jump to navigation

Nasehat Rosullullah Kepada Abu Dzar, 15 Abad yang lalu… Oktober 24, 2008

Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari.
trackback

Anakku, ini adalah ringkasan khotbah Jumat 24 Oktober 2008.

Dimulai dengan ajakan khattib agar kita semua selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta selalu bersyukur atas segala nikmat islam dan yang masih terus dilimpahkan kepada kita, khottib pada kesempatan khotbah ini menguraikan nasehat Rosullullah kepada Abu Dzar. Sebelumnya, khottib juga mengajak kita semua berdoa dan berharap mudah – mudahan segala amal ibadah kita diterima Allah SWT.

Dicuplik dari buku Imam Al-Ghozali, suatu saat Abu Dzar datang kepada Rosullah dan meminta nasehat kepada Baginda dengan mengatakan “Ya Rosullullah, beri nasehatlah kepadaku”. Begitulah kebiasaan para sahabad ketika menghadap dan berbincang dengan Rosullah, tiada yang lebih barharga dan diminta dari Rosullullah selain nasehat dan tausiahnya.

Maka Rosullullah kala itu menyampaikan empat pesan kepada Abu Dzar. Meskipun nasehat itu disampaikan kepada Abu Dzar dan terjadi 15 abad yang lalu, apa yang disampaikan Rosullullah ini juga merupakan nasihat buat kita semua meskipun terpisah jaman lebih dari 15 abad. Pun, nasehat itu bukan hanya relavan dalam kontek karena kita ummat Rosul, melainkan juga sangat relevan jika dikaitkan dengan kontek dan kondisi kekinian, saat ini, jaman digital ini. Nasehat Rosullullah itu adalah :

1. Hendaknya kamu (Abu Dzar, dan ummat Islam secara keseluruhan) berusaha dengan cara yang baik.

Menurut khattib, makna yang terkandung dari nasehat Rosul ini adalah bahwa sebagai ummat Islam wajib hukumnya bagi kita untuk berusaha menjadi yang terbaik dengan cara yang baik. Dalam hal harta dunia misalnya, kita wajib berusaha menjadi kaya dengan cara yang baik. Kita boleh menjadi dan berprofesi apapun asal baik dalam menjalankannya. Baik di sini tentu saja dalam kontek patuh pada rambu – rambu halal dan haram menurut Islam. Jika kita menjadi pedagang, berusahalah dengan cara yang baik. Tidak mengurangi timbangan, berlaku jujur adalah beberapa cara yang baik sebagai pedagang. Jika kita sebagai karyawan, jadilah karyawan yang baik, tidak korupsi waktu maupun materi, merupakan beberapa cara yang baik dalam menjalankan profesi sebagai karyawan. Kalau kalian – anak – anakku – sebagai pelajar, berusahalah beprestasi dengan cara yang baik. Kalian tidap perlu mencontek, tidak perlu berbuat curang untuk hanya sekedar memperoleh nilai yang baik adalah cara yang baik untuk pelajar.

Kita lihat sekeliling kita saat ini, krisi ekonomi global tengah mendera dan kita di Indonesia pun terkena impasnya. Banyak orang tiba – tiba mendadak miskin karena kehilangan materi yang diinvestasikan, banyak orang tiba – tiba menjadi pesakitan karena kasus – kasus korupsi. Itu semua bisa jadi akibat mayoritas kita berusaha tetapi dengan cara yang tidak baik. Dengan cara yanh haram. Dan Allah menimpakan azabnya kepada kita saat ini.

2. Beramal sholehlah, berbuat baiklah.

Setelah kita berusaha keras dengan cara yang baik, dan kemudian Allah memberikan hasilnya kepada kita maka berikutnya adalah beramal sholeh dan berbuat baiklah. Beribadahlah dengan baik kepada Allah, bersukurlah setiap saat maka Allah akan menambah nikmatnya untuk kita. Dan jangan dilupakan ibadah horisontal berbuat baiklah kepada sesama. Berikanlah hak orang fakir dan miskin atas hasil yang kita peroleh. Tolonglah sesama yang membutuhkan bantuan.

3. Memohonlah kepada Allah, rezeki hari ini untuk hari ini.

Secara tersirat Rosullullah memerintahkan kita untuk tidak serakah, namun di sisi lain juga tidak berfoya – foya dan berlebih – lebihan dalam membelanjakan harta. Sebab sikap serakah dan berlebihan akan menghancurkan kita, baik di dunia apa lagi di akherat kelak. Krisis global saat ini ternyata salah satunya akibat sebagian kecil di antara kita yang diberikan kekuasaan dan kewenangan bersikap sangat serakah di satu sisi, dan sekaligus berfoya – foya di sisi lain. Kita baca di Koran bahwa kebanyakan eksekutif perusahaan – perusahaan financial yang besar – besar itu menerapkan pola hidup penuh kemewahan. Gaji mereka mencapai milyaran rupiah tiap tahun, kehidupan mereka tidak jauh dari menikmati gaya hidup jetzet yang penuh kemewahan. Sementara perusahaan ditopang dari dana sangat besar suntikan pemerintahnya. Khusus bagi kita di Indonesia, berapa banyak dana talangan pemerintah berupa BLBI yang digelontorkan kepada pengusaha – pengusaha kelas konglomerat, sementara sebagaian besar dana talangan itu telah diselewengkan dengan cara yang demikian parah. Dijarah, dinikmati, dan dibikin kenduri bagi kalangan terbatas baik para pengusaha maupun aparat pemerintah dan penegak hukum. Sementara mayoritas rakyat yang lain kelaparan dan kesulitan hidupnya. Maka, kalau sekarang terjadi krisis ekonomi dan kesengsaraan bagi kita, itu karena ulah kita sendiri.

4. Hitunglah dirimu, hisablah dirimu..

Pesan Rosullullah yang tidak kalah dasyat adalah agar kita menghitung dan menghisab diri kita sendiri sebelum kita dihisab oleh yang maha Adil di akherat kelak. Pesan lain dibalik ini adalah, kita boleh berusaha sekuat tenaga, kita boleh menjadi kaya, kita harus menjadi pintar, kita boleh memegang amanah sebagai orang tertinggi di dunia sekalipun, tapi jangan lupa. Sekali kali jangan lupa suatu saat kita akan mati. Dan setelah kematian itu, tidak lah kita dilepaskan begitu saja. Akan ada hari perhitungan dimana mulut kita tidak bisa membela dan berbohong. Mulut kita tidak akan ada artinya nanti di hari perhitungan itu. Tangan kita yang akan bicara, digunakan untuk apa, untuk menerima apa saja. Telinga kita yang akan bercerita digunakan untuk mendengarkan apa saja. Mata kita akan berterus terang akan apa yang dilihatnya. Kaki kita akan matur kepada sang Pengadil, kita gunakan untuk berjalan ke mana saja.

Alasan lain, mengapa Rosullullah menyuruh kita untuk menghitung – hitung diri kita sendiri. Karena segala perbuatan baik dan buruk yang kita lakukan akan kembali lagi kepada kita. Sesuai firman Allah QS 17:7

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, ……

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.605 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: