Menyetor Data Diri untuk e-KTP Oktober 27, 2011
Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Sayang Dilupakan.add a comment
Hari ini kelurahan kami melaksanakan pendafataran dan penyetoran data warga untuk eKTP. Saya tulis penyetoran data, karena memang hari ini warga hanya menyetorkan data masing masing. Data disetor secara digital, semuanya serba citra identitas diri. Buat kita yang awam, citra disini maksudnya adalah rekaman gambar data data biologis kita seperti gambar semua sidik jari, gambar poto muka, dan gambar mata (retina) kita. Dalam istilah keamanan dan kerahasiaan informasi semua gambar tadi adalah ‘apa yang kita punya’. Selain apa yang kita punya, kode keamanan informasi biasanya dilengkapi dengan apa yg kita tahu. Untuk KTP ini berupa tanda tangan.
Proses penyetoran data warga dilakukan dengan merekam identitas dan ciri yang kita punyai. Perekaman sendiri untuk satu penduduk tidak lama, antara 2 – 4 menit. Bagi orang muda atau ada background pengetahuan konmputer atau perangkat digital bisa cepat, 2 jam selesai. Tetapi bagi warga yg sudah sepuh bisa lebih lama.
Pertama akan dicocokkan data kita dengan basis data kependudukan yg sudah ada. Data ini seperti nama lengkap, golongan darah, alamat akan dikonfirmasi ulang. Selanjutnya pengambilan gambar diri, pas photo. Sesudah pas poto, perekaman tanda tangan yg disimpan secara digital. Kemudian perekaman 4 sidik jari tangan selain jempol kiri kanan. Perekaman jempol kiri kanan, berikutnya. Terakhir urusan sidik jari adalah direkam telunjuk kiri kanan. Terakhir perekaman retina mata. Kita diminta mengintip alat rekam, tapi dengan mata membelalak. Kemudian tanda tangan sekali lagi. Selesai. E KTP belum ditrima hari ini trnyata. Belum tahu kapan ditrima. Warga menunggu saja pemberitahuan dari kelurajan atau rt setempat.
Mengurusi warga yg banyak dan bermacam macam, tentu beda – beda yg ditemui oleh para petugas perekaman data itu. Pada beberapa kesempatan diperlukan kesabaran ekstra. Apalagi saat petugas tidak tahu latar belakang warga itu. Seperti saat menghadapi warga yg sudah sepuh dengan pendengaran yg sudah jauh berkurang. Komunikasi sulit nyambung. Ditanya golongan darah dijawab datang sendiri. Diminta ngadep kamera, menjawab keluarganya yang lain nanti saja.
Terlepas dari berbagai kontroversinya, semoga eKTP ini benar – benar bermanfaat bagi warga dan bangsa kita.
Beberapa gambar aktivitas perekaman data:
Ke pabrik kotak tinta Epson, Batam… Oktober 21, 2011
Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.5 comments
Di sela urusan pekerjaan, saya sempatkan mengunjungi seorang teman lama yang menjadi salah satu manajer di PT. Epson Indonesia Batam. Ternyata yang saya dapat bukan hanya kunjungan biasa silaturahmi dan semacamnya. Lebih dari itu saya mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang memperkaya wawasan saya. Pada kesempatan itu diajaknya saya berkeliling pabrik untuk melihat – lihat proses dan cara kerja pembuatan kartu tinta di Epson.
Banyak hal baru saya dapatkan dari kunjungan ini. Seperti yang saya dengar selama ini mengenai budaya kerja perusahaan – perusahaan Jepang, keteraturan, kedisiplinan, dan kebersihan terciri kuat di Epson. Mesin dan orang – orang bekerja sesuai dengan porsi dan bagiannya masing – masing. Pekerjaan yang spesifik dilakukan secara tekun dan terus menerus menjadikan mereka sangat paham di bidangnya. Mesin – masin perakit cartridge, pengisi tinta, pengepak cartridge dan uji kualitas terjajar rapi sesuai dengan tempat dan urutan semestinya. Disusun sedemikian rupa sehingga memudahkan pengendalian dan perawatan dan pemeliharaan jika diperlukan. Robot – robot perakitan cartridge, pengisian tinta, dan pengepakan hasil akhir dibuat transparan di dalam “lemari” kaca yang terstandardiasai. Agaknya ini bertujuan agar memudahkan perawatan dan pemeliharaan.
Pabrik dan ruang kerja lainnya sangat bersih, lantai licin seperti selalu terlihat setelah dipel. Apalagi ruang produksi, harus bebas dari debu setitikpun. Sebelum masuk ruang produksi, semua orang (pekerja, pengunjung) harus mengenakan pakaian dan sepatu khusus dilengkapi dengan masker dan sarung tangan. Kemudian masuk ruang pembersih debu, baru bisa masuk ruang produksi. Sarung tangan dan masker hanya sekali pakai untuk kemudian dicuci dan disterilkan.Di luar area produksi pun tidak kalah bersihnya. Setiap lantai selalu bersih licin terlihat seolah selalu habis dipel. Di kantin, meja – meja makan karyawan hanya terlihat “rame” saat waktu makan. Segera setelah itu meja bersih kembali. Para karyawan dengan kesadaran sendiri membereskan dan membersihkan limbah apapun sisa makan mereka. Di meja makan tidak tersedia tisu, melainkan handuk lap tangan yang lebih hemat dari pada tisu kertas.
Bukan hanya kedisiplinan dan ketekunan kerja yang menjadi fokus Epson. Sisi manusiawi dan kebutuhan rohani karyawannya pun sangat diperhatikan. Koperasi karyawan tumbuh baik. Masjid di lingkungan Pabrik menempati tempat yang representatif, luas dan juga selalu bersih. Para pekerja masuk kerja mulai jam 8 pagi s.d. jam 5 sore, istirahat untuk makan siang dan sholat jam 12 – 13. Namun di antara waktu pagi dan sore itu ada break 15 menit. Jadi sekitar jam 10 an mereka break untuk sekedar ngopi atau keperluan lain. Bahkan banyak di antara mereka memanfaatkan waktu break untuk sholat Dhuha.
Epson Indonesia (Batam) ternyata merupakan salah satu pabrik andalan Epson untuk seluruh dunia. Untuk produk cartrdge dan tinta jenis ini, dari Batam menguasai 60 % pasokan Epson di dunia. 40% sisanya dibagi antara UK, AS, China, dll. Prestasi Epson Indonesia di tingkat Epson global juga membanggakan. Sering sekali mereka mendapatkan penghargaan untuk kompetisi – kompetisi berbagai level pegawai di tingkat Epson Internasional. Hampir semua robot pekerja di Batam dirakit oleh teknisi Epson Batam yang hampir semuanya orang lokal. Tergambar bahwa, secara individu setidaknya, Bangsa kita setidaknya utuk kasus Epson ini tidak kalah bahkan sering unggul dibandingkan bangsa lain. Bahkan dengan orang Jepang sendiri. Kata teman, satu kekurangan kita yang paling mencelakakan adalah kesulitan untuk diatur dan menyesuaikan dengan sistem yang disepakati. Kebanyakan dari kita merasa paling jago dan susah diatur. Inilah yang membedakan bangsa kita dengan bangsa Jepang. Katanya, orang jepang sangat patuh pada sistem dan disiplin mengikuti. Bahkan jikapun Boss menyuruhnya mati, dia mau melakukkanya.
Beberapa gambar yang saya ambil menggunakan ponsel di antaranya terlihat seperti di bawah.
Diproteksi: MPPL, Business Case – Contoh KAK & RAB Oktober 5, 2011
Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari.Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.









