jump to navigation

Barataydha Jayabinangun, Duryudona – Salya Gugur[11], Salya Gugur April 3, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
2 comments

(Subuh, Madiun – Magetan, di Parang Mas)
Di ladang Kuru setra. Bau busuk bangkai hewan tunggangan perang yang berserakan semakin menusuk hidung. Darah para prajurit, senopati, dan agul agul pandawa maupu kurawa yang gugur sebagian mengering, sebagian masih terasa basah berjampur rereumputan kering dan debu musim kemarau. Semilir angin pagi hari mendendangkan senandung kepedihan, kesedihan. Rumput rumput kering berserakan tercerabut dari tanah berpijak, begitu pula nyawa para prajurit yang telah gugur terpisah dari raganya.
Ladang Kurusetra, sejak jaman kuno ketika Hutan Hastinapura diubah menjadi kerajaan oleh Prabu Gajah Hoyo (oleh karena itu jagad mengenal Hastinapura dengan sebutan Kerajaan Gajahoyo) telah menjadi saksi puluhan perang besar. Perang besar dunia pertama juga terjadi di sini. Ketika Prabu Tremboka dari Pringgandani mati sampyuh bersama Prabu Pandu kala itu. Pandu mati muda meninggalkan dua orang istri dengan anak2 yang masih kecil, bahkan Nakula Sadewa belum putus tali pusarnya.
Hari ini ternyata Sangkuni tidak mematuhi pesan Salya kemarin sore. Paling tidak itulah yang dilihat Salya. Kurawa telah memulai formasi perangnya dan menyerang prajurit Kurawa. Dari kejauhan Salya melihat Setyaki bertempur melawan…siapa di sana? Salya tidak mengenalinya. Namun perkiraannya mengatakan, pastilah lawan Setyaki itu adalah salah satu sekutu Duryudono dari Kerajaan sebrang. Drestajumena, senopati Pandawa itu, melawan musuh lain yang juga tidk dikenalnya. Begitu pula para prajurit tingkat bawah saling beradu satu sama lain. Salya belum lagi beranjak untuk memerintahkan pasukan setianya maju menggempur formasi Pandawa. Dalam hati dia mengumpat, Sangkuni memang tidak tahu tata krama. Sudah dipesannya jangan sampai tanpa perintahnya digelar formasi perang. Sebab dia adalah Senopati Agung. Di bawah kendalinya lah seharusnya segala pergerakan perag hari ini berada. “Duwoyoto…!”
“Hamba sinuwun prabu..”
“Sangkuni dan para kurawa memang tidak tahu tata krama dan sopan santun. Sudah aku pesankan, jangan sampai menggelar pasukan hari ini tanpa seijinku. Tapi mengapa mereka lancang mendahului perintah senopati??”
“Sinuwun Prabu memang benar adanya, namun lama lama saya amati, kelihatannya mereka bukan pasukan Kurawa sinuwun. Hamba tidak melihat pasukan kurawa dan kurawa ada di medan laga..”
“Oh ya…we la…siapa mereka Duwayata? Kelihatannya memang mereka sekutu Kurawa. Tetapi mengapa tidak terlihat Kurawa di sana? Hmm….ya sudah biarkan saja. Tahan pasukanmu, tidak perlu melakukan gerakan apapun”
“Sendika sinuwun…”
Maka demikianlah, Salya dan pasukan Mandaraka hanya diam menunggu dan mengamati apa yang terjadi di medan laga. Debu bergulung gulung beterbangan karena sapuan kaki kaki prajurit yang sedang bertempur, atau karena hentakan kaki kuda, gajah dan tunggangan yang lain. Suara gemuruh terdengar riuh rendah. Teriakan kemenangan berselang seling dengan jerit kesakitan. Sorak sorai yang berhasil merobohkan ditimpali erangan mereka yang dirobohkan. Pedang beradu dengan tameng, tusukan tombak mendesis menerjang sasarang. Anak panah bagai guyuran hujan dari dan menuju kedua belah pihak yang berlawanan.
Teriakan sorak sorai dari arah pandawa tiba tiba membahana. Setyaki berhasil merobohkan lawannya. Dengan ketangkasan dan keprigelannya, Si Bima Kunting ini berhasil merebut tombak lawannya setelah dua tiga kali menghindar terjangan. Sambil melenting menghindari tusukan horisontal tombak sang lawan, dikirimkannya tendangan tumit kaki kiri mengenai leher lawan. Lawan terhuyung ke belakang. Secepat ular mematuk mangsa, tangan Setyaki menghujamkan tinju ke pergelangan lawan, tombak terjatuh. Bersamaan dengan robohnya sang lawan. Setyaki sudah menggenggam tombak itu. Kendali sekarang ada padanya. Lawan yang roboh mencoba bangun, dengan terhuyung dia berdiri. Dicabutnya keris dari pinggangnya. Di sebrang sana Setyaki siaga memasang kuda kuda. Lawan melompat menerjang dengan keris terhunus. Setyaki melemparkan tombak ke sasaran. Tepat menghujam dadanya. Darah mengucur deras. Sang lawan sekali lagi roboh, kali ini tidak mampu bangun lagi. Sorak kemenangan prajurit pandawa menggema menggetarkan Kurusetra.
Di sisi lain, Drestajumana sibuk dengan lawan yang lain. Namun kelihatannya, ini bukan lawan sebanding baginya. Nyalinyapun ciut. Belum lagi sampai beradu senjata, namun begitu diketahunya bahwa senopatinya telah dikalahkan Setyaki diperintahkan pasukannya mundur.
Begitulah akhirnya, sekutu kurawa inipun kalah memalukan. Gemuruh kemenangan prajurit pandawa. Mereka tidak mengejar pasukan musuh yang lari tunggang langgang. Sebab, meskipun ini perang besar dan bisa jadi akan habis habisan, ada aturan yang harus dipatuhi kedua belah pihak. Salah satunya, tidak boleh ada penyerangan bagi mereka yang mundur. Apalagi sudah di luar padang Kurusetra. Perang ini hanya berlaku di ladang Kurusetra.
“Sekarang saatnya Duwoyoto, ayo perintahkan pasukanmu maju menerjang Pandawa..!”. Dan pasukan Mandaraka pun maju menyerbu. Sebagai incaran mereka tentu saja jika berhasil meringkus atau merobohkan salah satu pandawa lima, sudah cukup untuk menyatakan mereka menang. Namun tentu saja hal ini tidaklah mudah. Sudah tujuh belas hari perang ini berlangsung. Sudah berribu2 pasukan dikerahkan, sudah berpuluh panglima perang diturunkan Kurawa. Toh para pandawa masih segar bugar tanpa cela.
Drestajumena sedikit terkejut melihat serbuan pasukan Mandaraka. Meski sudah terdengar kabar sebelumnya, akan turun nya Salya di perang ini, tetap saja ada rasa was was di dadanya. Dia tahu, bagaimana tingginya keahlian Salya dalam strategi perang dan keprajuritan. Narayana pun mengakui ini. Ajian Canda Birawa yang disandang Salya, membuat siapapun miris. Namun dia adalah Senopati Pandawa sekarang, maka ditatanya perasaan diteguhkannya tekat. Dilihatnya wajah – wajah cemas pasukan Pandawa. Bahkan Setyaki sekalipun miris. Kabar mengerikan yang sayup – sayup dihembuskan Kurawa memakan mangsa. Tidak akan setengah hari, Pandawa dan seluruh pasukannya akan tumpas oleh Canda Birawa. Drestajumena, sang senopati membangkitkan kembali semangat pasukannya, “Kalian prajurit Pandawa…! Ingatlah kalian mengemban tugas suci saat ini. Jangan kalian ingkari kesanggupan dan janji kalian hanya karena kengerian akan kabar kesaktia Salya yang belum tentu benar. Aku sama sekali belum pernah melihat kebenarannya, kecuali kabar bohong yang sengaja disebarkan Kurawa. Para pendusta itu….! Apakah kalian percaya? Apakah kalian tidak malu ngeri dengan kabar bohong itu? Hayo tunjukkan keberanian kalian yang sudah terbukti dalam perang ini..Sudah terbukti ribuan prajurit kita robohkan, ratusan panglima Kurawa kita lumpuhkan, bahkan Maha guru Druno sekalipun. Tidak ada alasan untuk tidak bisa merobohkan Salya hari ini. Kembali ke formasi bunga teratai, lindungi Pandawa…!!! “
Pasukan pimpinan Drestajumena mengikuti perintah panglimanya. Entah sukarela atau terpaksa, hanya mereka yang tahu. Di pihak lawan, para prajurit Mandaraka maju menyerbu. Riuh rendah suara penyemangat perang terdengar dari arah mereka. Memang benar kondangnya, meski jumlahnya tidak seberapa ketangkasan mereka luar biasa. Mereka yang menunggang kuda atau menyerbu dengan berlari sama tangkasnya. Ketika jangkauan mereka sudah tercapai anak panah, ribuan anak panah menghujani pasukan Mandaraka itu. Luar biasa, tidak satupun dari mereka terkana. Sambil tetap maju menyerbu, mereka menangkis anak panah yang melesat dengan tameng, pedang, atau bahkan tombak mereka. Pasukan Mandaraka semakin dekat…dan duel satu lawan satu tak terelakkan. Bergelimangan pasukan Drestajumena tak kuasa menghadang mereka. Namun jumlah pasukan Mandaraka tidak sebanding. Perlahan mereka kewalahan juga, satu pasukan Mandaraka kira kira berhadapan dengan sepuluh pasukan Pandawa yang juga sangat terlatih. Melihat pasukannya berjatuhan, timbul amarah Salya. Yang tadinya sebenarnya hanya “lamis” dia berperang, cintanya kepada pasukan dan simbul simbul Negara manadaraka yang dicederai lawan, membuatnya marah juga. Disingkirkannya rasa ewuh pekewuh dan rasa welas kepada para pandawa keponakannya. Di medan laga ini, tidak ada keluaarga, tidak ada sanak saudara, tidak ada pepunden sesepuh. Yang ada hanyalah lawan, yang ada hanyalah musuh. Tidak ada kasih sayang, tidak ada welas asih. Yang ada hanyalah melukai jika tidak ingin terlukai, yang ada hanyalah membunuh jika tidak mau terbunuh. Dikerahkannya kesaktiannya. Panah disiapkan dibusurnya, secepat kilat panah itu terlepas dan ribuahn panah tiba2 saja seolah menyembur dari kereta salya menghujani arah pandawa. Drestajumena berteriak memberikan komando, “Kakang setyaki…bawa pasukanmu seutuhnya, kepung kereta Salya..Jangan sampai dia mendekat ke arah Pandawa…!” Segera Setyaki dan ratusan pasukannya mengepung kereta Salya. Ratusan tombak dilemparkan ke arah Salya. Tidak satupun mampu melukainya. Bahkan kuda kuda kereta itupun seolah hanya digigit semut ketika terkena senjata dari arah pasukan Setyaki. Setyaki dan pasukannya terdesak mundur, meski hanya menghadapi seorang Salya. Sebagian pasukan Drestajumena membantu menghadang laju Salya. Tak kuasa, panah Salya seolah tiada henti menyembur dan memakan korbannya. Jarak antara salya dan para pandawa di tengah formasi bunga teratai tak lebih dari sepuluh lapis pasukan, dengen Setyaki dan Drestajumana di garis depan. Arjuna bertindak. Dilepasknnya panah ardodedali, tidak mampu mengeni Salya. Namun menghantam payung kereta, menyambar leher kusir Duwuyoto. Mati seketika sang patih Duwoyoto.
Semakin menjadi jadi marah Salya. Sejenak kereta kehilangan keseimbangan karena ditinggalkan kusirnya. Sekarang Salya memegang sendiri tali kekang, sambil sesekali tangan kanannya melempar tombak ke arah pasukan pandawa untuk mencari jalan menyerbu Pandawa. Salya benar benar tidak lagi melihat pandwa sebagai kelurga, mereka semua dalah musuh saat ini.
Dari luar gelanggang Kresna berteriak, “Yayi Yudistira…sekarang giliran adinda…!”
Yudistira maju menerjang dengan menunggang kuda putih. Mengitari kereta salya seolah2 meledek Salya, “Mana ajian Canda Birawa Salya yang terkenal itu? Apakah terkenal kabar dustanya saja? Sebab sekalipun belum pernah aku melihatnya… ” Sayup sayup itulah yang didengar Salya. Meski terbersit juga keraguan, benarkah Yudistira selancang itu kepadanya meski ini di medan perang??
Di alam tapaksuci yang memisahkan dunia dan alam baka, arwah Bagaspati yang masih menunggu anak menantu tersayangnya mendapati momen yang dinantikan. “We lah…inilah saatku menghadap ke pengayunan Yang Maha Menang, sudah cukup lama aku menunggu. Sekarang Narasoma sudah berhadapan dengan manusia berdarah putih. Yudistira….jangan kaget, aku akan menyatu dengan ragamu.”
Salya semakin merasa terhina ketika kuda Yudistira hanya mengitari, mengejek dirinya. Lemparan tombak dan lontaran panah, tidak satupun mengenai Yudistira. Dikesampingkannya rasa ragu dan kasih sayang pada Yudistira, diucapkannya mantra ajian Candabirawa. Seketika muncul dihadappnya monster kerdil menyeramkan,”Narasoma….mengapa kamu panggil aku hmmm?”
“Canda birawa..,berpuluh tahun kamu di ragaku baru kali ini aku menyuruhmu. Yang menunggang kuda putih itu Ratu pandawa, hisaplah ubun2nya agar sampai pada kematiannya..”
“Wah..ha ha, jangan kuwatir tidak sampai kedip matamu usai, Yudistira akan tewas”. Dan ketika monster itu menampakkan wujudnya benar2 membuat prajurit yang melihat heran dan ngeri. Meski secara spontan itu membuat mereka maju menyerbu monster kecil itu. Bukan erangan kesakitan yang keluar dari mulut monster itu ketika berbagai sanjat menghujam tubuhnya, tetapi tawa kegirangan. Dan seketika monster itu berlipat seperti amuba membelah diri. Satu jadi sepuluh, sepuluh menjadi seratus, dan ratusan monster itu membuat pasukan pandawa dan senopatinya tunggang langgang. Sekarang hanya Yudistira yang menghadapi. Semua yang melihat keheranan melihat keanehan ini. Selama hidupnya, Yudistira tidak pernah perang. Kali ini begitu gagah beraninya dia menghadang Candabirawa, yang bahkan Bima Janaka pun ciut nyalinya. Keajaiban itu semakin bertambah ketika ratusan monster kerdil itu mendekati Yudistira. Bukan rasa benci apalagi amarah yang terlihat di wajah monster itu, tetapi kegembiraan yang luar biasa karena kerinduan yang kelihatannya sangat lama terpendam. Lihatlah seolah mereka anak anak kecil yang seharian ditinggal ibunya. Semmuanya menubruk dan ingin merangkul Yudistira. Entah apa yang terjad, ketika tubuh2 mereka menyentuh Yudistira, seketika hilang tidak berbekas.
Tak terdengar lagi raungan monster2 canda birawa. Yudistira bersiap. Dihusnya panah dari sarungnya, dipasangkannya ke busur. Panah itu sudah ditumpangi Jimat Kalimasada. Seolah tanpa ragu dan tetlihat sangat terlatih, Ydistira melepaskan anak panahnya. Tepat mengenai dada Salya. Salya gugur memenuhi janji dan melunasi hutangnya. Bagi yang melihat kasar mata mungkin itu adalah penderitaan dan aib. Namun bagi Salya sebaliknya. Inilah bukti cintanya pada pandawa dan kebenaran. Dikorbankannya nyawa untuk membelanya. Ini pula momen yang ditunggunya, ketika dia melunasi hutang kepada Bapak mertuanya. Dengan demikian, dia pulang ke pangkuan yang maha sempurna, dengan kesempurnaan. Paling tidak tiada membawa beban dan janji yang tak terlunasi.

Duryudono Salya Gugur [10], atas Perintah Wisnu Yudistira Menandingi Prabu Salya Maret 1, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
2 comments

Baru kali ini Kresna benar2 hilang akal, buntu pikiran, kelu mulut. Karena Yudistira sama sekali tidak dapat didebat. Dicobanya berpaling pada Bima, “Bagaimana Werkudara??”
“Susah, bicara dengan orang yang satu ini memang membuat repot. Dari kanan salah, dari sisi kiri tidak tepat. Apakah aku saja yang jadi senopati melawan Wo Prabu Salya?”
“Hmm bukan, bukan kamu yang kakang harapkan kok. Perang ini sudah ada bagian masing2, dan sekarang bukan bagianmu…”
“Yayi Prabu….”, Kresna tidak putus asa.
“Sendika Kakang Prabu..”
“Mohon diingat yayi, suka atau tidak suka yayi prabu yudistira adalah pengambil keputusan tertinggi di perang ini. Dengan demikian, semua keputusan yayi prabu akan berdampak pada pandawa dan kerajaan….”
“Urusan pandawa dan kerajaan saya kira lebih dari cukup untuk diselesaikan oleh keempat saudara yang lain. Dengan demikian, mengapa saya harus ikut campur. Hanya akan memperlama dan menambah masalah jika begitu….”
“Iya..mungkin benar. Tetapi Pandawa itu lima lo yayi. Jadi yayi prabu harus terlibat juga.”
“Menurut saya, pandawa memang lima secara fisik. Namun tidak demikian dalam hal pikiran dan kemampuan, jika tanpa pikiran dan pendapat saya sudah mencukupi mengapa masih harus memerlukan urun rembuk saya?”
“Apakah yayi prabu tidak malu kepada para senopati pinisepuh dan anak2 pandawa yang telah gugur membela paduka dan pandawa??”
“Justru karena saya malu dan merasa berdosa kepada mereka, saya tidak ingin ada lagi pepunden lain yang akan menjadi korban..”
“Tetapi Prabu Salya itu sekarang musuh lo yayi…”
“Bagi yang lain mungkin musuh, tetapi bagi hamba tetaplah pepunden yang memberi perlindungan dan pertolongan..”
“Jujur saya katakan mengenai yayi prabu, sudah seharusnya jika kawan dan orang yang berbuat baik kepada kita, kita wajib menghormati. Tetapi mengapa pihak yang sudah jelas2 musuh, tetap adinda sayang dan hormati?”
“Siapapun tidak berhak menyalahkan hamba, sebab itu sudah sifat hamba terbawa sejak lahir..”
Seperti teriakan membentur karang kata kata Kresna. Menerjang wujud keras, memantul pada dirinya. Apa lagi yang harus dikatakan? Kini dia berpaling pada Arjuna
“Habis….Arjuna. Aku tidak tahu lagi mesti bagaimana. Apa pendapatmu adik iparku?”
“Duh Kakang Prabu, sedang paduka saja selaku pamong agung yang tidak hanya manusia mengakui namun dewata juga merestui, kata kata paduka tiada digubris. Apalagi saya??”
“Bagaimana Werkudoro?”
Werkudara pun sudah buntu akal, kehilangan daya pikir. Namun dicobanya merayu kakak sulungnya.
“Puntadewa Kakakku….Mbokya sedikit saja luruhkan hatimu, demi adik2mu. Ya sudahlah..jika memang rasamu tidak sedikitpun dapat menunduk, biarkan dan ijinkan kami berempat lampus diri. Biarkan kami membakar diri.”
“Werkudara, aku kasihtahu kamu. Orang jika berniat bunuh diri dikatakan itu, tidak akan terlaksana..”. Tersipu malu dan akhirnya diam Weekudara. Yudistira melanjutkan ucapnya. “Memang sejatinya ada sedikit rasa kecewa ..”. Kresna yang menyahut “Kecewa mengenai apa, yayi?”
“Iya Kakang…kekecewaan dan harapan saya ini nanti tertuju kepada paduka..”
“Mengenai apa ?”
“Kakang Kresna, niscaya sikap saya berani melawan para pinisepuh selama perang baratayuda ini akan lepas dari dosa dan bebendu, jika perintah dari Kakang bukan atas nama Prabu Kresna, tetapi terucap dari Batara Wisnu….”
Tanpa perlu penjelasan lagi, segera Dewa Wisnu yang menitis dalam diri Prabu Kresna menampakkan wujud aslinya. Hilang wujud Sri Kresna. Semua yang ada di situ segera bersimpuh memberi hormat. Tak lama kemudian terdengar jelas suara Dewa Wisnu seolah memenuhi ruang perkemahan “Heh..Kaki Prabu Yudistira, ngertenana ingsun Bathara Wisnu kang ngejawantah. Ingsun parentahake marang sira kulup, perkara iki mara gage rampungono miturut dewasaning lampah. Sirnane Wo Prabu Salya, amung sarana kok balang Jimat Kalimasada..!”. Sekejap mata kemudian, wisnu menghilang. Kembali Sri Kresna yang hadir di hadapan mereka. Mantap hati dan tekad Yudistira, setelah jelas baginya ini adalah perintah dewata. Digelaknya kereta perang yang ditarik dua kuda putih kembar. Disongsongnya senopati Kurawa di medan laga Kurusetra….

Baratayudha:Duryudono Salya gugur[9]:Yudistira, sekarang waktumu… Februari 14, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
1 comment so far

Sanghyang Arka telah cukup lama menyinari jagad raya. Kuatnya cahaya menembus hampa udara angkasa raya. Menyusup menerobos ruang hampa galaksi bima sakti. Melewati dewi venus, melangkahi bintang panjer siang itu. Menembus menelusup mega mega yang manggantung di langit menyelimuti bumi. Milyaran hasta perjalanan yang dilewati panas cahaya utusan sang maha kuasa yang dititipkan kepada makhluk yang disebut Dewa Surya. Jauhnya jarak tempuh tidak sedikitpun mengurangi rasa panas, menembus celah dinding tak kasat mata di peraduan Kanjeng Ratu Setyawati.
Begitu pulas tidurnya Sang Ratu, hingga kokok ayam jantan di lewat tengah malam tak mampu mengusik tidurnya. Jerit jengkerik, kicau burung, kotek induk dan anak ayam sama sekali tak terdengar. Seolah kepati tidur Setyawati.
Namun begitu cahya hangat sang surya menyentuh tubuh kanjeng ratu, perlahan kesadarannya tergugah. Antara sadar dan tidak, tangannya meraba raba sekelilingnya mencoba meraih tubuh suami tercinta, Prabu Salya. Betapa terkejut rasanya, bukan tubuh Salya yang didapat melainkan hanya guling. Tangis Kanjeng ratu ‘jejeritan’ laksana anak kecil kehilangan mainan, “Sugandini…Sugandini…kamu kesinilah….”. Tanpa perlu mengulangi perintah, Sugandini tergopoh gopoh naik ke kamar peraduan Kanjeng Ratu. Belum lagi Sugandini membuka mulut untuk menunggu perintah, kanjeng ratu mengaduh,”Sugandini…gustimu benar2 tidak bisa aku sayangi, ditingalnya sesobek patra. Beliau berangkat perang melawan Pandawa. Aku tak bisa tinggal Sugandini…Dulu lahirnya sama, sekarang aku harus ikut pulang bersama..”
“Begitu juga hamba, kanjeng ratu. Hamba tidak mau ditinggal sendiri..”. Kanjeng Ratu menitahkan pasukan pengawal dalam secaptnya mereka bisa, menyiapkan kereta. Tidak perlu menunggu lama Kanjng Ratu, kereta sudah siap dengan kusir dsn cukup dua pengawal. Kusir mengelak empat kuda penarik sekuat mereka bisa lari, guna secepat mungkin mencapai Ladang Kuru Kasetra. Hanya satu yang dipikirkan Setyawati, ikut perang dan bela pati bersama suaminya tersayang.
Di Mandaraka, Kerajaan hanya dijaga belasan pasukan pengamanan dalam. Suatu pakem pengamanan yang berlaku sperti biasanya. Meskipun perang besar di Kurustra, Salya tidak mempersiapkan pasukannya. Tidak ada hal luar biasa terjadi. Namun bagi puluhan prajurit inti, kesiagaan tetap tinggi. Sebab mereka sudah tahu janji Salya kepada Duryudono. Salya tidak akan ingkar janji yang telah diucapkannya. Sebagian prajurit inti ini tidak tinggal diam melihat Raja yang dicintainya sendirian ke medan laga. Mereka mereka adalah pasukan setia yang sangat mencintai dan setia pada Salya, bahkan sampai ke alam baka sekalipun. Banyak di antaranya telah mengabdi semenjak Raja Mandrakeswara, ayah Salya, bertahta. Pasukan setia ini benar2 tidak bisa dicegah untuk tidak mengiringi Sang Raja. Meski Salya tahu, semakin sedikit pasukan yang mengiringnya semakin baik sejatinya. Sebab perang ini bukan urusan Mandaraka. Perang ini hanya urusan pribadinya dengan Duryudono, urusan pribadinya dengan Mertuanya, Begawan Bagaspati. Tidak selayaknya pihak lain, meski itu prajurit Mandaraka, ikut ikut dalam urusan ini. Namun dirinya juga tak kuasa menahan cinta sebagian prajurit Kerajaan padanya. Prajurit prajurit setia ini merasa Mandaraka dan Rajanya telah memberikan kehidupan dan kemuliaan bagi mereka dan keluarganya. Sekarang waktunya mereka membalas budi dan membuktikan cinta. Jika toh mereka gugur nantinya, tidak akan ada penyesalan pada mereka. Sepanjang hidupnya yang telah puluhan tahun, hanya kekocah dan kenikmatan yang didapatnya dari kerajaan. Jika sekarang kenikmatan itu berakhir, sudah sewajarnya. Para prajurit setia ini dipimpin Patih Duwayata yang mengusiri kereta Salya. Iring2an kereta Salya diikuti puluhan prajurit berkuda melaju menembus fajar. Melesat meninggalkan alun alun kerajaan. Membelah jalan utama Kerajaan. Derap kaki kuda beradu dengan bebatuan jalan yang tertanam kuat dan tertata rapi. Aduan kaki dan batu menimbulkan suara menderu dengan irama konstan. Seolah mendendangkan lagu perang menuju kemenangan gemilang atau kematian sejati. Sesekali terdengar ringkiki suara kuda diselingi lecut cemeti penunggangnya. Terkadang percikan api muncul dari bebatuan jalan yang Penduduk yang kebetulan terbangun atau sedang melakukan aktivitas di malam hari, ronda malam atau pulang dari mengairi sawah membunkuk memberih hormat pada iring2an pasukan itu.
Semakin malam berlalu, perumahan penduduk semakin jarang. Sekarang iring iringan pasukan memasuki pedesaan. Sawah dan tegalan terhampar di sisi kiri kanan jalan. Jalanan tidak lagi bebatuan yang tertata namun tanah keras yang berdebu. Suara berdegup kaki kaki kuda mengantuk tanah, menggantikan suara berderap kaki kaki kuda menghantam bebatuan.
Kabut pagi menyelemuti hamparan sawah, gundukan bukit, berbaur dengan debu jalanan yang seolah disemburkan oleh roda – roda kereta dan kaki kuda. Perlahan fajar pagi menyingkir digantikan semburat sinar surya di ufuk timur. Semakin jauh kerajaan tertinggal di belakang mereka. Mereka hampir memasuki tapal batas Kerajaan. Ladang Kurusetra terbayang di depan mereka. Samar2 di depan terlihat umbul2 pasukan perang. Udara dingin pagi hari berhembus lembut. Rasa segar nikmat hawa dingin semenjak dari Kerajaan perlahan tergantikan dengan bau amis darah dan bangkai tunggangan hewan perang. Ladang Kurusetra semakin dekat.
Di perkemahan Pandawa Mandalayuda. Sudah dapat dipastikan semenjak tengah malam tadi, bahwa hari ini Kurawa akan dipimpin Senopati Besar tiada tanding Prabu SalyaPati. Aroma was – was dibumbui rasa takut menghantui sebagian besar prajurit dan senopati Pandawa. Siapa yang akan kuasa menandingi Salya hari ini? Jagad seolah bergetar jika mengingat kesaktian Salya dengan Ajian Canda birawanya. Monster kerdil yang mampu menggandakan diri seperti amuba jika mereka terluka. Satu monster akan membelah menjadi sepuluh, sepuluh menjadi seratus, sejuta, puluhan juta. Jika itu terjadi, ladang Kurusetra akan penuh dengan monster Canda Birawa, riwayat Pandawa akan tamat kurang dari separo hari.
Namun tidak bagi Kresna. Penasihat agung ini tahu apa yang harus dilakukan. Tengah malam tadi, Nakula Sadewa telah kembali dari Mandaraka, dengan membawa ijin kematian Salya. Yang diperlukan sekarang adalah membujuk Yudistira agar sumeleh hatinya, menyediakan diri menjadi Senopati.
Sekira telah dirasa cukup istirahatnya, didatanginya perkemahan Yudistira. Dengan diiringkan Bima serta Arjuna, Kresna memasuki kemah Yudistira sesaat setelah fajar pagi menyingsing.
“Yayi Prabu,..” Kresna memulai pembicaraan.
“Sekarang sudah waktunya bagi Yayi Prabu Puntadewa…”
“Apa yang hendak kakanda Ratu perintahkan kepada hamba?”, jawab Puntadewa tanpa sedikitpun berkurang adat tatakramanya. Meski sejatinya dia adalah Raja Agung Amarta sampai dengan sekitar 13 tahun yang lalu.
“Yayi Prabu, sekarang sudah waktunya adinda maju ke medan laga menandingi Paman Prabu Salyapati…”
“Duh Kakang Prabu..perang ini membuat kita benar2 lupa diri dan berlumuran dosa. Mengapa hamba mesti melawan Wo Prabu Salya. Saya tidak ingin teurulang lagi darah tumpah dari dada dan tubuh pepunden pepunden kita. Apalagi jika mengingat Wo Prabu Salya bukan hanya kakak dari Ibu Madrim, namun juga guru Pandawa dalam olah peperangan, beliau pelindung pandawa kala kami mengalami derita. Bukan bakti dan balas jasa yang akan kita haturkan, melainkan kelancangan kita melawan beliau. Dosa apa yang akan kita sandang? Bagaimana hamba bisa melakukan perlawanan itu??”
“Iya yayi..semua itu benar. Namun….ini perang lo yayi…”
“Perang ini bukan saya yang menghendaki….”
“Iya benar..namun perang ini bukan hanya sekedar perang. Tetapi ini adalah perang membela kebenaran dan menegakkan keadilan..”
“Jika begitu, apakah kakanda beranggapan Wo Prabu salya menyandang kesalahan ??”
“Iya…Wo Prabu Salya salah karena membela Duryudono..”
“Bagi saya, pendirian Wo Prabu Salya yang demikian itu jagad tidak bisa menyalahkannya”
“Mengapa bisa begitu??”
“Hamba yakin, Kakanda tidak lupa bahwa Kakang Duryudono adalah anak menantu Prabu Salya, dengan demikian di mana letak kesalahannya jika Salya membela Duryudono? Justru itulah yang seharusnya dilakukannya”
“Iya…benar diri sisi Kurawa tetapi salah bagi Pandawa. Sebab dalam hal ini Duryudono sudah berlaku tidak adil”
“Mohon maaf Kakang Prabu, di mana letak ketidakadilan Duryudono”
“Mustahil yayi Prabu tidak mengerti. Sejatinya, siapa yang berhak atas negara Astina?”
“Tent saja Pandawa, jika menurut riwayat dan sejarahnya..”
“Ya..tetapi jika sudah tahu demikian, mengapa ibarat mengenyam madu terasa manis, Duryudono menolak memuntahkannya??”
“Perkara astina, setelah saya timbang2, saya ikhlas lahir batin tidak mendapatkannya kembali..”
“Iya..iya…,tapi sekarang sudah terjadi Perang Baratayuda lo yayi. Jadi tidak mungkin mundur lagi.”
“Baratayuda ini bukan saya yang memulai, dan bukan pula saya yang menghendaki…”
“Jika begitu..apa sekalian disudahi saja baratayuda ini dan Pandawa menyerah kalah??”
“Jika memang sebaiknya begitu hamba kira lebih baik…”
Kresna menghadapi jalan buntu kali ini. Ditenangkan hati dan pikirannya beberapa saat. Mencoba menata strategi dan kata2 bagaimana meluluhkan hati Yudistira. Bima, Arjuna hanya diam membisu.
Bukan hanya kali ini Puntadewa merasa putus asa menghadapi perang ini. Putus asa bukan karena gagal atau kalah, melainkan karena meras berdosa telah mengakibatkan para pepunden pinisepuh dan guru guru mereka. Mulai dari Utara, Seta, Wrahatsangka, Bisma, Abimanyu, Durna, Gatotkaca. Dan yang paling memukul hatinya adalah gugurnya Kakak seibu, Adipati Karno. Maka baginyaa cukuplah dosa ini sampai di sini. Tidak mungkin lagi ditanggungnya dosa atas perlawanannya terhadap Salya. Salah apa salya, sehingga dirinya harus menghadapi Wo Prabunya itu?
Baginya, Astina dan Amarta tidak lebih berharga daripada terbebas atas dosa dosa yang mungkin diterimanya akibat melukai para sesepuh. Yudistira, selama hidupnya adalah orang yang tidak pernah sekalipun menyakiti siapapun, lawan terlebih lebih kawan.
Namun ini perang Baratayuda. Perang memperjuangkan kebenaran dan menegakkan keadilan. Selalu ada korban dalam perjuangan. Angkara murka yang disandang Duryudono tidak akan hilang jika tidak bersama lenyapnya yang menyandang.
“Yayi..baiklah, kita bisa saja menyelesaikan perang ini dan menyerah kepada Duryudono. Tetapi apakah Yayi Prabu tidak takut dipermalukan jagad seisinya?”
“Hamba tidak pernah mengharapkan puja puji dan tidak akan kecewa jika dicaci maki”
“Iya…tapi Dinda adalah Raja Agung..”
“Hamba menjadi raja bukan kemauan sendiri, tetapi mewakili empat saudara yang lain…”
“Iya benar..tetapi Dinda sudah terlanjur tapak asma, artinya Dinda juga harus siap mengambil keputusan selanjutnya”
“Saya memang melakukan tapak asma dengan pertimbangan tidak ingin memperlama urusan pengangkatan, dan urusan kerajaan selanjutnya terserah kepada 4 saudara lainnya..”
“Iya…iya..tetapi… “
(to be continued, Insyaallah)
….

