jump to navigation

Banjaran Karno[2], Adirata dan Nyai Nada orang tua asuh yang penuh kasih…. Juni 13, 2009

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Senangi.
add a comment

Sungai Gangga Mengantar Karno Basuseno kepada Orang Tua Asuhnya

Kendhaga wreksa yang berisi jabang bayi Karno Basuseno semakin menengah semakin menengah di Sungai Gangga. Kabut malam menyelimuti Sungai Gangga yang seolah tiada bertepi, semakin menenggelamkan sang Kendhaga dari pandangan Dewi Kunthi, Raden Basudewa maupun Resi Drewasa. Tenggelam dalam perasaan dan pikiran masing – masing mereka bertiga kembali ke Istana Mandura. Menjelang fajar di Hilir Sungai Gangga. Pemangku jabatan Kerajaan Angga, Prabu Adirata, dengan istri tercinta – Nyai Nada – sedang mengasingkan diri semedi dengan harapan Yang Maha Pemberi memberikan kasih kepada mereka sebagai pasangan suami istri. Sudah sementara waktu mereka menharapkan momongan, bahkan sudah terasa terlambat bagi mereka. Usia mereka tidak muda lagi untuk dapat mempunyai seorang jabang bayi. Berbagai daya upaya sudah dilakukan mereka, sering diiringi doa dan puja puji kepada yang Maha Pembuat Hidup. Tidak jarang ditengahi dengan pertengkaran dan saling menyalahkan di antara mereka. Adirata bersikukuh bahwa benihnya cukup baik untuk menghasilkan keturunan, namun ladang pembenihan Nyai Nada lah yang menurutnya tidak subur. Sebaliknya Nyai Nada tidak begitu saja menerima tuduhan dari Sang Suami itu. Menurutnya benih Adi Rata lah yang bermasalah. Dirasanya sudah belasan tahun kerinduan akan kehadiran anak sebagai penyempurna hidup bebrayan berumah tangga ini. Namun sepertinya penantian ini bagaikan menunggu datangnya hujan di musim kemarau. Putus asa bukanlah pilihan yang bijak, begitulah ajaran semua agama. Begitu pula Adi Rata dan Nyai Nada memahami dan melakoninya. Maka tiada pernah mereka berputus asa berhenti berharap. Pengasingan mereka di tepi Sungai Gangga kali ini juga merupakan pengejawantahan sikap penuh harap itu. Kelihatannya Sungai Gangga kali ini sedang memberikan berkahnya kepada semua makhluk di sekitarnya. Airnya mengalir dengan tenang. Di siang hari aliran sungai Gangga ini membawa berkah dan rejeki bagi siapa saja yang bisa memanfaatkannya. Perahu mengarungi badan sungai mengantar penduduk pulang pergi mencari rejeki atau untuk keperluan yang lainnya. Di tepian sungai, para nelayan menjaring ikan udang yang berlimpah seolah mencukupi kebutuhan siapapun yang memerlukannya dengan kecukupan yang wajar tidak berlebihan. Petani di daerah aliran sungai menyekat – sekat tepian sungai untuk sekedar memanfaatkan air juga secukupnya bagi sawah dan tegalan mereka. Tetapi tidak selamanya Sungai Gangga bersikap ramah seperti itu. Sesekali dia marah dengan memuntahkan aliran air yang membanjiri perumahan dan pekarangan, persawahan dan tegalan. Jika sudah begini jangankan ketenangan, kerusakan dan kesengsaraan yang dibawanya. Tetapi selalu tersisa manfaat setelah kerusakan dan kesengsaraan terjadi. Tumpukan material bebatuan dan pasir berlimpah biasanya. Penduduk kerajaan – kerajaan yang dilaluinya selalu dapat mengambil manfaat dan rejeki setelah murkanya itu. Kali ini, entah mengapa Sungai Gangga tenang, sangat tenang. Meski tenang dan ramah, tidak seperti biasanya. Saat fajar menjelang sudah banyak penduduk yang beraktifitas dan berinteraksi dengannya. Namun kali ini, tidak terlihat perahu pedagang atau para musafir di sepanjang aliran yang mengiringi kendaga wreksa. Begitupun para nelayan dan petani, seolah malas berkarya. Ketika fajar mulai menyeruak di ujung timur dengan siluet merah jingganya, timbul tenggelam di tengah sungai Gangga terlihat bayangan yang mengapung apung diayunkan dengan lembut oleh aliran air. Laksana ayunan lembut gendongan ibunda aliran air itu dirasakan oleh sang jabang bayi Karno Basuseno. Tidurnya pulas tanpa terusik sama sekali di dalam Kendaga Wreksa. Pelan – pelan Kendaga mendekat sampai jangkauan penglihatan sepasang suami istri yang sedang bertapa, Prabu Adirata dan Nyai Nada. Seolah ada yang membangunkan semedinya, Prabu Adirata membuka matanya memandang ke tengah sungai. Terlihat jelas kendaga wreksa di matanya, dan hatinya tentu saja tertarik dengan apa yang disaksikannya. Dibangunkannya sang istri tercinta dari semedinya…. ”Adinda sayang, Nyai Nada…….. Bangunlah sebentar dari semedimu, saya melihat kendaga di tengah Sungai Gangga….Hatiku tertarik apakah kiranya yang ada di dalamnya??” ”Oh ya Kyai Prabu….saya juga melihatnya. Mungkin saja ada sesuatu yang berharga di dalamnya. Biarkan saya terjun ke dalam Gangga untuk mengambilnya…” ”Loh…jangan ….jangan kamu yang mengambilnya, kalau ada apa denganmu nanti, aku mungkin saja menjadi duda. Wah cilaka kalau begitu…Biarkan aku saja yang mencebur ke Sungai ini” ”Kyai…nanti kalau ada apa – apa dengan Kyai, saya lebih gawat lagi. Bisa jadi janda saya…” ”Sudahlah..jangan khawatir, Aku akan hati – hati….” Secepat yang dia bisa, Adi Rata mencebur Sungai, berenang sekuat yang dia mampu ke tengah sungai. Diambilnya Kendaga Wreksa itu. Sampai di tepian suangai, tidak ada kesabaran sama sekali bagi mereka berdua untuk membuka dan mengetahu isi kendaga itu. ”Nyai……….!!! Isinya kok….wah isinya kok, walah ini kebahagiaan luar biasa nyai…Isinya Jabang Bayi…” ”Jagad dewa batara….!!!” Sahut Nyai Nada.”Kyai…kelihatnnya semedi saya di dengar Tuhan Yang Maha Esa” ”Wush….bukan semedimu tapi semediku, aku yang pertama melihat kendaga ini. Jadi semediku yang diterima” ”Tidak begitu Kyai………., saya yang mengajak kyai menyepi kali ini. Jadi saya yang mendapat anugerah ini…” ”Wah wah…kok kita berdua seperti anak kecil yang rebutan mainan ya…Ya sudah Nyai…tidak apa – apa, ini semua karena rasa gembira kita. Sudah ..sudah, pasti ini anugerah buat kita berdua. Sebentar tak lihat anak ini lelaki atau perempuan” ”Ya ya Kyai, saya sudah tidak sabar menggendonnya….” “Nyai…anak ini laki – laki ” ”Baiklah, bagi saya sama saja kakung ataupun putri, yang penting kita dikaruniai momongon meski bukan darah daging kita sendiri…” ”Ya benar nyai…..Sebentar….anak ini kelihatannya sudah diberikan sangsangan (kalung). O…bandulnya dapur bunga Cempaka yang sedang mekar nyai. We lah….sudah ada tulisannya di dalam bandul ini. Di sini tertulis KARNO BASU SENO. Hmm……… kelihatannya ini adalah nama yang diberikan orang tuanya. Sudah nyai, biarkan kita panggil anak ini dengan namanya sendiri” ”Sendiko dhawuh Kyai, mari sini saya gendong anak kita” ”Yah ini silakan…ayo kita pulang ke kerajaan. Kita buat woro – woro bahwa sementara waktu kita mengasingkan diri karena kamu sedang mengandung dan sekarang sudah melahirkan jabang bayi. Saya akan membuat pesta kelahiran putra kita empat puluh hari empat puluh malam sebagai ungkapan syukur kita dan berbagi kesenangan bersama rakyat Awangga” Tidak terlukiskan betapa bahagai dan bungahnya perasaan mereka berdua. Basukarno diasuh dan dididik layaknya darah daging mereka sendiri. Dengan asuhan yang penuh kasih sayang, Basukoarno tumbuh menjadi anak yang sehat, lincah dan tentu saja tampan. Tidak perlu diceritakan masa kecil sampai remaja Raden Basukarno yang berlimpah kasih sayang dan kebahagian dari ”kedua orang tuanya”. Basukarno sejatinya membawa bibit Kayangan di dalam tubuh dan jiwanya. Dia anak Dewa Surya. Maka tidak heran meskipun lingkunan dan asuhan mutlak dibawah pengaruh Adirata, tanda keturunan Dewi Kunti dan Dewa Surya itu tetap saja muncul ke permukaan berupa sifat dan sikapnya. Semakin jelas ”perbedaan” antara anak dan orang tua ini saat Basukarno menjelang remaja. Sifat dan sikap strianya jelas terlihat. Berbeda dengan orang tuanya yang terbatas dalam hal keprigelan olah kanuragan maupun olah jiwa, Basukarno sudah menunjukkan bakat dan minat yang luar biasa dalam ilmu beladiri dan kesaktian. Meskipun dia tidak mempunyai guru khusus dalam hal ini kepandaiannya dalam perang tanding dengan tangan kosong maupun olah senjata sampai pada taraf jauh di atas rata – rata. Agaknya ini karena memang pembawaan dari lahir sebagai keturunan salah satu Dewa yang juga sakti. Saat Remaja, Pandawa dan

Kurawa Berlatih Tanding di Kurusetra Singkat cerita, ringkasnnya percakapan, saat ini Karno Basuseno sudah melewati masa akhil balik, menginjak masa remaja. Mungkin diujung usia belasan tahun atau belum beranjak jauh dari usia dua puluh tahun. Di alun – alun Negara Astina. Pandita Druna sang guru bagi Para Pandawa dan Kurawa, baru saja turun dari Siti Hinggil Kerajaan Astina memenuhi panggilan pemangku jabatan Raja Astina, Adipati Destarata. ………

Banjaran Karno[1], Suatu Biografi Raden Karno Basuseno Mei 8, 2009

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
3 comments

Tulisan ini merupakan terjemahan saya terhadapa lakon Banjaran Karno yang dibawakan oleh Dalang Almarhum Ki Narto Sabdo. Secara ringkas Banjaran Karno menceritakan biografi perjalanan hidup Raden Karno mulai dari kelahiran sampai dengan tewasnya Karno di medan laga Baratayudha Jayabinangun, perang besar ke 4 dalam cerita pewayangan. Tentu saja yang diceritakan adalah bagian – bagian terpenting dalam hidupnya. Masa bayi, remaja, pernikahan, bertahtanya dia di Awangga karena ”kebaikan” dan ”pamrih” Prabu Joko Pitono, dan kematiannya yang tragis sebagai pemenuhan jiwa kesatria dan prinsip hidupnya.

Yang pasti menikmati lakon dari Ki Narto Sabdo jauh lebih nikmat karena kita benar – benar bisa merasakan multimedia sambil leyeh-2. Lebih dari itu, irama gamelan akan membawa kita masuk ke dalam suasana yang dibangun adegan per adegan, penggal demi penggal, rasa sedih gembira maupun guyonan sang punokawan dan emban Limbuk, Mbilung. Tutur kata, tata catur Ki Narto Sabdo begitu tinggi untuk bisa saya contek apalagi saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia, dengan kemampuan terbatas ini. Selain isinya sebagai ajaran dan tuntunan, bahusastra jawa nya mustahil dapat saya ”share”. Ada paribasa, ada sanepo, dan syair – syair, yang saya rasa hanya bisa kita nikmati jiga kita dengarkan sendiri.

 

Jadi dengan demikian, maka tidak perlu diharapkan apa – apa dari tulisan ini selain hanya karena saya ingin menulis saja.

Kelahiran Karno Basuseno, Dihanyutkan Ibunda di Sungai Gangga

Adalah Kunti Nalibrata puri Raja Negei Mandura Prabu Kuntiboja. Sudah sekitar 3 warsa Kunti Nalibrata tidak terlihat sowan ke istana kerajaan meskipun pada saat – saat pisowanan agung. Dari emban dan pelayan, Prabu Kuntiboja mengetahui bahwa sang putri terlihat murung dan hanya mengurung diri di keputren. Beberapa kali terlihat termenung dengan memegang patrem (Keris Kecil, biasanya dibawa/disandang oleh seorang putri). Keadaan seperti ini tentu saja membuat Prabu Kuntiboja khawatir sementara dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putri tersayangnya. Semua emban, pelayan dan dayang – dayang keputrian pun tidak ada yang tahu pasti apa yang sedang terjadi padanya. Demikian juga putra sulung Kerajaan, Raden Basudewa. Hingga diutuslah putra tertua kerajaan itu untuk menemui Sang Putri di keputren.

”Basudewa…”

”Sendika dawuh Rama Prbu…”

”Caritahulah dengan hati – hati, apa yang menjadi masalah adikmu. Kamu saudara tertuanya, aku berharap kamu bisa menenangkan hatinya. Apa kira – kira yang diinginkannya?”

”Sendika dawuh Romo….”

Di keputrian Kerajaan Mandura, Kunti Nalibrata juga biasa disebut dengan Dewi Prita, sedang dirundung kesedihan dan penyesalan yang teramat sangat akibat tindakannya yang tidak hati – hati dan hanya menuruti rasa penasarannya akan kesaktian ajian Kunto Wekasing Rasa Sabdo Tunggal Tanpa Lawan, yang didapatnya dari Sang Resi. Tidak dapat dibayangkan bagaimana murkanya Rama Ibu jika mengetahui apa yang telah menimpa dirinya. Bagaimana mungkin dia bisa membayangkan apalagi menerimanya, sikap dan reaksi para kawula, para nara praja, para punggawa kerajaan jika mereka tahu ”aib” dirinya sebagai putri kerajaan yang dipuja – puja selama ini. Air matanya rasanya sudah tidak ada lagi untuk sekedar diteteskan sebagai ekpresi kesedihan, malu, penyesalan, dan kekecewaannya yang mendalam. Berhari – hari matanya tidak bisa dipejamkannya, lidah nya tak kuasa mengecap makanan apapun.

”Adikku….Dinda Kunti, bukakan kori(pintu) keputren mu Nduk…Aku kakakmu Basudewa yang datang” Terdengar pinitu keputrian diketok Putra Sulung Kerajaan Mandura.

”Oh Kakang…silakan masuk. Sembah sungkem hamba bagi paduka Kakang…”

”Iya ..iya..Dindaku tersayang, salam taksimku terimalah untukmu. Dinda….aku senang melihat adinda dalam keadaan baik dan sehat. Namun Dinda, saya perhatikan beberapa bulan ini adinda tidak terlihat di istana kerajaan meski pada hari – hari pisowanan agung. Hal ini membuat Rama – Ibu khawatir mengenai kondisimu Dinda. Bukan hanya bagi mereka, ketiadaanmu dalam beberapa kesempatan telah menjadi pertanyaan dan pembicaraan di antara para punggawa kerajaan, para abdi dalem bahkan beberapa raja sekutu telah pula mulai mempertanyakan kondisimu dinda. Janganlah pertanyaan dan percakapan mereka tentang dirimu, kamu anggap negatif. Namun itu semua menunjukkan betapa besar dan pengharapan mereka akan dirimu Adikku. Kewakhawatarin Rama Ibu sudah tidak bisa ditahan lagi hari ini, Karena itu diutuslah saya untuk menemuimu kali ini dinda. Saya lihat dirimu tidak kurang suatu apapun, oleh karena itu Dinda, ayo saya kanthi dirimu sowan kepada Romo Ibu..”

”Duh Kakanda Basudewa…..,mohon maaf hamba atas semua akibat kerena sikap hamba beberapa bulan ini. Namun kakang….,saya belum dapat menghadap Rama Ibu pada kesempatan  kali ini. Biarkan hamba menyelesaikan masalah yang hamba hadapi ini. Kakang…,mohon sampaikan salam hamba untuk Romo Ibu. Kali ini hamba masih akan meneruskan tapa – brata…”

”Kunti…sebagai orang tua, tentu saja mereka akan dengan suka cita membantu mengurai masalahmu Adikku… ”

”Aduh Kakang, hamba tidak mampu membayangkan betapa marahnya Rama Ibu jika beliau tahu masalah hamba ini..”

”Dinda, sebagai orang tua adalah hal yang wajar jika beliau sedikit duka/marah kepada adinda mengingat itu semua untuk kebaikan dan karena rasa sayang beliau kepada adinda. Karena itu yayi ayoh kakang iringkan kamu menghadap rama ibu…

”Kakang…mohon maaf…, apakah kakang tidak bisa melihat dan merasakan nestapa yang dinda sandang ini?” tanya Kunti dengan nada keheranan, karena sudah sekian lama mereka berbincang Basudewa tidak merasakan sedikit pun perubahan fisiknya.

”Ada apa yayi???”

”Kakang Basudewa, mohon Kakang perhatikan dengan seksama apa yang terjadi pada diri hamba Kakang……”

Basudewa menajamkan penghilatannya, menyatukan konsentrasinya. Diperhatikannya dengan seksama seluruh kujur tubuh adik yang disayanginya itu. Mulai dari ujung rambut sampai dengan ujung jemari kaki tida ada bagian yang luput dari pengamatannya. Sekali lagi diamat-amatinya badan Kunti Nalibrata. Sekarang dia mulai merasakan perubahan fisik Dewi kunti. Rautnya terlihat pucat serasa keletihan karena pekerjaan berat, dadanya cekung di depan, perutnya sedikit menyembul…..Kaget bukan kepalang Sang Basudewa..Sontak dia berteriak serasa menubruk rangkul adiknya itu.

”Haduh….adiku…yayi…………, mengapa kamu jadi begini. Adikku…sudah berapa lama kamu hanggarbini (mengdung) yayi??……..Ah hemmmm………….Dan lelaki mana yang menanam benih aib ini kepadamu? Bergegaslah untuk berterus terang…Akan aku datangi lelaki itu. Kalau perlu aku sendiri yang akan melabrak ke orang tuanya. Mereka harus bersedia bertanggung jawab atas semua ini dengan ikut aturan dan tata cara agama yang sudah digariskan. Jadi yayi…..jujurlah kepada Kakang. Siapa lelaki itu??”

Kembali tumpah tangisan Sang Dewi Kunti. Dia tahu ini adalah aib, bukan hanya bagi diri dan keluarganya tetapi juga untuk seluruh Negeri Mandura. Betapa nista dan cemar Nama Rama Ibu dan Kerajaan Mandura jika kabar ini terdengar oleh seluruh rakyat terlebih lagi negara – negara tetangga dan sahabat. Sudah semenjak leluluhur moyang mereka, Negara Mandura terkenal wibawanya. Negaranya sentosa, rakyatnya makmur. Itu semua karena leluhur dan para raja sampai dengan ayahanda terkenal bijaksana, berbudi pekerti luhur, mengedapankan budi pekerti adi luhung, bukan hanya untuk rakyat sendiri namun juga semua makhluk yang ada hubungan dengan Kerajaan. Dapat dikatakn semua mendapatkan berkah dari adi luhung dan luhurnya budi para raja dan leluhurnya. Betapa memalukannya aib yang menimpa dirinya kali ini. Seorang putri raja, satu – satunya putri raja yang digadang-2 menjadi pandeganya para wanita muda seluruh kerajaan ternyata menyimpan aib yang begitu memalukan. Seorang gadis yang nyata – nyata belum bersuami sebagaimana aturannya, ternyata mengandung jabang bayi yang tidak jelas siapa ayah yang menanam benihnya.

Dicobanya mengeluarkan kalimat yang tersekak di tenggorokkan. Dewi Kunti mencoba menata diri mengatur napas, menyusun kata – kata.

”Kakang…mohon maaf dan saya siap menerima amarah dari Kakang. Namun…sejatinya…..saya tidak pernah bergaul apalagi bersinggungan dengan lelaki manapun…”

”Oh ya..begitu ya….?” Basudewa tentu saja heran mendengar jawaban ini. Siapa pula yang dapat menerima jawaban seperti itu atas persoalan yang dihadapi Kunti Nalibrata?

”Sendika Kakang…”

”Hmm…Baiklah, sekarang aku tanyakan kepadamu adikku. Bermacam – macam tanem tuwuh (tanaman dan tetumbuhan) di dunia ini, ada yang menanam atau tunas dan tumbuh atas maunya sendiri?”

”Bermacam – macam Kakang, ada yang menanam ada juga yang tumbuh secara liar dan tumbuh atas maunya sendiri…”

”Oh..La Iya…………Kamu tahu precil, anak Kodok itu? Anak Kodok itu……………datang dari mana”

”Dilahirkan dari Kodok induknya Kakang”

”Yah….apakah mungkin preci itu lahir dari induknya tanpa sang induk pernah dibuahi oleh pejantannya??”

”Menurut hamba…tidak mungkin”

”Ya…..tidak mungkin yang pasti. Lalu bagaimana bisa, kamu mengandung jabang bayi tanpa pernah kamu bersinggungan dengan seorang lelaki?”

”Iya Kakang…., saya tidak pernah bergaul dengan barang lelaki siapapun”

”Kunti…!!!”, Kali ini Basudewa menyentak dengan nada tinggi menunjukkan amarah mulai menguasai dirinya.

”Kunti….,kamu jangan ngoyo woro, kamu jangan menganggap aku ini anak kecil. Aku ini kakangmu yang paling tua. Jadi bersikaplah yang benar selayaknya kepada orang yang lebih tua. Dan kamu tahu, di dunia aku ini wakil dari Ayah ibaratnya. Aku mempunyai wewenang untuk marah dan menghukum kamu jika diperlukan. Oleh karena itu, bergegaslah dengan jujur. Katakan kepada kakang lelaki mana yang menanam benih aib ini, hei….!!!”

”Kakang……….saya tidak pernah bersentuhan dengan lelaki siapapun…” Kunti tetap pada pendiriannya.

”Kunti…!..Kunti………!, kamu jangan membuat saya marah. Perhatikan apa yang aku pegang ini? Jika kamu tetap tidak mau jujur, jangan tanyakan dosa apa yang Kakang tanggung jika terpaksa aku melukaimu yayi!!”

Basudewa benar – benar tidak mampu lagi menahan amarahnya. Dihunusnya keris dari sarungnya yang terselip di pinggangnya. Sekejap keris itu berkelebat keluar dari sarung. Saking tajamnya keris itu, keluarnya dari sarung menimbulkan kilatan akibat pantulan cahaya terang dari keris itu.

Sahdan, bersamaan dengan itu di angkasa seolah mendadak tertutup dengan mega hitam yang berarak cepat mendekat ke arah keputrian. Di antara mega hitam gelap itu, tersembul cahaya putih yang sangat terang namun tidak menyilaukan. Sekelebat kemudian, cahaya itu ternyata datang dari seorang Resi yang menghampiri Basudewa..Sang Resi tahu Dewi Kunti dalam bahaya.

”Raden Basudewa….sebentar Raden…mohon Raden redakan amarahnya….Itu Bukan Salah Sang Dewi…”  Teriak Sang Resi dari angkasa. Tidak berapa lama san Resi sampai di hadapan Raden Basudewa. Terkejut Raden Basudewa menghadapi kejadian ini.

”Hei…Kisanak yang berpakain Brahmana….Siapa kamu? Mengapa berani menghalang – halangi niatku untuk menghukum adikku”

”Raden….mohon maaf atas kelancangan saya ini….Yah…meskipun buruk rupa dan penampilan saya, saya ini seorang Resi. Nama saya Resi Drewasa, dan saya berasal dari pertapaan Atas Angin Raden…”

“Yah…segeralah kamu ceritakan, alasan apa sehingga kamu menghalang – halangi niatku dan kamu katakan ini bukan salah Adikku Dewi Kunti..hemm??”

“Raden…sekitar setahunan yang lalu, saya berniat mengabdi di Kerajaan Mandura, atas saran Dewi Kunti, Sinuwun Prabu Mandaraka mengijinkan saya dan pada akhirnya saya menjadi Guru olah jira Dewi Kunti….”

Resi Drewasa belum menyelesaikan kalimatnya ketika Basudewa menyela.

“Oh….jadi kamu yang membuat malu negara ini? Tidak imbang dengan gelarmu sebagai Resi. Namun tingkahmu tidak ada bedanya dengan bajingan..Hayoh sekalian aku ringkus dan aku haturkan ke hadapan Sang Rama Prabu…”

”Sebentar dulu raden….,kalimat saya tadi belum selesai. Mohon ijinkan saya menjelaskan selengkapnya. Raden……….tidak ada yang diarah oleh Dewi Kunti dalam belajar ilmu kepada saya kecuali Dewi ingin diajarkan Ajian Kunto Wekasing Rasa Sabdo Tunggal Tanpa Lawan, yang berupa mantra panggendaman. Mantera ini mempunyai kelebihan bagi siapa putri yang menguasainya jika mantra ini di-wateg dengan sepenuh hati dan konsentrasi maka dia akan bisa mendatangkan Dewa Siapaun yang dikehendakinya. Namun…..ada pantangan dalam menerapkan ajian ini Raden. Ajian ini tidak boleh diterapkan dalam kondisi dua hal. Pertama…………….yang pertama ajian ini tidak boleh diterapkan saat di pasarean atau menjelang tidur. Yang kedua….ajian ini tidak boleh diwateg saat mandi keramas. Tetapi…karena saking inginnya Dewi Kunti mencoba keampuhan ajian ini, beliau lupa. Saat Sang Dewi mandi keramas, diterapkannya ajian ini. Diterapkannya ajian ini…….Geger di Kahyangan Suralaya akibat daya keampuhan ajian ini. Kala itu Dewa Surya, Dewa nya siang hari sedang tidak memenuhi suatu kewajiban. Maka datanglah Dewa Surya di hadapan Dewi Kunti yang sedang mandi keramas. Sampai di sini,…agak sulit untuk diceritakan. Singkatnya saking gembiranya Dewa Surya, ya Dewa Arka ini karena sudah berbincang dengan Dewi Kunti sang pemilik ajian, maka Dewa Surya menganugerahi kesenangan dan berkah berupa jabang bayi yang dikandung Dewi Kunti itu Raden…..”

Kembali terkejut bukan kepalang Raden Basudewa mendengar penuturan Resi Drewasa mengenai apa yang menimpa adiknya itu. Benar apa yang dikatakan adikknya. Hanya sedikit kekhilafan sehingga adiknya menyandang nestapa seperti ini. Timbul rasa penyesalannya atas apa yang baru dilakukan terhadap adik yang disayanginya itu. Dewi Kunti masih tetap Dewi Kunti yang bersih jiwanya dan luhur budinya. Menangis sesenggukkan Raden Basudewa.

”Aduh Dewi Kunti….adikku yang aku sayangi. Kiranya maafkan aku dinda, sebagai orang tua harusnya Kakang tidak bertindak gegabah seperti tadi. Seharusnya aku bisa bersikap lebih bijaksana daripada sekedar menuduh adinda berbuat sedeng. Maafkan aku yayi….”

”Kakang Basudewa…………, bukan Kakang yang bersalah tetapi sayalah yang berdosa. Mohon ampun Kakang…”

”Ya yah, Dewi Kunti….sekarang tinggal kita pikirkan bagaimana jalan keluar dari penandhang ini. Resi Drewasa….”

”Saya Raden…..”

”Saya ibaratkan orang membathik, Resi Drewasa telah memulai ngengrengaannya (disain, sketsa), oleh karena itu kamu yang harus menyelesaikan batikan itu Resi. Terserah kamu bagaiamana penyelesaian dari masalah adikku ini”

”Baiklah Raden…memang saya sudah merasa akan harus menyelesaikan masalah yang timbul karena ajian yang saya ajarkan itu. Mohon Raden Basudewa sejenak menyingkir dari ruang keputrian ini. ”

”Ya ya…terserah kamu Resi, bagaiamana seharusnya…” Basudewa menyingkir dari ruang keputrian

”Dewi Kunti…”

”Bagaimana Drewasa….?”

”Saya akan memohon kepada yang membuata jagad seisinya agar Dia sudi memberikan pertolongan kepada kita. Mohon Dewi Kunti kembali mengucap mantera Kunto Wekasing Rasa Sabdo Tunggal Tanpa Lawan. ”

”Baiklah Drewasa………”

Drewasa….adalah Seorang Brahmana suci yang sudah lebih dari kenyang dalam olah jiwa. Kebeningan dan kejernihan jiwanya sudah mencapai tingkat sempurna. Selama hidupnya hanya kebaikan kebaikan dan kebaikan yang ditanamnya. Hatinya bersih jauh dari noktah cela sifat buruk manusia. Oleh karena itu, tidak heran jika Yang Akarya Jagad mendengar dan mengabulkan segala keluh kesah dan permintaannya. Dengan kesaktian dan keampuhan doanya, disatukan konsentrasinya kepada perut Dewi Kunti dan san janin yang dikandungnya. Kala itu kandungan menginjak usia empat bulan. Dengan sekali kedip seolah kandungan dan janin dipercepat usianya menjadi sebulan lebih. Sekedip mata kemudian, usia kandungan menjadi enam bulan, tujuh bulan, delapan bulan, sembilan bulan sepuluh hari. Brool………………..lahirlah jabar bayi dari Rahim Sang Dewi Kunti. Seorang jabang bayi lelaki dengan yang sehat dengan wajah tampan dan tubuh sempurna. Menetes air mata Dewi Kunti karena bahagianya memandang anak pertamanya ini, meskipun melalui proses yang tidak normal.

Raden Basudewa kembali ke ruang keptrian.

”Kunti, anakmu lahir apa adikku ??”

”Lahir bayi Kakang…”

”We lah…la iya, maksud Kakang Laki – laki apa perempuan ??”

”Lelaki Kakang…”

”Waduh…wah tampan sekali putramu yayi…wah hemmm…….Drewasa…”

”Saya Raden…”

”Bagaimana selanjutnya ini…?” Basudewa masih belum bisa berpikir, pikirannya buntu akibat semua hal yang beru dimengertinay kali ini.

”Raden…apakah Raden berkehendak memberikan nama kepada bayi ini ?”

”Drewasa…, semua aku serahkan kepadamu saja Resi. Pikirku masih buntu, hatiku masih kosong, perasaanku tidak karu – karuan. Kalau aku yang memberi nama bayi ini, khawatir salah dan tuna dungkap

”Dewi Kunti bagaimana ??” Resi Drewasa meminta pendapat Dewi Kunti

”Terserah kamu saja Drewasa…”

”Baiklah kalau begitu Raden…..Anak ini saya beri nama KARNO BASU SENO”.

Saat itu jagad seisinya seolah ikut menyaksikan penamaan sang jabang bayi. Terbukti secara tiba – tiba datang petir bersahutan diiringi hujan deras mengguyur dari langit.

”Resi Drewasa, apakah alasannya dan apakah artinya sehingga anak ini kamu beri nama Karno Basuseno ?”

”Ya Raden, kurang lebih maknya begini Karno aritnya sorot (sinar), Basu artinya srengenge (matahari), Seno artinya Anak. Jadi jabang bayi yang wajahnya bersinar indah ini sejatinya anak dari Sanghyang Surya ya Sanghyang Arka Dewanya siang hari….”

”Yah…syukur jika begitu. Mudah – mudahan namanya ini menunjukkan kecocokannya dengan peristiwa yang dialami si jabang bayi. Terus bagaimana lagi ini, padahal Kunti itu belum bersuami, dan bagaimana nanti jika sampai kerabat keraton dan rakyat mengetahu jabang bayi ini?”

”Dewi Kunti…mohon Dewi Kunti memikirkan memilih yang mana antara sayangnya dengan putra atau kewibawaan dan keluhuran Rama Prabu beserta Kerajaan Mandura?”

”Maksudnya bagaiamana Drewasa?”tanya Kunti

”Dewi…anda harus merelakan salah satu lepas putri….”

Tentu Dewi Kunti sependapat dengan Drewasa, harus ada yang dikorbankan dalam hal ini. Antara anaknya atau kehormatan kerajaan. Tentu saja suatu pilihan yang teramat sulit untuk diputuskan. Dilihat – lihatnya lagi wajah tak berdosa Karno Basuseno. Mengalir deras air matanya…”Anakku sayang…..betapa mengenaskan nasibmu Nak……….Dosa apa yang ibu Sandang Karno sehingga kita harus menghadapi masalah ini. Maafkan ibumu ini ya Nak..Duh Romo Prabu, mohon maaf atas dosa dan aib ananda ini. Terbukti saya adalah putri yang tidak bisa dijadikan teladan sama sekali….”

”Sudah – sudah adikku…” Basudewa mencoba menghibur. ”Ini semua sudah kejadian, semuanya diluar kehendak dan kemauan kita yayi…Sebagai manusia kita hanya sekedar menjalankan titah yang punya hidup. Sekarang…………..silakan kamu tata rasamu, ademkan pikirmu, beningkan hatimu. Pikirkanlah dengan benar mana yang akan kamu ambil diantara dua jalan itu. Anakmu atau Kerajaan Mandaraka dan Rama Prabu sekeluarga yayi…?”

”Iya Kakang, Baiklah. Resi Drewasa….”

”Saya Dewi….”

”Rasanya saya harus tega kepada anakku Drewasa, karena aku menyangga kewajiban menjaga keluhuran dan kehormatan Rama Prabu, Keluarga Kerajaan dan juga Negara Mandaraka….Jadi bagaiamana Drewasa…?”

”Baiklah Dewi…jika begitu. Mohon Raden Karno dimasukkan dalam Kendaga Wreksa dan hanyutkanlah di Sungai Gangga. Mudah – mudahan, saya berdoa ananda akan selamat sampai dengan dewasanya nanti. Namun berikanlah kalung padanya dan pada bandul kalung itu berikanlah tulisan RADEN KARNO BASUSENO sebagai pertanda nama sang putra”

”Ya baiklah Drewasa….”

Pada malam hari itu, dengan menggondong kendhaga, Dewi Kunti menaiki kereta diiringi Basudewo dan Drewasa menuju Sungai Gangga. Tiada yang mereka percakapkan dalam perjalanan. Semua tenggelam dalam pikiran dan perasaan masing – masing. Dewi Kunti, sebentar – sebentar menangis sesenggukan. Sebentar – sebentar menarik napas dalam. Mau tidak mau, dia terpaksa melepaskan anak yang sejatinya sangat disayanginya itu. Bukan hanya perasaan kehilangan yang memenuhi pikirannya namun juga rasa berdosa yang seolah tanpa batas. Sebagai seorang ibu, seharusnya dia dengan penuh kasih sayang menyusui dan membelai anaknya yang baru lahir itu. Namun apa yang dilakukannya?? Demi keharuman keluarga, kerajaan dan negaranya, dia harus berpisah dengan anaknya itu. Sampai di tepi sungai, kereta berhenti. Dewi Kunti turun dari kereta dengan menggendong kendhaga. Jalannya terhuyung tak terkendali. Langkah kakinya seolah tidak dikendalikan oleh otak dan pikirannya. Otak dan pikirannya penuh dengan perasaan yang tidak terdefinisikan. Sebentar – sebentar Dewi Kunthi tersandung jarit yang dikenakannya. Sebentar – sebentar terhuyung. Sampailah dia di bibir sungai gangga yang luasnya hampir sepemandangan mata. Seberang sungai tidak terlihat dengan jelas oleh mata telanjang, apalagi di tengah malam yang berkabut seperti ini.

Diletakkannya kendhaga di bibir air Sungai. Belum mau dilepaskannya. Lama termenung dan terus menangis menumpahkan kesedihan, penyesalan, kekecewaan dan rasa dosa yang disandangnya.

”Anakku ngger…Basukarno….Pedih sekali merasakan sambutanmu lahir di dunia ini. Anakku……..maafkanlah ibumu ya ngger….Ibumu berdoa, semoga dewasamu nanti menjadi Satria Sejati yang mulia hidupnya di dunia maupun di kehidupan nanti ya ngger….”

Hujan lebat siang tadi…sore sudah mulai reda. Namun perlahan gemercik gerimis turun lagi kali ini. Kabut malam di pinggir Sungai Gangga menambah muram suasana tengah malam itu. Alam seolah mengerti perasaan Sang Dewi Kunti. Serasa ikut merasakan duka dan penyelesan Dewi Kunti.

Di atas kereta, Basudewa dan Drewasa hanya mampu memandang dalam temaram apa yang terjadi di tepian Sungai Gangga. Mereka tahu tidak ada yang bisa diperbuat waktu itu kecuali diam dan berdoa. Mereka biarkan Dewi Kunti menyendiri merasakan apa yang dirasakannya. Tidak hendak mereka campuri apa yang akan dilakukan dan dipikirkan Dewi Kunti.

Perlahan Dewi Kunti melepaskan tangannya dari Kendhaga yang berisi jaban bayi Karno Basuseno. Tenang…………air Sungai Gangga menghanyutkan kendhaga. Semakin lama semakin menengah seirama dengan riak air yang tenang. Termangu Dewi Kunti memandang kendhaga yang dihanyutkan air Sungai Gangga. Seolah tidak mau dilepaskan pandangan matanya  dari kendhaga itu. Semakin menengah, semakin jauh, semakin kecil, semakin kecil kendhaga wreksa. Hingga akhirnya mata Dewi Kunti tidak mampu lagi menangkap pantulan cahaya sekecil apapun dari Kendhaga, lenyap dari penglihatan. Kesedihan yang memuncak, kekecewaan yang mendalam, penyesalan yang tanpa batas, rasa dosa yang tak tertahankan sesak memenuhi dada dan kepala Dewi Kunti. Rebah tanpa sadar, Dewi Kunti pingsan di pinggir Sungai Gangga………….

[Bersambung....]

Duryudono – Salya gugur [3] :Kesepian, kengerian, ragu – ragu dan ketakutan menyertai Duryodono menghadapi saat – saat akhir peperangan. Maret 29, 2009

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
add a comment

Tengah malam menjelang ketika Kusir kereta Prabu Duryudono memacu kuda – kudanya menuju Istana Kerajaan Astina Pura dari perkemahan Bulu Pitu ketika itu. Karena kencangnya kuda dan kereta berlari, roda – roda terasa tidak menyentuh bumi. Seolah terbang, melesat. Gaya gesek udara dan bumi yang dipijaknya seolah tidak dapat menahan laju kencang sang rata. Perasaan Prabu Duryudono pun seolah berpacu melepas rindu kepada istri tercinta.

Sekejap kereta sudah sampai di halaman istana kerajaan. Dengan perasaan rindu dan suka cita yang menyala Dewi Banowati berhambur menubruk dan merangkul badan Sang Prabu.

Duh Kakang Prabu….betapa senangnya hati dan perasaan hamba hatta melihat Kakang Prabu kembali ke istana kerajaan. Mari Kakang Prabu, hamba sudah siapkan dedaharan kesukaan paduka. Seperti hari – hari kemarin, hamba selalu menyiapkannya untuk Paduka meskipun kebanyakan sia – sia karena Kakang tidak juga meninggalkan medan perang untuk menemui hamba.”

Adinda Banowati…istriku yang aku puja dan aku sayangi. Tidak seujung kukupun aku meragukan cinta dan pengabdianmu bagiku. Puluhan tahun kita menikah. Adinda selalu setia mendampingi dan menunggu pun kakang di kala susah maupun senang. Istriku…tidak diragukan lagi, kamu adalah istri yang sungguh setia. Seperti karang di tengah samudra pendirianmu dalam menyayangi aku. Saat semua orang memujaku, kamupun mengharapkanku. Saat semua orang menghinaku, kamupun tetap menjagaku. Sayangku…biarkanlah aku bersihkan dulu badanku ini. Tidak enak rasanya bersanding denganmu dengan bau peluh dan darah begini.”

Baiklah kakang prabu, marilah…biarkan saya membersihkan badan Kakang Prabu…”

Dengan penuh kasih sayang Banowati memandikan sang belahan jiwa penitip raga. Sejenak Prabu Duryudono melupakan kalutnya hati akibat kegagalan demi kegagalan para senopatinya di medan laga Kurusetra. Terasa sudah begitu lama suasana berdua dengan sang istri ini tidak dinikmatinya. Mereka berdua saling bersenda gurau, bercengkerama layaknya sepasang burung merak yang sedang memadu asmara. Oh…usapan lembut tangan istrinya yang menyeka sekujur badannya benar – benar memberikan sensasi yang tiada tara. Dipandanginya wajah paruh baya istrinya yang dilihatnya masih saja memancarkan kecantikan seorang putri. Kecantikan wajah, keteduhan mata sang istir seolah tiada pernah luntur setetespun dari semenjak pertama kali dilihatnya puluhan tahun yang lalu. Banowatipun demikian. Beberapa hari ditinggal sang pujaan hati menyebabkan rasa rindunya memuncak kali ini. Tanpa sadar perlahan – lahan naluri suci mereka sebagai sepasang jalma manusia timbul menyembul di pikiran, rasa, dan naluri mereka. Selembar demi selembar rasukan Banowati terlepas dari badannya. Selanjutnya biarlah mereka berdua yang mengerti dan menikmati apa yang mereka berdua lakukan.

Setelah segar salira dan terlepaskan puncak keinginan naluri manusia mereka, mereka menuju ruang perjamuan yang sudah disiapkan oleh para emban keputrian. Banowati memulai mengutarakan apa yang selama ini dipikirkannya mengenai perang antar saudara sedarah ini.

Sinuwun, Kakang Prabu pepunden kula…”

Ya…bagaimana adinda…”

Kakang Prabu…, hamba sangat berharap sekarang saatnya Kakang Prabu berubah pikiran mengenai perang ini. Kakang Prabu…siapa to sebenarnya yang menjadi lawan Kurawa dalam perang ini? Tidak lain tak bukan adalah saudara sedarah sendiri. Pandawa berasal dari darah dan daging sendiri dengan Kurawa. Kakang Prabu…, demi cinta hamba kepada paduka mohon kiranya dipertimbangkan kembali untuk menyudahi saja perang ini sampai di sini. Kakang Prabu…,hanyalah sejengkal tanah yang diperebutkan dalam perang yang sudah banyak memakan korban saudara sendiri ini. Kakang.., saya rasa Kakang tidak akan kehilangan wibawa dan kekuasaan hanya karena menyerahkan separuh Hastina dan mengembalikan Kerajaan Amarta milik para Pandawa. Saya percaya, kehormatan Kakang akan tetap terjaga dengan demikian. Terlebih lagi, dengan demikian, Kakang akan bisa menyelamatkan ribuan prajurit yang kemungkinan akan terus menjadi korban. Kakang, dengan demikian akan mencukupkan sampai di sini penderitaan kawula cilik akibat keganasan perang saudara ini. Terlebih lagi, Kakang akan menolong hamba mengatasi penderitaan dan kekhawtiran akan keselematan paduka…..”

Belum selesai Dewi Banowati mengutarakan semua isi hatinya, Duryudono menyela.

Cukup…! Cukup….sudah kata – katamu Banowati”

Otak dan hati Duryudono rupanya sudah tertutup dengan nafsu dan rasa malu. Baginya perang ini harus diselesaiakan sampai tuntas, apapun pengorbanannya. Terlalu berharga setengah Hastina dan Kekuasaan akan Amarta untuk diserahkan kepada Pandawa. Baginya hanya ada nol atau satu. Nol untuk Pandawa, semua untuknya. Maka, jangankan ucapan Banowati diikutinya, wejangan ayah mertua dan para pinisepuh yang lainnya pun tidak pernah digubrisnya.

Banowati……apa yang kamu ucapkan itu kelihatannya madu di bejana yang kamu haturkan kepadaku. Namun sejatinya isinya racun yang akan menjerumuskan diriku!! Banowati….cobalah kamu pikirkan. Para senopati, para pinisipuh Astina telah mengorbankan jiwa raganya membela Kurawa dalam perang ini. Bagaimana mungkin aku bisa enak – kepenak, setelah mereka semua gugur? Kalau Eyang Bisma, Bapa Druna, Anakku Lesmono, dan ratusan para raja sekutu merelakan badan dan nyawanya untukku, bagaimana mungkin aku akan menyerah begitu saja kepada Pandawa? Belum lagi pengorbanan tanpa tanding Kakang Karno yang saudara sedarah Pandawa sendiri. Betapa memalukannya aku, jika aku putuskan menyudahi perang ini hanya untuk kesalamatanku sendiri??. Tidak…tidak akan aku menyerah istriku!. Biar bagaimanapun aku adalah juga prajurit yang mempunyai keahlian perang yang dapat diandalkan. Karena itu Banowati…, sekalian pagi ini aku pamit maju perang! Kalau hanya lima pandawa saja, rasanya aku akan dapat mengatasinya”

Duh Kakang Prabu….”, dalam kesedihan yang mendalam Banowati membuncahkan tangisnya. Dia tahu, kalimat terakhir Duryudono itu hanyalah penghibur diri. Dia tahu pasti bagaimana keprigelan Duryudono dalam olah perang. Duryudono, adalah putra raja yang terbiasa hidup mewah dari lahir. Raganya tidak pernah terlatih untuk menghadapi masalah dan kesulitan. Tangan nya hanya terbiasa digunakan untuk menunjuk dan memberikan titah, tanpa pernah sekalipun bertindak sendiri. Kakinya hanya terbiasa melangkah dari ruang peristirahtan ke pendopo istana. Bahkan telapak kakinya pun belum pernah merasakan kerasnya tanah dan tajamnya kerikil bebatuan di luar istana. Perutnya tidak pernah merasakan kelaparan bahkan mungkin selalu terlalu kenyang. Jiwa duryudono terbiasa dengan kenikmatan dan kesenangan. Jiwanya tidak pernah dilatih untuk mengendalikan dan menahan diri. Apalagi laku tapa brata mengekang nafsu duniawi, seperti para ksatria yang lain. Hidup duryudono selalu enak, enak dan enak. Bagaimana mungkin dia akan menandingi para Pandawa yang sudah sangat kenyang dengan olah budi, latih diri. Para Pandawa terbiasa dengan hidup dengan penuh tempaan jiwa dan raga. Sudah kondang seluruh jagad bagaimana mereka selalu lolos dan dapat bertahan dari cobaan hidup yang sangat berat dan terasa hanya makhluk sekualitas Dewa yang mampu mengatasinya. Bukan hanya jiwa raganya yang sangat terlatih dan penuh pengalaman – pengalaman dalam bertahan hidup. Para Pandawapun terkenal sebagai kekasih – kekasih Hyang Widi yang selalu mendapatkan pertolonganNya. Itu semua karena olah budi, dan keluhuran pribadinya.

Jika menghadapi Puntadewa, mungkin saja Duryodon akan menang. Sebab memang Puntadewa sulung Pandawa ini tidak pernah sekalipun berperang. Puntodewa lebih bersifat sebagai pertapa daripada kesatria. Bisa jadi dalam sekali hantaman gada, Puntodewa akan dapat diatasi. Itu lebih karena Puntodewa tidak bisa melawan, bukan karena kesaktian Duryudono. Tetapi, apakah mungkin Pandawa yang lain ”menyerahkan” begitu saja pepunden mereka untuk menghadapi Duryudono. Lalu yang mungkin akan dihadapi Duryudono mungkin Arjuna atau Wrekudara. Jika Arjuna yang dihadapi, apa yang akan menjadi andalan Duryudono? Jangankan Duryudono yang memegang busur panah pun belum pernah, Adipati Karno yang memanah dengan mata terpejam pun tepat sasaran tewas dengan leher terpenggal panah Arjuna. Maka dapat dibayangkan, belum sampai berhadapan satu lawan satu mungkin Duryudono akan tewas di atas kereta atau tunggangan gajahnya sebelum sempat mendekati Arjuna. Tetapi dengan mati beginipun, mungkin masih lebih bagus karena akan tewas seketika dengan penderitaan minim. Tetapi jika yang dihadapinya Wrekudara. Banowati tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Wrekudara selalu memlilih berperang dengan duel satu lawan satu. Dengan kekuatan dan keprigelan Wrekudora memainkan gada, rasanya hanya tinggal menunggu waktu untuk melihat Duryudono jatuh terjengkang diterpa gada Rojakpolo Wrekudara. Dan waktu terjengkang itu rasanya tidak akan terlalu lama, mungkin hanya beberap kedip mata dari saat mereka berdua berhadapan. Selain prigel, Wrekudara juga sangat berpengalaman menerapkan ilmu olah gada yang didapat dari Baladewa ini. Gada Rujakpolo itu, didapatnya dengan penuh perjuangan. Wrekudara terlebih dulu harus mampu mengalahkan si Pemilik, Raden Gandamana dalam suatu sayembara. Wrekudara pernah menjadi satu – satunya jago yang memenangkan sayembara saat Kangsa Adu Jago. Saat babad alas Amarta, Wrekudara mengalahkan jin Parta dalam duel satu lawan satu. Bukan hanya olah raga, Wrekudara adalah ksatria dan juga pandita. Dia adalah murid Bethara Bayu, juga murid Pandita Kendali Sada Hanoman sang pandita berwajah kera itu. Belum lagi pengalam luar biasa ketika Wrekudara mencari air suci rahasia hidup. Saat itu atas perintah guru yang dihormatinya Pandita Druna, dari Pegunungan Himantika hingga Samudra Hindi dijelajahinya. Sementara apa yang dapat dibanggakan dari Duryudono, suaminya tersayang ini? Tidak sekalipun terdengar Duryodono pernah menunjukkan kepandaian olah perangnya. Lalu sekarang…Duryodon berani bersumbar untuk menghadapi lima Pandawa, sendirian. Apakah ini namanya bukan soroh pati, menyerahkan hidupnya bulat – bulat ?? Jika langsung mati, mungkin lebih baik. Tetapi rasanya penderitaan Duryudono akan lebih lama jika duel satu lawan satu dengan Wrekudoro. Apalagi Banowati juga tahu betapa Wrekudoro punya dendam sampai sungsum tulang kepada Duryudono saat Pandawa Kalah pesta judi dadu dulu. Saat itu Drupadi dipermalukan tanpa batas oleh Kurawa. Wrekudara tidak dapat melakukan apa – apa ketika itu, kecuali hanya gereng gereng seperti singa marah. Marah dan dendam itu dibawanya sampai ke ubun – ubunnya, dan sempat terucap darinya, tidak akan pernah terpuaskan rasanya oleh apapun sebelum menyempal – sempal paha dan bahu Kurawa.

Aduh..Kakang Prabu, mohon sekali lagi Kakang Prabu mempertimbangkan kembali keputusan itu. Kakang Prabu, tidakkah paduka merasa kasihan kepada hamba ini? Kakang Prabu…kita tahu Kakang Karno pun tidak kuasa menandingi Arjuna sendiri, bagaiman mungkin Kakang akan menghadapi lima Pendawa???”

Sudah, Banowati kamu tidak usah menangis lagi. Ini sudah menjadi keputusanku sebagai Raja dan suami kamu. Bagaimanapun kamu harus taat atas keputusan dan perintah ini. Banowati….tidak bisa dipungkiri, kondisi pertahanan Hastina tidak mampu aku jamin saat ini. Oleh karena itu Banowati, kamu harus mengungsi dari istana Kerajaan pagi ini juga. Emban…..kamu panggil Kartomarmo agar menghadap sekarang”

Raden Kartomarmo menghadap. ”Sendika dawuh Kakang Prabu memanggil hamba…”

Kartomarmo, bawalah prajurit secukupnya. Jika perlu Aswatama kamu ikutkan, kawal lah Kakang Mbokmu Banowati untuk mengungsi. Terserah saya pasrahkan kepadamu adikku, yang penting Banowati selamat tanpa kurang suatu apa..”

Sendika Kakang, tetapi boleh kah saya tahu kemana kiranya Kakang akan pergi ??”

Aku akan terjun sendiri ke medan perang menjadi senopati Kurawa. Sudah saatnya aku sendiri yang harus mengatasi Pandawa saat ini”.

Duh Kakang Prabu…,salah apa saya? Sehingga saya tidak pernah anda perintahkan untuk menjadi senopati dalam perang Baratayuda ini? Seumur hidup saya dan keluarga menikmati segala kenikmatan Kerajaan Hastina. Tapi kenapa kita negara ini dalam bahaya dan situasi genting seperti ini, tenaga saya seolah tidak dibutuhkan?”

Kartomarmo…Ini bukan perkara salah dan benarmu. Tetapi ini urusan bagi – bagi tugas yayi. Sudahlah kamu terima saja tugasmu ini. Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada Banowati.”

Sendika dawuh Kakang, jika memang begitu perintah paduka. Hamba mohon pamit dan pangestu nya”

Baiklah, jangan buang – buang waktu. Berangkatlah sekarang juga…Sudah adinda Banowati, yang hati – hati berangkatlah sekarang juga”

Dengan tangis yang semakin kencang Banowati merangkul dan memeluk erat suaminya itu. Seolah tidak mau dilepaskannya pelukan itu, karena dia tahu apa yang akan terjadi. Ini rasanya adalah pelukan yang terakhir kali untuk dan dari orang yang dikasihnya itu. Duh…betapa berat akibat perang ini.

Perlahan – lahan iring – iringan kereta yang membawa Banowati dengan diiringi sebagian pengawal dalam kerajaan hilang dari pandangan Duryudono.

Sepi nglangut, gundah gulana hati Sang Prabu. Sejatinya dalam hati kecilnya dia tidak yakin akan keputusannya ini. Tidak dapat ditipu perasaannya. Kengerian jelas terlihat di pandangan mata dan raut wajahnya. Apa yang akan diandalkannya untuk menghadapi Arjuna? Apa yang akan digunakannya untuk menahan serbuan gada Wrekudara ? Apakah masih ada nyalinya jika terpaksa harus berhadapan dengan Puntadewa. Ah pasti tidak akan langsung bertemu mereka. Namun, apakah dia akan mampu menghadapi Setyaki bahkan Drestajumena sekalipun? Oh….seandainya saja, dulu dia giat berlatih dan belajar olah krida bela diri kepada Guru Kerajaan Pandita Druna, tentu dia tidak akan sekhawatir saat ini. Oh…mengapa selalu saja tersedia kenikmatan dan kesenangan baginya, sehingga hanya itu yang selalu dipilihnya. Oh…mengapa dulu sewaktu umur masih muda dan badan masih sentosa, dia begitu anti dengan peluh keringatnya sendiri? Mengapa dulu dirinya tidak begitu serius meguru keterampilan senjada Gada kepada Kakang Prabu Baladewa. Kakang Baladewa? Oh ya, gurunya itu begitu sayang kepadanya. Hampir setiap momen selalu Baladewa membela dan melindunginya. Tetapi sekarang, “Di mana kamu Kakang ? Bagaimana mungkin paduka tidak mendengar berita besar kejadian perang baratayuda ini? Kakang Baladewa, mustahil Kakang berdiam diri melihat apa yang saya alami saat ini. Tapi bagaimana Kakang sama sekali tidak tahu perang ini telah berlangsung hampir 18 hari??. Kakang, jangankan paduka. Ribuan Raja sebrang yang jauh pun mendengar kabar akan perang ini. Kakang – kakang, di mana Paduka?”

Sang surya telah merangkak naik, ketika Duryodono tersadar dari lamunannya. Diteguhkan hati dan pikirnya untuk memulai perang hari ini. Pengawal dalam kerajaan telah menyiapkan tunggangan Gajah Kyai Pamuk beserta perlengkapan perang yang dibutuhkannya. Perlahan dinaikinya Gajah Kyai Pamuk. Dihelanya tali kekang. Perlahan pula Sang Gajah mulai melangkah.

Meski dicobanya untuk terus menguatkan hati dan meneguhkan tekad, tetap saja keraguan dan kengerian untuk berperang itu dominan terasa. Karenanya wajar jika Sang Kyai Pamuk pun berjalan tanpa arah dan tiada greget. Andai saja Sang Kyai Pamuk dapat bertutur kata, akan ditanyakannya kepada Sang Prabu ”Kemanakah kita akan pergi Sang Prabu? Sudah setengah harian kita berjalan. Tetapi tidak jelas arah mana yang akan kita tuju?. Mohon kiranya Sang Prabu memerintahkan kepada saya, kemana saya harus membawa Sang Prabu.”

Sampai akhirnya tibalah mereka di tepi sebuah sendang (sumber air dengan kubangan) yang tersembunyi di balik bukit. Prabu Duryudono menghentikan langkah Kyai Pamuk. ”He…Gajah Kyai Pamuk…Rasanya ada baiknya kita berhenti di sini. Ini ada sendang yang kelihatannya sejuk dan menyegarkan untuk istirahat. Kyai Pamuk…aku akan beristirahat sejenak di sini. Aku akan kungkum di sini. Tunggulah kamu di pinggir sendang, jangan ke mana. Aku titipkan padamu pakaian dan senjata – senjata perangku ini. Tunggulah kamu di sini”

Maka tengah hari itu, Duryudono bersembunyi dengan berendam di sendang itu, sampai sore nanti secara tidak sengaja Sri Kresna dan Wrekudara menemukan Gajah Kyai Pamuk itu.

Duryudono – Salya gugur [2] : Dalam keterpaksaan Prabu Salya menyanggupi sebagai senopati perang Hastina Pura Februari 11, 2009

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
add a comment

Prabu Salya bukanlah anak kemarin sore yang tumpul panggraitonya, ndableg dan kethul hatinya. Tanpa di-semoni pun dirinya mengerti apa yang dimaksud oleh Sangkuni.

“Anakku mantu Duryudono, Raja Agung Hastina pura…Sudah Ngger saya mengerti apa yang anakmas dan Sungkuni maksudkan. Anak prabu seolah – olah menunjuk utara tapi sejatinya selatan yang dimaksudkan. Tatapan mata dan ucapmu ke Sangkuni, tetapi hati dan pikiranmu menuduh saya Prabu Salya ini. Jadi tidak perlu dilanjutkan lagi kata – katamu itu. Sangkuni…!! Kalau saya rasa – rasakan kamu sudah tua tetapi tidak bisa menjadi tetua, umurmu sudah lebih dari cukup tetapi sikap dan tindakmu jauh dari mencukupi. Seumurku dan selama aku mengenal dan bergaul denganmu, tidak pernah aku rasakan kata – katamu menjadi penyejuk batin, pengayom jiwa. Yang keluar dari mulutmu tidak ada selain bisa, racun yang memanaskan suasana. Dirimu sudah dikuasi oleh nafsu angkara murka, dendam dan kebencian. Hatimu sudah tertutup oleh hasrat berkuasa, kemenangan dan kekayaan duniawi. Oalah Sangkuni…Sangkuni, sejatinya di Hastina kamu hanyalah ngenger, numpang hidup dan nempil kamukten….Kalau bukan Gendari kakakmu itu dipersunting oleh Pemangku Jabatan si Destarata, tidak aku bayangkan di mana kamu akan berteduh. Masih lebih bagus orang kabur kanginan yang tidak jelas asal – usulnya…Wee…lah, ibarat kere munggah bale..namun sikap dan sifatmu jauh lebih asor daripada kaum sudra, Sangkuni….”

Belum selasai Prabu Salya dengan umpatan – umpatannya….Aswatama yang duduk tercenung di pohjok pisowanan menyela. “Sinuwun Prabu Duryudono…mohon maaf tanpa diminta hamba berniat matur paduka..”

