jump to navigation

Karno Tanding[2], Berita tewasnya Pandita Druno karena termakan isu tewas di medan laga Juli 18, 2008

Posted by Mujiono Sadikin in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Senangi.
trackback

[Cerita Karno Tanding ini, sebagian saya  ambil dari audio yang dapat diunduh dari http://www.javawayang.org. Beda dengan pagelaran di TMII yang saya lihat lalu, KarnoTanding yang saya nikmati dari http://www.javawayang.org ini dibawakan oleh  Ki. Narto Sabdo, guru Ki Manteb Sudarsono. Kombonaso ini saya lakukan  karena saya tidak sempat menikmati pagelaran komplet di TMII yang lalu. Terimakasih buat maspei selaku administrator javawayang.org. Salut atas usaha dan kesungguhannya "nguri-uri" budaya Jawa Wayang  sehingga bisa dinikmati di manapun kapanpun melalui jejaring Internet. Dan bagi peminat wayang tentu saja lebih nikmat dan khidmat menikmati Karno Tanding yang diunduh dari http://www.javawayang,org itu daripada melototin oret - oretan saya yang nggak genah di bawah ini]

Kartomarmo mulai menyampaikan kabar yang dibawanya…

“Sinuwun mohon maaf, hari ini seperti yang Paman Sangkuni perintahkan hamba mendampingi Sang Senopati Agung Bapa Begawan Druna maju ke medan laga Baratayudha….”.

Dengan gaya dan cengkok suara yang khas, Sengkuni menyela

“Iya, kowe paman kasih pekerjaan enteng Kartomarmo, mendampingi Senopati Agung yang jelas tidak terkalahkan…”

Inggih Paman…”

“Kartomarmo, teruskan ceritamu adikku”, perintah Prabu Duryudono

“Terlaksana Bapa Druna maju sebagai senopati perang Astina. Pandawa menggunakan konfigurasi pasukan berupa bulan sabit, Permadi di sisi kiri, Bratasena di sisi kanan. Keduanya sebagai ujung konfigurasi bulan sabit itu. Bapa Druna menggunakan konfigurasi Bangau Terbang, dengan pucuk perang Bapa Druna sendiri. Terbukti gunjingan dunia bahwa Bapa Druna tanpa tanding. Tanpa waktu lama barusan pasukan bulan sabit pandawa diterjang, diterabas seolah tanpa perlawan. Konfigurasi pasukan wulan tinanggal itu kocar – kacir, morat marit terkena badai panah dan lautan api dari Sang Pandita Sukalima itu”.

Sangkuni “He..he…he…, ya sudah paman perkirakan kok ngger. Kalau Bapa Druna bertindak lama mijit buah ranti, dalam sekejap Pandawa akan takluk..terus lanjutannya gimana le ??”

”Melihat pasukannya kocar – kacir, hamba lihat Arjuna bertindak. Busur panah disiapkan, panah andalannya kiai Pasopati dihunus, dipasangkan di busur panah siap dilepaskan ke arah Bapa Druna. Tiba – tiba gemetar tangan Arjuna, keringat dinginnya keluar, otot dan tulangnya seperti di-lelesi. Tanpa daya, Arjuna lemas ambruk dan semaput…”

Duryudonoa ”Ha..ha…wah harusnya aku ada di sana. Aku akan bertepuk tangan dan kalau perlu sekalian tepuk kaki untuk menyemangati Bapa Druna dan mempermalukan Arjuna. Terusannya gimana Kartomarmo ? Pandawa menyerah tentunya…”.

”Belum kakang prabu. Melihat adiknya pingsan, Wrekudara siap tumandang. Diayunkannya Gada Rujakpolo ke kiri dan ke kanan. Beberpa prajurit Astina yang dekat dengan Wrekudara terlempar dan terluka. Bapa Druna memang memiliki daya magis yang luar biasa, belum sampai jarak selemparan tombak Wrekudara mengarah ke Bapa Druna, seolah dipakukan di bumi, kaki Wrekudara tidak bisa digerakkan. Wrekudara termangu seperti patung, balik kanan ketika dipanggil oleh Prabu Kresna..”.

