Ya rosul, dirimu adalah seorang nabi yang maksum. Terjaga kesucianmu atas segala dosa dan khilaf. Namun sikap luhurmu jauh melampui posisimu. Ketika waktu sampai di ujung hayatmu ya Rosul. Suatu ketika dirimu bersabda di tengah – tengah ummat dan sahabatmu. “Aku adalah seorang nabi dan rosul, aku adalah seorang nabi dan rosul, aku adalah seorang nabi dan rosu. Jika ada yang salah pada diriku, maafkanlah. Jika ada yang memberikan hutang kepadaku, tagihlah. Jika ada yang pernah merasa aku sakiti, balaslah…”. Lalu seorang badui sahabatmu mengacungkan tangannya dan berkata kepadamu Ya Rosul “Ya rasul, aku pernah secara tidak sengaja kamu sakiti. Saat perang cambukmu mengenai punggungku tanpa sengaja. Maka ya rasul, aku menuntut balas. Ijinkanlah aku mencambuk punggungmu. Karena waktu itu aku tidak berbaju, maka lepaskanlah bajumu ya rasul”.

Ya rosul, dengan ridla dan tanpa ngersula, kamu lepaskan jubahmu hingga dirimu bertelanjang dada. Semerbak bau harum keringatmu mengabarkan kemulianmu ke segala penjuru dunia. Ya rosul, sahabatmu itu jangankan mengayunkan cambuknya, yang dilakukan adalah menubrukmu, memelukmu erat – erat, menikmati harum keringatmu dengan penuh kerinduan dan sukacita tiada tara. Sekarang tiada jarak seujung rambutpun antara badannya dengan tubuh muliamu. Bukan amarah yang ada, namun tangis haru dan kebahagiaan yang menyeruak.

Ya Rosul, kurang agung apa dirimu? Ya Rosul, kurang mulia bagaimana dirimu dihadapan Allah Aja Wazzala dan di antara seluruh alam seisinya. Bahkan konon dunia ini diciptakan hanya karena dirimu akan dihadirkan untuk rahmat seluruh isinya. Namun, itu semua secuilpun tidak menghalangi budi luhurmu yang andap asor, tawadhu’ dan tanpa keraguan sedikitpun bersedia mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada ummat dan sahabatmu yang berkah dan rahmat baginya, karenamu.

Oh Ya Rosul…. Betapa jauh jarak itu dengan kami dan para pemimpin kami saat ini. Jangkan kesalahan dan kekhilafan yang tersembunyi. Untuk kesalahan dan kebatilan yang jelas terang benderang pun kami menutup diri. Alih – alih mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada rakyat yang terdzolimi, yang kami lakukan tidak jauh dari mencari alibi mempertahankan pembenaran diri. Ya Rosul, yang ada di pikiran kami hanyalah bagaimana melempar bau kesalahan dan kedzoliman kami kepada saudara – saudara kami.

Ya Rosul… Kami tidak tahu. Dengan keserakahan, kedzoliman, segala alibi dan silat lidah ini masihkah kami layak mendapatkan safaatmu kelak? Kami tahu ya Rosul kamu sangat mencintai kami. Bahkan saat sakaratul mautmu pun tiada kata yang kamu sebut selain “ummati, ummati, ummati”. Jangan – jangan karena gede rasa ini, merasa kamu cintai, sehingga kami jadi bertingkah separah ini. Padahal mungkin seharusnya kami memahami sebaliknya, mungkin kami harus memahami kata – kata akhirmu itu sebagai keluhan, kekhawatiran, dan peringatanmu atas kelakuan ummatmu yang keterlaluan ini. Apakah tidak mungkin maksud sebenarnya ucapmu adalah seperti ini “Kasihan ummatku nanti, mereka terlalu cinta dunia melupakan akherat. Kasihan ummatku nanti, mereka terlalu serakah memenuhi syahwat. Kasihan ummatku nanti, jumlah mereka tak terhitung seperti buih di lautan tetapi terombang – ambing tiada arti. Kasihan ummatku nanti, mereka tidak mengenal Allah dan Allahpun melupakan mereka. Kasihan ummatku nanti, mereka lupa akan dirinya dan Allah menambah – tambah kekhilafan mereka itu. Kasihan ummatku nanti……….”

Rindu kami padamu Ya Rosul, rindu yang tiada berperi.

Tahu sangkuni?? Dia adalah patih yang diangkat by accident di Negera Astinapura. Negara kaya raya gemah ripah loh jinawi, sugih bondo sugih bandu. Sangkuni cerdik, cerdas, namun culas. Ontran – ontran apapun di Astina yang melibatkan Kurawa Pandawa mulai dari mereka kanak – kanak sampai akhil balik, adalah kreasi Sangkuni. Mulai dari geger bale sigolo – golo, pesta judi main dadu, sampai dengan perang besar baratayuda jaya binangun, Sangkuni lah tokoh utama penyusun skenarionya. Duryodono meskipun dia ratu, punya kekuasan, palu keputusan ada ditangannya dia selalu bisa disetir dan diarahkan oleh Sangkuni. Orang pintar berwatak durhaka, orang pandai berwatak serakah, orang cerdas berperilaku brutal menabrak semua aturan, dialah Sangkuni.

Mengapa dia berani dan yakin Kurawa bakal memenangkan Perang Besar Baratayuda? Karena dia merasa punya harta, dia punya banyak teman, dia punya banyak sekutu. Bermodalkan harta berlimpah, dia bisa membeli apapun yang dia mau. Termasuk ribuan raja ratu sekutu Kurawa. Jika tidak dapat ditaklukkan dengan harta mereka akan ditundukkan dengan bujuk rayu atau wanita (jika sekutu itu para pria) agar mau berdiri di belakang dan menyokong Kurawa menghabisi Pandawa kelak di medan laga.

Tapi ternyata dia kecele…Saat perang satu per satu sekutu itu tewas di medan laga. Terakhir dia sendiri dengan belasan Kurawa yang tersisa, mati mengenaskan dalam kondisi nista. Meskipun badannya ringkih, namun dia cukup sakti karena waktu bayi pernah berkubang minyak tala yang mengakibatkan badannya tidak mempan senjata apapun. Tetapi tiada makhluk yang sempurna, sela – sela selangkangannya tidak terbasahi minyak tala. Di situlah kelemahannya. Selangkanganya disobek oleh Bima seperti membelah bambu. Sangkuni tewas nista seperti binatang tak berguna….

Tetapi ternyata sekarang Sangkuni hidup lagi di Negeri para bedebah. Dengan harta dan kolega – koleganya, diaturnya skenario kelicikan dan kebusukan untuk mencoba menghancurkan kebenaran dan keadilan. Dengan suka – suka dan tertawa – tawa (sambil sesekali menikmati duren), diaturnya tindakan dan polah para penguasa dan penegak hukum layaknya dalang mengatur lakon wayang – wayangnya. Para kawula negeri bedebah itu dikibuli, ditipu, di-kadali. Hanya dianggap cecurut – cecurut bau yang tidak mengerti apa – apa selain mengais sampah – sampah sisa remahan jarahan para bedebah.

Para penguasa dan penegak hukum itu menurut saja dengan apa yang diperintahkan oleh Sangkuni masa kini itu. Bukan hal yang aneh. Karena sama seperti Duryudono, para pengusa negeri bedebah itu sudah terlalu nikmat dengan kepuasan duniawi, terlalu mabuk dengan harta benda, terlalu kenyang dengan foya – foya dan kemewahan. Hati mereka tumpul, rasa mereka puthul. Air laut yang mereka minum. Semakin diminum semakin haus.

Pertunjukkan Sangkuni masa kini ini dalam pewayangan baru saja menginjak goro – goro. Goro – goro hanya diceritakan oleh dalang, tidak ada adegan wayang di sana. Kurang lebih beginilah ceritanya “Bumi gonjang – ganjing, langit kelap – kelip. Kawah candradimuka mobal – mobal bergemuruh tidak sabar menunggu mangsa manusia durjana yang sekarang sedang bertingkah. Manusia bertindak melawan kodrat, yang salah dikatakan benar yang benar disalahkan. Jaman itu adalah jaman edan, siapa yang tidak gila tidak akan kebagian. Penipu jadi penguasa, Durjana jadi pemuka…”.

Setelah goro – goro sirep disusul giliran Ponokawan yang tampil. Dunia ayem, masyarakat tenteram, rakyat bisa guyon suka – suka. Mudah – mudahan negara bedabah itu begitu juga.

Sambil berdoa, mari kita tunggu akhir episode Sangkuni kini itu. Apakah dia akan berakhir nistha dan menjijikan seperti Sangkuni yang disobek selangkangannya itu, atau bagaimana. Hanya waktu yang akan membuktikan nanti…

Yen tak rasak-rasakne, kedadean lan -dadi gedhe amargo – pawarta sing dilakoni lan sumebar ing Negara Indonesia kita iki kok ora adoh-adoh soko kasengsaran, pagebluk, lan kaprihatinan. Durung montro – montro rampung urusan lindhu, bumi gonjang – ganjing ing tlatah Minang, saiki disusul ribute para penggedhe amargo congkahe boyo arep mangan cicak. La nek iki dudu kiasan ngono, yo wis mesthi cicak bakal kauntal ora nyiso. Ora mbanyu…ajur mumur – mumur. La tujune (opo cilakane?) iki mung tembung sanepo. Ora cicak sisak kauntal baya, nanging sing “ngopeni” lan sing nduwe sing kebingungan lan klimpungan ngerih – erih supoyo khewan sakloron ora kebacut congkrah lan adu getih.

Nanging nek mung cicak ijen wae, tak roso yo bakal diumbar karo sing ngopeni. Yo ben kelangan cicak siji, ora ono gunane. Wong biasane yo kur dianggo dolanan karo cah – cah cilik kae, diplinthengi nanti mati utawa paling ora tugel buntute. Ndilalahe si cicak kok yo ora ijen, neng mburine dhekne jebule ono kancil, ono menjangan, ono tawon. Lan maneh, kabeh – kabeh khewan mau yo nggowo konco. Tawone wae ono ewuan ngebekki ndalan – ndalan saindenging kutha ing Nuswantoro. Suarane nganti mbrebegi penggedhe sing kurang turu, nganti ngalahake suarane bocah – bocah taman kanak – kanak ning Senayan kae. Nek wis ngene, gelem ora gelem sing ngopeni cicak karo baya mau kudu cawe – cawe piye carane amrih perkoro iki cepet tuntas lan ora ngombro – ombro tekan ngendi – endi.

Minggu ora dianggep minggu, prei ora rumangsa prei. Opo maneh iso ngeluk buthung sedhelo kanggo nglemesne awak sing lungrah. Sakwise sedino kepungkur ngendikan ora bakal lan ora nduwe wewenang nyampuri urusan baya karo cicak sing rebutan (wah rebutan opo yo ? yo ora pantes nek rebutan daging, wong cicak ki ora mangan daging. Yo ora pantes nek rebutan nyamuk, boyo ora doyan nyamuk) embuh, Minggu sore wingi panjenengane ngundang para panggedhe sing –dianggep- ngerti tata karma lan unggah ungguh perhukuman khewan. Ora perlu dirembug neng kene opo sing dirembug neng kono, underane bakal (saiki uwis) dibentuk gerombolon (basa jawane Team ki opo yo?) sing diwenehi tugas lan kewajiban kanggo nelesih opo lan kepriye kedadean sing sak sunyatane lan sak bener – benere.

Yo uwis, wong koyo awak – awak ngene iso ne yo mung nggrundel, ngedumel sakliyane sing mesthi yo nelangsa, prihatin, lan paling banter misuh – misuh. Nanging kabeh mau yo ora bakal ono pengaruh opo – opo wong atase mung wing cilik ongkak angkik lungguhe wae dhingklik. Nanging sakcilik opo to wae, kene yo nduwe hak kanggo negara lan bangsa iki. Sak apes – apese kur iso ndonga, muga  – mugo gerombolan iki iso kerja sing bener lan ngasilake opo sing dikarepake. Luwih – luwih mugo – mugo mengko ono tindak lanjute. Ora mung rampung nek wis metu saran lan rekomendasi. Ora koyo gerombolan – gerombolan liyane sing wis digawe sak durunge koyo dene gerombolan pencari fakta kerusuhan mei, gerombolan pencari fakta kematian Munir, gerombolan pencari fakta orang hilang, lan sakpinunggalane lan sakpiturute. Gerombolan mau kok diroso-roso mung dadi proyek sepisan dadi, bar kuwi mbuh tindak lanjute. Ojo nganti nasibe gerombolan iki podho karo sakdurunge lan terus ketutup karo kedaden lan pawarto anyar sing luwih rame maneh. Syukur nek ramene kuwi nuwuhake kebecikan lan kabagyan kanggo kabeh rakyat, la nek isine kasangsaran maneh?

La priye maneh, wong koyo awak – awak ngene, iso ne ya mung ngrundel, ngrasani, kala – kala yo ngesakne marang penggedhe – penggedhe kuwi. Lo kok ngesakne? La yo iyo, wong atase kekuasaan, donya brono sing paling banter dinikmatine sakumure dheke, kok yo diuber – uber nganthi ninggalne roso kamanungsan lan paseduluruan.

La priye maneh, sak liyane ndongak ake lan nyusun karo sing gawe urip. Opo maneh sing iso ditindak ake karo wong – wong koyok awak-2 ngene?

Semalam saya tidak sempat menyaksikan pengumuman susunan cabinet Indonesia bersatu jilid II. Jam 22.30 terlalu malam buat saya jika tidak ada yang penting harus dikerjakan. Terheran – heran saya ketika dini hari tadi melihat running text metro di sela – sela sajian utama Real Madrid kontra AC Milan. Posisi menteri kesehatan kok bukan Nina Anfasa Muluk yang sudah diuji kelayakannya akhir minggu lalu, Melainkan diganti dengan Ibu Endang Sedyaningsih yang belum terdengar sama sekali sebelumnya. Ada apakah gerangan ini? Ya memang ini mutlak kekuasaan Presiden, ini merupakan hak prerogratif presiden. Bahkan kalau posisi menteri diisi sandal jepit pun, siapapun rakyat Indonesia tidak berwenang mengutik – utiknya.
Namun tetap saja ada pro dan kontra yang sedari awal juga sudah disadari dan akan dimengerti oleh presiden sendiri sesaat sebelum mengumumkan kabinetnya. Dan ternyata benar, pagi ini media elektronik ramai membahas kasus tergusurnya Nina Anfasa Muluk (? Maaf kalau salah sebut nama) dan terangkatnya Ibu Endang Sedyaningsih (juga maaf jika kurang tepat penyebutan namanya). Bermacam analisa dan argument dari para tokoh dikemukakan. Tidak tertinggal media televisi mengulas track record Ibu Endang yang konon dekat dengan Namru dst itu.
Saya sendiri mempunyai analisa, boleh dong. Namanya juga analisa yang gak perlu membayar. Perkara benar atau tidak, ya itu urusan belakang. Toh ini hanya analisa amatiran yang keluar dari uneg02 saya sendiri. Kalau saya perhatikan, inilah politik Lempar Batu Presiden SBY dalam menentukan susunan dan pos – pos di Kabinet beliau. Sebelum mencebur ke genangan air, dilemparnya batu untuk mengetahui kedalaman air itu. Proses uji kelayakan yang menjadi konsumsi empuk wartawan dan disiarkan secara luas, massif dan berulang mengalahkan infotainment para selebriti sejatinya upaya untuk mengukur riak – riak di masyarakat dan pihak – pihak lain yang sekiranya berkepentingan. Rupanya lemparan batu untuk hampir semua posisi menteri atau pejabat setingkat menteri menimbulkan riak – riak yang masih bisa diatasi atau ditahan oleh Presiden. Namun khusus untuk posisi menkes, kelihatannya ada riak yang tidak bisa dibendung oleh Presiden dan mungkin terpaksa beliau berkompromi dengan riak itu.
Rasanya semua mengakui apalagi orang – orang dekat sekitar beliau, yang sering terdengar dari sifat Pak SBY adalah tipikal Jawa yang Njawani. Beliau terkenal sangat hati – hati, pandai menjaga perasaan orang lain, tutur katanya penuh sopan santun, dan pantang menyakiti hati orang lain. Bukankah ini juga yang membuat dia berkarisma dan popular sehingga dipilih kembali. Berbeda dengan gaya Pak JK misalnya. Nah…dengan sikap dan pembawaan seperti itu rasanya mustahil Pak SBY begitu saja “melukai” hati Ibu Nina Anfasa Muluk. Dari media diketahui bahwa track Ibu Nina Anfasa Muluk lebih dari mumpuni untuk sekedar menjadi menteri kesehatan. Di sisi lain, metro tadi menyiarkan kasus tak sedap yang menimpa Bu Endang yaitu membawa virus ke luar negeri tanpa seijin Bu Menkes Siti Fadilah Supari. Ini adalah keterangan Bu Siti meski dibantah (tidak diakui) oleh Bu Endang. Apapun itu, kejadian ini tentu merupakan track record yang kurang sedap dari Bu Endang. Lalu alasan apa yang mengurungkan niat Pak SBY untuk mengangkat Ibu Nina dan menukarnya dengan Bu Endang? Beberapa analisa muncul, salah satu pengamat mengatakan P SBY ditekan oleh AS dengan Namrunya atau ada temen lewat status facebook mencurigai ada tekanan dari pengusaha rokok yang resisten terhadap ibu Nina Anfasa Muluk. Hanya Allah dan P SBY yang tahu pasti . Namun sekali lagi, analisa ecek – ecekan saya, meyakini bahwa ada riak yang begitu besar sehingga mau tidak mau P SBY berkompromi. Kompromi ini belum tentu negatif misalnya saja Beliau ditekan oleh pihak asing, tetapi bisa juga kompromi demi kepentingan yang lebih luas untuk kepentingan Bangsa dan Rakyat Indonesia. Semoga kompromi yang kedua yang benar..

Tidak perlu disanggah jika dikatakan terlalu banyak hal buruk di negeri ini. Bahkan jangan – jangan sudah ditakdirkan dari sananya, kita ini memang buruk!. Meminjam status facebook salah satu teman tadi pagi kurang lebih ”semua perjuangan pahlawan nasional kita gagal karena penghianatan teman dan bangsa sendiiri. Mulai dari Diponegoro, Teuku Umar, Sultan Agung, Cut Nyak Dhien, sampai dengan Sudirman, semua pahlawan dikhianait penghianat bangsa sendiri”, jadi kok kelihatannya dari sananya selalu ada banyak titik nila di lautan susu dalam belanga Indonesia.

Isu – isu terkini, kok ya isinya buruk dan membuat kita pesimis. Cobalah kita rewind tahun ini saja. Di awal tahun, garuda nyungsep di Yogya, kemudian rentetan bencana udara berlanjut di Bandung, Pondok Cabe, Hercules terhempas di Magetan, hingga terakhir pesawat perintis jatuh menewaskan seluruh penumpangnya di Papua. Belum lagi bencana darat baik kereta api maupun kendaraan angkutan jalan raya. Kecelakaan laut juga masih terlalu sering terdengar. Bahkan peristiwa – peristiwa yang ”sepenuhnya kuasa kita sendiri” pun juga tak kalah buruk. Mulai dari kasus laptop dewan yang terhormat, kenang-2an cincin bagi mereka, korupsi kejaksaan, korupsi dewan yang terhormat, sampai dengan serangan kepada KPK yang dimulai dengan kasus AA, kemudian cicak diadu dengan buaya, diselingi pemboman dan pembuhan JW Mariot dan Rits Carlton, berita buruk sedikit ditutup dengan ingar bingar pilpres. Selesai pilpres kembali kabar buruk menerpa, gempa Tasik. Belum sempat bernafas kita sudah dihantam dengan Gempa Sumatra Barat. Rasanya silih berganti nasib buruk itu baik karena ulah kita sendiri atau alam yang mengantarkannya. Semua membawa berita buruk. Membuat kita pesimis akan masa depan bangsa dan negara tercinta ini.

Masihkah ada room untuk kita optimis? Masih..!Setidaknya itulah yang saya tangkap dari P Cools beberapa waktu yang lalu.

P Cools ini orang Swedia yang sudah dua puluh tujuh tahun di Jakarta (artinya ketika beliau pertama kali ke jakarta, saya baru lepas dari SD). Istrinya keturunan Padang. Berputra empat yang sulung sudah berusia 25 tahun. Beliau sudah senior memang. Di Jakarta, beliau sebagai tim konsultan salah satu negara sahabat yang diperbantukan untuk membangun Indonesia. Lama – lama dia jatuh cinta dengan Indonesia, tapi ya itu Bahasa Indonesianya masih blekak blekuk, belum lancar sama sekali.

“Wah, anda sudah hampir menjadi warga negara Indonesia Pak Cool, apa yang membuat anda begitu cinta dengan Jakarta/Indonesia ?” Saya mulai mencandainya…

“Ya pasti, doakan sebentar lagi kewarganegaraan saya segera keluar. Selain di Indonesia, saya pernah tinggal di Negara saya tentu saja, juga di US dan Malaysia. Menurut pandangan saya, Indonesia tetap tempat yang paling nyaman dan menantang buat saya. Di Eropa memang semuanya teratur, semuanya nyaman, tapi semuanya serba predictable. Di sana, orang – orang mengerjakan pekerjaannya karena memang harus mengerjakan. Mereka mengerjakannya secara professional dan teratur. Di satu sisi baik,  tapi di sisi lain mereka kerja tanpa motivasi sebab – salah satunya – imbalan yang mereka dapat hampir setara meskipun dari sisi tugas dan tanggung jawab berbeda jauh. Di Amerika, yang kita anggap nyaman, demokratis dan saling mnghormati, kenyataannya tidak seperti itu. Kamu pernah tinggal di US ?? (Saya menggelengkan kepala). Di sana sangat banyak batasan – batasan yang sering membuat kita sebenarnya tidak leluasa mengembangkan diri. Jangan salah, kelihatannya mereka menganut egaliter, kesetaraan ras. Tetapi kasat matanya sifat rasisnya sangat kentara. Orang Asia ngeblok dengan geng asia, oran latin berkelompok dengan geng latin, orang negro ya kebanyakan bergaul dengan orang – orang negro. Malaysia memang lebih maju dari Indonesia, saya tinggal di Kuala Lumpur. Kuala Lumpur belum semodern Singapura. Tetapi lebih teratur, lebih terorganisasi, lebih modern dari Jakarta. Namun dari sisi attitude masyarakatnya lebih buruk dari pada di sini. Mereka lebih…..<ups disensor nih>. Saya harus selalu serius dan waspada kalau bisnis di sana. Minggu lalu – seperti saya bilang- saya ke Kuala Lumpur betemu dengan Manager C-Technologies Asia Pasifik. Sesampai di Bandara KL, ada sesuatu yang hilang saya rasakan. Saya tidak tahu, apa itu”.

“In my opinion, Indonesia lebih nyaman lebih ramah dan menyimpan potensi yang jauh lebih besar daripada Eropa, US maupun Malaysia. Di sini orang – orang lebih ramah, dan ketulusan membantunya sangat saya rasakan dibanding negara lain (Dalam hati saya, mudah – mudahan bukan karena yang dibantu orang bule P Cools), beda sekali dengan di M…Di sana semua orang membantu pasti dengan pamrih. Saya sudah bicara dengan beberapa pejabat penting negeri ini. Mereka punya visi bagus, komitmen yang kuat untuk membangun Jakarta dan Indonesia. Saya bicara dengan mereka dalam kapasitas saya sebagai konsultan G to G. Coba kita rasakan. Kita harus akui bahwa sistem pendidikan di Indonesia tidak lebih bagus daripada di M atau US atau di EU, tapi yang saya amati ternyata lebih banyak anak – anak yang cerdas dan smart di Indonesia, lebih banyak anak – anak muda Indonesia yang berani mengambil resiko, menjalankan ide – ide segar, meskipun banyak yang gagal. Tetapi yang sukses jauh lebih menjanjikan daripada yang saya amati di EU maupun di US. (Hmmm, saya membatin lagi. Jadi ingat acara Kick Andy semalam di Metrotv yang menayangkan kesuksesan anak-2 UGM menjalankan bisnis stik singkong, Ibu susi air yang tidak lulus SMA tetapi punya maskapai penerbangan sendiri, anak muda dari Bandung yang gara – gara suka skate board tetapi melihat asesoris import sangat mahal lantas dia jahit asesoris sendiri dan dijual, sekarang omsetnya melebihi Rp. 1 M per bulan). Saya juga mengamati, rata – rata orang Indonesia tahan banting dan cepat bangkit. Kita lihat, setelah tenggelam selama krisis moneter, sekarang properti sangat bergairah kembali. Gedung – gedung dibangun di mana – mana. Saya juga lihat restoran, rumah makan tumbuh dengan cepat. Meskipun banyak yang gagal, tetapi selalu buka dan bngkit lagi meskipun yang membuka dan menempati lokasi rumah makan itu orang lain lagi.”

“So…mengapa kalian mesti pesimis dengan kondisi seperti ini ? Kalau China saja bisa, saya yakin Indonesia lebih bisa. Kalian punya potensi, punya ide – ide briliant, punya attitude yang baik, potensi 250 juta orang. Apa lagi yang membuat kalian pesimis ?. Indonesia is very potential country, I am sure at least by next one – two decades Indonesia will be modern country in the world, at least in Asia.”

“Di Indonesia, masyarakat jauh lebih bebas dari di US. Di US, kalau kamu tidak punya banyak uang kalian tidak akan dapat menjadi senator. Lain dengan di sini, asal kita well known, mau sedikit usaha, kalian bisa jadi anggota DPR/MPR (Nah untuk ini rasanya perlu penjelasan lebih lanjut…he …he…). Sepengamatan saya, proses pemilu di Indoesia sangat luar biasa. Dengan 200 jutaan jumlah pemilih, wilayah yang begitu luas, pemilih yang beraneka warna, pemilu bisa berjalan dengan lancar, fair dan jujur. Saya melihat sendiri bagaimana warga sekitar saya menghadapi dan melaksanakan pemilu tahun lalu. Dengan antusias mereka menunggu pemungutan dan mengikuti perhitungan suara sampai selesai. Sebenarnya dilihat dari siapa yang didukung, mereka saling bertentangan. Tetapi di lapangan mereka bisa menikmatinya tanpa perlu meributkan siapa yang menang dan mengapa yang saya dukung kalah. Pemerintahan, saya lihat juga semakin bagus. At least kita bisa leluasa mengkritik mereka, jadi mereka mau tidak mau memperhatikan itu dan bersikap lebih hati – hati.”

“So, that’s why I love Indonesia so much. Indonesia mempunyai potensi dan prospek sangat bagus, dan akan tumbuh menjadi negara maju. We hope that our business will grow too.” Katanya sebelum berpamitan. Amiin, doaku dalam hati.

Optimisme saya bertambah mengenai masa depan kita. La kalau orang luar saja optimis memandang kita, masak kita tidak ?

Semakin lama usia hidup, semakin banyak hal yang dialami, semakin banyak hal yang dipelajari. Sesuatu yang alamiah. Maka sudah lumrah juga kalau semakin tua usia – seharusnya – orang semakin bijaksana, semakin jernih berfikir, tidak kagetan, tidak mudah terkagum – kagum, tidak bersifat aji mumpung (aja dumeh, aja kagetan, aja gumunan). Ini adalah pelajaran lain yang aku catat dari perjalanan hidup sebagai pedagang, penjual. Sejak tersisih dari kompetisi memperebutkan beasiswa S3 di STT Telkom guna selanjutnya mengisi posisi sebagai guru di sana tahun lalu, saya sudah berkesimpulan dan menerima takdir kalau memang harus menjalani  hidup sebagai pedagang, bukan sebagai guru  yang sebenarnya sangat saya inginkan. Ya sudahlah…

Jangan mudah terkagum – kagum jika ketemu relasi yang menyatakan akan mendapat proyek sekian puluh em karena dia dekat dengan teman keponakan dari besan Bapak / Menteri anu. Jangan mudah terkagum – kagum jika dia membawakan poto kopi bocoran anggaran tahun ini untuk suatu departemen / instansi pemerintahan. Jangan  mudah terkagum – kagum dengan penampilannya yang mentereng, berjas berdasi komplet, mengisap cerutu, tongkrongan dari cafe ke cafe dari hotel ke hotel. Sebab tidak jarang tipe seperti ini hanyalah petualang belaka yang memanfaatan ketidakberdayaan dan ketololan kita. Yang memanfaatkan keculunan kita karena tidak mempunyai hubungan khusus dengan menantu teman dari Bapak pejabat anu, apalagi mengenal ajudan/asisten bapak anu. Semuanya disikapi yang  wajar – wajar saja. Sebab tidak jarang ujung-ujungnya setelah kita ladenin apa maunya, tiba – tiba menghilang begitu saja tanpa bekas. Juga jangan kagetan, terkejut – kejut, riang gembira dengan –misalnya- deal proyek belasan em. Sebab semakin  besar nilai pekerjaan semakin besar risiko yang dihadapi, semakin banyak masalah yang ditemui, dan kalau tidak hati – hati kemungkinan bakal masuk bui. Apalagi kalau kita belum ”kuat” kaya, akibatnya bisa parah juga. Berantem, kehilangan teman, urusan dengan aparat dan seterusnya karena rebutan kekayaan di antara teman sendiri. Jika biasanya kita menjinjing air seember, tiba tiba harus mengangkat air sedrum, tentu saja kita akan ambruk kepayahan.

Jangan pula aji mumpung ketika mendapatkan deal yang lumayan. Sebab tidak tertutup kemungkinan esok hari kita akan puasa berbulan – bulan karena tak kunjung mendapatkan deal. Jangan aji mumpung pula jika sudah merasa kenal dekat dengan pejabat tinggi tertentu. Seolah kita akan menguasai dunia, dengan jaminan anggaran dan proyek yang dipegangnya. Sebab kita tidak tahu sama sekali apakah bapak itu akan tetap di situ esok hari.

Palajaran lain, sebagai pedagang, kita harus pandai – pandai menempatkan diri dalam pergaulan. Kita harus mampu menjalin hubungan semanis mungkin dengan siapapun yang kita temui. Entah itu mitra, calon pembeli, atau sudah jadi pembeli kita. Karena mereka semua adalah asset yang paling berharga bagi pedagang. Informasi kustomer dan supplier berasal dari  mereka. Informasi need tertentu berasal dari mereka. Sebenarnya itulah yang coba saya lakukan. Maka saya hampir tidak pernah menolak ajakan untuk bertemu dengan siapapun mitra lama ataupun teman baru yang belum saya kenal, asalkan saya sempat (ada waktu) dan tidak ada keperluan lain yang lebih tinggi . Saya tidak peduli apakah benar bahwa informasi yang dibawa mitra valid (kebutuhan tertentu sudah ada, kebutuhannya dalam waktu dekat, dst). Bahkan hanya untuk ketemu dan ngobrol – ngobrol ngalor ngidul sekedar perkenalan pun itu sudah cukup. Karena memang kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Dan biasanya, yang selama ini saya alami, dari merekalah deal bisnis di masa yang akan datang – entah kapan – akan terjadi. Kartu nama mitra yang saya koleksi sudah du box penuh. Saya belum hitung, tapi rasanya ada kalau hanya 500 individu. Dari sekian banyak itu, paling banter 5% nya saja yang benar – benar pernah membuat deal bisnis. Entah sebagai pembeli kami atau mitra kerja.

Sayangnya, saya bukan orang yang primpen, orang yang rapi dalam mengelola informasi. Meskipun  sudah  mempunyai box kartu nama di meja, basis data relasi  berupa kartu nama tetap saja berserakan di mana – mana. Di meja kantor, di laci kantor, di meja rias istri di rumah, di atas kulkas, bahkan di dashboard mobil. Saya ini sok sibuk untuk untuk mengurus dan merapikannya. Sempat dulu mendigitalisasikannya dengan menggunakan tool address book outlook, tetapi sudah lama tidak terupdate.

Maka dua minggu yang lalu saya terkena batu akibat kecerobohan ini. Seorang teman yang dua bulan lalu kenalan (hanya lewat hp, belum pernah ketemu) kontak lagi mau main ke kantor, ada hal penting yang dibicarakan. Datanglah teman-relasi yang belum saya kenal wajahnya ini (tetapi nama dan kontak hpnya tersimpan di hp). Singkat cerita dia sudah mendapatkan proyek untuk mengerjakan sesuatu yang spesifik, dia tidak punya resource. Kamipun bukan spesialis di situ. Tetapi saya ingat benar, tahun lalu saya pernah dikenalkan oleh kawan dengan temannya yang spesialis di bidang ini. Kenalannya waktu itu hanya selintas dan  sekali meskipun sempat bertukar kartu nama. Kenalan itu selintas karena saat itu bebarengan kita membahas hal lain yang lebih penting dan menjadi agenda utama. Jadi kenalan sama temannya kawan saya ini hanya sambil lalu saja pas kebetulan dia lewat di situ.

Saya ingat namanya, tapi kehilangan attribut lain. Saya cari – cari kartu namanya tidak ketemu, di hp pun tidak ada kontaknya dia. Wah padalah ini deal sudah ada, tinggal negosiasi harga dengan yang dapat proyek, dan dijalankan. Tetapi supply tidak bisa saya temukan meskipun demand menghampiri. Ibarat bercinta yang gagal karena bertepuk sebelah tangan. Ya sudah (lagi – lagi) belum rejeki kami. Sayangnya lagi, teman yang dapat proyek inipun jadi terhambat.

Belajar dari itu, saya mulai lagi untuk menata basis data relasi. Selama ini lebih banyak mengandalkan memory otak yang kapasitasnya terbatas. Saya memulai lagi menggunakan memory laptop untuk mengelola basis data  relasi ini.

Iedul fitri tahun ini rasanya menjadi moment yang spesial buat saya. Ini hanya karena kami alhamdullillah bisa pulang kampung ke tanah kelahiran. Apalagi sepanjang ingatan, sudah sejak 1996 yang lalu saya tidak lagi pernah pulang kampung di waktu iedul fitri. Entah mengapa selalu saja pulang kampung menimbulkan sensasi tersendiri bagi saya. Mungkin ini karena fitrah manusia, bawah sadar ingin pulang. Kita semua nanti juga akan pulang dengan sebenarnya.

Iedul fitri, kebanyakan orang desa saya menyebutnya bukan begitu tetapi Bada (o Bahasa Jawa). Rasanya ini dari bakdo, yang artinya sehabis. Yaitu bulan sehabis pasa (puasa). Hari H nya disebut riyadin untuk Bahasa yang lebih halus. Di Desa saya kebanyakan masih menggunakan penanggalan Jawa. Jadi bukan romadhon, syawal, dst. Tetapi Pasa, Sawal, Selo, Besar….dst yang saya juga tidak hapal semuanya. Selain penyebutan Hari H yang masih mengikuti tradisi Jawa, waktu hari H nya pun selalu telat sehari dengan penanggalan pemerintah. Jadi jika penanggalan pemerintah Iedul Fitri jatuh pada hari Sabtu, maka kami merawayakan Bada, pada hari Minggu. Nah karena ternyata kemarin ternyata keputusan pemerintah Hari raya Ied maju sehari daripada penanggalan yang sudah dirilis sebelumnya, maka Bada di Desa saya telat dua hari disbanding iedul fitri versi pemerintah dan kebanyakan masyarakat Indonesia umumnya. Namun tetap, shalat Iednya mengikutu hari pemerintah. Yang beda adalah waktu “merayakannya”.

Jadi karena perbedaan ini, saya/kami diuntungkan. Karena hari pertama Iedul Fitri saya masih di Jakarta dan bersilaturahmi dengan tetangga, kerabat dan keluarga di Jakarta. Ketika esok harinya sampai di Desa. Kami masih punya kesempatan untuk merayakan Hari Raya Riyadin bersama – sama kerabat, keluarga dan handai taulan di Desa.

Silaturahmi di Desa kami juga berbeda dengan di Jakarta, misalnya. Penduduk menyebut silaturahmi mendatangi –biasanya – orang yang lebih tua, dengan sebutan Badan. Kalimatnya misalnya ”Ayo badan ke Mbah Anu” (Mari kita silaturahmi kepada Mbah anu). Nah Badan ini pun sebenarnya ada tata krama atau pakemnya. Di Jakarta paling tidak, silaturahmi bermaafan dilakukan hanya dengan saling menghampiri mengucapkan ”Minal Faidzin Wal Faizin” dan sejenisnya serta bersalaman sekedarnya, cukup. Tetapi di Desa saya Badan terkadang disebut juga dengan ujung, dilakukan dengan tata cara 1. Selalu dari yang lebih muda ke yang lebih tua (yang muda mendatangi yang tua). 2. Cara ber – badan- pun ada aturan/pakem baik ucapan maupun pelaksanaanya.

Pada saat bertandang ke rumah orang yang – jauh – lebih tua, maka seseorang harus permisi dulu. Kemudian biasanya ngantri untuk badan. Jika sudah tiba gilirannya, maka dia akan mengatakan ”Badan Mbah…”. Aturannya badan biasanya selalu dilakukan dengan masing – masing duduk di kursi terpisah atau kursi panjang. Yang lebih muda membungkukkan badan seolah menyembah yang tua. Tangan yang tua mendekap yangan yang muda dalam posisi telungkup seolah menyembah kepada yang tua. Di bawah ini gambar Bulik saya yang sedang badan ke Mbah kami.