“Aswatama…aku ijinkan, apa yang akan kamu utarakan?”

”Sinuwun….hamba ingin mengatakan yang sesungguhnya mengenai apa yang terjadi dengan gugurnya Adipati Awangga, Kakang Karno…”

”Hmm, ada apa dengan gugurnya Kakang Karno, Aswatama?”

”Sebenarnya…”, sejenak Aswatama menahan napas. ”Sebenarnya… tewasnya Kakang Basukarno bukan karena Raden Janaka dengan senjata Pasopatinya…”

”Lancang sekali kamu….!!! Apa dasarnya kamu bisa menarik kesimpulan seperti itu?”

”Mohon maaf paduka. Saat Kakang Karno bertindak sebagai Senopati perang, hamba juga turun ke palagan perang Sinuwun. Hamba perhatikan dari jauh…dan hamba tahu persis apa yang terjadi. Waktu itu Kakang Karno sudah memasang senjata anak panah Kunta Drewasa di busur panahnya. Kita semua tahu, sudah menjadi pergunjingan dunia bahwa di dunia ini hanya ada dua pemanah sejati. Karno dan Janaka. Bagi keduanya jangankan membidik sasaran di depannya, membidik sasaran sambil membelakanginyapun anak panah yang dilepaskan tidak pernah bergeser bahkan seujung kukupun dari sasaran. Begitupula saat itu, saat Kakang Karno membidik leher Janaka, hamba tahu persis dan yakin bidikan itu sudah sangat tepat pada sasarannya. Namun apa yang terjadi…? Raja Agung Mandaraka yang waktu itu menjadi srati (kusir) pengendali kereta perang Kakang Karno tiba – tiba menyentak tali kendali kuda dan menggenjot kereta hingga roda kereta amblas ke bumi, terkejut kuda – kuda kereta itu sehingga kuda – kuda itupun melompat tanpa kendali seiring lepasnya anak panah Kunta Drewasa. Bukan leher arjuna yang terkena tebas anak panah, namun rambut gelung Janaka yang terkena dann ambrol seketika…. Janaka selamat….”

Seperti dihantam palu rasanya dada Prabu Salya, sesak tanpa sebab. Seperti ditotok ubun – ubunnya, darah panas memuncak sampai kepalanya…Dia meloncat dari tempat duduknya bertolak pinggang di depan Aswatama. Merah padam muka Prabu Salya, bibirnya bergetar, suaranya gemuruh menumpahkan amarah.

“Aswatama…Aswatama…..Lancang sekali mulutmu bicara….Serasa arang tempurung kelapa merah meradang sekuali menyiram kepalaku. Sayatan seratus pedang tidak akan mampu mengalahkan tajamnya ucapanmu.!!!! Aswatama, kamu ….anak Pandita Druna dengan Dewi Wilutomo….yang katanya Dewi Kayangan namun selalu berperilaku sedeng, selingkuh selamanya. Kamu tahu riwayat kelahiranmu, hmm??…..Karena nafsu birahinya, Ibumu menjelma menjadi kuda tunggangan yang ditunggangi Bapakmu. Bapakmu tidak kuasa menyebarang samudra luas waktu itu, karenanya dia menunggangi ibumu. Tetapi karena nafsu birahi ibu bapakmu tidak tertahankan, air mani Bapakmu menyiram rahim ibumu. Dan lahirlah kamu Aswatama dari seekor kuda tunggangan. Karenanya lihatlah badanmu…Sekujur tubuhmu berujud manusia, tapi ada yang tersisa dari badanmu berupa hewan. Telapak kakimu tiada beda dengan cuthang kaki kuda.!!! Sekarang dihadapanku… berani – beraninya kamu mengarang cerita yang ngaya wara. Kamu anggap apa aku ini? Aku tidaklah seperti kamu yang untuk hidup pun kamu mengandalkan belas kasihan orang – orang Hastina. Aswatama….di Hastina ini, kamu hanyalah seorang bekathik yang pekerjaanya hanyalah mencari rumput, ngarit, untuk kuda – kuda tunggangan prajurit Hastina. Aswatama….apa kamu tidak malu…..bicara ngaya wara, kamu katakan kuntul sebagai dandang, dandang kamu katakan sebagai kuntul. Cobala kamu tengok punggungmu…..Di mana sikap satriamu? Belum lama kejadiannya berlalu….Ketika Bapakmu ditebas kepalanya oleh Trestajumena, gemelinding kepalanya ditendang – tendang oleh para prajurit Amarta. Kemana kamu waktu itu he..? Jangankan kamu membel bapakmu dengan terjun ke medan laga, hidungmu saja tidak kelihatan. Di saat para prajurit hastina bersimbah peluh mandi darah…kamu malah sembunyi di hutan pegunungan. Sekarang….apa yang kamu katakan ?? He…?? Mana ada mertua tega membuat celaka anak mantunya?? Tidak tahu kalau itu ukuranmu, yang memang tidak tahu tata krama dan suba sita. Terbukti kamu pengecut !, kamu penakut ! Aswatama…hayuh….tidak usah menunggu terlalu lama. Buktikan kamu tidak hanya pandai berkata – kata. Keluarkan kesaktianmu, lawanlah Raja tua bangka ini. Katanya kamu kamu punya keris Kyai Cundomanik pemberian biyungmu Wilutomo. Ayoh…ayunkan ke tubuhku bagian mana yang kamu suka. Piliklah bagian tubuhku yang sekiranya lunak…!!! Sering aku dengar cerita kehebatan Cundomanikmu itu, jangankan tubuh manusia, gunung pun dapat kamu hancurkan dengan kerismu itu. Jangankan tubuhku yang tua renta ini, air samudra pun katanya dapat kamu keringkan dengan senjata andalanmu itu. Sayang aku hanya pernah mendengar saja, sekarang…buktikan kehebatannya kepadaku…Janganlah kamu maju sendiri di hadapanku, kalau memang sekarang kamu masih mempunyai sanak saudara. Hayoh kerahkan..keroyoklah prabu Salya”

Seolah kelu mulut dan bibir Aswatama. Pandangannya menunduk, bulu kuduknya berdiri menahan rasa takut.

“Aswatama….keparat…!!!!! Jangan hanya kamu diam terpaku seperti orang bisu…Kalau aku hitung sampai tujuh kedipan mata, kamu tidak bertindak aku akan menebas batang lehermu keparat !!! Atau kamu mau aku yang memulai!!! Baiklah kalau begitu, ini kerisku cobalah kamu tahan seberapa kuat badanmu…”

Dicabutnya keris yang terselip dipinggangnya, sejurus kemudian keris itu siap dihujamkan ke dada Aswatama. Duryodono melompat dan merangkul Prabu Salya.

“Aduh Rama Prabu, hamba yang memohonkan ampun atas kesalahan dan kelancangan Aswatama. Mohon kiranya Rama Prabu dapat bersabar atas kekurangajarannya….Aswatama……..!!!”

“Hamba…sinuwun Prabu…”, gelapan Aswatama.

“Sekarang kamu pergi dari sini, dan jangan pernah menghadap kalau tidak aku panggil”

“Tetapi sinuwun…”

“Aswatama…!!!! Ini perintahku ! Dengan terpaksa atau sukarela kamu minggat sekarang juga !!!!”

“Sendika sinuwun, mohon maaf…”

Seperti anjing piaraan diusir tuannya, Aswatama pergi terbirit – birit dengan terpaksa.

“Rama Prabu, mohon diredakan amarahnya….Rama. Anggap saja omongan Aswatama itu tadi seperti rengekan anak kecil yang berteriak meminta mainan. Dan jangan dianggap hamba menerima apalagi mempercayai apa yang dikatakan Aswatama…”

Sengkuni tersenyum puas tanpa dilihat siapapun melihat adegan – adegan ini. Dia puas karena Duryudono sudah “mengerti” strategi dan menerapkannya sesuai kepentingannya. Saat ini lebih penting dan menyenangkan rasa Prabu Salya daripada mendengarkan kebenaran dari cucurut seperti Aswatama yang tidak dapat memberikan keuntungan apapun kepadanya. Toh sesakti apapun dan bagaimanapun caranya, Adipati Karno telah mati. Pengadilan yang adil tidak akan menghidupkan lagi sang Senopati. Adipati Karno tidak ada gunanya lagi, dan tentu saja tidak perlu dibela.

“Iya Anak Prabu..saya mengerti. Terimakasih atas kepercayaannya” Salya sudah mulai mendingin…

”Saya bukanlah lawan yang sebanding bagi Aswatama… Saya ini…Singa Barong….Singa Barong tidak akan melawan tikus curut. Saya ini…..Singa Barong…. tidak akan melawan precil anak kodok sekelas Aswatama…Saya ini…Singa Barong.. bukan kelasnya cempe anak wedus seperti Aswatama. Saya ini…Singa Barong!!! yang seharusnya melawan Gajah Amuk…..Jika kalah saya tidak akan malu, dan jika menang saya akan kondang.”

”Sendika Rama….”

”Anak prabu…baiklah. Ibarat bermain air, saya sudah terlanjur basah, ibaratnya menyebrang sungai saya sudah sampai di tengah. Ya sudahlah…mungkin ini memang sudah waktunya bagi Prabu Salya. Besuk pagi seiring terbitnya Bathara Surya, saya akan menjadi senopati perang Hastina Pura. Tetapi karena sekarang sudah menjelang malam, ijinkanlah aku pulang dulu ke Mandaraka pamit dan sekaligus menjenguk ibu mu yang sudah sementara waktu aku tinggalkan…”

”Aduh Rama Prabu…beribu terimakasih hamba haturkan untuk kanjeng rama prabu..Salam ta’zim hamba untuk Ibu Permaisuri Setyawati”

Baratayuda: Duryudono-Salya Gugur [1], Kebimbangan Prabu Salya antara Menantu dan Anak Keponakan Februari 10, 2009

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
5 comments

Salya dalam medan perang Baratayudha, http://media.photobucket.com/image/salya%20gugur/paryawan/MAHABHA1.jpgMemasuki hari ke tujuh belas perang besar ke empat saat ini, Baratayuda Jaya Binangun. Sudah menjadi kodrat Dewata yang Maha Agung, menjadi pembicaraan para resi dan brahmana bahwa perang ini harus terjadi untuk mengadili yang salah dan mengunggulkan yang benar. Apapun alasannya, perang tetaplah perang. Yang unggul akan menjadi arang dan yang kalah akan menjadi abu. Kedua belah pihak yang berlawanan memanggul beban dan korban yang tiada terkira.

Di perkemahan Bulu Pitu saat ini. Kesedihan, kemarahan, kekecewaan, dan kekesalan bercampur baur layaknya darah, bangkai, dan sisa peralatan perang dalam perasaan dan pikiran Prabu Duryudono. Sampai dengan hari ke 16 kemarin sudah tidak terhitung prajurit, kerabat, senopati, dan agul – agul Hastina yang sudah gugur di medan laga demi membela hasrat dan harga diri Sang Prbu. Dia sudah kehilangan putra mahkota Lesmana Mandrakumara yang tewas sampyuh bersama Abimanyu, putra kesayangan Raden Arjuna. Adik iparnya Satria Banakeling, Raden Dayadrata juga telah meragang nyawa tewas di ladang Kurusetra. Demikian juga Satria dari Madyapura Raden Burisrawa juga telah gugur. Sang Maharesi Druna juga tidak kuasa bertahan lebih dari dua hari dalam medan perang, meskipun tewasnya Sang Resi bukan karena keunggulan dan kesaktian panglima – panglima Pandawa. Resi Druna tewas mengenaskan akibat tipu daya muslihat kreasi Prabu Kresna. Drestajumena yang semenjak lahir membawa tanda busur di punggungnya itu, menebas leher Druna dari belakang. Berikutnya, adinda tersayang Raden Dursasana menjadi korban keganasan dan kesemana – menaan Wrekudara dalam medan perang. Tanpa rasa kemanusiaan, Wrekudara menyobek bahu dan paha Dursasana yang sudah sekarat. Demi mendapatkan darah segar Dursasana, agar nadzar Drupadi untuk mandi keramas darah Kurawa itu terlaksana.

Lalu…lalu…di hari yang sama benteng terakhir yang sangat diandalkannya pun tidak mampu menandingingi kehebatan Pandawa. Seorang senopati yang kesaktiannya seolah tanpa tanding. Seseorang yang memberinya kepercayaan diri untuk menghadapi perang ini. Seseorang yang untuknya dia rela memberikan calon permaisuri yang siap disuntingnya. Dia rela melepaskan putri Mandaraka yang diimpikannya untuk san senopati dengan harapan kelak saat perang besar terjadi, ada yang menjamin kemenangan Kurawa. Namun apa yang terjadi? Seringkali keinginan dan rencana besar apapun kreasi manusia, tanpa daya dihadapan yang Maha Pengatur. Adipati Awangga yang dinaungi Dewa Surya pun harus tewas dengan darah membasahi bumi Kurustra. Apa lagi yang dapat diharapkan dalam situasi seperti ini? Memang Dewata menepati janjinya dengan mengirimkan seribu raja lengkap dengan pasukan dan persenjataan perangnya bergabung dengan pasukan Kurawa menghadapi Pandawa. Tapi rasanya itu semua sia – sia, satu per satu mereka tewas tumpas tapis ludes tanpa bekas.

Sekarang…..

Duryudono tahu pasti tinggal dirinya, Patih Haryo Suman, bapak Mertua Raja Mandaraka Prabu Salya, adiknya Karto marmo, Aswatama dan beberapa parujurit penjaga dalam kerajaan yang tersisa. Apa lagi yang bisa diharapkan dari komposisi seperti ini? Sementera di seberang sana, pandawa masih utuh. Segar bugar tanpa cela sedikitpun. Memang di pihak Pandawa juga tidak sedikit korban yang jatuh. Dimulai dari Raden Antareja menjelang perang ini terjadi, kemudian 3 putra mahkota Matswapati Utara, Seta, Wrahatsangka. Abimanyu, Gatotkaca, Bambang Irawan, dan tak terhitung lagi para prajurit serta tamtama yang kehilangan nyawa menumpahkan darah basah di bumi Kurusetra.

Bukan Duryudono jika tidak mbeguguk makutha waton. Andai saja pikir dan rasanya tidak terus menerus tertutup oleh nafsu berkuasa dan tinggi hati, mungkin perang ini bisa diakhiri sampai di sini. Paling tidak dia bisa menghentikan penderitaan diri dan saudara – saudara kurawanya yang tersisa. Dia masih bisa menyelematkan prajurit – prajurit Hastina tersisa, mencegah penderitaan anak – anak yang sangat mungkin akan kehilangan ayahnya, istri – istri yang sangat mungkin kehilangan suami – suaminya. Namun hati dan pikirnya telah disilaukan nafsu berkuasa, telah tertutup dari rasa mawas diri. Harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui kesalahan apalagi kekalahan. Yang ada hanyalah mencari kambing hitam atas semua kesalahan ini. Dan ketika kekecewaanya memuncak menjadi kemarahan, Arya Suman yang menjadi sasaran tudingan.

”Paman Arya Suman !!”

”Hamba angger Prabu…”, jawab Arya Suman yang pura – pura belum ngeh atas kemarahan Prabu Duryudana.

”Paman….Kalau saya pikir – pikir, kekalahan ini semua karena Paman selalu gagal menyelesaikan proyek yang Paman anjurkan dan minta. Berapa kali Paman mengajukan anggaran dan meminta proyek untuk menghancurkan Pandawa? Berapa banyak anggaran kerajaan yang sudah Paman habiskan? Namun semuanya gagal…!! Mulai dari rekayasa pembakaran bale sigolo – golo. Waktu itu paman menjanjikan proyek pasti berhasil. Dengan anggaran yang sama sekali tidak saya revisi, berapa paman minta sebanyak itu saya berikan bahkan saya lipatduakan. Gagal…………Bukan pandawa dan Drupadi yang tewas terpanggang, tetapi para pengemis dan gembel yang tiada artinya sama sekali.”

”Jangankan membunuh para pandawa, sekedar menemukan dan menyingkap penyamaran Pandawa pun, proyek paman selalu gagal. Selama setahun masa penyamaran pandawa selesai pengasingan dua belas tahun itu, berkarli – kali paman mengadakan proyek pencarian Pandawa. Baik yang melalui tender atau penunjukan langsung, semuanya payah !!!. Atas saran paman, saya selelau menyetujui jagoan – jagoan pemenang tender yang paman usulkan. Lalu dengan cara apapun paman meminta kepada dewan pemilih agar memenangkan jagoan – jagoan itu meskipun kenyataannya tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Tanpa rasa peduli dan mengabaikan rasa keadilan, jagoan yang paman usulkan melenggang menjadi pelaksana meskipun tidak memenuhi syarat administrasi maupun teknis. Bagi jagoan paman itu, yang kurang menjadi cukup, yang salah dapat dibenarkan, yang terlambat diberikan toleransi. Sebaliknya, perlakuan tanpa ampun diterapkan pada pesaingnya. Tidak ada toleransi bagi mereka, peasing – pesaing itu. Bahkan sangat sering, lolosnya mereka ke tahap pemilihan berikutnya hanya untuk mendampingi sang jagoan agar syarat jumlah peserta memenuhi peraturan dan pelanggaran aturan tidak terlihat terlalu telanjang.”

Sangkuni hanya terdiam, tertunduk dan sesekali garuk – garuk kepala yang tidak perlu digaruk.

”Hmmm, saya tidak tahu ada hubungan apa Paman dengan para jagoan itu? Saya mulai curiga mereka adalah kerabat dekat paman sendiri yang saya tidak menyadarinya. Atau Paman mendapatkan upeti dari para jagoan itu, dan pada ujungnya para jagoan pelaksana pekerjaan itu memotong anggarannya sehingga menurunkan kualitas pekerjaan mereka? Ah….pantas saja semua proyek ini gagal. Sebagai aparat negara-jika benar paman menerima upeti – sungguh hal itu tidak pantas. Hidup Paman Sangkuni beserta semua aparat kepatihan dan keluarganya sudah ditanggung sepenuhnya oleh negara. Bisa dikatakan gaji paman utuh, karena semua sudah disiapkan mulai dari wisma mewah, kuda tunggangan, pelayan – pelayan dan abdi kepatihan. Namun semua itu belum cukup bagi Paman dan aparat kepatihan, anggaran negara yang seharusnya digunakan untuk tujuan negara yang lebih besar habis dibagi – bagi sebagai upeti bagi paman dan mungkin juga dewan pemilih pelaksana proyek.”

Sangkuni hanya terdiam. Tidak satu orangpun yang tahu apa yang dipikirkannya, membenarkan atau membantah kata – kata Duryudono.

”Maka wajar saja, tidak ada satupun pekerjaan kecil terlaksana. Sekarang sudah terlambat negara ini sudah hampir hancur, negara ini mendekati akhir keberedaannya. Karena politik curang dan ambisi kalian dewan kepatihan akan harta kekayaan dan nafsu kelimpahan kemewahan, negara ini puluhan tahun tidak terurus. Bahkan ditelantarkan, bahkan secara tidak sadar karena kebodohan aparat kepatihan negara ini telah kita hancurkan sendiri. Demi kemewahan dan kepentingan sesaat para aparatnya…. Waaa…….. Duryudono… salah apa kamu kepada para dewata sehingga harus menanggung beban seberat ini???”

Prabu Salya, Raja Mandaraka itu, mencoba menenangkan kekesalan dan kemarahan Duryudono.

”Angger anak prabu, anak mantu saya Duryudono. Mohon ijin saya matur ya Ngger..”

”Silakan rama prabu…sebagai sesepuh Hastina, saya yakin Bapak mertua dapat bersikap bijak dengan mendukung sepenuhnya apa yang telah Kerajaan Hastina putuskan”.

”Anak mantu Duryudono… Belum terlambat menurut hemat saya untuk mengakhiri penderitaan punggawa dan rahayat Hastina saat ini. Setidaknya anak prabu dan duapuluhan Kurawa yang tersisa masih selamat sampai dengan saat ini. Seperti yang selalu saya katakan, jika anak prabu mengijinkan biarlah saya yang menjadi utusan Hastina untuk meminta penghentian peperangan ini sampai di sini saja. Saya percaya Pandawa akan bersedia menerima dengan legawa. Dan saya yakin anak prabu tidak akan kehilangan harga diri apalagi kekuasaan. Setidaknya separo Hastina, bagian mana yang Anak prabu pilih, akan direlakan oleh Pandawa untuk ananda kuasai. Kalau toh itupun masih kurang, dengan rela lagawa saya bisa menyerahkan Kerajakan Mandaraka beserta jajahan dan segala isinya kepada anak Prabu. Toh saya tidak punya putera mahkota sebagai penerus tahta. Tidak ada salahnya sama sekali kalau saya menyerahkan kekuasaan dan kekayaan yang saya punya untuk ananda Prabu, toh ananda adalah menantu saya. Memang dulu saya menyanggupi menjadai Senopati Kurawa pada perang besar ini. Meskipun kata – kata kesanggupan dari mulut saya waktu itu keluar antara sadar dan tidak sadar. Setelah saya menierima dan menikmati segala rupa undangan pesta agung yang ternyata atas kehendak Anak Prabu. Begitu kenyang perut saya, terlepas dahaga saya, terbuai suka cita perasaan saya, anak prabu datang menghampiri dan merangkul pundak saya dengan mengatakan ’Mohon rama prabu nanti bersedi membantu Hastina dengan menjadi Senopati Perang’, sayapun menyanggupi ’iya’….Dan….”

Belum selesai Prabu Salya mengungkapkan semua apa yang dipikirkannya, Patih Haryo Suman menyela.

”Sinuwun Prabu, kepareng paman matur ngger…”

Haryo Suman adalah tipe orang yang pandai memanfaatkan situasi sekecil apapun untuk kepentingan dan namanya. Dengan segera dia bisa membalikkan situasi yang memojokkanya menjadi situasi yang menjadikannya di atas angin. Maka setelah habis dicaci maki oleh Prabu Duryudono, sekarang dia merasa ada kesempatan untuk menyenangkan dan mengembalikan rasa percaya diri Duryudono sekaligus memancing emosi Prabu Salya.

”Anak prabu…, perang ini ananda yang memulai maka menurut hemat Paman sampai kapanpun harus kita teruskan demi menjaga nama baik dan harga diri Raja Agung Hastinapura saat ini yaitu Ananda. Selama saya, Patih Hastinapura masih bernafas jangan harap siapapun pihak lain akan mampu menginjakkan kaki di Hastina tanpa ijin paduka. Kurawa yang masih tersisa dua puluhan orang ini juga selalu siap sedia untuk menghadang para prajurit dan panglima Pandawa. Semuanya sedang menunggu perintah Paduka untuk maju ke medan laga. Anak prabu, saya hanyalah sekedar patih yang tentu saja tidaklah sehebat raja agung. Saya juga bukanlah sesepuh yang bijaksana dan mampu menjadi pembimbing dan penolong momongannya. Namun setidaknya saya adalah orang yang tahu diri dan mengerti balas budi. Lebih dari separo umur hidup saya, saya menumpang di Hastina. Bukan hanya saya, tetapi juga istri dan keturunan saya. Tetapi khan orang seperti saya – yang mengerti balas budi – tidak banyak, adalah biasa bagi siapapun, wakil rakyat, para pemimpin negara atau bahkan seorang raja agung mengingkari janji dan komitmen yang sudah diucapkannya. Apalagi jika yang bersangkutan merasa tidak pernah nempil kamukten di Hastina meskipun putrinya telah ananda muktikan menjadi permaisuri….Jadi ya tidak pelu diharapkan orang – orang seperti ini.”

Prabu Salya mulai merasa, siapa yang ditunjuk hidungnya oleh Sang Patih. Di kesampatan ini, tidak ada lain kecuali dirinya yang putrinya dipersunting dan menjadi permaisuri Prabu Duryudono, yaitu Dewi Banowati. Namun dirinya masih mencoba bersabar, dia tahu hanya akan memperkeruh situasi dan meningkatkan ketegangan antar mereka jika dirinya melayani ocehan Sangkuni. Prabu Salya tahu pasti siapa Sangkuni. Kekacauan dan kehancuran negara ini sebenarnya bersumber pada Sangkuni. Benih – benih permusuhan antara Kurawa dan Pandada semakin menjadi – jadi karena adanya Sangkuni. Sangkuni adalah adik Dewi Gendari istri Destarata. Dia menjadi Patih Hastinapura karena ngenger dan dibawa kakaknya. Dialah yang menanamkan racun permusuhan, nafasu kekuasaan dan keserakahan akan kekayaan dalam diri Duryudono.

Duryudono – lagi – lagi – mulai termakan hasutan Sangkuni.

“Jadi paman, apakah duapuluh Kurawa dan Paman Sangkuni akan mampu mengimbangi kekuatan Pandawa saat ini?”. Sebenarnya tidak diperlukan penegasan jawaban lagi mengenai ini. Duryudono hanya mencoba mengulur waktu dan menghibur diri sendiri. Dia tahu pasti, cukup dengan Werkudoro jangankan dua puluh Kurawa, seratus kurawa masih segar bugar pun akan bertekuk lutut tidak lebih dari zaherí peperangan. Yang diharapkannya adalah kesediaan Salya untuk turun gelanggang perang, entah bagaimana caranya dengan cara halus atau kasar, entah dibujuk atau diintimidisai, entah dengan dimohon atau disindir, dengan menyembah tapak kaki Salya seribu kali pun akan dilakukannya asalkan Sang Mertua bersedia menjadi senopati.

“Anggar prabu Duryudono…..Sekarang inilah yang kita punya. Saya dan duapuluh kurawa yang tersisa. Kita tidak pelu mengharapkan lagi selain di luar itu. Bukan watak Duryudono saya kira, untuk menyerah dan mengemis belas kasih Pandawa”

“Ya benar Paman, hanya saja…..saya menyesali. Mengapa orang tua yang kita harapkan, yang saya sembah – sembah, yang putrinya menikmati kekuasaan dan kemewahan kerajaan di masa damai, tetapi begitu negara dalam masa sulit dan diambang kehancuran, yang bersangkutan sama sekali tidak bersedia cawe – cawe. Berbeda dengan Eyang Resi Bisma, Bapa Druna, dan juga Kakang Adipati Karna….Mereka adalah pinisepuh sebenarnya, yang tidak hanya menginginkan kenikmatan tetapi juga bersedia menanggung kesulitan….”

(Tobe continued…)

Karno Tanding[7], Karno Basuseno Gugur Sebagi Satria Sejati November 15, 2008

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Senangi.
9 comments

Raden Arjuna, satria panengah Pandawa telah berganti busana bagai seorang Raja, mengenakan busana keprabon. Karena keahlian Prabu Kresna dalam ndandani sang adik ipar Arjuna pada kali ini jika diamati tidak ada bedanya dengan kakak tertuanya Adipati Karno. Saking miripnya, Arjuna dan Karno ibarat saudara kembar. Meskipun mereka hanya saudara seibu lain Bapak keduanya bagai pinang dibelah dua. Bahkan karena begitu miripnya, Dewa Kahyangan Bathara Narada pun tidak mampu membedakan mana Arjuna yang mana Basukarno kala itu.

Kedua senopati perang telah bersiap di kereta perang masing – masing. Basukarno dikusiri oleh mertuanya Prabu Salya. Basukarno tahu bahwa Prabu Salya tidak dengan sepenuh hatinya dalam mengendalikan kereta perangnya. Prabu Salya, juga tidak sepenuh hatinya dalam mendukung Kurawa dalam perang ini. Hati dan jiwanya berpihak kepada Pandawa meskipun jasadnya di pihak Kurawa. Karena putri – putrinya istri Duryudono dan Karno, maka dengan keterpaksaan yang dipaksakan Prabu Salya memihak Kurawa pada perang besar ini. Meskipun demikian, berulang kali sebelum perang terjadi Prabu Salya membujuk Duryudono agar perang ini dibatalkan. Bahkan dengan memberikan Kerajaan Mandaraka kepada Duryudono pun, Prabu Salya merelakan asal perang ini tidak terjadi. Namun tekat dan kemauan Duryodono tidak dapat dibelokkan barang sejengkal pun. Tekad Duryudono yang keras dan kaku ini juga karena dukungan Adipati Karno yang menghendaki agar perang tetap dilaksanakan. Adipati Karno, berkepentingan dengan kelanjutan perang ini demi mendapatkan media balas budi kepada Duryudono dan kurawa yang telah mengangkat derajatnya dan memberikan kedudukan yang terhormat sebagai Adipati Awangga yang masih bawahan Hastina Pura. Maka latar belakang ini pula yang menambah kebencian Salya kepada menantunya, Adipati Karno.

Di seberang sana, Kresna telah bersiap sebagai kusir Arjuna. Kereta Kerajaan Dwarapati Kyai Jaladara telah siap menunaikan tugas suci. Delapan Kuda penariknya bukanlah turangga sewajarnya. Kedelapan kuda itu adalah kuda – kuda pilihan Dewa Wisnu yang dikirim dari Kahyangan untuk melayani Sri Kresna. Turangga – turangga itu telah mengerti kemauan dari tuannya, bahkan jika tanpa menggunakan isyarat tali kekang pun. Berbagai medan laga telah dilalui dengan kemengan – demi kemenangan. Bahkan saat Raden Narayana, Kresna di waktu muda, menaklukkan Kerajaan Dwarawati ketika itu.

Atas permintaan Prabu Kresna, Arjuna menghampiri dan menemui Adipati Karno untuk mengaturkan sembah dan hormatnya.

Dengan menahan tangis sesenggukan Arjuna menghampiri kakak tertuanya ”Kakang Karno salam hormat saya untuk Kakanda. Kakang, jangan dikira saya mendatangi Kakang ini untuk mengaturkan tantangan perang. Kakang, dengan segala hormat, marilah Kakang saya iringkan ke perkemahan Pandawa kita berkumpul dengan saudara pandawa yang lain layaknya saudara Kakang…”

Adipati Karno ”Aduh adikku, Arjuna…Kakang rasakan kok kamu seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Menahan tangis sesenggukkan, karena perbuatan sendiri. Adikku yang bagus rupanya, tinggi kesaktiannya, mulya budi pekertinya. Sudah berapa kali kalian dan Kakang Prabu Kresna membujuk Kakang untuk meninggalkan Astina dan bersatu dengan kalian Para Pandawa. Aduh..adikku, jikalau aku mau mengikuti ajakan dan permintaan itu, Kakang tidak ada bedanya dengan burung dalam sangkar emas. Kelihatannya enak, kelihatannya mulia, kelihatannya nyaman. Tapi adikku, kalau begitu, sejatinya Kakang ini adalah seorang pengecut, seseorang yang tidak dapat memegang omongan dan amanah yang telah diniatinya sendiri. Adikku…bukan dengan menyenangkan jasad dan jasmani Kakang jikalau kalian berkehendak membantu Kakang mencari kebahagiaan sejati. Adikku..Arjuna, jalan sebenarnya untuk mendapatkan kebahagiaan sejatiku adalah dengan mengantarkan kematianku di tangan kalian, sebagai satria sejati yang memegang komitmen dan amanah yang Kakang menjadi tanggung jawab Kakang. Oleh karena itu Adikku, ayo kita mulai perang tanding ini layaknya senopati perang yang menunaikan tugas dan tanggung jawab yang sejati. Ayo yayi, perlihatkan keprigelanmu, sampai sejauh mana keprawiranmu, keluarkan semua kesaktinmu. Antarkan kakangmu ini memenuhi darma kesatriaannya. Lalu sesudah itu, mohon kanlah pamit Kakang kepada ibunda Dewi Kunti. Mohonkan maaf kepadanya, dari bayi sampai tua seperti ini belum pernah sekalipun mampu membuatnya mukti bahagia meskipun hanya sejengkal saja.”

”Aduh Kakang Karno yang hamba sayangi, adinda mohon maaf atas segala kesalahan. Silakan Kakang kita mulai perang tanding ini”

Setelah saling hormat antara keduanya, perang tanding kedua senopati perang yang mewakili kepentingan berbeda namun demi prinsip yang sama secara substansi itu dimulai. Keduanya mengerahkan segala kemampuan perang darat yang dimiliki. Sekian lama adu jurus kanuragan ini berlangsung. Saling menerjang, saling menghindar dan berkelebat ibarat burung Nasar yang menyasar mangsanya di daratan. Bagi siapa yang melihat, keduanya sama – sama prigel, keduanya sama – sama tangkas dan keduanya sama – sama sakti. Kelebat mereka demikian cepat seperti kilat. Ribuan prajurit kedua pihak menghentikan pertempuran demi melihat hebatnya adegan perang kedua satria bersaudara ini. Namun bagi mereka yang melihat, kabur sama sekali tidak mampu membedakan yang mana Arjuna dan yang mana Karno. Keduanya mirip, keduanya menggunakan busana yang sama. Perawakan dan pakulitan­nya sama. Hanya desis suara masing – masing yang sesekali terucap yang membedakan keduanya.

Perkelahian tangan kosong ini telah berlangsung sampai matahari sampai di tengah kubah langit. Tidak ada yang kalah tidak ada yang unggul sampai sejauh ini. Keduanya menyerang dengan sama baik, keduanya menghindar dengan sama sempurna. Keduanya menghunus keris masing – masing. Pertarungan tangan kosong dilanjutkan dengan pertarungan dengan senjata keris. Karno memulai dengan menerjang mengarahkan keris ke ulu hati Arjuna. Secepat kilat arjuna menghindar melompat vertikal layaknya belalang menghindar dari sergapan burung pemangsa, Keris Adipati Karno menerjang sasaran hampa, berkelebat berkilat diterpa sinar panas matahari tengah hari. Sejurus kemudian posisi mereka saling bertukar, Arjuna kini menyerang, leher Karno menjadi incaran. Demikian cepat tusukan ini menerobos udara panas menerjang leher Adipati Karno. Namun Adipati Karno tidak kalah cepat dalam berkelit, digesernya leher dan kepalanya menyamping kiri. Tidak hanya menghindar yang dilakukan, penyeranganpun dapat dilakukannya. Sambil menyempingkan badan dan kepalanya ke kiri, tangan kirinya mengirimkan pukulan ke dan mengenai bahu kanan Arjuna. Sedikit terhuyung Arjuna saat mendaratkan kakinya di tanah, meskipun tidak sampai membuatnya roboh. Adipati Karno tersenyum kecil, melihat adiknnya terhuyung. Kini keduanya saling menerjang dengan keris terhunus di tangan. Masing – masing mencari sasaran yang mematikan sekaligus menghindar dari sergapan lawan. Adu ketangkasan keris ini berlangsung sampai matahari condong ke barat, hampir mencapai paraduannya di akhir hari. Tidak ada yang cedera dan mampu mencedarai, tidak ada yang kalah dan mampu mengalahkan.

Keduanya memutuskan perang tanding dilanjutkan dari atas kereta. Arjuna sekali melompat sudah sampai pada kereta Jaladara. Demikian juga Karno, sekali langkah dalam sekejap sudah bersiap di kereta perangnya. Di kereta perang Karno, Karno meminta nasehat sang mertua

”Rama Prabu, saya tidak dapat mengalahkan Arjuna saat perang di daratan Rama”

”Karno, aku ini hanyalah Kusir, tanggung jawabku hanyalah mengendalikan kuda. Asal kudanya tidak bertingkah tugasku selesai.”

”Iya benar Romo, namun putra paduka ini mohon pengayoman Rama Prabu Salya”

”E lah, apa kamu lupa kondangnya Raja Awangga itu kalau perang menerapkan kesaktian aji Naraca Bala”

”Terimakasih Rama”

Adipati Karna menyiapkan anak panah dengan ajian Naraca Bala, begitu dilepaskan dari busurnya terjadilah hujan panah yang mengerikan. Kyai Naraca Bala yang telah ditumpangkan pada anak panah menyebabkan anak panah terlepas dan menjadi hujan ribuan anak panah di udara. Anak panah itu berkilatan seperti kilat menjelang hujan turun di musim pancaroba. Tidak cukup itu, ribuan anak panah itu juga mengandung racun mematikan. Jangankan menghujam ke tubuh, hanya menyenggol kulit pun dapat mengakibatkan kemaitan. Tidak heran para prajurit lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari hujan anak panah itu. Pun demikian ratusan prajurit menemui ajal tanpa mampu menyelematkan diri.

Namun di sisi lain, Arjuna adalah satria kinasih Dewata dengan kesaktian tanpa tanding. Meski terkena ratusan anak panah Naraca Bala, tiada gores sedikitpun kulit sang Panengah Pandawa. Baginya ratusan anak panak yang menghujam ke tubuhnya tiada beda dirasakan layaknya digiit semut hitam.

Penasaran Adipati Karno melihat kesaktiannya tidak berarti apa – apa bagi Arjuna, maka dihunusnya Anak Panak Kunta Drewasa pemberian Dewa Surya. Jagad sudah mendengar bagaimana kesaktian anak panah ini, jangankan tubuh manusia gunung pun akan hancur lebur jika terkena anak panah ini. Secepat kilat anak panah Kunta Drewasa sudah terpasangkan di busurnya. Seperti halnya Arjuna, keahlian Karno dalam memanah tiada tanding di dunia ini. Jangankan sasaran diam, nyamuk yang terbang pun dapat dipanah dengan tepat oleh Sang Adipati. Prabu Salya, hatta melihat anak panah sudah siap dilepaskan dan dapat dipastikan tidak akan bergeser seujung rambutpun dari sasaran leher Arjuna, timbul rasa dengki dan serik nya kepada Karno. Prabu Salya tidak rela anak – anaknya Pandawa kalah dalam perang ini. Maka disentaknya kendali kerata perang bebarengan dengan dilepaskannya Kunta Drewasa, akibatnya kureta perang mbandang tidak terkendali. Tangan Karno pun goyah, dan lepasnya anak panah meleset dari sasaran.

Di sisi lain, Kresna adalah kusir bukan sembarang Kusir. Penghlihatannya sangat presisi, dia tahu apa yang akan dilepaskan oleh Karno. Dia tahu kesaktian dan apa yang akan terjadi kepada Arjuna jika Kunta Drewasa tepat mengenai sasarannya. Maka dihentaknya kereta kuda dengan kaki dan kesaktannya. Roda kereta amblas dua jengkal menghujam bumi. Anak panah Kunta Drewasa terlepas, namun meleset dari leher dan mengenai gelung rambut Arjuna. Jebolnya gelung rambut Arjuna disertai dengan lepasnya topong keprabon yang dikenakannya.

Malu Arjuna karena gelung rambutnya ambrol dan topongnya terlepas. Dia juga was – was jangan – jangan ini pertanda kekalahannya dalam perang tanding ini. Namun Kresna sekali lagi, bukan hanya pengatur strategi dan penasehat perang bagi Pandawa. Dia juga adalah pamong dan guru spiritual para Satria Pandawa. Dihiburnya Arjuna bahwa ini hanyalah risiko perang. Disambungnyanya rambut Arjuna dengan rambutnya sendiri. Digantikannya topong harjuna dengan yang lebih bagus.

”Arjuna…,kelihatannya ini sudah sampai waktunya Adi Prabu Karno menyelesaikan darma baktinya. Semoga Tuhan menerima bakti dan darmanya adikku. Siapkanlah anak panah pasopati yang busurnya berupa bulan tanggal muda itu. Kiranya itu yang akan menjadi sarana menghantarkan Kakangmu Karno menuju kebahagiaan sejatinya”

”Sendiko dawuh Kakanga Prabu, mohon do’a restu Kakang Prabu”

Arjuna menghunus Panah Kyai Pasopati yang anak panahnya berbentuk bulan sabit. Ketajaman bulan sabit ini tidak ada makhuk jagad yang meragukannya. Galih kayu jati terbaik di jagad pun akan teriris layaknya kue lapis diterjang pisau cukur. Arjuna adalah satria dengan tingkat keahlilan memanah mendekati sempurna. Ibaratnya, Arjuna mampu memanah sasaran dengan membelakangi sasaran itu. Dia membidik bukan dengan mata lahirnya namun dengan mata batinnya. Oleh karena itu, meski matanya ditutup rapat dengan kain hitam berlipat – lipat, dia akan mampu mengenai sasaran dengan tepat.

Sekarang anak panah telah siap di busurnya. Ditariknya tali busur, dikerahkan segala konsentrasinya, dibidiknya leher Sang Kakak, Adipati Karno. Dalam konsentrasi yang dalam ini, sebentar – sebentar dia menarik napas. Sebentar – sebentar menata hati dan pikirannya. Saat ini yang dituju anak panah adalah leher Adipati Karno. Saudara sekandung lain bapak. Bagaimanapun, susunan tulang, urat, darah dan leher itu dari benih yang sama dengan lehernya. Darah yang mengalir pada Karno adalah dari sumber yang sama dengan darahnya. Putih tulang leher itu dari jenis yang sama dengan putih tulangnya. Urat leher itu, tiada beda dengan bibit pada urat lehernya. Namun, tugas adalah tugas. Darma adalah darma yang harus dilaksanakan dengan sepenuh hati. Dibulatkan tekatnya, dimantapkan hatinya bahwa bukan karena ingin menang dan ingin mengalahkan dia melakukan ini. Ditetapkannya hatinya, inilah cara yang dikehandaki sang Kakak untuk membuatnya bahagia. Dalam hati dia berdoa kepada Tuhan Yang Maha tunggal, agar kiranya mengampuni kesalahannya ini.

Di seberang sana, Adipati Karno tahu apa yang akan dilakukan adiknya. Dia sudah dapat mengira apa yang akan terjadi padanya. Kesaktian dan ketajaman pasopati, sudah tidak perlu diragukan lagi. Kulit dan dagingnya tidak akan mampu melawannya. Namun, tidak ada rasa takut dan khawatir yang terlihat pada ronanya menghadapi akhir hidupnya ini. Yang adalah senyum kebahagiaan, karena adik yang dicintainya yang akan mengantarkannya menemuai kebahagian sejati. Sebaliknya bukan rona takut dan pucat terpancar pada wajahnya, namun senyum manis dan bersinar wajah yang terlihat. Semakin kentara indahnya wajah sang Adipati Karno.

Sang Kusir, Prabu Salya melihat apa yang akan dilakukan Arjuna. Ketakutan dan khawatir nampak pada wajah dan sikapnya.

Anak panah dilepaskan dari busurnya oleh Arjuna. ”Ssseeeettttttt”, begitu suaranya tenang setenang Karno dalam menerimanya. Lepasnya panah seperti kilatan petir dari kereta Jaladara. Secepat dia mampu, Prabu Salya melompat dari kereta mengindari bahaya. Anak panah tepat mengenai leher Adipati Karno, putus seketika. Kepala menggelinding ke tanah, badanya menyampir di kereta. Adipati Karno telah sampai pada garis akhir kesatraiannya. Dia telah mendapatkan apa yang diharapkannya. Kematian yang terhormat dalam menegakkan darma bakti satria. Basukarno adalah satria sejatinya satria.

Duka menyelimuti Kurusestra dari pihak Pandawa. Lagi mereka kehilangan saudara yang dicintainya. Meskipun Karno di pihak musuh, sejatinya dia adalah saudara kandung mereka. Tidak terkira bagaimana pedih dan perih yang dirasakan Dewi Kunti. Semenjak lahir, anak sulungnya itu telah dibuangnya ke Sungai Gangga. Jangankan memelihara dan membesarkan, menyusui dan membelai bayinyapun tidak pernah dirasakannya. Belasan tahun dia tidak pernah mendengar kabar lagi mengenai anaknya. Setelah sekian belas tahun tidak ada khabar berita, begitu berjumpa anaknya telah memihak musuh Pandawa, anak – anaknya yang lain. Sekarang saat perang ini terjadi, putra bungsunya telah menjadi bangkai di tangan Arjuna anaknya yang lain.

Karno Tanding [6], Kebimbangan Arjuna dalam menghadapi saudara sedarahnya.. November 10, 2008

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Senangi.
1 comment so far

 

Rasa duka dan kehilangan mendalam masih terasakan di Pakuwon Pandawa Mandalayuda, perbatasan Wiratha – Hastina Pura. Para remaja Putra Pandawa berguguran di medan laga. Arjuna kehilangan Abimanyu, Putra pertama yang diharapkan menjadi penerus generasi, penyambung trah Madukara. Bratasena kehilangan Raden Gatotkaca yang gugur dengan antaran Senjata Kunta Prabu Basukarno. Tidak hanya kehilangan anak tersayang, malam ini Wrekudara juga ditinggal istri tercinta Dewi Arimbi. Demi menepati janji sayangnya kepada Gatotkaca, sang Ibu Dewi Arimbi menyusul kepergian sang Putra Gatotkaca dengan nglayu mati obong, membakar diri.

Bagi Arjuna dan Wrekudara, duka ini seolah menghilangkan daya dan semangat hidupnya untuk meneruskan niat suci di awal perang Baratayuda. Perang ini sejatinya bukan hanya untuk hangrukebi tanah Amarta dan separo Hastina yang menjadi haknya. Namun lebih dari itu, perang ini adalah perang suci untuk menentukan dan mengadili siapa yang sejatinya salah atau benar. Ini adalah perang suci untuk menuntaskan lakon angkara murka di muka bumi oleh para satria yang mengmbil kebenaran dan darma bakti sebagai jalan hidup. Perang ini adalah tugas suci dari Yang Maha Kuasa bagi satria utama kesayangan Dewata untuk menumpas angkara murka dan tingkah durjana meskipun dengan pengorbanan tak terkira untuk mewujudkannya.

Tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan yang dalam membuat suasana perkemahan sepi nyenyet seperti kuburan. Puntadewa, Wrekudara, Arjuna, Nakula Sadewa digelayuti dengan pikiran sedih dan duka masing – masing. Puntadewa, menunduk dalam menyilangkan kedua tangan di dadanya, tanpa ucap sepatah pun. Wrekudara, berdiri seperti gunung batu. Tanpa gerak. Hanya sesekali gereng – gereng layaknya singa luka. Arjuna tertunduk lesu seolah tanpa sepotong tulang pun menyangga tubuhnya. Lemas tanpa daya. Dewi Kunti, ibu para Pandawa, sesekali tangisnya membuncah demi mengalami peristiwa memilukan. Pikir dan rasanya belum bisa sepenuhnya menerima takdir Dewata mengapa perang ini terjadi. Mengapa kedua darah kuru ini harus saling bunuh di medan laga seperti ini ? Mengapa Dewata begitu tega mengadu otot, daging, dan darah dua pihak yang masih bersaudara ini?

Hanya Kresna, titisan Wisnu itu, yang terlihat tenang menyikapi suasana dan kejadian ini. Bahkan dia sudah membaca arah perang ini akan ke mana. Maka setelah beberapa saat diberikannya kesempatan untuk para Pandawa menuntaskan perasaan sedih dan kecewanya itu, mulailah dia mencoba memecah suasana nglayut ini.

“Sudah – sudah, adik – adikku penyesalan dan kesedihan kalian jangan sampai berlama – lama kalian renungi. Ingatlah, perjuangan ini masih panjang. Kita masih memerlukan energi, daya, dan upaya yang tidak sedikit untuk menuntaskan tugas suci ini. Jika kalian terus larut dalam kesedihan seperti ini, bagaimana kita bisa menyelesaikan tugas Dewata ini?. Arjuna…Lihatlah Panglima perang Hastina di luar sana tengah mengamuk, merusak dan menerjang barisan prajurit Pandawa. Semakin banyak saja pasukan kita yang gugur tak kuasa menghadapi kesaktian Adi Karno. Yang aku dengar, sumbarnya Adipati Karno selalu mencari dan menantang kamu sebagai lawan, Arjuna. Dan memang menurut apa yang aku rasakan dan aku pikirkan, hanya kamu Arjuna yang kuasa menandingi Krida Kakangmu Adipati Karno. Hanya kamu yang mampu menyamai kehliannya dalam olah panah dan adu curigo. Arjuna…, kalau kamu terus – terusan bersedih begini, percayalah, tidak akan lama lagi pasukan Pandawa akan tumpas habis karena Adipati Karno..”

Arjuna…“Kakang Prabu, sesembahan saya…Orang yang saya hormati, Raja yang sudah kondang bijak di seantero jagad. Lihatlah perang ini, siapa lawan siapa, apa yang diperebutkan?? Pandawa dan Kurawa adalah saudara sedarah. Pandawa adalah anak – anak Pandu Dewanata yang tidak lain adalah adik Dewabrata ayah para Kuarawa. Yang diperebutkan adalah sejengkal tanah Amarta dan Hastina. Namun….hanya beberapa hari perang ini terjadi, berapa banyak jiwa tak berdosa telah terbunuh oleh saudara – saudaranya sendiri. Sekarang….Kakang Prabu mengharuskan saya berhadapan dan akan saling bunuh dengan Kakang Karno yang tidak lain adalah kakak kandung saya sendiri meskipun berbeda ayah. Kakang Prabu….dosa apa dan salah apa nanti yang akan saya sandang dan harus saya pertanggungjawabkan di hadapan Yang Maha Pengadil akibat saya saling bunuh dengan saudara sendiri ? Kakang Prabu….., Kakang Karno adalah darah daging saya sendiri. Darah yang mengalir di tubuh kami adalah darah yang sama, daging dalam tubuh kami adalah dari sumber yang sama. Tulang – tulang yang menyangga tubuh kami dari benih tulang yang satu. Bagaimana saya tega menghadapi orang seperti itu Kakang ? Belum lagi bagaimana perasaan Ibu Dewi Kunti jika melihat kami berdua akan saling bunuh disaksikan ribuan orang di tengah ladang Kurusetra? Kakang…kita sudahi saja perang ini sampai di sini sebelum lebih banyak darah sanak saudara kita tumpah, sebelum daging – daging dari famili kita robek karena senjata dan tangan kita sendiri..Duh Kakang Prabu……, saya terima kalah perang saja tidak apa – apa. Saya terima tidak mendapatkan apa – apa dari tanah Amarta dan Hastina saja daripada harus menghadapi Kakang Karno, darah daging saya sendiri.”

“O…begitu…Adikku yang bagus rupa dan hatinya, adikku yang kondang dikasihi dan selalu menjadi jagonya Dewa. Perang ini tidak hanya sekedar memperebutkan sejengkal tanah Amarta ataupun Hastina. Lebih dari itu ini perang suci yang sudah digariskan oleh Yang Punya Hidup untuk mengadili mana yang salah dan mana yang benar. Perang ini adalah perang yang benar melawan yang salah, adalah perang pembela kebenaran melawan angkara murka. Perang ini akan menuntaskan riwayat sang durjana dengan perantaraan darma bakti suci para satria. Oleh karena itu adiku….Dalam perang suci ini, seperti perang – perang yang lain, tidak ada lagi hubungan sanak saudara. Yang ada adalah musuh yang harus dimusnahkan. Dalam perang yanag ada adalah jika tidak mau dibunuh ya harus membunuh, jika tidak ingin terluka ya harus mau melukai. Dalam, perang butuh pengorbanan itu pasti. Namun itu semua hanya merupakan syarat yang harus kita bayarkan, agar tujuan suci tercapai. Jer basuki mawa bea adikku. Adikku, jika kita tidak ingin berperang dan berkorban, jangan kamu kira keadaan akan lebih baik. Kamu sendiri dan Para Pandawa sudah merasakan betapa menderita dan sengsaranya kalian karena angkara murkanya saudara – saudara mu Pandawa. Tidak hanya Pandawa yang menderita, seluruh rakyat Amarta juga menderita karena mereka tidak merdeka lagi setelah kalian tinggalkan akibat kalian tunduk laksana budak kepada Duryudono dan saudara – saudaranya. Apa kamu akan membiarkan angkara murka terus – terusan meraja lela di dunia ini, hanya karena sayangmu kepada Karno dan ketidaktegaanmu melihat Ibu Kunti sedih – meskipun hanya sementara – melihat salah satu di antara kalian gugur sebagai satria sejati ? Arjuna…aku kasih tahu kamu adikku…Jangan dikira jika nanti Basukarno gugur di medan laga, itu adalah penderitaan buatnya. Oh…tidak adikku…., Ketahuilah kematian yang suci seperti itulah yang dicari oleh Kakangmu Karno. Kamu ingat sewaktu lakon “Kresna Duta” ?. Waktu itu aku bertindak sebagai utusan Pandawa ke Astina untuk meminta kembali hak Pandawa berupa tanah Amarta dan separo Hastina, namun ditolak oleh Duryudono. Waktu itu juga, aku membujuk Karno untuk berkumpul dengan para Pandawa dan meninggalkan Kurawa. Namun bujukanku itu ditolak, mengapa ? Karena Karno tahu, jika dia tidak lagi berpihak pada Kurawa pada perang Baratayuda ini, maka Duryudono tidak akan berani berperang dan itu artinya angkara murka akan terus merajalela di dunia. Selain itu, Kakangmu adalah Satria sejati yang memegang janji dan teguh pada prinsipnya. Kenikmatan dan kesenangan dunia ini tidak ada artinya baginya. Maka kematian dalam perang baginya adalah jalan darma bakti sucinya sebagai satria, oleh karenanya Adikku, bagi Karno kematian ini adalah pintu kenikmatan surgawi adikku. Dan dia ingin kamu, adik yang dicintai, yang akan mengantarkannya menghadap Yang Punya Hidup kepada gerbang kenikmatan surgawi.”

Wrekudara menyahut.“Wa….sudah – sudah, Kalau Jlamprong tidak berani melawan Karno, biar aku saja yang menghadapi Kakang Karno, sekalian membalas dendam kematian Gatot anakku..”

“We…la…,tidak bisa begitu Wrekudara. Perang ini adalah perang suci yang harus taat pada aturan. Dan aturannya, jika Karno menjadi panglima perang, maka yang harus menghadapi adalah Arjuna. Lagi pula, dalam perang suci ini tidak boleh ada dendam. Kedua belah pihak berhadapan hanya didasarkan pada tugas dan peran masing – masing, bukan atas dasar dendam kesumat Wrekudara. Arjuna, bagaimana adikku, sudah siap rasa dan ragamu untuk mengantarkan kematian suci Kakangmu Karno ?”

“Terimakasih Kakang, saya sudah siap, mohon do’a restunya…”

“Bagus..ayo segera Arjuna, jangan sampai kehilangan waktu. Aku yang akan menjadi kusir kereta perangmu yayi..”

Maka berhadapanlah kedua saudara sedarah ini sebagai musuh yang harus saling mengalahkan di ladang perang Kurusetra. Di satu sisi Raden Arjuna mengendari kereta perang Dwarapati yang bernama Jaladara yang dikendalikan sendiri oleh sang empunya Kereta, Prabu Sri Kresna. Di pihak lain kereta perang Basukarno dikendalikan oleh sang mertua Prabu Salya dari Kerajaan Mandaraka.

Karno Tanding [5] Gatotkaca gugur menyelesaikan baktinya sebagai satria September 23, 2008

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Senangi.
19 comments

Hari sudah gelap, sang surya sudah lama meninggalkan jejak sinarannya di ladang Kurusetra. Harusnya perang dihentikan, masing – masing pihak beristirahat dan mengatur strategi untuk perang esok hari. Namun entah mengapa Kurawa mengirim senopati malam – malam begini. Adipati Awonggo ngamuk punggung menerabas dan menghancurkan perkemahan pasukan Pandawa di garda depan. Penjaga perkemahan kalang kabut tidak kuasa menandingi krida Sang Adipati Karno. Secepat kilat berita ini terdengar di perkemahan Pandawa Mandalayuda. Sri Kresna tahu apa yang harus dilakukan. Dipanggilnya Raja Pringgondani Raden Haryo Gatotkaca, putra kinasih Raden Brataseno dari Ibu Dewi Arimbi. Disamping Sri Kresna, Raden Brataseno berdiri layaknya Gunung memperhatikan dengan seksama dan waspada pembicaraan Sri Kresna dengan putranya.

”Anakku tersayang Gatotkaca….Saat ini Kurawa mengirimkan senopati nya di tengah malam seperti ini. Rasanya hanya kamu ngger yang bisa menandingi senopati Hastina di malam gelap gulita seperti ini”

”Waduh, wo prabu…..terimakasih Wo. Yang saya tunggu – tunggu akhirnya sampai juga kali ini. Wo prabu, sejak hari pertama perang baratayuda saya menunggu perintah wo prabu untuk maju ke medan perang. Wo prabu Kresna, hamba mohon do’a restu pamit perang. Wo hamba titipkan istri dan anak kami Danurwindo. Hamba berangkat wo, Rama Wrekudara mohon pamit….”

“Waaa………Gatot iya…..“

Sekejap Gatotkaca tidak terlihat. Sri Kresna merasakan bahwa inilah saatnya Gatotkaca mati sebagai pahlawan perang Pandawa. Dia tidak mau merusak suasana hati adik – adiknya Pandawa dengan mengutarakan apa yang dirasakannya dengan jujur. Namun perasaan wisnu nya mengatakan Wrekudara harus disiapkan untuk menerima kenyataan yang mungkin akan memilukannya nanti.

“Wrekudoro…“

“Kresna kakangku, iya ….“

“Aku kok agak merasa aneh dengan cara pamitan Gatotkaca, mengapa harus menitipkan istri anaknya ??“

“Wah…Kakang seperti anak kecil. Arjuna Satria, Gatot juga satria, satria berperang itu hanya mencari menang atau mati. Ya sudah itulah anakku Gatotkaca, dia mengerti tugas dan akibatnya selaku satria.“

“Oo..begitu ya, ya sudah kalau begitu. Kita sama – sama doakan mudah-2an yang terbaik yang akan diperoleh anakmu Gatotkaca.“. Sebenarnya Kresna hanya mengukur kedalaman hati dan kesiapan Wrekudara saja. Paling tidak untuk saat ini, Wrekudara terlihat sangat siap dengan apapun yang terjadi.

Malam gelap gulita, namun di angkasa ladang Kurusetra kilatan ribuan nyala obor menerangi bawana. Nyala obor dari ribuan prajurit dua belah pihak yang saling hantam gada, saling sabet pedang, saling lempar tombak, saling kelebat kelewang dan hujan anak panah. Gatotkaca mengerahkan semua kesaktian yang dimilikinya. Dikenakannya Kutang Antakusuma, dipasangnya terompah basunanda, dikeluarkan segala tenaga yang dimilikinya. Terbang mengangkasa layaknya burung nazar mengincar mangsa. Sesekali berkelebat menukik merendah menyambar buruannya. Sekali sambar pululan prajurit Hastina menggelepar tanpa daya disertai terpisahnya kepala – kepala mereka dari gembungnya.

Semenjak lahir, Gatotkaca sudah menunjukkan tanda-tanda kedidgyaannya. Ari – arinya berminggu – minggu tidak bisa diputus dengan senjata tajam apapun. Kuku pancanaka Wrekudara mental, Keris Pulanggeni Arjuna tiada arti, Semua senjata Amarta sudah pula dicobai. Namun ari – ari sang jabang bayi seperti bertambah alot seiring bertambahnya usia si jabang bayi. Para pinisepuh Amarta termasuk Sri Kresna pun kehabisan reka daya bagaimana menolong Sang jabang bayi Dewi Arimbi ini.

Maka lelaki kekasih Dewata – Sang Paman Raden Arjuna – menyingkirkan sejenak dari hiruk piruk dan kepanikan di Kesatrian Pringgondani. Atas saran Sri Kresna, Raden Arjuna menepi. Semedi memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kiranya memberikan kemurahannya untuk menolong Pandawa mengatasi kesulitan ini.

Di Kayangan Suralaya, permintaan Arjuna didengar oleh para dewa. Bethara Guru mengutus Bethara Narada untuk memberikan senjata pemotong ari – ari berupa keris Kunta Wijayandanu. Bethara Narada turun dengan membawa senjata Kunta bermaksud menemi Arjuna yang kala itu diiringi oleh para punakawan, abdi tersayang.

Sahdan di tempat lain, Adipati Karno sedang mengadu kepada Ayahnya Dewa Surya, dewanya Matahari. Adipati Karno, memohon welas asih kepada Sang Ayah untuk memberikan kepadanya senjata andalan guna menghadapi perang besar nanti. Dewa Surya menyarankan anaknya untuk merampok Senjata Kunta dari Bethara Narada. Karno dan Arjuna adalah saudara seibu yang wajah dan perawakkanya sangat mirip melebihi saudara kembar. Hanya suara saja yang membedakan keduanya. Maka ketika Adipati Karno dirias oleh Dewa Surya menyerupai Arjuna, Bathara Narada tidak akan mengenal Adipati Karno lagi melainkan Arjuna. Kelicikan Dewa Surya tidak cukup di situ. Siang yang terik dan terang benderang itu tiba – tiba meredup seolah menjelang malam. Dengan upaya dan rekayasanya, terjadilah gerhana surya. Narada, dewa yang sudah tuwa dengan wajah yang selalu mendongak ke atas itu, semakin rabun karena gerhana ini.

Adipati Karno mencegat Bethara Narada, tanpa perasaan curiga diberikannya senjata Kunta kepada ”Arjuna”. Merasa tugas selesai Narada berniat kembali ke Kahyangan. Ternyata masih ditemuinya Arjuna lagi yang kali ini tidak sendiri melainkan diiring para punakawan. Sadar Narada tertipu, diperintahkannya Arjuna untuk merebut senjata kunta dari Sang Adipati Karno. Perang tanding tak bisa dielakkan, namun hanya warangka senjata yang dapat direbut oleh Arjuna dari kakak tertuanya itu. Dengan warangka senjata itulah ari – ari jabang bayi arimbi yang kelak bernama Raden Gatotokaca dapat diputus. Keanehan terjadi ketika sesaat setelah ari – ari jabang bayi diputus, seketika warangka hilang dan menyatu ke badan si jabang bayi.

Sekarang, saat perang besar terjadi takdir itu sudah sampai waktunya. Senjata Kunta mencari warangkanya, di tubuh Raden Gatotkaca. Tidak berarti sesakti apapun Gatotkaca, setajam pisau cukur tangannya memancung leher musuhnya. Konon pula otot gatotkaca sekuat kawat tembaga, tulangnya sealot besi tempa. Kesaktiannya ditempa di Kawah Candradimuka. Namun garis tangan Gatotkaca hanyalah sampai di sini.

Di gerbang yang memisahkan antara alam fana dengan alam baka, sukma Kalabendono, paman yang sangat menyawangi Gatotkaca menunggu “sowan ke pengayunan yang Maha Pemberi Hidup”. Begitu sayangnya Kalabendono kepada keponakannya, sukmanya berjanji tidak akan kembali ke asal kehidupan jika tidak bersama sang keponakan.

Di sisi seberang ladang pertempuran, Karno telah siap dengan busur panahnya dengan anak panah Kunta Wijayandanu. Dalam hatinya berbisik “Anakku bocah bagus, belum pupus bekas ari – arimu….berani – beraninya kamu menghadapi uwakmu ini. Bukan kamu yang aku tungggu ngger…Arjuna mana? Ya ya ..sama – sama menjalani darma satria, ayo aku antarkan kepergian syahidmu dengan Kunta Wijayandanu”.

Gatotkaca, mata elangnya sangat tajam melihat gerak – gerik seekor tikus yang baru keluar dari sarangnya. Pun meski dia melihatnya dari jarak ribuan tombak diatas liang tikus itu. Begitu pula, dia tahu apa yang sedang dilakukan Sang Adipati Karno. Dia tahu riwayatnya, dia tahu bahwa warangka senjata Kunta ada di tubuhnya dan menyokong kekuatannya selama ini. Dicobanya mengulur takdir. Dia terbang diantara awan – awan yang gelap menggantung nun di atas sana. Dicobanya menyembunyikan tubuhnya diantara gelapnya awan yang berarak – arakan di birunya langit.

Namun takdir kematian sama sekali bukan di tangan makhluk fana seperti dia. Takdir itu sejengkal pun tidak mungkin dipercepat atau ditunda. Sudah waktunya Gatotkaca, sampai di sini pengabdian kesatriaanmu. Kunta Wijayandanu dilepaskan dari busurnya oleh Adipati Karno. Di jagad ini hanya Arjuna yang mampu menyamai keahlian dan ketepatan Basukarno dalam mengolah dan mengarahkan anak panah dari busurnya. Kuntawijandanu melesat secepat kilat ke angkasa, dari Kereta perang Basukarno seolah keluar komet bercahaya putih menyilaukan secepat kilat melesat. Di angkasa….Kalabendono yang sudah siaga menunggu tunggangan, dengan sigap menumpang ke senjata Kunta. Senjata kunta dan Kalabendono, menghujam ke dada Gatotkaca, membelah jantung Sang Satria Pringgandani. Dalam sekaratnya, Gatotkaca berucap ”Aku mau mati kalau dengan musuh ku….”. Seperti bintang jatuh yang mencari sasaran, jatuhnya badan Gatotkaca tidak lah tegak lurus ke bawah, namun mengarah dan menghujam ke kereta perang Basukarno. Basukarno bukanlah prajurit yang baru belajar olah kanuragan setahun dua tahun. Dengan keprigelan dan kegesitannya, sebelum jasad Gatotkaca menghujam keretanya dia melompat seperti belalang menghindar dari sergapan pemangsa. Jasad gatotkaca menimpa kereta, Keretapun hancur lebur, pun delapan kuda dengan kusirnya tewas dengan jasad tidak lagi bebentuk. Selesailah episode Gatotkaca dengan perantaraan Uwaknya, Adipati Karno Basuseno.

Gugurnya Gatotkaca menjadi berita gembira di kubu kurawa. Para prajurit bersorak sorai mengelu – elukan sang Adipati Karno. Kepercayaan diri mereka berlipat, semangat perang mereka meningkat. Keyakinan diri bertambah akan memenangi perang dunia besar yang ke empat ini.

Sebaliknya, kesedihan mendalam tergambar di kubu Pandawa. Wrekudara hampir – hampir tidak mampu menguasai diri ”Gatot…, jangan kamu yang mati biar aku saja bapakmu…Hmmm Karno…..!!! beranimu hanya dengan anak kemarin sore..Ayo lawanlah Bapaknya ini kalau kamu memang lelaki sejati…!”. Arimbi, sang ibu, tidak kuasa menahan emosi. Selagi para pandawa meratapi dan merawat jasad Gatotkaca, Arimbi menceburkan ke perapian membara yang rupanya telah disiapkannya. Sudah menjadi tekatnya jika nanti anak kesayangannya mati sebelum kepergiannya ke alam kelanggengan, dia akan nglayu membakar diri. Dan itu dilakukannya sekarang. Pandawa, dengan demikian kehilangan dua keluarga dekat sekaligus di malam menjelang fajar ini. Wrekudara kehilangan anak tersayang dan istri tercintanya. Namun keturunan tidaklah terputus, karena baik Antareja maupun Gatotkaca telah mempunyai anak laki – laki sebagai penerus generasi Wrekudara.

Fajar menjelang, jenazah Gatotkaca dan abu Arimbi telah selesai diupakarti sesuai dengan ageman dan keyakinan mereka. Sri Kresna sudah bisa menenangkan Wrekudara dan para pandawa yang lain. Sekarang saatnya mengatur strategi. Tugas harus dilanjutkan. Pekerjaan harus diselesaikan, perang harus dituntaskan. Dunia akan segera mengetahui, gunjingan dunia mengenai perang besar antar dua saudara kembar akan segera terjadi siang ini.

Karno Tanding[4], Kini giliran Basukarno September 19, 2008

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Senangi.
add a comment

Bau amis kabar tewasnya Dursasana seamis darahnya yang mengalir, menerpa menusuk tembok gapura pasanggrahan bulupitu. Jagad dirasakan runtuh oleh Doryudono begitu mendengar khabar tewasnya adinda tersayang, Raden Dursasana. Otot tulangnya terasa dilelesi, Duryudona roboh seketika tidak kuat menahan diri dan emosi, pingsan. Sangkuni hanya bisa mengaduh dan mengeluh. “Sabar anak prabu….., ini cobaan dari Yang diatas yang akan memenangkan kita dalam perang tanding ini…”. Adipati Karno diam seribu basa. Dalam batin dia sudah merasa hal ini akan terjadi, satu per satu saudara Kurawa akan gugur dan diujungnya nanti Kurawa akan kalah. Hanya karena darma kasatrian dan keteguhan memegang komitmen dan janji sajalah yang membuat adipati Karno mendukung Kurawa, meskipun dia tahu mereka akan binasa. Tapi bagi Karno, hidup tidak hanya di dunia saja. Darma bakti sebagai satria lebih dari sekedar kemenangan dan keseangan duniawi.

Prabu Salya, mungkin dalam hatinya tersenyum kecut. Kematian Dursasana tidak berarti apa – apa buatnya. Dia membantu Kurawa hanya karena mereka adalah menantunya. Dirasa tidak sepenuh hati dan tulus sokongan dan bantuan yang diberikannya. Kalau tidak karena Dewi Banowati putri kesayangannya, mustahil rasanya Sang Raja ada di sini menemani Kurawa. Bahkan, kemungkinan dendam dan rasa syukur sedikit membuncah di dadanya demi dilihatnya jasad terkoyak Sang Dursasana. Orang yang menghinakan putri kesayangannya beberapa saat yang lalu.

Citrakso, Citraksi, Citragada, dan para Kurawa yang lain. Entah apa yang dipikirkan mereka. Mereka hanya anut grubyuk saja kemana angin mengalir, ke situlah mereka akan condong. Hanya karena kakaknya ingin perang, mereka ikut perang. Namun di antara mereka terucap juga kekesalan, penyesalan, dan umpatan meskipun tertahan. ”Ini gara – gara paman Sengkuni, kalau tidak karena bujukan paman Sengkuni, Kakang Duryudono tidak akan menantang perang. Dan kakang Dursasana tidak akan mati sia – sia dan dihinakan seperti ini”. Yang lain menyahut ”Kamu diam lah…ini salah kita sendiri. Mengapa kita semua seperti kerbau dicocok hidung. Kita tidak pernah sekalipuan mau berpikir sendiri, nasip kita kita serahkan sepenuhnya kepada Kakang Duryodana dan Paman Haryo Syuman. Salah sendiri mengapa kita kosongkan otak kita dari penderitaan berpikir dan kita penuhi dengan kesenangan – kesenangan duniawi sementara. Selama ini kita hanaya diam, selama ini kita hanya menonton, selama ini kita hanya mengangguk karena kita terlalu kenyang. Jadi sudahlah…kita tidak akan bisa mengembalikan bubur menjadi nasi…”

Untuk beberapa saat susana gaduh di Bulupitu. Sebagian besar berusaha membuat Prabu Duryodono siuman. Yang lain masih menangis meratapi apa yang baru mereka alami. Tidak sedikit juga yang sudah bebal otaknya, cuek, dan masa bodoh. Apa yang terjadi terjadilah.

Duryudono pun perlahan siuman dari pingsan dan kekagetannya. Beberapa saat dia berusaha menguasai diri dan keadaan. Setelah semuanya dirasa nyaman, dia mulai berucap “Wahh…..Dursosono mati…Terang saja..yang dilawan Wrekudoro yang bukan musuhnya. Ini yang goblok adalah orang – orang para jago Hastina pura. Mana para jago itu, yang katanya sakti mandraguna??? Mengapa membiarkan anak kemarin sore melawan Wrekudara…..? Tidak ada gunanya Hastina memelihara para senopati dan pinisepuh yang tidak berguna seperti itu. Yang mereka pikirkan hanya perut dan kesenangan pribadi. Ya sudah kalau para jago dan agul – agul astina ini tidak ada yang berani menjadi senopati menghadapi Pandawa, minggir semua……….Paman Sangkuni siapkan gada senjataku, gajah tungganganku..Aku sendiri yang akan melabrak pandawa dan menjadi senopati Hastina…”

Sangkuni, Patih Hastina itu sudah tidak bisa berfikir lagi. Otaknya buntu, yang bisa dikatakan hanyalah ”Sendika sinuwun, segera kami siapkan..”. Sebenarnya dia tidak paham apa yang dikatakannya itu.

Adipati Karno menyela “Adi Prabu…mohon maaf saya menyela matur yayi. Kalau saya rasakan, jelas apa yang Adi Prabu maksudkan. Adi prabu menyindir saya !!!. Adi Prabu memang tidak secara jelas menunjuk muka saya, tetapi buat orang yang sudah tua seperti saya ini harusnya tahu apa yang Adi Prabu maksudkan. Kelihatannya Adi Prabu menunjuk utara, tetapi sebenarnya terkena selatan. Adi prabu sedekap bersilang tangan, sebenarnya bermaksud ngawe – ngawe menyeru kepada saya. Adi Prabu pasti tahu siapa Basukarno itu ? Basukarno adalah saudara pandawa seibu dari Ibu Dewi Kunti. Jadi di tubuh Basukarno ini mengalir darah yang sama dengan darah adik – adik saya Pandawa. Daging di tubuh adipati Karno ini, juga irisan dari daging adik – adik saya pandawa. Tetapi adi Prabu…Mengapa dalam perang besar baratayuda jayabinangun ini saya ada sini ? Mengapa tidak di padepokan pandawa ? Karena dari dulu Adipati Karno memegang janji memenuhi komitmen. Saya tahu dari saya bayi sewaktu diasuh bapak – ibu angkat saya sampai dengan gerang gaplok seperti ini udara yang saya hirup adalah udara hastina, air yang saya minum adalah air hastina dan bumi di mana Karno berpijak adalah tlatah Hastina pura. Oleh karena itu Adi Prabu….., Karno tidak akan lari dari janji yang pernah Kakang ucapkan sewaktu tanding panah masa remaja dulu. Jadi adi prabu, sejatinya Karno diam disini karena sedang menunggu titah adi prabu kapan saya harus ka palagan. Adi prabu, bukan watak Karno untuk menonjol – nonjolkan diri untuk meminta jabatan dan kekuasaan. Begitu pula, bukan watak Karno untuk mengagulkan diri dan berkoar – koar siap menjadi senopati. Karena Karno tahu aturan perang, masing – masing pihak mempunyai pimpinan yang wajib diikuti. Dan pimpinan itu di sini adalah paduka. Maka, sekali lagi sebenarnya Kakang menunggu dengan penuh harap kapan saya diperintahkan untuk menjadi senopati perang ini ??!!!. Karena yang saya tunggu – tunggu tidak juga saya dapatkan, maka ijinkanlah saya saat ini juga maju perang menjadi senopati Hastina yayi..

Mendengar apa yang diutarakan Basukarno, Duryudono serasa mendapat siraman air segar grojogan sewu. Segar dan lega rasanya. Sebenarnya dari banyak apa yang diucapkan Basukarno, tidak banyak yang diperhatikannya. Entah karena tidak terbiasa mendengar atau entah karena kepalanya sudah bebal karena permasalahan perang yang dihadapinya ini. Dirangkulnya Basukarno dengan penuh kegirangan.

”Duh kakang Adipati…Tidak terkira rasa gembira saya mendengarkan apa yang kakang sampaikan. Terbukti cinta kakang kepada kami dan negara ini tulus dan suci. Kakang…apa yang Kakang niatkan dan utarakan membangkitkan rasa percaya diri saya menghadapi perang ini. Sebab saya yakin dengan kesaktian dan kelebihan yang kakang punyai, tidak akan ada jago pandawa dan pandawa sendiri yang mampu menandingi Kakang. Dan pada akhirnya Kurawa akan memenangi perang ini dengan gilang gemilang. Kakang……untuk merayakan kembalinya rasa percaya diri ini dan untuk menyemangati Kakang Karno, apa perlu kita adakan jamuan mewah Kakang ??”

”Adi prabu…tidak perlu itu semua adi. Hanya saja kakang mohon ijin pulang sebentar ke Awonggo untuk pamitan dengan istriku, yayi Surtikanti. Satu lagi yayi….saya butuh kusir kereta perang?”

”Baiklah Kakang…, Kusir Hastina banyak….siapa kira – kira yang kakang kehendaki untuk mengendalikan kereta perang Kakang Adipati ???”

”Adi Prabu, sudah menjadi pembicaraan jagad seesinya…Suatu saat jika terjadi perang baratuyad jayabinangun, Basukarno akan perang tanding melawan adikku tersayang ya Arjuna. Dan jika Arjuna perang tanding, maka yang akan menjadi kusir keretanya adalah Raja Agung Dwarawati Prabu Sri Kresna. Oleh karena itu yayi….Kakang inginkan kusir kakang paling tidak yang mempunyai derajad dan keagungan seatara dengan Kakang Prabu Sri Kresna yayi…”

Kaget Doryudono mendengar permintaan Basukarno. Doryudono tahu bukan hanya ada jarak di antara mereka berdua, namun lebih dari itu. Meskipun mereka berdua adalah anak menantu, Prabu Salya masih menyimpan rasa sesak, dendam dan kebencian kepada Adipati Karno. Banyak alasan yang membuat Prabu Salya bersikap begitu. Dari asal – usul Basukarno yang tidak jelas itu saja sudah membuat Prabu Salya memandang sebelah mata kepada menantunya itu. Dianggapnya Karno hanyalah seseorang sudra yang datang entah dari mana. Kemudian ditengah Kerajaan Matswapati mempersiapkan pernikahan agung Dewi Surtikanti dengan Raja Mudah Hastina Pura, Basukarno datang membuat masalah dan mencuri hati calon pengantin perempuan. Terakhir setahun lalu sebelum perang baratayuda jayabinangun, sewaktu Sri Kresna menjadi duta pandawa di pertemuan agung Hastina pura, mereka berdua bersilang pendapat dengan sangat tajam dan hampir saja terjadi adu fisik antara keduanya jika tidak dilerai oleh para pinisepuh.

Prabu Salya juga membatin bahwa, dialah yang dimaksud Basukarno untuk menjadi kusir meskipun tidak secara lansung menyebut namanya. Bisa ditebak, benci, permusuhan dan kekecawaan dirasakannya hatta mendengar ucap Sang Karno. Dianggapnya Basukarno telah -lagi – lagi- merendahkan martabatnya. Dia adalah Raja Agung, penguasa tlatah Matswapati, mengapa kali ini harus menjadi Kusir seseorang yang tidak jelas asal – usulnya. Orang ini menjadi Adipati Awangga hanya karena belas kasihan Ratu Hastina. Meskipun Basukarno adalah menantunya, dalam hatinya masih tidak bisa menerima kehadirannya. Anaknya, Surtikanti, dulu sebenarnya dijodohkan dengan Joko Pitono ya Prabu Kurupati. Tetapi Surtikanti tidak menanggapi cinta Sang Kurupati, sebaliknya cintanya hanya kepada Basukarno yang sewaktu muda menggunakan nama Surya Admaja. Ujung – ujungnya Surya Admaja telah mempermalukan Prabu Salya dan Matswapati seluruhnya dengan memasuki keputren dan mencuri Surtikanti yang sudah menggunakan riasan pengantin, siap naik ke pelaminan dengan calon pengantin pria Joko Pitono.

Tetapi kali ini, Duryudono tidak mempunyai pilihan lain kecuali merendahkan diri di hadapan Adipati Karno dan Prabu Salya. Dia tahu, harapan satu – satunya saat ini adalah Adipati Karno. Setelah Resi Bisma dan Pandita Druna gugur, hanya Karno yang bisa menandingi kesaktian para senopati Pandawa. Maka, kalau perlu menyembah tapak kaki Sang Prabu Salya, itu akan dilakukannya agar permintaan Adipati Karno direstui sang mertua. Jangankan hanya glosoran telapak kaki Prabu Salya, ”pengorbanan” lebih besar dari itu pernah dilakukannya. Dia pernah mengorbankan cintanya untuk Sang Suryaadmaja waktu itu demi mendapatkan dukungan Adipati Karno melawan Pandawa. Waktu itu dia sudah siap naik ke pelaminan dengan pujaan hati Dewi Surtikanti. Namun itu semua persiapan perkawinan yang sedianya disiapkan untuknya rela ditanggalkannya. Semua pengiring, srah – srahan, berupa mas picis raja brana dari calon pengantin pria dialihkan menjadi atas nama Basukarno. Dipersilakannya Suryaadmaja menduduki kursi pelaminan untuk menggantikannya. Dia sendiri pada gilirannya menikah dengan saudara muda Surti Kanti, Dewi Banowati. Tidak hanya itu, diangkatnya dan diberikan kekuasaan atas tlatah Awonggo sepenuhnya kepada Basukarno. Maka kalau sekarang hanya untuk menangis memelas dan memohon agar Prabu Salya menuruti kehendak Sang Karno, akan dilakukkanya.

Dengan bersimpuh, Duryodono merendahkan dirinya dihadapan mertuanya.

”Duh Rama Prabu Salya, saya kira tidak ada lain Raja Agung yang setara dengan Kakang Kresna kecuali Paduka. Oleh karena itu Rama, dengan sangat hamba mohon Rama Prabu bersedia menuruti keinginan Kakang Karno. Rama prabu….jika tidak, lebih baik hamba mati saja Rama….”

”We lah kok begini…..??? Anak prabu, saya ini memang apes. Mempunyai menantu yang kurang susila seperti itu. Bukan penghormatan yang diberikan kepada saya sebagai mertua, eh malah merendahkan martabat dengan menjadikannya kusir kereta perang. Apa seperti itu pantes??”.

”Rama prabu, mohon kesabaran paduka. Jikalau saya juga tidak ada artinya di hadapan Rama, mohon Rama ingat kepada yayi Ratu Banowati…”

”Anak Prabu…..!! Apa Karno itu satrio yang tidak punya mulut ?? Hemm…Mengapa tidak menggunakan mulutnya sendiri untuk meminta kepada Prabu Salya ini ??”

Adipati Karno”Mohon maaf Rama Prabu….Saya ini di Hastina hanya sebatas ngenger, numpang hidup. Tidak pantas bagi saya untuk nglamak menunjuk nama Rama Prabu. Meskipun sudah ngenger, ngenger saya ini jauh dari nyaman. Sudah dari dulu saya tahu, tidak ada pinisebuh dan orang penting Hastina yang senang dengan keberadaan saya. Rama Pendita Druna hanyalah manis di mulut penerimaannya terhadap hamba. Tetapi sejatinya beliau benci dengan Basukarno. Sama saja dengan Pendeta Talkanda Eyang Resi Bisma, sikap baiknya kepada Basukarno tidaklah bulat, namun lonjong tidak utuh. Rama Prabu, hamba ini tahu diri”.

Sekali lagi Duryidono memohon ”Sudah – sudah Kakang Karno,.. Rama Prabu Salya, sekali lagi saya memohon kesediaan paduka Rama, demi saya dan Ananda Banowati…”

”Hmmmm…..ya sudah..Karno, aku bersedia menjadi kusirmu di palagan perang. Tetapi meskipun aku kusir, jangan sekali – kali kamu memerintah aku nantinya..”

”Baik lah Rama Prabu……”

Karno Tanding[3], Ketidakmampuan mengendalikan diri dan emosi mengantarkan Dursasana kepada kematiannya yang tragis….. Juli 27, 2008

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Senangi.
1 comment so far

Catatan : “Beberapa tulisan saya mengenai cerita baratayuda ini juga bisa disalin oleh/di http://bharatayudha.multiply.com/, salah satunya di http://bharatayudha.multiply.com/journal/item/358

Sayang tanpa menyebutkan sumbernya

Musim kemarau nan kering mengiringi pertempuran menuju puncak. Angin kering kencang menerjang, menyampaikan kabar buruk, bau amis darah dan busuk bangkai ke segala penjuru mata angin. Arah angin kering tidak dapat terduga ke mana akan menuju, seolah mengikuti apa yang akan terjadi dalam peperangan hari ini. Meskipun sebagian pandita, satria suci dan orang – orang yang bening hatinya mengetahui ke mana ujung perang ini akan berakhir, becik ketitik ala ketara. Daun mahoni, daun jati, daun asam mengering, berjatuhan, berguguran helai demi helai. Seperti itu tulah para yang berperang berguguran. Rumpun bambu berderit – derit mendendangkan jeritan dan perihnya hati mereka yang ditinggal gugur sanak – famili, menyanyikan rintihan sakit mereka yang terluka.

Udara yang kering naik turun menyapu dedaunan kering, membawa debu halus beterbangan tak tentu arah. Begitulah suasana hati orang – orang yang bingung menghadapi peperangan. Banyak di antara mereka tidak memahami apa yang diperebutkan dalam perang ini. Banyak di antara mereka tidak mengerti mengapa perang ini harus terjadi. Mengapa Kurupati begitu kukuh mempertahankan tanah Astina dan Kerajaan Amarta. Sebagian memahami bahwa memang inilah sifat serakah dan angakara murka Duryudono. Sebagian lain memahami memang sudah hak para Kurawa untuk menguasai Astina karena sebelumnya seharusnya Drestarata, ayah kandung Kurawa, yang menjadi raja. Namun karena penglihatan Drestarata tidak berfungsi, adiknya lah yang memerintah, Pandudewanata ayah para Pandawa.

Di antara mereka tidak sedikit pula yang anut grubyuk terserah arah angin kemana dia akan mengikuti. Kurang lebih begitulah yang dipikirkan Dursasana. Baginya perang ini tidak memperebutkan apa – apa, hanya karena kakaknya ingin perang, diapun mendukung perang. Dursasana, tipikal manusia yang malas berfikir. Hanya mengikuti apa yang terjadi di sekelilingnya. Ketika angin bertiup ke barat, dia akan condong ke barat, begitu pula sebaliknya. Dursasana hanya menelan mentah – mentah apa yang terlihat secara fisik, tanpa mencerna dan memikirkan bagaimana dan apa di balik apa yang ditangkap dengan panca inderanya.

Saat itu, sudah terasa lama Prabu Duryudana meninggalkan istana Hastina Pura, keputrian dan istrinya Raden Ayu Banowati. Perasaan kangen kepada belahan jiwanya sudah terasa memuncak. Seperti ingin melompat dari Perkemahan Bulupitu agar segera sampai saat itu juga di keputrian demi memuaskan rasa rindunya kepada sang raden ayu Banowati, istri tercinta jantung hatinya. Namun perang tidak dapat ditinggalkan barang sesaat. Maka untuk sekedar melihat kabar dan menjaga keselamatan dan suasana keputrian, Duryudana mengutus adinda Dursasana untuk melihat dan menjaga keputrian. Dursasana menuju keputrian dan menemui kakak iparnya, Raden Banowati.

Setelah berbasa – basi, Banowati menyapa adik iparnya.

”Dursasana.., apa yang kamu lakukan di keputrian ??”

”Kakang Mbok, ayu…he..he.. Saya ini diperintah oleh Kakang Mas Duryudono..ho…ho..ho, agar menjaga keputrian menjaga Kakang Mbok Ayu..”

”We..la, buat apa aku dan keputrian dijaga olehmu? Apa kamu takut perang?? Padahal sanak kadang Kurawa yang lain berpeluh dan bermandi darah di medan perang.Kok kamu enak – enakan di keputrian. Apa kamu takut darah, menghindari luka adikku ?? Ternyata hanya badan mu saja yang sentosa, tetapi kamu tidak bernyali”

”Walah la dalah….malah mengumpat – umpat. Sudah dari dulu saya mencurigai dan tahu bahwa Kakang Mbok tidak sepenuhnya mencintai Kakangku Duryudono, kamu hanya pamrih kepada harta dan kedudukan Kangmasku. Sebenarnya hati dan cintamu untuk Arjuna. Iya bukan??!! Bibirmu hanya lamis kalau bilang sayang kepada Kangmasku, sebenarnya kamu bohong. Wah..aku merasa kasian dengan kakangmasku, sekian puluh tahun dibohongi oleh sampeyan yang sebenarnya dipuja dan dimanja tiada tara….Tapi imbalannya hanya lamis, hanya kebohongan, hanya selingkuhan dengan Arjuna. Kalau seandainya aku diijinkan oleh Kakang Duryudono, sudah dari dulu aku bunuh Janaka”

Konan kabarnya, apa yang dikatakan Duryudono itu ada benarnya. Dari dulu, semenjak semasa gadisnya di Kerajaan Mandaraka dulu Banowati menaruh hati kepada Arjuna, lelakinya jagad raya. Seorang satria yang terkenal kesaktiannya jika berhadapan dengan sesama pria, tetapi terkenal dengan ketampanan dan rayuan mautnya jika menghadapi wanita. Tidak heran belasan wanita, mulai dari anak pandita, resi, petani, putri raja sampai dewi kayangan pun dipersunting Arjuna. Dan isu yang beredar, Arjuna pun menanggapi perasaan Banowati. Meskipun sudah menjadi istri Raja Hastina, Arjuna sesekali menemui Banowati secara sembunyi – sembunyi. Konon pula, sebenarnya Duryudono tahu hal ini, namun dia pura – pura tidak tahu. Entah apa yang ada di hati dan pikirannya, hanya Duryudono dan Sang Pengusaa Jagad Raya yang tahu.

Merasa dipermalukan di depan danyang – danyang keputrian, memuncak kemarahan Banowati.

”Dursasana, kamu gila. Untuk menutupi kekuranganmu yang takut darah kamu mengarang cerita ngaya wara, mengada – ada. Kamu bawa – bawa nama Arjuna. Apa kamu berani aku adu sama Arjuna ???”

”Oalah..Banowati – Banowati, jangankan satu Arjuna. Sepuluh Arjuna tidak membuatku gentar…”

”Dursasana, sesumbarmu seperti bisa mematahkan besi baja, seperti berani menjilat besi merah membara yang habis dibakar. Tidak sudi aku papan catur (meladeni obrolan) denganmu…Lebih baik aku pergi dari sini”

Banowati meninggal keputrian dengan hati penuh amarah dan rasa malu.

”We lah…aku buka rahasianya, Banowati marah - marah. Sekalian saja aku buka byak apa yang selama ini dia lakukan. Terserah apa jadinya nanti. Tetai aku tidak terima diremehkan, dikira aku tidak berani meladeni perang melawan Pandawa. Hoe…..!!!Pandawa…!!! aku yang datang menjadi senopati. Mana senopatimu, kerahkan semuanya. Hadapi Dursasana….”

Terbakar emosi dan kemarahan Dursasana. Tanpa ada perintah dari panglima tertinggi Kurawa Dursasanan maju perang. Sudah tidak terpikirkan lagi siapa yang akan dihadapi, tanpa mempedulikan strategi dan taktik apa yang akan diterapkan menghadapi para kesatria pandawa, yang ada di kepalanya hanyalah perang, perang dan perang. Tidak perlu lagi mengaca diri apa yang dipunyai dan apa yang akan dihadapi, yang dia inginkan hanyalah menunjukkan kepada Banowati bahwa Dursasana adalah agul – agul, dan jago Kurawa yang patut diperhitungkan. Tidak boleh ada satu jalmapun meremehkan keberaniannya. Gelap mata dan emosi telah menguasai seluruh pikiran dan nafsunya.

Sangkuni dan para Kurawa yang lain : Kartomarmo, Citraksa, Citraksi, tak kuasa mencegah kehendak Sang Dursasana. Dihalang – halangi, melompat diganduli berontak.

Di perkemahan Pandawa, perbatasan Wiratha – Hastina yang masih dalam kekuasaan Kerajaan Wiratha. Setyaki pemimpin penjaga perkemahan melaporkan situasi di arena pertempuran kepada sang pengatur strategi Pandawa, Prabu Kresna penguasa Dwarawati.

”Nyusun sewu sinuwun, Setyaki mohon matur kekisruhan di Kurupati karena Kurawa telah mengirim Senopati baru hari ini”

”Siapa Setyaki, senopati itu ?”

”Kakang Dursasana sinuwun”

”Wrekudara, bagianmu adikku”

”Mohon doa restu Kakang, aku hadapi Dursasana…”

Terlaksanana Wrekudara berhadapan satu lawan satu dengan Dursasana.

”Wrekudara, hayo hadepi aku Dursasana. Kalau di Pandawa, Wrekudaranya kamu maka Kurawa, akulah Bratasenanya. Hayooo…gunung lawan gunung, penguasa gada lawan penguasa gada. Kerahkan semua kesaktianmu, keluarkan segala kekuatanmu, mustahil kamu bisa mengalahkan aku…”

”Wa….Dursasana, sesumbarmu seolah mampu mencengkeram Gunung Himalaya. Padahal aku tahu sejatinya nyalimu tiada..Hayo silakan kamu mulai, hantamlah Wrekudara..pilihlah bagian tubuhku mana yang empuk menurutmu. Kamu lihat…mendung menggantung gelap menggulung itu ?? Itu tandanya jagad seisinya siap mengantarkan kematianmu yang nista menuju neraka jahanam!!!”

Dursasana, bahkan sepuluh Dursasana pun bukanlah lawan yang setimpal bagi Wrekudara. Wrekudara adalah kesatria pilihan dewa. Putra Bethara Bayu yang mempunyai kesaktian berupa Kuku Pancanaka pemberian sang ayah dan Gada Rujak Polo yang diperebutkan dari Gandamana. Semenjak lahir Wrekudara telah melakoni laku prihatin menggembleng diri. Belum sepekan kelahirannya telah dibuang ke hutan karena tiada senjata dunia yang mampu membelah bungkus bayi Wrekudara. Hanya senjata Kahyangan berupa gading gajah seno yang mampu membelah bungkusnya ketika itu. Kekuatan gajah seno melebur menyatu kepada bayi Wrekudara menjadikan kekuatannya lebih dari sepuluh kali kekuatan manusia biasa. Dengan empat saudara yang lain dia pernah membabat hutan wanamarta yang terkenal gung liwang liwung, wingit tak terjamah manusia. Wrekudara, bukan hanya berlaku satria. Olah batinnya juga nyaris sempurna karena dia pernah ”minandita” saat lakon Bima Suci. Bethara Indra, Bethara Brama, Pandita Druna, Resi Hanoman, Prabu Kresna, selain bapaknya sendiri Dewa Bayu pernah menjadi guru Wrekudra dalam olah kesaktian kanuragan fisik maupun kejiwaan. Di sisi lain, tidak ada cerita yang menonjol dari Dursasana kecuali senang – senang dan hidup enak di Kerajaan Hastina warisan gratis dari orang tuanya yang sebenarnya wali pemangku kerajaan.

Tanpa perlu berpeluh keringat, Wrekudara meringkus Dursasana tanpa perlawanan berarti. Saat Dursasana sudah dipithingnya, teringat peristiwa dua belas tahun yang lalu saat Pandawa kalah dalam adu permainan dadu. Kala itu pandawa telah memberikan segala yang dimiliki akibat kalah bertaruh dengan Kurawa yang dibantu Patih Haryo Suman. Ketika Pandawa tidak memiliki apa – apa lagi, maka istri mereka Drupadi pun dipertaruhkan. Kembali Pandawa kalah. Saat itu Drupadi menjadi milik Kurawa. Drupadi diperlakukan lebih nista daripada seorang budak. Dihadapan para punggawa kerajaan, para pinisepuh, para kesatria pandawa dan kurawa, para emban, para danyang dan para punggawa Hastina, Dursasana melucuti gelung rambut Drupadi sehingga rambutnya jatuh terurai, yang pada jamannya dianggap sudah merupakan aib bagi seorang wanita. Tidak cukup hanya itu, Dursasana melucuti kebaya Drupadi, kemben Drupati, tinggallah kain jarit penutup dada sampai ujung kakinya. Tanpa mempedulikan nasihat pinisepuh yang hadir waktu itu – Druna, Pandita Bisma, Prabu Karno, dll – ujung kain jarit penutup tubuh Drupadi telah dipegang Dursasana, ditariknya sekuat tenaga. Drupadi menjerit, merintih menahan malu dan amarah yang sangat. Permohonan welas asihnya tidak dihirauakan Dursasana. Sebaliknya yang didapat ledekan, lecehan dan umpatan. Para Pandawa tidak mampu berbuat apapun kala itu, kecuali menyaksikan dengan perasaan malu, marah, kecewa dan sedih yang mendalam. Karena Drupadi kala itu bukan milik mereka lagi. Hanya karena pertolongan dan kehendak Yang Kuasa, kain jarit itu seolah tiada ujung. Bertumpuk – tumpuk bagian jarit yang sudah diarik Dursasana, beserakan, berjuluran di lantai pendapa istana. Tetap saja masih ada bagian jarit yang menutup rapat tubuh Drupadi meskipun lekuk dan kelok bentuk tubuhnya terlihat jelas. Dursasana lemas karena terlalu letih menarik dan menarik.

Saat itu Wrekudara berteriak menahan amarah, jika sampai pada waktunya terlaksana perang Baratayuda, dia sendiri yang akan menghadapi Dursasana dan akan menyempal – sempal lengan Dursasana yang sudah berlaku lalim, mempermalukan Drupadi dan Pandawa. Setelah Dursasana lemas, terlalu letih, Drupadipun mempunyai nadzar akan selalu membiarkan rambutnya terurai dan tidak akan mandi keramas sebelum menggunakan darah Dursasana untuk menyiram rambutnya yang terurai.

Maka saat ini, saat perang baratayuda telah terlaksana Wrekudara menghadapi Dursasana. Dursasanapun telah sepenuhnya dalam penguasaanya, ditembuskannya kuku pancanaka ke perut dan ulu hati Dursasana. Terkejang – kejang Dursasana menghadapi sakaratul maut. Terlihat perih, pedihnya Dursasana menghadapi kematian ini. Matanya melotot seolah mau meloncat keluar, bibir kelu tanpa mampu mengeluarkan teriakan dan erangan. Kedua kaki dan tangannya berkelojotan tak berirama. Perlu menunggu beberapa lama sebelum nyawa Dursasana melayang meninggalkan raganya.

Wrekudara melunasi nadzarnya, disempalnya kedua lengan dursasana. Terpisah tangan dari kembungnya. Ditadahinya dalam bokor darah yang mengucur dari tubuh jasad Dursasana, dihaturkannya darah itu kepada Drupadi. Saat itulah Drupadi mandi keramas pertama kali setelah lebih dari dua belas tahun.

Berakhirlah episode Dursasana sampai di sini. Yang berbuat mempertanggungjawabkan, yang menanam menuai hasil, yang berlaku mendapatkan balasan dari apa yang dilakukanya.

Angin kering musim kemarau berhembus, menyambar, membawa bau darah dan sisa erangan Dursasana ke segala penjuru mata angin. Melintasi padang perang kuru setra yang luasnya tidak cukup sepemandangan mata yang melihat. Kabar kematian tragis Dursasana tersiar dari angin ke angin, dari mulut ke mulut, dari roda kerata perang ke tunggangan perang, menembus dinding tebal padepokan Kuramandala. Kabar sedih ini tersampai kepada Duryudona, Sangkuni, Prabu Salya, Prabu Karna, Kartomarmo, Citrakso, Citraksi, juga Banowati. Diriingi dendam, kekecewaan, amarah dan tangisan keluarga, jasad Dursasana diperlakukan dengan upacara sesuai agama dan keyakinan Dursasana.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.605 pengikut lainnya.