Di perkemahan Sang Penasehat Agung Sri Kresna. Di pelataran Kemah Sri Kresna, Kereta Jaladara sudah dilepaskan dari keempat kuda penariknya. Kuda kuda pilihan pemberian para dewa Kahyangan itu mungkin sedang istirahat di pagedongannya. Setelah hampir 2 hari yang lalu menunaikan tugas mulia, mengantar kemenangan Senopati Arjuna mengiringi gugurnya Satria Sejati Karno Basukarno. Terdengar temalu Senjata Bendhe Kyai Panca Janya. Sejatinya itu merupakan tanda bahwa Pandawa akan jaya di medan perang Baratayudha ini.
Di dalam kemah, Sri Kresna nyatanya sedang gundah dan terusik pikirannya. Semakin jelas kabar yang didengar menjelang malam ini. Meskipun awalnya hanyalah semilir trbawa hembusan angin di musim kemarau ini, namun kabar dari para prajurit pemgintai semakin kuat dan terang kebenarannya. Bahwa….sesaat setelah gugurnya Karno Basuseno, Prabu Salya menyanggupi tangisan Duryudono agar dirinya turun ke medan laga menerabas prajurit Pandawa. Ini membuatnya sangat khawatir. Tidak ada isi jagad yang terlewat dari kabar keprigelan dan kesaktian Salya. Selain Raja Agung, Salya adalah prajurit linuwih. Terlebih Salya menyandang Ajian Canda Birawa yang beruwujud raksasa bajang.
Kresna tahu, kesaktian Salya tidak mungkin ditandingi Para Pandawa dan sekutunya. Oleh karenanya, harus ada cara khusus untuk bisa mengalahkan Salya. Kemenangan itu harus diminta kepada Salya, bukan Salya yang ditaklukkan karena itu tidak mungkin.
Dipanggilnya Nakula Sadewa menghadap. Nakula dan Sadewa adalah Pandawa yang berhubungan darah langsung dengen Prabu Salya. Madrim, ibu kandung Nakula Sadewa adalah adik Salya yang ketika muda bernama Narasoma. Narasoma juga yang menikahkan Madrim dengan Pandu, Bapak Para Pandwa.
“Adikku tersayang…Nakula, Sadewa….” Sri Kresna memulai pembicaraan menjelang tengah malam yang sepi itu.
“Sendika dawuh, Kakang Prabu”, jawab mereka hampir serentak
“Ketahuilah adik2ku, setelah gugurnya Kakakmu Adik Prabu Karno, Paman Prabu Salya ditangisi oleh Adik Prabu Duryono. Diminta menjadi senopati Kurawa menerabas barisan Pandawa. Adikku…..jika diingat bahwa Paman Salya itu bukanlah orang yang tidak jelas asal usulnya. Paman Salya termasuk salah satu sesepuh dan pepunden bagi Pandawa, jika demikian adikku…..bagaimana mungkin tangan tangan saudara2mu pandawa kuasa ‘kemlawe’ meladeni krida Paman Salya? Ya meskipun, selama perang ini sudah banyak juga para pepunden yang menjadi korban”.
Sejenak suasana hening nyenyet. Si Kembar hanya tertunduk, menahan kesedihan dan rasa sesak yang memenuhi dadanya. Adalah semua benar apa yang dikatakan Narendra Dwarawati itu. Prabu Salya bagi para Pandawa, apalagi bagi Kembar adalah sesepuh yang masih ada sangkut paut hubungan darah. Ibu Kembar, Dewi Madrim adalah adik kandung tersayang Narasoma, ya Prabu Salya. Bahkan konon kawinnya Madrim dengan Pandu pun, Narasoma yang mengawinkan. Salya juga merupakan guru olah kanuragan dan gelar perang bagi Para Pandawa. Bagaimana mungkin, dengan demikian, Pandawa akan dapat tega menarik busur panah, mengayunkan pedang, menghujamkan gada ke badan Prabu Salya?
Kresna melanjutkan ujarnya, sebelum Nakula tenggelam lebih dalam dalam lamunan udarasanya.
“Yayi….kembar….Apalagi jika Kakang ingat. Rama Prabu Salya dalam dirinya tertanam ajian Condo Birowo. Meskipun secara wadat fisik hanyalah berupa raksasa bajang, namun yayi…..Raksasa ini jika terluka akan mampu melipatkan diri. Satu menjadi sepuluh, sepuluh menjadi seribu, seribu menjadi sejuta dan tentu saja akan memenuhi Ladang Kurustra. Lalu, kita dapat membayangkan bagaimana Pandawa dan para prajurit Pandawa akan mampu menanggulangi ajian Condo Birowo itu, adikku??. Kembar….”
“Sendika dhawuh Kakang Prabu….”
“Kakang ada rekayasa..,caranya kalian berdua datanglah ke negeri Mandaraka. Sowanlah ke Rama Prabu Salya. Tidak perlu matur apapun selain ‘Paman prabu..kami berdua mohon dibunuh sekarang juga’ “
“Baik…Kakang Prabu…meskipun belum terlalu jelas bagi kami maksud dhawuh paduka, kami akan segera melaksanakannya. Kapan kami harus ke Mandaraka?”
“Jangan sampai kedahuluan waktu, kembar..pergilah sekarang juga”
“Sendika…kami berdua mohon pamit dan doa restunya…”
Keluar dari perkemahan, kepala nakula sadewa dipenuhi rasa tanda tanya dan kebingungan yang mendera dera. Takdir ini terasa terlalu berat baginya. Mengapa Baratayudha harus memakan korban yang sejatinya masih sedarah daging. Tidak terbayang sebelumnya bhwa mungkin saja ujung hidupnya akan berada di tangan sesepuh yang selama ini begitu sayang dan melindungi dirinya? Tidak terbayangkan sebelumnya kasih sayang dan welas asih antara Pandawa dan Rama Salya akan berujung pada pertumpahan darah di Ladang Kurustra. Terbayang pula di pelupuk mata mereka, Raksasa Canda Birawa akan memenuhi ladang peran, menghisap darah dari kepala ribuan prajurit Wiratha dan bahkan para pandwa pun tidak akan mampu mengelak dari buasnya jutaan raksasa itu.
Perlahan diteguhkan hatinya….Dikumpulkannya kepingan harapan yang tersisa. Secuil demi secuil keprasahan kepada Sang Penguasa jagad dirapikannya. Mereka harus percaya kepada Sang Pamong Agung Pandawa, Sri Kresna. Sudah terbukti bahwa selama ini dan selama Pandawa tunduk pada nasehat Sri Kresna, selalu kebaikan yang dituai.
Saat itu, malam sudah hampir menyergap jagad. Mega kemuning di angkasa sudah tak tersisa disapu gelapnya malam. Semilir angin malam membawa bau amis darah, anyir bangkai dan sobekan daging dari Ladang Kurustra sisa perang siang tadi. Nakula Sadewa cekatan merakit kereta. Menyiapkan kuda kembar penariknya. Ditanggalkannya keris yg biasa selalu disandangnya. Guna menunjukkan kepada punggawa dan penguasa Mandaraka bahwa kedatangannya ke Mandaraka bukanlah untuk melawan Sang Uwa.
Perlahan kereta yang ditarik kuda kembar itu menyisir Ladang Kuru Setra sisi perbatasan Wiratha. Dalam perjalanan tiada lain yang ada di antara kedua saudara kembar itu selain diam dan bisu. Mereka tenggelam pada pikiran masing – masing. Yang rasanya seirama. Nada – nada pikiran mereka yang tidak terdengar adalah penyesalan, kesedihan, dan kekecewaan. Mengapa takdir ini menimpa mereka ? Mengapa perang ini harus mengorbankan sanak kadang, pawong mitra, para sesepuh yang masih darah daging sendiri.
Langkah demi langkah kuda kereta semakin menjauhkan mereka dari Kuru Setra. Dari kejauhan sesekali bayangan mereka timbul tenggelam seiring kabut malam yang diterpa angin.
Di Mandaraka…
Prabu Salya baru saja turun dari kereta saat itu. Kedatangannya disambut hangat penuh kerinduan oleh Sang Ratu Dewi Setyowati. Tangan kanannya dituntun turun dari kereta dan digandeng Sang Istri tersayang. Sungguh pasangan sepuh yang wujud dari doa dan kodangan para pinisepuh puluhan tahun silam saat mereka dinikahkan di pendopo agung. Sampai saat ini meskipun sudah berputra lima putra putri, bercucu belasan, kemesraan itu tak pernah terlihat luntur. Bahkan terlihat semakin kukuh, membuat iri yang memandangnya. Dari pendopo agung, saudara sepupu mereka, Dewi Sugandini memandang dengan wajah sumringah demi melihat majikannya yang penuh kemesraan itu….
Komentar Terakhir