Baratayuda, Duryudono-Salya Gugur[8].”Kanjeng Ratu Setyawati, aku harus memenuhi janji dan kesaguhanku..” Februari 5, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
7 comments

Saat kemarahan Prabu Salya mencapai puncak dan kata kata amarahnya terdengar samar sampai di Pendopo belakang, Permaisuri Kerajaan Ratu setyawati menghentikan racikan rujak yang belum lagi setengah rampung. Tergopoh gopoh dia mendekat ke pendopo utama tempat Salya menerima dua anak keponakannya itu. Dipanggilnya Dewi Sugandini menemaninya. Berdua mereka mencuri dengar percakapan Prabu Salya dengan Nakula dan Sadewa.

Betapa terkejut, sedih dan kecewa dirinya begitu mendengar apa yang diucapkan Salya di akhir percakapan dengan keponakan – keponakannya itu. Bukan lengser kebrapon Salya yang disedihkan, bukan penyerahan kerajaan kepada Nakula Sadewa yang tidak bisa diterimanya. Namun, kesanggupan dan keteguhan Prabu Salya dalam memenuhi permintaan Duryudono untuk menjadi panglima perang Kurawa esuk pagi yang tidak bisa diterimanya. Bagaimana dirinya bisa menerima orang yang sangat dicintai dan sudah terbukti kesetiaan cinta, kasih sayang untuknya, akan merelakan kematiannya esuk hari? Meskipun kematian itiu demi membela kebenaran dan keadilan yang dipegang Pandawa? Baiklah, dia akan menerima jika memang harus begitu. Namun, kematian Salya harus diiringi kematiannya sendiri.

Jejak kaki Nakula Sadewa belum lagi dingin dari paseban pendopo. Setyawati diiring Sugandini tergopoh gopoh naik ke siti hinggil pendopo. Tak kuasa menahan, tangisnya tak terbendung. Ditubruknya Salya. Beberapa saat, tiada kata yang terucap di antara mereka. Salya bersikap seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi pada permaisuri terkasihnya. “Kanjeng Ratu…mana rujak yang aku inginkan?”

“Paduka….,sekian puluh tahun hamba mendampingi paduka yang mulia. Tidak sekalipun hamba membantah apa titah paduka, tidak sekalipun hamba menolak kehendak Paduka. Bahkan nyawa orang tua pun, hamba serahkan. Hamba ikhlas ketika anak anak kita Rusmarata dan Burisrawa mati sia membela Kurawa. Namun…..jika seperti yang paduka katakan kepada anak keponakan paduka tadi…., hamba sama sekali tidak rela sinuwuun.”

“Hmm….ngomong apa aku? Aku tiada mengatakaan apapun kepada mereka kok. Sugandini…..mana rujaknya?”

Gelagapan Sugandini menjawab,”Sinuwun….sebenarnya hamba tadi juga sudah memulai meracik rujak yang Paduka kehendaki. Namun, kanjeng Ratu memanggil saya untuk ikut mencuri dengar percakapan paduka dengan kang putra pulunan berdua”

“Ah, aku tidak bicara apa – apa kok. Ya lumrah saja kalau kami berkangen2an. Nakula Sadewa itu keponakanku, dan kami sudah lama tidak bertemu..”

Setyawati menyela “Sinuwun, selama kita bersama tidak sekalipun paduka cidra, pada kali ini pun mohon sinuwun jangan berbohong”

“Ah…yang mana?”

“Sinuwun besuk pagi akan bertindak sebagai senopati Kurawa memerangi Pandawa. Jika sikap paduka memang tidak dapat dibatalkan, maka mau tidak mau besuk hamba akan mengiringi paduka di medan laga.”

“Hmmm….seumpama begitu, hal yang ganjil jika kanjeng ratu ikut perang. Kanjeng Ratu adalah permaisuri, seorang perempuan yang biasa mulia di keputrian. Bagaimana bisa ikut perang?? Padahal di medan laga bukan tempat yang nyaman namun sebaliknya…. “

“Apapun, hamba harus tetap ikut.”

“Oh begitu?? Kalau aku batalkan saja?”

“Itu yang hamba inginkan sinuwun, apalagi Pandawa bukanlah orang lain melainkan anak anak paduka sendiri”

“Hmm ya sudah kalau begitu. Ya mending aku turuti maunya Kanjeng Ratu daripada aku ikuti keinginan Duryudono. Wong, kanjeng ratu adalah istriku. Sugandini….”

“Hamba paduka”, kali ini dengan senyum sumringah Sugandini menjawab.

“Aku kok membaui seperti ada yang gosong dari tungkumu, coba kamu lihat apa yang gosong?”

“Hamba tidak memasak apapun, paduka…”

“Lihatlah….di belakang apa yang terbakar, kok aku mencium bau gosong..”

“We la dalah….sendika dawuh sinuwun..mohon diri.” Tersadar Sugandini bahwa itu adalah perintah halus dari Salya agar dia meninggalkan Sang Prabu berdua dengan Setyawati.

“Kanjeng Ratu..kalau saya pikir – pikir, kita ini pasangan terpercaya dan diterima. Terpercaya…artinya kita saling percaya dan saling menerima. Dulu kita menikah, aku perjaka dan dinda perawan…”

“Benarkah, paduka belum pernah bergaul dengan wanita sebelumnya??”

“Wo…benar, benar itu. Dulu aku minggat dan akhirnya bertapa di Gunung Argobelah itu khan karena aku diusir Kanjeng romo gara – gara belum mau menikah. Dan memang tidak ada wanita yang menarik hatiku di seluruh Mandaraka waktu itu. Padahal tidak kurang wanita cantik jelita di seantero Mandaraka, memikat hati kata orang2. Tapi semua itu, tidak pernah ada yang menarik rasa dan hatiku kok. Namun setelah aku bertemu dinda, hati dan rasaku luluh seketika. Dan terbukti khan, puluhan tahun kita bersama. Bebrayan kita diterima oleh para pinisepuh dan Tuhan yang maha kuasa. Tidak hanya diterima, kitapun dipercaya. Terbukti..kita dikaruniai lima orang anak, dan banyak cucu….”

“Terimakasih sinuwun…”

“Hmm…kalau saya ingat2, kok suasana malam ini sama seperti kita pengantin baru dulu ya. Eh hmmm….dulu persis malam ini. Ya hujan gerimis, angin yang semilir begini..wah benar2 mengingatkanku pada saat indah puluhan tahun silam. Tapi bagaimana ya dinda? Kita ini sudah tua, ragaku juga tidaklah seperti masa muda dulu. Masak ya akan terlaksana suasana seperti kita pengantin baru dulu??”

“Jika memang perlu, mengapa tidak Paduka?”

“O..begitu ya?. Tapi kita ini sudah beranak cucu lo..”

“Jika sedang begini…, janganlah kita mengingat anak – anak, apalagi cucu.”

“Hmm….yah..kalau begitu. Setyawati…aku rindu saat saat kita masih di Pertapaan Argobelah puluhan tahun silam. Dulu…seringkali kamu bersenandung tembang – tembang asmara yang menyenangkan hatiku. Mbok ya..sekarang kamu lakukan lagi seperti dulu..”

“Baiklah Kakanda, mohon dinikmati dan jangan kecewa karena memang alunan suara hamba tidak seperti dulu”

Prabu Salya meraih kedua tangan Setyawati,dengan senyum penuh kasih sayang dia mengangguk siap menikmati senandung Sang Ratu. Kanjeng Ratu memulai menyenandungkan kidung cinta kenangan mereka berdua. Meski sudah sepuh, suaranya masih sangat merdu. Begitu indah alunan nada dan untaian kata dalam tembang asmara, sang pencerita kisah ini tidak mampu menguraikannya.

Selesai kidung cinta Kanjeng Ratu Setyawati yang bermakna pujaan, cinta kasih dan kesetiaan tanpa pamrih kepada Salya.Sekarang giliran Prabu Salya mendendangkan tembang kasih mereka berdua. Pujian, sayang dan kesetiaan pada istri tercinta tertumpah dalam nada-nada asmarandana dari mulut Sang Raja. Dan terbukti bagaimana lestari dan bahagianya rumah tangga mereka. Cinta Salya kepada Setyawati adalah cinta pertama dan terakhir. Sewaktu muda dengan menyandang nama Narasoma, tiada lain yang dicari selain olah kanuragan dan kesaktian. Tiada lain yang dilakukan selain tapa brata menahan nafsu. Hingga sampai pada waktunya dia harus menerima waris tahta Kerajaan Mandaraka dari ayahanda Raja Mandrakeswara, belum terlihat juga ketertarikannya kepada putri manapun. Padahal dia harus didampingi seorang permaisuri saat menerima mahkota kerajaan. Ayahanda sangat marah menghadapi pembangkangannya waktu itu, hingga Narasoma terusir dari Kerajaan. Lebih dipilihnya terusir daripada dipaksa menikah.

Pengusiran itu dianggapnya sebagai berkah. Dengan demikian, dia dapat memenuhi hasratnya menempa jiwa raga tanpa direpotkan tugas-tugas sebagai putra mahkota. Ditujunya Gunung Argobelah, di lereng sisi timur pegunungan dia melalukan tapa brata mengekang nafsu, mengheningkan cipta, menghubungkan batin dengan hyang maha tunggal. Sampai suatu kali, antara sadar dan tidak dilihatnya seorang putri cantik menggendong bokor air, Endang Pujowati. Bagai gunung pasir diterjang gelombang pantai, hatinya luluh. Seketika hatinya bergetar, cintanya menggelora tiada terbendung. Pun demikian Endang Pujowati. Cinta pertama mereka berujung ke pelaminan. Karena kesetiaannya, Prabu Salya memberikan nama sayang Dewi Setyawati pada Endang Pujawati. Begitu cintanya Salya pada istrinya, selaku raja agung dia tidak mempunyai selir. Hal yang tidak biasa pada jamannya.

Perlahan mereka bergandungan tangan memasuki ruang belakang, kamar peraduan. Salya hampir menyelesaikan pupuh(bait) terakhir tembangnya saat mereka merebahkan diri di peraduan. Selanjutnya tidak perlu si penulis cerita ini menguraikan apa yang terjadi di antara mereka.

Perjalanan dengan kereta kuda dari perkemahan kurawa ke Mandaraka, pertemuan dengan anak keponakan Nakula Sadewa, rupanya membuat salira Salya letih. Menjelang tengah malam, dirinya sudah tertidur di samping Setyawati. Setyawati memandangi wajah sepuh orang yang sudah menjadi belahan nyawanya itu dengan penuh kasih sayang. Betapa dirinya sangat beruntung dikarunai suami yang tidak hanya Seorang Raja besar, namun juga prajurit pilihan tanpa tanding. Lebih dari itu Salya adalah kepala rumah tangga yang tanpa cacat di matanya. Darinya dia dapatkan lima orang anak yang tumbuh sehat hingga dewasa. Tiga putri – putrinya dipersunting oleh raja agung. Kedua putranya tewas sebagai satria di medan Kurusetra pada awal – awal Baratayuda. Salya telah membuktikan cinta dan setianya pada wanita hanya untuk dirinya. Suatu anugerah yang luar biasa, bahwa dia tidak perlu membagi cinta Salya dengan madu yang lain, layaknya para permaisuri2 umumnya. Bagaimana dia rela berpisah dengan suami, guru laki, pepunden seperti Narasoma?? Perjalanan hidupnya selama ini yang mungkin sudah hampir selesai ini, begitu membahagiakannya bersama Salya. Maka sumpah setianya adalah jika dia tidak menghadap yang Maha punya hidup lebih dahulu, tekadnya harus mati bersama.

Ahh…, lamunan bahagia ini membuat matanya sayu juga. Perlahan mulai dirasanya kantuk menyergap jiwa, menggelayuti raganya. Namun tidak terlepas dari pikirannya, mengenai apa yang didengarnya tadi sore dari Salya pada anak anak keponakan mereka. “Kakang Prabu, boleh saja kakanda ke medan laga, tetapi hamba harus ikut “, batinnya bertekad. Perlahan dilepasnya stagen pengikat kainnya. Diikatnya pinggang Salya dengan ujung stagen itu, diikatnya ujung yang lain dipinggangnya sendiri. Dia tidak ingin tertidur saat pujaan hatinya terjaga. Perlahan kesadarannya menurun, dipeluknya tubuh Salya. Dinikmatinya bau keringat sang suami. Aroma keringat itu baginya bagai kesturi yang meninabobokan kesadarannya. Setyawati tertidur, pulas seperti bayi.

Fajar dini hari mulai menyembul, seiring dengan kokok ayam jantan yang bersautan. Perlahan Salya terjaga, diusapnya mata tuanya. Dia teringat akan komitmennya pada Duryudono dan janjinya pada Nakula Sadewa. Perlahan diambilnya keris kerajaan yang selalu tersanding di peraduannya. Dihunusnya keris itu, mengkilat kilat menunjukkan ketajamannya. Stagen yang mengikat tubuhnya dan tubuh istrinya, diputus. Sekali gesek, putus seketika. Perlahan dia turun dari peraduan, disorongkannya guling ke pelukan Setyawati. Tanpa bersuara, dia kenakan pakaian keprajuritan sebagai tanda dia siap berperang.

Perlahan dia melangkah melewati pintu peraduan, masih sempat ditengoknya wajah istrinya di Peraduan. Langkahnya terhenti, batinnya mengaduh. Sungguh berat beban ini baginya. Namun dia adalah satria sejati yang teguh memegang janji, dan baru bisa dengan tenang pulang ke alam sana jika sudah terbebas dari beban dan hutang budi. Sekarang sudah waktunya dia harus mengembalikan hutang itu. Hutang yang sudah dinikmatinya sekian puluh tahun, memakan sebagian besar dari usianya. Diambilnya seceari patra, dituliskannya dengan pena isi hatinya di atas kerta putih itu ”Duh..istriku..Kanjeng Ratu Setyawati, begini rasanya orang yang harus melaksanakan janji dan kesaguhan. Sungguh berat aku rasa meninggalkanmu, tetapi aku harus tetap melangkah Kanjeng Ratu. Hanya satu pintaku, maafkan aku. Dan jika besuk sesuatu terjadi padaku, kabarkanlah pada sanak saudara, meski hanya sepatah dua patah doa aku minta mereka bersedia urun. Setyawati…mohon pamit ”. Di ciumnya wajah sepuh istrinya yang masih terlihat ayu itu. Ditumpangkannya patra di atas dada sang istri.

Secepat kilat tanpa suara, langkah Salya sampai ke Kepatihan. Dipanggilnya Patih Duwayata untuk mengusiri kuda kerata. Kuda kereta melesat mengerah ke Padan Perang Kurusetra. Salya telah siap menunaikan janji dan darmanya sebagai satria…

Duryudono – Salya Gugur [7], “Wo Prabu Salya, ijinkanlah kematian paduka bagi kami” Januari 11, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
Tags: , , , , ,
add a comment

“Wo Prabu, karena sudah jelas bahwa besuk pagi ayahanda Salya akan memimpin pasukan Kurawa menerjang Pandawa dan kami tahu tidak ada satupun prajurit maupun kesatria di dunia ini yang mampu mengalahkan Wo Prabu, maka wo…Kedatangan kami berdua ke Mandaraka ini, daripada kami mati sia sia esuk hari lebih baik sekarang saja kami berdua menyerahkan nyawa kami. Kami mohon, Wo Prabu bersedia membunuh kami berdua saat ini…”. Terkejut bukan kepalang Prabu Salya mendengar apa yang diucapkan Nakula. Merah padam mukanya menahan marah dan kekecewaan.

Bangkit dari duduknya sang raja agung ini,

“Bagaimana???? He..apa yang kamu ucapkan ??!!. Kamu ingin mati di tanganku sekarang? Kembarrr!!, takut perang kamu ya? Takut darah kamu..hey?”. Murka Salya tak terbendung.

“Dakik – dakik, aku baru saja menceritakan bagian demi bagian ketangkasan, kejayaan, keberanian, kaprawiran bapakmu Pandu..we lah kok sekuku pun tidak menetes pada kalian!! We lah…”, Salya menahan napas. Ditahannya amarah yang menggelora seolah hendak menjobol dada, memecahkan kepalanya.

“We..lah, turun ke kamu kok sperti ini?? Kalau boleh saya ibaratkan, bapakmu adalah singa barong. Bapakmu itu gajah…kok turun anak kalian ibarat kodok ! Bahkan precil ! Aku timang timang, aku gadang gadang kalian, harapanku dengan menceritakan kelebihan bapakmu, semoga ada sebagian yang menurun kepada kalian. Wah…hmm… jebul begini jadinya. Ketahuilah oleh kalian…setelah tewasnya kedua kakakmu Burisrawa dan Rusmarata dalam perang ini, aku masih punya harapan kepada kalian. Anak2ku yang lain. Meskipun hanya keponakan, tidak berkurang harapan dan doaku atas kalian..!!! Ayo bicaralah..! Jangan hanya membak membik seperti anak kecil.Apa kalian kira jika kalian menangis seperti itu, aku akan mengasihani kalian?? Ayo jawab..kamu takut perang? Iya??”

Apa yang bisa dilakukan kembar menghadapi murka bapak tuanya ini? Lidahnya kelu, pikirnya kalut, perasaannya tak menentu. Meski mereka lelaki dan sudah dewasa, tak urung air matanya mengalir. “Duh Gusti yang maha agung, terlalu pedih baratayuda ini bagi kamu. Ampunilah hambamu.”, begitu kira2 aduhnya dalam hati. Dengan kata kata tertahan, hampir tak terdengar diberanikannya matur,”Wo..mohon ampun”.

“Tidak…!!! Tidak sudi aku memaafkan orang penakut seperti kalian. Kalian benar2 orang paling pengecut di mataku. Hayo sekarang jawab pertanyaanku?? Baratayuda itu perangnya siapa?!”

“Pandawa Kurawa, wo..”

“Kalian tahu itu perangnya Pandawa Kurawa. Tetapi mengapa begitu banyak pepunden, pinisipuh, yang tidak ada gandeng cenengnya dengan pandawa kurawa ikut jadi kurban? Apa salah Resi Bisma, sehingga harus sekarat meregang nyawa di ladang kuru setra?? Belum lagi senopati seneopati Wiratha bertiga, Utara, Seto, Wrahatsangka gugur sia untuk urusan pandawa Kurawa!!. Apa pula dosa Druna pada kalian, hingga kepalanya terpenggal dan menjadi mainan para ribuan prajurit??. Apa kalian tidak malu dengan mereka yang telah gugur demi kalian, para pandawa?? Mengapa sekarang kalian dan pandawa jadi takut perang??? Belum lagi para muda taruna yang seharusnya menjadi harapan pemimpin bangsa penerus kalian, juga mati sia menjadi benteng kalian. Tidak malu kalian dengan Abimanyu?? Hey…!? Kalian lihat betapa beraninya anak yang baru berumur 19 tahun itu? Dihadangnya ribuan senjata kurawa tanpa mengaduh dan mengeluh, jika bukan karena korban nyawa abimanyu, saya kira kalian pandawa sudah habis oleh strategi perang Bunga Teratai Druna. Lalu….kamu lupa bagaimana gatotkaca, anakmu itu menghadang senjata tanpa tanding Adipati Karna? Hey….!? Kamu lupa????, ayo jawab !!!”

Hanya tangis sesenggukkan yang keluar dari mulut kembar.\

“Kalian terdiam, itu karena kalian lupa atau pura – pura tidak tahu !!??. Mana pandawa, sekarang? Mana Wrekudoro yang gagah perkasa bukan hanya fisiknya, namun juga konon pernah minandita menjadi resi di Gunung IndraKila jaman itu. Namun, di medan laga perang ini sejengkalpun tidak terlihat kaprawiraan dan keberaniannya. Mana keberanian kalian??? Hayo jawab, kataku.”

“Beribu maaf Wo, apapun yang akan wo titahkan kami menerima dengan lapang. Semuanya akan selalu kami anggap wejangan dan nasehat tidak bernilai, namun tetap kami mohon, bunuhlah kami sekarang”. Masih dengan tersedan ucap Nakula.

“Yah….umpama bukan Salya, saya kira sudah timbul rasa kasian kepada bujuk rayu dan sikap memelas kalian itu. Namun, aku adalah Salya yang hidupku di dunia sudah lebih dari seratus tahun. Aku sudah bisa membaca apa yang tersembunyi. Dan jangankann manusia, lemut nyamukpun aku saring, aku kasihtahu kepada kalian. Aku perhatikan semenjak kamu datang, laku jongkokmu mulai dari gerbang pendapa tadi, aku dapat katakan pasti ini bukan niat murni kalian sendiri. Kalian ada yang menyuruh, iya apa tidak??”
“Tidak Wo, keinginan ini datang dari hati kami sendiri…beribu ampun wo.”
“Ah, bukan….kamu pasti ada yang menyuruh”, entah mengapa nada bicara mulai merendah.
“Benar wo, kami mohon mati..”

“Hmm..yah. Begini kembar…kamu menginginkan Pandawa menang bukan? Sekarang ikuti kata – kataku ini.. “

“Bagaimana Wo??”

“Ikuti kata – kataku, ‘Wo..besuk pagi saat wo prabu menjadi senopati perang..’”. Salya memberi jeda ucapnya, Nakula mengikuti “Wo..besuk pagi jika wo prabu menjadi senopati perang..Mohon wo prabu mati di medan perang, ayo katakan..”. Bagaimana Nakula bisa mengikuti perkataan itu? Salya adalah paman tua, pelindung, guru, dan tempat mengadu pandawa, bagaimana mungkin mulutmya mempu mengucapkan permintaan seperti itu? “Bagaimana wo??”

“Sudahlah, ayo kamu ucapkan ‘Mohon wo prabu mati di medan perang’”
Masih belum keluar ucap Nakula, dicobanya berbagi beban dengan adiknya Sadewa, “Bagaimana yayi??”. Hehhh…apalagi Sadewa.Pikirnya buntu, mulutnya terkunci. “Terserah Kang Mas, saya mengikuti dari belakang saja.”

“Ayo katakan, “mohon wo prabu mati di medan perang””. Terucap juga kata kata Nakula, “Mohon…….wo prabu…………mati di medan perang…”

“Aduh anakku ngger….ya ini yang aku tunggu Kembar……”. Dirangkulnya kedua putranya itu, diciuminya berkali sperti dulu dia menimang keduanya waktu bayi.

“Kembar…ya itu yang aku tunggu. Lahir batin lega lila, rela legawa, ikhlas aku mati di medan laga demi kemenangan dan kejayaan Pandawa. Karena memang aku maupun jagad tiada berhak menyalahkan pandawa dalam perang ini. Perang pandawa adalah perang membela keadilan. Pandawa memegang teguh keadilan dan wajib mengadili pihak2 yang harus diadili. Ngger, memang benar jika aku maju sebagai senopati dan tidak lagi mampu mengdalikan marahku, niscaya Pandawa sama sekali tidak mampu melawanku. Namun begini, anak2ku. Dulu aku bertapa di Gunung Argo Belah dan akhirnya ketemu ibumu Kanjeng Ratu Setyawati. Bapak Kanjeng Ratu adalah seorang Resi Raksasa bernama Begawan Bagaspati. Kesaktian Resi bagaspati, niscaya tiada seorang pun kuasa menandingi. Ini karena beliau mempunyai ajian Canda Birawa yang sekarang menyatu dengan kekuatanku. Namun, dia rela mati dan menurunkan aji itu kepadaku. Itu semua karena aku malu mempunyai mertua raksasa sehingga aku meminta kematiannya. Bagaspati memberikan kematiannya, namun bersmaan dengn moksanya raga Sang Resi, suaranya masih menggema dan menungguku di alam tepak suci untuk bersama sama sowan ke haribaan yang maha pemberi hidup. Waktu itu akan sampai pada suatu perang besar saat Salya berhadapan dengan seorang raja berdarah putih. Kembar….”

“Ya wo…”

“Semua ini nanti sampaikanlah kepada pamongmu, Sri Kresna. Saya kira selanjutnya nanti Kresna sudah tahu apa yang harus dilakukan”.

“Baik Wo, sendika dawuh…”

“Sekalian, pada kesempatan kali ini aku sampaikan kepadamu. Segera setelah aku turun dari kursi kerajaan kali ini, babar pisan saya menyatakan diri lengser keprabon. Setelah Salya tidak lagi menjadi Raja Mandaraka nanti, Kerajaan Mandaraka seisinya, beserta seluruh jajahan dan bawhannya aku serahkan kepada kalian, Nakula Sadewa. Kalian berhak atas gelar Sri Baginda Maha Raja Nakula dan Sadewa. Kamu Nakula, akan bertindak sebagai Raja dalam. Sadewa sebgaia Raja Luar. Sebagai raja dalam, Nakula bertugas mengurus hal hal yang terkait dengan urusan dalam kerajaan. Sementara Sadewa, bina lah hubungan baik dan kerja sama dengan raja – raja dan pemerintahan Mancanegara. “

“Beribu sembah dan terimakasih kami Wo atas kepercayaan dan anugerah yang demikan besar bagi kami.”

“Ya…ya. Namun ngger, sebagai Raja benar kalian mempunyai kekuasaan. Tetapi jangan kalian lupakan bahwa kekusaan itu menuntut tanggungjawab dan konsekuensi yang juga sangat berat. Pertama yang harus kalian ingat adalah bahwa, kekuasaan itu harus kalian pertanggungjawabkan kepada yang maha punya kuasa, Tuhan seru sekalian jagad raya. Oleh karena itu anakku, jangan sekali kali kalian meninggalkan aturan yang telah digariskan oleh Yang Maha Menang…”

“Sendika..Wo…”,

(Tobe continued, InsyaAllah)

Baratayudha, Duryudono Salya Gugur(6):Cerita Salya tentang Dewi Madrim Desember 28, 2009

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
2 comments

Tercekat tenggorokan Nakula Sadewa hatta mendengar tuturan paman sepuhnya, bahwa untuk menebus kesenangan ibunya, bapaknya Pandudewayana rela menghuni Neraka Yomani. Betapa Raja agung ini dapat melakukan kekhilafan yang demikian besar hanya demi cinta kepada istri dan harga dirinya. Dipilihnya siksa neraka yomani daripada menanggung malu sebagai raja agung penguasa astina tidak mampu memenuhi kehendak istri yang disayanginya. Disongsongnya panas dan derita yomani, demi kemewahan dan keistimewaan menunggang Lembu Andini yang hanya segebyarnya kilat seumpama. “Duh…..yang maha penguasa, beribu – ribu ampunanMu hamba mohon untuk ayahanda”, begitu lamunan n sesal Nakula. Hampir tiada kuasa ditahannya air mata kesedihan dan penyesalan itu.
“Anakku ngger….”, tersentak Nakula Sadewa oleh teguran Prabu Salya.
“Meski Pandu raja agung dan penguasa, dan meski dia Bapak kalian. Ambillah yang baik darinya, singkirkan yang buruk.”
“Ya…wo..”
“Sekalian aku beberkan kisah kematian Madrim, ibumu. Sebab..mungkin tidak ada siapa – siapa yang mampu menceritakan seutuhnya kecuali saya.”
“Bagaimana wo?”

Prabu Salya, Wayang Kulit Versi Jawa. http://id.wiki.detik.com/wiki/Salya

“Ya…Waktu…terjadi perang besar antara Prabu Pandu, raja Astina dan Raja Trembuka, Raja Raksasa dri Pringgondani. Kurang jelas apa yang menjadi pangkal perkaranya. Yang jelas, Pringgondani masih merupakan bawahan Astina. Entah mengapa, bebapa kali ‘pisowanan’, Trembuko tidak terlihat menghadap. Hingga menyebabkan Pandu marah. Terjadilah perang besar antara keduanya. Meski hanya sekejap mata ibaratnya, dunia mempergunjingkannya sebagai perang dunia yang pertama. Itu karena dua raja agung saling berperang dan menemui ajalnya”
“Waktu itu, ibumu sedang hamil tua. Mengandung kalian berdua kembar…Dalam perang besar di Ladang Kurusetra itu, bapakmu terkena senjata Keris Kala Nadah andalan Trembuko. Keris itu menancap sampai ke kaki bapakmu, hingga tembus ke bumi. Pada saat bersamaan, Trembuko juga terkena senjata Pandu hingga tewas seketika. Bapkmu pingsan, Keris Kala Nadah dicabut oleh pamanu Yama Widura dan diberikan kepad Harjuna. Bapkmu pingsan, membuat geger seisi istana Astina”
“Berhari hari, Pandu pingsan. Begitu siuman, abdi dalam memberi kabar bahwa Madrim sudah melahirkan kembar. Sampai pula kabar kepadanya mengenai Madrim yang meninggal karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Sakitnya Bapakmu semakin parah begitu mendengar kabar kematian ibumu. Namun demikian, tangannya masih berusaha grayah grayah mengambil kertas dan pena. Dituliskannya dalam selembar kertas itu, nama kalian ‘Kinten’ dan ‘Pangsen’, sambil berkata ‘Aku namakan anakku itu, Kinten dan Pangsen’. Keanehan jagad, kuasa Yang Maha Menang, sekejap setelah itu Bapkmu moksa bersamaan dengan ibumu.”
“Jadi ngger….setelah brol…,kelahiran kalian, tiada lain yang menyusui, mengasuh, mengurus, membesarkan kalian adalah Ibumu Kunti. Oleh karena itu ngger..,biapun hanya ibu tiri, hormati dan perlakukan dia layaknya ibu kandungmu sendiri..”
“Sendika wo…”, Bertambah – tambah rasa sedih dan penyesalan dalam diri Nakula Sadewa. Kesengsaraan dan bebendu dari Yang Maha Kuasa, pun telah dimulai semenjak orang tuanya di dunia fana. Bahkan derita dan papa itu secara tidak langsung harus ditanggung ibu tirinya Kunti dan semua saudara2nya karena ditinggal oleh Bapaknya pada usia dini.
Seolah tahu apa yang dipikirkan kedua anak keponakannya itu, Salya berdiam diri seakan memberi kesempatan untuk mereka menikmati lamunan dan campur aduknya pikiran.
Derita dan sengsara itu mulai bayi sampai dengan dewasa seolah selalu menyertai mereka. Begitu, brol kelahirannya mereka tidak pernah merasakan susu ibunya. Mereka berenam selalu tenggelam dalam cerita kelam. Semasa kanak kanak, merek diecehkan, dipinggirkan. Beranjak remaja berbagai cara dan cobaan dilakukan untuk menyingkirkan bahkan melenyapkan mereka hanya karena mereka dan ketiga saudara tuanya pewaris tahta kerajaan yang sah. Masih jelas terbayang bagaimana mereka hampir hangus terbakar bersama balai balai yang sengaja dibakar setelah pesta balai sigolo. Gusti yang maha agung menyelematkan mereka dengan mengirim korban pengganti. Sebelas tahun di pengasingan dalam hutan tanpa bekal, terasa baru selesai kemarin sore. Hampir seperti manusia primitif mereka menjalani pengasingan itu. Haanya mengandalkan rambahan hutan dan hasil buruan untuk mempertahankan hidup. Hanya kulit kayu dan kulit binatang yang dpat digunakan sebagai penutup tubuh.
Penyamaran satu tahun dan keharusan untuk menutup jati diri bukanlah cobaan yang biasa biasa saja. Tentu saja, jika mengingat mata mata dan kaki tangan Sangkuni tersebar di seluruh penjuru jagad.
Namun….begitulah hikmah dan pelajaran yang diperoleh olehnya dan saudara saudaranya pandawa sungguh luar biasa. Penderitaan, syukur dan kesabaran adalah kombinasi yang mujarab dalam membentuk keteguhan jiwa, ketangguhan fisik, dan keyakinan yang kuat kepada takdir dan kuasa Yang Maha Menentukan. Ibarat emas yang disepuh. Setelah ditempa dan dipanasi, kilau dan kemurniannya semakin terlihat. Maka, setelah beberapa saat mampu dikuasainya perasaan yang berkecamuk, timbul rasa syukur yang tiada terkira di hati dan rasa mereka.
“Kembar….”,Salya memecah kesunyian di antara mereka.
Gelagapan Nakula Sadew, “Ya wo Prabu, mohon maaf..”
“Setelah jelas bagi kalian mengenai riwayatmu, dan ibu bapakmu. Ijinkanlah pun uwo bertanya. Di tengah2 baratayuda saat ini, kalian yang seharusnya mengapit kakakmu Si Puntadewa, mengapa dan apa tujuannya kalian tergopoh ke Mandaraka ngger?”
“Sendika wo, mohon maaf sebelumnya….Wo, semakin jelas kabar yang kami terima. Semua prajurit, tamtama dan perwira juga tentu saja para ‘telik sandi’ yang terlibat dalam peperangan ini mendengar kabar bahwa besuk pagi ‘byar’ begitu matahari terbit, wo Prabu akan bertindak sebagai senopati perang Kurawa dan akan menerabas barisan pandawa. Oleh karena itu wo….”
Terhenti ucap Nakula yang semula ibarat bethet (burung kaka tua) seribu sedang membagi mangsa. Karena ributnya. Nakula tidak mampu menguasai diri begitu sampai pada inti ucapannya yang merupakan pengejawantahan tujuannya sowan ke Mandaraka.
“Wo…”
(Insyaallah akan dilanjutkan, stasiun mediun, 28,12,09:19.45)

Duryudono Salya Gugur [5], Pelajaran dari Salya untuk si Kembar mengenai Orang Tua Mereka Desember 1, 2009

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
2 comments

Sudah sekitar tujuh belas hari Prabu Salya meninggalkan Mandaraka, dan tentu saja permaisuri serta kerajaan seisinya. Maka wajar jika timbul rasa kangen yang menggelora antara mereka. Pasangan ini begitu serasi dan seperti wejangan para leluhur mereka dulu, merka selalu runtang – runtung, sarimbit layaknya mimi lan mintuna. Tidak seperti kebanyakan para raja dan satria yang mempunyai istri lebih dari satu, sepanjang hidupnya Prabu Salya hanya menikah dengan satu istri yaitu Setyawati. Begitulah, ini salah satu janji yang dipegang dan ditepati Narasoma sebagai syarat diberikannya nyawa sekaligus anak tunggal Resi Bargawa waktu itu.

“Kakang Prabu…”, Setyawati memulai pembicaraan setelah mereka merasa enak dalam mengatur duduk dan istirahatnya, “Sudah lebih dari dua minggu Kakang Prabu Salya meninggalkan keraton demi mendampingi Kurawa dalam perang Baratayuda. Sekarang Kakang Prabu kembali dengan segar bugar, puji syukur kepada Hyang Maha Tunggal. Apakah perang sudah selesai Kakang?”

“Eh hmmm, dindaku sayang Setyowati….Aku ini selama hidup tidak pernah meninggalkanmu barang sehari karena rasa sayang dan cintaku kepadamu. Tetapi kali ini ber hari – hari aku tidak dekat apalagi bersanding denganmu, demi janji dan kesaguhanku yang harus aku tetapi. Tidak terkira kangenku kepadamu yayi…Sudahlah tidak usah membicarakan perang. Mudah-2an perang ini memang segera selesai. Yang salah secepatnya meminta maaf, yang berhutang semoga cepat menyahurnya, demikian pula yang meminjam semoga segera mengembalikannya. ”

“Syukur jika memang begitu Kakang….Karena sudah sedemikan berat penderitaan akibat perang ini. Bukan hanya bagi para pandawa dan kurawa, melainkan lebih – lebih kepada rakyat jelata dan orang – orang yang sebenarnya sama sekali tidak bersenggolan dengan dosa kurawa pandawa..”

“Ya..yayi….Sudah – sudah, kita sudahi saja pembicaraan mengenai perang ini. Setyowati….aku kok merasa haus sekali kali ini. Tapi aku ingin air kelapa muda sebagai minumku kali ini. ”

“Sendika dawuh sinuwun…”

“Dan…ini memang musim kemarau kelihatannya ya? Eh hmmm, panasnya serasa membakar kulit kepala. Setyawati….setelah berhari – hari menunggu mereka yang ramai berperang, kok aku ingin menyegarkan lidah dan mulutku. Setyawati…setelah nikmat terasa air kelapa muda ini, aku minta sediakan rujak buatku sayang”

”Baiklah kakang, saya tinggalkan dulu untuk menyiapkan rujak yang paduka kehendaki.”

Nakula dalam Versi Pewayangan Jawa, http://id.wiki.detik.com/wiki/Nakula

Setyawati dan Sugandini undur diri ke belakang guna menyiapkan permintaan Sang Prabu. Belum sempat bangun dari duduk untuk sekedar melemaskan punggu Prabu Salya, dilihatnya di pelataran istana kereta kuda pelan – pelan memasuki pelataran. Dilihatnya anak keponakannya si Kembar Nakula Sadewa turun dari kereta. Denagn penuh sopan santun mengikuti adat pisowanan kerajaan waktu itu, mereka berjalan duduk menaiki tangga pisowanan di mana Prabu Salya bertahta. Prabu Salya mencintai anak keponakannya itu tiada bedanya dengan dia mencintai bahu kanan – kirinya sendiri. Mengingat riwayat dan pendiritaan yang dialami anak Madrim, adik perempuannya itu. Dulu ketika muda dan masih bernama Narasoma karena berselisih paham dengan orang tuanya – Raja Mandaraka ketika itu -, dia diusir untuk minggat dari kerajaan oleh ayahnya itu. Ketika dia lari menghindar dari terjangan keris orang tuanya dan akhirnya minggat, adik tersayangnya Si Madrim, tidak rela dan mengikuti perginya Narasoma. Karena cintanya kepada Narasoma, begitu juga sebaliknya tentu saja. Bahkan Narasoma pula yang mengawinkan Madrim dengan Pandudewayana ketika itu. Adiknya tersayang itu, karena garis takdir Yang Maha Hidup, tidak berumur panjang. Setelah melahirkan si Kembar, Madrim konduran, meninggal seketika karena terlalu banyak darah keluar. Tidak lama kemudian bapak si Kembar, Pandudewayana, menyusul istrinya moksa. Jadilah kembar lola yatim piatu. Dapat dimengerti betapa sayangnya Salya kepada Si Kembar.

Apalagi sekarang, dua anak lelakinya Burisrawa dan Rukmarata, telah tewas di medan laga Kurusetra dalam Perang Baratayuda ini. Maka gegantilan hati dan harapan penerus keturunan dan kerajaan ditumpahkan kepada Si Kembar.

Wo…kami yang menghadap. Kami haturkan sembah dan salam taklim kami Wo. Maafkan kami sudah beberap saat kami tidak sowan ke hadapan Wo Prabu, bahkan hanya untuk sekedar menanyakan kabar sekalipun.”

”Eh…hmm….Kembar…Nakula, Sadewo…..anakku yang sangat aku sayangi. Kalau aku memandang kamu, yang aku ingat adalah Madrim ibumu. Eh hmmm Madrim..Madrim…begitu tragis nasibmu..” Salya tidak kuasa menahan emosinya mengingat adik tercintanya yang sudah lama mendahului pergi ke alam loka baka. Bicaranya tersendat, serasa terceka biji kedondong tenggorokannya. Pada akhirnya tangisnya tumpah. Sesenggukan dia seperti anak kecil kehilangan mainan. Nakula Sadewa membiarkan Salya menumpahkan emosinya. Mereka mencoba bertahan tidak larut dalam emosi sang paman tua itu. Setelah Salya merasa menguasai emosinya, dilanjutkannya kata – kata kepada anak keponakan sak-kembaran itu.

”Kembar, Kinten dan Pangsen….Aku juga ingat akan kebesaran dan kewibawaan Bapakmu Pandu. Tapi sayang sangat sayang, nasibnya berujung tragis karena kesalahan kecil yang dibuatnya sendiri.”

”Bagaimana bisa begitu Wo?”, jawab mereka hampir serentak.

”Ya…ya…., kiranya hanya aku yang akan dapat menceritakan seutuhnya kepada kalian tentang apa – apa yang dialami almarhum orang tua kalian. Pandu dari dulu sampai sekarang, siapa dan jagad mana yang tidak kenal dengan kewibawaan dan keluhuran budinya. Janganlah ditanya kedigdayaannya. Jangan hanya titah biasa manusia mengakuinya, bahkan dewa dan para malaikat pun mengakui keluhuran budi, keiwibawaan dan kedigdayaan si Pandu. Umur 2 tahun, Bapakmu itu sudah menjdai utusan dewa menanggulangi musuh Kayangan Suralaya. Kewibawaan, keluhuran budi, dan kecakapannya dalam mengatur negara..jagad ini tiada duanya. Semua para raja menjadikan Pandu sebagai kiblat dalam tata kelola dan pengaturan negara. Namun ngger…..di jagad ini tidak ada yang sempurna kecuali Yang Maha Pencipta Jagad, ya Yang Maha Tunggal, ya Yang Maha Sempurna. Bapakmu, siapapun mengakui bahwa tiada cacat setitikpun dalam mengatur negara dan memerintah kerajaan. Tapi sayangnya, Bapakmu lengah dalam membina keluarga dan rumah tangganya..”

”Wo…bagaimana bisa begitu?”, Nakula bertanya.

”Yah…seperti kataku tadi, rasanya tidak ada manusia di jagad ini yang dapat menyampaikan kepada kalian mengenai Bapakmu almarhum, kecuali saya. Begini ngger…Bebendu dan musibah yang menimpa orang tuamu dimulai ketika Ibumu, Madrim sewaktu mengandung kalian di masa muda kehamilannya mempunyai keinginan yang sangat tidak biasanya. Ibumu merengek kepada Bapakmu agar mereka berdua dapat menaiki punggung Lebu Andini. Kamu tahu Lembu Andini? Lembu Andini itu titihan Bathara Guru. Itupun hanya salira tunggal, artinya hanya Bathara Guru pribadi, sendiri, yang berhak menaiki Lembu Andini. Bahkan jauh sebelumnya….Di Kayangan Suralaya pernah terjadai ontran – ontran dan ujungnya malapetaka. Waktu itu Dewi Uma, istri Bathara Guru, ingin juga dapat menaiki Lembu Andini. Para Dewa dan Bathara waktu itu juga sudah mengingatkan Bathara Guru agar permintaan Dewi Uma itu ditolak. Namun, Bathara Guru tidak kuasa menolak permintaan istrinya itu. Jadilah huru – hara akibat itu, dan lahirlah Bathara Kala yang menjadi malapetaka bagi jagad ini. Dan karena bebendu itu pula, Dewi Uma berubah menjadi Bethara Durga yang kamu tahu sekarang menguasai jagad para raksasa dan lelembut. Tetapi ini pun tidak menjadi pelajaran buat Bapakmu. Orang bener bisa lupa, orang pandai bisa salah. Itulah Bapakmu. Dia nekat naik ke kahyangan Suralaya menghadap Bethara Guru, meminta ijin untuk meminjam Lembu Andani meski hanya sekelebatan kilat umpamanya. Tentu saja para Bathara melarang, begin kata bethara Guru ’Pandu…, jangan kulup, jangankan manusia biasa. Para Dewapun tidak diperkenankan untuk menaiki Lembu Andini selain ingsun Sang Jagad Girinata’. Namun Bapakmu bersikukuh ngger, dan khilafnya dia menyombongkan diri ’Pikulun, yang mulia Bethara Guru tidak sewajarnya bagi Raja Agung seperti saya,’ Bapakmu menggunggung diri ’ Tidak lumrah bagi Raja Agung seperti saya ini jika tidak mampu menyanggupi permintaan istrinya. Oleh karena itu yang mulia, ijinkan saya meminjam lembu Andini barang sekelebatnya kilat. Yang Mulia…, biarkanlah kemuliaan bagi saya sekarang dan saya sanggup menjadi penghuni Neraka Yomani saat setelah saya meninggal nanti’”.

Tidak terbayangkan apa bagaiman perasaan dan rasa sedih Nakula Sadewa mendengar tuturan kisah tragis orang tuanya. Bisa jadi sekian lama orang tua mereka menghuni Neraka Yomani sebagai kerak Neraka itu. Meskipun terdengar juga kabar samar – samar bahwa saat ini orang tua mereka sudah dientaskan dari neraka itu karena tapa brata dan laku pandita yang dilakoni Wrekudara saat kejadian Bima Saktu sekian puluh tahun yang lalu.

Tidak kuasa Nakula Sadewa menahan sedih dan penyesalan atas sikap orang tuanya yang mengakibatkan penderitaan bagi mereka berdua. Kali ini Nakula Sadewa yang tak mampu lagi membendung air matanya.

”Sudah…sudah Ngger”, Salya mencoba menghibur anak keponakannya itu.

”Kamu….jangan nangis, kalian…jangan nangis. Semuanya sudah kejadian. Kita hanya dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari semua peristiwa itu. Ya..meskipun Pandu adalah orang tuamu, contohlah yang baik. Buanglahyang buruk darinya”

”Baik Wo…Lalu bagaimana dengan meninggalnya ibu Wo?”

”Ya..ya.., babar pisan, sekalian akan saya ceritakan bagaimana meninggalnya kedua orang tuamu. Waktu itu, ibumu sedang mengandung kalian berdua dan sudah waktunya untuk melahirkan. Kerajaan Hastina Pura sedang mengalami masalah. Entah apa yang menjadi penyebabnya, Prabu Trembuka Raja Pringgondani salah satu bawahan Hastina membangkang…hingga…”

[Insyaallah akan dilanjutkan kemudian..:)]

Duryudono-Salya Gugur [4], Nakula Sadewa Memainkan Peran Yang Tidak Dimengertinya.. September 16, 2009

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
add a comment

Di perkemahan Sang Penasehat Agung Sri Kresna. Di pelataran Kemah Sri Kresna, Kereta Jaladara sudah dilepaskan dari keempat kuda penariknya. Kuda kuda pilihan pemberian  para dewa Kahyangan itu mungkin sedang istirahat di pagedongannya. Setelah hampir 2 hari yang lalu menunaikan tugas mulia, mengantar kemenangan Senopati Arjuna mengiringi gugurnya Satria Sejati Karno Basukarno. Terdengar temalu Senjata Bendhe Kyai Panca Janya. Sejatinya itu merupakan tanda bahwa Pandawa akan jaya di medan perang Baratayudha ini.

Di dalam kemah, Sri Kresna nyatanya sedang gundah dan terusik pikirannya. Semakin jelas kabar yang didengar menjelang malam ini. Meskipun awalnya hanyalah semilir trbawa hembusan angin di musim kemarau ini, namun kabar dari para prajurit pemgintai semakin kuat dan terang kebenarannya. Bahwa….sesaat setelah gugurnya Karno Basuseno, Prabu Salya menyanggupi tangisan Duryudono agar dirinya turun ke medan laga menerabas prajurit Pandawa. Ini membuatnya sangat khawatir. Tidak ada isi jagad yang terlewat dari kabar keprigelan dan kesaktian Salya. Selain Raja Agung, Salya adalah prajurit linuwih. Terlebih Salya menyandang Ajian Canda Birawa yang beruwujud raksasa bajang.

Kresna tahu, kesaktian Salya tidak mungkin ditandingi Para Pandawa dan sekutunya. Oleh karenanya, harus ada cara khusus untuk bisa mengalahkan Salya. Kemenangan itu harus diminta kepada Salya, bukan Salya yang ditaklukkan karena itu tidak mungkin.

Dipanggilnya Nakula Sadewa menghadap. Nakula dan Sadewa adalah Pandawa yang berhubungan darah langsung dengen Prabu Salya. Madrim, ibu kandung Nakula Sadewa adalah adik Salya yang ketika muda bernama Narasoma. Narasoma juga yang menikahkan Madrim dengan Pandu, Bapak Para Pandwa.

“Adikku tersayang…Nakula, Sadewa….” Sri Kresna memulai pembicaraan menjelang tengah malam yang sepi itu.

“Sendika dawuh, Kakang Prabu”, jawab mereka hampir serentak

“Ketahuilah adik2ku, setelah gugurnya Kakakmu Adik Prabu Karno, Paman Prabu Salya ditangisi oleh Adik Prabu Duryono. Diminta menjadi senopati Kurawa menerabas barisan Pandawa. Adikku…..jika diingat bahwa Paman Salya itu bukanlah orang yang tidak jelas asal usulnya. Paman Salya termasuk salah satu sesepuh dan pepunden bagi Pandawa, jika demikian adikku…..bagaimana mungkin tangan tangan saudara2mu pandawa kuasa ‘kemlawe’ meladeni krida Paman Salya? Ya meskipun, selama perang ini sudah banyak juga para pepunden yang menjadi korban”.

Sejenak suasana hening nyenyet. Si Kembar hanya tertunduk, menahan kesedihan dan rasa sesak yang memenuhi dadanya. Adalah semua benar apa yang dikatakan Narendra Dwarawati itu. Prabu Salya bagi para Pandawa, apalagi bagi Kembar adalah sesepuh yang masih ada sangkut paut hubungan darah. Ibu Kembar, Dewi Madrim adalah adik kandung tersayang Narasoma, ya Prabu Salya. Bahkan konon kawinnya Madrim dengan Pandu pun, Narasoma yang mengawinkan. Salya juga merupakan guru olah kanuragan dan gelar perang bagi Para Pandawa. Bagaimana mungkin, dengan demikian, Pandawa akan dapat tega menarik busur panah, mengayunkan pedang, menghujamkan gada ke badan Prabu Salya?

Kresna melanjutkan ujarnya, sebelum Nakula tenggelam lebih dalam dalam lamunan udarasanya.

“Yayi….kembar….Apalagi jika Kakang ingat. Rama Prabu Salya dalam dirinya tertanam ajian Condo Birowo. Meskipun secara wadat fisik hanyalah berupa raksasa bajang, namun yayi…..Raksasa ini jika terluka akan mampu melipatkan diri. Satu menjadi sepuluh, sepuluh menjadi seribu, seribu menjadi sejuta dan tentu saja akan memenuhi Ladang Kurustra. Lalu, kita dapat membayangkan bagaimana Pandawa dan para prajurit Pandawa akan mampu menanggulangi ajian Condo Birowo itu, adikku??. Kembar….”

“Sendika dhawuh Kakang Prabu….”

“Kakang ada rekayasa..,caranya kalian berdua datanglah ke negeri Mandaraka. Sowanlah ke Rama Prabu Salya. Tidak perlu matur apapun selain ‘Paman prabu..kami berdua mohon dibunuh sekarang juga’ “

“Baik…Kakang Prabu…meskipun belum terlalu jelas bagi kami maksud dhawuh paduka, kami akan segera melaksanakannya. Kapan kami harus ke Mandaraka?”

“Jangan sampai kedahuluan waktu, kembar..pergilah sekarang juga”

“Sendika…kami berdua mohon pamit dan doa restunya…”

Keluar dari perkemahan, kepala nakula sadewa dipenuhi rasa tanda tanya dan kebingungan yang mendera dera. Takdir ini terasa terlalu berat baginya. Mengapa Baratayudha harus memakan korban yang sejatinya masih sedarah daging. Tidak terbayang sebelumnya bhwa mungkin saja ujung hidupnya akan berada di tangan sesepuh yang selama ini begitu sayang dan melindungi dirinya? Tidak terbayangkan sebelumnya kasih sayang dan welas asih antara Pandawa dan Rama Salya akan berujung pada pertumpahan darah di Ladang Kurustra. Terbayang pula di pelupuk mata mereka, Raksasa Canda Birawa akan memenuhi ladang peran, menghisap darah dari kepala ribuan prajurit Wiratha dan bahkan para pandwa pun tidak akan mampu mengelak dari buasnya jutaan raksasa itu.

Perlahan diteguhkan hatinya….Dikumpulkannya kepingan harapan yang tersisa. Secuil demi secuil keprasahan kepada Sang Penguasa jagad dirapikannya. Mereka harus percaya kepada Sang Pamong Agung Pandawa, Sri Kresna. Sudah terbukti bahwa selama ini dan selama Pandawa tunduk pada nasehat Sri Kresna, selalu kebaikan yang dituai.

Saat itu, malam sudah hampir menyergap jagad. Mega kemuning di angkasa sudah tak tersisa disapu gelapnya malam. Semilir angin malam membawa bau amis darah, anyir bangkai dan sobekan daging dari Ladang Kurustra sisa perang siang tadi. Nakula Sadewa cekatan merakit kereta. Menyiapkan kuda kembar penariknya. Ditanggalkannya keris yg biasa selalu disandangnya. Guna menunjukkan kepada punggawa dan penguasa Mandaraka bahwa kedatangannya ke Mandaraka bukanlah untuk melawan Sang Uwa.

Perlahan kereta yang ditarik kuda kembar itu menyisir Ladang Kuru Setra sisi perbatasan Wiratha. Dalam perjalanan tiada lain yang ada di antara kedua saudara kembar itu selain diam dan bisu. Mereka tenggelam pada pikiran masing – masing. Yang rasanya seirama. Nada – nada pikiran mereka yang tidak terdengar adalah penyesalan, kesedihan, dan kekecewaan. Mengapa takdir ini menimpa mereka ? Mengapa perang ini harus mengorbankan sanak kadang, pawong mitra, para sesepuh yang masih darah daging sendiri.

Langkah demi langkah kuda kereta semakin menjauhkan mereka dari Kuru Setra. Dari kejauhan sesekali bayangan mereka timbul tenggelam seiring kabut malam yang diterpa angin.

Di Mandaraka…

Prabu Salya baru saja turun dari kereta saat itu. Kedatangannya disambut hangat penuh kerinduan oleh Sang Ratu Dewi Setyowati. Tangan kanannya dituntun turun dari kereta dan digandeng Sang Istri tersayang. Sungguh pasangan sepuh yang wujud dari doa dan kodangan para pinisepuh puluhan tahun silam saat mereka dinikahkan di pendopo agung. Sampai saat ini meskipun sudah berputra lima putra putri, bercucu belasan, kemesraan itu tak pernah terlihat luntur. Bahkan terlihat semakin kukuh, membuat iri yang memandangnya. Dari pendopo agung, saudara sepupu mereka, Dewi Sugandini memandang dengan wajah sumringah demi melihat majikannya yang penuh kemesraan itu….

Banjaran Karno [III], Latihan Perang di Ladang Kurusetra Juli 31, 2009

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
add a comment

Sudah sementara belasan tahun sejak Karno Basuseno diasuh orang tua pungutnya. Karno tembuh menjadi anak muda yang tampan, cerdas serta tangkas dalam olah kanuragan dan keprajuritan. Karno bukanlah keturunan manusia kebanyakan. Tidak mengherankan jika pembawaan dan sikapnya tidak seperti kebanyakan orang. Meskipun perawakannya biasa saja namun tegap dan terlihat sangat prigel. Badannya padat berisi, kulitnya bersih cenderung gelap. Sikap pemberani dan berontaknya sangat menonjol. Karno tidak pernah ragu atau merasa takut untuk menanyakan, mengkritik bahkan mengecam pedas apapun yang tidak sesuai dengan pikiran dan nalarnya. Namun begitu sikapnya teguh bagai gunung himawad dalam mempertahankan prinsip dan keyakinan yang dianggapnya benar. Adirata seringkali kewalahan meladeni pertanyaan maupun bantahan Karno mengenai apapun. Mungkin karena energi dan pikirannya lebih banyak dihabiskan untuk mengkritisi kondisi di luar dirinya, hingga keberadaan dirinya sebagai putra adipati Angga tidak sekalipun menimbulkan keraguan dan tanda tanya. Seolah baginya sudah kata akhir bhwa dia adalah memang putra pasangan Adirata dan Nyai Nada. Di Mandura dan akhirnya Astinapura, Dewi Kunthi diperistri oleh putra raja astina Prabu Pandudewanata. Dewi Kunthi melahirkan 3 putra, Puntadewa, Brataseno, dan Arjuna. Dari istri ke dua, Dewi Madrim, Pandudewanata menurunkan dua putra kembar Nakula dan Sahadewa. Dewi Madrim meninggal setelah kelahiran dua putra kembarnya. Pandudewanata menyusul moksa tidak lama kemudian, setelah memberikan nama kdua putra kembarnya Tingsen dan Pangsen, nama kecil Nakula dan Sahadewa. Kelima anak Pandu ini kemudian jagad mengenalnya sbagai para satria Pandawa. Saudara tua Pandudewanata sesama putra Wiyasa namun lain ibu adalah Raden Destarata yang terlahir buta. Raden Destarata beristrikan Dewi Gendari. Keduanya menurunkan putra putri berjumlah seratus. Mulai yang tertua mereka antara lain: Duryudono, Dursasana, Kartomarmo, Durmogati, Citraksa, Citraksi, Durjaya, Durprakempo, Wikarmo, dll. Keseratus putra putri Destarata ini dikenal sebagai Para Kurawa. Pandawa dan Kurawa besar dibawah asuhan Destarata selaku pemangku jabatan Raja selama Pandawa – pemilik kerajaan yang sah karena keturunan Raja Pandudewanata – belum dewasa. Untuk membimbing Pandawa Kurawa, Destarata mendatangkan guru yang unggul tanpa tanding, Begawan Durna seorang pandita dari pertapaan Atas Angin. Sesekali bagi mereka berguru kepada kakek tiri mereka, Pandita Talkanda Resi Bisma. Begitulah, selain bermain masa kecil hingga remajanya diisi dengan belajar ketrampilan perang dan olah jiwa. Destarata dalam kegiatan – kegiatan yang mmerlukan keluar dari istana kerajaan, dilayani Kusir kereta Adirata yg tidak lain adalah ayah pungut Karnobasuseno. Seperti biasanya, pada waktu – waktu tertentu, para pandawa kurawa mengadakan latihan perang dibawah pngawasan Pandita Durna. Demikian juga kali ini, saat mereka sudah menginjak usia akhir belasan menjelang duapuluhan. Adipati Destarata memrintahkan Durna untuk mengadakan gladi perang antara murid – muridnya. Latihan perang kali ini kelihatannya dilakukan besar besaran. Terbukti bewara dan umbul2 dipasang di mana mana di area kerajaan Astina. Bewara dan umbul – umbul itu mengumumkan kepada dan mngajak penduduk untuk berbondong – bondong menyaksikan latihan perang ini di Padang Kurusetra. Tidak terkecuali Adirata harus memenuhi kewajiban untuk mengendalikan kuda kereta yang akan digunakan Adipati Destarata menuju Ladang Kurusetra. Tidak seperti biasnya kali ini Adirata mengajak serta putra kesayangannya Raden Karno. Saat mereka menyiapkan kereta di jalan antara alun alun dan istana kerajaan, Karno merasa heran melihat puluhan pemuda tampan, tegap dan berpakaian serba bagus tanpa cela. Namun lima di antara mereka dengan pakaian sederhana meskipun tidak sedikitpun mengurangi ketampanan dan bersinarnya wajah2 lima pemuda itu. Karno bermaksud memperjelas amatannya dengan mendekati para pemuda itu, ditinggkannya sang Ayah Adirata. Terlihat mereka saling bercanda n bersuka ria. Tidak lama kemudian barisan pemuda itu bergerak, beberapa di antara mereka menggunakan kereta sebgian yang lain menunggang kuda. Terlihat di ujung depan satu kereta, di dalalmnya berturut terlihat menaiki kereta, dilihat dri pakaiannya, seorang resi yang sudah sudah berumur. Wajahnya putih cenderung pucat, rambut dan jenggotnya memutih. Matanya sipit dan terlihat juling. Tangan kirinya cekot, jalannya agak pincang. Selanjutnya terlihat sesorang yg juga sudah tua namun tidak setua yang pertama. Dilihat dari pakaiannya, dia adalah seorang pejabat kerajaan rupanya. Badannya kurus tidak terlalu tinggi. Roman mukanya cenderung cengengesan, sesekali dia terlihat terkekeh dngan kesan senyum meremehkan. Berikutnya seorang pemuda tinggi agak gemuk dengan pakaian serba gemerlap.Kepalanya mengenakan tropong berukir seperti mulut naga di bagaian belakang. Kedua lengannya atas bawah mengenakan gelang keemasan, juga bercorak lingkaran naga. Di belakang kereta ini mengikuti kuda kuda dan beberapa kereta yang juga penuh dengan pemuda2 yg berpakaian serba bagus dan membuat iri yang memandang. Karno melihat paling belakang ada lima pemuda masing masing menunggang kuda. Diamat amatinya satu persatu. Pertama pemuda yang kelihatannya perpembawaan halus. Dia terlihat tidak banyak bicara. Rambutnya digelung pendek tanpa penutup kepala. Fisiknya tidak tinggi tidak pula tegap, namun terlihat bagi siapa yg memandangnya timbul rasa welas dan syang kepda pmuda ini. Di samping kiri kanannya sepasang pemuda mengapit pemuda pertama. Kedua ini rupanya kembar. Hampir hampir serupa keduanya. Fisik keduanya biasa-biasa saja bahkan cenderung ringkih, namun tetap terlihat tangkas. Keduanya berpakaian seragam, tetap prasaja dan sederhana. Di belakngnya berjajar dua pemuda yang lain. Satunya terlihat sangat mudah dibedakan. Bertubuh tinggi besar, badan tegap dengan sorot mata tajam namun teduh. Tulang dan ototnya kekar. Rambutnya dibiarkan terurai gondrong tanpa tutup kepala. Berbeda dengan keempat pemuda lain yang dilihatnya, jambang dan kumis lebat menghiasi mukanya seolah mempertegas wibawanya. Pandangan matanya beralih ke pemuda ke lima. Entah mengapa perasaannya berbeda begitu Karno menatapkan sorot matanya ke pemuda. Dari kejauhan sekelebat terasa mereka saling beradu pandangan, sebelum kembali pemuda itu tenggelam dalm cengkerama dengan yang lain. Karno merasakan seolah dia sudah pernah srawung begitu dekat dengannya. Namun antara iri dan sayang rasanya. Penampilan fisik pemuda ini terlihat tidak berbeda dengannya. Wajahnya bersih dengan komposisis hidung, mulut, mata yang begitu seimbang. Seolah Yang Maha Pembuat menakarnya dengan tanpa cela. Badannya tegap namun terlihat halus pembawaannya. Kekulitannya kuning langsat halus tanpa cela. Rambutnya hitam lebat digelung rendah. Pemuda ini menggendong busur lengkap dengan puluhan anak panah di bahu kiranya. Terlihat dari kejauhan pemuda ini sangat gesit, dari caranya melompat ke atas kuda tunggangan. Rombongan besar itu mulai bergerak. Namun ke lima pemuda di belakang belum beranjak. Oh..rupanya ada yang mereka tunggu.Seorang wanita setengah tua perlahan menaiki kereta sederhana yang berada di depan kelima pemuda tadi. Berikutnya perlahan rombongan terakhir itu mulai bergerak. Karno belum lagi melepaskan pandangan dri iring2an itu ketitka iringan bergerak semakin cepat dan menjauh. Karno kembali ke Adirata. Keheranan Adirata melihat anaknya berlari – lari seolah dikejar sardula. “Karno anakku, mengapa kamu berlari tergesa2 seperti itu?” “Rama prabu saya melihat barisan pemuda dengan pakaian serba gemebyar, membuat senang rasa yang memandangnya. Dan lima pemuda yang terlihat berbeda dengan yang lainnya. Siapa mereka…??” “Anakku ketahuilah para pemuda dengan pakaian serba indah dan edi peni itu adalah para putra raja astina. Mereka biasa dipanggil sebagai satria Kurawa.” “O o,terus…..mereka pada mau pergi ke mna Bapk? ” “Anakku, mereka semua sedang menuju ladang kurusetra. Dengan didampingi Pandita Durna, Mereka akan mengadakan latihan perang, seperti yang sudah kamu lihat di bewara dan tulisan2 umbul2 itu bahwa….” “Durna itu siapa ???” dengan nada tinggi penuh keheranan dan tanda tanya Karno menyela sebelum bapaknya selesai menjelaskan. “Lo loh…, sebentar Karno, kamu…. jangan gegabah begitu dengan jangkar menyebut Pandito Durna, Beliau adalah seorang pandito linuwih, guru para Kurawa dan Pandawa..” “Pandito dari mana dia….!?” “Mengertilah ngger, Durna itu pandito dari Atas angin” “Atas Angin…!? Orang Atas Angin kok jadi guru di Astina, apa orang Hastina ini bodho semua…?!” “We lah, ngger….Kamu yang hati hati jika berkata kata. Ngger, mengertilah bhwa bener bahwa di Angga bapakmu ini adalah adipati dan menjadi sembahan para rakyat. Namun di Astina, bapak ini hanyalah seorang kusir….Dan kemuliaan serta wibawa bapak ibumu di Angga adalah berkat welas asih dan anugerah Adipati Destarata. Jadi ngger…yang hati2 jika berucap…Jika sampai terdengar Sang Adipati, bisa2 kamu nanti akan mendapatkan bendu…” “Dibendu itu artinya dimarahi to??, Kalau saya dimarahi ya sekalian saja saya tantang perang semua orang Kerajaan Astina, saya tidak peduli Bapak…” “Aduh ngger, janganlah brangasan begitu..Tolonglah kamu bisa menjaga nama bapak mu ngger. Jangan membuat keruh air yang sejatinya bening ini.” “Baiklah….., la …tapi mengapa semuanya latihan perang, kok saya tidak diajak!? Kalau hanya perang melawan pemuda2 itu, Karno tidak akan mundur sejangkah..” “Ngger….Karno, seperti di pengumuman2 yang dipasang di pohon2 dan umbul2 itu, latihan perang ini hanya untuk Kurawa Pandawa ngger….” “Ah….bagi Karno ya tidak begitu, yang namanya perang. Siapapun boleh ikut…” Belum selesai Karno dengan kalimat terakhirnya, Adipati Destarata memanggil Adirata “Adirata….apakah kereta ku sudah siap??” “Sendika sinuwun, semuanya sudah hamba siapkan”, jawab Adirata dengan penuh rasa hormat. Tidak lama kemudian rombongan Adipati Destarata sudah menaiki kereta yng dikendalikan Adirata sebagai kusirnya. Sekali hentak kuda2 penarik kereta secepat kilat membawa kereta dengan kecepatan penuh menuju ladang kuru setra. Tinggallah Karno di alun2 Kerajaan. “Jagad dewa batara…..!! Ayahku Adirata sayangnya kepadaku seprti sayangnya kepada bahu kiri kanannya, namun begitu menerima titah dari Astina, aku ditinggal begitu saja. Ya ya…secepat cepatnya lari si kuda kereta itu, masih cepat larinya Karnobasuseno. Tidak bisa ikut naik kereta, bagiku tidak mengapa, aku terima membonceng saja. Aku kejar larinya kereta itu seberapa cepatnya….” Karno mengerahkan segala kemampuannya untuk mengejar kereta kuda. Tidak berapa lama, didekatinya kereta yang dikusiri ayahnya itu. Sekali lompat, Karno berhasil menangkap ‘kuda-kuda’ kayu penyangga atap kereta bagian belakang. Seringan kapas ibaratnya, hentakan kakinya di pijakan kereta bagian belakang tidak terasakan oleh siapapun dalam kereta. Dengan membonceng di luar kereta, Karno sampai ke ladang kuru setra. Untuk menjaga perasaan ayahnya, dia langsung menyelinap di antara ribuan penonton yang hadir. Adirata sama sekali tidak menyadari bhwa ada penumpang gelap dalam kereta yang dikendalikannya. Ladang Kurusetra. Suatu savana yang masih dalam kekuasaan Astina pura, berbatasan dengan negara tetangga Wiratha. Padang savana sangat luas, luasnya dibatasi oleh sejauh kemampuan mata memandang dari keempat sisinya. Untuk keperluan latihan perang ini, di salah satu ujungnya telah disiapkan pepanggungan. Pepanggungan dengan atap daun sirap cukup nyaman n teduh sebagai tempat para pejabat dan petinggi Kerajaan Astina. Di jajaran depan terlihat Adipati Destarata dan permaisuri Dewi Gendari. Patih Haryo Sengkuni, Pandita Durna, Dewi Kunthinalibrata juga terlihat di barisan terdepan. Para Kurawa dan Pendawa bersiap dengan senjata andalan masing – masing. Puntadewa, Arjuna menggendong Busur dengan anak panahnya. Duryudono, Werkudara memegang gada yang seukuran tugu gapura besarnya. Kartamarmo, durmogati, citrakso, citraksi menyandang bindi. Di depan panggung terbentuk arena yang luasnya tujuh yujana persegi. Arena luas ini yang akan menjadi medan geladi perang antara pandawa kurawa. Sekeliling arena dipenuhi para punggawa luar, penjaga istana luar dalam, dan penduduk Astina yang terlihat sanga antusias menyaksikan gladi perang ini. Mereka datang berbondong2 dari segala penjuru negeri. Menuntun anak anak mereka, menggendong bayi bayi mereka, menyokong dan memandu orang tua dan para pinisepuh. Sorak sorai bergemuruh ketika Durna memanggil murid muridnya untuk memasuki arena tanda latihan ini dimulai. Bertalu talu, bersautan para yang hadir memanggil dan berseru nama nama para satria keturunan Resi Wijasa.Para satria itu memasuki arena dengan pmbawaan dan gaya masing masing. Puntadewa yang halus melangkah dengan pelan seolah setengah dipaksakan ayunan kakinya. Duryudono berjalan menjaga wibawanya sebagai raja muda. Sebentar sebentar mengangkat kedua tangannya memberi isyarat kepada para rahayat untu menyoraki dan memberinya semangat. Dursasana dengan cengengesan penuh kesombongan berteriak teriak mengagungkan kelebihannya yang bertubuh tinggi besar. Werkudara melagkah mantap penuh ketenangan. Keberanian dan keteguhan tekadnya jelas terpancar. Langkah Arjuna yang lambat tidak mengurangi kelincahan dan kecekatannya. “Anak2 ku Kurawa Pandawa, duryudono, puntadewa, dursasana, werkudara, janaka, kartomarmo, dan juga kamu kembar. Serta smua anak2ku yang lain semuanya… ” Serentak, bersahutan mereka menjawab panggilan Sang Guru. “Ketahuilah ngger…Hari ini atas permintaan Rama Adipati Destarata kalian akan berlatih perang tanding sebagai ukuran kesiapan kalian menjadi benteng dan senopati Kerajaan..Oleh karena itu ngger, sipkam diri kalian. Siagakan keprigelan kalian, tunjukkan ketrampilan kalian…” Duryudono, saudara darah kuru yang paling tua menyela “Wah ha ha..kebetulan Bapa Guru, saya akan mendapatkan sarana untuk mengukur seberapa tinggi kemampuan Werkudara dan saudara saudara pandwa” Puntadewa mencoba matur.Sesuai dengan sifat pembawaannya sejak lahir, puntadewa akan selalu menghindari konflik sekecil apapun. Baginya tidak ada bedanya orang jahat dan orang baik, kepada siapapun dia akan bersikap baik dan mengalah. Lebih baik dirinya tdak mndapatkan apapun, asal tidak ada konflik.Lebih2 dngan sodara dekat “Bapak guru, Durna…” “Ya, Puntadewa anakku..kamu akan matur apa??” “Bapak..,jika bukan karena hormat atas kehenda uwak adipati Destarata, hamba tidak ingin terlibat dalam perang2an ini. Apalagi jika mengingat ini melibatkan para pihak yang msih ada ikatan darah, jika ada sedikit keteledoran dalam olah senjata tidak ada yang merugi melainkan kta sendiri..” “Ha ha ha, dasar pngecut…kamu takut darah ya..?!” seru Dursasana dengan angkuh. “Tidak takut Kakang, namun mohon diingat bahwa kita ini bukanlah pihak lain..” “Bapak Durna…”, Werkudara menengahi, membela saudara tuanya. “Ya..bagaimana Seno..” “Bukan kok aku membela Kakang Punta. Benar meskipun ini hanya sekedar gladi, jika ada kekurang hati hatian tidak mustahil akan ada yang celaka. Oleh karena itu….,biarkan Pandawa hanya saya yang maju. Jangan hanya melawan Kakang Duryudono, seratus Kurawa biarkan mengeroyok Bimaseno, tidak selangkahpun aku akan mundur…” Sengkuni menyela..”We la.., Werkudoro jangan begitu…..Kamu harus dapat membedakan mana keperluan pribadi mana sikap Pandawa…La…Janaka bagaimana?? Kamu berani tidak…???” “Ya paman….jika memang harus saya lakukan. Saya akan mengikuti perintah Sang Guru” “La rak begitu…La terus kembar gimana kembar??” “Baiklah Paman…meskipun saya tidak terbiasa bertanding, tapi karena sudah menjadi perintah Guru Durna ” jawab Nakula.. “Saya juga demikian Paman”, sahut Sahadewa. “La…bagus” “Sudah sudah, jangan pada bicara semaunya masing – masing…Latihan perang ini nanti akan dimulai dengan memanah boneka berupa burung..”. Belum selesai Durna bicara, Sangkuni menyala “Werkudara..jangan lupa ini nanti hanya latihana…ya” “Latihan berani, benar benar perang aku juga berani..”, sahut Bratasena yakin. Citraksi merasa tertantang, naik darahnya “Werkudara…..kamu bicara latihan berani, beneran berani…Kamu nantang secara halus ya??” “Menantang halus ya berani, kasar ya berani…”, Brataseno menjawab. Durna menengahi, “Sudah sudah, kalian tidak perlu menuruti kemauan sendiri. Yang aku adu ini nanti adalah ketepatan dan keakuratan dalam memanah sasaran berupa tiruan burung yang sudah disangangkan di cabang batang gurda di tengah arena itu..Oleh karena itu, kalian sekarang kembali ke tempat kalian masing masing. Aku akan memanggil kalian sesuai giliran” Kurawa Pandawa kembali ke panggungan tempat semula. Durna tetap di tengah arena untuk mengawasi adu memanah murid muridnya. Pertama dipanggilnya Kartomarmo. Kartomarmo maju ke tengah arena dengan menyandang busur srta anak panahnya. “Kartomarmo…” “Saya bapak guru…” “Ingat ya ngger, yang kamu incar adalah sasaran kepala boneka burung itu. Jika meleset kamu harus belajar lagi, paling tidak 10 tahun lagi” “Sendika bapak, mohon doa restu dan saya jamin bidikan saya tidak akan meleset” Dengan tangan kanannya, Kartomarmo menarik satu anak panah dari gendongannya, menumpangkannya pada busur yang langkapnya dipegang dengan tangan kirinya. Ditumpukannya lutut kiri pada tanah kering ladang kurusetra, kaki kanannya menyiku. Perlahan diangkatnya langkap panah mengarah bidikannya pada sasaran, boneka burung di salah satu cabang pohon gurda sejarak 4 yujana dari tempatnya membidik. Sedikit senyum tersungging di bibirnya karena percaya dirinya yang berlebihan. Ditahannya nafas untuk berkonsentrasi. Bukan hanya kartomarmo, seolah semua yang hadir diterpa sihir gendam, cep klakep tanpa suara. Semua yang hadir diam penuh konsentrasi mengamati sang kartomarmo. Dalam hati dihitungnya tarikan napasnya, pada desahan napas ke tiga dilepaskannya anak panah. Secepat kilat anak panah meluncur dari busurnya. Sssstttt……plasss. Sayang….bidikannya meleset, hanya mengenai sayap burung2an itu. Sora sorai ribuan yang hadir membahana…seolah mengejek kegagalan Kartomarmo. Karena begitu malu, kartomarmo lari terbirit birit meninggalkan arena. Durna, memanggil Puntadewa untuk giliran berikutnya.”Putraku ngger…Puntadewa….” “Ya Bapak Guru…., apa saya harus memanah juga??” “Ya ngger…Eh hmmm, aku kalau melihat kamu itu kok jadi tentram dan adem atiku. Tidak ada bedanya dengan Dewa yang ‘ngejawantah’….” “Bapak Guru…janganlah memuji saya berlebihan, sya khawatir saya akan gagal..” “Ya kalau kamu yang gagal….aku ya ndak apa apa ngger…Tapi usahakan berhasil ya ngger..” “Baik Bapak Guru, mohon doa restunya…” Dengan cara yang sama, Puntadewa mencoba membidik sasaran yang ditetapkan. Sejatinya..kalau bukan perintah Guru, Puntadewa enggan melakukan ini. Puntadewa sama menganggap olah kanuragan dan keprajuritan sama sekali tidak berguna, kecuali mencelakakan. Bahkan mencelakakan musuhnyapun dianggapnya sama dengan mencederai kemanusiaan. Konflik dan kekerasan adalah hal yang harus dihindari, bahkan dengan mengorbankan diri pun. Maka sudah dapat diduga dia akan gagal, dan memang kenyataannya dia gagal. Bidikannya melesat, hanya mengenai dahan tempat burung itu hinggap. Meski dahan itu hancur berkeping keping, tetap saja gagal. Di tengah keramaian dan sesaknya ribuan penonton, Karno hanya tersenyum senyum melihat unjuk keprigelan para darah kuru itu. “Heh…hanya sedangkal itu keprigelan mereka. Ah memalukan sekali para satria itu. Kalau hanya sasaran seperti itu, dengan mata terpejam pun aku bisa membidiknya. Dengan tepat”, gumannya dalam hati. Di arena, Pandita Durna menyeru Joko Pitono untuk maju menunaikan gilirannya. “Bapak Guru Durna, tes ini akan aku lewati dengan mudah. Silakan minggir sebentar, dan amatilah apa yang akan saya lakukan”, dengan “rongeh” dia sesumbar. Fisiknya membidik sasaran di dahan nun jauh di sana, namun otak dan hatinya hanyalah memikirkan dampar istana Kerajaan Istana Astina yang digadang gadangnya. Terbayang di kepalanya kekuasaan atas negara dan rakyat Astinapura. Kekuasaan memang manis terasa baginya. Dengan kekuasan di tangan akan didapatkan sgala keinginannya, kenikmatan, ketenaran, kekayaan. Jumeprettt…..suara anak panah lepas dari busur Joko Pitono. Bukan hanya meleset dari kepala burung, bahkan anak panah itu hanya mengenai angin di atas kepala burung. Gemuruh sorak yang para hadir, mengejek, menyoraki Putra Pangeran Astina itu. Ditahannya rasa malu dalam dirinya. “Bapak Guru….” “Ya ngger…bagaimana?” “Ini karena Bapak guru yang salah sehingga bidikan panah sya luput dri sasaran…” “Lo lo….sebentar sebentar…kok bisa begitu, bagaimana ngger?” “Bapak harus tahu, saya ini tinggi besar. Maka…harusnya Bapak lebih tinggi lagi dalam memasang sasaran itu..Kalau pas dalam memasang sasaran itu, pasti bidikan sya tepat..” “Lo…tapi khan kenyaannya meleset to ngger?” “Bukan meleset tapi Bapak Druna yang salah” “Wooo, gmana ini? Jadi luput dianggap tepat apa gimana?” “Biar luput, kalau Joko Pitono harus dianggap benar..” “Lo lo, jangan begitu ngger…Ini dilihat ribuan orang lo. Ah…ya nggak pantes to..Sudahlah, sekarang angger minggir sebentar dulu. Masih banyak adik2mu yang menunggu giliran. Nanti…..gampang, Bapak akan memberikan wejangan yang pas agar bidikan angger lebih baik dalam memanah” “Ya sudah…tetapi Bapak hrus bnar memberi wejangan khusus buat saya. Kalau tidak…apa guna aku mendatangkan guru jauh seperti sampeyan….”. Duryodono meninggalkan gelanggang. Di kejauhan, semakin sinis saja pandangan Karno melihat apa yang terjadi di gelanggang latihan perang itu. Dalam hati dia tersenyum “He’h ….apa yang dapat diandalkan dari putra putra kerajaan Astina itu??Walah kasian amat negeri ini..”. Diamatinya keadaan sekiling.Sisa sorai para kawula yang hadir karena kegagalan Raden Joko Pitono masih membahana. Angin yang bertiup cukup kencang, nyata2 tidak menjadi pertimbangan para satria bodah itu. Hmm..ternyata memang tumpul nalar pikiran para darah barata itu. Setidaknya sampai dengan saat ini, tidak ada yang mampu memenuhi tugas gurunya. Ladang Kurusetra tidaklah rata, namun di beberapa tempat ada gumuk, gundukan tanh kering dengan rerumputan yang kering. Juga ada beberapa diantaranya ditumbuhi tanaman perdu. Sudah sedari berangkat dari alun alun kerajaan Astina, Karno berniat terlibat dalam latihan perang ini. Meskipun dirinya bukanlah pihak yang perlu terlibat. Namun, untuk menjaga nama orang tuanya, keterlibatan ini harus dilakukannya dengan cara yang cerdik….

