jump to navigation

Aku bertemu Semar, Ki Lurah Badranaya pagi ini, dengan tangisan mata dan senyuman bibirnya. Maret 2, 2013

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.
trackback

semarAku bertemu dengannya pagi ini. Sosok yang datang dari kalangan Mitologi Jawa, berbeda dengan lainnya yang datang dari epos India. Dia menceritakan padaku mengenai dirinya. Mengapa dia harus ada ? Bagaimana posisi dan peran yang diambilnya? Mengapa bentuknya bulat menggemaskan, mengapa riasan wajahnya merepresentasikan seorang perempuan sementara cara berpakainnya bagaikan laki – laki? Mengapa matanya mbrebes mili menangis, bibirnya tersenyum?

Semar adalah pelayan sekaligus Dewa. Dia pelayan sekaligus penasehat. Dia mengabdi tetapi juga mengayomi. Dia akan mengabdi kepada pihak yang benar, yang direpresentasikan oleh Ksatria baik budi. Sifat mengayomi yang benar dan membela kebaikan ini direpresentasikan dengan wajahnya yang putih. Wajah putihnya melambangkan kesucian, kebenaran, kebijaksanaan, dan kemurnian. Bentuknya bulat mewakili bulatnya bumi, melambangkan dia sudah menelan apapun isi bumi. Baginya, tiada lagi arti apa pun yang ada di bumi. Harta kekayaan, kemewahan dan kesenangan duniawi, sudah tidak mau di rasanya lagi. Yang muncul ke permukaan tercermin dalam tutur kata dan sikapnya adalah cerminan dari wajah putihnya.

Dia selalu ada mulai dari Jaman Sekutrem turun ke bumi membentuk dan menurunkan trah mahabarata. Maka dia ada saat Manu mawoso, Bambang Sakri,  Bambang Palasara, Bambang Abiyasa, Pandu Dewanata, sampai dengan Parikesit. Begitulah selama keserakahan, ketamakan, angkara murka, dan pembuat kerusakan ada di muka bumi, Semar akan selalu hadir.

Konon dia ada untuk menetralisir peran Para Dewa di Kahyangan yang seolah tanpa batas, tanpa tepi di atasnya. Padahal yang paling atas di antara yang teratas adalah Tuhan Yang Maha Esa, Gusti Allah yang  Maha Tunggal. Maka Bethara Guru bukanlah penguasa tunggal dan pengambil keputusan mutlak, apalagi. Ada kalanya di saat – saat tertentu ketika kewenangan yang dipunyainya  digunakan unutk kepentingan pribadi atau kelompok, Semar akan datang menegur Bethara Guru – meski dia adalah Sang Hyang Wenang- sebagai Bathara Ismaya. Semar, menurut dirinya, lebih tua dari Bethara Guru. Atas kehendak Sang Maha Tunggal, Lurah Togog, Lurah Semar, dan Bethara Guru berasal dari telur. Kulit telur menjelma menjadi Lurah Togog yang ditugaskan untuk menasehati dan mengawal para pengemban dan pengabdi kejahatan, Putih telur menjelma menjadi Ki Lurah Semar, dan Kuning Telur menjelma menjadi Bethara Guru yang bertugas memimpin Para Dewa di Kahyangan Suralaya.

Matanya selalu menangis namun bibirnya tersenyum. Dia menangis meratapi dan mengasihani manusia yang selalu membuat kerusakan. Ketamakan telah menjerumuskan manusia ke jurang kenisthaan. Kerakusan dan pementingan pada diri dan kelompoknya telah mengakibatkan kerusakan tak terperi di muka bumi. Semar menangis melihat para pemimpin yang lupa diri, menenggelamkan diri pada kemewahan dan kenikmataan sesaat. Namun dia juga tersenyum, betapapun kerusakan meraja lela di muka bumi, selalu ada kesempatan untuk perbaikan dan pertobatan. Dia tersenyum selalu ada optimisme dan harapan di tengah kehancuran dan keputus asaan. Meski kebenaran selalu mayoritas, optimisme harus selalu dijaga. Bukankah Pandawa hanya 5 sementara Kurawa 100 ? Bukankah di perang Barata Yudha, Pandawa hanya punya 1 Kresna sebagai kusir pemandu, sementara Kurupati memilih 1000 raja sekutu lengkap dengan pasukan dan persenjataannya ? Toh kemenangan ada pada pihak yang baik, meski dengan pengorbanan yang tiada terkira.  (Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta 2 Maret 2013)

www.mercubuana.ac.id 

About these ads

Komentar»

1. Bina Antasariansyah - Maret 8, 2013

Lha yang ini kok belum diartikan pak dalang, mengapa riasan wajahnya merepresentasikan seorang perempuan sementara cara berpakainnya bagaikan laki – laki?

Mujiono Sadikin - Maret 8, 2013

Sik rung kober , keburu pesawate mabur

2. Bina Antasariansyah - Maret 8, 2013

Opo tak tulisne ae ben lengkap

Mujiono Sadikin - Maret 8, 2013

Yo wis kono


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.604 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: