jump to navigation

Menyikapi jam kerja 2 hari di Kampus, menunggu rekomendasi hasil penelitian Bu Primi Februari 28, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari.
1 comment so far

Bulan ini secara resmi Universitas Mercu Buana menetapkan peraturan minimal 2 hari di Kampus bagi para dosen, meskipun pelaksanaan peraturan tersebut baru uji coba dan akan dievaluasi kembali tahun depan. Dengan jam kerja yang fleksibel maka kompensasi alat kendali (atau alat ukur lebih tepatnya) atas prestasi dosen dengan demikian, bukan lagi absensi (semata ?) tetapi kinerja masing – masing individu dosen.

Saya termasuk golongan yang setuju dengan kebijakan itu, dan terus terang termasuk yang mengeluh saat kewajiban 4 hari di Kampus.  Dengan jam kerja yang fleksibel banyak yang bisa dihemat. Penggunaan waktu bisa lebih efisien. Terutama untuk kondisi Jakarta yang tidak terduga seperti ini. Perjalanan dari tempat tinggal ke tempat kerja bisa 1-2 jam sekali jalan. Maka rata – rata 3 jam per hari, waktu hilang di jalan. Untuk seorang dosen, ini sudah sama dengan 3,5 jam SKS yang bisa digunakan untuk lebih dari tiga aktifitas sekaligus: 1 SKS Persiapan mengajar, 1 SKS penelitian, 1 SKS memikirkan pengabdian masyarakat, setengah jam lagi untuk istirahat J.

Itu baru dari sisi waktu, belum sumber daya yang lain. Semakin efisien (tentu saja ada batasan minimal di Kampus ya) kita berada di Kampus, semakin efisien penggunaan sumber daya kampus. Setidaknya konsumsi listrik bisa ditekan, konsumsi minum bisa dihemat,dll. Maka logikanya, umur saklar listrik lebih panjang, umur keran galon air minum juga lebih lama karena semakin jarang ditekan.

Demikian juga dari space kerja. Saya teringat dengan proposal penelitian Bu Primi (Disain Arsitektur –FTPD Universitas Mercu Buana) yang dipresentasikan di UIBL minggu lalu.Beliau mempresentasikan proposal penelitian yang kurang lebih bertujuan : mencari model yang tepat untuk volume dan disain ruang kerja yang cocok di era Teknologi Informasi ini. Sebenarnya proposal beliau ini bukan termasuk di golongan paper ICT, tetapi karena ada ICT nya (?) masuklah paper ini di kelompok presenter ICT. Dan beliau tidak sendiri. Tapi bagi saya ini “kesalahan” yang mencerahkan. Karena saya pribadi jadi agak lebih pinter di bidang yang lain.  Kebijakan dua hari kerja berbasis kinerja ini mendukung atau didukung nantinya oleh disain ruang kerja yang sesuai sebagai hasil penelitian tersebut.  Saya sendiri berpendapat, nanti tidak perlu lagi ada ruang privat untuk masing – masing dosen (kecuali pejabat yang karena kebutuhan koordinasi, diskusi privat, dll).

Bayangan saya ada tempat dan ruang kerja berbagi (tidak harus digunakan pada waktu bersamaan), yang bisa digunakan secara berbagi dan bergantian untuk masing – masing dosen sesuai dengan jadwalnya di kampus. Misalnya saja ada meja besar yang kosong saja kalau tidak digunakan. Disiapkan saja banyak colokon listrik untuk power notebook. Jadi tidak ada lagi PC – 2 njogrok di meja. Semuanya menggunakan notebook yang lekas dibereskan selesai digunakan.  Dengan begini penggunaan tempat bisa lebih berdaya guna. Daripada seperti sekarang ini saya lihat di fasilkom, meja – meja kerja disekat-2 kubical. Namun kebanyakan tiap hari kosong ditinggalkan penghuninya. Jadinya meja-2 itu tidak termanfaatkan, karena juga tidak bisa digunakan oleh dosen lain yang hadir meski butuh space lebih. Di meja – meja kosong itu ada berkas-2 atau properti “pemilik asli”.  Dengan meja kerja bersama, untuk memfasilitasi dan menghargai privasi dosen-2, disediakan locker-2 yang bisa dikunci untuk masing – masing dosen dengan volume mencukupi. Jadi tiap dosen selesai menggunakan tempat kerja bersama itu, wajib menyimpan barang-2 pribadinya ke locker.  Kembali meja bersama itu bersih, berikutnya siapapun bisa menggunakan meja itu dengan leluasa. Leluasa pikiran karena milik bersama dan juga leluasa nyaman fisik karena tempatnya lega.

Kembali ke dua hari kerja tersebut. Berdasarkan pengalaman, soal terbesar untuk mengadopsi jam kerja di kantor yang fleksibel adalah menentukan paramater pengukuran kinerja. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi dosen karena sudah ada panduan yang jelas mengenai apa – apa yang sebaiknya dicapai oleh dosen berupa parameter KUM.  Tinggal sekarang diperlukan kontrol dari diri masing – masing untuk mencapai KUM tersebut.

Tempat Makan Baru dekat Kampus Universitas Mercu Buana Februari 20, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang di seputar Mercu Buana, Yang Sayang Dilupakan.
add a comment

Belum sampai hitungan 4 bulan rasanya di dekat Kampus Universitas Mercu Buana telah dibuka rumah makan baru. Nama rumah makan itu Sop Ayam Pak Min Klaten. Awalnya saya tidak terlalu perhatian dengan rumah makan ini, mengingat saya bukanlah tergolong penggila wisata kuliner. Maka memang saya agak kuper soal kuliner-2 an begini. Kembali ke Rumah Makan Sop Ayam Pak Min itu. Sampai kemudian suatu saat diajak teman dosen untuk mencoba makan di sana. Wah ternyata memang rumah makan ini sesuai. Menunya sesuai, harganya sesuai, tempatnya sesuai, pelayanannya juga sesuai. Menunya sesuai untu penderita penyakit “tua” seperti kolesterol, asam urat, atau misalnya darah tinggi. Menunya fokus pada sop ayam bening, yang dipisah. Jadi bagi yang menghindari kulit karena kolesterol, silakan memilih soto ayam daging, atau soto ayam leher. Harganya sesuai, terutama untuk lingkungan kampus (bukan hanya kelas mahasiswa). Untuk dosen dan karyawan harga – harga menu sangat membantu. Harga – harga ini menurut saya seimbang bahkan apa yang kita dapatkan bisa lebih, paling tidak dari sisi rasa meskipun dilihat dari porsi juga mencukupi. Dengan uang 10 ribu rupiah sudah bisa makan sop campur plus minuman dingin atau hangat. Tempatnya sesuai terutama untuk teman – teman komunitas Univ Mercu Buana dan sekitarnya. Bukan hanya itu, tempatnya gampang diakses. Bagi yang membawa kendaraan roda empat juga tidak akan mengalami kesulitan memarkirkan kendaraannya. Empat bulan beroperasi, rumah makan ini segera saja menjadi primadona. Hampir sepanjang waktu saya perhatikan selalu penuh dengan pelanggan. Saya amati, ya karena semuanya “sesuai” itu tadi. Hanya sering kita melihat kesuksesan pengusaha makan ini dari permukaannya saja. Bahwa kelihatannya enak, sukses. Hanya tinggal menunggu restoran, pelanggan datang sendiri. Padahal proses menuju dan dibalik itu bisa jadi jauh lebih sulit daripada yang pernah kita alami. Banyak parameter yang menentukan keberhasilan rumah makan. Tempat, rasa, pelanan, harga, adalah beberapa di antaranya. Satu saja tidak terpenuhi, bisa berantakan semuanya. Maklum, saya pribadi pernah beberapa kali mengalami  Berikut ini gambar – gambar “kesuksesan” Sop Ayam Pak Min Jalan Meruya Selatan

Halaman Depan Rumah Makan

Halaman Depan Rumah Makan

 

Menu, Silakan Pilih Yang Sesuai

Menu, Silakan Pilih Yang Sesuai

Kabar Lelayu Februari 18, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Sayang Dilupakan.
Tags: , , , , ,
add a comment
Ngaturaken pawarta lelayu kanthi kapundutipun Bapanipun Sedherek Suroso Agus Widodo dhumateng pangayunanipun Gusti ingkang Maha Kuwaos. Kula sak keluargi, sak brayan, ndherek bela sungkawa kairing doa mugi Almarhum tinampi kanthi rahayu dening Gusti nipun, dipun jembaraken margi nipun, dipun apura sedaya kalepatan ipun, dipun tampi sedaya kesaenanipun.Kagem keluargi ingkang tininggal, muga tansah pinaringan kekiatan, kesabaran, lan ugi ketabahan angadhepi coba menika.
Dene kangge kita ingkang tansih gesang, kapundhutipun almarhum sageta dados pepeling lan kaca benggala.
Hei manungsa padha elinga…
Yen Gusti wis kagungan karsa….
Sira kabeh tan kena semaya…
Gelem ora kudu iya..
Numpak kereta roda manungsa.

Sanak kadang melu ngiring,
Donya brono melu nyandhing.

Nanging ora ana sing melu mlebu.
Kari amal, anak sholeh, lan uga ilmu.
Ingkang ngiring ndherek nunggu.
Pangadilan sing bener lan iso digugu.

Kembali Menguji Sidang Tugas Akhir (Ada souvenir buat pembaca jika yang bersangkutan adalah Mahasiswa Fasilkom UMB) Februari 14, 2012

Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang di seputar Mercu Buana, Yang Kami Kerjakan, Yang Sayang Dilupakan.
2 comments

Bulan Pebruari – Maret, adalah bulan sidang di Fasilkom. Maka begitu juga bulan ini. Total sekitar 60an mahasiswa telah mengajukan pelaksanaan sidang tugas akhir. Dua hari ini konsentrasi semua dosen terfokus pada pelaksanaan sidang baik sebagai penguji maupun pembimbing dan pemimpin sidang tugas akhir.

Dari sehari menguji sidang kemarin secara ringkas dapat saya tuliskan bahwa masih banyak kelemahan yang terdapat pada buku laporan tugas akhir.  Kelemahan dan kekurangan tersebut ada pada hal – hal yang bersifat umum dan tidak pada materi Tugas Akhirnya. Beberapa di antaranya saya ringkas seperti di bawah. Ringkasan yang merupakan hasil pengamatan dan ingatan selama sehari melaksanakan tugas menguji peserta sidan tugas akhir.

Tata Tulis

Masih banyak laporan tugas akhir yang mengabaikan kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang benar dan baik. Beberapa di antaranya antara lain :

  • Rancu dalam menerapkan kata “di” apakah sebagai awalan atau kata depan. Menurut kaidah yang benar, jika “di” merupakan kata depan maka penulisannya dipisah dangan kata yang mengikutinya. Jika “sebagai” imbuhan maka penulisannya disambung. Dengan demikian penulisan yang benar adalah: disambung, dipisah, ditulis, diteliti, di sana, di sini, di mana, di situ, di dalam atau dipahami. Dalam tugas akhir kesalahan yang umum adalah penulisan terpisah pada “di” sebagai awalan.  Saya lihat ini juga terjadi secara umum. Banyak warga masyarakat kita yang menulis di pinggir jalan seperti : di jual, di sewakan. Ini semua salah. Bobot kesalahan lebih besar untuk karya tulis yang bersifat ilmiah.
  • Penulisan huruf besar dan huruf kecil yang tidak tepat. Misalnya dalam kalimat “Dalam penelitian ini dihasilkan aplikasi perangkat ajar bahasa Inggris kelas 6 SD” terdapat kesalahan penulisan “Bahasa Inggris”. Karena “Inggris” merupakan nama untuk bahasa, maka penulisan gabungan keduanya seharusnya masing – masing kata ditulis dengan huruf kapital yaitu “Bahasa Inggris”, seperti halnya nama sungai, nama gunung juga ditulis dengan huruf kapital. Jadi penulisan yang benar adalah misalnya : “Aplikasi perangkat ajar Bahasa Inggris”, “Berlayar di Bengawan Solo”, “Menangkap ikan di Sungai Brantas”, atau “Mendaki Gunung Agung di Bali”.

Tata Kalimat

Kesalahan mendasar namun cukup sering dijumpai adalah akibat kurangnya pemahaman terhadap hukum dasar kalimat dalam Bahasa Indonesia. Kalimat – apalagi dalam penulisan karya tulis ilmiah – harus terdiri dari minimal subyek dan predikat. Banyak mahasiswa menganggap bahwa kalimat yang ditulisnya sudah lengkap karena “cukup panjang”.  Contoh yang saya kutip dari laporan tugas akhir misalnya “Disebut juga dengan kumpulan beberapa perintah yang dieksukusi oleh mesin komputer dalam menjalankan fungsi tertentu”.  Contoh lain “Dari berbagai penjelasan rumit yang terdapat di dokumen dan buku – buku UML”.  Kedua kalimat ini tidak lengkap. Kalimat yang pertama hanya mengandung predikat, sedangkan kalimat ke dua hanya mengandung subyek.  Untuk kalimat pertama contoh penyempurnaannya adalah “Perangkat lunak disebut juga dengan kumpulan beberapa perintah yang dieksukusi oleh mesin komputer dalam menjalankan fungsi tertentu”. Kata “Perangkat lunak” merupakan subyek.  Penyempurnaan untuk kalimat ke dua misalnya “Dari berbagai penjelasan rumit yang terdapat di dokumen dan buku – buku UML berbagai penjelasan rumit yang terdapat di dokumen dan buku – buku UML dapat dipahami bahwa….”

Tata Cara Penulisan Laporan

Masih banyak mahasiswa yang kurang paham mengenai tata cara penulisan laporan terutama mengenai isi sub bab Tujuan, Manfaat, Batasan Masalah, dan Kesimpulan.

Tujuan & Manfaat

Seringkali tujuan tertukar dengan apa yang dlakukan dalam penelitian. Contohnya sebagai berikut:

  • Tujuan yang ingin dicapai penulis adalah merancangan dan membuat perangkat lunak aplikasi pembelajaran….
  • Tujuan penelitian ini adalah menganalisa kinerja jaringan Ad Hoc dengan…..

Manfaat penelitian juga sering dirancukan degan tujuan penelitian. Saya selalu memberikan contoh saat di sidang dan mempertanyakan hal ini dengan ilustrasi sebagai berikut. Saat kita menginginkan mempunyai rumah maka tujuan kita adalah :

  • Mempunyai rumah yang nyaman dengan aliran udara dan cahaya yang bebas keluar masuk
  • Tersedia taman di belakang rumah yang…..

Untuk mencapai tujuan itu maka kita melakukan pekerjaan menabung, membeli material, mengawasi tukang dst. Setelah tujuan tersebut tercapai maka kita akan mendapatkan manfaat dari tujuan yang dihasilkan tersebut yaitu antara lain : bisa beristirahat dengan nyaman, bisa bekerja dengan tenang, dst.

Batasan Masalah

Kekurangan yang paling sering ditemui dari sub bab Batasan Masalah adalah rancu antara kakas (tools) yang digunakan dengan batasan masalah. Kembali saya ambil contoh dari laporan tugas akhir, batasan masalah sebagai berikut :

  • Aplikasi ini berbasis web dan dibuat dengan Bahasa Pemrograman PHP
  • DBMS yang digunakan adalah MySQL 5

Batasan ini rancu. Seharusnya kakas yang dipilih untuk digunakan dimasukkan ke bagian Analisa dan Perancangan sbagai spesifikasi peralatan.   Untuk melakukan identifikasi apakah batasan masalah atau bukan, sebenarnya cukup sedarhana. Jika item tersebut bisa diganti, maka item tersebut bukan batasan masalah. Sebagai contoh, “batasan masalah” di atas.  Bahasa Pemrograman PHP bisa diganti dengan menggunakan Bahasa Pemrograman yang lain, demikian juga DBMS MySQL 5.

Kesimpulan

Kesalahan yang cukup sering ditemukan di sub bab kesimpulan adalah rancunya antara spesifikasi teknis atau spesifikasi kebutuhan dengan kesimpulan. Contoh kesimpulan yang kurang tepat adalah:

  • Aplikasi ini membedakan 2 jenis lagu yaitu Lagu Nasional dan Lagu Daerah
  • Aplikasi ini menerapkan permainan kuis dalam penggunaannya….
  • User dapat memilih jawaban….

Semua item kesimpulan di atas adalah spesifikasi kebutuhan yang sudah dirancang dari awal. Sebelum penelitian tugas akhir selesai pun hal – hal tersebut di atas sudah diketahui bahkan didefinisikan. Yang disebut kesimpulan seharusnya adalah hal – hal yang diketahui dan disarikan setelah keseluruhan proses penelitian dianggap selesai. Yang paling mudah untuk menyusun kesimpulan adalah dengan melihat kembali tujuan yang ingin dihasilkan dari penelitian. Apakah tujuan tersebut tercapai atau tidak. Jika tercapai dijelaskan apa buktinya, jika tidak mengapa tidak tercapai. Baru kemudian ditambahkan kesimpulan – kesimpulan lain yang dianggap perlu dan menggambarkan keseluruhan proses dan hasil penelitian.

Demikian sedikit ringkasan dan pendapat mengenai penulisan laporan Tugas Akhir mahasiswa Teknik Informatika Fasilkom. Tentu saja pendapat dan pengetahuan saya tidak sempurna. Termasuk di dalam tulisan ini. Dalam tulisan ini setidaknya ada satu kalimat yang salah, selain kalimat – kalimat contoh. Jika anda pembaca adalah mahiswa Fasilkom UMB dan menemukan kalimat tersebut, jika kalian mau, silakan datang dan tunjukkan ke saya kesalahan tersebut. Masih ada souvenir yang saya dapatkan dari ITS Surabaya waktu mengikuti dan menjadi pemakalah dalam Seminar Nasional Tenknologi beberapa waktu yang lalu. Souvenir itu bisa anda dapatkan :)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.