Sengkuni ”He..he…ya pasti begitu, Druna itu gurunya, jadi Wrekudara tidak akan berani melawan. Sudah saya duga kok ngger..terus Puntadewa nongol juga?? Atau menyerah pastinya ”

”Belum paman. Nggih..puntadewa mencoba maju perang…”

”Alah anak itu nggak pernah perang kok, ya pasti kalahnya sama Pandita Druna”

”Iya dicegah oleh Prabu Kresna, Puntadewa tidak jadi maju. Pandita Druna terus menerus mengamuk mengeluarkan kesaktiannya. Ratusan prajurit pandawa tewas. Tetapi tiba – tiba Wrekudara kembali ke arena lagi berteriak ’Swatama mati – swatama mati’”

Sengkuni”Loh, padahal Aswatama khan gak ikut perang dan belum mati ?”

”Iya paman Sangkuni”

”We lah, teriakan tipuan itu. Apus krama namanya…”

”Inggih Paman…teriakannya begitu nyaring dan disambut gemuruh oleh seluruh pasukan Pandawa…Teriakan ini terdengar oleh Paman Druna. Mendengar isu yang beredar di arena pertempuran ini, Bapa Druna seperti kehilangan tenaga, linglung, bingung kehilangan daya sangga tubuhnya. Beliau menangis gero – gero seperti anak kecil. Begawan Druna menyingkir dari arena perang, sembunyi di balik bukit. Badannya lemas ditumpukan pada lututnya yang bersandar di tanah merah. Tanpa diketahuinya, ada satria bertindak curang. Drestajumena menebas leher Pandita Druna dari belakang. Putus leher Pandita Druna, kepalanya menggelinding, ditendang – tendang oleh pasukan Pandawa, Kakang Prabu…hu..hu…..tidak tega saya melihatnya….oh ho…ho…”

Sampai di sini cerita Kartomarmo, tangis yang tadi ditahannya tidak bisa dia bendung. Rebah badannya seketika…

Demikian juga semua yang hadir diterpa kesedihan, kekecewaan, penyesalan dan rasa amarah tidak tahu kepada siapa. Tidak terlukiskan bagaimana perasaan kesedihan, kekecewaan dan kepedihan Prabu Suyodono mendengar kabar ini.

”Aduhh……Gustiii…gusti…, betapa tidak adilnya Engkau….Mengapa selalu kami yang tertima nestapa, mengapa hanya Pandawa yang engkau kasihi…..”

About these ads

Komentar»

1. susan ng - September 14, 2009

seru juga ceritanya .tapi sayang tak berakhir dgn happy ending,lain kali ceritanya yg happy ending ya,,,saya tak begitu ngerti bahasa jawa alus.and cerita tentang pandawa lima.

2. anikeren - September 15, 2009

@Susan Ng.
Terimakasih telah berkunjung…
Mengenai cerita itu sebenarnya sudah ada pakemnya. Khan yang ngarang juga Empu Wiyasa ratusan tahunan yang lalu. Saya sendiri hanya menceritakan ulang sesuai pemahaman saya.

Karno Tanding merupakan salah satu episode dalam perang besar Barata Yuda. Ada episode Abimanyu Gugur, Bisma Gugur, Duryudono Gugur, dll.

Layaknya perang manapun akhirnya pasti bukan heppy ending. Baik bagi yang menang maupun yang kalah. Dalam kasus barata yuda, Pandawa yang menang. Namun mereka juga kehilangan banyak sanak sodara dan keturunan. Termasuk anak-2 tersayang mereka : Abimanyu, Gatotkaca, dll. Juga sesupuh dan orang tua mereka : Utara, Seta, Wratsangka.

Kurawa yang kalah, malah habis dan tinggal tersisa 1 orang dari seratus orang -Karto Marmo-, kalau saya tidak salah.

Intinya adalah -menurut saya- bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari cerita itu. Selain menikmati tentu saja :)

Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.605 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: