperang, berdagang, dll.
  • …..(Yang lumpuh jaga rumah, yang tuli disuruh menembak, yang buta menumbuk padi, yang bingung disuruh – suruh, yang cerdik ajaklah diskusi)
    The right man in the right job !
  • ….. (Kita untung, orang lain senang)
    Win win solution..
  • ….. (Keponakan dibimbing, anak dipangku), Seseorang tidak hanya bertanggung jawab terhadap anaknya semata, melainkan terhadap masa depan dan perilaku familinya pun, dia harus bertanggung jawab.

Dan banyak lagi keraifan Lokal Padang yang saya tidak ingat. Selain Padang & Jawa tentu saja banyak kearifan lokal yang lain sebanyak suku yang kita miliki. Beberapa yang kemarin sempat saya dengar adalah dari Batak, Manado, Sunda, Bugis, cuman ya itu, saya lupa…. Anda mau menambahkan ???

Hello world! Maret 3, 2008

Posted by Mujiono Sadikin in Uncategorized.
add a comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.