Sedang Badan

Sedang Badan

Kata – kata yang diucapkan dalam bermaaf – maafan ini pun bukanlah sembarangan. Saya sendiri sudah tidak terlalu hafal, maklum sudah sangat lama tidak saya gunakan. Jika ingin tahu inilah kira – kira…

Yang Muda : ”Badan Mbah….Mbah lampah kula mriki ngaturaken pangabekti. Sarehne sakmenika dinten riyadin, kula ngaturaken sedaya kalepatan. Ucap kula sak kecap, tindak kula sakpecak ingkang tinebih dening sarak mugi – mugi…. ” (saya lupa seterusnya, masih adakah yang menerapkan ini ??).  Kurang lebih artinya ”Mohon Badan mbah, Mbah keperluan saya ke sini pertama mengaturkan sungkem kepada embah. Dikarenakan ini hari raya, saya mengaturkan semua kesalahan. Pengucapan saya yang sekecap tindakan saya se…yang tidak diperkenankan oleh aturan semoga diampuni…”

Yang Tua : ”Iyo Le/Ndhuk (selalu menyebut le atau ndhuk karena kepada yang jauh lebih muda),aku semono uga. Wang tuwa akeh lupute, Luputmu lan luputku muga – muga dileburna ing dina bada iki. Dene kowe njaluk pangestu, yo tak pangestoni….ora liwat….” dst. Kurang lebih maksudnya ”Iya Le/Ndhuk, bigitu juga saya. Saya sebagai orang tua juga banyak salahnya. Salahku dan salahmu semoga disirnakan di hari Bada ini. Dan permohonan doa restumu juga aku restui….”. Kalau dilakukan dengan benar, paling tidak perlu 1 menit proses Badan ini.

Namun seperti tradisi, budaya atau apapun lainnya warisan nenek moyang kita, kebiasan Badan ini sudah semakin ditinggalkan. Dari bada ke bada desa saya semakin sepi saja dari aktivitas Badan ini. Dulu, paling tidak setelah akhil balik hampir semua anak – anak di Desa dapat melakukan dan menerapkan ritual Badan ini. Tetapi sekarang, saya lihat hanya orang-2 dewasa saja yang melakukannya. Dulu, sewaktu saya masih SMA sekitar 20an tahun yang lalu, proses Badan ini paling tidak dua hari baru selesai. Ini karena hari pertama kami berkunjung ke orang tua – orang tua di Desa sendiri, dan hari kedua berkunjung ke orang tua di beberapa desa lainnya yang mayoritas hanya bisa kami tempuh dengan berjalan kaki puluhan kilo meter.

Sekarang semuanya berubah, menuju efisiensi, menuju sesuatu yang bersifat instan, menuju yang ringkas dan memudahkan saja. Tetapi, adakah yang bisa melawan arus ini ??

Di perkemahan Sang Penasehat Agung Sri Kresna. Di pelataran Kemah Sri Kresna, Kereta Jaladara sudah dilepaskan dari keempat kuda penariknya. Kuda kuda pilihan pemberian  para dewa Kahyangan itu mungkin sedang istirahat di pagedongannya. Setelah hampir 2 hari yang lalu menunaikan tugas mulia, mengantar kemenangan Senopati Arjuna mengiringi gugurnya Satria Sejati Karno Basukarno. Terdengar temalu Senjata Bendhe Kyai Panca Janya. Sejatinya itu merupakan tanda bahwa Pandawa akan jaya di medan perang Baratayudha ini.

Di dalam kemah, Sri Kresna nyatanya sedang gundah dan terusik pikirannya. Semakin jelas kabar yang didengar menjelang malam ini. Meskipun awalnya hanyalah semilir trbawa hembusan angin di musim kemarau ini, namun kabar dari para prajurit pemgintai semakin kuat dan terang kebenarannya. Bahwa….sesaat setelah gugurnya Karno Basuseno, Prabu Salya menyanggupi tangisan Duryudono agar dirinya turun ke medan laga menerabas prajurit Pandawa. Ini membuatnya sangat khawatir. Tidak ada isi jagad yang terlewat dari kabar keprigelan dan kesaktian Salya. Selain Raja Agung, Salya adalah prajurit linuwih. Terlebih Salya menyandang Ajian Canda Birawa yang beruwujud raksasa bajang.

Kresna tahu, kesaktian Salya tidak mungkin ditandingi Para Pandawa dan sekutunya. Oleh karenanya, harus ada cara khusus untuk bisa mengalahkan Salya. Kemenangan itu harus diminta kepada Salya, bukan Salya yang ditaklukkan karena itu tidak mungkin.

Dipanggilnya Nakula Sadewa menghadap. Nakula dan Sadewa adalah Pandawa yang berhubungan darah langsung dengen Prabu Salya. Madrim, ibu kandung Nakula Sadewa adalah adik Salya yang ketika muda bernama Narasoma. Narasoma juga yang menikahkan Madrim dengan Pandu, Bapak Para Pandwa.

“Adikku tersayang…Nakula, Sadewa….” Sri Kresna memulai pembicaraan menjelang tengah malam yang sepi itu.

“Sendika dawuh, Kakang Prabu”, jawab mereka hampir serentak

“Ketahuilah adik2ku, setelah gugurnya Kakakmu Adik Prabu Karno, Paman Prabu Salya ditangisi oleh Adik Prabu Duryono. Diminta menjadi senopati Kurawa menerabas barisan Pandawa. Adikku…..jika diingat bahwa Paman Salya itu bukanlah orang yang tidak jelas asal usulnya. Paman Salya termasuk salah satu sesepuh dan pepunden bagi Pandawa, jika demikian adikku…..bagaimana mungkin tangan tangan saudara2mu pandawa kuasa ‘kemlawe’ meladeni krida Paman Salya? Ya meskipun, selama perang ini sudah banyak juga para pepunden yang menjadi korban”.

Sejenak suasana hening nyenyet. Si Kembar hanya tertunduk, menahan kesedihan dan rasa sesak yang memenuhi dadanya. Adalah semua benar apa yang dikatakan Narendra Dwarawati itu. Prabu Salya bagi para Pandawa, apalagi bagi Kembar adalah sesepuh yang masih ada sangkut paut hubungan darah. Ibu Kembar, Dewi Madrim adalah adik kandung tersayang Narasoma, ya Prabu Salya. Bahkan konon kawinnya Madrim dengan Pandu pun, Narasoma yang mengawinkan. Salya juga merupakan guru olah kanuragan dan gelar perang bagi Para Pandawa. Bagaimana mungkin, dengan demikian, Pandawa akan dapat tega menarik busur panah, mengayunkan pedang, menghujamkan gada ke badan Prabu Salya?

Kresna melanjutkan ujarnya, sebelum Nakula tenggelam lebih dalam dalam lamunan udarasanya.

“Yayi….kembar….Apalagi jika Kakang ingat. Rama Prabu Salya dalam dirinya tertanam ajian Condo Birowo. Meskipun secara wadat fisik hanyalah berupa raksasa bajang, namun yayi…..Raksasa ini jika terluka akan mampu melipatkan diri. Satu menjadi sepuluh, sepuluh menjadi seribu, seribu menjadi sejuta dan tentu saja akan memenuhi Ladang Kurustra. Lalu, kita dapat membayangkan bagaimana Pandawa dan para prajurit Pandawa akan mampu menanggulangi ajian Condo Birowo itu, adikku??. Kembar….”

“Sendika dhawuh Kakang Prabu….”

“Kakang ada rekayasa..,caranya kalian berdua datanglah ke negeri Mandaraka. Sowanlah ke Rama Prabu Salya. Tidak perlu matur apapun selain ‘Paman prabu..kami berdua mohon dibunuh sekarang juga’ “

“Baik…Kakang Prabu…meskipun belum terlalu jelas bagi kami maksud dhawuh paduka, kami akan segera melaksanakannya. Kapan kami harus ke Mandaraka?”

“Jangan sampai kedahuluan waktu, kembar..pergilah sekarang juga”

“Sendika…kami berdua mohon pamit dan doa restunya…”

Keluar dari perkemahan, kepala nakula sadewa dipenuhi rasa tanda tanya dan kebingungan yang mendera dera. Takdir ini terasa terlalu berat baginya. Mengapa Baratayudha harus memakan korban yang sejatinya masih sedarah daging. Tidak terbayang sebelumnya bhwa mungkin saja ujung hidupnya akan berada di tangan sesepuh yang selama ini begitu sayang dan melindungi dirinya? Tidak terbayangkan sebelumnya kasih sayang dan welas asih antara Pandawa dan Rama Salya akan berujung pada pertumpahan darah di Ladang Kurustra. Terbayang pula di pelupuk mata mereka, Raksasa Canda Birawa akan memenuhi ladang peran, menghisap darah dari kepala ribuan prajurit Wiratha dan bahkan para pandwa pun tidak akan mampu mengelak dari buasnya jutaan raksasa itu.

Perlahan diteguhkan hatinya….Dikumpulkannya kepingan harapan yang tersisa. Secuil demi secuil keprasahan kepada Sang Penguasa jagad dirapikannya. Mereka harus percaya kepada Sang Pamong Agung Pandawa, Sri Kresna. Sudah terbukti bahwa selama ini dan selama Pandawa tunduk pada nasehat Sri Kresna, selalu kebaikan yang dituai.

Saat itu, malam sudah hampir menyergap jagad. Mega kemuning di angkasa sudah tak tersisa disapu gelapnya malam. Semilir angin malam membawa bau amis darah, anyir bangkai dan sobekan daging dari Ladang Kurustra sisa perang siang tadi. Nakula Sadewa cekatan merakit kereta. Menyiapkan kuda kembar penariknya. Ditanggalkannya keris yg biasa selalu disandangnya. Guna menunjukkan kepada punggawa dan penguasa Mandaraka bahwa kedatangannya ke Mandaraka bukanlah untuk melawan Sang Uwa.

Perlahan kereta yang ditarik kuda kembar itu menyisir Ladang Kuru Setra sisi perbatasan Wiratha. Dalam perjalanan tiada lain yang ada di antara kedua saudara kembar itu selain diam dan bisu. Mereka tenggelam pada pikiran masing – masing. Yang rasanya seirama. Nada – nada pikiran mereka yang tidak terdengar adalah penyesalan, kesedihan, dan kekecewaan. Mengapa takdir ini menimpa mereka ? Mengapa perang ini harus mengorbankan sanak kadang, pawong mitra, para sesepuh yang masih darah daging sendiri.

Langkah demi langkah kuda kereta semakin menjauhkan mereka dari Kuru Setra. Dari kejauhan sesekali bayangan mereka timbul tenggelam seiring kabut malam yang diterpa angin.

Di Mandaraka…

Prabu Salya baru saja turun dari kereta saat itu. Kedatangannya disambut hangat penuh kerinduan oleh Sang Ratu Dewi Setyowati. Tangan kanannya dituntun turun dari kereta dan digandeng Sang Istri tersayang. Sungguh pasangan sepuh yang wujud dari doa dan kodangan para pinisepuh puluhan tahun silam saat mereka dinikahkan di pendopo agung. Sampai saat ini meskipun sudah berputra lima putra putri, bercucu belasan, kemesraan itu tak pernah terlihat luntur. Bahkan terlihat semakin kukuh, membuat iri yang memandangnya. Dari pendopo agung, saudara sepupu mereka, Dewi Sugandini memandang dengan wajah sumringah demi melihat majikannya yang penuh kemesraan itu….

Pompa Air

Pompa Air

Sudah dua hari saya perhatikan pompa air di rumah “bermasalah”. Bunyinya tidak halus atau normal seperti biasa, melainkan “mbengung” (Ini Bahasa Indonesianya apa ya?) tidak konstan. Orang rumah punya opini macam – macam mengenai ini. Nyonya bilang rusak, apanya yang rusak? Nggak tahu pokoknya rusak. Mbah putri bilang itu lakernya harus diganti. Saya berpendapat kumparannya sudah mendekati aus, menilik pengalaman mobil tua kami dulu suka seperti itu.

Minggu kemarin sambil menunggu waktu ngabuburit, padahal waktu itu jam 10 pagi bangun tidur, saya oprek sendiri itu pompa air. Alhamdullillah saya termasuk orang yang ringan tangan kalau ada masalah-masalah teknis di rumah, semisal genthen bocor, keran air patah, dll dsb. Maka pompa itu pun saya bongkar sendiri. Cenderung percaya dengan apa yang dikatakan mbah putri, saya harus menemukan di mana laker pompa itu. Saya akan lihat dan kalau ada yang ganjil tinggal bongkar, bawa ke material, beli yang baru pasang lagi. Selesai…!

Wah ternyata ribet juga meskipun hanya membongkar pompa air. Sampai berpeluh akhirnya saya bisa membongkar pompa air itu. Tapi sayang, tidak sampai bisa membongkar jeroannya. Saya tidak mempunyai kunci yang pas untuk membongkar jeroannya. Tidak ada pilihan lain selain membawanya utuh-utuh ke tukang servis.

Tukang servis mendiagonasa sebentar. Tanya keluhan sedikti. Periksa sekilas, ditest sejenak. Gak kenapa – kenapa tuh …..Mesin baik – baik aja. Wah ternyata “hanya” setelannya yang gak pas. Jadi yang perlu dilakukan hanyalah menyetel skrup setelan saja. Kata tukang servis, bunyi tadi disebabkan karena ketidakstabilan air yang diisap naik oleh pompa. Ketidakstabilan itu disebabkan karena ketinggian air sudah berkurang. Maklum musim kemarau barangkali. Kalau ketinggian air berkurang makan tekanan udara harus ditambah, agar air tidak thekor. Dan menambah tekanan udara itu dilakukan dengan menyetel skrup tadi. Kurang lebih beginilah cara kerja pompa itu (lihat gambar)

Lubang pipa. Kiri, jalan udara menekan. Kanan, jalan air yang dihisap

Lubang pipa. Kiri, jalan udara menekan. Kanan, jalan air yang dihisap

Jika kita amati selalu ada 2 pipa yang masuk ke sumar dan masuk ke mesin pompa. Di pompa seperti terlihat dalam gambar itu lubang pipa kiri adalah jalan udara yang dihembuskan pipa ke sumur. Lubang pipa kanan adala jalan air yang dihisab air dari sumur. Jadi air naik keatas karena adanya tekanan udara ke bawah. Ini prinsip apa ya ? Bejana berhubungan, Bernoulli, atau kekekalan energi ?

Nah setelan untuk mengatur kuat tidaknya tekanan udara terlihat seperti gambar di bawah. Kalau tidak salah, semakin besar tekanan udara semakin besar daya angkat air (semakin dalam jangkuan air yang bisa dinaikkan) namun daya listrik yang diperlukan tentu lebih besar. Sebaliknya jika semakin hemat daya listrik, maka daya angkat air semakin dangkal. Jadi carilah keseimbangan diantaranya.

Sekrup Setelan Udara Penekan

Sekrup Keseimbangan Tekanan Udara


Mengatur Keseimbangan Tekanan Udara

Mengatur Keseimbangan Tekanan Udara

Demikian, semoga bermanfaat. Barangkali pompa air bermasalah, jangan buru-buru panic terus main bongkar saja. Nggak tahunya, cukup dengan puteran dengan perasaan, masalah selesai J

Orang Tua Itu

Orang Tua Itu, 2 Hari Sebelum Kepergiannya

Lima hari yang lalu, hari ke sepuluh di Bulan Romadhon. Pagi sebelum ngantor rasanya saya sempat teriak dari bawah “Mbah berangkat dulu”, sperti biasa trdengar jawaban “Yo…” darimu. Hari itu memang kami di kantor sdang menghadapi msalah yang rumit trkait tender. Mau tidak mau konsentrasi terfokus ke situ. Sekitar j 1an masuk sms dari ibunya anak2, minta Mbah Kung bisa dironsen siang itu agar hasilnya besuk bsa dibawa ke dokter ssuai jadwal n janji. Sy hanya jawab “Ntar kntor lagi sibuk”. Stengah j kmudian sms lagi “Masih sibuk??”. Tiba2 prasaan tidak enak, stelah koordinasi sbntar dengan tim kantor sy balas sms “Ya sudah saya pulang”. Perasaan was2 entah mengapa memenuhi pikiranku. Di Jl. Pasar Rebo, hampir saja menyenggol motor yg tiba2 ambil kanan tanpa peringatan. Klakson sya pencet sekencangnya smbil mnahan marah n umpatan.

Jarak 1 km dri rumah, ibunya anak2 ngebel “Masih jauh?”

“Kenapa? Ada apa?”

“Sudahlah agak cepetan, bapak lihatlah sndiri mbahkung…” terputus jawaban dari sebrang.

Sampai depan pagar, terlihat Ivan n Bang Udin tetangga kita, sudah berada di kamarmu, Mbah Kung. Masih belum prcaya sya dengan kondisimu. Mbahkung, kamu sudah terbaring dan tidak bergerak. Namun masih ada harapan dalam diri, saya minta agar Mbahkung dibawa ke RS. Namun mbah putri melarang. Mungkin karena pngalaman beliau, dia tahu MbahKung sudah pergi. Sy msih blum percaya, sambil menangis sya goyang2kan mukamu. Saya teriaki telingamu agar kausebut Asmaul husna. Tidak ada reaksi sama sekali. Namun saya masih belum mau mnyadri apa yg sudah trjadi. Ini prtama kali sy mnghadapi situasi begini. Jadi sy tidak tahu apa yg sehrusnya dilakukan. Meski alkhirnya ada ide juga, sy minta slah stu tetangga memanggil dokter, g tahu dri manapun. Tidak brapa lama, dokter pun datang. Beberapa saat memeriksa, dokter memberi kepastian bhwa MbahKung sudah tidak ada, Innalillahi wainnailihi rojiuun.

Seketika timbul rasa penyesalan sya, mengapa tadi pagi tidak sya sempatkan waktu naik untuk pamitan?Harusnya aku cium tanganmu tadi pagi. Maafkan sering dalam melayani dan merawatmu diiringi perasaan nggrundel, ngedumel, ngomel bahkan tidak ikhlas. Sekarang, baru timbul penyesalan itu. Namun sudah trlambat. Tidak mungkin lagi aku cium tanganmu sbagai bntuk pngabdian n hormatku. Tidak bisa lagi aku memapah n menuntunmu ke kamar mandi dengan ikhlas(karena sering aku tidak ikhlas melakukannya saat itu). Sebnarnya tidaklah perlu aku menggendongmu karena mski trtatih kamu masih bisa berjalan sndiri. Itupun hanya skitar sminggu belakangan kamu perlu dituntun n dipapah. Aku tidak perlu menyibini n mengelap badanmu, karena kamu masih bsa mandi sndiri. Apalagi sampai melayanimu buang kotoran di tmpat tidur. Untuk ukuran orang tua, kamu sangat tidak merepotkan. Bicaramu terbatas n seperlunya hingga tidak sempat menyinggung perasaan orang karena lidahmu. Tidak terdengar keluh kesahmu saat sakit memuncak, hanya istighfar dan istigfar jika kamu rasakan nyeri di dada atau luka di kakimu itu.

Aku menyesal, aku kecewa pada diriku sndiri.Belum spnuhnya aku mengabdi kepadamu, kamu sudah terlanjur meninggalkan kami lebih dulu.

Beberapa “kolegamu” yang datang takziah menyatakan keterkejutannya. Tidak banyak sebenarnya kolegamu, karena memang kita ini bukanlah siapa2, kita hnya wrga biasa. Lagipula, baru sekitar 1.5 tahun kamu tinggal bersama kami dengan sedikit paksaan waktu itu sebab kalian tidak mau merepotkan kami. Jalan kaki keliling kampung sudah menjadi kebiasaan rutin semnjak kamu tinggal bersama kami. Kamu sapa siapa saja yang kamu temui di jalan, di gang, di pangkalan ojek. Maka tidak heran, banyak orang mengenalmu. Mulai dari pejabat lingkungan Pak RW, Pak RT sampai dengan tukang ojek atau pedagang keliling. Tidak jarang, jika kamu ada kelebihan uang tukang ojek di ujung gang itu ikut merasakan karena kamu traktir meskipun sbatas bakso atau ketoprak dorong. Asli sya tidak tahu kebiasaan itu, baru tahu dri mereka sndiri saat takziah ke rumah. “Wah tidak ada yg traktir ketoprak lagi”, kata mereka.

Beberapa dari mereka mengungkapkan tanyanya yg selama ini mereka batin. Ibu Butet yng punya toko kelontong membatin, kemana dirimu semingguan ini tidak pernah trlihat jalan kaki n menyapanya dari luar. P Haji sebrang RT juga bertanya kok satu jumat ini dirimu tidak trlihat, biasanya slalu di shof depan samping beliau. Fadil, remaja sebelah yg sering shalat berjamaah denganmu di musholla juga menanyakan. Ke mana si Mbah yang biasanya selalu minta tolong dipegangin tangannya selesai shalat agar jejeg berdirinya sebelum beranjak keluar musholla? Dan juga tentu para tukang ojek di ujung gang, di ujung jalan Rambutan, bahkan di Jl, Baret Biru. Dikiranya semingguan ini kamu pulang kampung.

Akhirnya memang smuanya menemui kamu telah pulang kampung menghadap sang Khaliq. Kami kehilangan, tapi kami mengikhlaskan. Hanya Allah pemilik dan penentu kehidupan. Dan kami bersyukur kepadaNya. Dia menentukan kepulanganmu pada Bulan yang baik ini. Kamipun bersyukur bhwa Dia membuat mudah sakaratul mautmu. Paling tidak itulah yang saya rasakan. Pagi sampai dg siang hari, kamu masih bisa sekali dua kali ke kamar mandi sendiri. Siang habis Dhuhur kamu minta tolong dipapah untuk BAB ke kamar mandi. Mbah Putri dan Ibunya Ani berusaha menolongmu, kamu mrasa tidak kuat. Akhirnya itulah pertama n terakhir sbagi orang tua kamu buang kotoran di tempat tidur. Proses sakaratul mautmu dimulai setelah itu. Dan tak lama kemudian, kamu pulang kampung yang sebenarnya.

Selamat jalan mbah kung, smoga amal baktimu selama ini diterima Yang Maha Baik. Semoga kesalahan n kekhilafanmu diampuni oleh Yang Maha Pengampun. Hari baik, bulan suci ini, semoga menjadi jalan diterimanya jiwa ragamu di sisiNya, dalam damai dan pengampunan.

Kategori Tulisan