jump to navigation

Aku bertemu Semar, Ki Lurah Badranaya pagi ini, dengan tangisan mata dan senyuman bibirnya. Maret 2, 2013

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
4 comments

semarAku bertemu dengannya pagi ini. Sosok yang datang dari kalangan Mitologi Jawa, berbeda dengan lainnya yang datang dari epos India. Dia menceritakan padaku mengenai dirinya. Mengapa dia harus ada ? Bagaimana posisi dan peran yang diambilnya? Mengapa bentuknya bulat menggemaskan, mengapa riasan wajahnya merepresentasikan seorang perempuan sementara cara berpakainnya bagaikan laki – laki? Mengapa matanya mbrebes mili menangis, bibirnya tersenyum?

Semar adalah pelayan sekaligus Dewa. Dia pelayan sekaligus penasehat. Dia mengabdi tetapi juga mengayomi. Dia akan mengabdi kepada pihak yang benar, yang direpresentasikan oleh Ksatria baik budi. Sifat mengayomi yang benar dan membela kebaikan ini direpresentasikan dengan wajahnya yang putih. Wajah putihnya melambangkan kesucian, kebenaran, kebijaksanaan, dan kemurnian. Bentuknya bulat mewakili bulatnya bumi, melambangkan dia sudah menelan apapun isi bumi. Baginya, tiada lagi arti apa pun yang ada di bumi. Harta kekayaan, kemewahan dan kesenangan duniawi, sudah tidak mau di rasanya lagi. Yang muncul ke permukaan tercermin dalam tutur kata dan sikapnya adalah cerminan dari wajah putihnya.

Dia selalu ada mulai dari Jaman Sekutrem turun ke bumi membentuk dan menurunkan trah mahabarata. Maka dia ada saat Manu mawoso, Bambang Sakri,  Bambang Palasara, Bambang Abiyasa, Pandu Dewanata, sampai dengan Parikesit. Begitulah selama keserakahan, ketamakan, angkara murka, dan pembuat kerusakan ada di muka bumi, Semar akan selalu hadir.

Konon dia ada untuk menetralisir peran Para Dewa di Kahyangan yang seolah tanpa batas, tanpa tepi di atasnya. Padahal yang paling atas di antara yang teratas adalah Tuhan Yang Maha Esa, Gusti Allah yang  Maha Tunggal. Maka Bethara Guru bukanlah penguasa tunggal dan pengambil keputusan mutlak, apalagi. Ada kalanya di saat – saat tertentu ketika kewenangan yang dipunyainya  digunakan unutk kepentingan pribadi atau kelompok, Semar akan datang menegur Bethara Guru – meski dia adalah Sang Hyang Wenang- sebagai Bathara Ismaya. Semar, menurut dirinya, lebih tua dari Bethara Guru. Atas kehendak Sang Maha Tunggal, Lurah Togog, Lurah Semar, dan Bethara Guru berasal dari telur. Kulit telur menjelma menjadi Lurah Togog yang ditugaskan untuk menasehati dan mengawal para pengemban dan pengabdi kejahatan, Putih telur menjelma menjadi Ki Lurah Semar, dan Kuning Telur menjelma menjadi Bethara Guru yang bertugas memimpin Para Dewa di Kahyangan Suralaya.

Matanya selalu menangis namun bibirnya tersenyum. Dia menangis meratapi dan mengasihani manusia yang selalu membuat kerusakan. Ketamakan telah menjerumuskan manusia ke jurang kenisthaan. Kerakusan dan pementingan pada diri dan kelompoknya telah mengakibatkan kerusakan tak terperi di muka bumi. Semar menangis melihat para pemimpin yang lupa diri, menenggelamkan diri pada kemewahan dan kenikmataan sesaat. Namun dia juga tersenyum, betapapun kerusakan meraja lela di muka bumi, selalu ada kesempatan untuk perbaikan dan pertobatan. Dia tersenyum selalu ada optimisme dan harapan di tengah kehancuran dan keputus asaan. Meski kebenaran selalu mayoritas, optimisme harus selalu dijaga. Bukankah Pandawa hanya 5 sementara Kurawa 100 ? Bukankah di perang Barata Yudha, Pandawa hanya punya 1 Kresna sebagai kusir pemandu, sementara Kurupati memilih 1000 raja sekutu lengkap dengan pasukan dan persenjataannya ? Toh kemenangan ada pada pihak yang baik, meski dengan pengorbanan yang tiada terkira.  (Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta 2 Maret 2013)

www.mercubuana.ac.id 

Mahabarata, Kresna Duta – Bisma Gugur [1] – Raja Pancala Prabu Drupada, utusan pertama Pandawa Mei 13, 2011

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata.
2 comments

Beberapa saat setelah Pandawa berhasil memukul mundur penyerbu Wiratha, dari Astina maupun bala pasukan Prabu Susarman maka Pandawa telah menyelesaikan janji memenuhi hutang. Hukum pembuangan ke tengah hutan 12 tahun dan penyamaran satu lamanya dengan segala coba derita maupun hikmahnya telah mereka jalani. Bukan hanya mereka berlima yang harus menempuh segala penderitaan dan siksa, namun juga Drupadi istri mereka. Karena janji kaulnya, Drupadi telah hampir 13 tahun tidak pernah menggelung apalagi menyanggul rambutnya. Janjinya akan kembali mengenakan gelung rambut jika telah terlaksana mandi keramas menggunakan darah segar Dursasana, satria tanpa tata krama dan selalu berlaku durhaka itu. Meski demikian tidak sedikitpun kecantikan Drupadi luntur.

Sekarang sudah tiba waktunya untuk menagih janji pada Kurawa. Perjanjian yang telah bersama – sama disepakati kala itu, segera setelah Pandawa kalah bermain dadu. Bahwa Pandawa akan kembali menerima hak nya atas Astina dan Indraprasta yang memang hasil keringat mereka sendiri, jika Pandawa lolos dari hukum buang dan penyamaran. Demi menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi, maka Pandawa berniat menagih janji itu. Pandawa telah melunasi hutangnya maka Kurawa pun harus menepati janjinya. Dengan perundingan dan persetujuan dari Raja Wiratha Prabu Matswapati, Pandawa mengirim utusan ke Astina untuk meminta kembali hak mereka Indra Prasta dan cukup separo saja Negara Astina. Meski itu semua adalah hak mereka sendiri, namun bukan watak Pandawa jika mereka bertindak hanya atas kemauan sendiri. Maka mereka memutuskan untuk meminta nasehat dan pandangan para pinisepuh. Raja Matswapati yang jika dari silsilah adalah eyang mereka, Raja Pancala Prabu Drupadi mertua Pandawa, dan Ibu mereka Dewi Kunthi diundang ke persidangan kecil di Istana Wiratha. Mereka akhirnya menyepakati Drupada akan menjadi utusan wakil Pandawa meminta haknya dari Kurawa.

Raja Pancala itupun pergi ke Astina mengemban misi Pandawa menghadap Duryudono. Setelah tahu misi apa yang diemban oleh Drupada Duryudono murka. Jangankan separo Astina, seperempat tanah Astina, seperdelapan, seperenambelas, bahkan seujung duri pun Duryodono tidak akan melepas Astina dan Indraprastha. Raja Pancala itu pun diperlakukan layaknya kaum sudra di hadapan Duryudono. Dengan menanggung malu dan sakit hati yang ditahan akibat perlakuan Duryodono itu, Drupada kembali ke Wiratha dengan tangan hampa. Sudah jelas baginya, watak angkara murka dan kurang tata krama yang bersemayam di diri Kurawa tidak mungkin dihilangkan dengan cara apapun, kecuali dengan bersama hilangnya nyawa yang menyandang watak itu. Drupada sudah merasa, Barata yuda memperebutkan hak dan mengukuhi tanah kerajaan antara darah Kuru akan pecah tidak lama lagi. Drupada tidak kembali ke Wiratha, karena dendam dan sakit hatinya tak kuasa dibendung. Dia khawatir tidak akan mampu menahan rasa itu, dia was – was apa yang akan diutarakan kepada Pandawa dan Raja Matswapati mengenai kekurangajaran Kurawa akan terbumbui oleh rasa serik dan sakit hatinya pada Kurawa. Maka Drupada kembali ke Pancala, mengutus anaknya Trustajumena ke Wiratha untuk meminta maaf dan mengabarkan kegagalan misi yang diembannya.

Para agung Wiratha hatta mendengar kabar itu, Matswapati dan ketiga putranya Seto, Utara, dan Wrahatsangka marah bukan kepalang. Tidak selayaknya seorang duta diperlakukan seperti itu, dipermalukan sedemikian. Seto mengusulkan perang harus segera dimulai. Bukan waktunya lagi berunding. Sebab menurutnya Duryodono dan para Kurawa sama sekali tidak mengerti tata krama perundingan antar negera. Seto merasa, Wiratha sudah pernah mengalami kekurangajaran Kurawa. Beberapa waktu yang lalu, tanpa mengirimkan surat tantangan dan aba – aba pun, Kurawa berkongsi dengan Prabu Susarman menyerbu Wiratha. Maka wajar kalau pertimbangan Seto dibumbui dendam. Bukan hanya Seto, Utara, Wrahatsangka yang sudah dipenuh nafsu amarah dan dendam kesumat, Bima pun sudah meminta persetujuan untuk menggunakan cara – cara keras dalam mengupayakan kembalinya hak – hak mereka.

Tetapi Puntadewa masih sabar. Sudah sifat Puntadewa akan selalu menjauhi kekerasan. Baginya lebih baik pribadinya mengalah daripada harus berselisih apalagi bertemu di medan perang. Lebih – lebih ini dengan saudara sendiri yang sama – sama keturunan Resi Abiyasa. Selama hidup Puntadewa tidak pernah punya musuh, dan apapun taruhanya jika mungkin, dia memilih tidak pernah punya musuh selamanya. Puntadewa hatinya bersih, orang jahat disayangi olehnya lebih – lebih orang yang baik. Itulah sifatnya dari lahir. Dalam melihat perkara inipun, jika bukan karena desakan saudara – saudara yang lain, dia memilih tidak memiliki Astina dan Indraprastha daripada harus berhadapan dengan Kurawa. Maka dicobanya sekali lagi untuk mengutus duta yang kedua. Dipilihnya Ibunda Dewi Kunthi untuk menemui Duryudono. Barangkali jika menghadapi Kunthi, seorang wanita yang sudah sepuh, seorang ibu yang lembut budi dan hatinya, seorang putri raja dan mantan permaisuri yang prasaja, Duryudono luluh hatinya …..

Antara MD dan DM (Dewi Madrim), obsesi mendapatkan kenikmatan akan keistimewaan dan kemewahan menjerumuskan… April 3, 2011

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
add a comment

Lagi – lagi kita disuguhi lakon membuat kita tersenyum sinis atas kelakuan bangsa kita. MD perempuan cantik dan sexy itu membuat geger dan sibuk semua orang, pejabat, aparat maupun rahayat. Para pejabat – paling tidak pejabat Citbank – sibuk mengklarifikasi dan menenteramkan para nasabah dan calon nasabahnya bahwa tidak ada kerugian sedikitpun yang perlu ditanggung mereka.  Aparat sibuk lebih sibuk lagi untuk membuktikan kesalahan – kesalahan sang Dewi. Aparat sibuk memburu harta kekayaan MD hasil kelihaiannya memanfaatkan jabatannya di Citibank serta kelemahan inherent sistem perbankan Citibank. Saya sebut kelemahan inherent karena semua sistem secanggih apapun pasti melekat padanya suatu kelemahan. Paling tidak sistem tidak akan mempu berbuat apa – apa menghadapi operator / manusia yang mengoperasikannya. Sistem tidak akan mampu mengendalikan dan mengontrol risiko yang diakibatkan oleh perilaku orang dalam. Di belakang senjata secanggih apapun,  tetap saja orang yang mengoperasikan yang berkuasa atasnya.

Rahayat juga ikut sibuk. Paling tidak sibuk memindahkan kanal televisi karena sudah bosan berhari – hari berita isinya hanya mengenai sang Dewi MD. Ada juga yang sibuk membuat joke – joke penyegar kepenatan seperti ini “Satu hal yang membuat polisi pusing adalah bahwa ternyata P**** MD merupakan hasil operasi suntik silikon yang uangnya dihasilkan dari kejahatannya membobol sistem Citibank. Kalau harta hasil kejahatan yang lain: ferari, mercedez, hammer, Polisi dengan gampang menyitanya, tapi bagaimana menyita silikon itu ? Dan orang – orang yang ikut menikmati ….dst”, tidak perlu diteruskan di sini. Kelihatannya kita semua orang yang mampu mengakses segala teknologi informasi di genggaman sudah membacanya.  Kemudian semuo orang sibuk menyebarkan joke – joke seperti itu ke teman – temannya, ke group – group yang diikutinya, ata sekedar menunjukkan joke di genggamannya di sela – sela rapat atau bergunjing.

Orang kebanyakan atau orang yang belum mampu J – seperti  saya – akan “dheleg – dheleg”, heran tertegun untuk apa mobil mewah sebanyak itu? Apartemen di beberapa lokasi ? Kapan menikmatinya ? Bisakah semua dinikmati/digunakan? Apa hanya untuk dilihat dan diperlihatkan saja ? Oh kok ya sangat naif. Tapi ya begitulah, orang kampung saya mengatakan “namanya juga orang banyak, ya macam – macam”. Allah menciptakan banyak manusia, yang masing – masing diberi kebebasan berperilaku dan bersikap. Jadi MD memang bukan orang kebanyakan, dan tentu saja tidak bisa ukuran bagi masing – masing kita digunakan untuk mengukur MD.

Mengapa MD sampai nekat berbuat begitu ? Jawabannya hanya satu, gemerlap kemewahan duniawi telah menjadi obsesi utamanya. Entah ada gangguan kejiwaan atau tidak, tubuh yang molek, kendaraan mewah, tempat tinggal mentereng, telah menyilaukan dirinya. Pada awal berbuat (tiga tahun lalu ?), pasti merasa was – was akan akibatnya. Tetapi ketika operasi pertama sukses, operasi ke dua menjadi lebih mudah, dan operasi – operasi berikutnya semakin mudah dan dia semakin menikmatinya. Di sinilah berlaku kalau manusia melupakan Tuhan, Tuhan akan semakin melupakannya dari dirinya sendiri. Dia jadi lupa bahwa suatu saat semua akan berakhir dan pasti berlaku “siapa yang menanam akan menuai, siapa yang menjahit dia akan mengenakan”.

Sudah kodrat bahwa kemewahan dan keistimewaan menjadi obsesi  semua manusia.  Meksi dengan tingkat obsesi yang berbeda – beda, semua orang berusaha memenuhi obsesi itu. Banyak di antara kita tidak mempedulikan akibat dari perbuatan pememunuhan obsesi itu. MD, Khadafi, G Buss, Hitler, lebih mundur lagi Firaun dst.

Dalam kisah pewayangan Mahabarata pelajaran seperti itupun ada. Adalah Dewi Madrim (MD) istri kedua Pandu Dewayana. Raja agung Kerajaan Hastina Pura. Sebagai seorang satria raja, dunia mengakui kehebatan Pandu baik dalam kesaktian dalam peperangan maupun dalam pranata kerajaan. Pandu menjadi contoh yang jadi perbincangan dunia akan keahliannya dalam dua hal itu. Dari kebaikan budi dan kesaktiannya, Pandu selalu menjadi pilihan Dewata untuk menjadi utusan dan jago manakala Kahyawangan kedatangan musuh. Karena kepandaiannya mengatur negara, kerajaan Hastina menjadi kiblat kerajaan – kerajaan lain dalam pengaturan. Selalu diceritakan bahwa Hastina adalah negara subur makmur, sejahatera, tata titi tentrem, tidak kekurangan apapun untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Tetapi orang pandai bisa salah, orang benar bisa lalai. Itulah Pandu. Karena cinta dan sayangya kepada DM istrinya yang cantik itu, Pandu bersedia melanggar aturan dan menerabas larangan yang sudah digariskan. Ketika DM mengandung anaknya, DM mempunyai keinginan yang tidak biasa yaitu ingin menaiki punggung Lembu Andini. Lembu Andini ini di jagad raya hanya ada satu. Dia adalah tunggangan Bathara Guru, pemimpina para dewa di Kahyangan Suralaya. Hanya Bathara Guru yang diijinkan menungganginya, bahkan istria Bathara Guru pun tidak diperkenankan, jika tidak ingin terkena bebendu.

Pandu tidak kuasa menolak keinginan DM, berangkatlah dia ke Kahyangan Jonggring Saelaka untuk meminta ijin Bathara Guru. Tentu saja permintaan ini ditolak oleh Sang Dewa, juga sudah diingatkan bahwa Tuhan sudah pernah menghukum makhluk yang melanggar aturan ini.  Dewi Uma, istri Bethara Guru dahulunya- juga nekat memaksa Bathara Guru untuk bersama menaiki punggung Lembu Andini. Akibat kelukuannya ini Dewi Uma dikutuk menjadi Bethari Durga dan beranak Bethara Kala yang keberadaanya selalu menimbulkan mala petaka di mana – mana. Pandu bergeming demi sayang (atau takutnya?) kepada istri tercinta dia lupa diri, menyombongkan diri,  dan bersumpah “Yang Mulia Bethara Guru, tidak lumrah Raja Agung seperti saya yang sudah kondang di seluruh jagad tidak mampu memenuhi keinginan istri. Maka ijinkanlah saya meminjam Lembu Andini meski hanya sekelebat kilat menyambar. Sebagai gantinya, nanti saat saya meninggal saya bersedia menghuni Neraka Yomani, asalkan sekarang saya diijinkan meminjam Lembu Andini”.

Terlaksana Pandu bersama Dewi Madri menikmati kemewahan dan keistmimewaan sesaat. Di Mayapada, hanya mereka berdua jalma lumrah yang mendapatkan kesempatan untuk menikmati kemewaan yang teramat istimewa itu. Namun karena perilaku sembrononya itu, konon terlaksana sumpah Pandu. Tidak lama setelah mereka berdua menikmati keistimewaan itu, merek berdua “dibanjut” oleh Yang Maha Wenang. Mereka berdua tidak berumur panjang, mati moksa berdua sesaat setelah lahirnya Si Kembar Nakula Sadewa. Pandu meninggalkan anak – anak yang masih kecil dengan istri pertama Kunthi Nalibrata. Kehidupan janda Kunthi dan anak – anaknya selalu penuh penderitaan. Pandu dan Madrim menghunin Neraka Yomani setelah ajalnya. Beruntung mereka meninggalkan anak – anak sholeh yang mampu mengangkat derajat mereka. Dan puncaknya karena laku tapa brata dan doa khusuk Bima Sena – anak Pandu yang kedua, mereka dientaskan dari Neraka Yomani.

Kita lihat dan tunggu bagaimana akhir dari MD, setelah menikmati keistimewaan dan kemewahan yang kelihatannya menjadi idam – idamannya itu.

 

 

Baratayudha Jaya Binangun, Duryudono – Salya gugur[17] Duryudono tewas mengenaskan layaknya hewan buruan Maret 26, 2011

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Senangi.
1 comment so far

Maka dimulailah babak akhir perang besar Mahabarata Jaya Binangun ini. Doryudana telah mengenakan kembali pakaian perangnya. Disiagakan dirinya menghadapi Wrekudara, dengan satu taruhan dan perjanji. Jika Bima kalah, artinya pandawa kalah. Bima Kresna menyanggupi perjanji itu. Toh tanpa dimiminta perjanji sperti itu, jika salah satu dari pandawa gugur karena apapun mereka berlima telah sepakat berakhir pula keberadaan masing masing mereka. Begitulah janji setia di antara mereka berlima. Pandawa adalah lima, tak kurang ataupun melebihi. Jika kurang dari lima, maka pandawa tiada lagi.

“Werkudara…..”, Duryudana memulai tantangannya, “Hayoh, keluarkan kesaktianmu, bacalah jimat manteramu, mengaduhlah kepada leluhurmu jika perlu agar mampu menandingiku”.

“Kakang Duryudono, tanpa japa mantra Werkudara tidak akan selangkahpun mundur meladeni kemuanmu”.

Dari luar arena Baladewa, Kresna, Nakula, Sadewa menyaksikan pertarungan itu. Bagaikan dua gajah jantan, mereka bertarung merebut keunggulan. Sebentar sebentar tanah tempat berpijak seolah dilanda gempa. Mereka saling menerjang ganti menghindar, saling meringkus saling mengunci. Sekali waktu hantaman tangan Bima mengenai pundak Kurupati. Hal itu membuatnya terhuyung bebarapa langkah ke belakang. Disiapkannya kuda – kuda serangan, dia melompat membuat bumi bergetar. Duryudono

menerjang mengirimkan tendangan, Bima menghindar menyamping sambil mingirimkan pukulan. Menimpa udara kosong. Mereka berdua menggeram, suaranya bagai guruh menjelang hujan. Terdengar suara itu menyimpan dendam menghamburkan amarah. Seolah ingin menelan mentah2 hati dan jantung sang lawan.

Duryudono dipenuhi oleh nafsu berkuasa dan kemanangan yang sangat mungkin diraihnya. Yang diperlukan sekarang hanyalah melumpuhkan Bima agar Pandawa bertekuk lutut. Seharusnya ini tidak sulit dilakukannya. Dia masih segar bugar, sementara Bima telah berhari hari terjun ke medan laga Baratayuda. Sekuat apapun fisik Bima, akan ada batasnya. Dia percaya tenaga Bima sudah banyak terkuras. Belum lagi kelelahan jiwa dan sakit hati karena gugurnya Gatotkaca dan ngelalunya Arimbi. ‘Seharusnya pertarungan ini tidak sulit’, begitu pikir duryudono.

Sementara Bima bertarung dengan mengusung dendam di hatinya. Sekarang ini melihat Duryudono yg sebenarnya masih darah daging sendiri dari trah Resi Wiyasa, seolah singa betina yang melihat buruannya. Ingatan akan peristiwa bale sigolo – golo, pesta sukan dadu, dan kelicikan srta keculasan Duryudono yang lain saling berkelebat mengganggu fokus bertarungnya. ‘Ah kakang Duryudono selama hidupnya tidak pernah bertarung, ototnya tidak pernah terlatih, gerakan tubuhnya hanya untuk kemawan. Tiada akan perlu waktu lama aku akan bisa meringkusnya.’. Tapi Bima pun salah sangka. Saat ini Duryudono sudah terpojok seperti tikus yg di buru di sudut dinding. Tiada pilihan, selain melawan sang pemburu. Mungkin justru di sinilah kekuatan tersembunyi Duryudono keluar. Berkali kali, dia bsa menghindar terjangan Bima.

Tanpa dikira siapapun, Duryudono , bergerak lincah, bertaruk trengginas, menghindar dengan tangkas. Bahkan sesekali mampu membuat Bima terhuyung manakala kuda kudanya tidak cukup kokoh.

Tapi Duryudono pun salah mengira. Werkudara yg sudah belasan hari turut berperang di Kurusetra, masih memiliki lebih dari cukup stamina untuk meladeninya. Bima masih bertenaga hanya untuk sekedar memiting, menerjang dan menghamburkan tendangan ataupun pukulan ke arahnya.

Tanpa terasa hari menjelang senja, dan bagi mereka yang menyaksikan belum trlihat tanda2 siapa yang akan unggul dalam laga ini. Kini masing masing memegang. Bima memegang Gada Rujakpolo, begitu pula Duryudonoa dengan Bindi saktinya. Keduanya merupakan murid Baladewa dalam olah senjata gada. Maka tidak heran meraka sama – sama cakap menggunakan senjata gada itu, meski Bima terlihat lebih unggul. Berkali – kali hantaman bindi Duryudono dapat ditangkis oleh Bima atau menerpa ruang hampa. Sebaliknya bertubi – tubi tubuh Duryudono terhantam gada Bima dengan kekuatan penuh. Namun hantaman itu yang dalam kondisi normal seharusnya sudah merubuhkannya, saat ini terasa seperti lecutan sebatang lidi saja bagi Duryudono. Entah kesaktian apa yang dikerahkan oleh Sang Kurupati. Mungkin begini kalau seekor tikus sedang tersudut, kekuatan bawah sadarnya keluar dan menamengi dirinya.

Bahkan Bima pun sudah merasa lelah mengayunkan gada menghajar tubuh Duryudono. Dalam hatinya bertanya kecut, “Mengapa Kakang Kurupati saat ini seperti memiliki tameng karet tak terlihat ? Berkali – kali hantaman gada Rujak Polo yang bahkan Gunung Himalaya pun hancur jika terkena, seolah membal baginya ?”.

Dan …brakk…..Hantaman bindi Duryudono menghajar pinggang Bima saat konsentrasinya menurun. Bima terhuyung ke belakang mengumpulkan kekuatan. “Hayoh…Bima mana kekuatan dan kesaktianmu, kondangnya kamu kuat sentosa sekokoh Gunung Himawat. Ternyata…hanya begitu saja kemampuanmu anak gembala !!!”, Duryudono tertawa gembira melihat musuhnya terhuyung. Kini dia di atas angin, sebentar lagi Bima akan tumbang, dan Pandawa bertekuk lutut di kakinya, jika demikian.

Nakula, Sadewa merasa was – was dan ketakutan. Tentu saja mereka juga heran, mengapa Gada Bima seolah tak berguna kali ini ? Bima bangkit ditenangkannya pikirannya. Dia menoleh kepada Kresna seolah minta saran. Kresna pun sedari tadi juga sudah tanggap akan hal ini. Kresna menepuk – nepuk pahanya seolah memberi isyarat kepada Bima.

Duryudonoa maju menerjang, dengan kekuatan penuh diayunkannya Bindi yang dipegangnya. Bima siaga. Ketika Kurupati menerjang, Bima bersiap. Sambil berlutut dihantamkannya Rujakpolo dengan mengerahkan semua tenaga yang dimilikinya. Dibidiknya paha Duryudono. Dan benar….seketika Duryudono rubuh tanpa bisa bangun kembali.

Dendam kesumat menguasai darah dan kepala Bima. Duryudono yang sudah sekarat dihajarnya habis – habisan. Pahanya terus dihantam hinggak remuk redam. Hantamanya naik ke tubuh harjuna, hancur luluh. Tubuhnya remuk, lengannya hancur, wajahnya tak terbentuk. Duryudono mati sia lebih mengenaskan daripadi hewan ternak yang dirajang – rajang sang jagal.

Hatta..melihat kejadiang yang di luar batas kemanusiaan seperti itu, Baladewa marah bukan kepalang. Wajahnya memerah, matanya mendelik, suaranya menggelegar layaknya guruh di musim panca roba. “Hoe…Wrekudara – Wrekudara, apakah kamu masih punya rasa manusia ?! Apakah hanya kamu yang bisa menang perang?? Sudah tahu yayi Kurupati sekarat tanpa bisa melawan. Mengapa kamu cincang – cincang seperti hewan ternak !!! Haoyoh…jangan hanya Kurupati yang kamu kalahkan, Baladewa sekarang lawanmu….”. Dengan senjata Gada Nanggala Baladewa siap melompat melabrak Baladewa. Sebelum itu terjadi Kresna menghadang, “Sebentar – sebentar Kakang Prabu…”.

“Bagaimana….!?, Wrekudara benar – benar sudah hilang rasa kemanusiaannya. Maka pantas kalau aku menghajarnya…Biarkan dia melawanku…”

“Kakang Baladewa, ya boleh – boleh saja. Tapi mohon dengarkan apa yang akan saya katakan”

“Apa….??!!!”, Baladewa masih dengan nada amarah. Nakula Sadewa, terdiam ketakutan. Bima telah pula bersiap dangan apa yang tejadi nanti.

“Kakang Prabu…”, Kresna manusia titisan Wisnu itu melanjutkan ucapannya. “Pertama, sifat dan watak Duryudono yang angkara murka itu hanya akan hilang dengan musnahnya

Duryudono. Kedua….Perang Barata yuda ini bukan hanya sekedar menang atau kalah. Perang ini merupakan arena pihak yang berhutang untuk membayar, merupakan media pihak yang berjanji untuk menepati, merupakan sarana menuai bagi pihak – pihak yang menanam. Semua manusia pasti akan menuai apa yang ditanam dan mengenakan apa yang dijahitynya. Kakang………..demikian juga bagi Duryudono. Dulu…ada pandita dari padepokan Maestri yang bernama Begawan Metriyo. Sang Pandita sedang bertapa mbisu, artinya tapa tanpa wicara di tengah hutan. Duryudono dengan sewenang – wenang membangunkan tapa brata Pandita Metriyo. Lantas Duryudono menanyakan mengapa Sang Pandita bertapa? Begawan Metriyo menjawab bahwa dia bertapa demi kejayaan dan kemenangan Pandawa jika nanti Baratayuda terjadi. Duryudono marah luar biasa. Begawan Metriyo yang tanpa dosa apa – apa itu dihajar dengan Bindinya Duryudono mati dengan cara mengenaskan. Anehnya, jasad sang begawan moksa meninggalkan suara. Pada saat perang besar nanti dia akan menyatu dengan sentosa dan perkasanya Bima untuk menuntut balas kepada Duryudono. Kakang Prabu…masih banyak hutang Duryudono yang lain…tapi cukup itu saja yang bisa hamba sampaikan saat ini. Sebab jika Kakang masih meradang seperti itu, bisa jadi akan salah terima…”

Maka sampai di sini lah lakon Sang Kurupati. Perang besar ke empat ini menyelesaikan episodenya, dengan rubuhnya Duryudono. Sesuai dengan sumpahnya ketika terakhir Pandawa mengirimkan utusannya, bahwa kembalinya Astina dan Amarta harus disertai dengan tertigasnya leher Kurupati. Perang ini sudah berakhir, bukan hanya urusan kalah atau menang. Namun perang ini merupakan sarana pemusnah sifat angkara murka dan durjana.  Dengan usainya perang ini yang berhutang sudah mengembalikan, yang menanam sudah menuai, yang menjahit telah mengenakan, yang berjanji telah menepati.

(Salam…)

Baratayudha Jaya Binangun:Salya – Duryudono Gugur [16], Duryudono memilih lawan Desember 29, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
1 comment so far

Kresna mengabarkan kepada Baladewa bahwa barata yuda telah terjadi. Diceritakannya secara ringkas tentang perang besar ini. Tidak cukup waktu untuk mengabarkan lebih lengkap mengenai bencana ini pada Baladewa. Ringkas cerita, begitu ucap Sri Kresna, Kurawa dan sekutu sekutunya telah tumpas tapis ludes keles, tinggal tersisa Kartomarmo dan Aswatama yang melarikan diri ke hutan.
“Ah….hmmmm….”. Baladewa melenguh. Dosa apa kiranya yang disandang adik adiknya para Kurawa sehingga harus menemui nasib tragis begini. Andai saja dulu Duryudono mendengar apa yang dituturkannya, tidak perlu banjir darah dan air mata ini terjadi. Baladewa sangat dekat dan sayang pada Duryudono, bahkan mungkin mengalahkan sayangnya pada Pandawa. Selain adik ipar, Duryudono juga murid Baladewa dalam hal keaian olah gada. Wajar jika kali ini pertama yg terlintas dalam pikirannya dan ditanyakan kepada Kresna adalah Duryudono. “Adikku Kresna, lalu bagaimana keadaan Duryudono, dia baik2 saja bukan?”

“Ya Kakang, itu yang membuat kami bertiga mendekati pertapaan Kakang Baladewa. Selain memenuhi amanah Kakang baladewa, kami juga ingin mengabarkan bahwa Dinda Prabu Duryudono s.d saat ini tidak diketahui kemana perginya”

“Hmm…adi prabu, adi prabu mengapa kegetiran ini harus kamu buat sendiri??”, Baladewa meratapi Duryudono.
“Werkudoro…”, Baladewa mengalihkan muka ke satria Jodipati itu.

Seperti gemuruh gunung himawat saat batuk, werkudoro menjawab, “Bule Kakang ku,iya….apa yang akan Kakang titahkan?”

“Sudah yayi…mari kita cari Kakakmu Duryudono, setelah ketemu nanti kita sudahi saja cerita ini. Relakan keselamatan Duryudono, kita cukupkan sampai di sini saja perang tiada guna ini”

“Ya…begitu juga yang aku mau”

Perlahan kereta kuda rombongan lima satria raja itu meninggalkan pertapaan Grojogan Sewu. Tidak perlu waktu lama untuk menemukan di mana kira kira Duryudono berada. Hati bening dan jiwa wisnu dalam diri Kresna menuntunnya kepada yang dicarinya. Sampailah mereka di tepian danau yg luas. Airnya jernih tenang mendamaikan. Di beberapa tempat pinggiran danau, terlihat ikan ikan wader berseliweran berkejaran. Kelihatannya danau ini tidak terganggu jalma manusia. Beberapa bagian lainnya ditumbuhi teratai berdaun lebar. Di ujung sana pepohonan besar nan rindang menaungi air danau yang tenang. Sesekali burung gelathik, tekukur, dan satwa udara lainya hinggap pergi di rerimbunan ranting daunnya.
Di antara rerimbunan pohon pohon itu terlihat seekor gajah tanpa tali kekang. Di punggungnya tersandang pakaian kerajaan dan beberapa peralatan perang. Terlihat ada yang ditunggui oleh sang gajah. Kresna menunjuk gajah itu, Baladewa, Werkudara, Nakula, Sadewa mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Kresna. Mereka pun mendekati gajah itu. Tidak salah ini Kyai Pamuk, hewan kesayangan sekaligus tunggangan Raja Agung Hastina Pura, Prabu Duryudono. Lalu ke mana tuannya?
Kresna berteriak memanggil manggil Duryudono. Tidak ada jawaban, yang terdengar hanyalah gemerisik dedaunan disambar angin kemarau yang sejuk terhembus.

Kali ini Baladewa yang berteriak memanggil. Terdengar batuk2 seseorang dari balik gerumbul teratai di tengah danau. Duryudono hanya dengan berpakaian celana, menepi menghampiri mereka yang menunggu.
“Duh kakang prabu Baladewa…Kakang yang saya tunggu”, Baladewa dan Duryudono berangkulan. Tangis tetahan menyesak di dada keduanya. Entah apa yg dipilirkannya. Tetapi yang jelas, Duryudono menyesali pertemuan yang terlambat ini. Ketika negosiasi permintaan pengembalian kerajaan menemui jalan buntu, meskipun Pandawa telah mengirimkan duta perwakilan sebanyak tiga kali, permulaan, pertengahan, dan pamungkas, Duryudono berkali kali mengirim Karto Marmo ke Mandura meminta Baladewa mendampinginya di Kerajaan. Dengan Baladewa di sampingnya, mustahil Kresna di sebrang sana akan memerangi Prajurit Kurawa. Namun apalah arti kehendak dan rencana titah seperti Duryudono dibandingkan garis takdir yang ditarik Tuhan Yang Maha Agung. Baladewa sibuk dengan urusannya sendiri. Dia juga harus menyelamatkan “nasibnya” di hari nanti. Dia tidak ingin bumi menjepit dirinya akibat perbuatannya membelah bumi yg tanpa dosa itu dengan Nenggala andalannya. Maka Baladewa, jangkan memikirkan nasib Kurawa Pandawa di Perang Barata Yuda ini, perhatiannya hanya tertuju bagaimana menyelamatkan hidupnya apapun taruhannya. Termasuk harus berbasah – basah matirta sekian puluh hari.

Setelah Duryudono mampu menguasai diri, “Kakang Prabu, andika yang saya tunggu – tunggu. Tetapi Kakang, jangan dikira saya ngeri dan sembunyi dari Pandawa. Saya hanya menunggu waktu yang tepat untuk perang tanding dengan Pandawa”. Masih saja percaya dirinya demikian besar atau kesombongan yang menguasai dirinya. Hanya dia yang tahu. Dia melanjutkan, “….Saya ingin perang tanding saya ini dillihat dan disaksikan oleh Andika Kakang Prabu Baladewa, guru dan sesepuh saya.”

“Oh Yayi…bukan begitu maksud Kakang mencari adinda bersama saudara – saudaramu ini…Sudahlah prahara ini sampai sini saja. Pandawa sudah merelakan sebagian Hastina untuk Adinda. Cukuplah mereka separo Hastina bagian mana yang adinda relakan dan Amarta yang memang hasil kerja kerasnya mereka sendiri….”, belum selesai Baladewa menyelesaikan kalimatnya Duryudono mencegat.

“Bagaimana ?? Bagaimana menurut Kakang…? Kakang, perang ini sudah saya niatkan sedari awal. Perang ini harus saya selesaikan bagaimanapun akhirnya…”

“Duh yayi…bukan maksud Kakang mengecilkan keberanian adinda. ”

“Yah…saya tahu, tetapi apakah Kakang akan bangga melihat saya enak – enakan padahal sudah sekian ribu sekutu Kurawa mengorbankan nyawanya demi Duryudono, padahal sudah sekian banyak para pepunden, sesepuh dan sanak saudara kehilangan nyawa demi Kurawa. Apakah pantas dan tidak memalukan jika saya tidak mengingat pengorbanan mereka semua? Apakah Kakang tidak akan malu hati melihat kelakuan saya yang tidak tahu diri jika begitu? Lalu di mana pula kebesaran dan keagungan raja Hastina ini ??”

“Duh yayi….sekuat baja tekadmu, sekokok gunung himawat pendirianmu…Ya sudah lah kalau memang tidak bisa Kakang belokkan kemauanmu. Terserah yayi bagiamana baiknya.”

“Saya ingin tanding satu lawan satu dengan Pandawa. Tetapi dengan perjanjian…”

“Perjanjian apa yayi?”

“Jika saya menang dalam duel satu lawan satu nanti, artinya Pandawa harus mengaku kalah dalam perang ini.. ”

“Bagaimana Werkudoro ??”, Baladewa menimbang rasa Bimasena…

“Bagiku terserah saja apa maunya Kakang Duryudono, aku ikut..”

“Yayi Duryudono, siapa yang dinda pilih untuk menjadi lawan?”, Kresna ingin segera menyudahi adegan tidak berguna ini.

“Yah….saya minta orang yang gede dan bobot nya seimbang dengan Duryudono. Bukan Kakang Kresna…Kalau saya ukur, Kakang pasti tidak akan menang melawan saya”. Kresna hanya tersenyum kecil.

“Saya memilih Bima sebagai lawan saya”

“Bagaimana Wrekudoro??”, Kresna bertanya kepada satria Ngunggul Pamenang itu.

“Terserah saja….semakin cepat semakin baik…”

“O begitu…Baiklah yayi Duryudono, sebaiknya adinda berpakaian yang layak dulu. Sadewa….ambilkan pakaian Kakangmu Duryudono, bantulah dia apa yang dibutuhkann…”

“Baik Kakang Prabu…”.

(Sudah agak malam di sela – sela analisis data BBM bersubsidi, InsyAllah dilanjutkan kemudian…)

 

Baratayuda Jaya Binangun, Salya-Duryudono Gugur[15]:Sudah saatnya Baladewa dibangunkan dari “Matirta” – nya November 10, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
add a comment

Pertapaan Grojogan Sewu tempat di mana Baladewa “matirta”, artinya bertapa dengan merendamkan diri pada air. Sudah menjadi watak Baladewa meskipun dirinya adalah Raja Agung dengan jajahan luas dan bawahan tak terkira, namun itu semua tidak membuat dirinya lupa diri. Jiwanya tertempa dengan berbagai macam laku prihatin mengasah diri. Wajar, selain seorang raja dunia juga mengenalnya sebagai guru, bahkan pandita. Maka tidak heran laku matirta inipun dilaksanakannya dengan ringan tanpa keterpaksaan apalagi rasa ngersula. Dia seorang raja yang tahu dan mu mengakui kesalahan. Dan untuk menebus kesalahan yang diperbuatnya itu, dia bersedia melakukan apapun asal kesalahannya itu bisa ditebus.

Beberapa candra sebelumnya, ketika episode Kresna Gugah. Saat adinda Sri Kresna menyelinap ke Kahyangan Suralaya saat para Dewa menerima titah Yang Maha Tunggal mengenai garis takdir Baratayuda Jayabinangun antara Kurawa – Pandawa. Baladewa termakan rekayasa Sri Kresna saat itu. Ketidakmampuan mengendalikan dirinya akibat hasutan Sangkuni hampir saja mencelakai Bima. Rupanya ini memberikan jalan bagi Sri Kresna untuk menghindarkan dan menyingkirkan Kakaknya terkasih dari cipratan dan tumpahan darah perang besar ini. Gada Nenggala, senjata ajian tanpa tanding di dunia, miliknya menghujam bumi dan mengakibatkan bumi “murka” dan menuntut balas atas perilaku Baladewa yang mencederai bumi itu. Maka untuk menebus murka Bumi itu atasnya, Baladewa bersedia matirta sampai ujung Perang dunia ini. Dengan satu permintaan kepada adiknya, agar kiranya juga suatu hari ini perang ini benar – benar tergelar dirinya ingin dibangunkan dari matirta karena ingin melihat perang ini meski hanya sekedipan mata.

Sekarang perang ini hampir usai. Para Kurawa sudah tampas ludes menyisakan Karto Marmo yang melarikan diri ke hutan dan Duryudona yang tidak diketahui ada di mana. Perang besar ini memakan begitu banyak kurban bahka mengalahkan sapuan air bah lautan atau guyuran lahar panas kala Mahameru meletus. Tidak hanya korban para prajurit dan satria, hewan tunggangan yang menjadi bangkai dengan darah membanjiri Kurusetra tiada lagi dapat dihitung. Pada sore hari ketika terompet penanda perang hari ini diakhiri, para prajurit dari kedua pihak yang berperang mengurus korban yang gugur dan terluka. Bangkai hewan tunggangan disingkirkan dan dibuang ke sungai yang mengalir tidak jauh dari ladang kurusetra yang berhilir di Grojogan Sewu. Konon karena banyaknya hewan tunggangan perang yang mati dan darah segar yang mengalir darinya, merah darah nya mengubah warna sungai menjadi merah membara. Air sungai yang bercampur dengan darah hewan, dengan bau amisnya membawa bangkai hewan – hewan itu beserta sisa aneka patahan dan kepingan senjata perang ke hilir. Sampai di Grojogan Sewu. Namun berubahnya warna dan bau amis sungai ditingkahi dengan bangkai dan potongan senjata tidak mampu mengusik tapa brata Sang Baladewa. Karena memang pada saat itu jiwanya sedang moksa mengembara menghadap yang punya jiwa.

Kresna, Bima, Nakula dan Sadewa dengan berkereta dari Kurusetra mendekati tempat Baladewa bertapa. Bagi Kresna telah sampai waktunya untuk membangunkan Kakak nya itu sesesuai janjinya dulu. Tentu saja tidak dengan cara biasa Kresna membangunkan tapa Baladewa. Krena mengheningkan cipta, merapal mantra memohon pertolongan kepada yang punya hidup dan nafas kehidupan. Ditinggalkannya badan wadgnya seolah sedang tidur saja. Disusulnya Baladewa di alam lain yang tidak mungkin dijamah oleh makhluk biasa. Sesaat Bima, Nakula dan Sadewa menunggu apa yang akan terjadi. Sesaat kemudian keduanya, Kresna dan Baladewa, seolah seperti bangun tidur panjang. Greget kehidupan badan wadag Baladewa ditandai dengan batuk kecil teratur yang menjadi ciri khasnya. Kresna terbangun dengan senyuman. Kakak beradik itu berangkulan seolah sekian windu terpisah. ….

To be continued, InsyaAllah

 

Walah aku teringat Sangkuni Lagi, Bung Ruhut – sekarang – ingin Presiden SBY tiga kali Agustus 18, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.
add a comment

Antara kaget, kecewa, dan biasa – biasa saja saya membaca berita heboh di m.kompas.com sambil menunggu hujan reda setelah terperangkap di Masjid depan UMB lepas Dhuhur tadi. Bung Ruhut S, salah satu petinggi demokrat mewacanakan dan akan memperjuangkan amandemen UUD 45 tentang batasan periode Presiden dari dibatasi dua kali masa jabatan menjadi tiga kali masa jabatan, salah satunya di sini dan banyak tautan lain yang terhubung dengan artikel itu. Dari yang saya baca dengan yakin Bung Ruhut S menyatakan usulannya itu sudah disampaikan ke Pak SBY lima bulan yang lalu, dan respon dari P SBY adalah – menurut Bung Ruhut – P SBY sangat rendah hati dan “kurang menyetujui usulan itu”. Namun Bung Ruhut bergeiming, dengan yakin akan memperjuangkan amandemen itu dengan pertimbangan P SBY sekarang ini tanpa tanding dan masih produktif dalam waktu sepuluh tahun ke depan.

Ada yang pro dan banyak yang kontra, dan Bung Ruhut bangga dengan itu. Okelah kalau begitu. Saya termasuk orang yang kontra dengan keinginan Bung Ruhut itu. Sekali amandemen diijinkan dan periode dibolehkan dari 2 menjadi 3, berikutnya akan berulang gaya itu dari 3 menjadi 4 dan seterusnya. Dan kejadian ORBA akan berulang lagi, Pak Harto secara de jure bukanlah presiden seumur hidup, namun secara de facto adalah presiden yang tidak bisa diganti (dengan cara normal). Akibatnya, semua sudah kita ketahui. Dulu P Harto juga tidak berkehendak menjadi presiden masa – masa berikutnya, sampai terkenal istilah “Ora dadi presiden ora pathek en”. Namun yang terjadi adalah orang – orang sekitarnya yang menjunjung – junjung dan membisik – bisikkan bahwa Beliau lah sampai dengan saat ini (saat itu) yang layak memimpin negeri dan bangsa ini. Dan akhirnya P Harto pun mengatakan “jika memang rakyat menghendaki, apa boleh buat”. Akibatnya kita tahu sendiri seperti apa akhir dari jabatan kepresidenan beliau.

Saya teringat kisah Barata Yuda Jaya Binangun, perang besar dalam dunia pewayangan antara dua trah bersaudara itu. Tatkala para pandawa kalah adu judi bermain dadu dengan Kurawa, Pandawa harus menyerahkan Kerajaan Amarta sesinya, bahkan istrinya Drupadi pun menjadi hak milik Kurawa. Pandawa juga dihukum dengan pengasingan ke hutan tanpa bekal tanpa teman selama 12 tahun, dilanjutkan dengan Pandawa harus menyamar di tahun ke tiga belas. Jika sampai dalam penyamarannya Pandawa dapat diidentifikasi apalagi dipergoki oleh Kurawa dan kaki tangannya, maka hukuman pembuangan dan penyamaran harus diulang dalam periode yang sama. Namun jika Pandawa lolos dari hukuman, mereka berhak atas kembalinya Amarta seisinya ditambah Hastina yang sudah menjadi hak mereka.

Maka ketika Pandawa lolos uji dan masih menumpang di Wiratha, mereka mengirimkan utusan sebanyak tiga kali yang intinya menagih Amarta dan Hastinapura yang cukup separo saja. Tiga utusan itu adalah Kunti ibunda Pandawa, Drupada mertua Pandawa dan Sri Kresna. Kurupati memerlukan masukan dan nasihat orang lingkaran terdekatnya untuk menyikapi niat Pandawa itu. Resi Bisma menyarankan memberikan apa yang diinginkan Pandawa karena memang hak mereka. Amarta adalah hasil jerih payah pandawa, Hastina seluruhnya seharusnya memang hak Pandawa karena mereka penerus Pandu Dewanata. Namun karena kebaikan Pandawa, mereka rela berbagi dengan Kurawa separo – separo. Silakan Kurawa mengambil separo yang mana yang diinginkannya. Resi Druna menyarankan agar Amarta diberikan kepada Pandawa, karena memang mereka yang memiliki. Sementara Hastina dibagi dua dengan kota – kota yang besar dan makmur diambil Kurawa, sisanya Pandawa. Salya bahkan rela turun tahta dan memberikan Mandaraka seutuhnya sejajahannya jika Duryudono rela memberikan hak Pandawa.

Namun apa yang terjadi ? Semua saran dan nasihat – yang padahal diminta oleh Duryudono – itu sama sekali tidak diacuhkan. Sebab Duryudono termakan hasutan Sangkuni. Sangkuni meyakinkan Duryudono bahwa hanya Hastina dan Amarta kerajaan besar yang cocok dan seimbang dengan wibawa Duryudono, maka tidak ada pimpinan dan penguasa lain yang mampu menguasi Hastina kecuali Kurupati. Hasutan ini termakan oleh Duryudono apalagi saat Karno (senopati paling sakti menurut Duryudono) mendukung niat saran Sangkuni bahwa jika Pandawa memang berniat menguasai kembali Hastina dan Amarta harus mereka rebut dengan cara perang.

Begitulah akhirnya, hasutan Sangkuni mengalahkan nasihat bijak dan jernih para pinisipuh Astina. Dan perang besar pun tidak bisa dihindarkan. Akhirya kita tahu bahwa Duryudono hancur terkubur oleh ambisinya.

Saya tidak hendak menyamakan Bung Ruhut dengan Sangkuni. Namun jika keinginan untuk begitu gampanynya mengubah dan mengutak – atik UUD 45 hanya demi ambisi pribadi, rasanya ada yang salah dengannya. Dulu sewaktu P Harto masih berkuasa, rasa – rasanya tidak ada orang yang mampu memimpin negeri ini kecuali beliau. Bahkan waktu itu P SBY meskipun sudah di lingkaran kekuasaan, entah ada di mana. Berani menjamin, waktu itu tidak ada yang percaya sama sekali bahwa P SBY mampu memimpin negeri ini 2 kali periode.

Apalagi saat ini, jaman semakin terbuka. Pemikiran semakin dibebaskan. Pers tidak lagi terkekang. Rasanya semakin banyak orang yang (paling tidak PD dan berani ) untuk memimpin negeri ini. Jadi tidak perlu pesimis bahwa tidak ada orang yang mampu menandingi P SBY. Wallauh alam bissawab

Ketika Parikesit Naik Tahta (Suatu Pelajaran Bahwa Kekuasaan dan kejayaan, selayaknya bukan karena kita meminta). Juli 26, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.
8 comments

Jumat malam minggu lalu kembali saya bisa menikmati pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Kali ini PLN Pusat yang punya hajat. Melihat tata letak dan setting panggung serta tempat penonton, kelihatannya PLN “nanggap” Pak Manteb -dan 2 dalang amatir (karena sebenarnya bukan dalang profesi mereka) yang lain- untuk kepentingan masyarakat penikmat wayang. Tidak ada setting tempat khusus untuk undangan. Semua penonton mendapatkan tempat yang sama di pelataran parkir/lapangan terbuka yang semuanya diberikan alas karpet dan ditutup tenda. Jadi baru kali ini selama di perantauan (Bandung Jakarta) saya selaku rahayat biasa penikmat wayang merasa dimanjakan dan “difasilitasi”. Terimakasih dan salut buat PLN Pusat. Karena pimpinannya P Dahlan Iskan, terimakasih buat P Dahlan Iskan. Semoga PLN tambah maju dan berkembang, dan paling tidak setahun sekali nanggap wayang…he..he…

Kali ini lakon yang diusung adalah Jumenengan Parikesit. Menceritakan kisah naik tahtanya Parikesit menjadi Raja Agung Hastinapura setelah beberapa waktu selesainya perang besar Mahabarata Jayabinangun, dengan kemenangan di pihak Pandawa.

Parikesit mendapatkan kehormatan berupa Kekuasaan dan “Power” bukanlah dia yang menghendaki apalagi dia yang berambisi untuk merebutnya. Proses naik tahtanya Parikesit dimulai jauh sebelum dia dilahirkan di muka bumi. Dalam kisah carangan pewayangan (bukan versi asli Mahabarata Hindia), setahu saya, paling tidak dimulai dari usaha keras dan perjuangan berat Abimanyu ketika masih perjaka (Abimanyu adalah ayah parikesit, bagi yang belum tahu) untuk mendapatkan wahyu JayaNingrat (Cakra Ningrat?) anugerah dari Yang Maha Tunggal lewat para dewa di kayangan. Konon, siapapun yang mendapatkan wahyu ini keturunan yang bersangkutan akan mendapatkan keluhuran dan kejayaan dalam hidupnya. Ketika kabar akan turunnya wahyu ini tersebar, maka para kesatria berusaha dengan segala daya dan kekuatan yang dipunyainya untuk mendapatkan wahyu itu. Tidak terkecuali Lesmana Mandrakumara, anak Kurupati, Samba anak Kresna, dan Abimanyu putra Harjuna. Berbagai rintangan dan godaan harus mereka hadapi baik godaan untuk menguji fisik berupa ketangkasan dan keprigelan olah kanuragan, siksaan batin dengan bertapa berbulan – bulan sampai dengan godaan syahwat berwujud wanita penggoda nan cantik rupawan.

Dari semua kesatria yang terjun berlomba – lomba, baik berhadapan langsung maupun tidak langsung, berusaha sendiri maupun memanfaatkan katabelece dan koneksi dengan orang – orang penting sekitarnya, Abimanyu lah yang lolos uji. Lesmana Mandrakumara sejak dari babak awal sudah gugur terlebih dahulu. Dia terlalu mengandalkan kekuatan dan kekuasaan orang tuanya. Dia sudah terlalu dimanjakan dengan kemudahan dan kesenangan yang mamabukkan sebagai putra raja Hastina. Samba dengan dukungan ayahnya, Sri Kresna yang merupakan titisan wisnu itu, sebenarnya sudah hampir mendapatkan wahyu itu selamanya. Wahyu itu sudah menjiwa denga jiwa raga Samba. Namun saat ujian terakhir, dia gagal. Ketika semua ujian fisik dan mental sudah dilewati, dia gagal menundukkan nafsu syahwatnya. Saat para dewa mengirimkan Bidadari penggoda, Samba gagal menaklukkan nafsu birahinya. Maka gagal pulalah dia mendapatkan wahyu itu. Tidak ada gunanya dia mengadu kepada Bapaknya, Sri Kresna. Sri Kresna hanya bisa mengatakan : keluhuran, kekuasaan, kejayaan adalah amanah yang tidak dapat diserahkan kepada orang – orang seperti samba yang tiada mampu menguasai dirinya sendiri. Bagaimana mungkin, jika demikian, Samba akan mampu menguasai dan mengendalikan kekuasaan di tangannya nanti ?

