Hati – hati dengan Bahan Bakar Solar Januari 14, 2012
Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Sayang Dilupakan.add a comment
Beberapa kali saya mendengar dari beberapa teman tentang kualitas BBM, khususnya solar, di Tanah Air. Katanya kebanyakan mobil – mobil kelas menengah atas di Eropa kebanyakan bermesin disel. Hal demikian tidak terjadi di Indonesia karena – katanya – kualitas solar di Indonesia buruk. Hari ini saya mengalami sendiri. Kendaraan saya bermesin disel dengan pertimbangan katanya bandel, dan memang buat kami lebih cocok mengingat ekonomis, dan mampu mengangkut banyak orang karena keluarga kami banyak. Mobil disel itu keluaran tahun 2005 dan saya menggunakannya sekitar setahun lalu. Selama setahun ini tidak pernah ada keluhan apapun. Apalagi mogok saat digunakan. Tapi hari ini rupanya tibalah saat naas saya. Mobil itu awal tahun lalu dipinjam famili untuk liburan ke Jawa Tengah – Jawa Timur. Kembali sekitar minggu lalu dengan tangki solar full. Lumayan juga tidak akan ngisi solar lagi untuk beberapa hari, pikir saya. Hari ini dari indikator terbaca solar masih setengah, cukup lah. Saat melaju tol, tarikan gas tiba – tiba terasa aneh. Saat diinjak tidak ada tenaga, terasa bahan bakar tidak mengalir semestinya. Mogok di tengah kepadatan tol JORR. Petugas Tol datang tak lama kemudian. Dengan bantuan mereka, pompa solar dikutak – katik bisa jalan lagi. Keluar pintu tol dengan hazard, ketemu bengkel sekenanya yang saya sendiri ragu. Tetapi tidak ada pilihan lain. Mobil saya tinggal jumatan. Kembali jumatan beres. Kata montir itu hanya pompa solar saja yang lemah, tapi masih bisa digunakan. Aman. Masuk Cijantung tujuan Meruya. Keluar tol ulujami ngadat lagi pas menjelang rel kereta Ulujami. Kutak – katik sendiri pompa solar, buang solar yang tersisa di situ. Masih bisa jalan dipaksakan, dengan kekhawitiran jangan – jangan mogok di tengah rel, dengan harapan ketemu bengkel secepatnya. Alhamdullilallh lolos rel. Pas selepas rel mogok, hujan, pas banget nih “penderitaan”. Alhamdullillah, ketemu Mas pengelola kios air minum isi ulang di sekitar rel itu. Darinya dapatlah Pak Puji, montir rumahan sekitar situ. Meski montir free lance, kayaknya dia professional. Terbukti alat – alatnya komplit dan sesuai dengan diagnosanya. Diagnosanya adalah masalah di filter solar, bukan di pompa solar seperti montir pertama tadi. Dan benar, saat filter solar dibuka. Isinya bukan solar, tapi air . Alhamdullillah sejaman beres, dan mobil bisa dihela lagi. Tapi rasanya masih ada sisa air di tangkinya itu. Maka saran P Puji isi biosolar – yang lebih baik kualitasnya daripada solar – sampai full tank. Dan kalau belum sempat dikuras nanti, mengisi biosolar lagi jangan sampai menunggu indikator tangki di bawah separo, agar semaksimal mungkin biosolar yang tersedot ke mesin. Bukan air yang kemungkinan masih tersisa. Terimakasih P Puji dan Mas Pengelola Kios isi ulang, dan hati – hatilah pengguna mesin disel.
Makna Lagu Dolanan Gundhul-2 Pacul Desember 30, 2011
Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.add a comment
Lagu dolanan “gundhul – gundhul pacul” bagi anak – anak (jaman dulu) yang dibesarkan di lingkungan Jawa merupakan lagu wajib. Rasanya tidak ada teman sepermainan saya dulu yang tidak hapal lagu ini. Nadanya riang, liriknya sederhana sehingga mudah dihapal. Meskipun simpel ternyata lagu ini memiliki makna yang dalam. Saya sendiri baru tahu. Luar biasa terutama untuk para pemimpin berkaca.
Ulasan ini saya dapatkan dari grup BBM, saya kopi apa adanya. Terimakasih buat DeWa yang sudah mau share…
Tembang Jawa ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yg dalam dan sangat mulia.
Gundul adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. jd gundul adl kehormatan tanpa mahkota.
Pacul adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. jd pacul adl lambang kawula rendah, kebanyakan petani.
Gundul pacul artinya adl bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul utk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya/org bnyk.
Orang Jawa mengatakan pacul adlh papat kang ucul (4 yg lepas).
Kemuliaan seseorang tergantung 4 hal, yaitu bgmn menggunakan mata, hidung, telinga n mulutnya.
1.Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat/masy/org bnyk.
2.Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata adil.
Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.
Gembelengan artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.
GUNDUL2 PACUL CUL artinya jk orang yg kepalanya sdh kehilangan 4 indera itu mengakibatkan
GEMBELENGAN (= congkak/sombong).
NYUNGGI2 WAKUL KUL (menjunjung amanah rakyat/org bnyk) dg GEMBELENGAN (= sombong hati), akhirnya
WAKUL NGGLIMPANG (amanah jatuh gak bisa dipertahankan)
SEGANE DADI SAK LATAR (berantakan sia2, gak bermanfaat bagi kesejahteraan org bnyk)
•ˆ⌣ˆ• dalem ya maknanya…•ˆ⌣ˆ• Dan Hebat pencipta nya
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Melawan GBS November 7, 2011
Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan.add a comment
Apa yg bisa dilakukan saat Allah mempercayakan penyakit langka seperti GBS kepada kita selain berusaha melawan penyakit itu dengan sgala pengorbanan dan daya upaya yang kita bisa. Itulah yg coba kami lakukan, saya, istri dan anak2 ketika si bungsu terpilih untuk menyandang penyakit itu.
Sekitar lebih dri 3 minggu yang lalu anak saya mengeluh pusing dan dada sesak. Kemudian dibawa ke klinik dekat rumah seperti biasa. Seminggu setelahnya, keluhan bertambah mata dirasa sakit saat melirik. Betis dan lengan mulai sakit, napas sesekali sesak. Kembali dibawa ke klinik. Dokter langganan kami menyarankan agar kami ke dokter spesialis anak. Selasa tiga minggu yg lalu kami bawa dia ke dokter spesialis anak. Didiagnosa semua organ dalamnya baik baik saja. Kecurigaan dokter waktu itu, anak kami kekurangan kalsium di tulang yang mengakibatkan rasa nyeri di otot2nya. Diberilah dia obat asupan kalsium. Porsi susu dan makanan berkalsium juga harus ditambah. Tiga hari berikutnya, keluhan tadak berkurang malah bertambah. Dia mengeluh, mengangkat tangan untuk mengenakan bajupun tak bisa. Apalagi mengancingkan baju. Pekerjaan sesepele itu bisa membuatnya menderita karena sakit di ujung jari jika menekan kancing baju hanya untuk memasukkannya. Saya mulai curiga, ada yang tidak beres dengan anak saya. Dia masih sekolah seperti biasa. Tetapi tidak kuat mengangkat tas sekolahnya untuk digendong. Berat badan menurun drastis. Cara berjalan sudah jauh dari normal. Bangun dari duduk mengalami kesulitan karena sakit. Wajar kalau dia sama sekali sudah tidak mau shalat. Allah, waktu itu kami masih belum ngeh dia menderita sakit parah. Kami masih saja memaksa dia untuk makan dan mengambil makanan sendiri ke lantai bawah. Kami masih menganggap dia pegel biasa saja, setelah ikut ekstra kurikuler main sepakbola beberapa hari sebelumnya. Toh akhirnya dia tetep tidak mau makan dan pada akhirnya, saya mengambilkan makan dan menyuapinya.
Kami masih menunggu jadwal konsultansi dengan dokternya pada hari selasa berikutnya. Selasa minggu minggu lalu, kembali kami membawanya ke dokter spesialis anak di RS Harapan Bunda, Pasar Rebo. Dokter sudah mulai curiga, mungkin penyakitnya minsemnia(?), tapi harus dipastikan pemeriksaannya dengan EMG. Di RS Harapan Bunda, tidak ada alat dan dokter yg bisa memeriksa EMG itu. Maka dirujuklah ke RS Pondok Indah. Dokter minta sesegara mungkin. Maka malam itu juga kami ke RS Pondok Indah. Dari hasil pmeriksaan, anak saya terkena GBS. Dari keterangan dan cara dokter menjelaskan, penyakit ini berat, langka dan biayanya sangat mahal. Saya dan istri masih mencoba tenang saat itu. Saya sendiri sudah menyiapkan mental untuk menerima ini. Karena dari awal saya sudah melihat keanehan penyakit anak saya. Berkali2 dokter menyarankan harus sgera diambil tindakan, kalau perlu malam itu juga masuk perawatan. Dan kalau tidak, malam ini sama sekali tdak boleh ditinggal. Begitu terlhat agak sulit brnapas harus segera ke IGD.
Kami masih tenang. Karena melihat kondisi anak kami, dan karena kami belum tahu sama sekali apa itu GBS. Keluar dri rumah sakit, di perjalanan pulang istri browsing internet. Dia mulai membacakan apa yang diperolehnya. Beberapa referensi di dapatnya :
http://perawattegal.wordpress.com/2011/08/07/mengenal-lebih-dekat-penyakit-gbs/, http://news.okezone.com/read/2011/08/01/338/486719/gbs-penyakit-mematikan-yang-diawali-kesemutan
Dalam hati dan pikiran saya mulai stress saat mendengarnya sambil menyetir. Tetapi saya masih mencoba tenang. Setidkanya anak saya masih sadara dan masih bisa melakukan aktivitas normal meskipun – mungkin – dengan penuh penderitaan.
Alhmadullillah, malam itu kami lewati tanpa ada kejadian yang mengkhawatirkan. Saya hanya bisa tawakkal dan pasrah. Rabu pagi kami ke Rumah Sakit Harapan Bunda, anak saya harus masuk perawatan. Meski dia berusaha menunjukkan kekuatannya. Dia tidak mau dirawat sama sekali dan merasa biasa – biasa saja.
Pukul 10 an setelah selesai urusan administrasi rawat inap dan anak kami masuk kamar perawatan, kami mendapatkan resep. Saya tidak tahu sama sekali apa yang harus dibeli. Siapa orang awam yang bisa membaca apalagi mengartikan tulisan tangan dokter di resep? Suster bilang obat ada di apotik lantai 2, ternyata tidak ada. Di apotik lantai satu, juga tidak ada. Apotik terdekat di RS tidak ada. Sampai tidak kurang 8 apotik umum dan 3 apotik RS saya datangi, tidak ditemukan. Baru saya temukan di apotik Kimia Farma RSCM jam 4 sore. Ternya yang harus dibeli adalah alat injeksi untuk mengambil cairan sumsum tulang belakang. Dokter RS Harapan Bunda masih perlu memastikan bahwa benar penyakitnya adalah GBS. Sebab hari itu juga ada petugas dari Dinas Kesehatan yang memeriksa anak saya. Dia juga belum yakin itu GBS. Sebab melihat gejala fisiknya, bukan GBS. Saya baru tahu, jika terkena GBS lebih dari seminggu umumnya sudah lumpuh sama sekali. Teapi anak saya masih bisa mengangkat kaki tangan sambil tidur meski disertai gemetaran dan kesakitan. Jadi mungkin polio dan kalau polio perlu didata oleh Dinas Kesehatan.
Ternyata dokter tidak berhasil mengambil cairan sumsum tulang belakang anak saya meski telah ditusuk 8 tusukan di punggung bagian tulang belakangnya. Jadinya dokter hanya mempertimbangkakn hasil pemeriksaan EMG dan konsultansi dengan dokter RSCM untuk memastikan bahwa anak saya GBS. Dengan demikan harus diambil tindakan segera. Maka diputuskan anak saya harus diasupi Immuglobine, belakangan saya tahu (salah satu?) nama merek obat itu adalah Gamaraas. Penderita GBS harus diasupi obat ini lima hari berturut – turut. Satuan yang diasup tergantung berat badan. Untuk anak saya waktu itu berat badannya 26 – 27 KG. Baginya diperlukan 4 botol sehari.
Maka setiap hari pekerjaan saya adalah memburu obat itu. Karena penyakitnya langka, maka obatnya juga sangat jarang, selain mahal tentu saja. Wajar dari berita – berita, untuk merawat dan mengobati penyakit sejenis GBS ini bilangannya puluhan bahkan ratusan juta. Beruntung Rabu itu Harapan Bunda ada stock Gamaras 4 botol. Hari ke dua stok sudah tidak ada, maka saya mengulang lagi berburu Gamaras ini. Bahkan di Apotik RSCM pun tidak ada. Petugas bilang bisa pesan datang esok harinya, dan perlu dibayar kontan hari itu. Saya tidak peduli, yang penting untuk konsumsi besuk harus ada. Saya bayar senilai Rp. 2.750.000/botol untuk 4 botol. Tentu saja saya masih stress memikirkan untuk hari itu bagaimana? Jika di RSCM saja tidak ada? Syukur Alhamdullillah di apotik Titi Murni Kramat Raya, obat itu ada meski harganya lebih “mahal”. Aman untuk hari ini.
Hari Jum’at apotik RSCM membuat saya stress. Baru 24 jam kemudian – setelah saya membayar kontan lunas sesuai harga meski barang baru mau akan dipesan – memberi tahu obat belum dipesan karena harga sudah naik 10 %. Yang diinformasikan ke saya kemarin adalah harga lama. Ini gila saya pikir, kesehatan orang dibuat mainan begini. Buat kami harga sangat bermasalah. Kalau bilangan harganya ratusan ribu mungkin tidak seberapa. Tapi ini jutaan dan jumlahnya tidak sedikit. Lebih gila lagi obat belum tentu ada, padahal asupan untuk anak saya tidak boleh jeda. Baru kali itu saya marah – marah dan memaki – maki ibu – ibu itu. Maaf Bu, toh saya sudah minta maaf juga. Dalam kepanikan saya langsung ke Titi Murni, beruntung di Titi Murni bisa dipastikan barang bisa dipesan dan saya bisa menunggu. Kalau tidak, saya tidak tahu mesti bagaimana. Siangnya baru kemudian apotik RSCM menghubungi lagi dan bersedia menanggung kenaikan harga secara bersama. Saya menanggung 50%, apotik menanggung 50% nya. Ya sudahlah, apa boleh buat. Adakah pillihan yang lebih baik buat kita yang mengalami nasib seperti ini? Tetapi tetap Apotik Kimia Farma RSCM tu tidak menepati janji. Hari itu ternyata barang juga ga bisa datang. Baru keesokan harinya mungkin datang. Saya hanya pasrah. Tetapi untungnya saya sudah melihat gelagat tidak baik dari apotik RSCM. Untuk hri itu, sebelum saya dihubungi apotik RSCM saya sudah pesan di Titi Murni kembali. Jadi hari itu saya sudah tidak peduli dengan obat dari apotik RSCM itu.
Hari ini asupan Gamaraas untuk anak saya sudah selesai semalam. Alhamdullillah kondisinya sudah semakin membaik. Semua pegal – pegal sudah tidak dirasakannya lagi. Lengan dan kakinya sudah tidak sakit saat ditekan. Makannya juga normal. InsyaAllah Rabu ini sudah bisa pulang, mudah – mudahan.
Anak kami terkena penyakit GBS November 2, 2011
Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari.2 comments
Anak kami terkena GBS.
Tidak ada yg bisa kami lakukan selain menerima dan berbuat apa yg bisa kami lakukan ketika mngetahui anak kami didiagnosa menderita GBS semalam. Saya sndiri tidak tahu ini pnyakit apa lagi sampai kemarin malam dokter yg memeriksa memberi penjelasan mengenai itu. Kurang lebih GBS adalah suatu penyakit yg terjadi akibat sistem kekebalan tubuh menyerang dirinya sendiri.Kasus anak saya, sistem imun tubuh ini menyerang syaraf otot kaki, tangan, dan tenggorokan. Akibatnya dia merasa sakit di kaki dan tangannya, tenggorokan juga sakit dan sering tersedak saat minum. GBS kata dokter termasuk penyakit yang sangat jarang jika tidak bsa dibilang langka.
Sering kali kita melihat mendengar orang lain menerima musibah. Entah penyakit berat dan aneh, kecelakaan, atau bencana alam. Kita (saya mungkin tepatnya) selalu berfikir semua itu untuk “mereka” atau “dia”. Tetapi belakangan ini sya belajar, kalau hal hal ‘buruk’ itu bsa menimpa ‘dia’ atau ‘mereka’, tidak mustahil pula akan menimpa diri saya. Sebelum kjadian anak sy terkena GBS, trus terang sya sdah berfikir suatu saat saya bisa juga terkena hal hal tidak menyenangkan sperti itu. Dan saya belajar pasrah dan berdoa saja. Semakin jelas bhwa ada kekuatan luar biasa yg mngatur kita smua. Ini mengingat GBS misalnya, adalah penyakit yg sampai sekarang sulit dicari penyebabnya dan demikian mustahil melakukan upaya mencegahnya. Yg bsa dilakukan adalah berupaya mengobati jika sudah terjadi.
Hari ini, anak kami insyaallah memulai perawatan di RS. Dan kami harus belajar menerima dan berbuat semaksimal mungkin untuk kesembuhan anak kami. Tidak perlu ada yg diratapi atau dipersalahkan. Tidak perlu lagi menanyakan, mengapa dari 40.000 orang kemungkinan yg terkena 1 orang, yg 1 orang ini anak kami?? Allah sudah memilih kami, itu saja jawaban yg kami temukan.
Lahaula wala kuwata ila billah
Menyetor Data Diri untuk e-KTP Oktober 27, 2011
Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Sayang Dilupakan.add a comment
Hari ini kelurahan kami melaksanakan pendafataran dan penyetoran data warga untuk eKTP. Saya tulis penyetoran data, karena memang hari ini warga hanya menyetorkan data masing masing. Data disetor secara digital, semuanya serba citra identitas diri. Buat kita yang awam, citra disini maksudnya adalah rekaman gambar data data biologis kita seperti gambar semua sidik jari, gambar poto muka, dan gambar mata (retina) kita. Dalam istilah keamanan dan kerahasiaan informasi semua gambar tadi adalah ‘apa yang kita punya’. Selain apa yang kita punya, kode keamanan informasi biasanya dilengkapi dengan apa yg kita tahu. Untuk KTP ini berupa tanda tangan.
Proses penyetoran data warga dilakukan dengan merekam identitas dan ciri yang kita punyai. Perekaman sendiri untuk satu penduduk tidak lama, antara 2 – 4 menit. Bagi orang muda atau ada background pengetahuan konmputer atau perangkat digital bisa cepat, 2 jam selesai. Tetapi bagi warga yg sudah sepuh bisa lebih lama.
Pertama akan dicocokkan data kita dengan basis data kependudukan yg sudah ada. Data ini seperti nama lengkap, golongan darah, alamat akan dikonfirmasi ulang. Selanjutnya pengambilan gambar diri, pas photo. Sesudah pas poto, perekaman tanda tangan yg disimpan secara digital. Kemudian perekaman 4 sidik jari tangan selain jempol kiri kanan. Perekaman jempol kiri kanan, berikutnya. Terakhir urusan sidik jari adalah direkam telunjuk kiri kanan. Terakhir perekaman retina mata. Kita diminta mengintip alat rekam, tapi dengan mata membelalak. Kemudian tanda tangan sekali lagi. Selesai. E KTP belum ditrima hari ini trnyata. Belum tahu kapan ditrima. Warga menunggu saja pemberitahuan dari kelurajan atau rt setempat.
Mengurusi warga yg banyak dan bermacam macam, tentu beda – beda yg ditemui oleh para petugas perekaman data itu. Pada beberapa kesempatan diperlukan kesabaran ekstra. Apalagi saat petugas tidak tahu latar belakang warga itu. Seperti saat menghadapi warga yg sudah sepuh dengan pendengaran yg sudah jauh berkurang. Komunikasi sulit nyambung. Ditanya golongan darah dijawab datang sendiri. Diminta ngadep kamera, menjawab keluarganya yang lain nanti saja.
Terlepas dari berbagai kontroversinya, semoga eKTP ini benar – benar bermanfaat bagi warga dan bangsa kita.
Beberapa gambar aktivitas perekaman data:
Ke pabrik kotak tinta Epson, Batam… Oktober 21, 2011
Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Jalani (Perjalanan), Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi, Yang Sayang Dilupakan.2 comments
Di sela urusan pekerjaan, saya sempatkan mengunjungi seorang teman lama yang menjadi salah satu manajer di PT. Epson Indonesia Batam. Ternyata yang saya dapat bukan hanya kunjungan biasa silaturahmi dan semacamnya. Lebih dari itu saya mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang memperkaya wawasan saya. Pada kesempatan itu diajaknya saya berkeliling pabrik untuk melihat – lihat proses dan cara kerja pembuatan kartu tinta di Epson.
Banyak hal baru saya dapatkan dari kunjungan ini. Seperti yang saya dengar selama ini mengenai budaya kerja perusahaan – perusahaan Jepang, keteraturan, kedisiplinan, dan kebersihan terciri kuat di Epson. Mesin dan orang – orang bekerja sesuai dengan porsi dan bagiannya masing – masing. Pekerjaan yang spesifik dilakukan secara tekun dan terus menerus menjadikan mereka sangat paham di bidangnya. Mesin – masin perakit cartridge, pengisi tinta, pengepak cartridge dan uji kualitas terjajar rapi sesuai dengan tempat dan urutan semestinya. Disusun sedemikian rupa sehingga memudahkan pengendalian dan perawatan dan pemeliharaan jika diperlukan. Robot – robot perakitan cartridge, pengisian tinta, dan pengepakan hasil akhir dibuat transparan di dalam “lemari” kaca yang terstandardiasai. Agaknya ini bertujuan agar memudahkan perawatan dan pemeliharaan.
Pabrik dan ruang kerja lainnya sangat bersih, lantai licin seperti selalu terlihat setelah dipel. Apalagi ruang produksi, harus bebas dari debu setitikpun. Sebelum masuk ruang produksi, semua orang (pekerja, pengunjung) harus mengenakan pakaian dan sepatu khusus dilengkapi dengan masker dan sarung tangan. Kemudian masuk ruang pembersih debu, baru bisa masuk ruang produksi. Sarung tangan dan masker hanya sekali pakai untuk kemudian dicuci dan disterilkan.Di luar area produksi pun tidak kalah bersihnya. Setiap lantai selalu bersih licin terlihat seolah selalu habis dipel. Di kantin, meja – meja makan karyawan hanya terlihat “rame” saat waktu makan. Segera setelah itu meja bersih kembali. Para karyawan dengan kesadaran sendiri membereskan dan membersihkan limbah apapun sisa makan mereka. Di meja makan tidak tersedia tisu, melainkan handuk lap tangan yang lebih hemat dari pada tisu kertas.
Bukan hanya kedisiplinan dan ketekunan kerja yang menjadi fokus Epson. Sisi manusiawi dan kebutuhan rohani karyawannya pun sangat diperhatikan. Koperasi karyawan tumbuh baik. Masjid di lingkungan Pabrik menempati tempat yang representatif, luas dan juga selalu bersih. Para pekerja masuk kerja mulai jam 8 pagi s.d. jam 5 sore, istirahat untuk makan siang dan sholat jam 12 – 13. Namun di antara waktu pagi dan sore itu ada break 15 menit. Jadi sekitar jam 10 an mereka break untuk sekedar ngopi atau keperluan lain. Bahkan banyak di antara mereka memanfaatkan waktu break untuk sholat Dhuha.
Epson Indonesia (Batam) ternyata merupakan salah satu pabrik andalan Epson untuk seluruh dunia. Untuk produk cartrdge dan tinta jenis ini, dari Batam menguasai 60 % pasokan Epson di dunia. 40% sisanya dibagi antara UK, AS, China, dll. Prestasi Epson Indonesia di tingkat Epson global juga membanggakan. Sering sekali mereka mendapatkan penghargaan untuk kompetisi – kompetisi berbagai level pegawai di tingkat Epson Internasional. Hampir semua robot pekerja di Batam dirakit oleh teknisi Epson Batam yang hampir semuanya orang lokal. Tergambar bahwa, secara individu setidaknya, Bangsa kita setidaknya utuk kasus Epson ini tidak kalah bahkan sering unggul dibandingkan bangsa lain. Bahkan dengan orang Jepang sendiri. Kata teman, satu kekurangan kita yang paling mencelakakan adalah kesulitan untuk diatur dan menyesuaikan dengan sistem yang disepakati. Kebanyakan dari kita merasa paling jago dan susah diatur. Inilah yang membedakan bangsa kita dengan bangsa Jepang. Katanya, orang jepang sangat patuh pada sistem dan disiplin mengikuti. Bahkan jikapun Boss menyuruhnya mati, dia mau melakukkanya.
Beberapa gambar yang saya ambil menggunakan ponsel di antaranya terlihat seperti di bawah.
Diproteksi: MPPL, Business Case – Contoh KAK & RAB Oktober 5, 2011
Posted by Mujiono Sadikin in Yang Aku Pelajari.Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.
Satu lagi teman SMP menghadap ke RahmatuAllah SWT September 16, 2011
Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.add a comment
Innalillahi wa Inna Illaihi rooji’un, ngaturaken bela lelayu saking kula sakkeluargi. Mugi Gusti ingkang murba ing dumadi anampi sedaya kesaenan lan bektinipun ingkang suwargi. Lan mugi, sanak kadang pamong mitra ingkang tininggal pinaringano kekiyatan lan kesabaran. Sejatosipun menika dados pepenget kangge kita sedaya, bilih namung antri.
Eling elingo kabeh manungsa, yen wis teko titi mongsa.
Menawi Gusti kagungan kersa.
Gelem ora kudu iya.
Ora ana janji sulaya.
Numpak kereta roda manungsa.
Sanak kadang melu ngiring,
Donya brono melu nyandhing.
Nanging ora ana sing melu.
Kari amal, anak sholeh, lan ilmu.
Ingkang ngiring ndherek nunggu.
Pangadilan sing bener lan iso digugu.
Anakku, Kita bebas memilih. Pilihan kita lah yang menentukan akan bagaimana dan jadi apa kita kelak. September 13, 2011
Posted by Mujiono Sadikin in Untuk Anak - anakku, Yang Aku Pelajari, Yang Aku Pikirkan, Yang Aku Senangi.add a comment
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi (dan apa-apa yang ada di, pada, dalam, antaranya) dan silih bergantinya siang dan malam terdapat pelajaran bagi orang – orang yang mau berfikir (QS. Ali Imran 190).
Di sebuah sarang di atas pohon entah di mana, tinggallah induk burung elang dengan beberapa ekor anaknya yang masih bayi. Setiap hari induknya terbang mengangkasa mencari mangsa untuk anak – anaknya. Begitulah keseharian mereka sampai suatu saat anaknya beranjak dewasa dan siap belajar mengarungi angkasa mencari mangsanya sendiri. Meski begitu mereka belum cukup mahir untuk mendapatkan mangsanya sendiri. Indunknya masih dengan telaten mencari dan menyuapkan potongan daging ke paruh – paruh anaknya. Ada salah anaknya yang malas belajar mencari mangsa. Ketika saudara – saudaranya yang lain belajar mengangkasa memburu mangsa, anak elang yang satu ini memilih bermalas – malasan di sarang menunggu suapan induknya yang masih setia menyuapi semua anak – anaknya itu. Entah karena alasan apa, induk elang itu tetap setia menyuapi semua anaknya tanpa membeda – bedakan satu dengan yang lainnya. Tanpa memandang yang malas maupun yang rajin belajar mengankasa. Sampai suatu alasan entah mengapa induknya tidak kembali ke sarang untuk selamanya. Mungkin sudah menganggap anaknya tidak perlu lagi disuapi, mungkin pula dia sudah memiliki anak – anak yang lain di sarang yang lain yang butuh perhatian, atau mungkin karena alasan lain.
Anak – anak elang yang rajin belajar mencari mangsa meskping pada hari pertama kelaparan dan kebingungan, hari – hari selanjutnya dapat dilalui dengan lebih baik. Kemampuan berburu hasil belajarnya bertambah baik dengan cepat seiring kondisi yang memaksanya mencapai batas atas kemampuannya. Mereka dapat melalui hidup dan meneruskan generasi selayaknya seperti bangsa mereka. Sementara anak elang yang malas belajar, meskipun sekarang telah dewasa menghadapi kesulitan yang luar biasa. Dia tidak tahu sama sekali apa yang harus dilakukan begitu keluar dari sarang. Dia tidak mengerti bagaimana mengintai, memburu, apalagi menangkap mangsa demi kelangsungan hidupnya. Itu semua karena pilihannya di masa lalu yang dia tuai hasilnya saat ini.
Begitulah anakku, semakin dewasa kita semakin bebas kita menentukan pilihan. Sebagai manusia balig, tidak ada yang mampu memaksa kalian untuk memilih dan menentukan sesuatu di luar kehendak kalian. Kalian bebas akan memilih jalan manupun. Namun Allah begitu adilnya. Pilihan kita sendirilah yang menentukan akan seperti apa, akan jadi apa, dan akan bagaimana kita nanti di masa yang akan datang. Memang ada takdir dalam kamus rukun agama. Tetapi takdir hanya kita ketahui setelah semua terjadi. Sementara, kita dari awal akan tahu masa depan kita dari pilihan kita yang kita ambil saat ini. Kita tahu tentu saja bukan karena kita bisa menebak masa depan kita. Kita tahu karena kita belajar, kita tahu karena contoh – contoh nyata, kita tahu karena Tuhan menciptakan langit, bumi dan apa – apa yang ada di dalamnya untuk kita belajar darinya.
Wallahu alam bissawab