Sayembara Pilih Dewi Durgandini yang Salah…. Juni 26, 2009

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Senangi.
add a comment

Sudah sementara waktu Bethari Gangga berketapan hati meninggalkan suaminya Sentanu dan anaknya yg baru lahir yang bahkan belum sempat diberinya nama.Dewi Gangga tidak rela kasih suaminya terbagi untuk anak2nya, hingga ke delapan anaknya ditegakannya dibuang ke Sungai Gangga sesaat setelah lahir. Rupanya sudah menjadi kodrat Yang Maha Kuasa bagi anak ke sembilan mereka, Sentanu tidak lagi rela lagi untuk membuang anaknya itu, Raden Dewabrata.
Demi kasih sayang kepada putra tunggalnya, Sentanu berkehendak mendapatkan ibu bagi putranya, dan berjanji akan menjadikan permaisuri bagi wanita manapun yang mampu menyusui Dewabrata. Namun sayang sudah berpuluh2 wanita gadis maupun janda tak kuasa menyusui Sang Jabang Bayi Dewabrata.
Suatu saat Sentanu mendengar kabar bahwa di Wiratha, putri kerajaan Raja Basukiswara Dewi Durgandini mengadakan sayembara pilih untuk memilih pria sebagai suami sang putri.
Sentanu dengan menggendong Dewabrata, menaiki kereta kerajaan, memacu kuda secepat yang dia bisa agar segera sampai di Wiratha secepatnya. Di Wiratha, sudah banyak para raja, para satria, bahkan para resi yang mengikuti sayembara pilih ini. Namun dari sekian banyak para pria itu, tidak satupun yang mampu menarik hati putri Wiratha.
Sampailah saat terjadi kekeliruan itu, dan dari sinilah rupanya sejarah darah Kuru dimulai.Di panggung kerajaan, dari kejauhan Dewi Durgandini melihat satria rupawan dengan menggendong bayi. Berbunga hatinya, pria inilah yang ditunggu-tunggu. Tanpa menunggu, tanpa berfikir, tidak perlu meneliti, Durgandini menjatuhkan pilihannya. Segera Durgandini mengutus adik lelakinya, Durgandana, untuk mengalungkan rangkaian bunga kepada satria tampan itu sebagai tanda dialah yang terpilih.Sorak sorai yang hadir membahana di alun – alun kerajaan, seolah memberi selamat kepada satria itu yang ternyata adalah Sentanu, Raja Hastinapura.
Durgandini perlahan turun dari panggung kehormatan dan mendekati satria pinilih itu.Hatinya berbunga, cinta yang selama ini dipendamnya akan terlaksana.Segera -pikirnya- dia akan berkumpul dengan pria terkasih dan anak benih kasihnya itu. Sejatinya, sayembara pilih ini hanyalah akal – akalannya demi mekar cintanya yang terlanjur bergelora kepada pria idaman kalbunya.
Perlahan semakin jelas dilihatnya siapa satria pinilih itu. Seolah dirinya tidak percaya dg apa yang dilihat matanya. Duh gusti…..satria yang sedang berbincang dengan Durgandana itu bukan Bambang Parasara, si jantung hatinya. Setengah berteriak dengan rona puas hati, Durgandana menyeru kepada mbakyunya itu. “Kakanda…….!!! Sungguh tepat pilihan kakanda, beliau adalah Raja Agung Hastinapura, Prabu Sentanu Murti…”.
Durgandini tertegun, kakinya seolah terhujam ke bumi. Tanda tanya dan penyesalan memenuhi dada dan kepalanya. Terasa sesak dadanya, terasa pusing kepalanya. Bagaimana ini bisa terjadi? Memang Bambang Palasara tidak menpati jnji berdua yg sudah sama2 direncanakan. Bukankah Palasara menyanggupi akan datang dengan menggendong Wiyasa putra mereka, sbagai tanda bhw dia adalah Bambang Palasara?
Hasil sayembara pilih ini, sama sekali tidak diinginkannya. Tapi membatalkan adalah aib baginya, bagi ayahanda dan keluarga, juga bagi kerajaan dan rakyat Wiratha. Ribuan orang melihat dan menjadi saksi jatuhnya pilihan itu. Durgandini sudah tidak mungkin mundur kembali, harus menerima akibat keputusannya sendiri.
Di luar tembok dan gerbang tinggi kerajaan, Bambang Palasara mengendarai kereta menggendong putranya Wiyasa. Umbul umbul dan beyawara sayembara pilih belum diturunkan. Dengan demikian, itu pertanda sayembara belum lagi selesai. Memang sayembara ini belum berakhir hingga kedatanganya bersama jabang bayi Wiyasa. Perjalanan yang jauh dari Sapta Arga, terasa semakin jauh saja karena ketidaksabarannya untuk segera dipilih oleh sang kekasih.
Namun memasuki alun alun kerajaan, hatimya mulai bertanya2. Mengapa Durgandini sudah turun dari panggung? Dan….wah bagaimana mungkin, sudah ada satria berkalung rangkaian bunga. Apakah benar sudah ada yang terpilih?Mengapa Durgandini menahan tangis di tengah keheranan ayah, ibu dan adiknya?
Semuanya jelas bagi Bambang Palasara saat Sentanu berteriak kepada segenap yang hadir bahwa sayembara sudah selesai dan Sentanu lah yang terpilih. Palasara, tentu saja, tidak dapat menerima ini. Baginya sayembara belum selesai, buktinya umbul umbul dan segala beyawara belum lagi dturunkan.
Pada akhirnya pertikaian antara mereka tidak dapat dihentikan. Dan ujungnya terjadi perang tanding dan adu kesaktian. Hingga Bathara Narada turun dari kahyangan melerai mereka. Akhir dari episode salah pilih Dewi Durgandini adalah Palasara menerima tawaran Narada bhw dia merelakan Durgandini diboyong sbgai istri Sentanu dg janji anak keturunannya akan mulia dan bahagia. Sementara Durgandini bersedia diboyong Sentanu ke Hastinapura saat Dewabrata telah dewasa, sebab ada hal yang ingin dikatakannya kepada jabang bayi itu kelak.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.604 pengikut lainnya.