Abimanyu melaksanakan segala ujian dengan motivasi untuk menempa dan melatih diri. Tidak ada motivasi untuk mengejar kekuasaan, kejayaan dan keluhuran bagi diri apalagi keturunannya. Baginya kekuraatan dan keteguhannya dalam melalui semua proses dan ujian yang dilewati itu sudah merupakan keluhuran dan kekuasaan baginya. Dia menganggap keluhuran dan kekuasaan atas dirinya akan diperoleh dengan dia mampu melewati semua ujian dan godaan itu dengan hati bening dan tulus. Namun Gusti Yang Maha Menentukan memang maha bijak dan adil. Pada akhirnya putra Arjuna inilah yang mendapatkan wahyu itu.

Dalam perjalanan hidup Abimanyu dan keturunannya, ternyata keberhasilannya mendapatkan wahyu Cakra Ningrat itu bukanlah satu – satunya hal yang menyebabkan keturunan Abimanyu mendapatkan Tuhan Yang Maha Luhur memberikan keluhuran kepada keturuannya. Bertahun tahun kemudian, ketika perang besar Barata Yuda Jawabinangun sampai puncaknya,  Duryudono mengirimkan Pandita Durna sebagai senopati perang. Siapa tidak kenal Pandita Durno? Kesaktian dan kepandaiannya dalam olah perang seolah tiada tanding. Saat itu Durno menggunakan formasi perang bunga teratai yang terkenal dasyat dan mustahil dikalahkan. Hanya Arjuna yang mengerti strategi bagaimana menghancurkan formasi ini. Abimanyu pernah pula diajari ilmu ini oleh Arjuna meski belum sempurna. Pandita Durna tahu hal ini. Oleh karena itu Durna mengirim sekutu Kurawa yang lain untuk menyingkirkan Harjuna dari medan pertempuran di Ladang Kuru Setra. Tidak hanya Arjuna, Bimapun disingkirkannya untuk mengaburkan maksudnya menyingkirkan Harjuna agar tidak terbaca oleh Para Pandawa. Arjuna ditantang perang oleh salah satu sekutu itu di pesisir pantai Utara, sedang Bima ditarik keluar ke pesisir pantai selatan. Arjuna dan Bima, karena termakan hasutan dan tantangan lawan untuk duel satu lawan satu, meninggalkan posisi masing – masing yang sudah ditetapkan oleh Senopati Trestadjumena.

Formasi Garuda Melayang Pandawa – yang seharusnya kedua sayapnya dipimpin Harjuna dan Bima- hampir dikalahkan oleh formasi bunga teratai Druna. Pasukan pandawa terdasak dengan korban berjatuhan.

Saat itu Abimanyu memang disingkirkan oleh Kresna agar tidak menjadi incaran Kurawa di Keputrian Wiratha. Abimanyu sedang menunggui kedua istrinya, Siti Sundari dan (…?lupa L). Siti Sundari saat itu sedang hamil tua, mengandung janin jabang bayi yang kelak bernama Parikesit. Namun di perkemahan Pandawa Mandalayuda, Puntadewa sedang panik bukan kepalang akibat terdesaknya pasukan Pandawa. Dia tahu hanya Abimanyu yang tahu strategi untuk memecah formasi bunga teratai Durna. Dikabarkannya hal ini kepada Gatotkaca. Diperintahkannya Gatotkaca pergi ke Keputrian Kerajaan Wiratha untuk menyampaikan hal ini kepada Abimanyu. Demikianlah, kepada Abimanyu Gatotkaca hanya mengatakan ”Adikku Abimanyu, saat ini pasukan Pandawa terdesak hebat dan kehilangan sangat banyak prajurit. Uwak Prabu Puntadewa mengatakan kepada Kakang bahwa hanya adinda Abimanyu yang tahu cara memecah formasi bunga teratai Kurawa. Sudah yayi, hanya itu yang bisa Kakang sampaikan. Kakang mohon pamit”.

Abimanyu seketika itu pula berpamitan kepada kedua istrinya. Meskipun dia tidak diperintahkan dan meskipun dia juga bukanlah senopati yang harusnya bertugas, karena situasi dan kegentingan yang sedimikian kritis ini diputuskannya untuk terjun ke medan laga Kurustra. Dia tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi dan apa yang akan didapatkannya sehingga perlu mempertaruhkan nyawanya ini. Yang dipikirnkannya dalah sebagai kesatria dan prajurit pandawa, dia harus bertindak. Dengan tanpa pamrih apapun diterjangnya pasukan Durna dengan formasi bunga teratai itu. Formai bunga teratai memang berhasil ditembus oleh Abimanyu. Namun Abimanyu terkepung ditengah formasi lawan. Abimanyu benar – benar berlaku sebagai ujung tombak penyerangan yang menyerbu ke tengah formasi bunga teratai. Dengan harapan pasukan dan kesatria pandawa yang lain akan dapat mengikutinya menyerbu ke tengah-2 formasi sebagai titik lemah formasi bunga teratai. Namun apa daya, strateginya terbaca oleh Kurawa. Ketika formasi bunga teratai itu berhasil ditembusnya, Jayadrata dan pasukannya menutup rapat formasi dan menghalangi pasukan pandawa yang lain mengikuti laju Abimanyu. Abimanyu terjebak di tengah kubangan pasukan Kurawa. Puluhan Kurawa dan pasuakan Hastina mengoroyok Abimanyu yang seorang diri, dengan dikomandoi oleh Lesmana Mandra Kumara. Ribuan senjata menghajar tubuhnya hinga roboh. Namun dia tidak menyerah, dia terus melawan dengan ratusan tombak dan keris menancap di tubuhnya hingga menyerupai bulu landak. Dengan luka di sekujur tubuhnya dia terus melawan, menerabas musuh. Bahkan sampai mampu menewaskan Lesmana Mandra Kumara. Konon selama Abimanyu bersatu dengan menggendong busur Kyai Palasara milik mertuanya (Sri Kresna) dia tidak akan mati. Durna yang tahu ini melepaskan anak panah, tidak ke tubuh Harjuna melainkan ke busru Kyai Palasara. Putus seketika bersamaan dengan tewasnya abimanyu yang disambut sorak sorai kemenangan Kurawa. Hari menjelang petang saat itu. Dan perang hari itu dimenangkan oleh Kurawa.

Puntadewa yang merasa bersalah, sedih luar biasa atas tewasnya Abimanyu. Dalam penyesalan yang amat dalam ini dia bersumpah di hadapan seluruh jagad raya bahwa kelak setelah perang ini selesai dan jika Pandawa berhasil keluar sebagai pemenang, tiada lain yang patut naik tahta kerajaan dengan keluhuran dan kejayaan selain keturunan Abimanyu. Sumpah ini didengar seluruh jagad dan direstui Gusti Yang Maha Menentukan.

Demikianlah perjalanan Parikesit hingga naik tahta kerajaan Hastinapura saat itu. Terbersit hikmah bahwa kekuasaan dan kejayaan seharusnya bukanlah jalan untuk kenikmatan dan kepuasaan pribadi yang perlu direbut dengan ambisi. Dan bahwa proses panjang perjuangan yang kita lakoni dalam hal apapun belum tentu akan kita pula yang mendapatkan balasannya secara langsung. Pandawa dan Abimanyu mengajarkan hal ini. Tugas, perjuangan dan apapun yang kita jalankan dengan hati bening dan tanpa ambisi seharusnya sudah merupakan hadiah dan keluhuran jika kita benar dalam menyikapinya.  Dalam agamapun, kita diajarkan untuk berjuang berusaha dan berdoa. Perkara hasil, bukan lagi domain kita. Bahkan dalam Islam, niat baik saja – belum lagi sampai kepada pelaksanaan niat baik – sudah diganjar dengan satu pahala. Bukti betapa proses itu sendiri sudah merupakan hadiah.

Wallahualam bissawab…

Baratayudha Jayabinangun, Duryudono-Salya Gugur[13], Sangkuni tewas nadar Kunthi terlepas Mei 14, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
add a comment

