jump to navigation

Baratayuda, Duryudono-Salya Gugur[8].”Kanjeng Ratu Setyawati, aku harus memenuhi janji dan kesaguhanku..” Februari 5, 2010

Posted by anikeren in Cerita Wayang Mahabarata, Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
add a comment

Saat kemarahan Prabu Salya mencapai puncak dan kata kata amarahnya terdengar samar sampai di Pendopo belakang, Permaisuri Kerajaan Ratu setyawati menghentikan racikan rujak yang belum lagi setengah rampung. Tergopoh gopoh dia mendekat ke pendopo utama tempat Salya menerima dua anak keponakannya itu. Dipanggilnya Dewi Sugandini menemaninya. Berdua mereka mencuri dengar percakapan Prabu Salya dengan Nakula dan Sadewa.

Betapa terkejut, sedih dan kecewa dirinya begitu mendengar apa yang diucapkan Salya di akhir percakapan dengan keponakan – keponakannya itu. Bukan lengser kebrapon Salya yang disedihkan, bukan penyerahan kerajaan kepada Nakula Sadewa yang tidak bisa diterimanya. Namun, kesanggupan dan keteguhan Prabu Salya dalam memenuhi permintaan Duryudono untuk menjadi panglima perang Kurawa esuk pagi yang tidak bisa diterimanya. Bagaimana dirinya bisa menerima orang yang sangat dicintai dan sudah terbukti kesetiaan cinta, kasih sayang untuknya, akan merelakan kematiannya esuk hari? Meskipun kematian itiu demi membela kebenaran dan keadilan yang dipegang Pandawa? Baiklah, dia akan menerima jika memang harus begitu. Namun, kematian Salya harus diiringi kematiannya sendiri.

Jejak kaki Nakula Sadewa belum lagi dingin dari paseban pendopo. Setyawati diiring Sugandini tergopoh gopoh naik ke siti hinggil pendopo. Tak kuasa menahan, tangisnya tak terbendung. Ditubruknya Salya. Beberapa saat, tiada kata yang terucap di antara mereka. Salya bersikap seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi pada permaisuri terkasihnya. “Kanjeng Ratu…mana rujak yang aku inginkan?”

“Paduka….,sekian puluh tahun hamba mendampingi paduka yang mulia. Tidak sekalipun hamba membantah apa titah paduka, tidak sekalipun hamba menolak kehendak Paduka. Bahkan nyawa orang tua pun, hamba serahkan. Hamba ikhlas ketika anak anak kita Rusmarata dan Burisrawa mati sia membela Kurawa. Namun…..jika seperti yang paduka katakan kepada anak keponakan paduka tadi…., hamba sama sekali tidak rela sinuwuun.”

“Hmm….ngomong apa aku? Aku tiada mengatakaan apapun kepada mereka kok. Sugandini…..mana rujaknya?”

Gelagapan Sugandini menjawab,”Sinuwun….sebenarnya hamba tadi juga sudah memulai meracik rujak yang Paduka kehendaki. Namun, kanjeng Ratu memanggil saya untuk ikut mencuri dengar percakapan paduka dengan kang putra pulunan berdua”

“Ah, aku tidak bicara apa – apa kok. Ya lumrah saja kalau kami berkangen2an. Nakula Sadewa itu keponakanku, dan kami sudah lama tidak bertemu..”

Setyawati menyela “Sinuwun, selama kita bersama tidak sekalipun paduka cidra, pada kali ini pun mohon sinuwun jangan berbohong”

“Ah…yang mana?”

“Sinuwun besuk pagi akan bertindak sebagai senopati Kurawa memerangi Pandawa. Jika sikap paduka memang tidak dapat dibatalkan, maka mau tidak mau besuk hamba akan mengiringi paduka di medan laga.”

“Hmmm….seumpama begitu, hal yang ganjil jika kanjeng ratu ikut perang. Kanjeng Ratu adalah permaisuri, seorang perempuan yang biasa mulia di keputrian. Bagaimana bisa ikut perang?? Padahal di medan laga bukan tempat yang nyaman namun sebaliknya…. “

“Apapun, hamba harus tetap ikut.”

“Oh begitu?? Kalau aku batalkan saja?”

“Itu yang hamba inginkan sinuwun, apalagi Pandawa bukanlah orang lain melainkan anak anak paduka sendiri”

“Hmm ya sudah kalau begitu. Ya mending aku turuti maunya Kanjeng Ratu daripada aku ikuti keinginan Duryudono. Wong, kanjeng ratu adalah istriku. Sugandini….”

“Hamba paduka”, kali ini dengan senyum sumringah Sugandini menjawab.

“Aku kok membaui seperti ada yang gosong dari tungkumu, coba kamu lihat apa yang gosong?”

“Hamba tidak memasak apapun, paduka…”

“Lihatlah….di belakang apa yang terbakar, kok aku mencium bau gosong..”

“We la dalah….sendika dawuh sinuwun..mohon diri.” Tersadar Sugandini bahwa itu adalah perintah halus dari Salya agar dia meninggalkan Sang Prabu berdua dengan Setyawati.

“Kanjeng Ratu..kalau saya pikir – pikir, kita ini pasangan terpercaya dan diterima. Terpercaya…artinya kita saling percaya dan saling menerima. Dulu kita menikah, aku perjaka dan dinda perawan…”

“Benarkah, paduka belum pernah bergaul dengan wanita sebelumnya??”

“Wo…benar, benar itu. Dulu aku minggat dan akhirnya bertapa di Gunung Argobelah itu khan karena aku diusir Kanjeng romo gara – gara belum mau menikah. Dan memang tidak ada wanita yang menarik hatiku di seluruh Mandaraka waktu itu. Padahal tidak kurang wanita cantik jelita di seantero Mandaraka, memikat hati kata orang2. Tapi semua itu, tidak pernah ada yang menarik rasa dan hatiku kok. Namun setelah aku bertemu dinda, hati dan rasaku luluh seketika. Dan terbukti khan, puluhan tahun kita bersama. Bebrayan kita diterima oleh para pinisepuh dan Tuhan yang maha kuasa. Tidak hanya diterima, kitapun dipercaya. Terbukti..kita dikaruniai lima orang anak, dan banyak cucu….”

“Terimakasih sinuwun…”

“Hmm…kalau saya ingat2, kok suasana malam ini sama seperti kita pengantin baru dulu ya. Eh hmmm….dulu persis malam ini. Ya hujan gerimis, angin yang semilir begini..wah benar2 mengingatkanku pada saat indah puluhan tahun silam. Tapi bagaimana ya dinda? Kita ini sudah tua, ragaku juga tidaklah seperti masa muda dulu. Masak ya akan terlaksana suasana seperti kita pengantin baru dulu??”

“Jika memang perlu, mengapa tidak Paduka?”

“O..begitu ya?. Tapi kita ini sudah beranak cucu lo..”

“Jika sedang begini…, janganlah kita mengingat anak – anak, apalagi cucu.”

“Hmm….yah..kalau begitu. Setyawati…aku rindu saat saat kita masih di Pertapaan Argobelah puluhan tahun silam. Dulu…seringkali kamu bersenandung tembang – tembang asmara yang menyenangkan hatiku. Mbok ya..sekarang kamu lakukan lagi seperti dulu..”

“Baiklah Kakanda, mohon dinikmati dan jangan kecewa karena memang alunan suara hamba tidak seperti dulu”

Prabu Salya meraih kedua tangan Setyawati,dengan senyum penuh kasih sayang dia mengangguk siap menikmati senandung Sang Ratu. Kanjeng Ratu memulai menyenandungkan kidung cinta kenangan mereka berdua. Meski sudah sepuh, suaranya masih sangat merdu. Begitu indah alunan nada dan untaian kata dalam tembang asmara, sang pencerita kisah ini tidak mampu menguraikannya.

Selesai kidung cinta Kanjeng Ratu Setyawati yang bermakna pujaan, cinta kasih dan kesetiaan tanpa pamrih kepada Salya.Sekarang giliran Prabu Salya mendendangkan tembang kasih mereka berdua. Pujian, sayang dan kesetiaan pada istri tercinta tertumpah dalam nada-nada asmarandana dari mulut Sang Raja. Dan terbukti bagaimana lestari dan bahagianya rumah tangga mereka. Cinta Salya kepada Setyawati adalah cinta pertama dan terakhir. Sewaktu muda dengan menyandang nama Narasoma, tiada lain yang dicari selain olah kanuragan dan kesaktian. Tiada lain yang dilakukan selain tapa brata menahan nafsu. Hingga sampai pada waktunya dia harus menerima waris tahta Kerajaan Mandaraka dari ayahanda Raja Mandrakeswara, belum terlihat juga ketertarikannya kepada putri manapun. Padahal dia harus didampingi seorang permaisuri saat menerima mahkota kerajaan. Ayahanda sangat marah menghadapi pembangkangannya waktu itu, hingga Narasoma terusir dari Kerajaan. Lebih dipilihnya terusir daripada dipaksa menikah.

Pengusiran itu dianggapnya sebagai berkah. Dengan demikian, dia dapat memenuhi hasratnya menempa jiwa raga tanpa direpotkan tugas-tugas sebagai putra mahkota. Ditujunya Gunung Argobelah, di lereng sisi timur pegunungan dia melalukan tapa brata mengekang nafsu, mengheningkan cipta, menghubungkan batin dengan hyang maha tunggal. Sampai suatu kali, antara sadar dan tidak dilihatnya seorang putri cantik menggendong bokor air, Endang Pujowati. Bagai gunung pasir diterjang gelombang pantai, hatinya luluh. Seketika hatinya bergetar, cintanya menggelora tiada terbendung. Pun demikian Endang Pujowati. Cinta pertama mereka berujung ke pelaminan. Karena kesetiaannya, Prabu Salya memberikan nama sayang Dewi Setyawati pada Endang Pujawati. Begitu cintanya Salya pada istrinya, selaku raja agung dia tidak mempunyai selir. Hal yang tidak biasa pada jamannya.

Perlahan mereka bergandungan tangan memasuki ruang belakang, kamar peraduan. Salya hampir menyelesaikan pupuh(bait) terakhir tembangnya saat mereka merebahkan diri di peraduan. Selanjutnya tidak perlu si penulis cerita ini menguraikan apa yang terjadi di antara mereka.

Perjalanan dengan kereta kuda dari perkemahan kurawa ke Mandaraka, pertemuan dengan anak keponakan Nakula Sadewa, rupanya membuat salira Salya letih. Menjelang tengah malam, dirinya sudah tertidur di samping Setyawati. Setyawati memandangi wajah sepuh orang yang sudah menjadi belahan nyawanya itu dengan penuh kasih sayang. Betapa dirinya sangat beruntung dikarunai suami yang tidak hanya Seorang Raja besar, namun juga prajurit pilihan tanpa tanding. Lebih dari itu Salya adalah kepala rumah tangga yang tanpa cacat di matanya. Darinya dia dapatkan lima orang anak yang tumbuh sehat hingga dewasa. Tiga putri – putrinya dipersunting oleh raja agung. Kedua putranya tewas sebagai satria di medan Kurusetra pada awal – awal Baratayuda. Salya telah membuktikan cinta dan setianya pada wanita hanya untuk dirinya. Suatu anugerah yang luar biasa, bahwa dia tidak perlu membagi cinta Salya dengan madu yang lain, layaknya para permaisuri2 umumnya. Bagaimana dia rela berpisah dengan suami, guru laki, pepunden seperti Narasoma?? Perjalanan hidupnya selama ini yang mungkin sudah hampir selesai ini, begitu membahagiakannya bersama Salya. Maka sumpah setianya adalah jika dia tidak menghadap yang Maha punya hidup lebih dahulu, tekadnya harus mati bersama.

Ahh…, lamunan bahagia ini membuat matanya sayu juga. Perlahan mulai dirasanya kantuk menyergap jiwa, menggelayuti raganya. Namun tidak terlepas dari pikirannya, mengenai apa yang didengarnya tadi sore dari Salya pada anak anak keponakan mereka. “Kakang Prabu, boleh saja kakanda ke medan laga, tetapi hamba harus ikut “, batinnya bertekad. Perlahan dilepasnya stagen pengikat kainnya. Diikatnya pinggang Salya dengan ujung stagen itu, diikatnya ujung yang lain dipinggangnya sendiri. Dia tidak ingin tertidur saat pujaan hatinya terjaga. Perlahan kesadarannya menurun, dipeluknya tubuh Salya. Dinikmatinya bau keringat sang suami. Aroma keringat itu baginya bagai kesturi yang meninabobokan kesadarannya. Setyawati tertidur, pulas seperti bayi.

Fajar dini hari mulai menyembul, seiring dengan kokok ayam jantan yang bersautan. Perlahan Salya terjaga, diusapnya mata tuanya. Dia teringat akan komitmennya pada Duryudono dan janjinya pada Nakula Sadewa. Perlahan diambilnya keris kerajaan yang selalu tersanding di peraduannya. Dihunusnya keris itu, mengkilat kilat menunjukkan ketajamannya. Stagen yang mengikat tubuhnya dan tubuh istrinya, diputus. Sekali gesek, putus seketika. Perlahan dia turun dari peraduan, disorongkannya guling ke pelukan Setyawati. Tanpa bersuara, dia kenakan pakaian keprajuritan sebagai tanda dia siap berperang.

Perlahan dia melangkah melewati pintu peraduan, masih sempat ditengoknya wajah istrinya di Peraduan. Langkahnya terhenti, batinnya mengaduh. Sungguh berat beban ini baginya. Namun dia adalah satria sejati yang teguh memegang janji, dan baru bisa dengan tenang pulang ke alam sana jika sudah terbebas dari beban dan hutang budi. Sekarang sudah waktunya dia harus mengembalikan hutang itu. Hutang yang sudah dinikmatinya sekian puluh tahun, memakan sebagian besar dari usianya. Diambilnya seceari patra, dituliskannya dengan pena isi hatinya di atas kerta putih itu ”Duh..istriku..Kanjeng Ratu Setyawati, begini rasanya orang yang harus melaksanakan janji dan kesaguhan. Sungguh berat aku rasa meninggalkanmu, tetapi aku harus tetap melangkah Kanjeng Ratu. Hanya satu pintaku, maafkan aku. Dan jika besuk sesuatu terjadi padaku, kabarkanlah pada sanak saudara, meski hanya sepatah dua patah doa aku minta mereka bersedia urun. Setyawati…mohon pamit ”. Di ciumnya wajah sepuh istrinya yang masih terlihat ayu itu. Ditumpangkannya patra di atas dada sang istri.

Secepat kilat tanpa suara, langkah Salya sampai ke Kepatihan. Dipanggilnya Patih Duwayata untuk mengusiri kuda kerata. Kuda kereta melesat mengerah ke Padan Perang Kurusetra. Salya telah siap menunaikan janji dan darmanya sebagai satria…

Pak Presiden, maaf Bapak terlalu banyak mengeluh Februari 1, 2010

Posted by anikeren in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.
add a comment

Saat peristiwa Hotel JW mariot meledak setelah pilpres lalu, Bapak mengeluh bahwa gangguan kamtibmas ini mengarah kepada anda dan ada kaitannya dengan hasil pilpres. Banyak reaksi atas keluhan anda itu. Untunglah separo benar. Setengah benar karena memang POLRI mampu mengungkap dan menggagalkan rencana penyerangan terhadap bapak. Setengah lagi, paling tidak sampai saat ini, tak terbukti ada kaitan dengan hasil pilpres.

Suatu kali anda mengeluh kurang tidur karena bekerja keras dan berpikir serius untuk kepentingan rakyat seluruhnya. Seolah ingin Bapak katakan bahwa sudah sedemikian berat kerja dan pengorbanan bapak, masih saja ada orang yang tega mengkritik dan mengatakan pemerintahan Bapak seperti tari poco – poco.

Ketika terbit buku Membongkar Gurita Cikeas, Bapak mengeluh di berbagai forum mengenai fitnah yang keji itu. Saya sudah membaca buku itu. Isinya biasa-biasa saja. Hanya menghubung – hubungkan berita yang sudah umum. Hanya judulnya saja yang sangar.

Sekarang saat hangat – hangatnya kasus Century, Bapak lagi2 mengeluh kemungkinan pemaksulan terhadap Lembaga Presiden oleh Parlemen. Hingga di berbagai forum, Bapak menjelaskan bahwa pemaksulan tidak sah karena tanpa dasar hukum. Apakah, jika memang perlu, tidak cukup sekali saja Bapak menjelaskanny?  Toh gaungnya pasti sampai ke seluruh negeri. Maaf Pak Presiden, dengan mengulang – ulang hal yang sama itu,  saya tangkap Bapak  seolah –olah mengeluh dan mengadu.  Sayang semua keluhan Bapak yang saya sebut itu mengeluhi dan mengasihani diri anda sendiri. Mana gaung keluhan dan kasihan Bapak untuk rakyat? Mana keluhan Bapak untuk korban Lapindo?  Mana keluhan Bapak untuk korban AFTA?  Mana keluhan Bapak untuk TKI kita?  Mana keluhan Bapak untuk Nasabah Century? Mana keluhan Bapak untuk korban pembobolan ATM?

Bapak Presiden, saya pernah mendengar kisah hidup seorang petenis besar yang menjuarai berbagai turnamen grand slam. Seorang petenis Amerika berkulit hitam. Kalau tidak salah, namanya Arthur Ashe. Setelah karir tenisnya yang gemilang turun, dia terkena serangan jantung dan harus dioperasi. Operasinya memerlukan transfusi darah. Pak Presiden, naas baginya. Penyakit jantung sembuh, namun dia terkena HIV/AIDS akibat transfusi darah itu. Dalam penderitaannya itu, ditanyakan kepadanya.  Kurang lebih pertanyaan itu adalah betapa malang dirimu, sembuh sakit jantungmu HIV menderamu. Bapak Presiden, inilah jawabannya, “Di antara sekian milyar penduduk dunia, 50 juta orang belajar tennis, 5 juta di antaranya serius menekuni, 5000 orang sampai ke taraf professional, hanya puluhan orang yang sampai ke wimbledon, dan hanya 2 orang sampai final. Hanya seorang yang mengangkat tropi kemenangan. Dulu sewaktu saya mengangkat piala kemenangan, tidak pernah saya tanyakan mengapa Tuhan memilih saya. Jadi pantaskah kalau saya menderita sekarang, saya mengeluhkan mengapa ini terjadi padaku?”. Dia meninggal dalam penderitaan HIVnya.

Pak Presiden, saya yakin sewaktu hampir 70% pemilih memenangkan anda, Bapak tidak menanyakan mengapa Tuhan memilih Bapak. Bapak tidak menanyakan apakah memang layak Bapak memimpin kami. Sebab Bapak memang sudah yakin terlebih dulu.

Bapak Presiden, andalah putra terbaik  dari dua ratus empat puluh juta lebih penduduk negeri ini. Meskipun tidak semua dari kami memilih Bapak waktu itu, namun sekarang seluruh negeri mendukung Bapak.  Koalisi partai Bapak menguasai lebih 60% kursi parlemen. Jadi, apa yang perlu Bapak khawatirkan? Rasanya mustahil pemaksulan -kalau memang ada- akan berhasil.

Kasus Century yang menghebohkan itu, seharusnya sederhana saja penyelesainnya. Bapak Presiden, tidak ada manusia yang tidak pernah membuat kesalahan. Bahkan Nabi pun pernah khilaf.  Oleh karena itu, kami akan bisa menerima kesalahan yang pernah dilakukan oleh staff Bapak, jika memang ada. Apalagi jika kesalahan itu bukan karena niat tidak baik. Namun kami tidak dapat memaafkan kejahatan. Saya kira Bapak pun tidak akan mentolerir kejahatan sekecil apapun menyangkut negara dan rakyat yang Bapak pimpin. Jadi jika dalam kasus Century ada kesalahan, misalnya salah menilai -dengan niat jujur- sistemik atau tidak sistemik,  kami bisa menerima. Dalam diri kamipun terlalu banyak melakukan kesalahan.

Tetapi jika ternyata ada kejahatan (misalnya ada permufakatan jahat untuk menggarong uang penjaminan bagi mereka yang tidak berhak), maka Bapak harus bersikap tegas. Sanksi tegas harus diberikan bagi aparat negara yang melakukan kejahatan.

Saya yakin, Bapak tidak ada sangkut pautnya dengan dana talangan itu. Mengapa? Karena dari laporan kekayaan Bapak tahun 2004 ke tahun 2009 tidak ada peningkatan yang mencolok. Kalau tidak salah hanya sekitar Rp. 4 M kekayaan Bapak dari tahun ke tahun.

Bapak  Presiden, kami percaya Bapak karena Bapak pemimpin yang dipilih sebagian besar dari kami rakyat Indonesia. Jadi, mohon tunjukkanlah kemimpinan Bapak. Jangan tanyakan mengapa banyak masalah,  rintangan,  fitnah, bahkan ancaman keselamatan menerpa Bapak. Sebab itu semua sudah default sebagai bagian permasalahan bangsa ini. Karena Bapak adalah putra terbaik negeri ini, seharusnya Bapak yang paling kuat dan paling mampu menghadapi dan menyelesaikan itu semua. Percuma Bapak mengeluh kepada kami, kapabilitas dan kapasitas kami sangat jauh kurangnya dibandingkan Bapak.

Selamat berkarya Pak Presiden.

Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan ?? Januari 27, 2010

Posted by anikeren in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.
1 comment so far

Usahlah didiskusikan lagi bahwa karunia dan nikmat Illahi itu dapat kita temukan dan kita pungut di mana – mana. Tanpa memandang status, tingkat pendidikan, popularitas ataupun yang lainnya, kita selalu dan terus menemukan karunia dan nikmat dari Tuhan. Kita sadari ataupun kebanyakan tidak kita sadari.

Ketika kita terbangun di pagi hari, entah karena suara adzan dari Musholla sebelah atau karena suara tangis bayi tetangga sebelah yang kekurangan susu, atau bahkan terhenyak dari mimpi yang sedang kita nikmati. Kita sudah menemukan kenikmatan yang tiada akan selesai kita hitung. Apakah namanya jika bukan nikmat dan karunia saat diri kita pelan – 2 tersadar ? Akan kita sebut kebetulan dan sudah seharusnya begitu kah untuk telinga kita yang samar – samar menuju terang mendengar suara sekeliling kita, entah suara adzan di waktu subuh atau suara lembut istri – anak kita ketika matahari beranjak  naik ? Tidak kah kita mengerti bahwa sampai dengan saat ini, paling tidak, Tuhan begitu sayang kepada kaki kita sehingga bisa turun dari ranjang dan menapak lantai dengan sempurna? Bagaimana itu bukan nikmat dan karunia sebab banyak di antara saudara – saudara kita yang lebih sepuh, perlu waktu berlama – lama sebelum kakinya merasa enak untuk menjejak karena asam urat misalnya. Beranjak kita ke kamar kecil untuk melakukan hajat kecil maupun hajat besar. Apakah itu hal biasa – biasa saja, hanya karena kita sudah biasa melakukan dan mendapatkan kenikmatan darinya? Tidak saudaraku, meskipun seringkali saya pun berfikir itu hal biasa – biasa saja. Tetapi jika bukan karena nikmat dan karunia yang disengaja, tidak akan kita begitu lancer dan menikmati hajat kecil atau hajat besar itu. Prosesi hajat kecil dan atau hajat besar itu bukanlah peristiwa ujug – ujug dan sekali jadi. Untuk sampai ke akhir cerita si hajat kecil dan si hajat besar itu, banyak proses dan cerita kimiawi yang terjadi. Mungkin dimulai dari pencernaan di mulut kita, perlahan masuk di kerongkongan, usus kita pun melakukan proses kimiawinya sendiri dengan menyerap sari – sari makanan. Lalu ginjal juga mengambil bagian tugasnya sendiri untuk ditunaikan, dan mungkin ada ribuan cerita yang dapat dirangkai sebelum saluran kemih maupun (maaf) dubur kita mengambil perannya dalam prosesi ini. Adakah semua itu kebetulan dan sudah seharusnya begitu, mengingat jika salah satu saja dari ribuan untaian proses  terganggu dapat dipastikan kegiatan kita menyangkut hajat ini bukan mendatangkan kenikmatan bahkan bisa menjadi siksaan.

Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan ??

Selesai kita dengan urusan bangun pagi dan bersih – bersih. Yang bahkan hanya untuk urusan pribadi dan hanya di sepenggal waktu pagi, cerita tentang menghitung dan mengurai nikmat – nikmat itu tidak akan tuntas dalam waktu sehari semalam. Sebagian besar dari kita mungkin selanjutnya melakukan ritual sarapan pagi setelah itu. Kembali kita akan menemukan tak hingga kenikmatan dalam ritual sarapan pagi itu. Marilah kita lihat menu sarapan pagi kita, mungkin hanya sepiring nasi goreng. Atau setangkup roti isi mentega dan susu, atau sebutir telur, atau bisa jadi semeja makan penuh aneka rupa menu yang memberikan kebebasan kita untuk memilih. Apakah semua itu ujug – ujug ada dan kebetulan begitu saja tersaji sehingga siap kita nikmati, tentu saja tidak. Tuhan begitu murah hati mendisain dan mengatur semuanya untuk kita. Diaturnya sehingga ada orang – orang yang rela menjadi penanam gandum, atau penyemai padi, atau penuai padi, atau penumbuk padi dan seterusnya. Jika tidak ada kerelaan dari mereka itu mengambil dan menunaikan peran – peran itu, bagaimana mungkin kita dapat menikmati setangkup roti atau sepiring nasi goreng ? Kenikmatan dan kerelaan para petani itu pun belum cukup untuk membuat kita nikmat. Ada orang yang rela mengambil peran sebagai kuli angkut. Kita bisa lihat di tengah – tengah sawah, di pasar -  pasar, terkadang tidak mengenal waktu dan cuaca, mereka panggul dan gendong beras, cabai, tomat, atau apapun yang tersaji di meja makan kita. Terkadang tidak hanya satu karung di punggung mereka, bahkan bertumpuk – tumpuk entah naik atau turun dari truk pengangkut. Ada banyak rantai yang saling terhubung dari benih padi atau gandum untuk sampai ke meja makan kita. Satu saja rantai itu putus, akan menjadi bencana buat kita. Adakah itu semua hanya kebetulan belaka? Di meja makan, dan kita hanya membahas satu saja makanan pokok, kenikmatan itu jika kita uraikan satu per satu tidak akan selesai pula bahkan dalam waktu sehari semalam.

Maka,..nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan ??

Lalu kita mungkin beranjak keluar rumah untuk sekedar menikmati udara pagi sebelum beraktivitas atau berlibur. Kita lihat sekeliling kita, halaman kita, atau kebun kita yang luas. Bisa kah kita hitung – hitung dari nikmat kebun kita itu? Atau…ah…janganlah kebun kita, karena kita tidak mempunyai kebun di sekitar rumah kita. Misalnya jika di sekitar rumah kita ada kebun tetangga, itupun merupakan nikmat yang luar biasa jika kita menyadari. Ya…apalagi bagi kita yang tinggal di Jakarta Raya. Mempunyai tetangga yang mempunyai kebun adalah kenikmatan tersendiri. Tidak perlu kita memiliki kebun itu, keberadaannya di sekitar kita saja sudah lebih dari cukup untuk kita syukuri. Titak perlu kita “mengaku” kebun itu untuk mendapatkan udara segar tiap hari. Tidak perlu kita mengklaim kebun itu untuk sekedar mendapatkan kesegaran mata dengan memandang dan merasakan hijaunya. Tidak perlu memiliki, toh kita ikut merasakan dan mendengarkan kicau burung di pagi hari dari pepohonan di kebun itu. Bahkan jika kita dapat bersikap baik dan tetangga berkenan, limpahan rejeki yang terkuantifikasi dari kebun itu bisa jadi menghampiri kita entah berupa buahnya atau hanya sekedar daunnya sebagai sayuran.

Maka….nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan ?

Akankah kita teruskan menghitung nikmat – nikmat ini? Ah…saya sudah tidak kuat. Benar, jika kita hendak menghitung – hitung nikmat Tuhan terlebih dulu kita harus bisa menghitung jumlah bintang di langit, sendainya bisa.

Wallahu alam bissawab

Film adalah cerminan budaya dan kehidupan suatu bangsa. Masak sih?? Januari 26, 2010

Posted by anikeren in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.
add a comment

Bagi saya kebanyakn film (Indonesia) saat ini tak lebih hanyalah pertunjukkan yang memamerkan glamor dan kemewahan. Hanya mempertontonkan wajah cantik dan tubuh molek pemainnya. Kecantikan dan kemolekan tubuh aktris membuat “ngiler” kaum pria dan menyebabkan iri para ibu dan reamaja putri. Mungkin karena saya tidak pernah melihat dan apalagi merasakan kehidupan seperti kebanyakan setting kehidupan dalam film2 itu, bagi saya film2 itu hanya menyajikan kehidupan di alam khayalan. Meski ceritanya bukanlah genre fiksi. Lalu, disebutkan oleh para pejabat dan orang yang mengerti bahwa film nasional adalah cerminan budaya. Saya berfikir, bagian mana yang menjadi cerminan? Jika dikatakan cerminan maka paling tidak sebagian besar, jika tidak semuanya, dari keseluruhan komponen dalam suatu film terkandung budaya nasional.

Dengan setelan pikiran seperti itu, maka saya termasuk orang yang tidak peduli dengan film nasional. Terakhir saya menonton film nasional di bioskop, seingat saya adalah film G 30S PKI, puluhan tahun silam. Selain beberapa kali film yg diputar di layar kaca, baik televisi maupun dalam cakram putar yang sesekali kami pinjam. Itu pun sambil lewat.

Pemahaman tentang potensi perfilman nasional yang luar biasa dan seharusnya menjadi andalan bukan hanya budaya, namun juga edukasi, nilai histori, dan juga mewakili gaya hidup kita manusia Indonesia adalah saat minggu lalu saya bertemu dengan salah satu tokoh senior perfilman nasional. Inilah yang saya rasa, harus saya syukuri. Bahwa dalam petualangan saya ini, seringkali saya menemukan butir – butir pelajaran dari orang2 yang saya temui.  Ini mungkin juga berkah dari rejeki buta warna yang saya sandang, sehingga dengan demikian dengan sukarela atau terpaksa saya harus menjadi petualang yang mendapatkan kompensasi berupa kebebasan dan waktu luang. Maka kembali kali ini saya mendapatkan butir permata pelajaran itu.

Sejarah film nasional dimulai tahun 1926 ketika Film Lutung Kasarung dibuat di tanah Hindia Belanda. Apakah yang ada dalam pikiran kita jika kita menyasikan film itu saat ini? Wah banyak hal, tentu saja, selain alur cerita yang dapat kita bawa pulang. Dari film itu kita bisa mendapatkan katakanlah model pakaian, gaya hidup, cara bicara, bahkan kosa kata dan bahasa yang ramai digunakan pada waktu itu. Jika kita beruntung, tentu saja kita bisa mendapatkan gambaran arsitektur bangunan pada waktu itu, model kendaraan yang digunakan, bahkan kita dapat membayangkan bagaimana lanskap dan tata letak kota atau daerah tertentu.

Sudahlah tidak perlu dinarasikan lebih jauh lagi, sangat banyak yang dapat kita pelajari dari suatu film. Film – yang dibuat dengan serius –dapat mewakili jaman dan segala aspek kehidupan pada saat itu.  Kesadaran tentang nilai – nilai yang dapat kita ambil dan manfaatkan dari satu film, akan semakin terasa untuk film – film yang sudah lama berlalu. Mungkin puluhan atau belasan tahun yang lalu. Tidak hanya sekedar nostalgia, bagi kita – kita yang kreatif tentu dapat memanfatkan ke dalam bentuk yang lebih aplikatif. Mengapa tidak, misalnya, bagi kita yang bergerak di bidang fesyen, mengambil inspirasi dan menghidupkan kembali trend busana tahun 50 an dari film pada masa itu? Demikian juga lanskap dan arsitektur, interior disain, gaya hidup dan menu makanan.

Tarikan lebih luas bahwa film nasional dapat menjadi lumbung budaya dan kehidupan bangsa Indonesia yang sangat plural ini akan semakin penuh arti jika , misalnya, masing – masing kabupaten kota memproduksi satu saja film yang mencerminkan budaya lokal satu saja tiap tahunnya. Dapat dibayangkan, dengan demikian kita akan mendapatkan basis data budaya bangsa lebih dari 440. Dan ini tentu saja mencarminkan budaya dan kehidupan kita yang sebenarnya. Bukan hanya Jakarta sentris atau Jawa sentris.

Saya percaya banyak di antara insan film nasional yang mumpuni kemampuan dan daya kreasinya, sehingga sebenarnya mudah saja mereka menemukan tema – tema yang menarik dari tiap daerah untuk mereka angkat ke layar kaca. Dengan begitu, mudah – mudahan kondisi perfilman kita pelan – pelan beranjak dari tema – tema yang melulu menampilkan glamour, horor murahan, percintaan picisan, dan tema-2 yang hanya mengikut dan mengekor saja.

Tidak perlu kita muluk – muluk untuk membuat film megah dengan biaya wah seperti Titanic, LOTR, atau Avatar. Seharusnya mutiara tema yang menarik dapat ditemukan dari sebaran untaian permata katulistiwa kita ini.  Jika kita mau belajar, tidak semua film hollywood (mau tidak mau harus mengacu ke sana) harus dibuat dengan biaya wah untuk menjadi ”mewah”. Contoh kecil, Film The Holiday yang dibintangi Cameron Dias, Kaye Winslet dan Jude Law bisa begitu menarik, padahal dari sisi budget ”tidak seberapa”, USD 80 juta dibanding USD 200 juta Titanic misalnya. Dan rasanya budget yang ”besar” bagi kita untuk The Holiday itu, kebanyakan untuk aktor – aktrisnya. Dari sisi setting dan perlengkapan, rasanya biasa – biasa saja. Artinya memang keseharian kehidupan di sana.

Alhamdullillah, tidak semua insan film nasional hanya mengejar untung dengan hanya menggarap cerita di langit kalangan kelas atas atau cerita seputar ranjang dan hantu. Paling tidak – hanya sekedar menyebut – Ari Sihasale sudah mulai memunguti mutiara – mutiara Papua dan Indonesia timur lainnya. Sekarang mungkin film2 seperti itu bagi sebagian besar penikmat hanya membekaskan cerita yang berkesan. Tetapi sepuluh, dua puluh atau seratus tahun yang akan datang, makna film itu tentu akan jauh lebih dalam daripada hanya sekedar alur cerita saja.

Semoga film nasional bukan hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Duryudono – Salya Gugur [7], “Wo Prabu Salya, ijinkanlah kematian paduka bagi kami” Januari 11, 2010

Posted by anikeren in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
Tags: , , , , ,
add a comment

Salya di medan laga Kuru Setra, versi India. http://media.photobucket.com/image/salya%20gugur/paryawan/MAHABHA1.jpg

“Wo Prabu, karena sudah jelas bahwa besuk pagi ayahanda Salya akan memimpin pasukan Kurawa menerjang Pandawa dan kami tahu tidak ada satupun prajurit maupun kesatria di dunia ini yang mampu mengalahkan Wo Prabu, maka wo…Kedatangan kami berdua ke Mandaraka ini, daripada kami mati sia sia esuk hari lebih baik sekarang saja kami berdua menyerahkan nyawa kami. Kami mohon, Wo Prabu bersedia membunuh kami berdua saat ini…”. Terkejut bukan kepalang Prabu Salya mendengar apa yang diucapkan Nakula. Merah padam mukanya menahan marah dan kekecewaan.

Bangkit dari duduknya sang raja agung ini,

“Bagaimana???? He..apa yang kamu ucapkan ??!!. Kamu ingin mati di tanganku sekarang? Kembarrr!!, takut perang kamu ya? Takut darah kamu..hey?”. Murka Salya tak terbendung.

“Dakik – dakik, aku baru saja menceritakan bagian demi bagian ketangkasan, kejayaan, keberanian, kaprawiran bapakmu Pandu..we lah kok sekuku pun tidak menetes pada kalian!! We lah…”, Salya menahan napas. Ditahannya amarah yang menggelora seolah hendak menjobol dada, memecahkan kepalanya.

“We..lah, turun ke kamu kok sperti ini?? Kalau boleh saya ibaratkan, bapakmu adalah singa barong. Bapakmu itu gajah…kok turun anak kalian ibarat kodok ! Bahkan precil ! Aku timang timang, aku gadang gadang kalian, harapanku dengan menceritakan kelebihan bapakmu, semoga ada sebagian yang menurun kepada kalian. Wah…hmm… jebul begini jadinya. Ketahuilah oleh kalian…setelah tewasnya kedua kakakmu Burisrawa dan Rusmarata dalam perang ini, aku masih punya harapan kepada kalian. Anak2ku yang lain. Meskipun hanya keponakan, tidak berkurang harapan dan doaku atas kalian..!!! Ayo bicaralah..! Jangan hanya membak membik seperti anak kecil.Apa kalian kira jika kalian menangis seperti itu, aku akan mengasihani kalian?? Ayo jawab..kamu takut perang? Iya??”

Apa yang bisa dilakukan kembar menghadapi murka bapak tuanya ini? Lidahnya kelu, pikirnya kalut, perasaannya tak menentu. Meski mereka lelaki dan sudah dewasa, tak urung air matanya mengalir. “Duh Gusti yang maha agung, terlalu pedih baratayuda ini bagi kamu. Ampunilah hambamu.”, begitu kira2 aduhnya dalam hati. Dengan kata kata tertahan, hampir tak terdengar diberanikannya matur,”Wo..mohon ampun”.

“Tidak…!!! Tidak sudi aku memaafkan orang penakut seperti kalian. Kalian benar2 orang paling pengecut di mataku. Hayo sekarang jawab pertanyaanku?? Baratayuda itu perangnya siapa?!”

“Pandawa Kurawa, wo..”

“Kalian tahu itu perangnya Pandawa Kurawa. Tetapi mengapa begitu banyak pepunden, pinisipuh, yang tidak ada gandeng cenengnya dengan pandawa kurawa ikut jadi kurban? Apa salah Resi Bisma, sehingga harus sekarat meregang nyawa di ladang kuru setra?? Belum lagi senopati seneopati Wiratha bertiga, Utara, Seto, Wrahatsangka gugur sia untuk urusan pandawa Kurawa!!. Apa pula dosa Druna pada kalian, hingga kepalanya terpenggal dan menjadi mainan para ribuan prajurit??. Apa kalian tidak malu dengan mereka yang telah gugur demi kalian, para pandawa?? Mengapa sekarang kalian dan pandawa jadi takut perang??? Belum lagi para muda taruna yang seharusnya menjadi harapan pemimpin bangsa penerus kalian, juga mati sia menjadi benteng kalian. Tidak malu kalian dengan Abimanyu?? Hey…!? Kalian lihat betapa beraninya anak yang baru berumur 19 tahun itu? Dihadangnya ribuan senjata kurawa tanpa mengaduh dan mengeluh, jika bukan karena korban nyawa abimanyu, saya kira kalian pandawa sudah habis oleh strategi perang Bunga Teratai Druna. Lalu….kamu lupa bagaimana gatotkaca, anakmu itu menghadang senjata tanpa tanding Adipati Karna? Hey….!? Kamu lupa????, ayo jawab !!!”

Hanya tangis sesenggukkan yang keluar dari mulut kembar.\

“Kalian terdiam, itu karena kalian lupa atau pura – pura tidak tahu !!??. Mana pandawa, sekarang? Mana Wrekudoro yang gagah perkasa bukan hanya fisiknya, namun juga konon pernah minandita menjadi resi di Gunung IndraKila jaman itu. Namun, di medan laga perang ini sejengkalpun tidak terlihat kaprawiraan dan keberaniannya. Mana keberanian kalian??? Hayo jawab, kataku.”

“Beribu maaf Wo, apapun yang akan wo titahkan kami menerima dengan lapang. Semuanya akan selalu kami anggap wejangan dan nasehat tidak bernilai, namun tetap kami mohon, bunuhlah kami sekarang”. Masih dengan tersedan ucap Nakula.

“Yah….umpama bukan Salya, saya kira sudah timbul rasa kasian kepada bujuk rayu dan sikap memelas kalian itu. Namun, aku adalah Salya yang hidupku di dunia sudah lebih dari seratus tahun. Aku sudah bisa membaca apa yang tersembunyi. Dan jangankann manusia, lemut nyamukpun aku saring, aku kasihtahu kepada kalian. Aku perhatikan semenjak kamu datang, laku jongkokmu mulai dari gerbang pendapa tadi, aku dapat katakan pasti ini bukan niat murni kalian sendiri. Kalian ada yang menyuruh, iya apa tidak??”
“Tidak Wo, keinginan ini datang dari hati kami sendiri…beribu ampun wo.”
“Ah, bukan….kamu pasti ada yang menyuruh”, entah mengapa nada bicara mulai merendah.
“Benar wo, kami mohon mati..”

“Hmm..yah. Begini kembar…kamu menginginkan Pandawa menang bukan? Sekarang ikuti kata – kataku ini.. “

“Bagaimana Wo??”

“Ikuti kata – kataku, ‘Wo..besuk pagi saat wo prabu menjadi senopati perang..’”. Salya memberi jeda ucapnya, Nakula mengikuti “Wo..besuk pagi jika wo prabu menjadi senopati perang..Mohon wo prabu mati di medan perang, ayo katakan..”. Bagaimana Nakula bisa mengikuti perkataan itu? Salya adalah paman tua, pelindung, guru, dan tempat mengadu pandawa, bagaimana mungkin mulutmya mempu mengucapkan permintaan seperti itu? “Bagaimana wo??”

“Sudahlah, ayo kamu ucapkan ‘Mohon wo prabu mati di medan perang’”
Masih belum keluar ucap Nakula, dicobanya berbagi beban dengan adiknya Sadewa, “Bagaimana yayi??”. Hehhh…apalagi Sadewa.Pikirnya buntu, mulutnya terkunci. “Terserah Kang Mas, saya mengikuti dari belakang saja.”

“Ayo katakan, “mohon wo prabu mati di medan perang”". Terucap juga kata kata Nakula, “Mohon…….wo prabu…………mati di medan perang…”

“Aduh anakku ngger….ya ini yang aku tunggu Kembar……”. Dirangkulnya kedua putranya itu, diciuminya berkali sperti dulu dia menimang keduanya waktu bayi.

“Kembar…ya itu yang aku tunggu. Lahir batin lega lila, rela legawa, ikhlas aku mati di medan laga demi kemenangan dan kejayaan Pandawa. Karena memang aku maupun jagad tiada berhak menyalahkan pandawa dalam perang ini. Perang pandawa adalah perang membela keadilan. Pandawa memegang teguh keadilan dan wajib mengadili pihak2 yang harus diadili. Ngger, memang benar jika aku maju sebagai senopati dan tidak lagi mampu mengdalikan marahku, niscaya Pandawa sama sekali tidak mampu melawanku. Namun begini, anak2ku. Dulu aku bertapa di Gunung Argo Belah dan akhirnya ketemu ibumu Kanjeng Ratu Setyawati. Bapak Kanjeng Ratu adalah seorang Resi Raksasa bernama Begawan Bagaspati. Kesaktian Resi bagaspati, niscaya tiada seorang pun kuasa menandingi. Ini karena beliau mempunyai ajian Canda Birawa yang sekarang menyatu dengan kekuatanku. Namun, dia rela mati dan menurunkan aji itu kepadaku. Itu semua karena aku malu mempunyai mertua raksasa sehingga aku meminta kematiannya. Bagaspati memberikan kematiannya, namun bersmaan dengn moksanya raga Sang Resi, suaranya masih menggema dan menungguku di alam tepak suci untuk bersama sama sowan ke haribaan yang maha pemberi hidup. Waktu itu akan sampai pada suatu perang besar saat Salya berhadapan dengan seorang raja berdarah putih. Kembar….”

“Ya wo…”

“Semua ini nanti sampaikanlah kepada pamongmu, Sri Kresna. Saya kira selanjutnya nanti Kresna sudah tahu apa yang harus dilakukan”.

“Baik Wo, sendika dawuh…”

“Sekalian, pada kesempatan kali ini aku sampaikan kepadamu. Segera setelah aku turun dari kursi kerajaan kali ini, babar pisan saya menyatakan diri lengser keprabon. Setelah Salya tidak lagi menjadi Raja Mandaraka nanti, Kerajaan Mandaraka seisinya, beserta seluruh jajahan dan bawhannya aku serahkan kepada kalian, Nakula Sadewa. Kalian berhak atas gelar Sri Baginda Maha Raja Nakula dan Sadewa. Kamu Nakula, akan bertindak sebagai Raja dalam. Sadewa sebgaia Raja Luar. Sebagai raja dalam, Nakula bertugas mengurus hal hal yang terkait dengan urusan dalam kerajaan. Sementara Sadewa, bina lah hubungan baik dan kerja sama dengan raja – raja dan pemerintahan Mancanegara. “

“Beribu sembah dan terimakasih kami Wo atas kepercayaan dan anugerah yang demikan besar bagi kami.”

“Ya…ya. Namun ngger, sebagai Raja benar kalian mempunyai kekuasaan. Tetapi jangan kalian lupakan bahwa kekusaan itu menuntut tanggungjawab dan konsekuensi yang juga sangat berat. Pertama yang harus kalian ingat adalah bahwa, kekuasaan itu harus kalian pertanggungjawabkan kepada yang maha punya kuasa, Tuhan seru sekalian jagad raya. Oleh karena itu anakku, jangan sekali kali kalian meninggalkan aturan yang telah digariskan oleh Yang Maha Menang…”

“Sendika..Wo…”,

(Tobe continued, InsyaAllah)

Masih melanjutkan cerita pulang kampung : Jangan mengaku orang Magetan, jangan mengaku pernah ke magetan sebelum makan Tempe Terung Januari 7, 2010

Posted by anikeren in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
add a comment

Begitulah boleh dibilang, paling tidak bagi orang Desa Terung. Jika kita berkunjung ke Magetan dan sempat bertandang ke pasar sayur di utara maupun pasar kering di pusat kota, hampir dapat dipastikan tempe yang diperdagangkan adalah tempe Terung. Begitu juga di kios makanan, warung, rumah makan maupun restoran – restoran, tempe olahan kebanyakan berasal dari Tempe Terung. Bagi hampir semua orang Magetan, jika disebut tempe, default frase penjelasnya adalah Terung.

Kebanyakan kita, mungkin yang kita kenal adalah tempe batangan. Bisa berbentuk persegi (kotak), seperti yang kita kenal di Jakarta. Atau batangan bundar lonjong layaknya tabung, seperti ditemui di daerah Malang, Pasuruan dan sekitarnya. Dengan batangan seperti ini sebelum mengolahnya, mesti dipotong2 terlebih dahulu. Kebanyakan dibungkus plastik. Tempe Terung berbeda packagingnya. “Dari sananya” dipack berbentuk bujur sangkar tipis sekira 5 – 7 cm sisi sisinya. Bungkus tempe persegi ini terdiri dua lapis. Lapisan utama, merupakan lapisan dalam adalah daun pisang yang masih segar. Bungkus luar biasanya daun pisang bekas bungkus dalam, belakangan lapisan luar digantikan dengan kertas bekas. Dengan packaging khas seperti ini, layak jika diperlukan keterampilan khusus untuk membuat, dan membungkusnya. Mungkin inilah salah satu kekhasan tempe terung.Hanya tangan tangan terampil dan terlatih lah yang mampu mnghasilkan ratusan tempe semenjak sore sampai menjelang malam. Bungkusnya yang daun, bukan plastik, bisa jadi menambah aroma rasanya.

Tempe mindil goreng tpung, plus pecel..hmmm nikmat.

Tempe Terung dapat diolah menjadi berbagai masakan pelengkap makanan pokok atau sekedar digado. Tempe yang masih muda, disebut tempe mindil, dapat digoreng tepung. Gurih renyah, memanjakan lidah. Tempe yang “sudah jadi” dapat digoreng begitu saja atau dirabuki dengan tepung. Untuk rasa lebih renyah dan gurih, serta tahan lebih lama dapat dibuat keripik tempe. Diiris tipis tipis, sebuah tempe terung dapat diiris menjadi 3 atau 4 lembar yang masih tersambung satu sama lainnya. Dibuat berbagai macam sayuran juga nikmat, seperti sayur lodeh atau bobor.Untuk masakan berminyak atau berlemak juga enak, seperti sambel goring tempe. Dibacem juga tidak kalah sedap. Bagi yang menghindari lemak, anda masih dapat menerima asupan protein tinggi tempe dengan cara digarang (digerong tanpa minyak). Dengan adonan sambal cabe, bawang merah, dan garam secukupnya rasanya tak kalah nikmat dengan ayam goreng K**. Dapat dicoba :) . Ada lagi bothok dan oblok – oblok. Hanya orang Jawa Timur mungkin yang kenal, sulit menjelaskannya. Lebih baik dirasakan dan dinikmati saja :) .  Setelah busuk pun, namanya tempe bosok, tempe Terung tetap nikmat untuk disantap

Terung memang menjadi komoditi andalan bagi penduduk Desa ini. Sebagian besar ibu rumah tangga turun temurun menggeluti komoditi tempe ini. Beberapa di antara mereka bahkan menggantungkan hidupnya pada tempe. Kesejahteraaan keluarga membaik, pendidikan anak – anak meningkat dengan bantuan tempe. Setiap pagi berratus karung tempe keluar dari Desa Terung untuk di-ekspor ke – paling tidak- segala penjuru Kabupaten Magetan. Sekarang karung – karung itu kebanyakan diangkut menggunakan angkutan kota. Dulu sampai dengan awal tahun 90 an, setiap pagi jamak kita temui ibu-2 menggendong bakul besar – besar berisi tumpukan tempe. Baik yang sudah jadi maupun yang mindil. Mereka menempuh jarak berkilo – kilo meter dengan berjalan kaki.

Ritual pembuatan tempe dimulai setelah para ibu itu pulang berdagang. Berangkat mereka membawa tempe, pulang menggendong kedelai. Rasanya tanpa istirahat para ibu itu langsung merebus kedelai. Setelah kedelai setengah matang kedelai diiles, dihancurkan sehingga tiap bijinya terpisah menjadi dua bulir kedelai. Mengiles kedelai pun perlu mengangkut ke sumber air (sekarang tempat pengilesan) karena tidak mungkin dilakukan di rumah. Diperlukan banyak air untuk mengilesnya. Selanjutnya bulir – bulir kedelai itu diberi ragi. Sore sampai dengan malamnya bulir kedelai yang sudah diragi dibungkus berbentuk kotak persegi seperti di atas. Membungkus kedelai menjadi tempe – sekali lagi – butuh keterampilan khusus. Tumpukan bungkusan itu selanjutnya digelar, esok paginya sudah siap dipasarkan.

Minimal bagi orang Terung yang dirantau, menu tempe adalaha makanan wajib saat pulang kampung. Begitupun sebagai oleh – oleh. Bagi kami orang Terung, jika bukan tempe terung namanya bukan tempe. Mohon maaf J. Maka jangan heran kalau koper pakaian jika perlu dikorbankan hanya sekedar untuk membawa oleh – oleh Tempe Terung.

Lebih

Lebih baik, meninggalkan pakaian daripada meninggalkan tempe

Jika program pemerintah dalam mewujudkan satu desa satu komoditi, maka tak pelak lagi Tempe adalah andalan komiditi Desa Terung. Sayang, sampai dengan saat ini penyebarannya masih terbatas di Kabupaten Magetan dan sekitarnya. Ketahanan yang tidak terlalu lama mungkin menjadi kendala. Berbeda dengan balado Padang misalnya, atau ledre Bojonegoro, dan makanan kering lain yang tahan berhari – hari, tempe (selain kripik) hanya tahan 1 – 2 hari. Diperlukan terobosan lain untuk lebih menduniakan tempe Terung. Tapi siapa tahu, someday, some how, ada yang mampu dan menjadikannya komoditi andalan Nasional, bukan hanya sebatas bagi Desa Terung :)

Kearifan Lokal di Desa Terung, Melestarikan Alam dengan Bersih Makam Desa …. Januari 6, 2010

Posted by anikeren in Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
1 comment so far

Kerinduan akan kampung halaman kelihatannya merupakan keniscayaan bagi kita semua. Baik dalam tataran dunia maupun ukhrowi. Kita dapat menyaksikan bagaimana saat menjelang Hari Raya Iedul fitri perjuangan yang melelahkan ditempuh oleh sebagian besar masyarakat kita hanya sekedar untuk pulang kampung. Ritual mudik pulang kampung ini tidak hanya saat Hari Raya Iedul Fitri. Saudara – saudara kita yang beragama Kristen pun demikian. Meski tidak seheboh Iedul Fitri, liburan natal dan tahun baru juga sudah mulai terlihat ramai. Semuanya dengan tujuan pulang kampung. Bagi orang – orang sepuh yang merasa sudah kenyang kehidupan duniawi, tidak ada lagi yang dirindukan selain pulang kampung ukhrawi menuju Illahi.

Kerinduan pulang kampung –saat ini duniawi – itulah yang mendorong saya untuk sebisa mungkin pulang kampung. Untungnya bagi saya, saya di rantau adalah orang ”bebas”. Maksudnya saya bukanlah seorang professional yang terbatasi oleh waktu. Jadi saya bisa pulang kampung sesuka hati, asal ada biaya dan kesehatan badan saya bisa pulang kampung. Itu pula yang saya lakukan dua minggu yang lalu.

Sewaktu pulang kampung, kebetulan di Desa kami ada pas ada kegiatan Bersih Makam Desa. Entah kenapa, di manapun saya berada saya selalu berusaha membaur dengan saudara – saudara masyarakat sekitar. Ketika saya kuliah di Bandung, saya lebih memilih tinggal di perkampungan dari pada di asrama mahasiswa misalnya, atau di tempat khusus kos – kosan. Saya lebih memilih kos di rumah penduduk. Dengan demikian saya dapat berbaur dengan warga setempat, minimal keluarga dari ibu kos. Dan Alhamdullillah, di Jakarta pun kami tinggal di perkampungan yang strata sosialnya bervariasi. Saya sangat menikmati pergaulan, cengkerama, dan senda gurau dengan masyarakat dan warga biasa (seperti saya). Di tengah – tengah mereka, saya rasakan hidup ini membumi. Karena kami membicarakan realitas dan permasalahan sehari – hari di antara kami. Ini tentu saja berbeda dengan lingkungan proyek dan marketing di mana saya bekerja. Detil dari ini lain kali saja saya tuliskan.

Maka begitu pagi hari saya sampai rumah di Desa Terung, dan Mbah Putri saya (buyutnya anak – anak saya) memberitahu bahwa sedang acara Bersih Desa, saya tidak menyia – nyiakan kesempatan berbaur dengan warga. Saya ikut nimbrung di Makam terdekat untuk bersama – sama membersihkan Makam. Yah..meskipun sebenarnya saya praktis tidak bekerja, hanya sekedar lihat dan ngobrol-ngobrol saja. Bersih Makam Desa adalah kegiatan membersihkan seluruh makam di Desa Terung. Berbeda dengan pemakaman di Jakarta. Jika di Jakarta biasanya satu (atau lebih) Desa hanya mempunyai satu pemakaman umum yang terpusat, di desa kami ada setidaknya lima makam. Dan masing – masing makam ada nama sendiri – sendiri : 1. Punden, 2. Ndung Gudel, 3. Ndung Sari, 4. Tumbek, dan 5. Si Blorong.

Setiap enam bulan sekali semua makam ini dibersihkan oleh warga desa. Setelah bersih – bersih biasanya kami melakukan ritual slametan. Semua keluarga mengirimkan wakilnya ke tempat slametan dan membawa makanan (biasnaya nasi tumpeng atau ambeng dengan segala lauk pauknya) untuk didoakan dan kemudian dinikmati bersama. Dulu ketika kami masih kanak – kanak, bersih desa dan slametan ini merupakan kegiatan yang sangat kami tunggu – tunggu. Sebab saat itulah kami biasanya makan enak. Bagi kami, makan nasi dengan lauk telur atau ayam, itulah makan enak. Hanya dua kesempatan biasanya kami bisa menikmatinya. Pertama saat ada orang hajatan, kedua ya saat bersih – bersih desa ini. Jadi telur dan daging ayam, atau daging yang lain bukan menu harian kami.

Kegiatan slametan ini seingat saya, dulu diadakan di kuburan/makam. Tetapi rupanya sekarang sudah ada pergeseran yang lebih baik menurut saya. Slametan tidak diaadakan di kuburan lagi melainkan di ruang terbuka umum yang lebih dekat. Kali ini diadakan di perempatan jalan, ruang terbuka yang paling mungkin. Sayang sekali saya tidak bisa hadir, karena saya tertidur. Maklum, perjalanan menggunakan kereta malah marinya memaksa tidur saya tidak cukup.

Bersih – bersih makam desa, awalnya saya pikir kegiatan yang mubadzir. Buat apa makam repot – repot dibersihkan? Bukankah lebih penting lingkungan rumah yang perlu dibersihkan?  Namun kalau kita dapat membaca dan memikirkan lebih dalam, terkandung makna yang lebih berarti daripada hanya sekedar membersihkan makam. Membersihkan-nya sendiripun sudah merupakan kegiatan yang baik bukan. Dalam Islam juga diakui bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman. Jadi apapun yang bersih (dengan makna konotatif tentu saja) adalah baik. Yang kedua, secara filosofis membersihkan makam juga mengingatkan kita akan kampung halaman kita yang sebenarnya nanti. Entah kapanpun dan bagaimanapun caranya, pasti kita akan pulang ke kampung kematian itu. Selain itu ternyata juga ada kearifan lokal di sana. Ketika saya amati saudara – saudara sedesa saya dalam melakukan bersih – bersih, ternyata mereka juga melestarikan alam dengan melakukan penanaman pohon baru. Mungkin ini tidak disengaja, namun secara tidak sadar kami sudah melakukan peremajaan tanaman dan turut menjaga paru – paru dunia J. Di kota besar digembar – gemborkan satu orang satu tanaman akhir – akhir ini. Kami, di kampung sudah melakukkannya sejak puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu.

Beberapa aktivitas warga kami yang melakukan bersih – bersih makam sempat saya rekam dengan kamera HP saya. Sayang kamera digital saya hilang dicolong maling saat perjalanan pulang menggunakan Kereta Api malam sebelum kegiatan itu.

Membersihkan "kampung halaman"

Beramai - ramai membersihkan "kampung halaman"

Membersihkan, melestarikan dengan menanam

Lintas generasi, lintas gender..

“Si Kancil Anak Nakal”, mengajarkan tiada ampunan bagi yang salah.. Desember 29, 2009

Posted by anikeren in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.
2 comments

Pagi hari di gerbong kereta api Gajayana yang dingin. Mulai waktu subuh tadi, display LCD di gerbong menyajikan video “Pendidikan” produksi R Production. Cukup menarik, dengan format kartun konsumsi anak 3 s.d 7 tahun. Meski terlihat hampir smua penumpang adalah manusia dewasa. Mereka target pasar untuk anak anak atau cucu mereka. Begitulah ketika promosi pemasaran diperdengarkan di seluruh gerbong rangkaian kereta.
Ketika disajikan lagi “Si Kancil”, muncul keinginan untuk mengeluarkan uneg uneg ini. Syairnya masih sama seperti yang saya hafal lebih dari 30 tahun yang lalu. “Si Kancil anak nakal, suka mencuri ketimun. Ayo lekas ditangka…JANGAN DIBERI AMPUN”. Wah…jangan – jangan kata – kata ini yang tertanam di hati kebanyakan manusia Indonesia. Jangan diberi ampun!!. Dalam intonasi lagu itu, kata kata ini mendapat penekanan lebih. Dengan demikian, mungkin, tertanamnya di bawah sadar kitapun lebih dalam.
Mungkinkah “didikan” seperti ini mempengaruhi sifat kebanyakan warga bangsa ini? Entahlah. Tetapi yang jelas, fenomena tidak memberi ampun ini menjadi favorit mayoritas masyarakat saat berhadapan dengan yang bersalah. Mencuri ayam, langsung dihajar. Mencuri motor, terangkap, dibakar. Mencuri Kakao 3 buah, bawa ke pengadilan. Masihlah banyak lagi cerita sejenis.
Ah entah berpengaruh atau tidak dengan sifat – sifat tanpa ampun masyarakat kita, syair lagu itu harus diubah menjadi lebih santun dan mendidik. Misalnya “Si Kancil anak nakal, suka mencari ketimun, ayo dinasehati, jangan mengulang lagi”. Khan enak to? Atau ada yang lain?

Baratayudha, Duryudono Salya Gugur(6):Cerita Salya tentang Dewi Madrim Desember 28, 2009

Posted by anikeren in Cerita Wayang Mahabarata, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.
add a comment

Salya di medan laga Kurusetra, versi India. http://media.photobucket.com/image/salya%20gugur/paryawan/MAHABHA1.jpg

Tercekat tenggorokan Nakula Sadewa hatta mendengar tuturan paman sepuhnya, bahwa untuk menebus kesenangan ibunya, bapaknya Pandudewayana rela menghuni Neraka Yomani. Betapa Raja agung ini dapat melakukan kekhilafan yang demikian besar hanya demi cinta kepada istri dan harga dirinya. Dipilihnya siksa neraka yomani daripada menanggung malu sebagai raja agung penguasa astina tidak mampu memenuhi kehendak istri yang disayanginya. Disongsongnya panas dan derita yomani, demi kemewahan dan keistimewaan menunggang Lembu Andini yang hanya segebyarnya kilat seumpama. “Duh…..yang maha penguasa, beribu – ribu ampunanMu hamba mohon untuk ayahanda”, begitu lamunan n sesal Nakula. Hampir tiada kuasa ditahannya air mata kesedihan dan penyesalan itu.
“Anakku ngger….”, tersentak Nakula Sadewa oleh teguran Prabu Salya.
“Meski Pandu raja agung dan penguasa, dan meski dia Bapak kalian. Ambillah yang baik darinya, singkirkan yang buruk.”
“Ya…wo..”
“Sekalian aku beberkan kisah kematian Madrim, ibumu. Sebab..mungkin tidak ada siapa – siapa yang mampu menceritakan seutuhnya kecuali saya.”
“Bagaimana wo?”

Prabu Salya, Wayang Kulit Versi Jawa. http://id.wiki.detik.com/wiki/Salya

“Ya…Waktu…terjadi perang besar antara Prabu Pandu, raja Astina dan Raja Trembuka, Raja Raksasa dri Pringgondani. Kurang jelas apa yang menjadi pangkal perkaranya. Yang jelas, Pringgondani masih merupakan bawahan Astina. Entah mengapa, bebapa kali ‘pisowanan’, Trembuko tidak terlihat menghadap. Hingga menyebabkan Pandu marah. Terjadilah perang besar antara keduanya. Meski hanya sekejap mata ibaratnya, dunia mempergunjingkannya sebagai perang dunia yang pertama. Itu karena dua raja agung saling berperang dan menemui ajalnya”
“Waktu itu, ibumu sedang hamil tua. Mengandung kalian berdua kembar…Dalam perang besar di Ladang Kurusetra itu, bapakmu terkena senjata Keris Kala Nadah andalan Trembuko. Keris itu menancap sampai ke kaki bapakmu, hingga tembus ke bumi. Pada saat bersamaan, Trembuko juga terkena senjata Pandu hingga tewas seketika. Bapkmu pingsan, Keris Kala Nadah dicabut oleh pamanu Yama Widura dan diberikan kepad Harjuna. Bapkmu pingsan, membuat geger seisi istana Astina”
“Berhari hari, Pandu pingsan. Begitu siuman, abdi dalam memberi kabar bahwa Madrim sudah melahirkan kembar. Sampai pula kabar kepadanya mengenai Madrim yang meninggal karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Sakitnya Bapakmu semakin parah begitu mendengar kabar kematian ibumu. Namun demikian, tangannya masih berusaha grayah grayah mengambil kertas dan pena. Dituliskannya dalam selembar kertas itu, nama kalian ‘Kinten’ dan ‘Pangsen’, sambil berkata ‘Aku namakan anakku itu, Kinten dan Pangsen’. Keanehan jagad, kuasa Yang Maha Menang, sekejap setelah itu Bapkmu moksa bersamaan dengan ibumu.”
“Jadi ngger….setelah brol…,kelahiran kalian, tiada lain yang menyusui, mengasuh, mengurus, membesarkan kalian adalah Ibumu Kunti. Oleh karena itu ngger..,biapun hanya ibu tiri, hormati dan perlakukan dia layaknya ibu kandungmu sendiri..”
“Sendika wo…”, Bertambah – tambah rasa sedih dan penyesalan dalam diri Nakula Sadewa. Kesengsaraan dan bebendu dari Yang Maha Kuasa, pun telah dimulai semenjak orang tuanya di dunia fana. Bahkan derita dan papa itu secara tidak langsung harus ditanggung ibu tirinya Kunti dan semua saudara2nya karena ditinggal oleh Bapaknya pada usia dini.
Seolah tahu apa yang dipikirkan kedua anak keponakannya itu, Salya berdiam diri seakan memberi kesempatan untuk mereka menikmati lamunan dan campur aduknya pikiran.
Derita dan sengsara itu mulai bayi sampai dengan dewasa seolah selalu menyertai mereka. Begitu, brol kelahirannya mereka tidak pernah merasakan susu ibunya. Mereka berenam selalu tenggelam dalam cerita kelam. Semasa kanak kanak, merek diecehkan, dipinggirkan. Beranjak remaja berbagai cara dan cobaan dilakukan untuk menyingkirkan bahkan melenyapkan mereka hanya karena mereka dan ketiga saudara tuanya pewaris tahta kerajaan yang sah. Masih jelas terbayang bagaimana mereka hampir hangus terbakar bersama balai balai yang sengaja dibakar setelah pesta balai sigolo. Gusti yang maha agung menyelematkan mereka dengan mengirim korban pengganti. Sebelas tahun di pengasingan dalam hutan tanpa bekal, terasa baru selesai kemarin sore. Hampir seperti manusia primitif mereka menjalani pengasingan itu. Haanya mengandalkan rambahan hutan dan hasil buruan untuk mempertahankan hidup. Hanya kulit kayu dan kulit binatang yang dpat digunakan sebagai penutup tubuh.
Penyamaran satu tahun dan keharusan untuk menutup jati diri bukanlah cobaan yang biasa biasa saja. Tentu saja, jika mengingat mata mata dan kaki tangan Sangkuni tersebar di seluruh penjuru jagad.
Namun….begitulah hikmah dan pelajaran yang diperoleh olehnya dan saudara saudaranya pandawa sungguh luar biasa. Penderitaan, syukur dan kesabaran adalah kombinasi yang mujarab dalam membentuk keteguhan jiwa, ketangguhan fisik, dan keyakinan yang kuat kepada takdir dan kuasa Yang Maha Menentukan. Ibarat emas yang disepuh. Setelah ditempa dan dipanasi, kilau dan kemurniannya semakin terlihat. Maka, setelah beberapa saat mampu dikuasainya perasaan yang berkecamuk, timbul rasa syukur yang tiada terkira di hati dan rasa mereka.
“Kembar….”,Salya memecah kesunyian di antara mereka.
Gelagapan Nakula Sadew, “Ya wo Prabu, mohon maaf..”
“Setelah jelas bagi kalian mengenai riwayatmu, dan ibu bapakmu. Ijinkanlah pun uwo bertanya. Di tengah2 baratayuda saat ini, kalian yang seharusnya mengapit kakakmu Si Puntadewa, mengapa dan apa tujuannya kalian tergopoh ke Mandaraka ngger?”
“Sendika wo, mohon maaf sebelumnya….Wo, semakin jelas kabar yang kami terima. Semua prajurit, tamtama dan perwira juga tentu saja para ‘telik sandi’ yang terlibat dalam peperangan ini mendengar kabar bahwa besuk pagi ‘byar’ begitu matahari terbit, wo Prabu akan bertindak sebagai senopati perang Kurawa dan akan menerabas barisan pandawa. Oleh karena itu wo….”
Terhenti ucap Nakula yang semula ibarat bethet (burung kaka tua) seribu sedang membagi mangsa. Karena ributnya. Nakula tidak mampu menguasai diri begitu sampai pada inti ucapannya yang merupakan pengejawantahan tujuannya sowan ke Mandaraka.
“Wo…”
(Insyaallah akan dilanjutkan, stasiun mediun, 28,12,09:19.45)

Menggunakan kereta api, jika perlu narsislah! Desember 26, 2009

Posted by anikeren in Yang Aku Pelajari.
add a comment

Sudah sering saya dengar kasus penumpang kereta api kehilangan barang dalam perjalanan. Malam ini saya sendiri mengalaminya.
Dengan menumpang KA Ekpress Malam Bima Jakarta Surabaya, samalam berangkat dari Jakarta. Kebetulan saya membawa kamera digital. Belajar dari kasus kasus kehilangan itu saya mencoba berhati2, tidak memasukkan dalam tas pakaian n disimpan di bagasi atas tempat duduk. Sering trjadi maling2 itu lihay dalam membongkar bagasi atas. Tetapi juga tidak mau terlalu berhati2 sehingga narsis menenteng2 kamera dengan slalu mengalungkannya. Maka yang saya lakukan adalah mengikatkan tas kamera di sandaran tangan kursi dekat jendela, dengan tas setengah menggantung di bawah jok. Kalau saya duduk di kursinya, pastinya tas itu tidak terlihat. Dengan demikian saya rasa terjamin keamanannya.
Tentu saja sya terkejut dini hari ini, ketika menjelang stasiun madiun bersiap2 turun kamera sudah raib dari tasnya. Dan gilanya itu maling masih sempat meng-klik kunci tasnya. Berpikir, kapan dan pada kesmpatan yang mana pencuri itu mengambilnya? Mungkin saat ke kamar kecil pertama, tetapi wktu itu masih sore n smua pnumpang msh trjaga. Mungkin saat malam ktika smua pnumpang tertidur? Bisa jadi. Atau saat trakhir mnjelang turun, sya ke kamar kecil tadi? Bisa jadi.
Ya sudahlah, barang itu sudah raib. Rasanya mustahil kembali. Ikhlas saja, mudah2an berguna bagi yang mengambilnya. Salah satu pelajaran. Kalau perlu narsis, narsislah di KA demi keamanan.