Bima sekali lagi telah mendapatkan saat yang ditunggunya. Saat yang memungkinkannya membinasakan orang yang paling dibencinya, tanpa perlu takut dosa dan bebendu. Sebab perang ini adalah jalan untuk memusnahkan durjana yang berlaku angkara murka dari jagad. Sangkuni, sumber segala ontran ontran itu telah dalam cengkeraman tangan perkasanya. Sudah lama Bima menunggu saat seperti ini.
Bima tahu peran apa yang dilakoni Sangkuni selama ini. Hanya menabur benih kebancian dan menyuburkan rasa permusuhan di Astina, semenjak dia ada di sana. Kalau bukan karena kedengkian sangkuni tidak perlu dia kehilangan guru sekligus leluhur sewasis Bisma, tidak perlu bangkai ketiga senapati Wiratha, Seta, Utara dan Wrahatsangka terjengkang di Kurusetra. Apa pula dosa dan kesalahan kakak tertuanya Karno harus putus lehernya di ujung panah Pasopati Arjuna? Mengapa pula anak tersayang dan istrir trcintanya menjadi tumbal?
Namun kebencian Sangkuni kepada keturunan Pandu bukanlah tanpa sebab. Bibit kedengkian itu telah tertanam pada ladang subur sifat iri Sangkuni jauh sebelum Bima lahir ke alam fana. Saat pertama kali Sangkuni bertemu Pandu, kedengkian itu mulai tumbuh. Semakin subur kebenciannya kepda pandawa setelah pandu mangkat. Kecantikan Kunthi sewaktu gadis telah membuatnya tergila gila. Baginya dunia tiada lain selain Kunthi Nalibrata ketika itu. Ketika tahu bahwa Mandura mengadakan sayembara perebutan Kunthi, dianggapnya itu saat yang tepat untuk mendapatkannya. Namun Sangkuni pengecut. Bukan dadanya sendiri yang dipertaruhkan untuk membayar asmara gilanya pada Kunthi. Dia merengek kepada kakak tertuanya, Gendoro. Bertiga dengan Gendari mereka berangkat dari Plasajenar ke Mandura. Sayang mereka terlambat, sayembara telah usai dengan Pandu sebagai pemenang dan memboyong Kunthi sekaligus Madrim.
Bukan Sengkuni jika menerima begitu saja, meski harus melanggar etika dan “suba sita”. Dipaksanya Gendoro merebut Kunthi dari Pandu. Sekali lagi, dia harus kecewa. Gendoro kalah, sangkuni tiada mampu berbuat apapun selain menyerah. Itulah awal mula kebenciannya bertumbuh pada Pandu dan keturunannya. Gendari pun jadi boyongan Pandu, namun dengan hati berbunga. Sebab gendari berharap dapt dipersunting Pandu. Tetapi takdir berkata lain. Ketika Pandu mempersilakan Kakaknya, Destarata, untuk memilih mana di antara ketiga putri, Gendari, Kunthi, dan Madrim yang dipilih, Destarata memilih Gendari. Saking kecewanya Gendari harus menerima Destarata yang buta, semenjak itu tidak ingin dilihatnya dunia seisinya. Sepanjang sisa hidupnya, matanya ditutup dengan kain hitam. Dan sumpahnya keluar, “anak keturunan Pandu akan sengsara”. Sumpah itu diijinkan Yang Maha Punya Takdir. Kebanciannya yang bertumpuk kepada Pandu menyatu dengan kedengkian Sangkuni.
Sangkuni, bagaimanapun sama sekali tidak mampu melepaskan kegilaannya kepada Kunthi. Bahkan saat Kunthi sudah beranak pinak. Setiap ada kesempatan, Sangkuni selalu berusaha merayu dan menggoda Kunthi. Terlebih setelah Pandu meninggal. Namun Kunthi adalah wanita utama yang paham tata krama.
Sangkuni tidak menyerah. Saat Pandawa kalah dalam judi permainan dadu dengan Kurawa dan harus menyingkir dari Kerajaan, Sangkuni memanfaatkan kesempatan. Berkali2 dirayunya Kunthi dengan cara halus maupun kasar. Sampai suatu saat dia berhasil melepaskan “semeka” Kunthi. Hanya Tuhan Yang Maha Pelindung yang melindungi Kunthi dari perbuatan kurang ajar Sangkuni. Namun Kunthi sudah terlanjur malu. Diapun bersumpah, tidak akan menggunakan “semeka” sebelum menggunakan semeka dari kulit tubuh Sangkuni.
Peristiwa memalukan itu sampai ke telinga Bima beberap bulan yang lalu saat Pandawa selesai dari pengasingan dan menuntaskan penyamaran. Dia berjanji, tangannya sendiri yang akan menguliti Sangkuni.
Sekarang Sangkuni sudah dalam genggamannya. Tanpa membuang waktu lagi, ditenggaknya punggung sangkuni. Kedua kaki sankuni dipegangya kuat kuat. Kaki kiri dinjak di tanah kurusetra, kaki kanan dipegang kedua tangannya. Seperti tukang kayu membelah bambu, disobeknya selangkangan Sangkuni. Kaki kanan sangkuni terlepas dari pinggulnya, darah mengucur deras. Sangkuni tewas.
Dipenuhi janjinya. Sangkuni dikuliti seperti menguliti hewan kurban. Sebagian kulit itu dihaturkannya ke ibunda tercinta. Kunthi dengan demikian, terlepas dari nadarnya.

Baratayudha Jayabinangun, Duryudona -Salya Gugur[12], Setyawati menyusul sang kekasih, Sangkuni menemui ajalnya Mei 13, 2010

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
2 comments

Salya telah gugur. Satu lagi kesatria sejati, pemegang komitmen yang teguh, raja agung penuh kesetiaan, prajurit syarat keprigelan dan kemampuan telah pergi meninggalkan dunia fana. Bau harum darahnya yang menggenang meninggalkan semerbak wibawa dan kebijaksanaan seorang penata kerajaan yang handal. Kasih sayang dan welas asihnya pada kawula akan selalu terkenang sepanjang sejarah Mandaraka.
Pandawa, bagaimanapun telah kehilangan pepunden dan pengayom sejati. Hutang budi ini rasanya tak akan terlunasi. Pengorbanan nyawa dan raga Salya yang hancur lebur adalah wujud cintanya pada pandawa. Tanpa kerelaan Salya, mustahil pandawa dapat mengalahkan Salya.
Setyawati diiringi Sugandini “kedarang darang” sampai di tepian Ladang Kurusetra. Terasayup suara gemuruh para prajurit menggunjingkan kemenangan Yudistira atas Salya. Meski sudah diduganya berita itu akan terjadi, meski telah disiapkannya mental dan jiwanya menghadapi kenyataan ini, tetap saja perih rasa dan serik di dada tak mampu ditahannya. Tangisnya meledak air matanya tumpah. Terlalu manis kenangan bersama sang guru laki puluhan tahun ini untuk ditinggalkan. Dalam kepedihan tiada peri, berkelebat bayang2 masa lalu bersama Salya. Serasa hadir kembali kembali kelebat bayangan Salya saat melakukan tapa brata di Gunung Argabelah puluhan tahun itu. Saat pertama kali yang membuatnya jatuh cinta. Semenjak itu setiap waktu terasa indah bagi mereka. Cinta menggelora menyatukan mereka, cinta itu tumbuh ditaburi kasih sayang yang subur. Burisrawa, Rusmarata, Erawati, Banowati, dan Surtikanti adalah putra putri benih kasih sayang dan cinta mereka berdua. Ah..begitu cepat waktu berlalu. Sekarang….sang kekasih telah pergi meninggalkan dirinya. Tiada ada kesanggupan dlam kesendirian.
Hari telah mulai gelap waktu itu. Mendung yang menggulung gelap gulita tiba – tiba saja berarak menutupi ladang kuru setra. Entah ini pertanda apa. Endang Setyawati turun dari kereta. Kereta sudah tidak mungkin dapat melanjutkan laju. Ladang kurusetra dipenuhi bangkai prajurit, patahan tombak, belahan tameng, panah yang berserakan, tumpukan belulang bangkai hewan tunggangan. Setyawati menyingsingkan kain jaritnya, tidak peduli tersandung bangkai, menginjak patahan panah, tersaruk darah segar, terus diterabasnya ladang kuru setra. Tekadnya hanya satu, menemukan jasad Salya jika memang kekasihnya itu telah gugur. Namun hari yang gelap mendung yang menggulung menyulitkan langkahnya mencari Salya. Sudah tidak ada tangis lgi kali ini. Pandangannya sama sekali tidak berfungsi karena gelap. Hanya perasaan dan tuntunan batin yang kuat membawanya ke arah sekiranya jasad Salya berada. Tiba tiba kilat menyambar sekejap. Terangnya sesaat menyinari jasad salya yang bersimbah darah dada terbelah menyandar bangkai gajah. “Kakang Salya….hamba tidak dapat hidup sendiri tanpa dirimu..”, jeritnya. Dihunusnya keris di pinggang Salya, keris itulah yang mengakhiri hidupnya. Dengan senyum manis, jasad Setyawati tersandar di dada Salya. Sugandini tidak mau tertinggal. Bertiga mereka sampyuh di Ladang kuru setra.
Kresna dan Bima terlambat datang untuk mencegah niat Setyawati. Namun jikapun pada waktunya, niat Setyawati tidak mungkin di cegah. “Sudah sudah Wrekudoro, memang ini semua sudah menjadi kemauan Ibu Ratu Setyawati. Kita berdoa kepada Yang Maha Punya wewenang, semoga tempat trbaik diberikan bagi Rama Prabu dan keluarganya..Masih banyak kewajiban harus diselesaikan. Lihatlah….yang datang dari kejauhan itu. Sangkuni datang dengan serombongan Kurawa yang tersisa. Kelihatannya..mereka tidak rela dengan kematian senopati kurawa..”, Kresna menenangkan Bima.
“Apa yang harus aku lakukan?”, Bima menyela. “Wrekudara, Sangkuni memang ringkih badannya tapi sanjata apapun rasanya tidak mempan mengenai badannya..”
“Terus bagaimana??”
“Badannya liat karena sewaktu bayi dia pernah bergumul minyak tala. Seluruh badannya terbasahi minyak tala, kecuali selangkangannya..! Sobeklah selangkangannya!”
“Doa restumu menyertaiku jiteng kakangku, aku sempurnakan urusan Sangkuni..”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.605 pengikut lainnya.